"Sssttt..."

"Bangunlah!"

"Apa kau bercanda? ini sudah pagi!"

"Jangan banyak bertingkah, cepat bangun!"


Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Einer

(Chapter 2)

Warning! : ada LIME almost LEMON di chapter ini

Mohon skip saja chapter ini apabila tidak suka unsur LIME/LEMON. :D

.

.

-Kuroko POV-

.

.

Mimpi?

Tentu saja bukan!

Aku dapat memastikan bahwa detik ini kakiku sedang diselimuti dengan selimut dan kepalaku sedang ditopang oleh sebuah bantal dengan suasana kamar yang sangat asing bagiku.

Baik, baru ku ingat, aku mengikuti sebuah taruhan di suatu tempat tertutup, dan semua pria gagah menaruhkanku dengan harga yang sangat tinggi sampai akhirnya, Akashi Seijuro, ia yang membayarku jauh lebih tinggi dari yang lainnya dengan alasan yang masih menjadi sebuah misteri ini.

"Aku sudah membuatkanmu sarapan. Cepatlah bersiap-siap!"

Lamat-lamat ku dengar suara Akashi-kun, apakah ia memang sudah terbiasa bangun pagi? memang pemuda yang sempurna bagi semua wanita yang menyukainya, tapi sayang, ia bahkan tidak tertarik dengan wanita bertubuh sexy.

Ku usap sedikit mataku yang masih menyipit ini, tapi ku paksakan agar terbuka lebar dan mengambil handuk dan pakaian yang sudah Akashi-kun siapkan untukku. Dengan cepatnya aku membersihkan diriku, rasanya senang dapat terbebas dari tempat mengerikan itu.

Setelah selesai membersihkan tubuhku dan bersiap-siap, aku menghampiri Akashi-kun yang sudah menungguku di ruang makan dengan bermacam-macam makanan lezat nan mahal itu.

"Kau memesannya, Akashi-kun?"

"Kau pikir aku rela merusak pencernaanku dengan makanan cepat saji yang tidak higienis itu?"

"Ehmm.. gomen."

"Sudahlah, makan saja. Ini semua ku masak sendiri."

Walau paras wajahnya yang selalu datar dan cara bicaranya yang dapat dibilang 'agak' menusuk hati itu, ternyata ia sangat memperhatikan dirinya dan orang lain. Memang pemuda yang sempurna.

"Wah.. Ini lezat!"

Sebenarnya ada jauh lebih dari dua kata tadi yang mewakili masakan Akashi-kun, tapi ia bisa saja mengiraku berlebihan dalam soal makanan.

"Hmm.. terima kasih. Senang jika kau menikmatinya."

Lagi-lagi jawabnya sangat jutek kepadaku, walau seperti itu, disela-sela wajah datarnya yang dialihkan dari tatapanku, aku dapat melihat senyuman tipisnya itu.

"Setelah ini, kau akan menemaniku seharian. Tenang saja, aku akan mengantarmu ke rumahmu nanti."

Rumah?

Sudah hampir 5 bulan aku tidak kembali ke rumahku, otosan..okasan.. aku merindukan mereka. Tapi aku tidak yakin untuk menginjakkan tapak kakiku lagi di rumahku, aku juga tidak dapat membayangkan apa respon mereka kalau mereka tau tentang hal buruk yang ku lakukan.

"Ada masalah apa, Tetsuya?"

"Ti-Tidak. Gomen.. sudah membuatmu khawatir."

Aku tidak mungkin menceritakannya pada Akashi-kun, ia sendiri pun tidak ingin menceritakan masalahnya padaku, jadi sebaiknya aku juga tidak mengatakan apapun pada Akashi-kun.

"Sudah siap?"

Ku anggukan kepalaku dan langsung mengikuti Akashi-kun untuk bersiap pergi entah kemana, yang harusnya ku pikirkan saat ini hanyalah untuk memuaskannya dan memenuhi keinginannya tanpa melibatkan ranjang.

Sepanjang perjalanan, aku hanya dapat menatapnya dari belakang, cara jalannya saja sudah sangat berwibawa, ia bahkan tidak sedikitpun menoleh ke belakang, benar-benar membuktikan jati dirinya yang kuat itu.

"Bisa tunggu disini sebentar? aku akan membeli minuman, aku tau kau lelah berjalan terus."

"B-Baiklah, Akashi-kun."

Akashi-kun memasuki sebuah market diseberang tempatku berdiri saat ini. Peluangku untuk kabur tentu saja banyak, tapi itu mungkin hanya pemikiranku dulu, saat ini aku merasa jauh lebih nyaman dengannya, karena aku juga ingin membalas kebaikan singkatnya itu dengan mendampinginya, lagi pula hanya satu hari ini saja.

"Jadi ini Kuroko Tetsuya?"

"Uke sekali wajahnya."

"Sangat cocok untuk menjadi santapan di ranjang. Haha.."

Belum lama Akashi-kun pergi ke market itu, segerombolan pemuda berwajah seme mendekatiku, apa yang mereka inginkan? menggodaku?

"Kalian siapa?" tukasku.

