IMPERFECT LOVE
Cast : Sehun, Jongin, Luhan, Kris, Suho, etc
Terima kasih untuk semua yang udah review nih ff, maaf ga bisa balas komen kalian satu persatu.
Disini aku mau jelasin dikit ya tentang chapter pertama kemaren. Kenapa karier Sehun harus hancur padahal kan Luhan udah mengakui semuanya di depan wartawan. Jadi gini, Luhan memang datang untuk melakukan konferensi pers dengan wartawan, tapi dia ga ngaku kalau dia itu adalah Luhan, dia melakukan wawancara dengan memposisikan dirinya sendiri sebagai Sehun, kembarannya. Jadi gitu Sehun yang asli datang ke tempat dia melakukan wawancara itu, secara otomatis Sehun palsu alias Luhan itu menyebut kalau Sehun asli adalah dirinya ( Luhan ). Jadi semacam bertukar posisi, karena mereka kembar identik jadi ga da yang sadar kalau orang yang melakukan wawancara itu adalah Luhan. Dan Sehun yang datang terlambat hanya bisa pasrah saat semua orang menghina dirinya karena mengira kalau dia adalah Luhan yang telah berbuat jahat.
Ku harap aku ga salah ya kalau bilang karier Sehun yang asli udah hancur, karena memang semua karier dia sekarang udah di ambil alih Luhan yang berpura-pura sebagai dirinya.
Apakah penjelasanku bisa dimengerti? Maaf ya, aku ga berbakat buat kasih penjelasan #plakk
Untuk ff yang lain, maaf juga karena belum nemu ide buat lanjutin. Terus terang aja ya, aku yang sekarang lagi suka-sukanya nonton drama korea voice yang ga da romance-romancenya, jadi ga tau kenapa kalau harus bikin ff dengan tema romance langsung blank, yang kebayang malah adegan penuh misteri di drama itu #plakk jadi aku ga bisa janji bakal cepat update.
Mungkin masih banyak typo yang bertebaran di ff ini.
KaiHun Lovea
.
.
.
.
.
Sesi tanya jawab di konferensi pers itu sudah berakhir beberapa menit yang lalu, dan selama itu Sehun harus menerima begitu banyak hujatan, baik dari wartawan, fans, baik itu yang dulunya menjadi fans dirinya ataupun fans Jongin yang entah bagaimana bisa datang juga ke tempat itu. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Luhan yang menyamar sebagai dirinya? Entahlah, Sehun sudah terlalu lelah untuk memikirkan itu. sekarang ia hanya bisa bersyukur karena pihak keamanan yang cepat datang telah melindunginya dari sikap anarkis para fans yang marah itu.
Setelah meyakinkan dirinya sendiri kalau dirinya terlihat baik-baik saja, Sehun bergegas menemui Luhan yang ternyata sudah menunggunya di sebuah ruangan yang telah ia sebutkan dalam pesan yang baru saja Luhan kirimkan kepadanya.
"Luhan.." Sehun melangkah masuk dengan tergesa-gesa.
"Apa lagi kali ini, kau mau menjebak kami dengan mengatakan kalau dia adalah Luhan?" Minseok managernya, menatap marah pada Sehun.
"Hyung, dia bukan Sehun yang asli, yang asli itu aku." Sehun berusaha menjelaskan pada Minseok.
"Terserah padamu, namun apapun yang kau katakan, tak akan ada lagi yang tertipu kali ini."
Justru kalian sudah tertipu oleh tampang sok polos yang sialnya mirip denganku itu, hyung. Inginnya Sehun mengatakan hal itu, namun ia tahu, apapun yang ia katakan pada managernya, managernya tak akan percaya.
"Sudahlah hyung," Luhan menepuk pundak Minseok. "Dia memang biasa seperti itu, sekarang hyung keluarlah, biar aku yang mengatasinya."
Minseok menyipitkan matanya, "Kau yakin? Bagaimana kalau ia menyakitimu? Kau kan sudah menceritakan semuanya pada media."
"Jangan khawatir, dia kembaranku, orang yang sedarah denganku, dia tak akan bertindak sejauh itu."
