Jika ditanya seberapa jauh kau mengenal kakakmu? Kuroko tidak akan bisa menjawabnya. Karna faktanya, Akashi tahu segala tentangnya, tapi Kuroko tidak tahu apa-apa tentang kakaknya. Pada saat usia Kuroko baru menginjak angka tiga, kakaknya menghilang begitu saja dan baru ditemukan kembali setelah tujuh tahun lamanya dengan berbagai misteri yang menyertainya.

.

.

Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatoshi

.

.

FF written by May_Angelf

.

.

Warning:

OOC. Typo. Bahasa tidak jelas. Cerita tidak karuan.

.

.

Note:

Ficnya memang saling berhubungan, tapi tidak menyambung satu sama lainnya. Untuk alasan kenapa Kuroko tidak panggil Akashi Sei-nii, bisa baca 'Akashi Mah Gitu'. Tapi suatu saat nanti, akan saya perjelas kok di shoot yang lain :)

.

.

~I'm Yours~

(Kejutan)

"Tetsuya, jika Daiki mengatakan hal yang macam-macam padamu, abaikan saja." Pesan Akashi sebelum berangkat ke kantornya, Kuroko yang tidak benar-benar mendengarkan hanya mengangguk saja.

Kuroko menunduk lesu, menatap sarapannya tidak nafsu. Padahal hari ini adalah hari ulang tahunnya, tapi semua orang sibuk bekerja. Bahkan kakaknya sampai tidak sempat sarapan bersama, dasar tidak peka.

Kata siapa menjadi selebriti ternama penuh keramaian hidupnya? Kata siapa menjadi anak orang kaya membuatmu selalu merasa bahagia? Kata—

Belum sempat Kuroko menyelesaikan unek-uneknya, dering ponsel sudah menginterupsinya.

Menyambar ponsel yang tergeletak tak jauh dari piringnya malas, Kuroko menggeser icon telepon berwarna hijau tanpa mempedulikan siapa yang menghubunginya.

"Halo," ujar Kuroko lesu.

"Sejauh mana kau mengenal kakakmu?" sebuah suara dari seberang sana tiba-tiba bertanya tanpa basa-basi dengan nada serius dan terkesan misterius.

Kuroko mengernyitkan alis heran. Menatap sekilas layar ponselnya, mendadak jantung Kuroko berdegup kencang begitu menyadari dia telah sembarangan menerima panggilan dari nomor tak dikenal.

"Ini . . . Siapa?" tanya Kuroko ragu. Ketegangan tergambar jelas di wajahnya, ia ingat Akashi selalu melarangnya untuk menerima panggilan dari nomor tak dikenal.

"Coba tebak ini siapa?" melupakan kesan misterius, orang di seberang sana malah balik bertanya dengan nada bercanda.

Kuroko menghela nafas lega dan memutar bola mata, siapa lagi orang bodoh yang sok misterius tapi malah berakhir dengan bermain tebak-tebakkan kalau bukan Aomine nii-san.

"Dasar dekil." Bukannya menjawab, Kuroko malah menghina.

"Yak! Tetsu. Kurang ajar sekali kau pada—"

"—eh? Dari mana kau tau?"

"Kau benar-benar tidak berbakat menjadi teroris Nii-san."

"Siapa juga yang mau menjadi teroris, aku kan ma—"

"—adaw!" seru Aomine tiba-tiba, sepertinya dia hampir saja keceplosan mengatakan sesuatu jika seseorang di dekatnya tidak memukulnya.

"Ma? Apa?" tanya Kuroko penasaran.

"Ah, tidak tidak. Lupakan saja."

"Kalau begitu aku tu—"

"Jangan! Jangan!" sergah Aomine cepat begitu Kuroko mengancam akan mengakhiri panggilan.

"Sudahlah Aomine nii-san, aku sedang badmood sekarang. Aku tidak mau lagi dipermainkan olehmu."

"Heh? Siapa yang mempermainkanmu, Tetsu? Justru kau yang selalu mempermainkan cintaku."

Kuroko memutar bola matanya lagi, pemuda dim selaku sahabat tak dianggap kakaknya yang katanya penyuka wanita semok ini patut diragukan orientasi seksualnya.

"Sudahlah, aku tu—"

"Tunggu! Serius! Aku tau hari ini adalah hari ulang tahunmu, karena itu aku ingin memberikan kado istimewa untukmu."

"Istimewa?"-tanya Kuroko ragu-"Memangnya apa yang bisa kauberikan padaku? Rumah gedong? Mobil mewah? Aku tidak yakin kau mampu."

