IMPERFECT LOVE
Cast : Sehun, Jongin, Luhan, Kris, Suho, etc
Terima kasih untuk semua yang udah review nih ff, maaf ga bisa balas komen kalian satu persatu.
Sesuai dengan keputusan yang aku ambil, bagian rated M di ff ini aku cut saat publish di ffn. Jadi terima aja ya kalo ada bagian dari inti cerita yang mungkin agak gak nyambung n terlalu cepat. Kebiasaan aku saat buat ff, bahkan saat sedang enceh kadang aku tetap masukin alur cerita di sana. Jadi kemungkinan ada bagian dari cerita yang ilang. Maaf...
Typo bertebaran dengan cerita yang absurd.
KaiHun Lovea
.
.
.
.
.
.
Sehun melangkah mondar mandir di hadapan Jaehyun, wajahnya terlihat begitu cemas saat ini. "Jae, apa yang harus aku lakukan?"
"Apa?" Jaehyun menggigit apel di tangannya seraya memperhatikan tingkah Sehun yang masih asyik berjalan mondar mandir di hadapannya.
"Bagaimana kalau Jongin benar-benar melakukan itu padaku?"
"Hyung, kau tau kan dia sedang sakit, jadi bagaimana mungkin dia akan melakukannya?"
"Ya mana aku tahu."
"Duduklah, kau membuat kepalaku pusing dengan tingkahmu itu, hyung." Jaehyun menarik kursi di sampingnya dan memberi isyarat pada Sehun untuk cepat duduk.
"Jadi... haruskah aku memberinya obat tidur atau semacam itu agar dia tidak mengungkit masalah itu lagi?"
"Kau gila hyung, Jongin hyung sudah terlalu banyak mengkonsumsi obat untuk kesembuhannya, masa kau mau menambah lagi."
"Ya, habisnya aku tidak punya ide lain," Sehun menggigit ibu jarinya. "Atau... haruskah aku mengatakan hal yang sejujurnya pada Jongin kalau aku bukan Luhan?"
"Dan setelah itu apa yang akan kau lakukan? Pergi dari kehidupan Jongin hyung dan mengabaikan perasaannya yang hancur untuk kedua kalinya?"
"Aku tidak sejahat itu," Sehun merasa tersinggung mendengar tuduhan Jaehyun. "Aku akan menjelaskan padanya apa yang terjadi, ku harap ia akan bisa mengerti."
"Ya, andai saja semua segampang itu hyung." Jaehyun melirik pada ayahnya yang melangkah mendekat. "Appa belum tidur?"
"Kalian sendiri apa yang dilakukan di sini dan kau juga kenapa tidak ke kamar Jongin?" Ayah Jongin dengan santai duduk di samping Sehun dan menatap namja manis itu dengan lekat.
Sehun tersenyum canggung, "Aku masih ingin di sini, ahjushi..."
"Panggil appa saja nak, Jongin akan curiga kalau kau memanggilku seperti itu," Ayah Jongin terkekeh pelan melihat rona kemerahan muncul di pipi Sehun. "Jadi, kalian sedang membicarakan apa?"
"Soal ucapan Jongin hyung di rumah sakit tadi siang appa, Sehun hyung takut kalau Jongin hyung akan benar-benar menidurinya."
Pletak
"Awww..." Jaehyun meringis saat Sehun secara spontan menjitak keningnya.
"Kenapa kau mengatakannya, aku kan malu." Sehun berkata pelan, namun rupanya Ayah Jongin masih bisa mendengarnya hingga namja separu baya itu tertawa.
"Aku kan hanya ingin bicara jujur," bela Jaehyun.
"Kau bicara jujur pada orang tuamu tapi melarangku berkata jujur pada kakakmu." Sehun merengut.
"Maaf, aku hanya tak ingin hyungku kembali terluka saat keadaannya seperti ini"
"Aku mengerti..." Sehun menundukkan kepalanya. "Luhan sepertinya telah membuat banyak perasaan orang terluka."
"Nak," panggil appa Kim.
"Ya?"
"Jangan korbankan kebahagiaanmu hanya demi anakku, kau bebas kalau kau ingin pergi, jangan mempersulit hidupmu sendiri."
Sehun menatap appa Kim. "Kalau aku benar-benar pergi, apakah Jongin akan baik-baik saja?"
"Tak ada yang bisa menjamin itu, tapi kami akan berusaha merawatnya semampu yang aku bisa, tak perlu bertanggung jawab pada kesalahan yang bukan kau buat."