Sehun mengepalkan tangannya, tentu saja, dia adalah Oh Sehun dan bukan Oh Luhan yang akan tega menyakiti orang lain demi memenuhi ambisinya. Sehun tak akan melakukan hal yang keji seperti itu.
Minseok melirik ke arah Sehun sekilas sebelum kemudian menatap Luhan dengan senyuman cerah di wajahnya. "Baiklah kalau begitu, aku akan keluar, tapi ingat kalau dia bertindak macam-macam segera hubungi aku."
"Ah, soal itu..." Luhan menatap Minseok dengan memasang ekspresi sedihnya, "Handphoneku di buang oleh dia hyung, aku belum sempat membeli yang baru dan..."
"Oke, aku akan membelikan yang baru untukmu," Minseok melotot pada Sehun yang menonton mereka dalam diam. "Kau benar-benar orang yang jahat Luhan, bagaimana bisa kau melakukan hal sekejam itu pada Sehun, kau ingin menghancurkan kariernya?" telunjuk Minseok mengarah tepat di depan hidung mancung Sehun.
"Hyung, berapa kali aku harus bilang kalau aku bukan Luhan?"
"Ya, teruslah membual, kau iri dengan kesuksesan Sehun kan, kalau begitu sana, tidurlah dengan para pengusaha kaya raya, mungkin saja salah satu dari mereka akan ada yang berbaik hati mau membantumu memenuhi keinginanmu menjadi seorang model. Jangan rebut karier adikmu, kau mengerti?"
Sehun menatap tak percaya pada Minseok, bagaimana bisa managernya yang terkenal lembut itu bisa bicara sekasar itu pada dirinya. "Hyung..."
"Aku pergi, Sehuna kalau kau sudah selesai bicara dengan dia," Minseok kembali menunjuk ke arah Sehun. "Segera keluar dan temui aku di depan."
"Baik hyung," Luhan kini fokus pada Sehun yang berdiri tak jauh dari dirinya. Segera saja setelah Minseok keluar dari ruangan dan mereka hanya tinggal berdua di dalam ruangan itu. Luhan segera melepas image palsunya, wajah yang tadinya terlihat begitu polos kini telah berganti dengan wajah yang menampilkan seringaian menyebalkan. "Bagaimana aktingku Sehuna, bagus atau tidak?"
"Kenapa kau lakukan hal ini padaku Luhan? Bagaimana bisa kau menyebut dirimu adalah aku di depan media?"
"Bagaimana bisa katamu? Tentu saja itu sesuatu hal yang bisa aku lakukan, Oh Sehun. kau lupa kalau wajah kita serupa? Orang akan langsung percaya kalau aku menyamar sebagai dirimu, walaupun yah terus terang saja aku agak sedikit muak dengan image namja baik-baik yang selama ini menempel dari di dirimu. Aku jadi tak bisa bebas melakukan apa yang aku mau dengan menjadi dirimu, tapi tak apa, perlahan tapi pasti aku akan mengubah image polosmu itu."
"Apa maksudmu?" Sehun menatap tak percaya pada Luhan. "Kau ingin menyamar menjadi aku dan melanjutkan karierku?"
"Dasar bodoh. Kau pikir aku mau melakukannya hanya untuk kali ini saja? Tidak Sehun, untuk seterusnya kau akan hidup dengan menggunakan nama Luhan, dan aku, aku akan menjadi Sehun."
"Tidak Luhan, aku tidak mau." Sehun menggelengkan kepalanya.
"Terserah saja, tapi kau pikir apa semua orang akan percaya kalau kau adalah Sehun yang asli? Tidak Sehun, tak akan ada yang percaya padamu, kecuali mungkin eomma dan appa." Luhan beranjak ke dekat meja, meraih tasnya dan mengeluarkan handphonenya.
"Kau bilang kalau kau tak punya handphone, apa kau juga berbohong pada Minseok?"
"Kau pikir aku menghubungimu tadi dengan memakai handphone siapa? Kau benar-benar bodoh Sehun, pantas saja kau mudah di tipu."
