Naruto membuka lembar kertas itu dengan hati-hati berbagai doa ia rapalkan dalam hati.

untuk:Naruto Hyuuga.
Atas pertimbangan kami. anda dinyatakan lolos dalam seleksi ujian masuk Konoha High school. Anda telah terdaftar sebagai salah satu siswa disekolah kami. Dimohon untuk mendaftarulang.

"yeaaahhhh!" Naruto berteriak kegirangan.

surat itu adalah surat pemberitahuan dari konoha senior high school. salah satu sekolah yang paling bergengsi di Jepang. Seleksi masuk untuk peserta didik di sana cukup ketat. selain secara akademis KHS juga mempertimbangkan prestasi non akademis.
piagam juara 1 basket nasional tingkat junior dan juara harapan 1 karate
Mampu membuat Naruto untuk dilirik di sekolah ternama itu.

"Wah selamat ya Naruto."
Kata teman-temannya.

"Arigatou minna" cengiran lebar tercetak di bibir Naruto.

"Tadaima!"
"Okaerinasai Naruto-kun." Wanita bersurai merah itu menjawab salam dari anaknya.

"Kaa chaann." Naruto menghampiri ibunya lalu memeluk erat wanita itu.

"Eh.. ada apa Naruto-kun?" Tanya Ibunya.

Naruto menunjukan suratnya yang tadi pada ibunya.

"Ini serius?" Tanya Kushina tak percaya.

"Tentu saja, liat di surat itu ada cap stempel dari sekolahan itu dan tanda tangan kepala sekolahnya." Kata Naruto bangga.

"Yatta.. kau hebat anakku!" Teriak Kushina senang sambil mengalungkan lengannya di leher anaknya lalu mengusap kepala kuning Naruto.
"Demo.. bukankah Konoha itu terlalu jauh, kenapa tidak mendaftar saja di sekolah dekat sini?" Tanya Kushina

"Kaa chan tidak suka ya?" Tanya Naruto.

"Bukan begitu.. Kaa chan hanya khawatir. Sekarang mandilah dulu, Kaa chan akan mempersiapkan makan malam sambil menunggu tou chanmu pulang. Kita akan membahasnya bersama nanti" Kata Kushina.

"Hu'um." Naruto mengangguk lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.

.

.
.

"Ada apa ini Kushina? Tumben kamu masak sebanyak ini, ada nasi merah juga. Apa ada acara?" Tanya Hiashi heran melihat banyaknya hidangan di meja makan.

Kushina tersenyum dan menjawab
"Kau akan tahu sendiri nanti anata." Kata Kushina.

"Ada apa ini istriku main rahasia-rahasiaan denganku hmmm?" Tanya Hiashi sambil memeluk Kushina yang sedang menata meja dari belakang.

"Kyaa.. Anata, bagaimana jika Naruto melihatmu." Kata Kushina geli.

"Biarkan saja dia juga sudah cukup umur untuk melihat ini." Kata Hiashi santai.

Kushinapun berbalik menghadap suaminya lalu mencubit pinggang Hiashi.

"Kau nakal anata." Kata Kushina gemas.

"Kaa chan, apa makan malamnya sudah siap?" