IMPERFECT LOVE

Cast : Sehun, Jongin, Luhan, Kris, Suho, etc

Terima kasih untuk semua yang udah review, fav and follow nih ff, maaf ga bisa nyebutin nama kalian satu-satu.

Satu hal yang selalu di ajarkan salah satu seniorku di dunia tulis menulis. Hanya tulislah karyamu sendiri, itu lebih baik dari pada kamu menghina karya orang lain.

No edit.

KaiHun Lovea

.

.

.

.

.

.

"Jongin, kau melamun lagi."

Hari sudah beranjak siang dan Jongin yang sudah terjaga sejak tadi langsung meminta pada Sehun dan juga Jaehyun yang berada di sana untuk membantunya duduk di atas kursi roda dan disinilah ia sekarang, duduk di dekat jendela, menatap ke arah luar tanpa ingin mengucapkan satu patah katapun.

"Aku sudah meminta pada dokter untuk mengijinkanmu duduk di kurrsi roda pagi ini, tapi bukan untuk membiarkanmu melamun di situ.," Sehun yang duduk di pinggir ranjang Jongin akhirnya tak tahan juga terus berada dalam kesunyian yang tercipta sejak tadi.

"Mungkin dia sedang tak ingin bicara dengan siapapun hyung," Jaehyun masih berkutat dengan tugas kuliahnya yang ia letakkan di atas meja kecil di sudut ruangan.

"Uh, kalau tahu begini, lebih baik aku pulang ke apartemen dan membantu eomma membereskan barang."

"Ah aku lupa mengatakan pada hyung, tadi bibi menelpon dan mengatakan kalau ia sedang dalam perjalanan kemari."

"Eomma kesini?" tanya Sehun.

"Iya, dia bilang tadi sudah memasakkan makanan kesukaan hyung. Mungkin sekarang bibi sudah ada di lobby, hyung tunggu saja sebentar lagi."

Sehun membaringkan tubuhnya di atas ranjang itu, "Rasanya sepi saat dia tidak mengeluarkan satu patah katapun."

"Dari pada hyung terus seperti itu, kenapa tidak menonton televisi saja, mungkin ada acara yang menarik," usul Jaehyun.

"Ah, kau benar juga." Sehun meraih remote yang tergeletak begitu saja di dekat bantal dan mulai menyalakan televisi.

"Berita mengejutkan kembali terjadi pagi ini, di mana Hwang Entertainment mengadakan konferensi pers secara mendadak..."

Hwang Ent.? Bukankah itu agencynya dulu. Sehun membesarkan volume tv dan fokus menonton.

"... Hwang Chansung, selaku Ceo Agency mengatakan kalau ia membatalkan kontrak dengan salah satu artis mereka, Oh Sehun, karena alasan penipuan. Oh Sehun yang selama ini publik kenal, ternyata bukanlah Sehun yang asli melainkan saudara kembarnya sendiri. Menurut agency, saudara Sehun yang bernama Luhan sudah menipu mereka dengan mengaku sebagai Sehun dan menjalankan aktifitas dengan mengatas namakan Sehun, karena itulah pihaknya akan menuntut Luhan secara hukum berikut juga dengan ganti rugi atas semua kerugian yang di sebabkan oleh pria itu."

"Luhan..." Jaehyun berhenti mengerjakan tugasnya dan ikut duduk di ranjang Jongin, mendengarkan berita itu.

"... Selain menyebutkan tuntutannya, pihak agency juga mengatakan kalau selama ini Luhan sudah melakukan kebohongan besar pada publik dengan menuduh Sehun yang melakukan kejahatan untuk menutupi dirinya sendiri. Publik telah terpedaya dengan kelicikannya..."

"Jadi mereka akan membawa kasus ini ke pengadilan ya." Jaehyun menyandarkan kepalanya di pundak Sehun. "Ku rasa ini cukup setimpal atas kejahatan yang telah ia lakukan, hyung tidak bermaksud membelanya kan?"