"Luhan, ku mohon hentikan ini, kau tak bisa terus membohongi semua orang, suatu saat mereka akan tahu dan..."
"Aku bisa, Sehun," sela Luhan. "Aku bisa membohongi semua orang demi memenuhi tujuanku. Dan tujuanku saat ini adalah mengambil karier milikmu." Luhan menyodorkan handphonenya ke hadapan Sehun. "Kau lihat ini..."
Breaking News : Pembalap Kim Jongin tak bisa lagi melanjutkan kariernya sebagai pembalap karena cedera parah yang di alaminya.
Seorang kerabat dari Kim Jongin telah melakukan pernyataan resminya mengenai cedera yang di alami Kim Jongin...
"Kau lihat, sekarang kekasihmu sedang di rawat di rumah sakit dan kariernya sebagai pembalap hancur, tidak kah kau kasihan padanya?" Luhan menyeringai.
"Dia bukan kekasihku," sahut Sehun cepat. "Dia kekasihmu dan bukan kekasihku."
"Oh ya," Luhan mendekat ke arah Sehun dan ia sedikit mendekatkan mulutnya ke telinga Sehun. "Apa kau lupa kalau sekarang orang-orang sudah menganggapmu sebagai Luhan. Jadi, sekarang secara otomatis kau adalah kekasih Kim Jongin."
Luhan," mata Sehun berkaca-kaca ketika menatap Luhan. "Kenapa kau lakukan ini padaku, dari kecil kau sudah memonopoli perhatian orang tua kita dan sekarang kenapa kau juga..."
"Itu karena aku tidak suka," potong Luhan. "Aku tidak suka kau mendapat perhatian yang lebih dari orang banyak."
"Tapi kenapa?"
"Kau tahu, aku tak pernah ingin terlahir dengan punya saudara kembar sepertimu. Aku tak suka saat semua orang membanding-bandingkan kita. Dulu kau mungkin mendapatkan perhatian yang lebih dari orang lain, tapi sekarang sudah tiba giliranku. Semua orang akan menatap padaku dan mengabaikanmu."
"Luhan..."
"Sekarang pergilah dan jangan pernah datang menemuiku lagi."
Sehun tahu kalau Luhan tak akan merubah apapun keputusan yang sudah ia buat, karena itulah ia segera melangkah untuk keluar dari ruangan itu. saat berada di depan pintu ia berhenti sejenak dan tanpa menoleh pada Luhan ia mengucapkan kata-kata yang sedikit membuat Luhan terpaku.
"Aku tak tahu sebenci apa dirimu padaku, tapi kau tahu kalau aku tak bisa membencimu Luhanie, kau saudaraku dan selamanya akan begitu."
.
.
.
.
.
Plakkk
Sehun secara refleks memegang pipinya yang baru saja terkena tamparan dari ayahnya. Ia baru saja tiba di rumah dan ayahnya yang entah datang dari arah mana tiba-tiba saja langsung menghampiri dan kemudian menampar pipinya dengan keras.
"Appa..." Sehun menatap tak percaya pada ayahnya, selama 23 tahun usianya, ayahnya tak pernah sekalipun menamparnya, namun kali ini kesalahan apa yang telah ia lakukan hingga ayahnya melakukan hal itu.
"Masih berani menatap appa dengan tatapan seperti itu Oh Sehun? Apakah aku telah melakukan kesalahan dengan membiarkan kau tinggal di apartemen sendirian tanpa pengawasan dariku, hingga kau menjadi kurang ajar seperti ini."
"Apa maksud appa, Sehunie salah apa, appa?"
"Tidak usah berpura-pura lagi Oh Sehun. Appa tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi seorang pembohong."
"Tapi aku benar-benar tidak tahu apa kesalahanku, appa."
"Masih ingin berpura-pura seakan kau tak memiliki kesalahan, Oh Sehun. Aku tidak tahu siapa yang telah mengubahmu menjadi seorang pembohong seperti ini."
"Hiks, aku..."
