IMPERFECT LOVE

Cast : Sehun, Jongin, Luhan, Kris, Suho, etc

Terima kasih untuk semua yang udah review, fav and follow nih ff, maaf ga bisa nyebutin nama kalian satu-satu.

No edit.

KaiHun Lovea

.

.

.

.

.

"Aku tak bisa meninggalkan Jongin, rasanya sakit di sini..." Sehun menyentuh dadanya. "ketika aku pergi meninggalkannya."

Setetes air mata jatuh di pipi tirus Suho. "Kau mencintainya?"

"Apa?"

"Apa kau mencintainya anakku?"

Mendengar ucapan ibunya, Sehun terdiam, matanya menatap lurus ke depan. "Cinta...?" setelah cukup lama terdiam akhirnya kata itulah yang di ucapkan Sehun. "Apakah aku jatuh cinta, eomma?"

Suho mencoba memaksakan senyumnya, "Eomma tidak tahu sayang, bukan eomma yang merasakannya tapi dirimu sendiri."

"Kenapa eomma terlihat begitu sedih?" tanya Sehun.

Suho menarik tubuh Sehun kembali kepelukannya. "Eomma hanya ingin yang terbaik untukku, sejak kecil kau tak pernah mendapatkan itu sayang, kali ini eomma benar-benar ingin mengusahakan yang terbaik untukmu, yang bisa membuatmu merasakan kebahagiaan tanpa harus menjadikan dirimu terbebani."

Sehun menyandarkan kepalanya di pundak ibunya, "Eomma..."

"Ya, anakku?"

"Aku tak tahu apa yang aku rasakan sekarang, aku tak tahu apa yang bisa membuatku bahagia, tapi... aku merasa hatiku tenang saat bersama Jongin."

Suho mengelus punggung anaknya dengan lembut. "Bawa eomma padanya."

"Eomma..." Sehun melepaskan pelukan ibunya.

"Biarkan eomma sendiri yang akan menilai dirinya, anakku. Kau masih terlalu polos untuk mengetahui seperti apa dirinya. Eomma tak mau kalau dia hanya akan memanfaatkanmu."

Deg

Sehun diam-diam mengingat kejadian tadi malam yang ia lakukan dengan Jongin, apa Jongin hanya memanfaatkan dirinya saja?

"Sayang, kenapa diam, kau tak mau mempertemukan eomma dengannya?"

"Ah, ayo kita ke sana." Sehun bangkit dari duduknya di ikuti oleh Suho. "Eomma jangan marah-marah pada Jongin ya." Sehun menggandeng ibunya menuju kamar inap yang di tempati oleh Jongin.

"Kenapa eomma harus marah padanya, dia kan tidak melakukan kesalahan. Kecuali kalau dia berbuat yang tidak-tidak padamu baru eomma akan memarahinya."

Sehun meringis, andai saja ibunya tahu apa yang telah dilakukan Jongin padanya, ibunya pasti tidak akan segan-segan melakukan kekerasan pada Jongin, Sehun sangat yakin sekali.

"Sayang," tegur Suho. "Kau tak ingin masuk ke dalam?"

"Ah..." Sehun menatap ke depan dan menyadari kalau kini ia sudah ada di depan pintu ruangan tempat Jongin berada, dengan sedikit ragu-ragu Sehun mendorong hingga pintu itu terbuka.

Hal yang pertama kali ia lihat adalah Jongin yang duduk bersandar di kepala ranjang dan eomma Kim serta Jaehyun dan seorang namja manis yang tidak ia kenal duduk di samping ranjang tempat Jongin berada.

"Sehunie hyung..." Jaehyun berdiri dari duduknya dan tersenyum lebar pada Sehun. "Hyung dari mana saja?"

Sehun menggigit bibirnya, ia dapat merasakan tatapan tajam Jongin yang tertuju padanya. "Aku keluar bertemu dengan ibuku."

"Benarkah?" Jaehyun melangkah mendekat.

"Ya..." Sehun menoleh ke belakang. "Eomma ayo masuk..."

Dan untuk sesaat suasana tempat itu di liputi keheningan saat sosok Suho melangkah masuk.

"Eomma... ini Jaehyun adik dari Jongin." Sehun memperkenalkan Jaehyun dengan ragu-ragu karena ibunya yang terus-terusan menatap pada Jongin tanpa mempedulikan sekitarnya.

