[Warning ; 2 years time skip]
.
.
.
Pikiran Jungkook masih berkecamuk ketika matanya baru saja menyentak terbuka, dan ia merasakan sebuah keganjilan jauh dalam benaknya, ketidaknyamanan yang membuatnya gelisah. Di sebelahnya, Seokjin sudah tidak ada, dan ia tidak melihat Jimin atau pun Taehyung di mana pun ia jatuhkan mata.
Orang-orang di sekitarnya masih seperti biasanya, beberapa di antaranya berjalan sempoyongan oleh kantuk ataupun oleh alkohol. Beberapa hanya duduk, beberapa menegur Jungkook dan memberi tanya pada wajah kebingungan itu.
"Namjoon Hyung!"
Anak itu cepat menyentak kaki, dan Namjoon, yang sedang membawa senapan berhenti sebentar untuk menunggu Jungkook mendatanginya. Mata keduanya bertemu dan Jungkook sadari sebuah kalut mengawang pada manik itu.
"Ada apa?"
Namjoon menatap sekitarnya dengan hati-hati, kemudian menggeleng. "Kau di sini saja."
"Yang lain di mana?" kalau pun Jungkook tidak diperbolehkan tahu apa yang sedang terjadi, paling tidak ia bisa tahu yang lain sedang baik-baik saja.
Namjoon melirik ruangan di sebelahnya, sedang di sekitar, orang-orang di lobi berlalu lalang, menatap tanya pada senapan yang disandingi Namjoon, namun tiada yang tersuarakan pertanyaan-pertanyaan sesungguhnya dari mereka.
"Kau datangi Jimin saja, dia ada di lantai satu."
"Ada apa Hyung?"
"Tidak," Namjoon menggeleng, ia tersenyum simpul, sembari Jungkook melihat lesung pipi yang lebih tua timbul. Namun alis Namjoon berkerutan, sehingga Jungkook yakin sesuatu yang salah sedang terjadi. "Kau datangi dia, aku harus pergi."
Namjoon berbalik, dan Jungkook bisa merasakan sebuah geram di hatinya, dikarenakan tidak pernah benar-benar ikut membantu. Atau, tidak pernah benar-benar dibiarkan membantu. Jungkook tidak inginkan terus menerusnya berpangku tangan.
Namun Jungkook tidak bilang apa-apa, dan akhirnya ia berbalik juga. Berjalan menuju lantai satu sembari ia menggerutu, beberapa katanya merupakan kata-kata kasar. Kalau saja Seokjin mendengarnya berlaku begitu, Jungkook mungkin tiada akan dapat makan seharian itu.
"Kau sedang menyumpahiku Jungkook?"
Sekali lagi, entah untuk keberapa kalinya pagi itu, Jungkook tersentak, ia menoleh ke kanannya, dan melihat Jimin bersandar pada dinding dengan tangan dilingkup dalam saku jaketnya.
Jungkook cepat-cepat mendatangi yang lebih tua, dan mereka duduk di lantai dua detik berikutnya. Debu-debu di lantai tersikap, mengawang di udara dalam hening, terlihat dalam samar matahari.
"Yang lain di mana sih?" Jungkook menatap sekitarnya, menatap lantai satu yang kosong, hanya dia dan Jimin, dan kekosongan, dan satu dua koper yang tergeletak di sudut-sudut, tidak dihiraukan.
"Rapat," tangan Jimin mengeluarkan sesuatu, dan ia memberikannya pada Jungkook tanpa bicara.
"Uah!" laki-laki itu ternganga tanpa disadar-sadari, ketika ia menatap Jimin lagi ia segera saja memeluk yang lebih tua, namun didorong dengan sama cepatnya ia memeluk. "Dapat dari mana?"
"Yoongi yang dapat, ada satu toko elektronik di ujung kota saat mereka sedang mencari perbekalan, dia dapat itu."
Jungkook mengamati mp3 di tangannya, kemudian mengiming headsetnya sambil tersenyum simpul. Sudah terisi memori, dan semuanya lagu-lagu yang dulu-dulu populer empat lima tahun lalu. Yang bahkan, beberapa di antara lagu-lagu itu, Jungkook sudah lupa.