"Astaga Tetsu, rasanya aku ingin melumat mulutmu." Sela Aomine.

"Di dunia ini tak ada lagi yang istimewa bagiku, semuanya bisa aku dapatkan dengan mudah. Jalan-jalan keliling dunia, bahkan trip ke luar angkasa aku sudah pernah," cerocos Kuroko.

Ya, ironis memang. Saking melimpahnya harta kedua orang tuanya, Kuroko bisa mendapatkan segalanya dengan mudah, sehingga tak ada lagi hal yang cukup menarik perhatiannya.

"Termasuk kakakmu?" tanya Aomine, yang sukses membuat Kuroko tertegun mendengarnya.

"Selama ini kau selalu bertanya padaku seperti apa Akashi itu, kupikir sedikit informasi tentangnya dapat menjadi kado istimewa untukmu. Tapi ternyata tidak ya? Ya sudah, aku tu—"

"Tunggu!" kini Kuroko yang menyergah cepat. "Aku mau Nii-san, aku mau! Cepat katakan padaku, Nii-san baik deh."

Aomine menyeringai mendengarnya. Ya, di dunia ini tidak ada yang istimewa untuk Kuroko Tetsuya selain kakaknya, di dunia ini tidak ada yang bisa menarik perhatian Kuroko Tetsuya selain kakaknya.

"Baiklah anak setan, dengar baik-baik apa yang akan aku katakan."

Kuroko mengangguk lucu, jika sudah menyangkut Akashi meskipun dipanggil setan dia tetap nurut begitu.

"Akashi itu . . ."

Mengeratkan genggamannya pada ponsel, Kuroko menekan kuat ponsel yang menempel di telinganya. Jika bisa, mungkin ia akan memasukkan ponselnya ke dalam telinga agar bisa mendengar lebih jelas informasi langka tentang kakaknya.

"Akashi adalah . . ."

"Apa?" menggigit bibir bawahnya. Sungguh, Kuroko sudah tidak sabar menanti kata-kata Aomine selanjutnya.

"Ah, kurasa sebaiknya kau tidak mengetahuinya."

"Yak!"

Sialan! Kuroko hampir saja membanting ponselnya jika tidak ingat dia masih menanti informasi tentang kakaknya. "Nii-san, cepat katakan!"

"Baiklah, baiklah. Akashi itu . . . Pemuja setan," jawab Aomine agak berbisik di bagian akhir.

"Hah?"

"Akashi itu pemuja setan Tetsu! Dia akan melakukan ritual malam ini."

"APPAAA?!" teriak Kuroko membahana.

"Kau lebay, Tetsu."

Brugh

"Eh? Bunyi apa itu? Hallo? Tetsu?"

"Oy Tetsu! Apa yang terjadi denganmu? Hallo? Bagaimana hadiah istimewa dariku? Hallo, Tetsu?"

". . . . ."

"Oy! Tetsu, jawablah!" sementara suara Aomine masih terus terdengar dari sebrang sana, Kuroko sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai rumahnya.

"Akashi! Adikmu koit tuh!"

^May Angelf^

"Sei-kun?" lirih Kuroko. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, bertanya-tanya di manakah ia berada. Kado dari Aomine Daiki memang luar binasa, nyawa Kuroko hampir saja sirna setelah menerimanya.

"Sei—"

"Aku di sini, Tetsuya." Akashi mendekati Kuroko yang terbaring di ranjangnya, dan duduk di sisi Kuroko lalu mengelus surainya. "Bagaimana perasaanmu?" tanyanya.

Kuroko sontak membelalakan mata begitu mengingat kembali hal terakhir yang di dengarnya. Ia menyibak selimutnya, dan duduk sejajar dengan kakaknya. "Bagaimana kau bisa bertanya perasaanku dengan santainya setelah aku tau siapa kau yang sebenarnya, Sei-kun?"

"Memangnya ada apa, Tetsuya?" tanya Akashi pura-pura tidak mengerti, padahal semua itu idenya sendiri.

"Aomine nii-san, bilang—"

"Aku kan sudah bilang Tetsuya. Apapun yang dia katakan, cukup abaikan!" sergah Akashi.

"Bagaimana aku bisa mengabaikannya jika faktanya dia orang yang paling dekat denganmu? Paling tahu tentangmu? Sedangkan aku?" Kuroko mencengkram dadanya, entah kenapa rasanya sesak begitu menyadari dia bukan yang pertama, matanya pun mulai berkaca-kaca.

