IMPERFECT LOVE

Cast : Sehun, Jongin, Luhan, Kris, Suho, etc

Terima kasih untuk semua yang udah review nih ff, maaf ga bisa balas komen kalian satu persatu.

Yang nanya Sehun n Luhan make tubuh yang mana, cukup pake tubuh masing-masing ya, Cuma mungkin bayangin aja Sehun lebih pendek dari Jongin, mungkin kiara-kira tingginya seperti Baekhyun. (^_^)

Backsong: Tim McGraw ft Taylor Swift – Highway Don't Care

Ga di anjurin buat yang ga suka lagunya, aku hanya ngetik nih ff sambil dengerin lagu itu.

Typo bertebaran.

KaiHun Lovea

.

.

.

.

.

.

Dengan jemarinya yang gemetar Sehun menyentuh bibirnya yang baru saja di cium Jongin, sementara matanya terus menatap lurus pada namja itu.

"Kenapa?" tanya Jongin.

Sehun menggelengkan kepalanya, tak mungkin bukan kalau ia mengatakan pada Jongin kalau ini adalah ciuman pertamanya, Jongin akan curiga dan menuduhnya sudah menipunya dengan berpura-pura menjadi kekasihnya.

"Kau seperti orang yang baru pertama kali berciuman," komentar Jongin.

"Eh..." Sehun membulatkan matanya. "Aku tidak..."

"Kau seperti bukan Luhanku, apa kau orang lain yang menyamar menjadi Luhan?"

"Tidak," Sehun menggelengkan kepalanya. "Aku bukan orang lain."

Jongin tersenyum tipis melihat kepanikan di wajah Sehun. "Kalau begitu kenapa kau tidak balas ciumanku? Biasanya kau bahkan selalu menciumku lebih dulu."

Sehun meringis, apakah Luhan separah itu? rasanya ia tidak bisa terus berpura-pura menjadi Luhan kalau ternyata sifat Luhan begitu agresif, ia tak bisa menjadi seperti itu. "Aku..." Tangan Sehun turun untuk meremas ujung jaket yang di pakainya. "Hanya tidak ingin menyakitimu..."

"Menyakitiku?"

"Ya, tubuhmu terluka dan aku takut kalau..."

"Ah, jadi kalau lukaku sudah sembuh, kau akan kembali menjadi Luhanku yang agresif?"

Sehun mengangguk.

Jongin kembali tersenyum, "Aku tak tahu apa yang mengubahmu menjadi lebih pendiam dan pemalu seperti ini. Di mataku sekarang kau terlihat seperti orang yang begitu polos."

"Apakah itu artinya buruk untukmu?" Sehun meremas ujung jaketnya dengan perasaan gelisah.

"Tidak, ku pikir sekali-sekali melihatmu bertingkah yang seperti ini tidak apa-apa."

Sehun memaksakan senyumnya, "Cepatlah sembuh."

Jongin mengangkat sebelah alisnya. "Apa kau tidak suka melihatku terluka seperti ini?"

Sehun mengangguk.

"Kenapa? Apa karena aku jelek? Dan kau ingin meninggalkanku? Kau jijik melihat tubuhku yang penuh luka?"

"Bukan begitu," Sehun menggelengkan kepalanya. "Aku hanya sedih melihatmu seperti ini."

"Bukankah ini karenamu? Bukankah sudah aku bilang untuk tidak pergi dengan lelaki lain, tapi kau mengabaikanku."

Sehun diam. Ia sungguh tidak tahu apa saja yang telah Jongin dan Luhan bicarakan sebelum kejadian itu.

"Ya, usiaku memang lebih muda darimu, tapi pikiranku bahkan lebih dewasa darimu. Kau tahu betapa menyakitkannya saat kau bilang kalau aku terlalu kekanakan untukmu. Dan kau butuh seseorang yang usianya lebih matang dariku. Hatiku terluka tapi aku juga penasaran dengan orang yang kau maksud, dan karena itulah aku mengikutimu malam itu dan..." Jongin memejamkan matanya tanpa menyadari setetes air mata jatuh di pipi Sehun, namun cepat-cepat namja manis itu hapus sebelum Jongin melihatnya.

Satu fakta yang baru Sehun ketahui Jongin lebih muda dari dirinya dan Luhan. Jadi karena itulah Luhan selingkuh? Tapi kenapa tidak dari awal saat tahu kalau Jongin lebih muda darinya, Luhan menolak. Ah, Sehun hampir melupakan kembarannya yang begitu haus popularitas. Mungkin karena selama ini publik tidak mengetahui hubungannya dengan Jongin membuatnya frustasi hingga memanfaatkan dirinya untuk meraih popularitas yang ia inginkan.

"Kau menangis?"

Sehun menggelengkan kepalanya. "Maaf..."

"Sepertinya kepalamu habis terbentur sesuatu ya, kau hari ini terlihat berbeda sekali dengan sebelumnya." Jongin mengerutkan keningnya.

"Aku tidak begitu, kepalaku juga tidak terbentur apapun."

Jongin tersenyum, "Kalau begitu dekatkan kepalamu biar aku lihat sendiri."

Sehun menundukkan wajahnya lagi di hadapan Jongin. "Lihat, aku tidak terluka kan?"

Jongin menatap lekat-lekat pada wajah Sehun, dahinya sedikit berkerut saat melihat lebam di pipi Sehun, "Sepertinya bukan kepalamu yang kena, tapi pipimu sayang. Apa kau bertemu dengan preman sebelum kemari?"

"Ah, itu..." Sehun ingin menjauhkan wajahnya karena risih di tatap begitu intes oleh Jongin, tapi tangan kiri Jongin menahan tengkuknya.

"Katakan padaku, apa kekasih atau istri namja yang kau temui di hotel itu yang melakukannya?"

"Tidak..."

"Lalu..."

"Eomma yang melakukannya."

Tangan Jongin terlepas dari tengkuk Sehun dan namja manis itu cepat-cepat menjauh, sebelum kemudian ia menatap ke arah sumber suara.

Ibu Jongin melangkah masuk ke dalam ruangan di ikuti oleh Jaehyun.

"Apa maksud eomma?"

"Dia yang sudah menyebabkanmu seperti ini Jongin, dan eomma tidak terima."

"Eomma..." tegur Jaehyun.

Eomma Kim menghela napas lalu menatap intens pada Sehun, ia teringat pembicaraannya dengan Jaehyun di luar ruangan tadi.

flashback

"Apa maksudmu Jae, dia bukan Luhan?"

"Ya, eomma dia Sehun, kembarannya Luhan."

"Kenapa dia muncul di sini dan bukan kembarannya yang pengecut itu."

"Eomma, dengarkan Jae dulu..."

Dan eomma Kim hanya bisa diam sembari mendengarkan penjelasan Jaehyun. "Jadi dia seorang model yang kariernya sudah di rebut oleh Luhan dan kemudian dia muncul di sini untuk mengharapkan belas kasihan dari kita?"

"Eomma... Sehun datang ke sini awalnya untuk meminta maaf pada keluarga kita karena perbuatan kembarannya telah menyebabkan hyung kecelakaan."

"Awalnya kau bilang? Lalu apa tujuan dia selanjutnya?"

"Aku memintanya untuk berpura-pura menjadi Luhan."

"Jae, kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?"

"Sangat sadar eomma."

"Lalu kenapa kau melakukannya?"

"Tak ada pilihan lain eomma. Hyung begitu mencintai namja itu dan eomma lihat sendiri betapa terpuruknya hyung saat Luhan tak ada di sini. Aku hanya ingin Sehun menggantikan peran Luhan sementara, sampai hyung benar-benar sembuh."

"Kau baru melihatnya hari ini dan kau langsung memintanya melakukan hal itu, bagaimana kalau dia punya niat jahat pada keluarga kita?"

"Eomma..."

"Bagaimana kalau hyungmu kembali percaya padanya dan dia kemudian juga mengkhianati hyungmu?"

"Eomma..."

"Eomma tidak bisa membiarkannya Jae."

"Eomma, tolong mengertilah, aku melakukan ini demi hyung."

"Apa kau bisa menjamin dia bisa di percaya? Kembarannya saja bisa berkhianat seperti itu, tidak mustahil bukan kalau dia juga akan melakukan hal yang sama. Tidak Jae, eomma..."

"Satu kali, hanya satu kali ini saja eomma, kalau terjadi sesuatu pada hyung, maka aku sendiri yang akan turun tangan untuk menghancurkannya."