Plakk
Satu tamparan keras kembali Sehun dapatkan, kini kedua pipinya terlihat memerah karena bekas tamparan ayahnya dan Sehun hanya bisa menangis menahan rasa sakit yang ia rasakan. Namja manis itu tak tahu lagi apakah sakit itu berasal dari bekas tamparan ayahnya ataukah karena hatinya yang terluka karena ayahnya yang begitu tega melakukan itu pada dirinya. "Hiks... Appa..."
"Apa yang kau lakukan Sehun, bisa-bisanya kau meminta Luhan untuk mengaku di depan media sebagai dirimu dan kemudian menceritakan semua kebohongan itu."
"Mwo..." Sehun terkejut mendengar ucapan ayahnya. "Appa, aku tidak melakukannya. Luhan sendiri yang..."
"Sudah ku bilang berhenti untuk berbohong padaku, Sehun. Luhan menelponku sambil menangis dan kau tahu apa yang ia katakan?"
Sehun menggeleng.
"Ia bilang kau memaksanya untuk melakukan semua hal yang ia tidak suka di depan media. Bagaimana bisa kau melakukan hal itu pada saudara kembarmu sendiri, Sehun. Apa kau iri pada Luhan?"
"Hiks, tidak appa.." Sehun jatuh berlutut di depan ayahnya. "Appa, percaya padaku... aku tidak pernah..."
"Pergi!"
"Appa..."
"Apa kau tidak mendengar apa yang ku ucapkan. Pergi dari rumah ini sekarang juga Sehun."
"Appa..."
"Aku akan memberikan separuh dari hartaku kepadamu, itu kan yang kau mau?"
"Tidak, appa."
"Tak usah berpura-pura, kau sengaja memaksa Luhan untuk menggantikan posisimu agar kau bisa dengan bebas menggantikan posisi Luhan di kantor dan diam-diam mengambil harta appa kan?"
"Appa, aku tidak..."
"Pergilah, aku akan membagi hartaku untukmu. Tapi appa mohon padamu, jangan lagi menghancurkan kehidupan Luhan." Setelah mengatakan hal itu, Kris berbalik dan melangkah menjauh menuju kamar pribadinya.
Meninggalkan Sehun yang menangis terisak di lantai, tangan namja itu mencengkeram kaosnya sendiri dengan kuat. "Hiks, appa... ini bukan salahku... aku tidak melakukannya..."
Namun, sebanyak apapun Sehun menangis, namja manis itu mengetahui kalau appanya tidak akan pernah berpaling padanya.
"Sehunie..."
Sehun menoleh ke arah sumber suara dan ia menemukan ibunya yang sepertinya baru saja selesai berbelanja. "Eomma..."
"Omo, apa yang terjadi padamu anakku." Suho meletakkan barang belanjaannya begitu saja di atas lantai, ia memilih untuk mendekat pada anaknya dan mendekapnya dengan erat. "Sehuna... apa yang terjadi padamu nak?"
"Hiks... eomma..." Sehun membalas pelukan ibunya dengan tak kalah erat. "Hiks... eomma... appa tidak percaya padaku..."
"Appa tidak percaya padamu? Jelaskan pada eomma, apa yang terjadi." Suho melonggarkan pelukannya, menangkup pipi anaknya yang terlihat begitu merah dan mengusapnya perlahan. "Apa, ayahmu menamparmu?"
Sehun menggeleng.
"Jangan berbohong pada eomma, nak. Ini jelas-jelas bekas tamparan." Air mata keluar membasahi pipi Suho dan Sehun dengan cepat menghapusnya.
"Eomma jangan menangis." Ucapnya dengan suara serak.
"Apa yang telah appamu lakukan, Sehuna?"
Sehun menceritakan semua yang telah terjadi pada ibunya dan sepanjang Sehun bercerita, Suho hanya bisa menangis terisak.
"Maafkan eomma, Sehuna..."
"Eomma tidak salah."
"Tidak, nak. Eomma bersalah padamu. Maafkan eomma yang tak bisa berbuat apapun untuk menolongmu."