"Sepertinya kita harus pergi lagi," Jimin menatap keluar, pandangan jatuh pada jalanan beraspal yang terpenuhi debu dan sengat matahari. Sunyi melingkup dan sekitar mereka hanya diisi oleh ribut deru angin, dan suara-suara kelompok mereka di lobi di atas, selain itu tidak terdengarkan apa pun lagi.
"Maksudmu?"
"Pergi, keadaan di sini sudah tidak stabil."
Jungkook menatap Jimin lamat-lamat. Pikirannya berkecamuk dan tiba-tiba alisnya berkerut tidak suka. Bukan karena kabar yang dibawakan Jimin, namun karena Jimin sudah lebih tahu daripada dirinya. Apa ia satu-satunya orang yang terus diberitahu terakhir?
"Hei," suara yang lebih tua terdengar. "Aku tahu sendiri, tidak ada yang berusaha memberitahuku."
Kerutan di dahi Jungkook menghilang samar-samar, sehingga Jimin tersenyum dan menepuk kepala yang lebih muda, kemudian berdiri dan menepuk belakang tubuhnya yang diyakininya telah diselimutkan debu dan ia menatap Jungkook lagi, tersenyum.
"Kau sudah sarapan?"
"Belum," Jungkook menggeleng, kemudian berdiri.
Umur mereka berbeda satu tahun, tapi Jimin selalu jadi yang paling kecil di antara mereka semua. Jadi saat mereka berjalan bersama, Jungkook merasa ia jadi jauh lebih tua dari Jimin.
"Wah, sedang kencan?"
Itu Yoongi berdiri di ujung tangga, di belakangnya ada Namjoon yang bergerak dengan gelisah, terlihat benar-benar tidak nyaman. Dan Jungkook masih melihat senapan disanding oleh lelaki itu, walau tiada tanya yang terceloskan keluar dari mulutnya, Jungkook tahu sesuatu yang buruk dan yang paling buruk pasti sudah terjadi.
"Aku mau bikin sup," Jimin mengangkat tangannya sambil melambai pelan, kemudian meninggalkan Yoongi yang mendengus.
"Ada apa?" Jungkook mencoba bertanya lagi, ia menatap Yoongi, sementara pria pucat itu tidak berkata apa-apa, hanya menepuk pundak Jungkook dan berjalan pergi sembari berkata;
"Temui Taehyung sana, dia bakal menjelaskan."
"Ini sesuatu yang buruk atau baik?"
Yang menjawab Namjoon, dan suara tidak menampakkan sosok pemimpin yang tegar seperti dulu-dulu itu. Terkadang Jungkook sempat berpikir bahwa Namjoon bisa saja lelah dan bingung, dan pada saat-saatnya itu, Namjoon sungguh tidak bisa mengandalkan siapa pun lagi selain Yoongi.
"Buruk," Namjoon berkata, alisnya berkerutan dengan gelisah, dan ia pergi meninggalkan Jungkook tanpa berkata apa-apa.
.
.
.
.
.
"Sudah selesai membuat sup?"
"Ada apa, Min?"
"Tidak sopan, Park, aku hyungmu."
"Tidak ingat ya di sini sudah tidak ada sopan santun lagi?"
Yoongi berdecak pelan sembari melangkah ke atas troli dan menggerakkannya maju mundur.
"Kau bisa jatuh."
"Duh, kau peduli?"
Jimin menilik lewat matanya dan tersenyum, ia menyodorkan sup dan menyuapkan sesuap pada Yoongi sebelum benar-benar memberikannya pada pria itu. Dalam detik-detik berikutnya, si pucat menjerit karena panas.
"Sialan," ia menyambar botol air minum dekat sana dan meminumnya cepat-cepat. "Kukutuk kau dan kebiasaan burukmu itu, Park."
"Sama-sama, ini, garam."
Yoongi menyambar botol garam dari tangan Jimin sembari terus menyumpah, membiarkan beberapa sendok garam jatuh ke dalam supnya sebelum ia betul-betul makan.
"Tidak heran bicara Jungkook jadi kasar, itu karena kau."
"Haha," Yoongi duduk di atas troli, kemudian Jimin duduk di sana juga, mengambil semangkuk miliknya sendiri sembari ia berkata pada perempuan paling dekat dengan posisinya bahwa mereka sudah boleh makan supnya.