Eomma Kim menatap pada putra bungsunya. "Terserah padamu, tapi jangan terlalu berharap aku akan bersikap baik padanya, walau bagaimanapun juga meski dia bukan Luhan, tapi darah pengkhianat itu juga mengalir di tubuhnya."

Flashback End

"Eomma..."

"Ya sayang.." eomma Kim mendekat pada putra sulungnya dan mencium keningnya. "Eomma melakukan itu semua demi kebaikanmu, eomma ingin yang terbaik untukmu. Dan kau tahu bukan kalau dia sudah selingkuh darimu, dia tidak baik untukmu, anakku."

Jongin menolehkan kepalanya pada Sehun yang terus menundukkan wajahnya, meski Sehun berusaha menyembunyikan perasaannya, namun Jongin dapat merasakan kesedihan yang tergambar dari ekspresi Sehun. apakah itu sedih karena diperlakukan buruk oleh ibunya atau sedih karena telah menyebabkan dirinya kecelakaan? Jongin sama sekali tidak bisa menebaknya.

"Luhan melakukan itu pasti ada sebabnya eomma, mungkin dia bosan denngan sikap Jongin yang selalu mengaturnya."

"Jongin, jangan membelanya, kau tidak salah dan dia yang salah."

"Bibi, aku minta maaf karena telah membuat Jongin seperti ini."

"Bibi?" kening Jongin berkerut. "Sejak kapan kau memanggil ibuku dengan sebutan bibi, biasanya kau selalu memanggilnya dengan sebutan eomma."

Sehun menutup mulutnya dan ia menatap panik pada Jaehyun yang terlihat sama cemasnya dengan Sehun.

"Ah, apa karena eomma marah padamu, makanya kau memanggilnya bibi?" Jongin tersenyum pada Sehun. "Percayalah padaku, eomma tidak akan marah terlalu lama padamu."

Sehun mengangguk dengan kaku, ia sebenarnya sungguh merasa tidak nyaman berada terlalu lama di sini. Ia baru pertama kali ini bertemu dengan mereka dan berpura-pura menjadi orang yang sudah kenal lama itu terasa melelahkan baginya.

"Jongin, aku mau pulang dulu, aku... belum mandi dan..."

"Kau ingin meninggalkanku?"

"Bukan begitu, hanya saja rasanya tidak nyaman karena aku belum mandi."

"Kau kan bisa mandi di sini."

"Aku tidak membawa baju ganti, hanya sebentar kok, nanti aku akan kesini lagi."

"Baiklah," Jongin menatap pada Jaehyun. "Jae, kau antarkan calon kakak iparmu pulang ya."

"Siap, hyung."

Sehun membungkukkan badannya ke arah eomma Kim. "Aku pulang dulu e... eomma..." rasanya sangat canggung saat Sehun harus memanggil eomma pada ibu Jongin. "Jongin, aku pulang ya..."

"Hanya itu... mana ciuman yang biasanya kau berikan padaku?"

"Ciuman..." Sehun menatap gelisah pada Jaehyun. Yang di tatap hanya memberi kode pada Sehun untuk melakukannya, dan pandangan Sehun beralih pada eomma Kim.

"Sayang..." panggil Jongin.

Sekali lagi Sehun menoleh pada eomma Kim, namun ibu Jongin itu lebih memilih untuk memalingkan muka. Tak ada pilihan lain, dengan ragu Sehun kembali mendekat, sedikit membungkuk untuk mengecup pipi Jongin.

"Itu bukan ciuman, sayang. Kau ini kenapa terlihat berbeda sekali sih hari ini."

Sehun melirik pada Jaehyun dan Jaehyun sontak menunjuk ke bibir. Sehun menggigit bibirnya, haruskah ia kembali mencium Jongin, ia kembali menatap pada Jongin yang menunggu ia bertindak. Berbekal keyakinan kalau ia tak ingin membuat Jongin curiga dengan tindakannya. Sehun menempelkan bibir tipisnya di bibir tebal Jongin dan langsung di sambut dengan lumatan Jongin di bibir bawahnya. Sehun menutup matanya dan mulai bergerak kaku membalas lumatan Jongin pada bibirnya.

Ciuman itu hanya berlangsung beberapa detik dan Sehun segera melepasnya. Ia melangkah mundur tanpa melepaskan tatapannya dari Jongin. "Aku pergi dulu."