"Eomma tidak perlu melakukan apapun. Aku takut, kalau eomma berbuat sesuatu, appa akan marah pada eomma."
"Sehuna..."
"Aku tidak apa-apa eomma. Aku baik-baik saja."
"Hiks..." Suho kembali memeluk tubuh Sehun dengan erat. "Eomma tidak tahu kenapa appamu begitu membedakan kalian berdua, appamu tidak pernah menjelaskan apapun pada eomma."
"Suho, kau sudah datang?"
Sehun dengan cepat melepaskan pelukannya di tubuh eommanya. "Eomma, aku harus pergi."
"Tapi sayang, kau akan pergi kemana?"
"Suho..." suara Kris terdengar semakin dekat.
"Aku akan menghubungi eomma nanti, sekarang eomma temui appa, sebelum appa marah pada eomma." Setelah mengecup pipi ibunya Sehun bergegas untuk berdiri dan cepat-cepat melangkah menuju pintu keluar.
"Sehunie..."
Langkah Sehun terhenti dan namja manis itu menoleh pada ibunya.
"Eomma sangat menyayangimu. Cepatlah kembali."
Sehun tersenyum, "Aku juga menyayangi eomma." Dan setelah mengatakan itu, Sehun keluar dari rumah itu. Menyisakan Suho yang sedang menyusut air matanya dan bersiap untuk kembali berpura-pura bahagia di depan suaminya.
.
.
.
.
.
Sehun tak tahu, kenapa kali ini langkah kakinya membawanya untuk pergi ke rumah sakit tempat Kim Jongin di rawat. Namja manis itu merapatkan tudung jaketnya dan berharap tidak ada fans Jongin ataupun orang lain yang mengenali dirinya. Namun ketika akhirnya ia memasuki lobby rumah sakit itu, Sehun baru menyadari satu hal, ia bahkan tidak tahu diruangan mana Jongin di rawat. Selain itu juga ia bahkan tidak tahu seperti apa wajah dari Kim Jongin itu, selama ini ia hanya sekedar tahu nama tanpa tahu seperti apa rupa Kim Jongin.
Sehun berdiri tepat di tengah-tengah lobby, terlihat ragu untuk bertanya pada bagian resepsionis. Ia takut kalau mereka akan menyadari siapa dirinya.
Puk
Satu tepukan di pundaknya membuat Sehun terkejut, dengan cepat ia berpaling dan menemukan sesosok namja bertubuh tinggi dan berwajah tampan tengah tersenyum ke arahnya.
"Luhanie hyung?"
Sehun tertegun, orang di depannya ini sepertinya mengenal Luhan dan Sehun tak tahu apakah ia harus berpura-pura menjadi kembarannya itu atau tidak.
"Aku sudah menduga kalau hyung akan datang untuk menjenguk Jongin hyung, ayo ikut aku. Aku juga ingin ke sana."
Sehun tetap diam meski kemudian namja itu menarik tangannya dan kemudian menariknya dan membawanya memasuki lift.
"Harusnya aku menyadarinya dari awal, kalau apa yang media katakan itu bohong."
Deg
Sehun dengan cepat menoleh pada namja itu dan berharap kalau namja itu mengetahui kebenarannya.
"Luhan hyung tak mungkin selingkuh dan melakukan hal sekeji itu, kembaranmu itu mengerikan sekali hyung, bagaimana bisa ia mengatakan kalau kau selingkuh di hotel. Kalau kau selingkuh dengan namja lain, kau pasti tak akan repot-repot datang kesini untuk menengok hyungku."
"Kenapa kau begitu yakin?" akhirnya Sehun tak tahan juga untuk tidak membuka suara.
"Entahlah, semua orang tahu kalau Jongin hyung sekarang cacat dan banyak penggemarnya yang mungkin sudah berpaling darinya dan untuk orang secantik Luhanie hyung, bisa saja kan hyung juga akan berpaling dan meninggalkan Jongin hyung yang tak lagi sesempurna dulu."
"Begitu..." Sehun menundukkan kepalanya.
"Ah, tunggu... kenapa suaramu berubah hyung?"
