IMPERFECT LOVE

Cast : Sehun, Jongin, Luhan, Kris, Suho, etc

Terima kasih untuk semua yang udah review, fav and follow nih ff, maaf ga bisa nyebutin nama kalian satu-satu.

Hanya tulislah karyamu sendiri, itu lebih baik dari pada kamu menghina karya orang lain.

Ini chapter end. Sesuai rencana awal aku ga berniat untuk nambah chapter lagi untuk ff ini.

No edit, yang ga suka dengan cerita yang gaje plus gaya penulisan yang absurd, silahkan klik close.

Kaihun Lovea

.

.

.

.

.

.

Luhan mengangguk lemah, "Jongin... aku mau Jongin..."

Mungkin tak ada hal yang lebih mengejutkan bagi pasangan suami istri itu selain mendengar permintaan Luhan, Suho menggigit bibirnya dan sekali lagi tatapannya tertuju pada Kris yang tampak pucat. Kali ini haruskah keduanya mengorbankan perasaan Sehun lagi?

"Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan, anakku?" tanya Suho hati-hati.

"Jongin..." Luhan masih menggumamkan kata-kata itu tanpa menggubris pertanyaan ibunya.

"Bagaimana ini?" Suho menoleh pada Kris yang tampak sama bingungnya dengan dirinya. "Aku tak bisa mengorbankan kebahagiaan satu anakku demi kebahagiaan anakku yang lain."

"Kau pikir aku juga mau," Kris memijit kepalanya yang terasa pusing. "Sehun sudah terlalu banyak berkorban untuk..." ucapan Kris terhenti saat mendengar handphone milik istrinya berbunyi.

"Dari Sehun..." gumam Suho.

"Angkatlah," ucap Kris.

Suho sedikit menjauh ke pojok ruangan ketika mengangkat telpon dari Sehun. "Ya, sayang?"

"Eomma, apakah eomma sudah tiba di Korea? Kenapa tidak menghubungiku?" Ada nada merajuk di suara Sehun yang membuat Suho tersenyum mendengarnya.

"Maafkan eomma sayang, eomma tadi langsung ketempat kakakmu jadi belum sempat memberimu kabar."

"Dimaafkan asal eomma tidak lupa saat pulang nanti memberiku hadiah."

"Apapun yang kau inginkan, nak."

"I love you eomma..."

"Love you too, sayang."

Hening sejenak, sebelum kembali terdengar suara Sehun yang terdengar ragu, "Bagaimana kabarnya?"

Suho tahu siapa yang di maksud oleh Sehun, jadi ia kembali melirik pada Luhan yang terus menggumamkan kata Jongin. "Dia... dia baik-baik saja, sayang. Kau tak usah khawatir akan keadaannya."

"Aku tidak mengkhawatirkannya," terdengar bantahan dari Sehun. "Aku hanya..."

"JONGIIIINNN..."

Suara teriakan Luhan membuat Suho terlonjak kaget, begitupun dengan Kris yang sedari tadi menatap ke arahnya. Keduanya dengan cepat berpaling pada Luhan yang mulai menangis sambil berteriak-teriak memanggil nama Jongin.

"Luhan... Kris, cepat panggil dokter..." Suho tidak memperhatikan lagi pada handphonenya yang terjatuh di tangan, yang saat ini menjadi fokusnya hanyalah Luhan yang terlihat tidak stabil, anak sulungnya itu masih menangis sambil berteriak-teriak memanggil nama Jongin. Dan hal ini yang mungkin akan di sesali Suho ketika ia fokus pada Luhan dan melupakan fakta bahwa anaknya di seberang sana masih terhubung dengan telponnya dan mendengarkan semua kepanikan di ruangan itu.

"Bagaimana ini Kris, kenapa Luhan menjadi seperti ini?" Suho memeluk erat tubuh Luhan yang mulai berontak.

Kris yang baru saja memencet tombol di atas meja hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Ini pertama kalinya Luhan seperti ini, aku sudah memanggil dokter, mungkin sebentar lagi mereka akan kemari."

"Jongin..."

"Sadarlah Luhan, Jongin tidak ada di sini."

"JONGINN... AKU MAU JONGIN, AKU TAK MAU SI BRENGSEK ITU MEREBUT JONGIN DARIKUUUUU..."

