Satu lagi fakta mencengangkan tentang Akashi yang Kuroko ketahui, kakaknya tidak bisa tumbuh tinggi. Entah apa yang sebenarnya terjadi, semua masih menjadi misteri yang harus terus Kuroko gali.

.

.

Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatoshi

.

.

FF written by May_Angelf

.

.

Warning:

OOC. Typo. Bahasa tidak jelas. Cerita tidak karuan.

.

.

Note:

Ficnya memang saling berhubungan, tapi tidak menyambung satu sama lainnya. Untuk alasan kenapa Kuroko tidak panggil Akashi Sei-nii, bisa baca 'Akashi Mah Gitu'. Tapi suatu saat nanti, akan saya perjelas kok di shoot yang lain :)

.

.

~I'm Yours~

(Hilang)

"Sei-kun, kenapa kau tidak tumbuh tinggi?" ini masih terlalu pagi, dan Kuroko sudah cari mati.

Akashi menghentikan sarapannya sejenak, dan menatap adiknya. Marah? Tidak. Dia sudah biasa menghadapi kenakalan Kuroko Tetsuya.

"Bukan aku tidak tumbuh tinggi, Tetsuya. Aku hanya memendek beberapa centi saja," jawab Akashi dengan entengnya.

"Hmmmpt." Kuroko bergegas membekap mulutnya sendiri, gelak tawa hampir meluncur tak terkendali.

Akashi melanjutkan sesi sarapannya lagi, mencoba menahan diri untuk tidak terpancing emosi.

"Padahal usia kita terpaut sepuluh tahun lamanya, tapi tinggi badan kita hampir sama. Kita jadi terlihat seperti anak kembar saja," ujar Kuroko lagi, belum puas menguji kesabaran Akashi.

Sesendok makanan yang hampir masuk ke dalam mulut lagi-lagi terhenti. Akashi menghela nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Dia tidak kesal dengan apa yang adiknya katakan, tapi dia kesal karna Kuroko terus berbicara padahal mereka berdua sedang sarapan.

"Ya, entah aku yang awet muda atau kau yang cepat tua."

Skak Mat! Perempatan siku-siku imajiner tercetak di pelipis Kuroko Tetsuya.

"Yak!" seru Kuroko emosi. Maksud hati ingin menggoda Akashi, malah dia yang kena batunya sendiri.

Mendengar teriakan Kuroko, Akashi mendelik tajam. Menjatuhkan sendok garpu hingga beradu dengan piring dan menimbulkan bunyi memekakan, Akashi berlalu dari meja makan.

Sempat tertegun beberapa saat, Kuroko menyadari apa yang telah ia perbuat.

"Sei-kun—" ia bergegas mengejar sang kakak. "—kau marah?" tanyanya.

Akashi terus melangkah meniti anak tangga tanpa menghiraukan Kuroko Tetsuya, dan berjalan lurus memasuki kamarnya.

"Sei—" ucapan Kuroko terhenti seketika, begitu ia sampai di ambang pintu kamar kakaknya. Membelalakan mata, Akashi terlihat mengemasi barang-barang, membuat Kuroko kalut bukan kepalang.

"Sei-kun, kau mau ke mana?" tanya Kuroko, gurat kecemasan tercetak jelas di wajah.

Akashi terus memindahkan pakaiannya dari lemari ke dalam tas ransel, membuat Kuroko terpaksa menarik lengannya guna mendapat perhatian.

"Sei-kun! Katakan! Apa yang kau lakukan? Kau mau ke mana?" tanya Kuroko lagi dengan suara agak meninggi.

Akashi hanya menatap datar Kuroko, dan menjawab seadanya. "Aku mau pergi, Tetsuya."

"Ke mana? Apa kau marah? Aku hanya bercanda, maafkan aku. Kumohon jangan begini." Kuroko memeluk Akashi, memohon sepenuh hati, air mata sudah membasahi pipi. Dia benar-benar trauma setelah tujuh tahun ditinggal pergi.

Akashi melepas paksa pelukan adiknya, menarik tas berisi barang-barang yang baru saja ia kemasi. Tanpa peduli Akashi beranjak pergi.