Deg
Lagi-lagi jantung Sehun berpacu lebih cepat, namja manis itu melangkah mundur ke belakang saat namja di depannya melangkah maju. Sial, ia tak akan bisa menghindar karena saat ini di dalam lift hanya ada mereka berdua.
Sret
Sehun tertegun saat namja tampan di depannya itu membuka tudung jaketnya, untuk sesaat keduanya saling bertatapan.
"Kau..."
Sehun melangkah mundur kembali dan kemudian menyadari kalau di belakangnya terhalang dinding dan ia terpojok di sana.
"Bukan Luhan hyung kan?"
Sehun tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. "Kau tahu?"
"Dari suaramu dan juga tatapanmu, kau berbeda dengannya. Apa kau Oh Sehun?"
Sehun tahu percuma ia mengelak, karena namja dihadapannya jelas tak bisa ia tipu. "Ya, aku Oh Sehun."
"Lalu yang berbicara di depan media itu kau?"
Sehun terdiam, ia tak ingin menjelaskan apapun karena ia yakin kalau namja ini juga tak akan percaya padanya.
"Ternyata bukan ya?"
"Apa?"
"Yang berbicara di depan media itu bukan kau, tapi Luhan hyung?"
"Apa? bagaimana kau bisa tahu?"
"Kenalkan aku Kim Jaehyun, aku adik dari Kim Jongin, kekasih kembaranmu, dan bagaimana aku tahu.. ya, hanya kebetulan saja. Aku calon psikolog."
"Kau adik Jongin? dan mahasiswa jurusan..."
"Tak perlu disebutkan, aku tak mau pamer di depanmu. Oh ya, Sehun-ssi, apa tujuanmu datang kemari, kau ingin berpura-pura menjadi Luhan dan mendekati hyungku?"
"Aniyo, aku hanya ingin minta maaf padanya, karena perbuatan Luhan telah membuatnya mengalami kecelakaan."
Lift telah berhenti di tempat yang keduanya tuju dan Jaehyun membimbing Sehun untuk berjalan mengikutinya.
"Akan sulit untuk melakukan itu, kau tahu, Jongin hyung tampak begitu terpukul dengan kecelakaan yang ia alami."
"Aku mengerti.."
Tadi, saat di dalam lift Jaehyun memang tidak terlalu memperhatikan Sehun, namun saat ini di bawah cahaya lampu yang terang, Jaehyun dapat melihat lebam di kedua pipi Sehun. "Apa para fans yang melakukan itu padamu?"
"Apa?"
Jaehyun menunjuk lebam di pipi Sehun.
"Bukan, ini bukan karena fans Jongin."
Jaehyun terdiam, ia menghentikan langkahnya dan Sehun yang melihat Jaehyun berhenti juga langsung menghentikan langkahnya. "Apa Luhan hyung yang melakukannya?"
Sehun menggeleng. "Kau tak akan percaya kalau aku mengatakannya."
"Bagaimana kau bisa menilaiku seperti itu padahal kau belum mengatakannya padaku."
"Bagaimana kalau aku katakan kalau itu perbuatan orang tuaku, apa kau percaya padaku?"
"Ya, aku percaya."
"Kau..." Sehun mencari-cari kebohongan di mata Jaehyun, namun ia tidak menemukannya.
"Dari apa yang telah terjadi dan juga kedatanganmu ke sini dan juga lebam itu. Aku dapat menyimpulkan, kalau Luhan hyung saja bisa melakukan kebohongan pada media kenapa keluargamu tidak?"
Sehun menunduk, "Sepertinya aku tak bisa sembarangan bicara denganmu ya. Di mana ruangan Jongin? aku ingin menemuinya dan segera pergi dari sini."
"Sehun-ssi..."
"Ya?"
"Mungkin ini terdengar gila menurutmu, tapi bisakah kau tetap menyamar sebagai Luhan di depan Jongin hyung?"
"Mwo..."
"Mental Jongin hyung sangat down sekarang ini dan kalau kau muncul didepannya dan mengatakan kalau kau bukanlah Luhan hyung, tidakkah Jongin hyung akan semakin bertambah down nantinya."