Ingin sekali rasanya Suho menampar anaknya tersebut, tapi menyadari bagaimana kondisi Luhan yang tidak stabil, ia hanya bisa berdiam diri dan mencoba menahan diri. Beruntunglah setelah itu dokter datang bersama perawat dan mereka dengan cepat menyuntik pemilik tubuh kurus itu dengan obat penenang.

Kris merangkul tubuh Suho untuk menjauh dari Luhan, "Biarkan ia istirahat dulu sayang."

"Kris, aku takut... jiwa Luhan sepertinya terguncang berat dan ia menginginkan milik adiknya lagi. Aku... aku tak ingin ia merebut kebahagiaan adiknya seperti dulu."

Kris mencium pelipis Suho, "Kita akan mencegahnya sayang, aku janji, Luhan tidak akan mengambil Jongin dari sisi Sehun, kita berdua yang akan menjaganya." Kris meraih tangan Suho, mengarahkannya ke mulutnya dan di kecupnya tangan Suho dengan lembut.

"Kris..."

"Aku sudah menyadari semua kesalahanku, dan sekaranglah saatnya bagiku belajar untuk bisa menjadi yang terbaik lagi untukmu dan anak-anak kita."

Suho melepaskan tangannya dari genggaman Kris. "Luka itu masih ada Kris..."

"Aku tahu, dan tolong ijinkan aku sekali ini berusaha menyembuhkannya Suho-ya, jika sekali ini aku kembali membuatmu merasa sakit, aku tak akan menghalangimu kalau kau ingin bercerai denganku."

Suho menatap Kris dengan tatapan tak percaya, "Kita bicarakan hal ini nanti, sekarang fokuskan saja perhatianmu pada anak kita," Ada keraguan di hati Suho, terutama pada anak bungsunya, kalau ia kembali pada Kris, apakah anak itu akan menerima Kris kembali untuk menjadi ayahnya? Bagaimanapun Sehun jelas memendam luka yang begitu dalam pada ayahnya tersebut.

.

.

.

.

.

.

Sehun meletakkan kembali handphone yang sedari tadi ia pegang ke atas meja, kepalanya terasa pening saat ia mendengar teriakan Luhan tadi. Luhan menginginkan Jongin? Tatapan Sehun tertuju pada benda yang sedari tadi ia letakkan di atas meja, dengan tangannya yang sedikit bergetar ia mengambil benda itu dan menggenggamnya dengan erat.

"Baby, ada apa? kau kelihatan pucat sekali." Jongin yang baru masuk ke dalam kamar dan kini tengah berjalan perlahan menuju Sehun, tampak begitu khawatir.

"Aku..." Sehun tak bisa tidak lebih gugup lagi saat melihat wajah Jongin.

"Ada apa sayang? Ceritakan padaku."

Mata Sehun berkaca-kaca saat ia menatap wajah orang yang teramat dicintainya, ia tahu di dunia ini ia hanya mempunyai Jongin saat ini, tapi meski begitu entah kenapa juga ia tak pernah bisa bersikap egois dengan menyembunyikan masalah dari pria tersebut.

"Luhan..."

"Ada apa dengan Luhan?" tanya Jongin.

"Dia menginginkanmu."

"Apa?"

"Aku mendengarnya di telpon tadi, eomma mungkin ingin menyembunyikan hal ini dariku tapi aku... aku mendengarnya."

Jongin terdiam sesaat untuk mencerna ucapan Sehun.

"Aku tahu secara tersirat ia ingin menyampaikan padaku kalau ia ingin kau ada di sana dan menemaninya. Kau tak akan pergi kan Jongin?" tanya Sehun penuh harap.

"Luhan yang memintaku ke sana?" Jongin menatap tenang pada Sehun yang terlihat semakin pucat.

"Kau tak akan mengabulkan keinginannya, kau tak akan pergi ke sana kan Jongin?" Sehun mengeratkan kepalan tangannya, berusaha menyembunyikan sesuatu yang sedari tadi terus ia genggam.

Jongin menatap Sehun dengan sorot mata penuh keyakinan. "Aku akan berangkat ke Korea, segera setelah urusan di antara kita selesai."

"Jongin..." Sehun merasa lututnya mulai goyah.

"Aku akan menemui Luhan."

"Jongin... kau sudah berjanji padaku..."

"Aku tahu... tapi aku harus tetap menemuinya Sehun, kali ini..." Jongin terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara lebih tenang. "Ku mohon mengertilah..."