Mereka tertawa meledek saat mendengar respon sok berani ku ini, Cih! apa aku akan berakhir disini?

Dari yang dapat ku lihat, mereka sangatlah tidak asing, mereka sepertinya memang sering menghabiskan di tempat taruhan itu. Salah satunya berambut hijau berkacamata, ada juga yang berambut merah agak gelap itu, dan berambut kuning terang yang dirangkul oleh pemuda tinggi berambut biru keunguan dan berkulit agak coklat gelap itu.

"Kau memang cocok untuk memanjakannya." sahut si rambut merah itu dan meraba selangkangannya itu memberi suatu isyarat. Ya.. isyarat buruk tentunya.

Si rambut hijau menghampiriku dan menggenggam lenganku kuat, matanya dan senyumannya itu semua tampak seperti seringai licik.

"Jika dipakai bergilir akan jauh lebih baik." bisiknya kepadaku dan mulai meraba tubuhku. Suasana saat ini sangatlah sepi, tidak banyak orang maupun kendaraan umum yang berlalu-lalang karena masih sangatlah pagi, situasiku saat ini benar-benar kacau.

Pemuda dengan rambut biru keunguan itu juga menghampiriku dan menatapku nafsu, ia bahkan menyeludupkan tangannya ke kaos yang kupakai ini dan meraba halus perutku. Perlahan-lahan rabaannya menggapai zipper celanaku, ingin sekali aku memberontak, tapi teman-temannya yang lain sudah mencengkeram tubuhku dari segala arah. Akashi-kun, tolong aku!

"Aomine, kau tidak akan mungkin melakukannya disini kan? terlalu terbuka."

"Hmm.., kau benar, Midorima. Sebaiknya kita bawa saja ke markas."

Markas? apa maksud mereka?

Sial! entah apa yang mereka lakukan padaku, mataku mulai menyipit, dan yang ku rasakan hanyalah tangan-tangan sialan yang meraba tubuhku dan mulai membawaku pergi ke suatu tempat, dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

O.o.O.o.O

"Bangunlah, tukang tidur. Haha.."

"Kau tidak akan memejamkan mata indahmu terus kan?"

Lamat-lamat ku dengar suara, mataku masih terasa berat dan kepalaku masih terasa pusing, tapi dari cara membangunkannya, itu persis seperti Akashi-kun. Apa yang terjadi? apa yang tadi itu semuanya hanya mimpi?

Dengan setengah girang dan mulai sadar, aku membuka mataku lebar-lebar dan menanti senyuman tipis Akashi-kun.

Tapi sial!

Yang ku lihat saat ini sangat membuat mataku terbelalak kaget tak karuan. Bagaimana tidak? aku melihat tubuhku sudah tak berbusana, hanya sehelai kain kecil menutupi selangkangan sampai ke lututku.

"Jangan kuatir, kami belum melakukannya. Kami tentu saja ingin mendengar desahan kotormu itu."

Apa-apaan ini?

Lagi-lagi kumpulan pemuda sialan yang menatapku penuh nafsu, mereka sudah melakukan tindakan vulgar seperti ini kepadaku.

"Kau siap, Midorima?"

"Tak perlu membuang-buang waktu lagi, Aomine."

Pemuda berambut hijau dan biru keungunan ini menatapku jahat, mereka mendekatiku dan perlahan meraba-raba tubuhku, hanya kain kecil ini saja yang dapat menyelamatkanku dari rasa malu, aku hanya dapat bergerak terbatas untuk mempertahankan tubuhku.

"Tidakkk!" jeritku saat pemuda berambut hijau itu mengelus pahaku.

Tidak segan ku tendang wajahnya itu hingga kacamatanya patah, aku mengambil celanaku yang tergantung disebelah kepalaku dan memakainya dengan cepat, ini kesempatanku untuk kabur.

"Are?"

Niat kaburku pun harus terkubur dalam-dalam saat pemuda berambut biru keunguan ini mencengkeram tanganku kuat.

"Mau kemana?" bisiknya licik.

Lagi-lagi ia membuka celanaku dan melebarkan kedua pahaku. Sial! apa ia akan mengotoriku?

Pemuda berambut hijau yang baru saja ku tendang tadi membekap mulutku dan memasang wajah seolah ingin membunuhku.

"Sialan! berani-beraninya kau menendangku dan merusak kacamataku. Cepat Aomine! pakai ia bergilir."

Posisiku sudah benar-benar posisi dead end, kedua tanganku ditahan oleh pemuda berambut biru keunguan ini, dan pemuda lainnya mengelilingiku. Samar-samar ku lihat dari kaca yang terletak di dekat pintu keluar itu menunjukkan bayangan buruk pemuda itu, ia mulai membuka celananya dan meraba tubuhku nafsu. Sial! aku benar-benar akan dinodai.

"Akan ku habisi kau, bocah!" ancamnya.

Aku menyerah, ya.. menyerah. Aku tidak bisa melakukan upaya apapun untuk kabur, keadaanku sudah jelas.. jelas bahwa aku akan berakhir sial. Mungkin setelah ini, aku lebih baik mati saja.