Setelah sekali lagi membungkuk pada ibu Jongin, ia melangkah keluar dari ruangan Jongin di ikuti oleh Jaehyun. Sepanjang perjalanan keluar dari rumah sakit itu Sehun hanya diam dan Jaehyun pun tidak berencana untuk mengajaknya bicara. Hingga saat keduanya tiba di lobby yang kebetulan sedang sepi, Sehun menghentikan langkahnya. Ia berbalik untuk menatap pada Jaehyun yang juga menghentikan langkahnya.

"Kau tak perlu mengantarku," ucap Sehun tiba-tiba.

"Kenapa?"

"Kembalilah ke kamar hyungmu, aku bisa pergi sendiri."

Jaehyun mengerutkan keningnya. "Apa ada sesuatu yang terjadi hingga kau tak mau aku antar?"

"Aku hanya tidak ingin merepotkanmu," Sehun berkilah.

"Jangan bohong..."

"Aku mengatakan yang sebenarnya."

Jaehyun menatap lekat wajah manis Sehun. "Kau di usir dari rumahmu?"

"Apa?"

"Kau di usir dari rumahmu?"

Sehun diam tidak menjawab.

"Jadi benar, lalu di mana kau akan tinggal?"

"Ku rasa di mana aku tinggal itu bukan urusanmu."

"Sehun hyung..."

"Jangan menatapku seperti itu," Sehun memalingkan wajahnya. "Aku masih punya uang untuk menyewa apartement dan mungkin setelah ini aku akan mencari pekerjaan juga."

Jaehyun menatap Sehun dalam diam. "Kenapa tidak tinggal di apartement hyungku saja?"

"Mwo?"

"Luhan sebelumnya juga sering menginap di sana, dan ku rasa hyung juga tak akan keberatan kalau kau tinggal bersamanya."

"Aku bukan Luhan, dan ku rasa aku tidak pantas untuk tinggal di sana, aku hanya orang asing bagi kalian."

"Sehun hyung, kau lupa kalau sekarang ini Jongin hyung sudah menganggapmu sebagai kekasihnya."

"Jaehyun..." panggil Sehun pelan.

"Ya, hyung."

"Bisakah kita hentikan saja sandiwara ini?"

"Apa maksud hyung?"

"Maksudku, aku tak bisa terus-terusan berbohong di depan hyungmu, aku bukan Luhan dan aku merasa tidak nyaman kalau harus berpura-pura menjadi seperti dirinya."

Jaehyun meletakkan tangannya di pundak Sehun. "Apa yang tadi itu ciuman pertamamu hyung?"

Sehun tidak menjawab, ia hanya menggigit bibir bawahnya dan menundukkan kepalanya.

"Ya Tuhan, maafkan aku hyung.. aku sungguh tidak tahu, ku pikir karena kau seorang model..."

"Ya, memang kenapa kalau aku seorang model?" Sehun memajukan bibirnya.

"Tidak," Jaehyun tersenyum manis. "Seharusnya Jongin hyung bertemu lebih dulu denganmu dibandingkan Luhan hyung, dia akan pasti sangat bahagia mempunyai kekasih sepertimu."

"Apa maksudmu?" Sehun melepaskan tangan Jaehyun dari pundaknya. "Aku mau pergi."

"Aku antar."

"Jae, aku bahkan belum tahu di mana aku akan menginap malam ini jadi kau tak perlu mengantarku."

"Aku akan mengantarmu ke apartemen hyungku..."

"Aku tidak mau."

"Harus mau, ayo..." Jaehyun menarik paksa tangan Sehun. "Aku memaksamu calon kakak ipar."

"Yak, aku bukan calon kakak iparmu."

"Tadi Jongin hyung mengatakannya seperti itu."

"Aku bukan kekasihnya."

"Sst... jangan bicara keras-keras nanti ada yang dengar. Ayo pergi."

Tak ada pilihan lain, Sehunpun mengikuti langkah kaki Jaehyun pergi meninggalkan rumah sakit itu.

.

.

.

.

.

Entah berapa lama Sehun tertidur di apartemen milik Jongin, ketika akhirnya ia terbangun karena merasakan haus yang teramat sangat. Setelah meminum secangkir air putih yang sengaja ia letakkan di atas meja nakas. Sehun bergegas memasuki kamar mandi, badannya sudah sangat gerah dan ia butuh menyegarkan diri dengan berendam di bathub. Tadi saat Jaehyun mengantarnya ke apartement Jongin, Sehun langsung tertidur karena kelelahan dan melupakan keadaannya yang belum mandi.