"Tadinya aku juga ingin seperti itu, tapi saat aku bertemu pandang dengan Jongin, aku tau aku tak bisa..." Sehun menggelengkan kepalanya. "Aku melihat ada luka dan rasa kesepian di matanya, mata itu mengingatkanku pada diriku sendiri, karena itulah aku menyetujui ide Jaehyun. Mungkin kedengarannya aneh, tapi..."
"Aku mengerti..." Appa Kim merangkul pundak Sehun dan meremasnya dengan lembut. "Aku hanya tak ingin kau menganggap keluargaku mengekangmu, kau bisa bebas pergi kapanpun kau mau. Kau paham maksud appa bukan?"
Sehun menganggukkan kepalanya.
"Dan soal Jongin... ku rasa aku tak bisa melakukan apapun, dia masih muda dan jiwa mudanya masih begitu menggebu-gebu, jadi aku tak bisa menyalahkan dirinya yang menginginkanmu. Karena setahuku ia dan saudaramu juga sering kali melakukannya di rumah ini."
"Eh..."
"Yeah, kau tau suara saudaramu itu keras sekali saat mendesah hingga kami bisa mendengarnya." Jaehyun nyengir.
Sehun meringis, "Kalau Luhan seperti itu lalu bagaimana denganku? Jongin akan langsung tahu kalau itu bukan Luhan yang asli kalau aku menolaknya."
"Yeah, dan kau tak bisa pakai alasan datang bulan karena kau bukan yeoja." Jaehyun kembali menggigit apelnya.
"Satu-satunya cara hanya bicara jujur padanya, tapi itu tidak mungkin bisa dilakukan sekarang, mengingat mood Jongin masih belum stabil." Gumam Appa Kim.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan appa?"
"Ajaklah dia bicara, alihkan perhatiannya agar tidak mengingat masalah itu lagi, kau bisa kan?"
"Mungkin..." sahut Sehun ragu-ragu.
"Kalau kau tidak bisa melakukannya, kau boleh menganggap anakku sebagai orang yang kau cintai dan biarkan dia melakukannya."
Sehun diam.
"Sekarang kembalilah ke kamar Jongin, ia akan curiga kalau kau terlalu lama di luar."
Sehun mengangguk, ia bangkit dari duduknya dan pamit pada kedua namja tampan itu.
"Appa... kenapa kau mengatakan itu pada Sehun hyung?" tanya Jaehyun setelah Sehun meninggalkan keduanya.
"Appa punya firasat kalau ia tak akan bisa menolak permintaan Jongin."
"Mwo..."
"Kenapa kau terkejut, bukankah kau tahu bagaimana mesumnya kakakmu itu."
"Bukan itu appa, tapi Sehun hyung belum pernah melakukannya."
"Mwo..." kali ini Appa Kim yang terkejut.
"Dia memang seorang model dan juga saudara kembar Luhan, tapi sifat keduanya sangat berbeda, appa."
"Benarkah? Kalau begitu baguslah... dia tak akan mampu untuk menyakiti hyungmu."
"Tapi bagaimana kalau hyung menyakitinya appa?"
Appa Kim terdiam, ya ia bahkan tidak tahu apa yang sedang di pikirkan anak sulungnya itu sekarang. Apakah ia bisa menjamin kalau anaknya tidak akan menyakiti Sehun? tak ada yang tahu tentang itu.
.
.
.
.
.
.
Sehun melangkah dengan hati-hati mendekati ranjang tempat Jongin sedang berbaring.
"Kau lama sekali," gumaman itu membuat langkah Sehun terhenti dan namja manis itu memperhatikan kelopak mata Jongin yang perlahan terbuka dan sedetik kemudian mata itu menatap padanya dengan tajam.
"Ku kira kau sudah tidur."
"Belum," Jongin menyibak selimutnya. "Aku menunggumu."
"Oh..." Sehun meneruskan langkahnya mendekati tempat tidur dan kemudian duduk di samping Jongin.
"Apa yang kau lakukan di luar tadi?"
"Bicara dengan appa dan juga Jaehyun," jawab Sehun jujur.
Mata Jongin menatapnya dengan intens. "Sejak kapan kau dekat dengan ayahku? Biasanya kalian bahkan tidak pernah bertegur sapa?"
Deg
"Benarkah?"
"Ya, appa membencimu, ia beranggapan kalau kau hanya ingin numpang tenar dariku."
"Mungkin karena sekarang appamu sudah sadar kalau aku tidak pergi dari sisimu bahkan ketika kau sedang seperti ini, pikirannya jadi lebih terbuka padaku."