Untuk sesaat Suho menoleh pada Jaehyun dan tersenyum tipis. "Aku ibu dari Sehun, kau bisa memanggilku bibi kalau kau mau."

"Salam kenal bibi, aku Jaehyun." Jaehyun membungkukkan badannya.

Suho menatap pada ibu Jongin dan sedikit membungkukkan badannya. "Kau pasti ibu Jongin bukan, terima kasih selama ini sudah mau menampung anakku untuk tinggal di rumahmu."

"Tak masalah, selama ini Sehun banyak membantu," balas Ibu Jongin dengan kaku.

"Dan Jongin... kita pernah bertemu sekali bukan? Saat itu kau memperkenalkan dirimu sebagai kekasih Luhan dan sekarang apa kau tahu kalau yang ada di sampingku ini bukanlah Luhan?"

Jongin mengangguk. "Dia Sehun..."

"Aku tak akan berbasa-basi padamu, aku hanya ingin menanyakan padamu, apa kau bermaksud ingin memanfaatkan anakku?"

"Eomma..." Sehun memegang lengan ibunya dan menggelengkan kepalanya.

Jongin menatap ibu Sehun tanpa gentar sama sekali. "Apa maksud bibi?"

"Sehun berbeda dengan Luhan, ia bahkan terlalu polos untuk tahu kalau orang-orang disekitarnya hanyalah memanfaatkan dirinya untuk kepentingan diri mereka sendiri. Dan aku tak mau hal itu terjadi lagi. Cukup sudah anakku merasakan bagaimana sakitnya dimanfaatkan."

Jongin tersenyum sedih, "Aku bukanlah orang yang tak punya hati bibi, aku tak akan melakukan hal yang seperti itu dan juga..." tatapan Jongin beralih pada Sehun. "Aku sudah mengatakan padanya untuk pergi."

"Apa?" Suho menoleh pada Sehun yang menunduk. "Kau tidak menceritakan hal ini pada eomma."

"Aku terlalu senang bisa bertemu dengan eomma lagi, jadi mana ingat akan hal itu," bela Sehun.

Perhatian Suho kembali fokus pada Jongin, "Apa alasanmu meminta anakku untuk pergi?"

"Aku tak ingin membebaninya," tatapan Jongin tak pernah lepas dari Sehun saat ia mengatakan itu. "Aku menyadari kalau aku cacat dan bahkan dokter mengatakan kalau kemungkinan untuk bisa berjalan lagi sangatlah kecil, aku cacat dan dia sempurna. Aku tak ingin ia menghabiskan waktunya hanya untuk menemani orang yang cacat sepertiku."

"Aku tak pernah merasa terbebani Jongina..." ucap Sehun lirih. Matanya berkaca-kaca saat membalas tatapan Jongin. "Jujur, memang awalnya aku merasa terbebani, tapi setelah pada akhirnya kau tahu kalau aku bukanlah Luhan perlahan beban itu pun menghilang dan aku..." Sehun menggigit bibir bawahnya. "Aku tak pernah menganggap merawatmu sebagai beban."

"Sehun... aku membebaskanmu untuk melakukan apa yang kau suka, masa depanmu masih sangat cerah, kau bisa memulai lagi karier modelmu dari bawah dan..."

"Dan bagaimana kalau yang aku inginkan adalah selalu ada di sini bersamamu?" tanya Sehun.

"Apa itu benar-benar yang kau inginkan? Bersama denganku?"

Sehun mengangguk.

"Meski aku cacat?"

Sehun mengangguk lagi.

"Sehun kau mungkin tidak tahu bagaimana aku yang sebenarnya, aku bukan orang yang sabaran, aku juga egois, bagaimana kalau tanpa sadar aku akan menyakitimu?"

"Aku akan meminta eomma untuk menghukummu," jawab Sehun.

"Apa kau mencintaiku?"

Sehun menggeleng.

"Lalu kenapa dua orang yang tidak saling mencinta harus bersama?" tanya Jongin lagi.

"Aku tidak tahu," jawab Sehun jujur. Namja manis itu menoleh pada ibunya. "Boleh ya eomma?"

Suho memaksakan senyumnya, "Apapun asal kau bahagia, tapi kau harus tinggal bersama eomma... eomma hanya akan memperbolehkanmu bertemu Jongin di siang hari."

"Kita akan tinggal di mana eomma?"

"Eomma akan menyewa apartemen di sekitar sini dan..."