Namja manis itu baru selesai melakukan ritual mandinya, masih dengan bertelanjang dada dengan bagian bawah tubuhnya yang hanya di tutupi handuk, ia beranjak keluar dari kamar mandi sembari mengeluh karena ia melupakan fakta lain kalau dirinya tidak membawa satupun pakaian ke apartement Jongin.

"Mungkin aku bisa meminjam pakaian Jongin?" Sehun menatap ragu pada lemari pakaian milik Jongin.

Saat ia ingin melangkahkan kakinya menuju lemari, suara telpon berdering nyaring dari luar kamar, Sehun bergegas keluar dari kamar dan menuju meja tempat telpon di letakkan. Jaehyun tadi mengatakan padanya kalau ia akan menelpon saat terjadi sesuatu di rumah sakit.

"Halo..."

"Sehun hyung bisakah kau kesini?"

Sehun mengerutkan keningnya mendengar suara Jaehyun yang panik dan ia juga mendengar suara teriakan di sana. "Apa yang terjadi?"

"Cepatlah ke sini, Jongin hyung mengamuk."

"Apa..."

Tuuutttt

Sambungan terputus dan Sehun segera meletakkan gagang telpon pada tempatnya. "Jongin mengamuk, apa ia sudah mengetahui fakta yang sebenarnya?" tak ingin terhanyut dalam pikirannya. Sehun bergegas kembali ke kamar, menarik lepas handuk yang di pakainya lalu mengambil secara acak pakaian yang ada di lemari Jongin. ia tak peduli lagi kalau kaos yang ia pakai terlihat begitu kebesaran di tubuhnya, ataupun fakta kalau ia hanya mengenakan celana pendek milik Jongin yang juga terlihat longgar saat ia memakainya. Ia hanya peduli pada kenyataan bahwa Jongin mungkin kini sedang membutuhkannya.

Setelah mengambil dompetnya Sehun bergegas keluar dari kamar, tak ada waktu baginya untuk mengenakan sepatu, jadi ia hanya mengenakan sendal jepit yang ia temukan di dekat pintu. Setelah meyakini kalau pintu apartement Jongin terkunci dengan aman, Sehun berlari sekencang yang ia bisa menuju ke rumah sakit.

Sehun tiba di rumah sakit dengan keadaan kaos yang basah oleh keringat, begitupun dengan wajah dan tangannya, ia memperbaiki poninya yang lepek dan basah karena keringat lalu bergegas menuju ruangan Jongin.

Terdengar suara teriakan Jongin dan juga tangisan eomma Kim saat Sehun tiba di sana. Dan Sehun mendadak merasakan kalau tubuhnya kaku, sebenarnya apa yang terjadi di dalam sana?

Cklek

Pintu ruangan Jongin terbuka sebelum Sehun sempat membukanya. Dan Jaehyun keluar dari dalam ruangan dengan keadaan yang sangat berantakan.

"Hyung..." ia menyapa lemah pada Sehun.

"Apa yang terjadi?"

Jaehyun menarik Sehun untuk sedikit menjauh dari pintu. "Tadi, setelah aku kembali dari mengantar hyung pulang, dokter datang untuk memeriksa keadaan Jongin hyung, dan Jongin hyung bilang kalau ia tidak bisa merasakan kakinya saat dokter menyentuhnya. Jadi Dokter melakukan pemeriksaan ulang dan..."

"Apa..."

"Kaki Jongin hyung lumpuh... kariernya harus terhenti sampai di sini."

Setetes air mata mengalir di pipi Sehun dan namja manis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Jongin lumpuh?"

Jaehyun ikut meneteskan air matanya. "Aku tak tau lagi hyung. Hiks... dia adalah saudaraku dan melihatnya sedih seperti ini, aku..."

Sehun meraih tangan Jaehyun dan menggenggamnya. "kau harus kuat demi hyungmu..."

Brakkk

"EOMMA TIDAK AKAN MENGERTI KARENA EOMMA TIDAK MERASAKANNYA JADI BERHENTI MENGHIBURKU..."

Sehun melepas pegangannya, ia dan Jaehyun saling pandang. "Aku harus ke dalam."

Jaehyun mengangguk dan ia segera menarik tangan Sehun, membawanya memasuki ke dalam kamar tempat Jongin di rawat.