Ada makna di balik tatapan Jongin, makna yang tak bisa dipahami Sehun karena matanya sudah tertutupi oleh air mata. Hanya seperti inikah akhir hubungan mereka?

"Jongin aku mencintaimu apa adanya, dan aku tak pernah memintamu untuk menjadi sempurna untukku. Ku mohon tetaplah di sini bersamaku."

"Justru karena itulah Sehun, aku harus pergi..."

"Jongin..."

"Karena aku ingin hidup damai bersama orang yang kucintai."

Sehun tak tahu siapakah orang yang dicintai Jongin, apakah itu dirinya yang berdiri dihadapan Jongin ataukah Luhan yang fotonya sedang dipandangi oleh pria yang dicintainya. Foto yang di pajang oleh Suho di dinding kamar untuk melepaskan kerinduan pada putra sulungnya tersebut, dan kini melihat arah tatapan Jongin, Sehun merasa menyesal telah berada di kamar bekas tempat tidur ibunya tersebut.

Jujur saja, Sehun sangat ingin bertingkah egois dengan menahan Jongin untuk terus berada disampingnya. Tapi apa artinya itu kalau hati Jongin tidak terpaut padanya. inikah akhirnya? Ia tak akan pernah bisa menyempurnakan cinta yang ia punya.

"Apakah masalah di antara kita sudah selesai?" tanya Jongin.

"Apa?"

"Kalau sudah, segeralah berkemas, kita akan ke Korea malam ini juga."

"Jongin... aku tidak mau ikut denganmu." Sehun tidak bodoh, ia tak ingin hatinya tambah terluka kalau harus melihat Jongin dan Luhan bersama.

"Kau harus ikut Sehuna, ku mohon..."

"Kenapa kau ingin agar aku ikut denganmu?"

"Kau pernah berjanji padaku kalau kau tak akan pernah pergi dari sisiku kan Sehun, sekarang bolehkan aku menagih janjimu itu?"

Setetes air mata mengalir di pipi Sehun, ia memang pernah berjanji dan tak akan pernah menyangka kalau janjinya itu akan memberikan rasa sakit pada hatinya sendiri.

"Hanya karena aku mencintaimu Jongin, kalau tidak aku tak akan pernah mau pergi bersamamu."

"Aku tahu..." Jongin maju selangkah dan mengecup kening Sehun, "Bersiaplah kekasihku."

Kalau kemarin Sehun akan tersipu malu mendengar Jongin memanggilnya seperti itu tapi tidak kali ini, seperti ada sembilu yang mengiris hatinya, pedih dan Sehun tak ingin merasakan rasa sakit itu lebih banyak lagi.

.

.

.

.

.

.

Hal pertama yang dilihat Suho saat ia membuka pintu kamar yang menjadi tempat putra sulungnya berada adalah wajah letih Jongin dan juga raut wajah pucat Sehun.

"Mau apa kalian ke sini? Jongin bukankah sudah aku bilang padamu untuk menjaga Sehun dengan baik?" Suho merasa ngeri sendiri membayangkan kemungkinan kalau kedatangan keduanya kemari berkaitan dengan kondisi Luhan. Suho sangat memahami sifat putra bungsunya yang tidak tegaan itu, tapi Jongin? apakah dia masih mencintai Luhan hingga mau repot-repot datang ke sini, lalu bagaimana dengan Sehun?

"Kami datang kesini untuk bertemu dengan Luhan," ucap Jongin tanpa basa basi.

"Apa?" Suho ingin melarang keduanya masuk, namun suara Luhan membuatnya mengurungkan niat itu.

"Jongin... kau kah itu?"

"Ya, ini aku." Jongin berjalan melewati Suho dan melangkah mendekat pada Luhan.

"Hiks... Jongin..." Luhan langsung menghambur pada pelukan Jongin. "Syukurlah kau datang, kau tahu mereka jahat sekali padaku, mereka mengurungku di sini." Rengek Luhan.

"Benarkah?" Jongin mengelus punggung Luhan dengan pelan.

Sementara Sehun yang melihat hal itu hampir saja meneteskan air matanya, namun ia tahan kuat-kuat.

"Iya, aku tahu kau masih mencintaiku Jongin, karena itu aku meminta eomma untuk membawamu padaku. Aku yakin kau pasti datang dan membebaskan aku dari sini, hanya kau yang akan melakukannya untukku Jongin."

"Kenapa kau bisa seyakin itu?"

