IMPERFECT LOVE

Cast : Sehun, Jongin, Luhan, Kris, Suho, etc

Terima kasih untuk semua yang udah review nih ff, maaf ga bisa balas komen kalian satu persatu.

No edit.

KaiHun Lovea

.

.

.

.

.

.

Bulu mata lentik itu tampak mengerjap pelan, berusaha menyesuaikan diri dengan sekitarnya, sekilas tampak kebingungan di raut wajah manisnya sebelum kemudian ia menyadari di mana kini ia sedang berada. Kamar milik Kim Jongin. namja manis itu, Oh Sehun, menoleh ke samping dan menemukan seorang namja berparas tampan yang tampaknya masih tertidur dengan nyenyak. Sehun mendesah pelan, sebelum kemudian meringis merasakan sakit yang luar biasa di area pribadinya.

Sedetik tubuhnya kaku, ketika mengingat lagi apa yang telah ia lakukan tadi malam dengan Jongin di kamar ini. Sehun menggigit bibirnya, sementara tangannya mencengkeram dengan erat selimutnya, sebisa mungkin ia menggeser tubuhnya untuk menjauh dari tubuh Jongin, dan sengatan rasa perih yang luar biasa kembali ia rasakan di bawah sana.

Ini terlalu sakit bahkan untuk sekedar bergerak, Sehun merasa ia benar-benar kesulitan. Namja manis itu merengut, ketika ia mengingat juga saat pertama kali managernya dulu mengatakan bagaimana rasanya saat pertama kali Jongdae, kekasihnya membobol holenya. Ia ingat Minseok hyung masih bisa berjalan dengan normal ke esokan harinya. Tapi kenapa dirinya berbeda? Apakah karena ukuran milik Jongin yang tidak bisa dikatakan normal itu? terlalu besar dan...

Sehun menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan bayangan monster di selangkangan Jongin dan fokus pada rasa sakit yang kini ia rasakan. Setelah upaya yang entah keberapa kalinya, akhirnya ia bisa turun dari atas ranjang, berjalan dengan sangat pelan dan kaki yang mengangkang menuju kamar mandi. Sehun rasa ia butuh berendam di air panas dan berharap hal itu akan mengurangi rasa sakit dan juga pegal-pegal yang ia rasakan.

Saat Sehun selesai dengan ritual mandinya dan keluar dari kamar mandi, Jongin masih di sana, terbaring dengan selimut yang hanya menutupi bagian pinggul ke bawah dan namja itu masih tertidur dengan pulasnya. Sehun menatapnya ragu-ragu, antara ingin membangunkan namja tampan itu atau tetap membiarkannya tetap tertidur. Namun ketika Sehun memikirkan apa yang telah keduanya lakukan tadi malam, Sehun yakin ia tak akan bisa berlama-lama berada satu ruangan dengan namja tampan itu. Sehun menggelengkan kepalanya, berjalan perlahan menuju lemari, berusaha untuk tidak meringis saat nyeri itu makin terasa saat ia menggerakkan kakinya.

Mengingat keadaan dirinya, Sehun menjadi tak yakin kalau ia bisa mengenakan celana dalamnya, karena itulah ia memutuskan hanya memakai celana selutut yang longgar dan juga kaos hitam yang sudah agak lusuh.

"Wah lihat siapa yang baru datang?" Jaehyun yang tampak sudah berpakaian rapi, melambaikan tangannya dengan semangat pada Sehun yang baru muncul di pintu ruang makan.

Ayah Jongin menoleh dan ikut tersenyum pada Sehun.

"Maaf, aku bangun terlambat," Sehun meringis saat merasakan gesekan kain celananya pada holenya telah membuat rasa nyeri yang hampir tak bisa ia tahan.

"Tak masalah..." Jaehyun mengibaskan tangannya. "Kau pasti telah melalui malam yang sangat panjang dengan Jongin hyung ya..."

Sehun tersedak ludahnya sendiri, wajahnya tampak pucat karena tegang. Apa ia ketahuan?

"Tak perlu tegang begitu," Ayah Jongin menarik Sehun untuk duduk di sampingnya. "Kami bisa mendengarnya dari lantai bawah, yah sepertinya kau gagal mengalihkan perhatian Jongin ya."

Wajah Sehun memerah menahan malu saat mengetahui arti dari ucapan ayah Jongin. "Maaf..."

"Kenapa minta maaf, justru kamilah yang minta maaf padamu, karena gara-gara Jongin kau harus merelakan dirimu menahan sakitnya."

"Hyung..."

Jaehyun mencondongkan tubuhnya lebih mendekat pada Sehun. "Kau tahu, desahanmu lebih seksi dari pada Luhan..."

Wajah Sehun merah padam mendengar ucapan Jaehyun. "Apa terdengar jelas?" tanyanya setengah berbisik.

Jaehyun mengangguk, "Sangat... dan aku tak menyangka kalau dengan kondisi Jongin hyung yang seperti itu, ia masih bisa membuatmu kewalahan hyung..."

"Apa maksudmu?"

Jaehyun nyengir, "Kau tampak sangat susah ketika berjalan menuju kemari, apa permainan Jongin hyung sangat kasar?"

Oh, bisakah wajah Sehun lebih merah lagi dari pada ini? Kenapa keluarga Jongin frontal sekali sih mengatakan hal-hal yang memalukan seperti itu.

"Bisakah kalian berhenti melakukan pembicaraan yang tak bermutu itu?" ibu Jongin muncul sambil membawa secangkir kopi untuk suaminya.

"Eomma..."

"Dan kau Sehun... apa kau sengaja memanfaatkan keadaan anakku?"

"Apa?" Sehun mendongak, raut wajahnya tampak terkejut mendengar pertanyaan seperti itu.

"Dengan kau mau tidur bersama dengan anakku, bukankah itu telah membuktikan kalau kau sama saja dengan saudaramu itu, murahan."

Deg.

"Kau sengaja mendekati Jongin bukan, apa kau ingin agar Jongin jatuh cinta padamu dan kemudian kau bisa mengambil hartanya?"

"Eomma... hentikan ucapanmu, Sehun hyung tidak seperti itu."

"Diamlah Jae, eomma tahu dia sudah di buang keluarganya, kariernya juga hancur dan ia tidak punya apa-apa lagi, karena itulah ia mendekati hyungmu. Ia menginginkan harta kita untuk bisa bertahan hidup. Seorang model sepertinya pasti tak akan terbiasa hidup susah, karena itulah ia..."

"Cukup bibi..." Sehun bangkit dari duduknya, tubuhnya tampak gemetar saat ia mencoba untuk bicara lagi. "Aku memang tidak punya apa-apa lagi, tapi aku masih punya harga diri bibi, aku tak akan melakukan hal seburuk itu hanya demi uang. Kalau bibi mengatakan aku tak terbiasa hidup susah, itu salah besar. Karena bahkan selama ini hidupku sudah susah... kalau bibi tidak menyukai keberadaanku di rumah ini, bibi katakan saja secara langsung padaku, aku akan pergi, tak perlu menghinaku seperti itu." air mata mengalir di pipi Sehun. "Aku minta maaf, karena tak bisa mencegah Jongin melakukan hal itu padaku bibi..." Sehun menunduk, mengusap air matanya. "Aku akan pergi..."

"Hyung..." Jaehyun ikut bangkit dari duduknya dan menahan lengan Sehun. "Eomma, kenapa kau berkata sekejam itu pada Sehun hyung..."

"Kau lihat sendiri Jae, dia bahkan baru satu hari di rumah kita dan sudah berbuat hal yang tidak-tidak dengan hyungmu, ia sama saja dengan saudaranya."

"Yeobo, jangan menilai Sehun seperti itu, mereka memang kembar, tapi belum berarti sifat mereka sama. Sehun kembalilah duduk..."

Sehun menggelengkan kepalanya. "Tidak paman, bibi benar, aku hanya orang lain di rumah ini, dan aku tidak pantas menerima kebaikan kalian. Aku akan pergi..."

"Hyung..." Jaehyun merengek.

"Tak apa Jae, tabunganku masih cukup untuk menyewa rumah dan aku bisa mencari pekerjaan nanti."

"Kau bisa kerja di perusahaanku," ucap ayah Jongin.

"Tidak paman, aku akan mencari pekerjaanku sendiri." Sehun membungkukkan badannya, sebelum kemudian ia berbalik. "Maaf, kalau aku merepotkan..."

"SAYAAAANGGG..."

Deg

Ucapan Sehun terhenti saat teriakan itu terdengar.

"SAYAAAANGGG... KAU DIMANA..."

Sehun mengepalkan tangannya, berusaha untuk tidak memperdulikan teriakan Jongin. dan namja manis itu baru saja saja melangkahkan kakinya saat Jongin meneriakkan namanya.

"OH SEHUNNN... KAU DI MANAAAAA..."

Brakk

prang

Terdengar suara benda pecah setelah menghantam dinding kamar.

Dan tubuh Sehun membeku, mendengar teriakan Jongin. Ya Tuhan, apa ia telah melupakan janjinya pada namja itu?

"Sehun...?" ibu Jongin menatap tak percaya pada namja manis yang masih berdiri kaku di tempatnya. "Jongin tahu siapa kau sebenarnya?"

Prang

Terdengar lagi benda pecah dari lantai atas di susul teriakan bernada frustasi milik Jongin.

"Sehuna... kembalilah ke atas dan tenangkan Jongin." Ayah Jongin bangkit dari duduknya dan menatap istrinya.

"Tapi..."

"Pergilah sebelum Jongin makin mengamuk."

"Baiklah..." Sehun dengan pasrah kembali melangkahkan kakinya menuju lantai atas di mana kamar Jongin berada.

Setelah Sehun menghilang di balik pintu, ayah Jongin menatap istrinya dengan tajam. "Apa yang kau pikirkan sekarang yeobo?"

"Jongin tahu yang sebenarnya?" tanya Ibu Jongin lirih.

"Sesuai dugaan..." Jaehyun mengacak rambutnya. "Hyung terlalu cerdas untuk di bohongi dan kenapa aku baru menyadari sekarang, hyung pasti sengaja memancing Sehun untuk bercinta dengannya agar Sehun mengakui kebohongannya, tapi aku malah mendesak Sehun hyung untuk tidak mengatakan kebenarannya..."

"Apa maksudmu Jae, eomma tidak mengerti..."

"Sehun tidak pernah bercinta sebelumnya dan ia terpaksa harus melakukannya dengan Jongin agar sandiwara kita tentang Sehun yang menyamar menjadi Luhan itu tidak terbongkar. Tapi kau tahu anak kita bukan, ia pasti menyadari kalau Sehun tidak pernah melakukannya sebelumnya..."

"Omo..." ibu Jongin mendekap mulutnya. "Apa aku telah melakukan kesalahan?"

"Tentu saja eomma, eomma sudah menuduh Sehun hyung yang tidak tidak, padahal demi kebohongan yang kita buat, Sehun hyung mau merelakan dirinya tidur dengan Jongin hyung."

Ibu Jongin menatap ke arah lantai dua dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Yeobo..." ayah Jongin memeluk tubuh ibu Jongin dengan erat. "Kau harus meminta maaf pada anak itu nantinya."

"Aku tahu," bisik ibu Jongin lemah.

Sementara itu Sehun dengan hati ragu-ragu akhirnya membuka pintu kamar tidur milik Jongin dan langsung menemukan pemandangan yang tak pernah ia duga sebelumnya. Kamar itu sungguh berantakan dengan pecahan kaca yang berhamburan di lantai, bantal, guling dan bahkan selimut juga terlempar begitu saja, menyisakan sosok telanjang yang duduk di tengah ranjang dan tengah menatapnya dengan tajam.

"Dari mana saja kau?" tanya Jongin dingin.

"Maaf..." Sehun melangkah masuk dan menutup pintu, kemudian melangkah dengan hati-hati agar kakinya tidak menginjak pecahan kaca menuju ke ranjang tempat Jongin duduk. Sehun meraih celana pendek milik Jongin yang tergeletak begitu saja di lantai sebelum kemudian naik ke atas ranjang dan meringis merasakan sakit di holenya. Tapi sebisa mungkin Sehun menahan ringisannya, ia dengan hati-hati memakaikan celana pendek itu ke tubuh Jongin.

"Aku tak butuh maaf darimu, yang aku tanyakan dari mana saja kau?" suara Jongin yang dingin sedikit banyak membuat Sehun merasa takut.

"Aku lapar jadi aku..."

Jongin meletakkan telapak tangannya yang hangat ke pipi Sehun, "Kenapa tidak membangunkanku?"

"Aku tak mau mengganggu tidurmu? Kau tidur pulas sekali."

"Sepulas apapun aku tidur, harusnya kau membangunkanku, kau tahu aku sangat cemas, aku takut kalau kau akan pergi meninggalkanku."

"Aku tak akan kemana-mana, aku ada di sini, maaf tadi sempat meninggalkanmu..."

"Apa kau sudah selesai makan?"

Sehun menggelengkan kepalanya, "Belum, aku langsung kembali saat kau berteriak."

"Aku tak mau kau meninggalkanku, kau milikku." Jongin menatap wajah cantik Sehun dalam-dalam.

"Aku tak akan pergi," Sehun meringis saat Jongin menarik tubuhnya untuk lebih mendekat.

"Apa masih sangat sakit?" tanya Jongin cemas. Pandangannya kini turun ke bawah, kearea selangkangan Sehun.

Wajah Sehun merona, "Tentu saja... milikmu itu sangat besar asal kau tahu," Sehun sepertinya lupa dengan dirinya yang tadi sempat malu karena pertanyaan Jongin, kini ia malah cemberut pada namja tampan itu.

"Tapi tadi malam kau begitu menikmatinya dan tidak protes padaku."

"Itu sebelum aku tahu kalau kau akan membuatku susah berjalan."

Jongin tersenyum, namja di depannya ini ternyata selain terlihat begitu menggemaskan tapi juga polos. "Kau akan terbiasa kalau kita sering melakukannya."

Mata Sehun mendelik, "Kau pikir aku mau, milikmu itu monster.. shireo..."

"Benarkah?" tangan Jongin turun dari pipi Sehun dan kini beralih meremas dada Sehun yang masih tertutupi kaos.

"Akhhh..." Sehun menggeliat.

"Lihat baru seperti itu saja kau sudah mendesah, bagaimana kalau monster ini yang..."

"Jongiiiiiinnn..."

Jongin tertawa melihat wajah kesal Sehun tapi dalam sekejap tawanya lenyap. "Sehun dengar..."

Sehun menatap tepat pada mata Jongin, menunggu namja tampan itu meneruskan ucapannya.

"Aku tak ingin kau pergi meninggalkanku, kau harus selalu berada di sisiku, mungkin ini terdengar egois, tapi aku tak mau kehilanganmu."

Sehun diam.

"Jangan pergi kemanapun tanpa izin dariku, kau mengerti?"

"Bagaimana dengan pekerjaanku? Aku harus bekerja Jongin, kau tahu aku tak bisa menumpang begitu saja di rumahmu, aku..."

"Tidak... kau tak boleh kemana-mana, kau akan di sini bersamaku."

"Jongin..."

Tatapan tajam Jongin mengurungkan niat Sehun untuk bicara.

"Kau akan tetap di sisiku, masalah pekerjaan akan kita bicarakan nanti, sekarang aku tak ingin membahasnya."

"Baiklah," sahut Sehun pasrah.

"Good boy." Jemari Jongin kembali bermain di wajah mulus Sehun, satu ciuman berhasil ia daratkan di bibir kemerahan milik Sehun.

Sehun balas menangkup wajah Jongin, dan dahinya mengernyit tipis merasakan sesuatu yang kasar menggesek kulit lembutnya.

"Kau belum cukuran hari ini."

"Hmmm..." Jongin hanya menggumam sebelum mencium hidung Sehun dan kembali mendaratkan bibir tebalnya di bibir tipis Sehun, menciumnya dengan lembut.

Sehun mendorong tubuh Jongin pelan, melepaskan tautan mereka, kemudian turun dari ranjang.

"Kau mau kemana?" Wajah Jongin mengeras melihat Sehun yang menjauh.

Sehun tak menjawab, ia hanya mengambil kursi roda milik Jongin dan membawanya ke sisi ranjang, membantu namja tampan itu untuk duduk di sana dan kemudian mendorongnya ke kamar mandi.

"Kita mau mandi?" tanya Jongin.

"Tidak..." Sehun melepaskan pegangannya di kursi roda milik Jongin dan melangkah pelan menuju wastafel. "Aku sudah mandi..."

Setitik rasa bersalah hinggap di hati Jongin saat melihat Sehun yang kesusahan ketika berjalan, tapi kemudian ia menepis perasaan itu, ia hanya ingin menikmati hari-harinya dengan Sehun tanpa melibatkan perasaan seperti itu. mata Jongin yang tajam mengawasi Sehun yang masih sibuk di depan laci wastafel.

Tak lama kemudian Sehun berbalik dan tersenyum manis pada Jongin, ditangannya terdapat alat cukur dan krimnya.

"Milikmu cepat sekali tumbuh..." gumam Sehun melihat bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di rahang Jongin. Dengan telaten ia mengoleskan krim pencukur ke rahang dan dagu Jongin. Dan wajahnya yang serius tak luput dari tatapan tajam milik Jongin. selesai mengolesi dengan hati-hati tangan lembut Sehun menjalankan alat cukurnya di sepanjang rahang dan juga dagu Jongin.

"Kau cantik..." Jongin melingkarkan tangannya di pinggang ramping Sehun dengan erat.

"Jongin... diamlah, aku tak mau melukaimu..." protes Sehun.

Jongin diam dan membiarkan namja cantik itu meneruskan pekerjaannya. Tak butuh waktu lama bagi Sehun untuk mencukur, ia segera membasuh wajah Jongin dengan air dan kemudian mengambil handuk kecil dan mengusapkannya ke wajah Jongin yang basah.

"Sudah selesai..." Sehun tersenyum manis, merasa puas dengan pekerjaannya.

"Sayang..."

"Ya..."

Tangan Jongin yang sedari tadi melingkar di pinggang ramping Sehun kini terulur ke atas menangkup wajah Sehun yang masih membungkuk di hadapannya. "Setelah apa yang kau lakukan padaku aku makin takut..."

"Takut..?"

"Ya, aku takut kalau suatu saat kau akan pergi dariku.."

Sehun menggenggam tangan Jongin yang masih menangkup pipinya. "Aku akan selalu ada di sini sesuai janjiku." Ucapnya.

Jongin tersenyum tipis, "Ya, dan aku tak akan pernah membiarkan kau menghilang dariku..."

Tapi masalahnya Jongin bahkan tak tahu apakah ia akan sanggup menahan Sehun untuk terus berada di sisinya.

.

.

.

.

.

TBC

Kila, aku tak tahu di mana kamu naruh file ff BIP, jadi aku post yang ini saja.

Dan buat yang suka baca ff ini, maaf karena bukan Kila yang post, dia lagi sakit, jadi minta bantuan aku buat post. Jadi buat ff yang lain mungkin nunggu Kila sembuh dulu.

Buat ayanknya Leon Kila, cepat sembuh ya, jangan lama-lama sakitnya. Aku sudah email Leon tadi dan kenapa kamu ga bilang sih kalau Leon bisa bahasa INA, aku malah ngirim email pake bahasa inggris, kan kampret.

Dan La, kamu mesti bangga kalau kamu buka akun ini kamu pasti akan lihat jumlah review yang rated M lebih sedikit di banding yang rated T loh. Cepat sembuh dan buat yang baca tolong review.

Ily.