"Jadi," hela napas pemuda berpipi tembam itu terdengarkan pada sela-sela langkah-langkah kaki yang hiruk pikuk. "Kapan kita pergi?"
"Dari mana kau tahu?"
Jimin mengerling, tersenyum nakal sebelum ia mengangkat bahu dan sesuap sup ditelusupkan pada rongga mulutnya. Setelah menelankan isinya dan setelah rasa hangat sup melewati kerongkongannya, ia berkata, "kalian pura-pura tidur bersama kami, terjaga dan rapat tiba-tiba tengah malam sampai pagi. Hoseok dan Taehyung mengumpulkan perbekalan, dan Mingyu membangunkan Soonyoung untuk mengumpulkan senjata. Aku bodoh kalau tidak tahu."
"Kami berniat memberitahu kalian nanti malam, dan berangkat besok pagi. Kami menemukan kubayangan mayat di ujung kota, anjing-anjing pemerintah itu pasti telah mengumpulkan beberapa orang di kota yang mereka temukan, entah yang selamat dari wabah atau yang belum, kemudian membakar mereka."
"Cepat atau lambat sebelum mereka membakar kita juga."
"Tidak, Park, kita akan selamat. Sejauh ini masih aman, besok kita akan berangkat ke kota terdekat."
Jimin menyendokkan sesuap lagi dan mengunyahkannya dalam waktu lama, ia mengambil sendok Yoongi dan menyuapkan satu suap ke dalam mulut yang lebih tua, sehingga belum terdengarkan suara apa pun lagi dari keduanya kecuali suara mengecap yang janggal.
Yoongi sudah menelan supnya ketika ia menarik kepala Jimin jatuh ke pundaknya, dan memusutkan surai anak itu pelan-pelan. Jimin mungkin tidak bilang, namun Yoongi cukup tahu anak itu gelisah, dan walaupun gelitik ombak mata Yoongi setenang lautan, kegelisahan Yoongi melebihi Jimin sendiri, hanya saja pria itu tidak ingin bilang.
"Kemungkinan kita mati sebelum sampai ke tempat yang aman?"
"70%," Yoongi menoleh dan menatap surai Jimin, merasakan aroma apel terhirup masuk ke dalam rongga hidungnya, dan ia membenamkan wajahnya ke dalam surai itu selama yang ia bisa sebelum akhirnya Jimin mengangkat kepalanya lagi.
"Kita tidak mungkin bawa semua orang."
"Kita berangkat bergantian, dengan jalan berbeda, Kau, Taehyung, dan Jungkook akan bersama Seongcheol. Masing-masing dari kalian akan pegang senjata. Kalian berangkat kedua, setelah kami."
"Kalian ingin mengecek keadaan kota dulu."
"Kesimpulan yang bagus, dan memang begitu. Kau bisa membaca taktik dengan baik, Park, kurasa klub sepakbolamu benar-benar mengandalkanmu."
"Kalau saja aku pernah ikut sepakbola."
"Kalau begitu sayang sekali," Yoongi menyuap satu sendok supnya dan melihat Jimin ikut menyuap satu sendok pula.
"Hyung."
Yoongi menoleh, suara mengecap dari kunyahannya berhenti sebentar dan telinganya mendengarkanlah Jimin dengan seksama, sembari matanya lekat pada manik yang menatap dengan takut-takut itu.
"Kau bilang kita hanya punya 30% kemungkinan untuk selamat, kan?"
"Hm."
"Jadi ..." Jimin menatap supnya, kemudian menaruhnya di sebelah troli dengan gemetar. Ia mencondongkan tubuhnya pada Yoongi, sembari ia menenggak ludahnya dengan teramat susahnya. Sisi-sisi pipi menjadi lebih merah muda dari yang seharusnya, dalam selongsongan mata yang takut-takut itu, Yoongi melihat kenakalan. Jarak wajah mereka sudah beberapa centimeter saat suara Yoongi memecah.
"Pffft."
Jimin tersentak, ia merona hebat saat melihat Yoongi menutup mulutnya dan menahan tawa. Hampir saja ia melemparkan mangkuk supnya pada Yoongi kalau saja Yoongi tidak melambaikan tangannya dan menggeleng pelan sambil tawanya masih terdengarkan pada lima enam detik berikutnya.