"Tentu saja karena kau mencintaiku," jawab Luhan dengan nada senang.

"Dari mana kau yakin kalau aku masih mencintaimu?"

"Sehun, si bodoh itu terlalu naif untuk bisa menjadi kekasihmu, aku yakin dia juga tak akan bisa memuaskanmu sebaik aku, jadi..." Luhan menghentikan ucapannya saat Jongin mendorong pelan tubuhnya untuk menjauh.

Pria tampan itu menarik tangan Sehun dan membawa tubuh itu untuk merapat ke dalam dekapannya. "Bagaimana kalau aku bilang kalau aku puas dengan Sehun, Luhana?"

"Kau tidak..." Luhan menggeleng, "Kau ingin berbohong padaku kan Jongin, kau jelas lebih mencintaiku."

"Kedatanganku ke sini bukan untukmu Luhan, tapi untuk Sehun."

"Apa?" bukan hanya Luhan yang terkejut tapi juga Sehun dan Suho.

"Aku tahu, hubunganku dan Sehun tak akan pernah aman selama kau masih berpikir kalau aku mencintaimu dan bisa mengendalikanku seperti dulu. Kau salah Luhan, aku tidak mencintaimu lagi."

"Ini tidak benar, kau bohong kan Jongin, kau pasti datang untuk membebaskan aku," Luhan menggelengkan kepalanya.

"Tidak, itulah kebenarannya Luhan, aku mencintai Sehun dan kumohon lupakan aku dan jangan pernah sebut namaku lagi."

Luhan tertawa terbahak-bahak, "Tak mungkin, ini tidak mungkin." Dengan dramatis di jambaknya rambutnya yang kusut, "Tak akan ada satupun orang yang bisa menolakku termasuk dirimu. Aku sempurna, aku cantik dan kau tak berhak menolakku."

"Tapi aku menolakmu Wu Luhan."

"Tidak..." Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ini tidak mungkin, Sehun tak boleh mengambil milikku."

"Sehun tidak pernah mengambil milikmu, justru kaulah yang merampas semuanya darinya," Jongin mengeratkan pelukannya di tubuh Sehun yang gemetar.

"Aku..." Luhan menatap kosong ke arah depan. "Tidak... aku tidak mau berakhir di sini, Jongin tolong aku, keluarkan aku dari tempat ini."

"Luhan, menjalani hukumanmu bukan berarti akhir dari segalanya, kau tak perlu sedih ataupun putus asa, bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau sempurna dan cantik, kau hanya perlu meyakini itu dan saat kau bebas dari hukuman nanti pasti akan banyak lagi pria yang antri padamu."

"Tidak... Jongin... aku mau Jongin..." Luhan makin menjadi-jadi menjambak rambutnya.

"Luhan, kau sudah sekali melepaskan aku dan aku sungguh-sungguh tak ingin balik denganmu lagi. Jangan menyerah pada hidupmu dan jangan terpaku pada masa lalumu, aku yakin kau pasti bisa bangkit dan melangkah maju."

"Hahahaha... Sehun... Jongin..." tawa Luhan meledak dan ia menggelengkan kepalanya dengan dramatis. "Aku cantik... aku pintar... Sehun jelek... Sehun bodoh..." berulang kali Luhan terus berucap seperti itu.

"Luhan... sayang..." Suho yang sedari tadi hanya diam kini mulai bersuara tapi putra sulungnya tidak menanggapinya, pria kurus itu terus menggumamkan kata seperti aku cantik dan aku pintar, terus-terusan seperti itu.

"Eomma..." Sehun melepaskan diri dari dekapan Jongin dan memeluk tubuh ibunya dengan erat.

"Hiks... kakakmu nak..."

"Aku tahu..." Sahut Sehun dengan sedih. Tak ada yang bisa mereka lakukan saat ini, hanya dorongan dari dalam diri Luhanlah yang mungkin akan bisa menyembuhkan diri pria itu dari depresinya.

"Ada apa ini?"

Suara berat itu membuat Sehun melepaskan pelukannya dari ibunya dan kembali ke sisi Jongin.

"Sehun..."

Sehun hanya diam dengan kepala menunduk, terlalu enggan untuk menatap raut wajah ayahnya. Suho yang melihat itu berinisiatif untuk membuka suara. "Kurasa... kita bertiga perlu bicara..."

.

.

.

.

.

.