"Bibi, maaf menyela." Ucap Jongin. "Aku mempunyai apartemen yang tidak terpakai di dekat sini, bagaimana kalau bibi dan Sehun tinggal di sana?"

"Apa kau ingin menyogokku agar aku memberikan ijinku agar aku membebaskan Sehun bersamamu?" selidik Suho.

"Tidak bibi, bukan begitu, aku hanya tidak ingin bibi kerepotan mencari apartemen lagi dan juga bukankah bibi bisa menabung uang untuk menyewa apartemen itu buat Sehun. bibi bisa tinggal dengan gratis di apartemenku."

Suho menatap pada Jongin, "Ku rasa kita harus bicara lagi nanti berdua saat kau sudah sembuh."

Jongin meringis, "Aku tak yakin..." tatapannya terfokus pada kedua kakinya yang lumpuh. "Aku bahkan tak tahu apa kedua kakiku akan bisa melangkah dengan normal lagi atau tidak."

"Aku punya kenalan dokter yang bagus, mungkin ia bisa menolongmu."

"Bibi..."

"Aku melakukannya sebagai balas budi karena keluargamu sudah mau merawat anakku selama ini."

Jongin tersenyum lebar, "Bibi sepertinya agak kelelahan, Jae bisakah kau antarkan bibi dan juga Sehun ke apartemen?"

"Tentu hyung..."

"Aku masih ingin di sini." Sehun menoleh pada namja manis yang sedari tadi berdiam diri disamping Jaehyun. "Jae apa dia kekasihmu?"

Jaehyun menoleh ke sampingnya dan tersenyum, "Ya hyung dia kekasihku, nanti akan aku perkenalkan pada hyung, sekarang aku akan pergi dulu mengantar bibi ke apartemen, ayo sayang kau ikut denganku juga."

"Jangan terlalu lama, eomma akan menunggumu di sana." Suho mencium pipi anaknya sebelum berpamitan pada ibu Jongin dan keluar dari ruangan.

Selepas kepergian ibu Sehun dan juga Jaehyun beserta kekasihnya, keheningan kembali meliputi ruangan itu dan Sehun bahkan tak berani untuk melangkah mendekati Jongin karena takut kalau Jongin akan mengusirnya lagi.

Ibu Jongin yang menyadari suasana tegang di antara keduanya segera mengambil inisiatif untuk pergi dari tempat itu. "Eomma akan keluar sebentar, Sehun tolong jaga jongin ya."

Sehun mengangguk kaku, ia membiarkan ibu Jongin melewatinya dan pergi keluar dari ruangan itu.

"Mau sampai kapan kau akan berdiri disitu?" Jongin menepuk sisi ranjangnya yang kosong. "Duduklah di sini."

"Kau masih marah padaku?" tanya Sehun.

"Aku bilang duduklah di sini Sehun, apakah harus kita bicara dengan jarak sejauh itu?"

Sehun melangkah mendekat dan kemudian duduk di tepi ranjang Jongin. "Sudah..."

"Kurang dekat..." dengan menggunakan sebelah tangannya yang bebas dari jarum infus, Jongin menarik tubuh Sehun hingga terbaring di sisinya. "Begini lebih baik..."

"Jongin..."

"Terima kasih..." Jongin mengecup kening Sehun yang tertutup poninya. "Terima kasih karena kau masih di sini."

Sehun tersenyum manis, "Aku tak akan pergi."

Jongin ikut tersenyum, "Kau tau, aku senang karena kau ada di sini... tapi jujur saja aku juga sedih."

"Kenapa?"

"Entahlah, mungkin karena mengingat kondisiku sekarang?"

Sehun mengenggam tangan Jongin dengan erat, "Jangan menyerah, kau pasti bisa sembuh."

Jongin tertawa lemah, "Aku tak yakin."

"Yak, Kim Jongin... jangan putus asa begitu. Aku yakin kau pasti bisa sembuh."

"Jadi alasan kau tetap berada di sini karena kau yakin kalau aku akan sembuh dan..."

"Bukan begitu... ish Jongin, aku tak ingin kau salah paham lagi padaku."

Kali ini tawa Jongin terdengar lebih nyaring. "Aku hanya bercanda, jangan di anggap serius."

"Jonginnnn... ini bukan saatnya bercanda." Sehun memukul dada Jongin lumayan keras.

"Awww... kau menyakitiku..."

"Omo... maaf Jongina... aku lupa..." Sehun ingin bangun dari posisi berbaringnya, namun Jongin menahannya.

