IMPERFECT LOVE
Cast : Sehun, Jongin, Luhan, Kris, Suho, etc
Terima kasih untuk semua yang udah review, fav and follow nih ff, maaf ga bisa nyebutin nama kalian satu-satu.
No edit.
KaiHun Lovea
.
.
.
.
.
.
"Takut..?"
"Ya, aku takut kalau suatu saat kau akan pergi dariku.."
Sehun menggenggam tangan Jongin yang masih menangkup pipinya. "Aku akan selalu ada di sini sesuai janjiku." Ucapnya.
Jongin tersenyum tipis, "Ya, dan aku tak akan pernah membiarkan kau menghilang dariku..."
Tapi masalahnya Jongin bahkan tak tahu apakah ia akan sanggup menahan Sehun untuk terus berada di sisinya.
Sehun terlarut dalam lamunannya mendengar ucapan Jongin, ketika beberapa saat kemudian ia tersadar karena mendengar suara rintihan pelan dari sisinya.
"Jongin..." ucapnya dengan panik. "kau kenapa?"
"Akhhh..." Jongin meringis merasakan sakit di kedua kakinya.
Air mata mengalir deras di pipi Sehun saat ia melihat Jongin terus merintih. "Hiks... Jongin..."
"Akhh..." tangan Jongin yang gemetar berusaha menggapai kedua kakinya. "Sakit..."
"Hiks... tunggu sebentar, aku panggil orang tuamu dulu." Sehun ingin menjauh namun Jongin lebih dulu mencekal kedua tangannya.
"Tetaplah di sini..."
Sehun menatap wajah Jongin yang kian memucat, "Kau kesakitan Jongin, kita harus ke rumah sakit." Sehun memalingkan wajah ke arah pintu kamar Jongin yang tertutup rapat dan kemudian berteriak sekuat tenaga. "APPA... JAEEEE... TOLONGGG..."
Terdengar suara langkah kaki orang berlari menaiki anak tangga dan beberapa saat kemudian pintu kamar Jongin terbuka.
"Hyuuunggg..." Jaehyun yang lebih dulu menyerbu masuk dan langsung menghampiri kakaknya yang masih merintih kesakitan. "Apa yang terjadi pada hyung?"
"Hiks... aku tidak tahu, tiba-tiba saja dia seperti ini." Sehun mengusap wajah Jongin yang pucat pasi.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang," putus Jaehyun. "Appa... siapkan mobil, kita harus membawa hyung ke rumah sakit." Ucapnya pada sang ayah yang baru saja memasuki kamar.
Ayah Jongin menatap anaknya sekilas sebelum melangkah kembali ke luar kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun, hanya ibu Jongin yang terus melangkah masuk dan menangis di samping Jongin.
"Sayang, kau kenapa?" bisiknya seraya menggenggam jemari Jongin yang semakin dingin.
"Sehun hyung, tolong menyingkirlah."
Sehun mengangguk dan kemudian mundur, memberi jalan pada Jaehyun untuk menggendong Jongin dan membawanya keluar dari kamar.
"Jongin..." ibu Jongin makin terisak pelan dan Sehun hanya mampu mengelus punggungnya. "Ayo kita susul Jaehyun..."
Dan ibu Jongin tak membantah saat Sehun menggandengnya keluar dari kamar Jongin, menyusul Jaehyun yang sudah sampai di lantai bawah.
"Ayo, appa... kita harus bergegas..." ucap Jaehyun dengan napas terengah. Ia membaringkan tubuh Jongin di jok belakang mobil dengan kepalanya yang berada di pangkuan ibu Jongin yang sudah masuk lebih dulu ke dalam mobil.
Sehun berdiri terpaku di luar mobil melihat kepanikan keluarga Jongin.
"Hyung, kenapa masih berdiri di situ, ayo masuk." Jaehyun menarik tangan Sehun, hingga namja manis itu ikut masuk ke dalam mobil dan sesaat kemudian mobil yang di kemudikan oleh ayah Jongin itu meluncur dengan cepat menuju rumah sakit.
Untuk kedua kalinya Sehun merasa dilema, ia kembali berada di rumah sakit ini dengan Jongin yang terbaring lemah di sana. Namja manis itu melirik pada kedua orang tua Jongin yang tampak begitu bersedih melihat kondisi anaknya. Untuk sesaat perasaan takut menghantui Sehun, bagaimana kalau orang tua Jongin menyalahkan dirinya atas kejadian ini. Tapi ia sendiri bahkan tidak tahu kenapa Jongin tiba-tiba saja bisa kesakitan seperti itu.
"Hyung... duduklah..." panggil Jaehyun pelan.
Sehun menggelengkan kepalanya. "Aku tak bisa, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Jongin, aku takut..." Sehun kembali meneteskan air matanya, ia tak mempedulikan lagi bagaimana kondisi dirinya sendiri sekarang, karena yang ada di pikirannya adalah, apakah ia yang telah membuat Jongin menjadi seperti ini?
"Hyung..."
Sebelum Jaehyun melanjutkan ucapannya, pintu ruangan terbuka, dan dokter keluar dari kamar rawat tempat Jongin sekarang berada.
"Dokter..." Jaehyun dan kedua orang tua Jongin bergegas menghampiri sang dokter.
"Bagaimana kondisi anak saya?" tanya ibu Jongin dengan raut wajah penuh kecemasan.
Dokter itu menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Sekarang dia sudah tidak apa-apa, ia sedang tertidur karena pengaruh obat."
"Apa yang menyebabkan hyungku menjadi seperti itu, dokter?"
"Apa Jongin sudah tahu kalau kakinya lumpuh?"
Kedua orang tua Jongin saling pandang sebelum kemudian keduanya mengangguk.
"Sepertinya Jongin terlalu memaksakan kedua kakinya untuk bisa bergerak, karena itulah ia merasakan kesakitan yang amat sangat dan..."
Deg
Sehun tak bisa lagi dengan jelas mendengar ucapan dokter itu, air mata mengalir deras di pipinya. Masih ingat di benaknya malam panas yang ia lalui dengan Jongin sebelumnya. Pasti karena itu, bodohnya ia karena telah mengakibatkan Jongin seperti ini.
"... kemungkinannya kaki Jongin akan lumpuh permanen. Tapi kita lihat saja perkembangannya nanti, apa Jongin masih bisa merasakan kedua kakinya atau tidak."
Brukkk
Tubuh Sehun melemah dan ia jatuh terduduk di lantai.
"Hyung..." Jaehyun bergegas berlutut di samping Sehun dan memeluknya dengan erat. "Tak apa, ini bukan salah hyung..."
"Tidak Jae, ini salahku. Aku bodoh... harusnya aku bisa menahan Jongin tadi malam. Hiks..."
"Hyung..."
"Hiks... maaf... karena aku Jongin harus seperti ini." Sehun menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sembari terus terisak.
"Tidak nak, jangan menyalahkan dirimu." Ayah Jongin menepuk pundaknya dengan pelan. "Kau sudah berbaik hati mau merawat anak kami."
"Hiks..."
"Lebih baik kita berdoa sekarang, semoga Jongin di beri kekuatan untuk menghadapi cobaan ini."
.
.
.
.
.
.
Suho melipat majalah yang baru saja ia baca dan menghela napas panjang. Tatapannya kini lurus mengalah pada putra pertamanya yang sedang sibuk main game. "Luhan..." panggilnya pelan.
"Hmmm..." Luhan hanya menggumam pelan tanpa menoleh pada ibunya.
"Mau sampai kapan kau akan terus seperti ini?"
"Apa maksud eomma?"
"Kau berbohong pada semua orang dengan mengatakan kalau kau adalah Sehun."
"Entahlah, mungkin sampai aku bosan." Sahut Luhan sekenanya.
"Luhan, dengarkan eomma... apa salah Sehun padamu hingga kau melakukan hal ini nak?"
"Salahnya? Sangat banyak eomma... haruskah aku menyebutkannya satu persatu."
Suho memijit keningnya yang berdenyut, "Itu bukan salah adikmu jika ia lebih banyak berprestasi darimu."
Luhan bangkit dari duduknya, tanpa mempedulikan lagi game yang sedari tadi ia mainkan. "Eomma membelanya?"
"Bukan begitu sayang, eomma hanya tidak ingin kalian terus seperti ini. Kalian itu bersaudara, apa pantas kalau kalian bermusuhan."
"Ya, kalau Sehun sadar aku dan dirinya bersaudara, harusnya ia tidak marah dong kalau aku merebut karier miliknya."
"Dengan cara seperti ini? Dan apa ini, eomma baru saja melihatmu di majalah dengan tampilan terbuka seperti itu. Sehun tidak pernah seperti ini nak."
"Itu karena aku bukan Sehun dan eomma berhenti bersikap seolah-olah dia adalah anak paling baik di dunia."
"Luhan... eomma hanya tidak suka kalau kau tampil seperti itu di depan kamera. Kau bukan artis porno nak."
"Apa eomma menyamakan aku dengan artis porno?" Luhan menjerit marah.
"Ada apa ini, siapa yang menyamakan anakku dengan artis porno?"
Kris yang baru keluar dari kamarnya menatap tajam pada kedua orang yang tengah bersitegang di ruang tengah.
"Appa, eomma menyamakan aku dengan artis porno hanya karena aku menerima pemotretan yang memintaku untuk berpakaian sedikit terbuka," adu Luhan.
Suho membelalakkan matanya, sedikit terbuka katanya, ini bahkan bisa di bilang 90% terbuka, karena Luhan hanya mengenakan pakaian dalam di foto-foto itu.
"Sayang... Luhan hanya melakukan pemotretan dan..."
"Dengan pakaian seperti ini," Suho melempar majalah yang tadi ia baca tepat di hadapan Kris.
Untuk sesaat Kris terdiam melihat foto-foto Luhan yang terpampang dengan jelas di majalah itu. "Oke, ini memang sedikit berlebihan tapi..."
"Hanya sedikit berlebihan..." air mata jatuh di pipi Suho. "Kalau itu hanya kau anggap sedikit berlebihan, lalu bagaimana dengan Sehun? selama ini kau selalu memarahinya dan mengatakan apa yang ia lakukan sudah melampaui batas. Padahal ia masih melakukan pemotretan yang normal, demi Tuhan Kris, ia bahkan tidak pernah melakukan pose intim seperti itu dengan model lain."
"Itu..."
"Kau selalu memanjakan Luhan dan mengabaikan Sehun. apa kau sadar dia adalah anakmu juga."
"Aku tak pernah menghendaki anak itu lahir." Sahut Kris.
Setetes air mata kembali jatuh di pipi Suho. "Kenapa?" tanyanya lirih.
"Ia terlahir dengan menyusahkan dirimu sebagai ibunya, menyusahkanku juga karena harus melihatmu terbaring tak berdaya di rumah sakit. Aku membenci orang yang tega menyakiti istriku seperti itu."
"Meskipun dia adalah anakmu?" tanya Suho.
"Ya."
"Kau brengsek Kris, kau bilang kau mencintaiku, tapi kenapa kau tidak bisa menerima kehadiran anakku. Dia lahir dari rahimku, tempat yang sama dengan Luhan..." telunjuk Suho mengarah pada Luhan. "Tak ada yang membedakan keduanya."
"Beda, karena Luhan lahir tanpa menyusahkan dirimu."
"Kalau kau mengatakan hal seperti itu, kenapa aku merasa kalau kau sama sekali tidak mencintaiku."
"Suho."
"Kalau kau mencintaiku, kau tak akan bersikap seperti ini Kris."
"Justru karena aku mencintaimu, maka dari itu aku bersikap seperti ini Suho-ya."
"Berapa banyak.." Suho menyusut air matanya perlahan. "Berapa banyak waktu yang ku sia-siakan untuk tetap berada di sisimu dan berharap kalau kau suatu saat akan sadar kalau Sehun juga merupakan darah dagingmu."
"Suho," Kris menatap istrinya dengan tajam.
"Tapi setiap hari rasanya semakin sia-sia, kelakuanmu makin menjadi-jadi, kau makin membedakan keduanya. Hatiku sakit Kris... kau membiarkan Luhan mengambil alih kehidupan adiknya dan meninggalkan adiknya dalam kehancuran. Selama ini aku bertahan di sini karena Sehun menginginkanku tetap berada di sampingku. Tapi sekarang aku sudah tak tahan lagi," Suho kembali terisak. "Aku mencintaimu, tapi kau selalu menyakiti hatiku dengan perbuatanmu..."
"Apa maksudmu?"
"Kau mengistimewakan Luhan bukan, kalau begitu teruslah lakukan itu, karena aku juga mulai sekarang akan membela Sehun."
"Apa Sehun sudah meracuni pikiranmu, anak itu benar-benar..."
"Jangan salahkan Sehun, dia sudah melakukan hal yang benar. Dan kau, kau adalah ayah terburuk yang pernah ada. Aku menyesal menikah dan hidup bertahan denganmu Kris. Aku yang melahirkan keduanya, dan bagiku tak apa saat aku harus menahan ribuan rasa sakit, asal anakku bisa terlahir dengan selamat. Tak apa kalau aku harus sering sakit asalkan anakku sehat dan hidup bahagia. Itulah yang setiap ibu selalu inginkan Kris. Membuktikan pada para suami mereka betapa besar pengabdian para istri untuk membahagiakan suaminya. Tapi kau tak pernah mengerti dan terus saja menyalahkan Sehun."
Kris terdiam.
"Bukan keinginan Sehun untuk membuatku merasakan sakit saat ia lahir, ia bahkan masih sangat lemah saat itu, sangat polos, dan bahkan tak tahu kalau ibunya kesulitan melahirkannya. Bagaimana kau bisa terus menyalahkannya dan membencinya hingga selama ini. Aku bahkan masih hidup dan terus berada di sisimu juga, apa itu tidak bisa menyadarkanmu, bahwa kalau Sehun memang berniat melakukannya, ia pasti sudah membuatku mati saat itu."
"Suho..."
"Aku menyerah Kris... aku akan pergi dari sini dan jangan halangi aku."
"Aku tak akan membiarkanmu,' geram Kris.
"Walau kau menghalangiku pun, aku tetap akan pergi. Kau tidak pernah benar-benar mencintaiku. Kau hanya mencintai anakmu itu." tatapan Suho mengarah pada Luhan. "Yang bahkan tak pernah tahu balas budi pada adiknya sendiri. Teruslah hidup dengan keegoisan kalian dan Kris..." tatapan tajam Suho kini mengarah pada Kris. "Aku akan segera menyerahkan surat ceraiku padamu."
Deg
"Suho kau serius."
"Sangat... aku tahu ini sudah sangat terlambat karena kau bahkan sudah mengusir anakku dari rumahmu, tapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali."
Dengan berakhirnya ucapan itu, Suho pergi meninggalkan keduanya di iringi tatapan tak percaya dari Kris.
.
.
.
.
.
.
Sehun merasa tak tega saat ia melihat kondisi Jongin sekarang, sesekali namja tampan itu merintih pelan, merasakan sakit di kedua kakinya. Hatinya begitu pedih mengingat ia punya andil besar yang menyebabkan kesakitan yang di alami Jongin.
"Sehun..." Jongin yang menyadari kehadiran Sehun, mencoba tersenyum.
Sehun menghampiri Jongin dan menggenggam jemarinya dengan lembut. "Sakit...?" tanyanya lirih.
Jongin menggelengkan kepalanya. "Sekarang tidak lagi, karena aku sudah melihatmu."
"Maaf..." bisik Sehun. "Karena aku, kau menjadi seperti ini."
Jongin menggelengkan kepalanya. "Bukan salahmu, ini karena hanya kemesumanku saja," senyuman kembali tersungging di bibir pucat itu.
Sehun menunduk, "Kau sudah mendengar apa kata dokter?"
Jongin mengangguk, "Kemungkinan aku akan lumpuh permanen."
Sehun terdiam.
Tangan Jongin perlahan membalas genggaman tangan Sehun, "Kau tak akan meninggalkanku kan? Meski aku cacat?"
Setetes air mata kembali jatuh di pipi Sehun. "Aku yang menyebabkanmu seperti ini karena itu aku tak akan pergi."
Senyuman Jongin memudar dan ia melepaskan genggaman tangannya. "Kenapa mendengar ucapanmu, aku seperti menjadi beban untukmu."
"Jongin..."
"Aku tak ingin membenanimu Sehuna..." setetes air mata jatuh di pipi Jongin yang pucat. "Kalau kau hanya melakukannya atas dasar tanggung jawab. Lebih baik kau pergi."
"Jongin..." Sehun menatapnya tak percaya.
"Pergilah... aku tak ingin menjadi beban untukmu."
"Jongin... aku..."
"Pergilah Oh Sehun..." suara Jongin terdengar lebih keras.
Sehun melangkah mundur, menatap sendu pada Jongin sebelum berbalik dan kemudian pergi dari ruangan itu, menyisakan Jongin yang terisak pelan.
"Eomma..." ucapnya lirih.
Ibu Jongin segera mendekat dan memeluk tubuh anaknya, untuk sesaat pasangan ibu dan anak itu menangis dalam diam.