Suasana canggung begitu terasa di antara ketiganya saat mereka duduk berhadapan di kafe itu, hanya mereka bertiga, karena Jongin yang sadar situasi dengan senang hati memilih untuk pergi meninggalkan ketiganya.

"Bagaimana kabarmu Sehun?" tanya Kris memecah keheningan.

"Seperti yang Anda lihat," sahut Sehun pendek.

Dahi Suho mengernyit, menyadari nada suara Sehun yang begitu dingin, tapi ia tak berkomentar tentang itu, baginya Kris pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dari Sehun setelah apa yang telah ia lakukan pada anak tersebut.

Kris tersenyum pahit, "Kau masih marah padaku?"

"Menurutmu?"

"Sehun, appa minta maaf atas apa yang telah appa lakukan padamu," Kris mengulurkan tangan ingin menyentuh tangan anaknya, namun dengan cepat Sehun menarik tangannya untuk menjauh, terlihat sekali ia enggan bersentuhan dengan ayahnya tersebut.

"Apa karena Luhan?"

"Apa?"

"Apa karena Luhan yang sekarang sedang tidak bisa Anda andalkan lagi hingga Anda mulai mendekatiku?"

Kris terhenyak kaget, "Sehunie, bukan seperti itu, appa sungguh-sungguh menyesal dengan apa yang telah appa lakukan padamu."

Sehun tersenyum pahit, "Apa Anda pikir melupakan semua hal yang telah Anda lakukan padaku itu gampang? Anda bahkan mengusirku dari rumah dan tidak mengakuiku sebagai anak lagi."

"Aku tahu dan itulah penyesalan terbesarku saat ini," Kris tampak begitu sedih. "Penyesalan yang mungkin akan terus aku sesali hingga akhir nanti."

Ketiganya kembali diam, membiarkan keheningan kembali mengingatkan mereka akan kesedihan yang mereka rasakan.

"Appa tidak memintamu untuk memaafkan appa," ucap Kris setelah cukup lama terdiam. "Appa hanya ingin mengatakan padamu betapa menyesalnya appa atas apa yang telah appa lakukan padamu."

Sehun tahu itu, tapi entah kenapa rasanya begitu enggan baginya untuk memaafkan apa yang telah ayahnya lakukan padanya. Sehun menatap ke arah ibunya yang tampak pucat dan letih, menyadari betapa ibunya pasti merasa terbebani dengan semua yang telah terjadi di antara mereka. Disaat itulah Sehun merasa kalau ia harus melakukan sesuatu, sesuatu yang mungkin akan sedikit mengurangi beban ibunya.

"Eomma..." panggilnya pelan.

Suho mendongak untuk menatap anaknya. "Apa sayang?"

"Apa eomma akan ikut pulang bersamaku dan Jongin?"

Suho tersenyum, "Tentu saja, bukankah eomma sudah janji padamu."

Sehun mengangguk dan kembali menunduk, "Aku... aku tak keberatan kalau eomma tetap berada di sini."

"Sehunie..."

"Aku mungkin bukan orang baik karena sampai detik ini masih tidak bisa memaafkan dirinya," Sehun melirik ayahnya sekilas. "Tapi aku juga tak ingin egois, bagaimanapun juga Luhan lebih membutuhkan perhatian dari eomma saat ini."

"Sayang, apa kau yakin dengan keputusanmu, kau tahu Luhan pantas menerima hukuman atas apa yang telah ia lakukan padamu."

"Aku tahu eomma, tapi bukan hukuman seperti ini yang aku inginkan," bagaimanapun juga Luhan saudara kandungnya, dan melihat saudara kandungnya menjadi gila seperti itu tentu saja Sehun tak tega. Ia ingin Luhan menyesali perbuatannya dan bukannya malah depresi.

"Kau yakin tak apa-apa nak? Kau tahu ini berat untuk eomma, karena eomma juga tak ingin berpisah darimu."

Sehun mendongak, menatap wajah ibunya, "Aku yakin dan eomma..." Sehun menggenggam jemari ibunya dengan lembut. "Berbahagialah..."

"Eomma sudah bahagia Sehuna..."

Sehun menggeleng, "Jangan membohongiku eomma, aku tau bagaimana eomma sering menangis malam-malam. Aku tau kalau eomma masih mencintai dia."

"Sehunie."

"Teruskan saja pernikahan kalian, aku tak keberatan. Hanya saja mungkin aku tak bisa menganggapnya sebagai ayahku sendiri untuk waktu yang aku sendiri belum tahu."

"Sehunie..."

Sehun tersenyum pada ibunya, "Aku tahu eomma masih mencintainya dan terpisah darinya membuat eomma tak bahagia. Dan eomma, aku benci kalau mendengar kata perceraian."

"Tapi..."

"Anggap saja ini hukuman dariku," sela Sehun. "Dia akan tetap menjadi suami eomma tapi aku tak akan memanggilnya sebagai ayah."

Kris menunduk, adakah yang lebih menyakitkan dari ini, tak di akui oleh anakmu sendiri? Tapi ia tahu inilah hukuman yang pantas untuknya.

"Sampai kapan sayang?" tanya Suho, "Sampai kapan kau akan menganggapnya seperti itu?"

"Entahlah," Sehun mengedikkan bahunya, "Mungkin sampai aku yakin kalau dia benar-benar telah berubah." Tatapan Sehun kembali diarahkan pada Kris. "Dan anda , sekali saja aku tahu anda membuat ibuku menangis, maka aku akan membawa eomma menjauh selamanya darimu."

Kris mencoba tersenyum, "Aku akan pastikan kalau aku akan membahagiakannya dan Sehunie, aku juga akan terus berusaha untuk mendapatkan pengakuan darimu lagi."

"Berusahalah kalau begitu."

Ya, pada akhirnya inilah yang dipilih oleh Sehun, dan ia berharap kalau inilah yang terbaik untuk dirinya dan juga keluarganya.

.

.

.

.

.

"Kau marah padaku?"

Jongin menatap pada Sehun yang tengah mengganti pakaiannya dengan sesuatu yang lebih nyaman untuk ia kenakan saat tidur.

"Menurutmu?"

Jongin tersenyum, ia meraih pundak Sehun dan membawa tubuh itu untuk berpaling menghadapnya. "Hei, kau tahu kalau aku begitu mencintaimu kenapa kau masih ragu padaku?"

"Tapi caramu itu salah Jongin, kau tahu betapa takutnya aku kalau kau akan lebih memilih Luhan di banding aku."

"Maaf," Jongin membawa tubuh Sehun untuk masuk ke dalam dekapan hangatnya. "Aku hanya berpikir kalau aku tidak datang dan bertemu Luhan maka selamanya dia akan terus salah paham dan merasa kalau aku masih mencintainya."

"Kau tahu, kau hampir saja membuat aku kena serangan jantung karena memaksaku untuk ikut pergi denganmu menemuinya." Sehun merangkul leher Jongin dengan erat.

Jongin tersenyum, ia mengecup kening Sehun dengan lembut, "Sehunie, apa tak apa kalau kau bersama denganku?"

"Memangnya kenapa?"

"Kau tahu, aku mungkin sudah bisa berjalan dengan normal lagi, tapi aku tak bisa meneruskan karierku sebagai pembalap."

Sehun balas mengecup rahang Jongin, "Kalau kau lupa Mr. Kim, aku bertemu pertama kali denganmu juga bukan dengan statusmu sebagai pembalap, tapi sebagai pasien di rumah sakit."

"Benarkah?" Jongin menangkup bokong padat Sehun dan dengan sedikit menggunakan kekuatannya, ia mengangkat tubuh Sehun dan secara otomatis Sehun melingkarkan kakinya di pinggul Jongin.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Sehun.

"Entahlah, tapi kurasa aku mengingat saat satu malam itu aku bertemu dengan seorang pria manis yang tersesat di taman."

"Pria manis..." Sehun membeo, "Tersesat di taman..." wajah cantik itu terlihat berpikir. "Aku seperti ingat sesuatu."

"Apa?"

Mata Sehun mengerjap pelan, "Akh... kau pria yang menolongku saat itu?"

"Kau mengingatnya?"

Flashback

"Sehun jangan berjalan terlalu jauh kau nanti bisa tersesat," Minseok yang sedanng mencoba memperbaiki mobil mereka yang mogok saat pulang dari tempat Sehun melakukan pemotretan langsung berteriak saat melihat model asuhannya berjalan menjauh darinya.

"Aku tak akan jauh hyung," balas Sehun.

Namun nyatanya pria manis itu melanggar janjinya sendiri, ia malah melangkah semakin jauh dan saat tersadar, Sehun kebingungan karena tidak mengenal tempat dimana ia berada sekarang. Ia bahkan tidak membawa dompet ataupun handphonenya saat pergi tadi, jadi ia tak bisa menghubungi managernya.