"Aku tak apa," ia mengulurkan tangannya dan membiarkan Sehun berbaring dengan nyaman dengan berbantalkan lengannya. "Kau tampak lelah.."

"Hmm... aku kurang tidur tadi malam."

"Karena aku?"

Sehun memajukan bibirnya. "Aku tak tahu kalau kau ganas sekali."

"Jangan memancingku untuk melakukannya lagi Sehun."

"Aku tidak..." bantah Sehun.

"Benarkah... tapi kenapa aku merasa kau sedang memancingku ya."

"Itu karena kau yang mesum." Sehun memiringkan tubuhnya menghadap pada Jongin. "Bolehkah aku tidur disini sebentar?"

"Tidurlah." Jongin mengecup bibir Sehun dan ikut memejamkan matanya tanpa menyadari ada beberapa pasang mata yang mengintip mereka dari balik pintu.

"Aku minta maaf atas apa yang telah dilakukan anakku pada anakmu." ibu Jongin menatap pada ibu Sehun yang masih berada di sana, menunda kepulangannya karena ingin melihat seperti apa interaksi anaknya dengan Jongin. "Tapi kau lihat sendiri keduanya terlihat bahagia saat bersama."

"Aku tak bisa membayangkan kalau anakku akan terus berada di sisi Jongin sementara mereka tidak saling mencintai." Suho memijit keningnya yang terasa berdenyut. "Aku ingin anakku di cintai dengan setulus hati oleh orang yang akan menjadi pasangannya kelak."

"Aku mengerti... tapi bisakah kau memberikan keduanya kesempatan untuk bersama, aku berharap mereka akan menyadari perasaan itu suatu hari nanti."

"Sampai kapan?" tanya Suho, "Sampai kapan aku akan memberikan keduanya kesempatan untuk bersama?"

Ibu Jongin terdiam, ia sendiri bahkan tidak tahu sampai kapan hal itu akan terjadi.

.

.

.

.

.

.

Kris mengusap kepalanya yang terus berdenyut sakit, selepas kepergian Suho dari rumah, hanya ada satu kata yang bisa menggambarkan keadaan Kris saat ini. Kacau. Ya, ia merasa hidupnya menjadi begitu kacau, tak ada lagi orang yang senantiasa akan mengurusnya saat ia bangun pagi, tak ada lagi yang akan membuatkannya sarapan yang enak, dan yang paling membuat Kris tersiksa adalah ia tak akan lagi melihat Suho terbaring di sisinya, menemaninya tidur dan menyambutnya dengan ciuman di pagi hari.

Kris kacau, bahkan ia menyadari kalau akhir-akhir ini pekerjaannya pun tak ada yang beres karena pikirannya hanya terfokus untuk mencari keberadaan istrinya yang entah pergi kemana.

Kris menghela napas panjang sebelum meraih jasnya dan bersiap untuk menjemput putranya yang sedang melakukan pemotretan di sebuah studio. Kris sedang tak berminat untuk makan di rumah saat ini, jadi ia berniat untuk mengajak anaknya makan malam di luar.

Hal pertama yang menyambut Kris saat tiba di studio itu adalah suasana yang begitu sepi, apakah semua orang sudah pergi? Tapi bukankah Luhan bilang pemotretannya akan berlangsung lama?

Dengan perasaan tak nyaman Kris melangkah masuk ke studio itu, sepi... tak terlihat satu orang pun di dalam yang menyambut kedatangannya.

"Luhan..."

Kris membuka setiap pintu yang ia temui, berharap ada putranya di salah satu ruangan itu. Tak ada satupun dari pintu yang ia buka itu menampakkan sosok putranya.

Kris berinisiatif untuk menelpon manager dari anaknya.

"Lho, pemotretannya sudah berakhir satu jam yang lalu. Apa Sehun belum pulang?"

"Bukankah dia bersamamu ?" ada perasaan tak nyaman di hati Kris saat Minseok, manager Luhan, memanggil nama anaknya itu dengan sebutan Sehun. Sampai kapan anak sulungnya akan menyamar sebagai Sehun?

"Tidak, tadi aku hanya mengantarnya sampai di depan studio, setelah itu aku pergi karena ada urusan lain. Sehun bilang dia akan pulang sendiri. Apa ahjushi sudah pulang ke rumah? Mungkin saja bukan kalau Sehun sudah pulang."

"Ah ya, mungkin dia sudah pulang."