Keadaan di dalam sungguh kacau, gelas dan juga piring berisi makanan terlihat berserakan di lantai, tiang tempat penyangga infus Jongin juga tergeletak di lantai, dan Sehun menatap ngeri pada darah yang mengalir di tangan Jongin, mungkin namja itu mencabut paksa jarum infus di tangannya. Di sisi lain, eomma Kim tampak menangis di pelukan seorang namja separuh baya yang Sehun yakini kalau dia adalah ayah dari Jongin. dan ada juga dokter dan perawat yang berusaha menenangkan Jongin.

"Jongin..." panggil Sehun pelan.

Jongin menoleh ke arahnya. "MAU APA KAU KEMARI, CEPAT PERGI DARI SINI."

Sehun menghentikan langkahnya dan menatap Jongin dengan terkejut.

"KAU PUAS BUKAN MELIHAT AKU CACAT, INI YANG KAU INGINKAN BUKAN MEMBUATKU CACAT HINGGA KAU PUNYA ALASAN UNTUK MENINGGALKANKU."

Andai Luhan ada di sana, mungkin dia akan menjawab ya, tapi ini Sehun, namja manis itu hanya bisa menangis sembari menggelengkan kepalanya. "Aku tidak..."

"JANGAN MENGASIHANIKU... PERGI..."

"Jongin..."

"APA KAU TULI? KU BILANG KELUAR..."

Eomma Kim menolehkan kepalanya pada Sehun. "Pergilah keluar dan jangan ganggu anakku lagi."

Tapi Sehun tak bisa, ia terus menatap pada Jongin yang terus menangis di ranjangnya. Ia tak bisa meninggalkan hati Jongin yang terluka parah karena perbuatan saudaranya. Dan entah mendapat keberanian dari mana, Sehun justru melangkah mendekat pada Jongin dan memeluk tubuh Jongin dengan erat.

Jongin memberontak. "Lepaskan aku..."

"Tidak mau..." Sehun mengeratkan pelukannya di tubuh Jongin. "Aku tak akan pergi darimu... hiks... maafkan aku..."

Jongin memejamkan matanya sementara air matanya mengalir dengan deras di pipinya. "Aku cacat... kau akan menyesal bersamaku... pergilah..." kini bukan kalimat bernada tinggi yang Jongin ucapkan melainkan ucapan yang bernada putus asa.

"Kalau aku menyesalinya, aku tak mungkin ada di sini dan memelukmu..."

Jongin memejamkan matanya dan dengan sebelah tangannya yang bebas dari lilitan perban, ia balas memeluk tubuh Sehun. "Apa aku bisa mempercayaimu?" bisiknya.

"Kau bisa kalau kau mau... aku tak akan pergi. Kau akan baik-baik saja Jongina, aku akan selalu ada di sini."

Tak hanya Jaehyun yang tertegun mendengar ucapan Sehun tapi juga kedua orang tua Jongin.

Jongin melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Sehun, sedikit menjaga jarak di antara keduanya. "Kau tak akan pergi?"

Sehun mengangguk.

"Meskipun aku cacat?"

Sehun lagi-lagi mengangguk dengan air mata yang masih terus mengalir di pipinya. "Aku akan tetap di sisimu sampai kau sendiri yang bosan denganku dan mengusirku pergi." Sehun mengecup kening Jongin dengan air mata yang semakin deras mengalir di pipinya. Ia tahu kalau saat kebenaran itu terungkap, Jongin mungkin akan marah besar padanya, tapi untuk saat ini biarlah ia menyamar menjadi saudaranya, demi kesembuhan Jongin. saudaranya telah membuat Jongin mengalami semua cobaan ini dan Sehun tak mungkin membiarkannya terpuruk begitu saja, ia akan bertanggung jawab pada kesalahan yang sama sekali tidak ia perbuat.

Cup

Sehun menatap pada Jongin yang baru saja mencium bibirnya. "Aku akan mengingat janjimu dan kalau kau pergi dari sisiku maka aku akan melakukan sesuatu hal yang sama sekali tidak terpikirkan olehmu, sayangku."

Dan ciuman menuntut dari Jongin menjadi awal dari janji yang keduanya buat.

.

.

.

.

.

TBC

Satu chapter lagi akhirnya berhasil aku publish. Mohon reviewnya ya...

Salam KaiHun Hardshipper

Kaihun Lovea