Sehun hanya diam, dengan mata yang terfokus ke depan.

"Dengan terkuaknya berita ini, publik kembali bertanya-tanya di manakah keberadaan Sehun yang asli...?"

Klik

"Hyung..." Jaehyun menegakkan badannya dan menatap pada Sehun yang baru saja menekan tombol remote.

"Ku rasa wartawan akan mencari tahu dimana keberadaanku sekarang," Sehun memijit keningnya yang terasa berdenyut.

"Apa hyung akan kembali ke sana? Maksudku menjadi model di agency itu?"

Sehun diam.

"Wartawan cepat atau lambat akan tahu keberadaan hyung di sini, dan kemungkinan besar akan terjadi skandal baru kalau mereka tahu Sehun hyung bersama dengan Jongin hyung. Mereka bisa saja mengira kalau Sehun hyung sedang bertukar identitas dengan Luhan."

Sehun melemparkan pandangannya pada Jongin yang masih melamun di depan jendela, ia menghela napas pelan. "Apa yang harus ku lakukan?"

Jaehyun mengikuti arah pandang Sehun dan mulai bicara lagi, "Apa hyung akan menemui wartawan dan mengatakan yang sebenarnya? Ku rasa itu pilihan yang cukup bagus. Para fans hyung pasti akan menyambut kembalinya hyung dengan baik."

Sehun kembali diam.

"Hyung..." Jaehyun menyentuh tangan Sehun dengan hati-hati.

"Kau tau Jae, harusnya aku senang karena akhirnya semuanya terbongkar, tapi nyatanya tidak. Aku tak bisa bahagia di atas penderitaan saudaraku. Dan..." Sehun memejamkan matanya sejenak, sebelum membukanya dan kembali fokus menatap Jongin yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya. "Aku tak tau kenapa, tapi rasanya aku sudah tak ingin kembali lagi menjadi model."

Perkataan Sehun membuat Jaehyun sedikit terkejut, "Lalu apa tujuan hyung sekarang?"

Sehun menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu." Ya, aku benar-benar tak tahu kenapa aku tak bisa jauh-jauh dari Jongin.

Brakk

Pintu terbuka dengan kasar, keduanya menoleh dan melihat ibu Sehun masuk dengan tatapan cemasnya. "Sayang... kau tak apa-apa?" Suho bergegas mendekat dan memeluk tubuh anaknya.

"Aku tak apa-apa eomma... eomma, apa yang terjadi kenapa eomma tampak cemas?"

"Eomma mendengar berita tentang dirimu di lobby tadi, kita harus pergi dari sini sayang."

"Apa maksud eomma, kenapa kita harus pergi, ku rasa wartawan juga belum tahu kalau kita di sini."

"Appamu..." Suho mencengkeram pundak Sehun dengan kuat. "Bukan wartawan yang eomma takutkan sayang, tapi eomma takut kalau appamu mencari kita di sini. Kau tahu bukan bagaimana appamu sangat memanjakan Luhan dan eomma yakin kalau ia pasti akan mencari kita untuk menyelamatkan Luhan."

"Menyelamatkan Luhan? Bukankah semua sudah jelas eomma kalau dia..."

"Bagaimana kalau Appamu bilang kalau ini semua karena dirimu nak? Appamu bisa saja membalikkan fakta yang ada, apa lagi kalau ia tahu kau sedang bersama Jongin yang merupakan mantan kekasih Luhan. Bagaimana kalau appamu bilang pada wartawan kalau kaulah yang memaksa Luhan untuk bertukar identitas karena kau menginginkan kekasihnya? Eomma tak mau hal itu terjadi padamu."

"Tapi eomma..." Sehun menggenggam tangan ibunya yang masih berada di pundaknya. "Aku tak bisa pergi..."

"Kenapa sayang...?"