"Sei-kun!"

^May Angelf^

"Sei-kun! Kumohon jangan pergi lagi." Tak membiarkan Akashi begitu saja, kini Kuroko memeluk sang kakak dari belakang.

Menghela nafas panjang, Akashi sedikit menengok ke belakang. "Aku tidak marah, Tetsuya. Aku hanya pergi beberapa hari saja."

"Bohong!"

"Sungguh. Ini sudah menjadi rutinitasku. Setiap hari libur aku akan menjelajah untuk mencari sesuatu. Sekarang, lepaskan aku."

"Tidak mau! Bagaimana jika kau tak kunjung kembali seperti dulu."

Akashi menghela nafas untuk yang kedua kali, sedikit banyak dia mengerti perasaan Kuroko saat ini. Berbalik badan, kini ia yang memeluk sang adik sayang. "Aku serius, Tetsuya. Aku pasti kembali."

Kuroko menggeleng pelan. "Tidak! Kemana pun kaupergi, aku ikut."

"Tidak!"

"Ikut!"

"Tidak!"

"Ikut!"

Sebelah alis Kuroko berkedut tanpa henti, apa yang mereka lakukan tadi pagi dramatis sekali. Mengira Akashi akan pergi karna marah dan takkan kembali, ternyata dia hanya pergi untuk mencari sesuatu yang tak pasti.

Kuroko tidak pernah menyangka, Akashi benar-benar serius mengenai tinggi badannya, hingga ia harus bersusah payah mempertaruhkan nyawa untuk mencari sekuntum bunga langka yang dipercaya dapat mengembalikan tubuhnya seperti semula.

"Sei-kun, aku lelah," keluh Kuroko. Sedikit membungkuk, ia menumpukan kedua tangan pada lutut.

Akashi berdecak sebal, tanpa melirik sedikitpun ia terus melangkah. "Kita baru setengah jalan, Tetsuya."

"Istirahat sebentar saja ya?" rengek Kuroko.

"Tidak! Kan sudah kubilang tidak usah ikut."

Menegakkan tubuhnya lagi, Kuroko menggembungkan pipi. Ia tidak punya pilihan lain selain terus melangkahkan kaki, menembus rimbunnya hutan belantara pegunungan yang ia daki. Ini memang keinginannya sendiri, jadi dia tidak bisa membantah kata-kata Akashi.

"Sei-kun, kapan kita sampai?" tanya Kuroko lagi, peluh semakin deras membanjiri.

"Entah," jawab Akashi tak acuh.

"Entah? Kenapa entah? Aku sudah lelah Sei-kun!" bersandar pada pohon terdekat, Kuroko membiarkan tubuhnya merosot ke bawah, terduduk di atas tanah.

Akashi menghentikan langkah, dan menatap tajam adiknya. "Kita tidak tau bunga itu ada di hutan ini atau tidak, untuk itu kita harus terus mencari. Ayolah Tetsuya, bangun! Atau kau aku tinggal," ancamnya.

"Sungguh teganya dirimu, teganya teganya teganyaaaa," teriak Kuroko seraya menghentakan kedua tangan dan kakinya ke tanah.

Akashi meremas rambutnya sekilas, jengah melihat kelakuan sang adik setengah waras. "Ini anak malah nyanyi."

"Jangan bilang kalau Sei-kun sendiri tidak yakin bunga itu nyata," protes Kuroko.

"Bunga itu nyata, aku yakin."

"Sebenarnya Sei-kun ini apa? Penyihir? Pesulap? Atau jangan-jangan Sei-kun memang pemuja setan?" tanya Kuroko bertubi-tubi, masih tak habis pikir dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Akashi.

"Lupakan tentang pemuja setan, sudah kubilang jangan hiraukan apapun yang Daiki katakan."

"Lalu sebenarnya apa yang terjadi padamu? Bagaimana mungkin tubuh manusia bisa menyusut begitu, itu benar-benar mustahil."