"Kau sedang berusaha melakukan apa?"
"Tidak, tidak apa-apa."
Yoongi tersenyum lagi, ia tidak pernah tersenyum sebanyak ini selain pada sosok di depannya. Dan ia menyunggingkannya lama sekali sampai akhirnya Jimin memutuskan untuk melanjutkan makan.
"Kau marah?"
"Tidak."
"Kau marah."
"Tidak."
Yoongi menyuapkan satu suapan terakhir dan ia menenggak air minumnya. "Aku khawatir dengan hubungan semacam ini."
"Hubungan apa?"
Yoongi menggeleng. Ia ingat tidak pernah mengatakan satupun kalimat mengenai hubungan dan semacamnya pada Jimin. Mereka tahu saling mencintai. Namun tidak ada satu pun yang berani mengungkapkannya secara terang-terangan. Yoongi pikir sampai mereka menemukan penawar wabah ini, Yoongi tidak akan pernah mencintai seseorang dengan benar-benar mencintai. Karena sulit berjalan bersama ketika ada kemungkinan salah satu di antara mereka terkena wabah dan kemungkinan bahwa mereka akan mencoba membunuh salah satu di antara keduanya.
Namun di sinilah Yoongi. Merasakan detakan jantungnya menggila saat mencoba memikirkan hal itu, dan ia tahu ia sudah menyayangi Jimin lebih dari yang terpikirkan olehnya sendiri.
"Kemari," kata Yoongi.
Jimin mendekat, tubuh mereka berhadap-hadapan.
Yoongi meraup tubuh itu dalam dekapannya. Jika Jimin tidak bisa dapat ciuman, Yoongi hanya bisa memberikan pelukan, itu rasanya sudahlah cukup. Mereka terdiam lama, dan Jimin tidak jua menceloskan kalimat-kalimat.
Lebih lagi, mereka nyatanya nyaman pada posisi itu.
"Mendingan?"
Jimin mengangguk.
"Bagus, karena aku tidak ingin berpisah denganmu sementara kau berwajah masam seperti tadi."
"Ya, terima kasih sudah khawatir."
"Tidak, aku serius, berikan senyumanmu."
Jimin merengut sebagai imbalannya.
"Jimin."
"Ya?"
"Mana senyummu?"
"Hyung, aku bukan bayi."
"Siapa yang bilang, mana senyummu?"
Jimin mendongak dari dekapan itu dan tersenyum kecil. Itu cukup membuat Yoongi yakin bahwa Jimin sudah tidak akan benar-benar marah lagi. Jadi ia melepaskan tautan itu, dan ia menangkup kedua pipi yang lebih muda sembari ia berkata;
"Setelah semua ini berakhir Jim, aku janji, setelah semua berakhir."
Dan baru beberapa detik senyum itu muncul, Jimin sudah menurunkan bibirnya dan melepaskan tautan Yoongi dari pipinya.
"Kalau ini berakhir."
.
.
.
.
.
Taehyung mengangkat sebelah alisnya ketika melihat Jungkook terdiam lama. Setelah penjelasan-penjelasannya tadi, Jungkook tidak berkata apa-apa lagi selain suara napasnya yang terdengar berat.
"Jangan terlalu khawatir, Kook."
"Apa kau tidak khawatir, Hyung."
"Tidak sekhawatir kau, kemarilah, dan coba tenggak susu hangat itu sebelum aku sia-sia membuatkannya."
Jungkook merengut tidak suka, menenggak susu sekali dan membuang wajahnya ke luar. Tubuhnya tersandarkan pada pagar pembatas lantai dua. Di sebelahnya ada Taehyung yang berdiri sambil menatap arah yang sama seperti Jungkook.
Asap yang membelenggu langit jauh di sana, di ujung kota yang tidak terlihat. Pemerintah membakar orang-orang yang masih hidup. Jungkook masih kebingungan kenapa hal itu diperlukan.
"Namjoon bilang mereka punya bahtera sendiri di suatu kota di negara ini."