"Sehun tidak bersungguh-sungguh padaku, tak ada orang yang tulus menyayangi orang cacat sepertiku."
"Hiks... tidak sayang, kau masih punya eomma, appa dan juga adikmu," ibu Jongin menangis melihat kondisi anaknya yang begitu rapuh seperti ini.
"Aku cacat dan Sehun juga meninggalkanku sama seperti Luhan..."
"Maafkan eomma, nak... eomma tak bisa mencegahnya."
Di luar ruangan, Sehun menyusut air matanya dan melangkah menjauh membawa perasaanya yang terluka karena kata-kata yang di ucapkan Jongin.
"Sehunie..."
Deg
Langkah Sehun terhenti dan ia menoleh ke belakang untuk melihat siapa orang yang memanggilnya.
"Eomma..." Sehun berlari mendekat dan memeluk ibunya.
"Ya Tuhan, Sehuna... ini benar kau..." Suho memeluk tubuh anaknya dengan erat.
"Eomma kenapa ada di sini?"
"Eomma baru saja check up sayang, saat eomma melihatmu keluar dari ruangan itu. apa kau baru saja menjenguk temanmu?"
Sehun mengangguk.
Suho melonggarkan pelukannya dan mengamati tubuh anaknya. "Kau terlihat sedikit lebih kurus, apa kau tidak makan dengan benar?"
"Aku makan dengan baik kok eomma." Sehun menuntun ibunya untuk duduk di kursi panjang yang ada di dekat mereka. "Eomma sendirian di sini, mana appa..."
Suho menatap wajah anaknya dengan tatapan lembut, "Eomma sudah tidak tinggal di rumah itu lagi."
"Apa maksud eomma?" tanya Sehun terkejut.
"Eomma akan bercerai dengan appamu."
Sehun menutup mulutnya, "Apa itu benar, tapi kenapa eomma?"
"Eomma tak bisa lagi mendampingi appamu, ia sudah sangat keterlaluan, kau anaknya tapi kenapa ia tak pernah mau mengakuimu."
"Eomma..." Sehun menurunkan telapak tangannya dan menggenggam jemari ibunya. "Aku tak apa-apa eomma, tak masalah kalau appa tidak mengakuiku, eomma tak perlu berpisah dengan appa karena itu."
"Eomma harus melakukannya nak."
"Eomma..."
"Appamu tidak mencintai eomma lagi, yang ada di dalam hatinya hanyalah bagaimana caranya membuat kakakmu semakin sukses, hanya itu."
"Eomma..." Sehun kembali memeluk tubuh ibunya.
"Sudahlah eomma baik-baik saja, oh ya selama ini kau tinggal di mana?"
Sehun ragu-ragu menjawab, "Rumah Jongin."
"Jongin... mantan kekasih Luhan?"
Sehun mengangguk.
Suho menatap lurus pada Sehun. "Dari berita yang eomma dengar dia mengalami kelumpuhan, apa itu benar?"
Sehun mengangguk.
"Sehun, kalau ini karena ulah kakakmu kau tak perlu bertanggung jawab atas itu nak, itu bukan salahmu. Apa yang kau tengok tadi dia?"
Sehun mengangguk lagi.
"Sayang, hatimu terlalu baik, tapi kali ini saja eomma memohon padamu, jangan menyakiti dirimu sendiri dengan bertanggung jawab pada apa yang tidak kamu lakukan. Mulai sekarang kau tidak perlu lagi tinggal di rumah itu dan ikutlah dengan eomma."
"Tapi eomma..."
"Sehun, eomma mohon, jangan sakiti dirimu sendiri nak."
"Maaf eomma... tapi Sehun tak bisa."
"Apa maksudmu anakku?"
"Aku tak bisa meninggalkan Jongin, rasanya sakit di sini..." Sehun menyentuh dadanya. "ketika aku pergi meninggalkannya."
Setetes air mata jatuh di pipi tirus Suho. "Kau mencintainya?"
"Apa?"
"Apa kau mencintainya anakku?"
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Pendek? Maklum aku baru hari ini bisa masuk kerja lagi dan belum bisa beraktifitas banyak, jadi mohon maklumi ya.
Udah gitu kerjaan numpuk karena aku baru saja abis cuti sakit.
Mohon reviewnya ya.
Salam damai KaiHun Hardshipper
KaiHun Lovea