"Kalau aku ikut eomma pergi, bagaimana dengan Jongin? Aku tak mau kalau..."

"Kau mencintainya?" potong Suho.

"Apa?" tanya Sehun.

"Kau mencintai Jongin bukan?" Suho memperjelas pertanyaannya.

"Aku mencintai Jongin? apa maksud eomma? Aku hanya..."

"Jujurlah pada eomma apa yang kau rasakan saat kau berada di dekat Jongin."

Sehun menggigit bibir bawahnya terlihat ragu, namun akhirnya ia menjawabnya juga. "Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutku saat Jongin menatapku. Rasanya menyenangkan... dan aku... aku merasa nyaman saat berada di dekatnya dan tak ingin jauh-jauh darinya."

Mata Suho basah oleh air mata. "Anakku yang polos," bisiknya lirih. Ia melepaskan genggaman tangan Sehun dan memilih untuk menangkup pipi Sehun. "Yang bahkan tak tahu seperti apa itu jatuh cinta." Air mata menetes deras di pipi Suho.

"Eomma... kenapa eomma menangis. Apa aku melakukan kesalahan?" Sehun menghapus air mata di pipi ibunya dengan lembut.

"Tidak sayang... kau tidak bersalah. Bukan salahmu kalau kau akhirnya jatuh cinta." Tatapan Suho beralih pada Jongin, meski pria itu tidak bicara Suho dapat melihat kalau Jongin juga mempunyai perasaan yang sama dengan anaknya.

"Sayang..." Suho kembali memfokuskan dirinya pada Sehun. "Bisakah kau keluar sebentar, eomma ingin bicara dengan Jongin, hanya berdua."

"Eomma tidak akan memarahinya kan?" tanya Sehun cemas.

"Tentu saja tidak sayang."

"Eomma janji tidak akan marah pada Jongin?"

"Eomma janji sayangku, Jae tolong temani Sehun sebentar ya."

"Ya, bibi..." Jaehyun yang sedari tadi hanya diam, akhirnya menganggukkan kepalanya dan ia segera menarik tangan Sehun, meminta pada namja itu untuk mengikutinya keluar ruangan.

Setelah Sehun dan Jaehyun keluar dari ruangan, Suho segera mendekati Jongin, bersandar pada dinding di samping jendela dan memperhatikan wajah tampan Jongin yang terlihat begitu murung.

"Aku tahu, kalau kau bukanlah orang yang tak peka Jongina, aku yakin kalau kau sendiri juga tahu seperti apa perasaanmu pada anakku. Kau mencintai Sehun bukan?"

Jongin menundukkan kepalanya. "Aku mencintainya atau tidak mencintainya itu sama sekali tidak ada artinya bibi," akhirnya setelah sejak bangun tidur, Jongin terus diam, dia akhirnya mau bicara dengan ibu Sehun.

"Tentu saja ada artinya karena ini menyangkut kehidupan anakku."

"Justru karena ini menyangkut kehidupan Sehun, ku rasa perasaanku tak ada artinya bibi." Jongin terlihat begitu putus asa.

"Jongin..."

"Bibi bisa lihat sendiri aku cacat, dan Sehun sempurna, aku lumpuh dan pastinya aku tak akan bisa melindunginya, karena... bahkan melindungi diriku sendiripun aku tak mampu."

Jongin menangis dan Suho segera memeluknya. "Apa kau tulus mencintai anakku?"

"Aku tak meragukan hal itu bibi, tapi keadaanku yang seperti ini membuatku harus mengalah, Sehun berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik." Untuk pertama kalinya Jongin bersikap tidak egois, ia ingin sekali terus menahan Sehun di sisinya. Tapi melihat bagaimana polosnya Sehun dan betapa tulusnya perhatian pria itu, membuatnya sadar kalau ia tak akan bisa bersikap mementingkan dirinya sendiri, ia juga harus memperhatikan kepentingan Sehun, kebahagiaan pria itu dan pastinya juga cinta yang lebih baik untuk pria itu.