Jungkook menoleh, ia menatap Taehyung sebentar sebelum akhirnya pandangannya jatuh kembali pada bumbungan jelaga yang menyekat langit pagi itu.
"Bahtera yang tidak tersentuh, orang-orang kaya, dan hidup di dalamnya seperti tidak ada kiamat di sini," Taehyung mendengus, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya, seolah ucapan itu terceloskan keluar seperti sebuah beban.
Tapi Jungkook tetap tidak mengerti. "Yang sakit jiwa itu mereka."
Yang lebih tua menoleh dan terkikik geli, kemudian mendekat, merangkul si gigi kelinci dalam rengkuhannya kemudian mereka mentap keluar jendela bersama-sama. Tidak ada suara yang keluar dan Jungkook tidak ingin menyulut suatu kata apa pun sementara pikirannya berkecamuk dalam kepalanya.
Jungkook menatap berkeliling ke dalam bandara. Seolah itu terakhir kalinya ia melihat tempat itu. Kemudian pandangannya jatuh pada Taehyung, yang juga telah memandanginya. Mereka masih terdiam, namun manik mereka berbicara dalam gelagak senyap itu.
Kita baik-baik saja.
Jungkook tahu itu yang dipikirkan Taehyung, paling tidak itu yang biasanya diutarakan si senyum kotak. Suatu kebohongan yang menenangkan, walaupun Jungkook tahu itu tidak benar.
"Apa Jimin Hyung baik-baik saja dengan keadaan ini?"
Ekspresi Taehyung langsung berubah, ia mengalihkan pandangannya dari Jungkook dan berbalik memunggungi pagar pembatas. Jungkook menatap Taehyung, dan menunggu jawabannya namun anak itu tidak bicara apa-apa. Baru setelah beberapa saat, suara Taehyung terdengar walaupun pelan sekali.
Bahu Taehyung bergerak naik turun, seolah laki-laki itu sedang berkali-kali menghela napas berat. "Dia oke, selalu begitu. Mungkin dia sudah lebih tahu duluan."
"Tidak, kurasa dia punya masalah lain."
Taehyung memutar mata, dan menatap Jungkook tepat pada maniknya yang terdalam, berkata; "kau oke Jungkook?"
"Hm," Jungkook mengangguk, memalingkan wajahnya karena tatapan Taehyung terlalu dalam dan Jungkook tidak suka ditatap begitu. Dan lagipula, pikirannya masih dikecamuki oleh bagaimana reaksi Jimin setelah mendengar semua hal ini, apa ia bersikap biasa-biasa saja, apa ia panik, apa ia berusaha menyembunyikan semuanya.
"Apa kau tidak mengkhawatirkanku, Jungkook?"
Jungkook menoleh lagi, namun hanya untuk memandang Taehyung sekilas sebelum akhirnya ia membuang wajah dan mengangkat bahu. "Aku tidak tahu cara mengkhawatirkanmu."
"Aku enggak berharga banget."
"Bercanda Hyung."
Jungkook melihat Taehyung mengangkat bahu dan bagaimana ekspresi pria itu berubah lagi, serta merta sebuah gelutan berat menyelubung pada ombak mata yang lebih tua. Dan saat itu, Jungkook memegangi bahu Taehyung dan bertanya apa yang sedang dipikirkannya.
"Kau bilang, kan, kita oke," Jungkook mengingatkan.
Taehyung tidak menjawab, bahkan seolah tidak mendengar kata-kata Jungkook terakhir. Namun ia tersenyum beberapa detik berikutnya.
"Aku hanya memikirkan hal bodoh saja."
"Dan apa hal bodoh itu?" tanya Jungkook.
Taehyung menjawab bertepatan dengan suara Seokjin yang memanggil jauh di sana, di ujung ruangan, dan Jungkook tidak bisa membedakan mana teriakan Seokjin mana suara Taehyung.
Tapi ia bisa membaca gerak bibir Taehyung.
"Aku datangi Seokjin dulu, dia berisik sekali," Taehyung tertawa canggung, melambaikan tangannya pada Jungkook dan ia pergi tanpa bicara apa-apa lagi.
Namun Jungkook tidak membalas lambaian atau pun perkataan Jungkook. Ia hanya menebak apa yang berusaha Taehyung katakan tadi, jawaban mengenai hal bodoh apa yang dipikirkannya.
