IMPERFECT LOVE

Cast : Sehun, Jongin, Luhan, Kris, Suho, etc

Terima kasih untuk semua yang udah review nih ff, maaf ga bisa balas komen kalian satu persatu.

Di sini Luhan ma Sehun emang kembar ya, jadi terserah kalo kalian mau bayangin keduanya mau pake wajah Sehun or Luhan. Kalo aq pribadi ga bayangin wajah siapa-siapa, karena aq ngetik ini awalnya memang bukan tokoh Kai, Sehun, Luhan, dll. Aq menciptakan tokoh khayalan sendiri untuk aq publish di grup, tapi karena permintaan untuk publish di sini juga, jadi aq ganti nama tokohnya jadi nama member EXO. Mungkin untuk lebih nyamannya, bisa bayangin pake muka tokohnya masing2, kalo lagi Kai yang ngomong ya bayangin muka Kai, kalo Luhan yang ngomong ya bayangin muka Luhan, kalo Sehun yang ngomong ya bayangin muka Sehun, biar ga repot. Gitu aja sih, moga yang nanya di review puas ma jawabannya. (^_^)

Typo bertebaran.

KaiHun Lovea

.

.

.

.

.

.

Sehari berlalu setelah kehebohan yang terjadi di kamar tempat Jongin di rawat dan kini semua sudah bisa di katakan berubah menjadi lebih normal. Jongin juga sudah tidak lagi marah-marah ataupun meratapi kondisi kakinya yang lumpuh. Ia kini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berdua dengan Sehun dan ia tidak pernah membiarkan Sehun untuk menjauh dari pandangan matanya. Entah apa yang telah terjadi pada Jongin, hingga ia menjadi begitu posesif pada Sehun.

Seperti sekarang ini, saat namja tampan itu tertidurpun tangannya masih menggenggam erat tangan Sehun, hingga namja manis itu kesusahan untuk menjauh.

"Hyung tidak membolehkanmu pergi?"

Jaehyun yang baru pulang dari kuliahnya memasuki ruangan itu dan mengerutkan keningnya melihat Jongin yang bahkan tak mau melepaskan genggaman tangannya bahkan ketika namja itu tidur.

Sehun menggelengkan kepalanya.

Jaehyun menghela napas, "Maafkan hyungku, sepertinya keadaannya yang tidak sama lagi seperti dulu telah membuatnya seperti ini, takut ditinggalkan."

"Tak apa, aku mengerti," gumam Sehun.

"Kau sudah makan siang?"

Sehun menggeleng.

"Jaehyun meletakkan ranselnya di atas lantai. "Aku akan ke bawah untuk membelikan makanan untukmu."

Sehun mengangguk dan membiarkan suasana kembali sepi setelah kepergian Jaehyun. Namja manis itu menolehkan kepalanya pada Jongin, tak ada tanda-tanda kalau namja tampan itu akan bangun dari tidurnya. Jadi Sehun perlahan melepaskan genggaman tangan Jongin, dan segera berdiri dari posisi duduknya. Untuk sesaat Sehun memijit pinggangnya yang terasa pegal karena terlalu lama duduk, sebelum melangkahkan kakinya ke dekat jendela, mengamati pemandangan taman bunga di luar jendela.

Ingatannya melayang pada keluarganya yang mungkin sekarang sedang berkumpul di rumah. Tak sadar Sehun meneteskan air matanya, betapa ia merindukan dengan sangat ibunya yang terlalu lemah bahkan untuk melawan kehendak ayahnya dan ayahnya yang begitu membencinya. Ya, ayahnya memang sangat membencinya, berbeda dengan kembarannya Luhan, ayahnya begitu menyayangi saudaranya. Sehun dan Luhan terlahir kembar, dengan Luhan yang lebih dulu lahir lima belas menit sebelum Sehun, berbeda dengan kelahiran Luhan yang begitu mudah, ibunya mengalami kesulitan saat melahirkannya, ia kehilangan begitu banyak darah hingga harus mengalami koma selama beberapa hari, dan setelah sembuhpun ibunya tidak bisa lagi beraktifitas seperti dulu, tubuh ibunya lemah dan sering sakit-sakitan. Hal ini lah yang memicu kebencian ayahnya, ayahnya merasa kalau ialah penyebab ibunya menjadi seperti itu.

Tak ada apapun yang bisa Sehun lakukan untuk meyakinkan ayahnya kalau itu bukan salahnya. Bukan kehendaknya kalau ibunya hamil anak kembar, bukan kehendaknya kalau akhirnya ia terlahir dengan menyulitkan ibunya. Tapi kenapa ayahnya menyalahkannya, bahkan Luhan yang di kemudian hari juga mengetahui kebenarannya, menjadi ikut-ikutan menyalahkannya.