"Tetsuya—"

"Kenapa segala hal tentangmu selalu membuatku sport jantung begini, Sei-kun?" tanya Kuroko lirih, air matanya sudah mengalir di pipi.

"Sudah kubilang tidak seharusnya aku kembali," ujar Akashi, lalu beranjak pergi.

Hal itu tentu saja membuat Kuroko gelagapan. Segera beranjak dari ranjang, Kuroko memeluk Akashi dari belakang. "Tidak Sei-kun, kumohon jangan katakan itu lagi. Maafkan aku, oke?"

Akashi melirik adiknya, dan mendekap tangan yang membelenggunya. "Kenapa kau selalu melakukan ini, Tetsuya?"

Kuroko mendongak, menatap Akashi tepat di matanya, dan tersenyum cerah. "Because I'm Yours, ingat? I'm Yours."

. . .

Malam hari telah tiba, seperti biasa tepat pukul sembilan malam Akashi akan meminta Kuroko untuk tidur di kamarnya.

"Tidurlah Tetsuya, jangan melakukan hal yang tidak-tidak. Kalau kau ketahuan keluar dari kamarmu, aku akan—"

"Apa?" Sela Kuroko, dia sudah cukup bosan mendengar hal yang sama setiap Akashi menyelimutinya.

"Sudahlah, pokoknya kau jangan sampai keluar kamar," titah Akashi. Ia hendak melenggang pergi, namun Kuroko menarik tangannya.

"Sei-kun mau ke mana?" tanya Kuroko, tidak biasanya Akashi pergi sebelum ia memejamkan mata.

"Aku masih ada urusan Tetsuya."

Kuroko menatap polos kakaknya, seolah menunjukkan bahwa ia tak percaya.

Akashi menghela nafas lelah, "Sebentar saja, aku akan kembali sebelum jam dua belas untuk memastikan kau benar-benar tertidur."

Kuroko tersenyum mendengarnya, dan mengangguk singkat sebelum akhirnya melepaskan tangan kakaknya.

"Ingat Tetsuya, jangan ke mana-mana!" titah Akashi untuk yang terakhir kali. Ia keluar dari kamar adiknya sambil menyeringai. Kuroko adalah anak yang bengal, semakin diatur akan semakin dia langgar, dan semakin dilarang, akan membuatnya semakin penasaran. Semuanya pasti akan berjalan sesuai rencana.

. . .

Kuroko menggeliat tak nyaman di ranjangnya, entah sudah berapa kali ia membolak-balikkan badan guna mencari posisi yang nyaman. Apa yang Aomine katakan benar-benar mengganggu pikiran, terlebih lagi gelagat Akashi menunjukkan keanehan. Tidak seperti biasanya Akashi pergi meninggalkannya tanpa menunggu ia terlelap, tidak biasanya juga Akashi berkali-kali memberi perintah agar ia tidak keluar dari kamarnya. Apa jangan-jangan ada yang Akashi sembunyikan? Ah, memang banyak yang Akashi sembunyikan. Tapi apa iya Akashi benar-benar pemuja setan dan malam ini akan melakukan pemujaan? Akashi memang seperti raja setan, tapi . . .

"Arrgh." Kuroko menggeram dan mengacak rambut frustasi, merasa dipermainkan oleh pikirannya sendiri. Dia tidak akan bisa tidur kalau begini.

Mencoba berpikir positif, Kuroko memilih untuk menunggu kedatangan Akashi, kakaknya bilang dia akan kembali tidak lama lagi. Tapi ternyata….

1 jam

2 jam

3 jam

Astaga! Ini sudah hampir jam dua belas malam, dan kakaknya belum juga kembali. Kuroko sudah tidak tahan lagi, dia harus mencari tahu kebenaran tentang semua ini. Berniat mencari informasi, Kuroko berjalan mengendap-endap menuju kamar Akashi.

"Di sini ada pesta, pesta kecil-kecilan."

"Eh?" baru saja Kuroko sampai di depan pintu kamar Akashi, ia sudah disambut suara-suara yang mampu membuat bulu kuduknya berdiri. Jangan-jangan Akashi memang . . .

"Datang tak dijemput, pulang tak diantar."

Entah sudah berapa kali Kuroko membelalakan mata hari ini. Kuroko mengenal mantra ini, kalimat itu biasa diucapkan dalam ritual pemanggilan—

Setan?