"Mungkin saja." Jongin masih terus menatap wajah Sehun.
"Kenapa kau terus menatap wajahku," Sehun tak tahu kenapa wajahnya terasa panas saat Jongin terus terusan menatapnya. Hal ini sedikit aneh mengingat dirinya yang selama ini selalu menjadi pusat perhatian dan pandangan orang kini merona hanya dengan tatapan Jongin.
"Kau cantik."
"Aku namja."
"Ya, aku tahu, tapi wajahmu terlalu cantik untuk menjadi seorang namja." Jongin memperhatikan pipi Sehun yang makin merona, hal yang sama sekali berbeda dengan yang dulu, kalau dulu Luhan akan memasang ekspresi angkuh dan bangga setiap kali ia memuji kali ini Luhan justru tersipu malu karena pujiannya. Apakah mungkin Luhan yang ini adalah Luhan yang berbeda dengan yang sebelumnya. Satu hal yang membingungkan Jongin, yang manakah sebenarnya Luhannya yang asli?
Luhan yang sekarang ada di hadapannya, bertingkah sama dengan waktu itu, saat pertama kali keduanya bertemu, dan setelah itu di pertemuan mereka yang berikutnya Jongin menyadari kalau sifatnya telah berubah dan sekarang Luhannya kembali seperti awal pertemuan mereka. Kalau yang ini adalah yang asli bagaimana mungkin ia bisa terlihat begitu canggung kepadanya? Jongin yakin Luhan atau kembarannya itu paling tidak pernah bertukar peran saat bersamanya, tapi ia tak bisa membuktikan yang mana sebenarnya kekasihnya, yang ini ataukah yang sekarang sedang sibuk dengan kariernya sebagai model itu?
"Sayang..."
Sehun yang tadi menunduk kini mengangkat wajahnya dan menatap tepat ke mata Jongin. "Hmmm..."
"Aku mencintaimu dan ku harap kau tak pernah membohongiku." Tangan Jongin terulur untuk menyentuh pipi Sehun.
Sehun mengalihkan pandangannya, sebisa mungkin ia menahan air matanya yang ingin mengalir, kenapa rasanya sesakit ini berbohong pada Jongin? batinnya menjerit ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi ia teringat pada janjinya pada Jaehyun, jadi ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Sayang..." Jongin membimbing tubuh Sehun untuk berbaring di sampingnya. "Kau tahu bukan, tak ada lagi yang bisa aku banggakan dari tubuhku untukmu, ya mungkin hanya hatiku saja. Karena itulah ku mohon dengan sangat, jangan pernah berbohong padaku, karena rasanya sangat sakit di sini..." Jongin meletakkan tangan Sehun di dadanya.
Sehun tertegun.
"Maafkan aku..." Setetes air mata jatuh di pipi Sehun, "Aku tak pernah berniat berbohong padamu."
Jongin dapat melihat tatapan penuh kesedihan di mata Sehun, ia memejamkan matanya sebelum kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Sehun dan mencium bibirnya dengan lembut. Tubuh Sehun mendadak kaku, tapi hanya sejenak karena setelah itu ia pun turut memejamkan mata dan membalas ciuman Jongin. Jongin membuka matanya, merasakan lagi perasaan yang sama ketika ia mencium kekasihnya ini di rumah sakit. Tubuhnya terasa seperti di aliri listrik dan jantungnya berdebar lebih kencang. Jongin tahu dari pada nafsu, ia lebih memiliki hasrat untuk terus memiliki namja manis itu untuk selamanya.
"I Love you..." Jongin melepaskan ciumannya dan tanpa menunggu jawaban Sehun ia kembali mencium bibir yang sudah menjadi candunya itu.
"Jongiiinnn..." Sehun bergerak gelisah saat tangan kanan Jongin menyusup masuk ke balik kaos longgar yang ia pakai.
"Aku akan bertanya sekali lagi apa kau benar-benar kekasihku?" bisik Jongin, tangannya terus bergerak pelan menuju dada Sehun.
Sehun tahu apa akibatnya setelah ini padanya tapi ia tak bisa mengatakan yang sejujurnya pada Jongin, ia terlalu takut untuk mengetahui apa yang akan terjadi kalau Jongin tahu kebenarannya, jadi akhirnya ia hanya menganggukkan kepalanya.
Jongin tersenyum tipis sebelum sedetik kemudian ia menarik tubuh Sehun untuk naik ke atas perutnya. "Kita sudah sering melakukannya bukan? Jadi kau harusnya tahu apa yang harus kau lakukan sekarang..."