"Anak bodoh... apa kau tahu kenapa aku bersikap tidak bersahabat denganmu, aku hanya ingin mengujimu untuk mengetahui seberapa kuatnya perasaanmu untuk mempertahankan Sehun di sisimu, tapi ternyata kau lebih lemah dari yang ku kira."

Jongin tersenyum lemah, "Bibi sudah tahu bukan, aku bukan yang baik untuk Sehun..."

Suho mengelus pundak Jongin dengan pelan, "Meski kau bilang seperti itu, aku cukup bangga padamu."

"Bibi..."

"Kau rela melepaskan anakku untuk kebahagiannya."

Jongin memaksakan senyumnya lagi, "Aku hanya tak ingin ia tak bahagia saat bersamaku, bibi tahu keadaanku dan aku mungkin tak akan bisa melakukan apapun yang Sehun inginkan. Aku lemah bibi, aku..." Jongin tak kuasa menahan isakannya. Ia tak peduli kalau Suho akan menganggapnya sebagai pria yang cengeng. Ia hanya ingin Suho tahu betapa lemahnya ia dengan kecacatan yang ia miliki.

"Kau tau Jongin ada hal yang lebih baik menurutku dari pada sekedar fisik yang sempurna."

Jongin mendongak, menatap wajah cantik Suho dan menunggu ibu Sehun itu melanjutkan ucapannya.

"Kau tahu apa itu?"

Jongin menggeleng.

"Cinta yang sempurna. Bukan fisik yang menyempurnakan cinta, tapi cintalah yang menyempurnakan kekurangan itu. kau tahu maksudku bukan?"

"Bibi..."

"Aku akan memberimu kesempatan untuk bersama dengan anakku, jika sekali saja aku melihatmu membuat anakku menangis maka aku akan membawanya pergi jauh darimu."

Jongin menunduk, menatap kedua kakinya yang lumpuh.

"Jongin... kalau kau merasa kalau dirimu tak layak untuk anakku, maka berusahalah... berusahalah untuk bisa melangkah kembali."

"Bibi... kau bilang cintalah yang menyempurnakan kekuranganku kan?"

"Ya."

"Aku berjanji pada bibi, aku akan mencintai Sehun sesempurna yang aku bisa dan soal keadaanku... bisakah aku memohon satu hal pada bibi?"

"Apa itu ?" tanya Suho.

"Apakah bibi mengijinkanku membawa Sehun pergi dari sini?"

Suho terdiam sejenak, sebelum matanya terfokus menatap Jongin.

"Aku akan berusaha menyembuhkan kakiku, tapi selama proses itu, aku ingin Sehun berada disisiku. Kalau bibi ijinkan, aku juga akan mengajak bibi pergi bersama kami."

Suho masih diam.

"Bukankah Bibi juga ingin pergi dari sini?" tanya Jongin.

Suho terlihat mempertimbangkan ucapan Jongin sejenak, sebelum kemudian tersenyum tipis. "Kurasa kau pasti sudah tahu jawabannya Kim Jongin."

.

.

.

.

.

.

Kris memijit keningnya dengan pelan, pagi ini ia sudah menerima beberapa laporan tentang kasus anak sulungnya, yang harus ia pelajari sebelum memutuskan apakah kali ini ia harus membela anak itu atau tidak.

"Appa..." Luhan menerobos pintu kamarnya dengan penampilan yang begitu kacau. "Mereka berniat memenjarakanku appa, apa yang harus kita lakukan."

"Diamlah Luhan, appa sedang memikirkannya sekarang."

"Tapi appa... appa harus bergerak cepat. Aku tak peduli kalau karierku harus hancur, asalkan aku tidak di penjara."

"Kariermu?"

"Ya, karier Sehun maksudku. Aish, kenapa setiap aku mencoba mengambil sesuatu darinya, selalu berakhir kacau seperti ini." Gerutu Luhan.

