"Hei."

Yoongi menilik masuk ke dalam ruangan. Di sekitarnya, orang-orang lalu lalang dalam kegelapan, disuluhi oleh senter atau ponsel mereka. Tidak ada yang berani membuat penerangan yang lebih besar lagi dengan orang-orang pemerintah yang masih berkeliar di luar sana.

Paling tidak, Bandara terasa agak aman untuk sementara waktu, lagipula pun mereka telah diterimakan dengan baik di sana. Semua orang memberikan kelimanya kantung tidur dan selimut, dan diberikan roti kepada mereka semua itu untuk dimakan.

Jungkook dan Taehyung ada di luar, memakan roti mereka, terdiamkan oleh keheningan ganjil sementara mulut keduanya terus mengunyah. Sedang Seokjin ada di suatu tempat di sudut bandara, mungkin tengah bercakap-cakap dengan kenalan-kenalannya, mungkin hanya membantu yang lain memasak.

"Kau sendirian?"

Dan di sinilah Jimin. Bersandar pada salah satu kursi di ruangan itu, bersidekap dalam balutan mantel yang telah Yoongi berikan. Tiada kata yang tersentak keluar dari elu mulutnya, ia diam saja, menatap Yoongi sembari menunggu pemuda itu duduk di sampingnya.

"Ini, kubawakan roti."

Jimin mengangguk, kemudian menerimanya dalam hening. Memakannya tanpa bicara pula. Bahkan Yoongi harus berusaha keras untuk mendengar-dengar suara kunyahan-kunyahan yang keluar dari mulut Jimin.

"Jadi," Yoongi berusaha bersuara, menyandarkan diri pada tempt duduknya sembari menatapkan mata pada langit-langit ruangan yang tiada terlihat suatu apa pun. "Apa kalian bertiga selalu bersama, atau kalian keluarga atau apa?"

Setelah Jimin menelan kunyahannya, ia menjeda makannya sebentar sembari ia menjawab. Matanya mengawang, terhela ke atas, menatap langit-langit yang ditatapkan Yoongi pula. "Kami bertemu tahun lalu."

"Bagaimana?"

"Tidak tahu," Jimin mengangkat bahu, digigitlah kembali roti itu. "Kami hanya ... tiba-tiba bertemu saja."

Yoongi melirik Jimin dari sudut matanya. Mengamati sebentar anak itu memakan rotinya tanpa bersuara. Dan Yoongi terlemparkan kembali pada kejadian beberapa saat lalu, saat anak itu membuka atasannya pada seorang pria tak dikenalnya.

Oh, tentu saja, mereka kemari dengan mobil van pemerintahan itu. Mungkin itu salah satu alasan mengapa mereka bisa sampai di bandara tanpa tertangkap.

"Kalian dari mana?"

Jimin menoleh, dan Yoongi cepat-cepat pura-pura menatap langit-langit kembali, seolah dari tadi itu yang menjadi objek matanya.

"Tidak dari mana-mana, kami berpindah-pindah, terkadang tertidur di supermarket, terkadang ditampung oleh orang lain selama beberapa bulan, terkadang hanya di jalanan."

Yoongi tahu tatapan Jimin menjadi tidak nyaman, dan Yoongi mengertikan pula bahwa pembicaraan ini bukan pembicaraan yang menyenangkan, jadi ia menggelengkan kepala dan tersenyum sedikit. "Kalian bertahan dengan baik."

"Yah," terdengar hela napas singkat, kemudian anak laki-laki itu ikut tersenyum pula, walau sorot matanya meredup dan sayu, seolah hanya dengan tatapannya itu ia bilang bahwa hari itu terlalu melelahkan. "Kau juga."

Yoongi tidak bertahan dengan baik. Tidak setelah seluruh keluarganya terkurung di bawah tanah, mati karena saling membunuh.

"Berapa umurmu, Jimin?"

"Enam belas."

Yoongi mengerutkan kening. Sebenarnya itu sudah cukup bisa ditebak dari ketiga wajah kekanakan itu, mereka pastilah masih anak sekolahan. Ia sudah tahu, dan ia tetap kaget mendengarnya.

"Kalian sendirian sejak umur lima belas?"

"Empat belas untuk Jungkook."

Alis Yoongi mengerling, ia tidak bicara lagi. Tidak begitu pantas bagi orang asing sepertinya terlalu banyak mencapur-campuri sesuatu, jadi lebih baik, ia katupkan mulut dan tidak perlu masuk terlalu jauh lagi. Sebelum ia menjadi tidak enak hati karena mendengar hal-hal yang lainnya.