"Sayang..."

Mendengar suara itu, Sehun cepat-cepat menghapus air matanya, ia berbalik dan berusaha tersenyum saat bertemu pandang dengan Jongin. "Kau sudah bangun?"

"Seperti yang kau lihat, kemarilah, mendekat padaku."

Sehun menurut, iapun melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur yang ditempati Jongin.

"Berbaringlah di sini..."

"Tapi..." Sehun menatap ragu pada Jongin. "Aku takut menyakitimu..."

"Tak akan, berbaringlah di sini..."

Sehun tahu kalau ia tidak segera melakukan apa yang di inginkan Jongin, namja itu akan mengamuk lagi, jadi ia pun berbaring di samping Jongin, sedikit berhati-hati takut kalau tubuhnya mengenai tangan Jongin yang di infus.

"Aku merindukanmu..."

"Aku bahkan seharian di sini, dan kau merindukanku?" Sehun menguap, "Ah, maaf sepertinya aku mengantuk."

"Tidurlah," Jongin mendekatkan wajahnya pada Sehun dan melumat bibirnya dengan lembut. Lumatan itu tak lama karena Jongin tahu kalau Sehun juga kelelahan karena terus berada di sini sejak tadi malam.

Jongin memandangi wajah Sehun yang terlelap dengan teliti. "Wajahmu memang sama dengan wajah kekasihku..." jemari Jongin perlahan menyentuh bibir tipis Sehun dan membelainya dengan lembut. "Tapi ciumanmu terasa lain, tak hanya membuatku lebih bergairah tapi juga mengetarkan hatiku." Jongin tersenyum tipis. "Atau aku yang sudah gila, karena menganggapmu sebagai orang lain dan bukan Luhan?"

Merasa bosan dengan keheningan yang tercipta di sana, Jongin meraih handphonenya dengan susah payah, lalu mulai membuka aplikasi internet. "Jaehyun mengatakan padaku untuk tidak melihat berita tentang diriku. Tapi entah kenapa aku merasa ada yang ia sembunyikan dariku." Gumam Jongin. tapi saat ia memeriksanya, ia hanya menemukan berita tentang perselingkuhan artis dan juga tentang dirinya yang tak bisa melakukan balapan lagi. Jongin hampir saja membanting handphonenya ke lantai kalau saja ia tidak membaca headline di bawah berita tentang dirinya.

Model Terkenal Oh Sehun, Membongkar Aib Saudara Kembarnya ...

Jongin membaca artikel itu dengan raut wajah datar, dan saat ia melihat foto kedua bersaudara itu, ekspresi wajahnya berubah. Ia melirik pada Sehun yang masih tertidur dengan pulas. "Apakah kau benar seperti yang aku duga, kau bukan Luhanku? Ah sial, bagaimana caraku untuk membuktikan dugaanku, kau tak boleh curiga padaku."

Sementara pikiran Jongin sedang berkecamuk, ia mendengar suara langkah kaki mendekati ruangan tempat ia di rawat. Jongin cepat-cepat mematikan televisi dan menyembunyikan remotenya di bawah bantal.

Cklek

"Oh, Luhan hyung sedang tidur?" Jaehyun masuk sambil membawa bungkusan makanan.

"Apa yang kau bawa?" tanya Jongin.

"Makanan untuk Luhan hyung, hyung mau?"

Jongin menggelengkan kepalanya. "Jae..." panggilnya.

"Ya hyung, ada apa?"

"Apakah kau tidak merasa ada yang aneh?"

"Aneh? Aneh apa yang hyung maksud?" Jaehyun meletakkan bungkusan makanan di atas meja sebelum melangkah ke arah jendela dan berdiri di sana.

"Luhan..."

Deg

Jaehyun menatap pada hyungnya dan juga Sehun bergantian. Takut-takut kalau hyungnya juga menyadari kalau namja yang sedang tertidur di samping hyungnya itu bukanlah Luhan yang asli. "Apa maksud hyung?"

"Kau tahu, Luhan tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, dia biasanya sangat agresif dan bukan pasif seperti yang sekarang ia lakukan. Luhan yang dulu juga tidak pernah seperhatian ini."

"Bukankah itu bagus hyung, Luhan hyung berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya."