Ku pejamkan mataku, hanya peluh keringatku yang mengalir dan menetes, aku tidak ingin melihat kejadian yang akan menimpaku ini.

"Cepat, Aomine!"

Karena dorongan teman-temannya, pemuda itu mulai memperkuat cengkeramannya padaku dan mendekatkan tubuhnya kepadaku, bisa ku rasakan panas tubuhnya.

Ku lihat dari kaca, ia sudah menyiapkan 'sesuatu' yang akan menghancurkan hidupku selamanya, bisa ku lihat benda itu mulai mendekati tubuhku. Baiklah, aku tidak dapat melakukan apapun selain pasrah.

Tawa pemuda-pemuda itu memenuhi ruangan aneh ini, mereka benar-benar senang melihatku terpuruk dan menangis seperti anak kecil. Kalau aku mati, aku harap aku tidak mengingat hal buruk ini. Saat ini, aku hanya ingin memejamkan mataku dan membayangkan malaikat membawaku pergi dari dunia gila ini.

"Aaaaaaaaa!" jerit pemuda berambut merah, membuat kawan-kawannya melihatnya dan si rambut biru keunguan itu menghentikan aksinya dan memberiku kesempatan memunguti pakaianku.

"Kagami, ada apa?"

"Si aneh itu yang melakukannya."

"Siapa?"

"Dia..."

Semua pemuda itu terbelalak kaget saat melihat sosok berwajah datar menangkap basah aksi mereka.

"Siapapun yang berani menyentuh Tetsuya-ku, akan ku injak wajahnya."

Suara itu? benarkah?

"Akashi Seijuro.." salah satu pemuda memanggil namanya. Ya itu adalah Akashi-kun.

"Sampai kapan kau akan melakukan tindakan bodoh ini, Kagami Taiga.. Midorima Shintarou.. Aomine Daiki..Kise Ryouta.." tukas Akashi-kun yang membuat mereka semua terdiam.

Akashi-kun menarik tanganku dan membawaku pergi dari tempat itu, tiada satupun dari pemuda tadi mengikuti. Akashi-kun membawaku ke suatu tempat yang jauh dari tempat tadi, setidaknya tempat itu jauh lebih nyaman dan aman, bahkan lebih mirip dengan taman yang luas.

"Minumlah.."

Akashi-kun memberikanku minuman kecil, tanpa ragu, ku teguk habis minuman itu, sepertinya aku memang terlalu lelah karena aksi tadi.

"Janganlah jauh dariku, Tetsuya."

Are?

"Hmm.. Baiklah."

Pertama kalinya aku menatap wajah Akashi-kun penuh kecemasan saat melihatku, bahkan ia tidak segan membersihkan butiran keringat di dahiku.

"Hmm ngomong-ngomong, bagaimana mereka bisa mengenalmu?"

Akashi-kun yang semula meneguk minumannya, kini menghentikan aktivitas minumnya dan menatapku aneh.

"Sungguh kau ingin mengetahuinya?"

"Aku tidak memaksamu, Akashi-kun."

Wajahnya kini berubah lagi, menjadi jauh lebih dingin dan seolah tertekan dengan pertanyaanku, apa ada sesuatu?

"Hm.. tidak perlu kau ceritakan, aku menghormati privasimu."

Kini ia menggenggam tanganku dan menatapku dalam, astaga.. tatapan dari mata heterochromianya sangat mencolok.

"Mungkin kau akan membenciku setelah ini." bisiknya, tapi hanya ku respon dengan wajah penuh rasa percaya dengannya.

"Sebenarnya mereka adalah teman-teman dekatku dan kami membuat sebuah geng. Geng kami adalah geng yang baik, sampai suatu hal membuat jalan kami menyimpang."

Ku elus pelan punggung pemuda di depanku ini, wajah datarnya kini menjadi lebih kalem.

"Lalu?"

Akashi-kun menghela nafasnya, dan berusaha mengucapkan kata demi kata.

"Mungkin aku tidak akan menceritakan banyak saat ini, tapi yang jelas aku juga dulu,"

"Apa?"

"Melakukan hal yang sama kepada pemuda uke seperti yang dilakukan Daiki kepadamu."

Rasanya tubuhku seperti baru saja dikejut dengan alat kejut bertegangan tinggi, betapa kagetnya aku melihat pemuda tampan seperti Akashi-kun ternyata dulu juga suka melakukan hal yang buruk. Dilema pun menyerang pikiranku lagi, antara aku mempercayainya atau kuatir akan tindakan selanjutnya kepadaku nanti. Membuatku semakin penasaran mengapa ia ingin membayar mahal untukku kalau tidak ingin menjamahku?

TBC


A/N : Wow! Chapter 2 kelar juga yah haha..

Walau words masih sedikit, tapi di chapter selanjutnya akan author tingkatkan lagi, hehe..

Maaf ya kalau chapter 2nya agak aneh, berhubung author juga harus fokus dengan fanfict lain yang ngantri terussssss #plak.

Yosh! nantikan ya Chapter 3nya :)

Mind to review?