"Di sini ada pesta, pesta…"

"Sei-kun!" seru Kuroko. Menggedor-gedor pintu kamar Akashi sekuat tenaga, ia harus mengembalikan kakaknya di jalan yang lurus.

"Datang tak…"

"Sei-kun! Buka pintunya! Apa yang kau lakukan! Sei—"

Pintu kamar Akashi perlahan terbuka dan surai merah kakaknya menyembul tak berapa lama. "Ada apa Tetsuya? Malam-malam membuat keributan!"

"Justru aku yang seharusnya bertanya, apa yang kau lakukan Sei-kun?!" bentak Kuroko.

"Tidak ada! Kembali ke kamarmu sana!" bentak Akashi tak kalah tinggi.

"Minggir! Biarkan aku masuk! Aku mau lihat!" seru Kuroko seraya berusaha menerobos masuk ke kamar kakaknya.

"Tidak!" cegah Akashi.

Kuroko menatap nyalang Akashi, tergambar jelas dari wajahnya betapa ia sangat emosi. "Jadi benar apa yang Aomine nii-san katakan? Kau memang pemuja setan kan?"

"Apa yang kau katakan Tetsuya, itu tidak benar!"

"Kalau begitu minggir!" mendorong pintu sekuat tenaga, Kuroko akhirnya dapat menerobos masuk ke kamar kakaknya.

Betapa terkejutnya Kuroko begitu melihat suasana kamar Akashi, rasanya ia ingin mati berdiri. Kamar kakaknya sangat gelap, tapi masih dapat Kuroko lihat ada banyak orang bertudung hitam yang berbaris merapat di tembok, dan lima orang di antaranya duduk melingkari sebuah lilin yang menyala di atas—

Ctiik

(Lampu tiba-tiba menyala)

Kue?

"Eh?"

"Kejutan!" seru semuanya kompak seraya membuka tudung mereka.

"Minna?!"

"Happy birthday to you! Happy birthday to you! Happy birthday! Happy birthday! Happy birthday to you!" mereka semua berjalan mendekati Kuroko, dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Kuroko dengan semangat empat lima, membuat Kuroko menutup mulut tak percaya dan menangis haru karnanya.

Akashi merangkul adiknya, dan menciumi pipi Kuroko gemas. "Selamat ulang tahun, Tetsuya."

"Sei-kun," lirih Kuroko, ia tak kuasa menahan air mata bahagia.

"Selamat ulang tahun Tetsu-kun."

"Momoi-san."

"Selamat ulang tahun Kuroko-cchi."

"Kise-kun."

"Selamat ulang tahun, Kuro-chin."

"Murasakibara-kun."

"Yo, Tetsu! Selamat ulang tahun untukmu."

"Aomine nii-san."

"Selamat ulang tahun, nanodayo."

"Midorima nii-san."

"SELAMAT ULANG TAHUN!" seru yang lainnya, seraya membentangkan banner dan menebar confetti.

"Dan kalian semua juga? Bagaimana bisa? Hiks. Terima kasih, terima kasih banyak Minna." Air mata Kuroko semakin mengalir deras begitu menyadari hampir semua orang yang dikenalnya ada di sana.

"Sei-kun," lirih Kuroko lagi. Setelah menatap satu persatu teman-temannya, ia kembali beralih pada Akashi.

Akashi memeluk adiknya, dan membelainya sayang. "Semoga kau menyukai kejutannya Tetsuya, ayo kita nikmati waktu bersama."

Kuroko mengangguk. Memeluk erat kakaknya, ia membiarkan kebahagiaannya membuncah.

"Sei-kun?" ujar Kuroko begitu ia sudah bisa menguasai diri.

"Hmm?" Akashi melepaskan pelukannya, dan menghapus air mata adiknya dengan kedua ibu jari.

"Aku pikir, kau benar-benar pemuja setan seperti yang Aomine nii-san katakan."

"Hihi." Orang-orang di sekitarnya terkikik geli, ide Akashi memang anti mainstream sekali, kalau yang punya penyakit jantung pasti sudah mati.

"Ya, itu memang benar Tetsuya. Kau setannya."

Kuroko menggembungkan pipi. "Kenapa jadi aku?"

"Di sini ada pesta, pesta kecil-kecilan. Tebak pesta siapa?" tanya Aomine.

"Aku," jawab Kuroko.

"Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Siapa yang datang ssu?" kini Kise yang bertanya.

"Aku," jawab Kuroko lagi.

"Jadi, siapa setannya di sini?" kini yang bertanya adalah Akashi.