"Ya, tapi tetap saja aku merasa seperti ada yang aneh, dia berubah menjadi seperti sesuatu yang asing, dekat tapi susah untuk di sentuh. Maksudku, ia memang masih mau membalas ciumanku, tapi selebihnya ia seperti ingin lebih banyak menghindari skinship denganku."

Jaehyun berdehem pelan, tangannya menunjuk gips di kaki dan juga tangan kanan Jongin yang masih di lilit perban. "Bagaimana kalau alasannnya adalah itu?"

"Maksudmu ia jijik dengan keadaanku?"

"Bukan begitu hyung, maksudku ia tahu kalau hyung sedang terluka jadi karena itulah ia memilih untuk menjaga jarak dengan hyung."

"Seperti itu ya."

"Sudahlah hyung, jangan terlalu di pikirkan. Bukankah yang penting Luhan hyung masih di sini bersama hyung. Dia tidak pergi meninggalkan hyung."

"Ya, kurasa kau benar." Jongin menolehkan pandangannya pada Sehun, entah kenapa perasaannya mengatakan kalau masih ada yang janggal di sini, tapi Jongin tidak ingin mengatakannya, ia akan memendamnya sendiri sampai saatnya tiba untuk ia ungkapkan.

.

.

.

.

.

.

.

Sebulan berlalu dan kesehatan Jongin sudah semakin membaik, namja itu juga sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Dan ini sedikit menjadi masalah untuk Sehun, karena ia tak mungkin ikut tinggal bersama Jongin. hubungan Sehun dan orang tua Jongin masih terlalu canggung dan Sehun tentunya tak ingin tinggal bersama orang yang tidak bisa membawa kenyamanan untuknya, dan juga kalau ia tinggal bersama Jongin, ia tak akan bisa mencari pekerjaan. Keuangannya sudah mulai menipis setelah membeli sebuah apartemen kecil dan juga berbelanja pakaian dan kebutuhan lainnya, mengingat saat ia pergi dari rumah, ia tidak membawa satupun barang selain dompetnya.

Setelah membantu membereskan barang milik Jongin, Sehunpun meraih ranselnya.

"Kau mau kemana?" Jongin memperhatikan Sehun yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk dia tas ranjang.

Sehun menoleh pada Jongin dan tersenyum tipis, "Aku tidak akan kemana-mana, aku akan menunggumu pulang."

"Bukan itu, maksudku kenapa kau membawa ranselmu sendiri."

"Ah ini, aku juga harus pulang kan, tak mungkin aku terus berada di sini sementara kau sudah pulang."

"Kemana?"

"Tentu saja kembali ke rumah dan..."

"Tidak boleh," sela Jongin singkat.

"Apa?"

"Kau sudah berjanji padaku untuk tidak meninggalkanku."

"Aku hanya pulang ke rumahku Jongin, bukan untuk pergi meninggalkanmu."

"Aku bilang tidak ya tidak, kau akan ikut denganku dan tinggal denganku."

"Jongin..."

"Bukankah kau sudah berjanji, apa kau ingin mengkhianati janjimu sendiri?" tanya Jongin dingin.

"Bukan begitu, aku hanya..."

"Aku tak ingin kau pergi dan jangan membantahku." Wajah Jongin begitu datar saat ia mengatakan itu, hingga Sehun begitu takut bahkan hanya untuk membantahnya.

Ayah Jongin yang menyadari situasi mulai memanas, segera menengahi keduanya. "Sudahlah, jangan bertengkar. Luhanie, kau bisa tinggal bersama dengan Jongin di rumah kami."

"Tapi..."

"Aku tak terima penolakan, pokoknya kau harus ikut denganku dan tinggal denganku."

Sehun tahu kalau semua ini akan menyulitkan untuknya nantinya, tapi ia juga tidak bisa menolak permintaan Jongin, jadi akhirnya dengan berat hati, ia menganggukkan kepalanya.

Wajah datar Jongin berubah, namja itu tampak tersenyum lega. "Kemarilah.." pintanya dengan nada suara yang lebih lembut.

Sehun melangkah mendekat dan kemudian duduk di tepi ranjang.

"Hei, kenapa cemberut, kau tidak suka hidup serumah denganku?"

Sehun menggelengkan kepalanya. "Aku suka kok, tapi... aku kan hanya kekasihmu Jongina, bukan orang yang sudah menikah denganmu jadi..."

"Kita akan menikah," sela Jongin.

"Apa?"

"Jika kau ingin kita segera menikah, maka kita akan menikah secepatnya."

Gerakan eomma Kim yang sedang membereskan piring bekas makan Jongin terhenti, dan wanita itu menoleh dengan cepat pada Sehun. wajahnya terlihat berkerut tidak suka.