"Seokjin itu keluargamu?"

Pertanyaan itu membuatnya kaget lagi. Ia sedikit sadar kata-kata dan tingkah Jimin sudah berbeda. Beberapa saat lalu, ketika ia dan Seokjin menolong tiga anak itu, Jimin lebih bersikap acuh, bahkan mengatakan beberapa kata-kata buruk.

"Hm, tidak," Yoongi berdecih, dan kemudian melempar pandang pada pintu ruangan yang terbuka sedikit, melihat lalu lalang orang-orang di bandara yang tenggelam bersama gelap. "Dia tetanggaku."

"Kau tetap tinggal di rumah?"

"Ya, di sana cukup aman, selama kami bisa bersembunyi di ruang bawah tanah."

"Lalu kenapa kalian pergi?"

Hati Yoongi mencelos mendengar. Laki-laki pucat itu menggeleng pelan tanpa suatu ekspresi apa-apa, tiada inginkan pembicaraan itu berlanjut jauh lagi.

"Hm," Jimin mengangguk, sembari kemudian ia berdiri dan melepaskan mantel dari tubuhnya. Ia sudah memakai kembali atasannya, ia mengiming mantel itu sebentar sebelum memberikannya pada Yoongi.

"Terima kasih."

Yoongi mengangkat bahu, ia mengambil mantel itu sambil tersenyum. Namun ia tidak memasangkannya pada tubuhnya. Ia hanya menyampirkannya kembali pada tubuh Jimin. Kemudian menarik tangan Jimin agar terus memegangi mantel itu untuk tetap erat.

"Pakai saja."

Jimin mengangguk, memberikan sebuah senyuman hangat sebelum ia menunjuk keluar dengan matanya. "Aku akan jalan-jalan sebentar."

Kemudian tanpa menunggu kata-kata Yoongi keluar, yang lebih muda sudah berbalik dan berjalan menuju pintu tanpa bicara sepatah-patah kata lagi.

Sebuah suara gemerisik besi bergesek pada lantai membuat Jimin menoleh ke belakang lagi, dan mendapati Yoongi sudah berdiri dari bangkunya sembari ia mengangkat bahu, "aku juga mau cari udara segar."

Jimin masih tersenyum, sebelum kekehannya keluar dan ia menunggu Yoongi mendatanginya. "Sudah tidak ada udara segar lagi di sini, Hyung."

.

.

.

.

"Kenapa?"

Jungkook berkedip, ia menoleh pada Taehyung sebentar dan tatapannya kembali pada orang-orang yang ada di sekitarnya. "Tidak, hanya saja di sini sedikit lebih ramai."

"Lebih ramai dari semua tempat yang kita kunjungi," Taehyung ikut menyisirkan mata pada sekitarnya, dan mereka terdiam dalam detik-detik berikutnya, seolah sedang memikirkan sesuatu yang lain.

"Jimin hyung tidak akan suka," pemuda bergigi kelinci itu menautkan jari jemarinya gelisah. Kemudian menatap Taehyung seperti yang selalu ia lakukan sebelum-sebelumnya. Mencari ketenangan.

"Dia baik-baik saja, kita juga."

Jungkook menghela, ia tahu semua orang sudah mengalami hari yang berat. Kedua hyungnya juga begitu. Tapi rasanya Jungkook merasa lebih tidak berguna di sini. Selain mengikuti di belakang punggung kedua hyung yang lebih tua itu, Jungkook tidak banyak berbuat.

"Apa yang khawatirkan?"

"Semuanya," pandangan Jungkook mencar menatap sekitar, mencari-cari satu dua objek untuk dipandangi. Seorang wanita dengan bayi dalam rengkuhannya, anak-anak seumuran mereka yang berkumpul dalam kelumbunan selimut tipis, orang-orang dewasa yang berlalu lalang mengurusi tetek bengek yang Jungkook tiada mengerti-mengertikan.

"Hei, Jungkook."

Sebuah tangan menarik sisi pipi kanan pemuda kelinci itu dan Jungkook langsung bertemu wajah Kim Taehyung dalam beberapa centimeter di depannya. Tatapan yang lebih tua selalu begitu, teduh. Tatapan seorang kakak yang disayangi, kalau Jungkook benar-benar punya kakak.