"A—"

"—Yak!" Kuroko sontak memukul kakaknya begitu menyadari kebodohannya.

"Haha," tawa mereka semua.

"Ayo kita berpesta sampai pagi!" entah siapa yang mengatakan ini.

"YEAY!" sorak mereka semua, minus Akashi tentu saja. Sejujurnya dia merasa keberatan dengan apa yang telah menimpa kamarnya, confetti bertebaran di mana-mana dan hampir semua orang masuk ke ruangan yang sangat pribadi untuknya.

"Astaga! Kita melupakan acara tiup lilin dan potong kuenya!" pekik Momoi.

"Terus kuenya kemana ssu?" semua orang celingukan ke sana-ke mari.

"Kuenya di sini Minna-chin," ujar Murasakibara seraya menujuk perutnya.

"YAK!"

"Sudahlah, kalau kuenya tidak ada. Ulangi acara tiup lilinnya saja," saran Aomine, tumben lempeng.

"Terus mana lilinnya nanodayo?"

"Di sini." Lagi-lagi Murasakibara berujar santai seraya menunjuk perutnya.

"Astaga! Kau makan lilin-lilinnya juga?!" pekik yang lainnya.

• • •

.

.

A/n:

Selamat ulang tahun untuk Kuroko Tetsuya :D

Akhir-akhir ini, setiap mau publish fic saya sering tidak percaya diri. Mudah-mudahan fic saya masih bisa dinikmati. Terima kasih pada semua yang selalu menyemangati.

Maaf Ficnya saya post di sini, untuk ke depannya mungkin saya akan terus post di sini. Jika readers-san bingung, ini semacam album kompilasi yang menampung keseharian AkaKuro bersaudara. Ceritanya saling berhubungan, tapi tidak saling menyambung karna satu moment saya buat satu shoot. Semoga dimengerti :)

.

.

Terima kasih banyak sudah menyempatkan waktunya untuk membaca, jangan lupa review ya ^^

.

.

Omake

Waktu telah menunjukkan pukul tiga, dan hanya teman-teman terdekat kakaknya yang tersisa, sedang yang lain sudah pulang ke rumah.

Kuroko berdiri di halaman belakang rumahnya, dengan penutup mata. Akashi bilang masih ada pesta kejutan yang ingin ia perlihatkan.

Nyatanya, entah sudah berapa lama Kuroko berdiam diri di posisinya, tapi penutup matanya tak kunjung dibuka.

"Ano, Sei-kun," ujar Kuroko pada akhirnya.

Tak ada jawaban, sepertinya Akashi sudah tak lagi di sampingnya.

"Sei-kun!" teriak Kuroko agak keras. Mengingat suasananya terdengar sangat ramai, jujur dia takut mereka asik sendiri dan malah melupakannya.

"Y-ya, ada apa Tetsuya?" Akashi terdengar menyahut ragu, ada apa dengannya?

"Kenapa penutup matanya tidak dibuka juga?" tanya Kuroko.

"Sebaiknya tidak usah dibuka, kau tidur saja."

Lah? Kok gitu? Apa-apaan dia? Baru kali ini ada yang sudah terlanjur memberi kejutan tapi dibatalkan.

"Kena. . . pa?" Kuroko membuka sendiri penutup matanya, dan terperangah melihat kejutan Akashi yang luar biasa.

"Pesta ya?" gumam Kuroko seraya menggaruk tengkuknya.

Di bandingkan sebuah pesta, tempat ini malah lebih mirip disebut sebagai perang dunia. Gunting Akashi melayang ke sana-ke mari tak tentu arah, teriakan Kise terdengar memekakan telinga, ia tengah dikejar-kejar Midorima dengan puluhan pisau yang menghujamnya, entah apa yang ia lakukan pada Midorima. Asap mengepul di mana-mana, dan suara tembakan terdengar membagi buta. Aomine melempar granat pada Momoi, dan Momoi menodongkan senjata api, mereka berdua terus berkelahi, padahal ngakunya sahabat sehidup semati. Yang masih anteng hanyalah, Murasakibara, Takao, Mayuzumi, dan Nijimura. Itupun tak berlangsung lama, karna granat Aomine tiba-tiba mendarat di tengah-tengah mereka.

Kuroko menghela nafas lelah, tidak banyak yang bisa ia lakukan selain berdoa agar tidak ada satupun dari mereka yang meregang nyawa.

Jadi, siapa Akashi sebenarnya?

. . .