Kris tidak menjawab, ia mengamati berkas laporan yang di kirimkan padanya. "Berapa kali?"

"Apa?"

"Berapa kali kau tidur dengannya."

"Oh, itu..." Luhan menggedikkan bahunya. "Aku tidak ingat."

Kris menghempaskan berkas yang ada ditangannya ke atas meja dengan kasar. "Kau bilang kau tidak mengingatnya, apa itu artinya sering? Kalian sering melakukannya?"

"Ish, appa... hal itu kan sudah biasa di dunia model dan.."

Plakk

"Appa tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi seseorang yang murahan. Dan sekarang kau tahu, appa menyesal karena tidak mendengarkan apa kata ibumu."

"Appa... kau berani menamparku hanya karena itu?"

Plakkk

"Hanya kau bilang... di mana kau letakkan harga dirimu Luhan? Kau senang bisa tidur bersama dengan orang itu meskipun kau tahu kalau dia hanya menganggapmu sebagai salah satu jalangnya?"

"Appa..."

"Appa malu Luhan, appa malu... kau anak kebanggaan appa, tapi kau juga yang telah mengecewakan appa."

"Appa... kita masih bisa merubah ini semua. Sehun... kurasa Sehun pasti sekarang sedang bersama Jongin. dan... dan kita bisa memanfaatkan situasi itu... kita bisa mengatakan kalau Sehun yang menjebak.."

Plakkk

"Bahkan dalam keadaan seperti inipun yang kau pikirkan hanyalah dirimu sendiri," tatapan Kris terlihat begitu terluka. "Aku sungguh kecewa padamu Luhan dan appa sudah memutuskan..."

Luhan diam.

"Appa tidak akan membantumu untuk memenangkan kasus ini. Appa ingin kau belajar untuk memahami kesalahanmu dan menebusnya."

"Appa, appa tega membiarkan aku di penjara. Aku anakmu appa..."

"Mengertilah Luhan, appa kecewa padamu, kau menghancurkan semua kepercayaan appa. Dan appa ingin kau menebus semua kesalahanmu."

"Ini juga kesalahan appa," tunjuk Luhan.

"Apa katamu ? selama ini appa selalu melakukan apa yang kau minta dan appa pikir dengan semua perhatian dari appa, kau akan menjadi anak yang berpendidikan dan berkepribadian yang baik. Tapi apa hasilnya, pergaulanmu terlalu bebas, dan appa..." Kris menutup wajahnya dengan yang terlihat kacau. "Appa menyesal Luhan... appa menyesal... eommamu benar dan apa yang salah." Kris jatuh berlutut di lantai dan mulai terisak pelan. "Appa telah melakukan kesalahan yang besar."

"Appa..." air mata jatuh di pipi Luhan, hatinya sakit melihat seorang ayah yang selama ini melindunginya kini terlihat begitu kacau karena dirinya, ya semua karena dirinya.

.

.

.

.

.

.

TBC

Mencoba mengembalikan mood menulis ternyata ga mudah dan aku hanya bisa mengetik sependek ini. (T_T)

Setelah di kata-katain ffku ga mutu dengan tulisan yang macam anak SMP, aku sebenarnya sudah memutuskan untuk berhenti menulis dari ffn, entahlah aku sendiri ga mengerti kenapa setelah salah satu ffku mencapai review 1k+, banyak yang mulai mencela ffku...

Tapi karena teman-teman di grup ff anak ayam, mungkin aku akan memikirkan ulang lagi keputusanku itu. mengingat sekarang juga author kaihun makin sedikit.

Mohon reviewnya ya.

Aku ga yakin apa tulisanku benar tapi ya nyoba nulis ini. wkwkwk

Quiero detener el tiempo coando, Tu me miras y yo te miro

Que me estoy enamorando, Leon.

Salam KaiHun hardShipper

KaiHun Lovea