"Tapi..."
"Hanya sampai Jongin hyung sembuh, setelah itu aku berjanji akan membiarkanmu pergi."
Sehun terdiam.
"Ingat Sehun-ssi, saat ini aku sudah mengetahui rahasiamu."
"Hanya sampai Jongin sembuh kan?"
"Ya."
Sehun menggigit bibirnya sejenak, "Baiklah..."
"Kalau begitu, ayo kita temui dia," Jaehyun sebenarnya ragu membawa Sehun ikut dengannya karena ia tahu kalau keluarganya sudah terlanjur marah pada Luhan karena berita di media.
"Jaehyun, kemana saja kau? Tadi Jongin bangun dan sempat mengamuk lagi..." terdengar suara seorang yeoja berbicara dengan intonasi suara sedikit keras saat Jaehyun membuka pintu kamar tempat Jongin di rawat.
"Maaf eomma, tadi aku bertemu dengan Luhan hyung."
"Apa? di mana kau bertemu dengan namja tukang selingkuh itu?"
Di belakang Jaehyun, Sehun meremas kedua tangannya, ia takut mendengar nada kemarahan dari suara ibu Jongin.
"Luhan hyung di sini.." Jaehyun bergeser kesamping hingga sosok Sehun terlihat oleh pandangan ibunya.
"Kau..." dengan langkah lebar ibu Jongin menghampiri Sehun dan...
Plakk
Satu tamparan lagi Sehun dapatkan hari ini.
"Bagaimana bisa kau berselingkuh di belakang putraku, kau penyebab dari kecelakaan putraku, dasar b*tch kurang ajar."
"Eomma..." Jaehyun cepat-cepat memeluk tubuh ibunya. "Ku Mohon tenanglah.."
"Bagaimana aku bisa tenang Jaehyunie, dia yang sudah menyebabkan kakakmu terbaring di sini. Namja tak berguna itu yang telah membuat kakakmu seperti ini."
Tetesan air mata kembali mengalir di pipi Sehun, "Hiks... maaf bibi... tapi aku tidak melakukannya."
"Hentikan air mata kepura-puraanmu itu, aku tak akan pernah tertipu oleh wajah polosmu lagi, aku akan membuatmu merasakan apa yang dirasakan putraku. Aku akan..."
"Eomma..." suara lirih itu menghentikan ucapan eomma Kim. "Apa itu Luhan..."
"Jongin... kau sudah bangun nak?" eomma Kim melepaskan pelukan Jaehyun dan bergegas mendekati putra sulungnya yang tengah terbaring di ranjang.
"Apa Luhan sudah datang?"
Eomma Kim menoleh pada Sehun yang tengah mengusap air matanya. "Ya, dia ada di sini."
"Dimana dia? Aku ingin melihatnya."
Eomma Kim sekali lagi menatap pada Sehun, terlihat begitu enggan untuk meminta namja manis itu untuk mendekat. Tapi Jaehyun mengambil tindakan lebih dulu, ia merangkul pundak Sehun dan membimbingnya mendekati ranjang tempat Jongin terbaring.
"Jae..." Eomma Kim melotot pada putra bungsunya.
"Kita harus bicara eomma, di luar." Jaehyun melepaskan rangkulannya, namun Sehun dengan cepat menahan tangannya sembari mengelengkan kepalanya. "Eomma berhak tahu Sehun-ssi," bisik Jaehyun. "Kau bicaralah dengan Jongin."
Setelah melepaskan pegangan tangan Sehun, Jaehyun segera membawa eommanya keluar ruangan, menyisakan Sehun dan Jongin di dalam sana.
Perlahan, Sehun makin mendekat ke sisi ranjang. Dan untuk pertama kalinya ia melihat wajah Jongin. Namja itu bertubuh tinggi dan langsing, meskipun tengah berbaring namun Sehun meyakini kalau namja itu jelas lebih tinggi dari Jaehyun. Rambutnya berwarna keperakan dengan warna kulit yang cukup gelap, bentuk hidung yang kuat dan juga bibir yang tebal kemerahan. Secara keseluruhan walau wajahnya dinodai oleh luka lecet, Sehun mengakui kalau namja ini tampan.