Di saat Sehun yang tengah panik dan berusaha keras untuk tidak menangis, ia mendengar suara motor yang mendekat dan ia langsung menoleh saat pemilik motor itu menghentikan kendaraanya tepat di dekatnya.

"Apa yang di lakukan seorang pria manis di tempat seperti ini?"

Untuk sesaat Sehun terpesona pada pria yang baru saja membuka helmnya tersebut, hingga ia tak menjawab pertanyaan pria itu.

"Tunggu, apa kau habis menangis? Sepertinya kau tersesat ya?"

Seringaian pria itu menyadarkan Sehun dari rasa terpesonanya. "Aku tidak menangis," bantahnya dengan pipi merona.

"Benarkah?" pria itu turun dari motornya dan menghampiri Sehun. "Tapi aku melihat pipimu basah."

"Ish, aku tidak menangis," Sehun cemberut.

"Baiklah, kau tidak menangis. Jadi apa kau tersesat?"

Sehun mengangguk, "Aku lupa jalan menuju tempat Minseok hyung berada."

"Kau bisa menelponnya."

"Aku lupa membawa handphoneku."

"Nih, pakai milikku." Pria itu menyodorkan handphone miliknya.

"Tapi aku lupa berapa nomornya."

"Apa?" pria itu mengerutkan keningnya, "Apa kau ini anak orang kaya manja yang terbiasa di layani dan..."

"Aku bukan orang seperti itu, aku hanya lupa nomornya. Ish, kau menyebalkan." Sehun menghentakkan kakinya dan ingin melangkah menjauh.

"Awas perhatikan kaki..."

"Kyaaa..."

Pria itu bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika salah satu kaki Sehun terperosok ke lubang yang ada di tepi jalan hingga mengakibatkan tubuh Sehun oleng dan hampir saja jatuh kalau saja pria itu denagn refleksnya yang bagus segera menangkap pinggang Sehun dan menahannya agar tidak jatuh.

Untuk sesaat keduanya saling terdiam dengan mata yang saling menatap, hingga panggilan dari Minseok yang terus meneriakkan nama Sehun terdengar, dan menyadarkan keduanya dari situasi canggung di antara mereka.

Flashback End

Wajah Sehun merona merah ketika mengingat akan hal itu.

"Aku senang karena paling tidak kau masih bisa mengingat pertemuan pertama kita," gumam Jongin.

"Kenapa?" tanya Sehun pelan.

"Karena itu pertama kalinya aku jatuh cinta padamu."

"Padaku? Tapi Luhan?"

"Saat itu, aku sangat menyesal karena tidak sempat menanyakan namamu dan karena itulah keesokan harinya aku berusaha keras untuk mencarimu, aku kembali ke tempat itu dan kau tak ada di sana. Lalu entah keberuntungan dari mana, seminggu setelah itu aku bertemu dengan orang yang ku kira dirimu di arena balap.

"Apa itu Luhan?"

Jongin mengangguk, "Dan karena aku pikir kalau dia adalah dirimu, aku mulai mendekatinya."

Sehun menatap mata Jongin, "Aku tak tahu harus senang atau sedih, aku senang saat mengetahui kalau kau mencintaiku di hari pertama kita berjumpa tapi aku juga sedih karena bukan aku yang menjadi kekasihmu."

Cup

"Tak ada yang perlu di sesali, semua sudah terjadi, tapi pada akhirnya aku tetap kembali padamu bukan?"

"Hmm..." gumam Sehun.

"Dan Sehun... apa tak apa kalau kau harus menikah denganku?"

"Memangnya kenapa denganmu? Aku tidak mencari orang yang sempurna kok, tak apa hidupmu tak sesempurna yang dulu, asalkan cintamu tetap sempurna untukku, hanya untukku."

"Tapi aku pengangguran."

"Aku juga begitu," Sehun terlihat berpikir sejenak. "Haruskah aku melamar kerja menjadi model lagi?"

"Tidak," sahut Jongin tegas. "Aku tak mau kau memamerkan kecantikanmu pada orang lain. Cukup aku saja yang akan bekerja."

"Kau akan melamar kerja di mana?"