Kris mematikan sambungan telponnya dan hampir berbalik untuk pergi ketika ia mendengar samar-samar suara desahan dari salah satu pintu yang belum ia buka. Kris melangkah perlahan menuju sumber suara itu. Dahinya berkerut ketika ia merasa mengenal pemilik suara itu. Dengan amat perlahan Kris membuka pintu kamar dari mana suara itu berasal, tak terkunci jadi Kris bisa dengan bebas mengintip ke dalam.

Dan apa yang ia lihat sungguh membuat dirinya begitu terkejut.

Brakk

Dengan tak sabaran ia membuka lebar pintu itu. "Apa ini yang kau bilang pemotretan."

Di atas kasur, Luhan yang sedang telanjang di bawah seorang pria berbadan kekar, tampak pucat pasi. "A... appa..."

Kris melangkah dengan cepat menuju kasur, menarik tubuh pria yang tak ia kenal itu dari atas tubuh putranya dan menghempaskannya ke samping.

"Jadi ini yang selama ini kau lakukan di belakang appa?"

"Appa... bukan begitu..." tangan Luhan bergetar saat ia mencoba meraih selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.

"Jangan membohongi appa, apa ini yang selama ini kau inginkan, menjadi model untuk bisa bersenang-senang dengan sembarang pria?"

"Appa... aku..."

"Appa kecewa padamu Luhan."

"Appa... tidak kah appa pikir kalau Sehun juga pasti melakukan hal yang sama denganku, dia pasti juga sering melakukan hal yang sama denganku."

"Luhan..." sosok pria yang tadi disingkirkan Kris kini berdiri, hanya memakai celana dalam yang ia temukan di atas lantai. "Jadi kau bukan Sehun?"

Luhan terdiam.

"Begitu ya... pantas saja kau tak menolak saat aku merayumu, ku pikir kau telah takluk padaku, tapi ternyata kau bukan dirinya."

"Apa maksudmu anak muda?"

"Selama ini Sehun selalu menolak diriku, ia bahkan tak segan untuk menendangku saat aku bermaksud merayunya, tapi malam ini dia sendiri yang melemparkan tubuhnya padaku, dan ternyata kau bukan dirinya."

"Chan... aku..."

"Cukup, kau berani menipuku..." ucap namja itu dingin. "Aku akan memecatmu dari agency milikku."

Wajah Luhan makin memucat.

"Aku akan membongkar semua kebohonganmu... itu sebagai alasan karena kau berani menipuku." Dengan berakhirnya ucapan itu, namja itupun pergi dari ruangan tersebut.

"Appa..." Luhan hampir menangis saat menatap ayahnya. "Tolong aku..."

Namun sepertinya percuma Luhan melakukannya, karena pikiran ayahnya bahkan tak ada di sana. Namja yang hampir berusia separuh baya itu masih memikirkan ucapan namja tadi.

"Selama ini Sehun selalu menolak diriku, ia bahkan tak segan untuk menendangku saat aku bermaksud merayunya, tapi malam ini dia sendiri yang melemparkan tubuhnya padaku, dan ternyata kau bukan dirinya."

Kris memejamkan matanya.

"Kalau itu hanya kau anggap sedikit berlebihan, lalu bagaimana dengan Sehun? selama ini kau selalu memarahinya dan mengatakan apa yang ia lakukan sudah melampaui batas. Padahal ia masih melakukan pemotretan yang normal, demi Tuhan Kris, ia bahkan tidak pernah melakukan pose intim seperti itu dengan model lain."

Ucapan Suho ikut terngiang-ngiang ditelinganya. Kris memijit keningnya yang makin berdenyut sakit. "Pakai bajumu Luhan, kita pulang."

"Tapi appa bagaimana dengan karierku," rengek Luhan.

"APA KAU TIDAK MENDENGARKU, CEPAT PAKAI BAJUMU DAN KITA PULANG."

Luhan terdiam, selama ini ayahnya tidak pernah bicara seperti itu padanya, apakah kesalahannya terlalu fatal di mata ayahnya. Demi Tuhan, Luhan tak ingin kariernya hancur, ia harus membujuk ayahnya untuk menyelesaikan masalah ini nanti.

.

.

.

.

.

TBC

Maaf kalau pendek lagi, aku hanya mampu nulis segitu, idenya dan mentok. Hehehe...

Mohon reviewnya ya.

Salam KaiHun Hardshipper

KaiHun Lovea