Pandangan Sehun beralih pada kaki kanan dan kiri juga tangan kanannya yang di gips, lalu kemudian pada dadanya yang bidang, Sehun yakin di balik perban yang melilit perutnya ada abs yang menggiurkan di sana.
"Puas memandangiku?" suara Jongin terdengar begitu dingin.
Dan Sehun menyadari mungkin apa yang dikatakan Luhan pada media itu benar, Jongin memergoki Luhan bersama dengan pria lain. Kalau tidak, namja itu tak mungkin berbicara dengan nada begitu dingin padanya. Atau nada bicara Jongin memang seperti itu?
"Maaf..."
"Apa yang harus aku maafkan? Soal perselingkuhanmu? Atau karena kau ingin memutuskan aku karena kondisiku?"
Sehun cepat-cepat menggelengkan kepalanya, "Aku tidak selingkuh dan aku juga tidak akan memutuskanmu." Sehun tak tahu, kenapa ia bisa mengatakan hal itu pada Jongin. Entah kenapa, ia begitu ingin Jongin percaya padanya.
"Apa kau kasihan padaku hingga mengatakan hal yang seperti itu?"
"Demi Tuhan Jongin, aku tidak..."
"Kalau begitu mendekatlah padaku, biarkan aku membuktikan apa kau benar-benar selingkuh dengan si brengsek itu, dan apakah kau masih mencintaiku atau tidak."
Untuk sesaat Sehun merasa panik, ia bahkan tidak mencintai Jongin jadi dengan cara apa ia membuktikan pada namja itu? merasakan pandangan Jongin yang terus menerus mengarah padanya, mau tak mau Sehun melangkah semakin dekat lagi. Kemudian ia duduk di kursi di samping ranjang Jongin.
"Condongkan wajahmu ke arahku."
"Eh..."
"Lakukan saja Luhan, bukankah kau biasanya sangat agresif saat bersamaku, kenapa kau sekarang bertingkah seperti perawan seperti itu."
Aku memang masih perawan. Ingin rasanya Sehun menjerit seperti itu, namun ia tak bisa mengatakannya secara langsung jadi ia sedikit membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Jongin sembari berharap Jongin tak akan menyadari perbedaan dirinya dan Luhan.
"Apa kau jijik padaku hingga kau bahkan memejamkan matamu?"
Sehun cepat-cepat membuka matanya yang tadi sempat terpejam. "Tidak."
"Bagus."
Dengan tangan kirinya yang tidak terluka, Jongin menarik tengkuk Sehun untuk semakin menunduk.
"Jongin, infusmu..."
Namun Jongin hanya diam, ia malah makin menekan tengkuk Sehun dan...
Cup
Sehun membulatkan matanya, ini adalah ciuman pertamanya dan ia melakukannya dengan orang yang menjadi kekasih saudaranya.
Semua reaksi Sehun tak ada yang luput dari pandangan Jongin, namja itu tersenyum tipis, sebelum kemudian melumat dengan lembut bibir tipis Sehun. Perlahan Sehun merasa terbuai dengan ciuman Jongin hingga ia membalas ciuman itu dengan tak kalah lembut.
"Kau benar," ucap Jongin dengan suara sedikit serak. "Rasa bibirmu sangat manis, dan aku yakin kalau kau tak pernah selingkuh dariku." Karena kau bukan Luhanku.
Sehun sedikit menjauhkan wajahnya dari Jongin.
"Sayang, kali ini aku tak akan pernah melepaskanmu, apapun yang terjadi."
.
.
.
.
.
.
TBC
Ada yang ingin ff ini tetap lanjut kalau begitu bisa tingkatkan reviewnya gak? (^_^)
Mohon tetap review ya.
Maaf kalau masih ada typo dan terima kasih juga untuk yang selalu dukung ff absurd aku.
Salam KaiHun HardShipper
KaiHun Lovea