Dan Jungkook hanya meyakinkan dirinya bahwa Taehyung tidak berusaha mengatakan;
Jeon Jungkook.
.
.
.
.
.
.
Hoseok memberikan peta kota terakhir pada Yoongi ketika Namjoon datang dengan tatapan gelisah yang masih sama. Keadaan di luar sudah benar-benar gulita. Dari kejauhan, mereka bisa melihat cahaya dari mobil-mobil jip pemerintah mulai berkeliaran, dan itu artinya mereka tidak punya waktu cukup banyak sampai besok.
Yang lain sudah diberitahu, dan mereka semua bertampang hampir sama, ketakutan.
"Bagaimana dengan senjata?" Yoongi berkata, berusaha untuk tidak membahas apa mereka akan mati malam itu, walaupun seluruh pikirannya berpacu pada hal itu. Ia menatap Hoseok yang melamun menatap cahaya-cahaya dari mobil-mobil jip dan menjitak kepalanya. "Senjata, Hoseok, bagaimana senjata kita?"
"Cukup untuk semua orang, tapi amunisi tidak sebanyak yang diharapkan. Beberapa magasin sudah rusak."
Yoongi merasakan pening menjalar dan degupan jantungnya mulai berpacu lebih cepat. Ia merasakan bahwa ekspresi wajahnya sudah berubah, ia sudah kehilangan ketenangannya. Ia menyandang senapan yang terkokang di tangannya, memegangnya dengan hanya satu tangan seperti memegang pistol. Kemudian ia mengambil pistol .45, dan menyembunyikannya di belakang punggungnya, di balik kemeja abu-abu itu.
"Jangan berikan senjata pada semua orang, separuh dari kelompok kita tidak tahu cara menembakkan senjata," Yoongi berujar, ia membuka tas di atas meja dan menghitung jumlah amunisi. "Sekalipun kita sempat mengajari mereka, mereka hanya akan buang-buang peluru."
"Apa kita punya senapan mesin?"
"Yang terakhir rusak, setelah menembaki dua mobil pemerintah seminggu lalu."
"Itu artinya kemungkinan kita mati bakal bertambah jadi 80%," Taehyung menyeletuk, ia memberikan baju antipeluru pada Yoongi dan berjalan mondar mandir di depan mereka, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Kita tidak akan sempat berangkat bergantian."
Semua orang menoleh pada Jungkook kecuali Yoongi, yang terlalu sibuk menghitung senjata di dalam tas-tas. Ia menilik sebentar hanya untuk mengecek siapa yang bicara.
"Kita sempat berangkat dua kali," kali itu Namjoon yang menjawab.
Dan semua orang mendengarkan sementara pemuda berlesung pipi itu menghitung orang-orang, beberapa orang dan ia menghela napas berat.
"Kau ingin menjalankan umpan," kata Jimin, ia berdiri dan menggeleng, menatap Yoongi dan Namjoon bergantian. "Kau tidak boleh melakukan itu."
"Satu-satunya cara menyelamatkan separuh orang yang ada di sini hanya itu."
"Dan membunuh sisanya."
"Tidak kalau kami bisa bertahan, Jimin."
Jimin tetap menggeleng, namun tidak ada satu pun orang yang memiliki ide lebih baik dan tidak ada satu pun yang menyangkal perkataan Namjoon.
"Itu bunuh diri," Jungkook berdiri pula, ia menatap semua orang seolah meminta persetujuan. Namun tetap tidak ada yang berdiri. "Ada lusinan jip di luar sana, ada puluhan prajurit bersenjata jauh lebih baik dari kalian, dan jumlah kita semu bahkan tidak sampai 60 orang."
"Makasih Jungkook, menenangkan sekali," Taehyung menunjuk ke bawah menyuruh Jimin dan Jungkook duduk lagi.
Yoongi terdiam, sementara dari kejauhan ia bisa melihat dua pasang lampu jip mendekati bandara, dan Yoongi yakin bahwanya ia tidak punya waktu lebih banyak untuk berdebat. Jadi ia menghentakkan tas-tas, dan mengangguk pada Namjoon.