"Kita semua oke, semua baik-baik saja, kau, aku, Jimin, tempat ini."

"Hm."

"Kau dengar aku?"

"Dengar, Hyung."

Taehyung mengangguk sembari ia menjauhkan tautan tangannya pada pipi Jungkook. Dan ia menatap lurus lagi ke depan. Di luar sana gelap, bahkan Taehyung tidak bisa melihat gedung-gedung tinggi, tiang-tiang lampu jalanan. Taehyung bisa membayangkan sebagaimana sepinya bandara jika seluruh manusia telah terlelap.

"Aku benar-benar rindu cahaya-cahaya kota yang berhamburan itu."

Taehyung yang menoleh, menatap Jungkook yang pandangannya jatuh pada jemarinya sendiri, menunduk dalam diam seolah pikirannya terus berputar dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa disuarakannya hanya tersemat di tenggorokan dan tidak bisa keluar.

"Ya, klakson mobilnya, sekarang kalau kita membuat keributan sedikit saja, kita mati."

Jungkook mengangguk, dan kepalanya terangkat, matanya mengerjap dan ia menatap Taehyung lagi dengan sebuah kelegaan di wajahnya. "Aku senang bertemu kalian berdua setahun lalu."

Taehyung juga senang. Tidak perlu dikatakan lagi. Mungkin alasan ia hidup selama ini hanya karena ada Jimin dan Jungkook di sana, bersamanya.

.

.

.

.

"Mau dengar cerita keren?"

"Kepalaku sedang pusing, Hoseok."

"Daegu sudah tidak ada."

Namjoon menoleh, ditatapnya pemuda itu dengan sebuah rinai keruh dalam maniknya. Dan ia menggeleng perlahan, memalingkan wajahnya ke sekitar, mencari tahu apakah ada orang lain yang mendengarnya.

"Apa maksudmu," Namjoon menaruh kopinya di meja, sudah benar-benar kehilangan minat. Ia merasakan jantungnya berdetakan dengan lebih cepat, dua ratus kali lebih cepat. Namun ia mengerutkan alisnya, menggigit bibir bawahnya sekali, dan ia sudah terlihat tenang kembali, atau, ia hanya pura-pura tenang.

"Tidak ada yang selamat dari wabah di sana, semua orang jadi gila, saling membunuh dan sebagainya. Pasukan pemerintah yang ditugaskan di sana tidak pernah kembali, satu-satunya informasi yang sempat kudengar dari temanku sebelum ledakan hanya bahwa pemerintah akan menghancurkan kota-kota yang tersisa, kota-kota yang telah kehilangan sumber daya dan wabah sudah menyebar ke setiap pelosok."

"Ceritamu keren banget."

Namjoon tersentak, ia menoleh ke belakang dan mendapati Seokjin berdiri sembari berpangkukan tangan, menatap tiada suka pada keduanya. "Mau merahasiakannya ya?"

Namjoon menggeleng. "Akan kuberitahu yang lain nanti, sekarang belum, kurasa di sini masih aman."

"Tidak ada tempat yang aman, Namjoon," Seokjin menyela, kerutan tidak sukanya sudah menghilang dan ia duduk di kursi di sebelah Namjoon sembari ia meredupkan lampu emergency yang tertenteng di tangannya.

"Yah paling tidak," Hoseok mengangkat sebelah alisnya, dan ia menunjuk dengan telunjuknya, sekumpulan pria wanita yang tengah berkelumbunan dalam selimut, sudah mulai tertidur. "Kita nikmati sajalah dulu ketenangan orang-orang ini."

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Ada saran panggilan orang-orang yang sudah kena wabah?

Ada yang masih belum ngerti wabahnya apa?

Wabahnya bukan penyakit sakit pada organ tubuh tertentu apalagi hati. Bukan zombie-zombiean, sejenis penyakit pikiran. Orang-orang lebih suka melihat kematian, addicted dengan jeritan orang lain, dan bahkan menyakiti dirinya sendiri. Psikopat? Mungkin agak jauh lebih gila lagi, kalau psikopat berkesan tenang dan cerdik, wabah yang ini gusar dan orang-orang yang sudah kena wabah membunuh tanpa pikir panjang.

Yang baik kasih saran TT-TT

Yang jahat aku cium.

Yang review, favorite, follow, dijadiin anak sama vkook atawa yunmin.

.

.

.

.

.

[Next Chapter, Regret]