Sehun memejamkan matanya, sepertinya ia sudah masuk terlalu jauh di dalam permainan ini dan ia terjebak tak bisa lagi keluar. Tak ada cara lain, ia harus berusaha terlihat kalau ia sudah terbiasa dengan ini. Tak apa kalau Jongin menganggapnya seperti seorang pelacur, asalkan rahasianya tidak terbongkar.
"Aku mengerti..." bisik Sehun. Dan namja manis itu menundukkan wajahnya untuk mencium bibir Jongin.
.
.
( Cut )
.
.
Napas Sehun terengah-engah di atas tubuh Jongin sesaat setelah keduanya sama-sama merasakan puncaknya.
Setelah merasa napasnya kembali stabil, Sehun mencoba bangkit dari atas tubuh Jongin dan ketika ia ingin mengeluarkan milik Jongin dari dalam holenya, tangan namja tampan itu menghalanginya.
"Biarkan saja seperti itu." dan Jongin kembali menarik tubuh Sehun untuk berbaring di dadanya.
"Jongin..."
"Apa kau tidak menyesal?" tanya Jongin pelan.
"Apa?"
"Kau berbohong padaku." Untuk sesaat Jongin dapat merasakan tubuh di dekapannya itu menegang. "Kau tidak mengatakan yang sejujurnya padaku kan?"
"Itu..." Sehun tak tahu harus mengatakan apa pada Jongin sekarang ini.
"Mengapa kau tidak mengatakan padaku kalau holemu itu masih perawan? Dan siapa kau sebenarnya?"
"Apa maksudmu?" Sehun bergerak dengan gelisah.
"Siapa kau sebenarnya? Kau bukan Luhan bukan? Ciumanmu masih terlalu amatir dan tubuhmu terlalu kaku saat meresponsku. Siapa kau sebenarnya?" Tangan Jongin mencengkeram erat dagu Sehun, memaksa namja manis itu untuk bertatapan dengannya. "Apa kau Luhan yang asli?"
Sehun dapat melihat kemarahan di mata Jongin, tapi ia tahu kalau ia tidak bicara dengan benar maka Jongin akan semakin marah padanya. "Bukan," jawabnya lirih.
"Lalu, kau siapa?"
"Namaku Sehun."
"Sehun? kembaran Luhan? Yang menjadi model itu? apa kalian sedang ingin mempermainkanku dengan bertukar peran? Kalian ingin mengejekku?"
Cengkeraman Jongin didagunya semakin kuat hingga Sehun meringis kesakitan. "Bukan begitu... aku tidak bermaksud membohongimu aku... aku hanya melakukannya karena Jaehyun."
Cengkeraman Jongin melonggar. "Apa kau ingin mengatakan kalau adikku dan juga keluargaku yang terlibat dalam permainan ini." Tatapan Jongin terlihat begitu terluka. "Apa karena aku cacat hingga kalian tega melakukan ini padaku?"
"Hiks... bukan seperti itu..."
"Luhan telah menyebabkanmu kecelakaan dan aku datang untuk meminta maaf pada keluargamu karena itu, tapi sebelum aku bertemu keluargamu aku bertemu dengan Jaehyun dan..." Sehun menatap takut-takut pada Jongin.
"Teruskan," ucap Jongin dengan nada dingin.
"Jaehyun mengatakan kalau keadaanmu masih belum stabil, dan kalau kau terus mengigau menyebut nama Luhan, jadi ia meminta padaku untuk menyamar menjadi Luhan. Awalnya aku tidak mau selain karena sifat kami yang berbeda aku juga takut kalau aku akan ketahuan. Tapi Jaehyun memohon dengan sangat padaku hingga aku tak tega padanya. dan akhirnya mengabulkan permintaannya. Maafkan aku, kalau kau marah, marah saja padaku jangan pada adikmu."
"Kau bilang kalau sifatmu berbeda dengan Luhan, apa maksudmu itu dan juga bagaiman bisa kau yang datang kesini dan bukan dirinya?" mengabaikan permintaan maaf Sehun, Jongin malah mengajukan pertanyaan lain.
"Itu..." Sehun mendadak ragu, tak mungkin bukan kalau ia membongkar kejahatan keluarganya pada Jongin.
"Kau tak mau menjawabnya dan...ahh ya, aku baru ingat kalau saat pertama kali kita bertemu wajahmu memar, apakah itu karena Luhan memaksamu untuk datang kepadaku?"
Sehun menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Lalu...?"
Sehun diam, tak tau harus menjawab apa.