Sehun yang mengerti arti pandangan ibu dari Jongin hanya bisa menggigit bibirnya. "Aku... aku tak bisa Jongina..."

"Kenapa, apa karena aku lumpuh? Kau tidak mau punya suami yang cacat?"

"Bukan begitu, ku rasa kita masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan, aku... aku juga harus bekerja dan..."

"Umurku sudah dua puluh satu tahun sayang, hanya berbeda dua tahun darimu, dan bagiku tak masalah kalau kita harus menikah."

"Tapi, aku masih ingin menikmati masa pacaran kita lebih lama Jongina..." Sehun tentu saja tak bisa menikah dengan Jongin, tak ada rasa cinta di antara mereka, dan Jongin juga tidak tahu siapa dia sebenarnya. Ia tak mau menikah dalam keadaan hidupnya yang penuh kebohongan seperti ini.

"Kau menangis?" tanya Jongin.

Sehun tersentak kaget dan tangannya refleks menyentuh pipinya sendiri. Basah. Rupanya tanpa sadar ia telah meneteskan air matanya.

"Kenapa harus menangis, aku tidak akan memaksamu untuk menikah secepatnya denganku." Jongin meraih pinggang ramping Sehun, kemudian memeluknya dengan erat.

"Hiks..." tanpa mempedulikan orang tua Jongin yang masih berada di sana dan menyaksikan apa yang mereka lakukan. Sehun membenamkan wajahnya di dada Jongin dan menangis terisak, tangannya balas memeluk tubuh Jongin dengan erat. "Maaf..."

Ada banyak kata yang ingin Sehun ucapkan untuk Jongin, namun ia tak bisa mengucapkannnya jadi hanya kata maaf yang diiringi tangisannya lah yang mewakili semua kata itu.

"Jangan menangis, ada aku di sini bersamamu..." Jongin tahu fisiknya tak lagi sempurna, tapi entah kenapa keinginannya begitu kuat untuk melindungi namja manis yang terlihat begitu rapuh di pelukannya ini. "Aku mencintaimu..." bisiknya seraya mengecup kening Sehun dengan lembut.

Ibu Jongin memalingkan wajahnya, berusaha menahan air matanya, hatinya sakit melihat anaknya yang terlihat begitu mencintai Sehun. bagaimana akhirnya kalau anaknya sadar kalau namja yang sekarang berada di pelukannya itu bukan Luhan, apakah rasa cinta yang Jongin perlihatkan hari ini akan luntur begitu saja? Demi Tuhan, eomma Kim tak ingin lagi melihat anaknya menderita.

"Semuanya akan baik-baik saja," bisik appa Kim, "Aku percaya pada anak itu, hidupnya juga banyak tersakiti, ia tak akan mengkhianati anak kita."

"Bagaimana kalau Jongin tahu yang sebenarnya yeobo?"

"Maka saat itulah Jongin harus bisa membuktikan cintanya. Anak kita kuat, dia pasti akan melalui semua ujian ini."

"Yeobo..."

"Tak ada manusia yang sempurna, begitupun juga dengan cinta, hanya karena kebersamaan dan saling menerima semua kekuranganlah yang akan menyempurnakan cinta itu. percayalah padaku, mereka akan berakhir bahagia dengan atau tanpa harus bersama."

Appa Kim menatap anaknya yang terus membisikkan kata cinta seraya mengelus punggung Sehun dengan lembut.

"Ya, dari pada kau menangis terus, bagaimana kalau kita menonton televisi saja, mungkin ada acara yang kau suka?" Jongin melepaskan pelukannya dan meraih remote yang tergeletak di sampingnya dan mulai memencet tombolnya.

"Bangkit dari keterpurukannya akibat skandal yang dilakukan saudara kembarnya, model terkenal Oh Sehun siap melakukan pemotretan dengan tema dewasa. Hal ini sedikit banyak menggemparkan para penggemarnya, mengingat selama ini Oh Sehun dikenal selalu menghindari pemotretan dengan tema dewasa. Tapi kali ini dengan dukungan penuh dari ayahnya, Oh Sehun siap untuk..."

Sehun tidak mendengarkan lagi kata-kata yang dibawakan pembawa acara itu, tatapannya terfokus pada foto topless Luhan di layar kaca dan juga video saat Luhan di wawancara bersama dengan ayahnya.

