Chapter 9 – Heartbreaking
Summary
Meski Ura berhasil menghentikan Hak, pada akhirnya mereka tak bisa menolong Hak. Sosok Oni lain yang muncul di belakang Amara, menusuk Amara dari belakang dan balik berusaha membunuh Amara.
Yayoi memanggil Gaimei (Dark Beast) untuk menghadapi Kokuryuu karena kegelapan yang dimiliki Kokuryuu adalah makanan favorit Gaimei. Ketika Ura berusaha menjinakkan Raijuu (Thunder Beast), Yona berlari keluar dari kekkai menuju ke arah Hak tanpa memperdulikan teriakan teman-temannya yang memintanya berhenti.
Yona melompat dan tersungkur ke tanah sambil memeluk erat Hak, memegang wajah Hak dan tersenyum lembut sambil menangis setelah mendekap erat kepala Hak ke dadanya "meskipun semua orang mengataimu monster, meskipun kau bukan manusia, meskipun seluruh dunia menolakmu, aku takkan melepaskanmu apapun yang terjadi... bagiku kau tetaplah kau, Hak.. meski wujudmu berubah, kumohon... jangan sampai hatimu ikut berubah, Hak... jika kau bisa mendengar suaraku, kumohon katakan sesuatu... kembalilah padaku... aku merindukanmu...".
"ada celah?!" pikir Ura menyerang Raijuu.
Saat serangan dan pertahanan Raijuu melemah, Yayoi menggunakan kesempatan ini untuk menyegel Kokuryuu dengan cara membekukan Kokuryuu yang mereka jatuhkan ke bawah jurang yang tertutup perlahan, aura kegelapan yang dari tadi menyelimuti tempat itu sirna.
Ura meminta Yayoi, Mizuki dan Kayano melepas kekkai "sudah aman... kesadarannya sudah kembali, tapi...".
"tuan putri..." ujar Hak memegangi wajah Yona setelah memeluk erat Yona "maaf... kau jadi... berlumuran darah...".
"ini semua... kan bukan darahku... pikirkan kondisimu sendiri, bodoh..." isak Yona menutupi wajahnya sambil menggelengkan kepala.
Saat Hak tersungkur sambil muntah darah di depannya, Yona langsung panik "KYAAA!? Yun, cepat kemari!?".
"Yayoi, cepat?!" ujar Yun lari disusul Yayoi.
"kau... bodoh... jangan... main terjang... begitu... kalau kau... terluka... bagaimana?" ujar Hak memegang lengan Yona dengan tubuh gemetar.
"yang terluka... hanya kau, kan?" isak Yona mendekap Hak.
"putri, yang kukatakan malam itu... aku..." gumam Hak seperti berbisik pelan.
"apa, Hak?" ujar Yona mendekatkan telinganya, terbelalak sampai air matanya terhenti sesaat "...eh?".
"...maafkan aku... sepertinya... janjiku padamu... tak bisa..." ujar Hak memegang wajah Yona sebelum tangannya terkulai lemas.
Melihat Hak tak sadarkan diri, Yona kembali berteriak, air matanya kembali mengalir "Hak, bertahanlah!? Yun!?".
"tenanglah, Yayoi bisa menyembuhkan luka?!" ujar Yun menenangkan Yona.
Yayoi menggelengkan kepala "maaf, Yun... sebagai Miko aku memang bisa menyembuhkan luka tapi aku tak bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati".
Yun menempelkan telinganya ke dada Hak, lalu melakukan pijat jantung beberapa kali sebelum Yun menempelkan kembali telinganya ke dada Hak dan menampar Hak "sial, yang benar saja... Hak!? bernapaslah?!".
"percuma saja... tak peduli berapa kalipun kau memanggilnya, dia takkan mendengar kalian lagi karena aku sudah membunuhnya".
Mendengar ucapan Amara, Yona mengarahkan panahnya pada Amara dengan sorot mata tajam meski tangisannya seolah tak bisa berhenti.
Melihat Yona mengarahkan panahnya, Amara melipat tangan dan terkekeh "ada apa? kenapa kau tak melepaskan anak panahmu? Silahkan membenciku yang telah merenggut nyawanya, tapi kau harus ingat... tanpa aku turun tangan pun, dia akan mati cepat atau lambat selama dia masih melindungimu...".
"omong kosong macam apa yang kau katakan?!" ujar Kija, cakarnya membesar karena amarah.
Amara menyinggung kisah si pedagang yang menjual perisai yang dapat menahan serangan apapun dan pedang yang dapat menembus perisai apapun dan mengaitkannya dengan ramalan Ik-Su "bagaimana jika Hak yang selalu melindunginya adalah perisai dan Soo Won adalah pedang? jika kita mengikuti kisah itu, kaulah si pedagang yang menentukan nasib pedang dan perisai itu, putri Yona... bagaimana jika pedang dan perisai itu diadu? konteks di kehidupan nyata ini tak semudah itu, kau tak bisa memilih keduanya, akhirnya salah satu harus kau korbankan atau keduanya tak selamat... Hak tak selemah itu hingga bisa dibunuh dengan mudah, itu sebabnya ia memutuskan melakukan perjalanan seorang diri dan meninggalkanmu di tempat yang aman tapi kau memaksanya agar membawamu serta... sebagai keturunan Oni darah murni, kami bukan bangsa yang setengah-setengah, kami takkan ragu melakukan apa yang ingin kami lakukan dan membunuh pria yang telah mengkhianatinya saat di Sensui itu seharusnya akan membangkitkan darahnya sebagai Oni tapi kau lagi-lagi membuatnya ragu... sejak awal, melindungimu adalah kesalahan terbesarnya karena bukan hanya dia merendahkan dirinya sendiri tapi juga kodratnya sebagai keturunan Oni darah murni meski itu pilihannya sendiri...".
"jangan seenaknya memaksakan pendapatmu pada orang lain?!" sahut Jae Ha melompat dan menendang tempat Amara berdiri barusan sehingga tanah itu kembali retak.
"jangan berbuat memalukan seperti kehilangan kontrol begitu" ujar Amara mendarat "setiap prajurit yang memilih terjun ke medan perang, terlebih Hak sebagai prajurit terkuat di negara kalian, seharusnya sadar akan kematian yang menanti di medan perang...".
Yona terduduk lemas mendengar ucapan Amara, ia hanya bisa memegang erat tangan Hak sambil menundukkan kepala dan menangis "bukan!? kau salah!? seharusnya Hak tak perlu melindungiku lagi setelah ayahku meninggal... tapi aku memaksanya untuk tetap bersamaku, tak seperti teman-temanku yang lain... hanya dia... dan hasilnya...".
"dan hasilnya, kau membuatnya tewas terbunuh..." ujar Amara mengayunkan sabitnya "jika kau beranggapan seperti itu, biar kuantar kau ke tempatnya... membangunkan Kokuryuu bisa dilakukan setelah menghabisi kalian semua".
"rasanya menyakitkan... mengetahui kau tak ada lagi di sisiku..." pikir Yona menangis dengan tatapan kosong sambil mendekap Hak.
~ Air mataku jatuh tak tertahan ~
~ Melihatmu terdiam ~
~ Ternyata kau pergi tuk selamanya ~
~ Tinggalkan diriku dan cintaku ~
~ Apa kau melihat dan mendengar tangis kehilangan dariku? ~
~ Baru saja kuingin kau tahu perasaanku padamu ~