"Di kantor appa, mungkin setelah kita menikah nanti kita harus terbiasa hidup sederhana, karena kau tahu kalau aku tak mau kalau harus menggantikan posisi appa begitu saja, aku ingin memulai karierku dari bawah lagi."

"Aku tak keberatan kalau harus hidup sederhana asalkan denganmu, ku rasa dia juga."

"Dia?"

"Huum, dia..."

Jongin menurunkan tubuh Sehun dari gendongannya dengan hati-hati. "Siapa maksudmu dengan dia?"

Sehun tersenyum manis, ia meraih tangan kanan Jongin dan meletakkannya di atas perutnya yang rata. "Dia yang ada di sini..."

"Sehuna..." tatapan Jongin terlihat sekali kalau ia terkejut. "Kita akan punya baby?"

Sehun mengangguk.

"Ya Tuhan..." Jongin meraih tubuh Sehun dan memeluknya dengan erat. "Aku harus menyiapkan lamaran untukmu secepatnya, aku tak mau anakku lahir tanpa status orang tuanya yang jelas."

"Tak perlu terburu-buru, aku tak akan memaksamu."

"Kalau begitu aku yang akan memaksa," balas Jongin, ia melepaskan pelukannya di tubuh Sehun dan berlutut untuk mencium perut Sehun yang masih tertutup kaos. "Demi anakku dan juga demi cintaku."

Mata Sehun basah, ia terlalu bahagia mendengar ucapan Jongin. "Aku mencintaimu, Kim Jongin."

"Dan aku lebih mencintaimu sayang, dan Sehuna, kenapa kau baru mengatakannya padaku kalau kita akan punya baby?"

"Sebenarnya aku ingin mengatakannya padamu sesaat sebelum aku tahu kalau Luhan mencarimu itu, tapi karena kau mendesakku untuk pergi, aku jadi mengurungkan niatku untuk memberitahukanmu."

"Maaf," Jongin bangkit dan kemudian mengecup kening Sehun dengan lembut. "Kapan kau menyadari kalau ada baby di sini?"

"Dua hari yang lalu, saat aku merasa pusing dan aku iseng memakai testpack yang eomma belikan untukku. Tapi aku belum memeriksakannya ke dokter."

"Besok pagi, kita akan ke dokter, sekarang saatnya bagi ibu hamil untuk tidur." Jongin mengangkat tubuh Sehun dan membaringkannya di kasur dengan hati-hati. "Good night my love."

Di saat semua halangan sudah terlewat, Sehun tahu kalau ini barulah awal dari perjalanan kehidupannya yang baru. Ada perasaan takut dihatinya, takut kalau suatu saat Luhan akan sadar dari depresinya dan kemudian mengambil Jongin dari sisinya. Takut kalau ia akan menjadi anak yang durhaka karena belum bisa memaafkan ayahnya, dan lebih dari itu ia takut kalau suatu saat perasaan cinta Jongin padanya akan memudar. Sehun sadar semakin hari ia akan semakin menua, sementara Jongin, pria tampan itu malah akan semakin terlihat dewasa dan makin dewasa seiring usianya yang bertambah semakin matang.

"Aku tak tahu apa yang kau pikirkan," bisik Jongin lirih.

Sehun mendongak dan menyadari kalau kekasih hatinya itu tengah menatapnya dengan intens. Jongin tersenyum dan menyodorkan lengannya untuk menjadi bantalan kepala Sehun saat berbaring. Satu tangan Jongin yang lain membelai rambut Sehun dengan lembut. "Apapun yang kau pikirkan sayang, hubungan kita akan baik-baik saja, suatu hari nanti juga kau pasti bisa memaafkan ayahmu lagi."

Sehun balas tersenyum.

"Istirahatlah, aku akan menjagamu saat tidur. Besok pagi dan seterusnya saat kau bangun, kau akan menyadari kalau kau akan selalu terbangun di samping orang yang sangat mencintaimu." Jongin mengecup kening Sehun dengan lembut.

.

.

.

.

.

.

.

END

Terima kasih untuk yang selalu dukung ff ini, dan maaf kalau endingnya mengecewakan.

Bukan fisik yang mennyempurnakan cinta, tapi hati yang bersih dan tuluslah yang menyempurnakan cinta tersebut.

Hanya kalimat sederhana itu yang membuat ff ini tercipta sedemikian absurdnya. Hehe...

Happy Birthday, Happy Suho Day, untuk mommy nya hunhun.

Salam KaiHun Hardshipper

KaiHun Lovea