Setetes air mata kembali mengalir di pipi Sehun, namun kali ini Jongin dengan cepat menghapusnya. "Jangan pedulikan mereka," bisiknya. Ia mematikan televisi dan memfokuskan diri sepenuhnya pada Sehun. "Jangan bersedih karena kau punya saudara yang jahat."

"Kau tahu?"

Jongin mengangguk, "Dia kembaranmu bukan? Aku melihatnya beberapa hari lalu di televisi, saat ia melakukan wawancara dengan ayah kalian. Dia jahat sekali memfitnahmu seperti itu, siapa tadi namanya, Sehun ya... aku tak tahu apa yang ia pikirkan saat ia mengatakan hal-hal yang jahat padamu." Jongin mengamati ekspresi wajah Sehun yang sedikit berubah saat Jongin mengatakan nama itu.

"Sayang..."

"Ya?"

"Kau Luhan bukan? Bukan saudaramu yang sedang menyamar?"

Deg

"Siapa bilang aku sedang menyamar, aku ya aku dan dia ya dia. Kau kan kekasihku, masa kau tidak bisa membedakan aku dengan dia?"

Jongin tersenyum, "Aku hanya khawatir kalau aku ditipu olehmu, tertipu oleh sepasang anak kembar kan bodoh sekali, temanku dulu pernah mengalaminya."

"Aku tidak menipumu..."

"Ya, aku tahu..." Jongin menangkup wajah Sehun dengan lembut. "Kau akhir-akhir ini bersikap begitu manis dan menggemaskan, membuatku semakin jatuh cinta padamu, tapi ada saatnya aku juga merindukan tindakanmu yang agresif itu."

"Agresif seperti apa?" Sehun mengerjapkan matanya.

Cup

Jongin mengecup bibir Sehun sekilas sebelum kemudian kembali tepat menatap namja manis itu. "Seperti saat kita berciuman atau saat kita making love."

Sehun tertegun mendengar ucapan Jongin.

"Terus terang saja, aku juga merindukan si mungil ini." Tangan Jongin yang sedari tadi berada di pipi Sehun, kini turun ke bawah dan meremas benda mungil yang ada diselangkangan Sehun. Jongin memperhatikan tubuh Sehun yang tersentak kaget saat ia meremas si mungil.

"Jongin..." Sehun dengan cepat menjauhkan tangan Jongin dari benda mungil miliknya.

"Kenapa, kau malu? Biasanya kau langsung bertingkah agresif di hadapanku."

"Itu kan dulu, aku ingin berubah lebih baik untukmu."

"Tapi bersikap agresif di depanku sekali-sekali juga tidak apa-apa sayang, kau tahu kalau aku sangat merindukanmu..."

"Jongin..." Sehun menggeliat saat Jongin mengecup leher putihnya.

Semua itu tak luput dari perhatian Jongin dan kecurigaannya semakin bertambah. Ia tahu kalau tubuh seorang perawan akan jauh lebih sensitif saat di sentuh, tapi Luhan kekasihnya bukanlah seorang perawan dan tubunya tidak sesensitif ini, apakah kecurigaannya benar? Mau tak mau sepertinya Jongin harus membuktikannya sendiri.

"sayang..."

"Hmmm..."

"Aku merindukanmu..."

"Apa? aku kan selalu ada di sisimu." Sehun menatap tak mengerti.

"Kau tak mengerti?" Jongin meraih tangan Sehun dan membawanya ke benda yang berada di antara selangkangannya. "Tapi ini yang begitu merindukanmu..."

Dan Sehun tak bisa untuk lebih terkejut lagi, mulutnya terbuka lebar saat ia menatap wajah Jongin yang kali ini dipenuhi seringaian nakal.

Permainan akan di mulai sayang.

.

.

.

.

.

.

TBC

Untuk ff Bukan Istri Pengganti, aku sudah selesai ngetik sebenarnya di laptop, tapi laptopnya rusak terkena virus dan sedang aku service, dan aku tak sempat copy paste tuh ff ke komputer #plakk jadi maaf banget karena ga bisa update dengan cepat, pengen ngetik lagi sementara laptop belum selesai di perbaiki dan aku takutnya malah alurnya jadi makin kacau kalau aku ketik ulang, gitu juga dengan adegan uhuknya, aku orangnya paling susah bikin adegan itu, apalagi kalau harus ngulang untuk ngetiknya, idenya udah buyar duluan dan aku perlu waktu untuk memperbaiki mood agar bisa ngetik ulang karena sepertinya yang di laptop kemungkinan ilang saat di instal ulang.

Maaf banget ya

Dan untuk ff ini mohon terus review ya.

Salam KaiHun Hardshipper

KaiHun Lovea