"Kau tanyakan saja pada Daiki, dia yang membuatku menjadi seperti ini," desis Akashi, rahangnya mengatup keras begitu teringat kembali apa yang terjadi.

Memasang pose berpikir, Kuroko bergumam dalam hati. "Aomine nii-san ya? Oke, akan aku tanyakan setelah kembali nanti."

Kuroko tersenyum tipis, baru kali ini Akashi terus menanggapi. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Kuroko terus memperpanjang pembicaraan. Itung-itung pendekatan. "Lalu, kenapa Sei-kun tidak kunjung menemukan bunga itu setelah sekian lama?"

"Karna bunga itu sangat langka, Tetsuya."

Kuroko masih tidak mengerti, dan sulit mempercayai semua ini, namun dia merasa tak seharusnya menganggap remeh apa yang terjadi. "Sei-kun, sepertinya pekerjaanmu berbahaya."

Akashi cukup tertegun mendengarnya, namun berusaha bersikap biasa. "Tidak Tetsuya, aku hanya duduk manis di depan komputer saja."

"Begitu ya," lirih Kuroko, entah kenapa Akashi tidak pernah mau terbuka padanya.

"Ayo kita lanjutkan perjalanan."

"He?" mendengar kata perjalanan, Kuroko teringat kembali dirinya sudah kelelahan, kakinya terasa sulit digerakkan.

"Sudahlah Sei-kun, menyerah saja. Terima saja dirimu apa adanya, lagipula tidak ada ruginya selalu awet muda. Bukankah semua orang menginginkannya?" Bujuk Kuroko, ia ingin segera pulang ke rumah.

Akashi kembali menarik uluran tangannya. "Awet muda sih awet muda, tapi tidak terlalu pendek juga."

Rasanya Kuroko ingin menjerit dalam hati, ini merupakan pembicaraan terpanjang dan tersantai yang pernah terjadi. "Kau tidak terlalu pendek Sei-kun, aku bahkan lebih pendek."

"Kau masih bisa terus tumbuh, Tetsuya. Sedangkan aku—" menyadari dirinya terlalu banyak bicara dan keluar dari karakternya, ucapan Akashi terhenti seketika. Memicingkan mata, ia tahu adiknya sengaja mencuri kesempatan untuk menggali informasi lebih jauh tentangnya.

"Tapi di mata orang-orang kita terlihat seperti anak tujuh belas tahun. Sampai tua Sei-kun tetap seperti anak tujuh belas tahun, itu keren!" Kuroko yang tidak menyadari tatapan tajam Akashi terus berbicara tanpa henti, masih berharap dapat menggali informasi lebih.

"Sudahlah, kau pulang sana! Aku akan melanjutkan pencarian sendiri saja." Akashi kembali melangkah, tak menghiraukan lagi adiknya yang masih duduk bersandar guna melepas lelah.

"Yak! Sei-kun, kau benar-benar berniat meninggalkanku? Tega sekali!" Kuroko segera beranjak berdiri. Pulang katanya? Kalau bisa, dia sudah pulang sendiri dari tadi. Tau begini, dia tidak akan mengikuti Akashi.

"Sei-kun tunggu!" Seru Kuroko, kakaknya sudah melangkah jauh di depan. Menyeret kakinya paksa, ia berusaha sekuat tenaga untuk mengejar sang kakak. Kuroko tahu Akashi tidak pernah bercanda, apalagi bermain dengan kata-katanya, tapi Kuroko tidak pernah menyangka, Akashi akan benar-benar tega meninggalkannya sendirian di hutan belantara. Dasar tidak punya hati, ia sudah memaksakan diri untuk ikut menjelajahi hutan dan mengabaikan kondisi tubuhnya yang ringkih karna merasa kasihan sekaligus khawatir pada sang kakak yang selalu pergi seorang diri. Tapi kakaknya yang sudah dikasih hati, bukannya berterima kasih malah menyiksanya begini.

"Sei—" kedua mata Kuroko membulat sempurna, tatkala ia menyadari kakaknya sudah tak terjangkau lagi jarak pandangnya. Dia terlalu sibuk dengan segala pemikiran yang berkecamuk di kepala hingga tak menyadari kakaknya sudah semakin jauh meninggalkannya.