Dan Jongin yang tak sabaran segera menggerakkan miliknya yang masih berada di dalam hole Sehun hingga namja manis itu merintih. "Katakan padaku yang sejujurnya Sehun kalau kau tak ingin melihat aku semakin marah padamu, kau tak tahu apa saja yang bisa aku lakukan kalau aku sedang marah." Ucap Jongin dengan nada dingin.
Sehun memejamkan matanya, dan mengalirlah cerita itu, cerita di mana ia semua kejadian ini bermula.
"Jadi..." Tangan Jongin terulur menyentuh pipi Sehun yang basah karena air mata. "Jongin mengambil semuanya darimu?"
Sehun mengangguk.
"Dan sekarang aku juga mengambil harta yang paling berharga di hidupmu, apa kau menyesal?"
"Aku tidak tahu," jawab Sehun jujur.
"Baiklah, aku sudah mendengar kisahmu dan melihat tatapan matamu saat melihat berita di televisi saat itu, ku rasa aku bisa mempercayaimu dan sekarang..." Jongin menggantungkan kalimatnya.
Sehun menunggu dalam diam hingga Jongin meneruskan kalimatnya.
"Kita sudah menjalin hubungan ini selama sebulan, meskipun saat itu kau masih menyamar menjadi kakak sialanmu itu, tapi aku masih ingat kalau kau yang mengucapkan janjimu padaku."
"Apa?"
"Kau akan tetap di sisiku, selamanya."
"Kau tak mengusirku meskipun aku bukan Luhan kekasihmu?" tanya Sehun tak percaya.
"Untuk apa aku mengusirmu, selama ini kau mengurusmu dengan baik."
"Jongin..." tatapan Sehun terlihat begitu sedih. "Selama ini kau bersikap baik kepadaku karena mengira aku adalah saudara kembarku itu bukan. Dan aku tak bisa terus berpura-pura menjadi dia. Aku..."
"Siapa bilang aku menganggapnya seperti dia?"
"Apa?" tanya Sehun tak mengerti.
"Saat aku menciummu untuk yang pertama kalinya, aku sudah tahu ada yang berbeda."
"Kau tahu?" tanya Sehun tak percaya.
"Ya, dan kau tahu hubungan seperti apa yang dulu aku jalin dengan Luhan?"
Sehun menggelengkan kepalanya.
"Aku tak pernah bersikap lembut padanya Sehun, hanya saat bersamamu aku melakukannya."
"Apa maksudmu? Jadi dari awal kau sudah menganggapku bukan Luhan?"
"Hmmm... sama sepertimu yang berpura-pura menjadi orang lain, maka akupun juga seperti itu."
Sehun memukul dada Jongin cukup kuat. "Kalau kau tahu aku bukan dia kenapa kau tetap melakukan itu padaku?" tanyanya marah.
"Itu hukuman untukmu karena berbohong padaku."
"Jongin..."
"Sudahlah, pembahasan kita sudah selesai dan kau..." Jongin menatap tajam pada Sehun. "Tak peduli walau kau bukan Luhan, kau adalah kekasihku sekarang ini, dan aku tak akan membiarkanmu lepas dariku."
Sifat posesif Jongin kembali dan Sehun hanya bisa menelan ludahnya, semuanya mungkin sudah terbongkar di hadapan Jongin tapi sepertinya namja itu tak akan melepaskan dirinya dengan mudah.
"Jongin..." Sehun menggeliat saat Jongin menggerakkan pinggulnya kembali.
"Pikiranku lelah karena semua yang terjadi sayang, hibur aku..."
.
.
.
.
.
.
TBC
Ada bagian yang aku cut ya. (^_^)
Dan membaca review dari kalian membuatku kembali berpikir ulang hingga harus berdiskusi lagi dengan momma Jennie dan hasilnya. Aku memutuskan akan bikin new story di akun aku ini special untuk bagian rated M pada ff Imperfect LOve. Dengan syarat yang minta aku update bagian rated M, mencapai separuh dari jumlah review yang masuk. Karena rata-rata satu chapter mencapai 50 review, jadi kalo 25 orang yang review minta Imperfect Love special Rated M aku publish, maka besok pagi atau siang kalian bisa chek akun aku yang ini, mungkin aku sudah update story baru bagian rated M Imperfect Love. So, yang minta rated ff ini tetap T, aku kabulin n yang minta bagian rated M nya tetap ada, akan aku kabulin juga di Imperfect Love special chapter. Gimana setuju gak?
Mohon reviewny untuk chapter ini ya
Salam Manis KaiHun Hardshiper
KaiHun Lovea