"Kami akan berangkat, kami akan berikan tanda jika kalian sudah bisa lewat. Jangan timbulkan keributan, sebagian besar dari kalian tidak akan memegang senjata. Usahakan untuk menghemat peluru, jangan menembak kalau tidak perlu."
"Kau pasti bercanda," suara Jungkook terdengar menggeram dan Yoongi menggeleng sebagai balasan.
Yoongi menyuruh semuanya untuk bersiap dan mengambil perbekalan. Ia menenteng dua tas amunisi dan memberikan sisanya pada Seongcheol. Ia bisa mendengar suara-suara menangis dari sudut-sudut. Dan ia bisa mendengar langkah-langkah yang tergegas. Ia bisa mendengarkan Seokjin yang memaki Namjoon di suatu tempat di belakangnya.
Suara-suara itu tidak menyamarkan degupan jantungnya sendiri, yang terhempas-hempas seperti akan mencelos keluar. Ia memandang senapan yang di dekapnya, kemudian mendesah. Ujungnya sudah dipasangi peredam yang ia buat sendiri, beberapa senapan dan pistol yang lain juga sudah dipasangi peredam, namun sisanya akan sangat berisik.
Yoongi sedang memikirkan jalan mana yang akan mereka ambil ketika ia mendengar suara gemerisik di belakangnya. Dan ketika ia menoleh, ia menemukan Jimin sedang mengubek-ubek tas senjata.
"Kau mau apa?"
"Aku akan ikut kalian."
Yoongi tertawa, ia melonggarkan senapannya dan menarik Jimin untuk berdiri menghadapnya. "Kau ikut kelompok kedua."
"Dan membiarkanmu jadi umpan, tidak, makasih."
Jimin sudah merundukkan tubuhnya ketika Yoongi menariknya lagi dan wajah mereka bertemu, hidung mereka sudah bersentuhan dan dalam keributan dan kegelisahan di sekitar mereka, Yoongi memiringkan kepalanya dan meraup bibir yang lebih muda.
Tidak ada yang bicara, tidak ada yang menolak. Sebuah lumatan halus yang agak tergesa mencapai perdebatan mereka. Suara-suara mengecap mereka hanya terdengarkan oleh keduanya, tenggelam bersama suara-suara ribut yang lain. Tidak ada manis atau pahit dalam ciuman itu. Tapi Yoongi mencoba membungkam sebuah hal yang akan dilakukan Jimin, berusaha menyadarkan laki-laki itu bahwa ia harus berangkat kedua, ia harus selamat, ia harus mencapai kota berikutnya dan memberitahu Yoongi bahwa dia baik-baik saja. Jika Yoongi masih hidup.
Perutnya memanas, dan kegelisahan merenggutnya lagi, menyadari bahwa kemungkinan kelompok kedua tetap akan diserang membuatnya pening. Ia bisa merasakan hawa dingin menyergap, dan bukan hanya detakan jantungnya yang merespon semakin cepat, namun tubuhnya yang semakin lemas sehingga ia melepaskan tautan mereka dan terdiam.
Ia melihat untuk pertama kalinya. Selama dua tahun yang panjang itu, wajah Jimin yang menangis, wajah yang meminta untuk tetap bersama. Jejak-jejak basah yang mengalir di pipi yang lebih muda itu terlihat dan Yoongi merasakan tubuhnya semakin lemas.
"Tidak-tidak-tidak, jangan menangis."
"Kau akan menyesal."
"Ya aku akan menyesal aku tahu."
Mereka berpelukan lagi, lama sekali kali itu.
Yoongi menarik pistol .45 dari belakang, dan memberikannya pada Jimin. Ia tersenyum dan memusut kepala yang lebih muda sebentar sebelum akhirnya Jimin berkata;
"Jangan buat aku menyesal membiarkanmu pergi."
.
.
.
TBC
.
.
.
Agak sedih sih sama reviewnya. Sempet bilang sama diti sendiri buat stop aja, Tapi yah, ini satu satunya alasan aku nulis. Jadi yah. Aku oke.
.
.
.
.
Big thanks to ; kimnjsj, MingyuAin, Avis Alfi, love u guys.
.
.
.
.
See u.
.
.
.
.
.
[Next Chapter, We're Okay]