"SEI-KUUUUUUN!"

. . .

Akashi menengok ke belakang, lalu menghela nafas panjang. Mengedarkan pandangan, ia tidak benar-benar berniat meninggalkan adiknya, tapi adiknya benar-benar tertinggal dan kini hilang entah kemana.

Mencoba bersikap tenang seperti biasa, tak dapat dipungkiri Akashi kalang kabut dibuatnya. "Sialan! Dasar menyusahkan," umpatnya.

Berubah haluan dari bertujuan mencari bunga langka, kini Akashi malah sibuk menelusuri hutan untuk menemukan Kuroko Tetsuya. Ekspedisinya gagal total, karena adiknya yang bengal.

"Awas saja kalau ketemu, kepalamu akan kupenggal," rutuk Akashi, alamat dia gagal lagi membuat ramuan utuk kembali tumbuh tinggi.

Bagaimana nasib Kuroko selanjutnya? Wallahualam. Mari kita lihat nanti di chapter depan xD

• • •

.

.

A/n:

Akashi tidak tumbuh tinggi, saya jadi teringat Shinichi

Sebenarnya ide fic ini terbentuk saat saya menonton Kurobas Last Game, dan adik saya yang pertama kali nonton anime ini mengatakan, "Aih, dia pendek banget ya. Kirain tinggi." Saya yang tidak terima spontan nyeletuk, "Akashi bukan tidak tinggi, dia hanya memendek beberapa centi." Dan adik saya mempercayai xD

.

.

Etto, saya tidak tau apa masih harus mengatakan ini, sejujurnya saya tidak ingin membahas lagi. Tapi saya berhutang maaf dan terima kasih, serta penjelasan atas apa yang terjadi.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, ada apa? Atau kenapa?

Sebelumnya, saya ingin meminta maaf jika telah membingungkan pembaca, dan saya juga ingin berterima kasih pada Guest-san yang sudah sangat berbaik hati memberikan klarifikasinya.

Beberapa bulan lalu, ada sesuatu yang terjadi dan saya menemukan sebuah review yang mungkin merupakan salah satu dampak dari semua ini. Merasa menjadi pihak yang merugi, saya membuat pengumuman dengan harapan yang bersangkutan mau memberi klarifikasi agar saya mampu melewati semua ini. Biarlah apa yang terjadi menjadi sesuatu yang bisa dipelajari, karna itu saya menghapus pengumuman tersebut dan mencoba move on dengan melanjutkan fic ini lagi.

Saya minta maaf pada Guest-san, jika saya terlalu berlebihan dalam menanggapi review yang Anda berikan. Saya terbuka pada kritik dan saran, tapi alangkah baiknya jika menggunakan akun agar bisa dikomunikasikan dan saling bertukar pikiran. Sesungguhnya tidak ada dari review Anda yang perlu dipermasalahkan, hanya saja review tersebut bertepatan dengan suatu hal yang cukup menyakitkan dan ketelitian Anda mendorong saya untuk tidak membiarkan. Untuk itu saya minta maaf karna saya menghapus beberapa review Guest-san dan hanya menyisakan klarifikasi Anda untuk menghindari kesalahpahaman.

Kini semua sudah berlalu, saya tidak ingin membahas lebih jauh. Sungguh saya tidak memiliki maksud tertentu dengan menghapus semua itu, saya hanya tidak ingin terus terpaku dan membuka lembaran baru. Sekali lagi terima kasih banyak, klarifikasi Anda sudah sangat membantu dan review Anda mampu membuat saya lebih bersemangat untuk terus maju.

Terima kasih juga kepada kuroshirokoneko dan semua yang telah memberikan dukungannya. Sekali lagi saya minta maaf atas ketidaknyamanan yang ada. Semoga tulisan saya masih bisa menghibur pembaca semua, jangan lupa review ya :)

.

.

Marhaban Ya Ramadhan,

Salah dan khilaf mohon dimaafkan,

Selamat menuaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan ^_^

.

.

Sampai jumpa di chapter depan :D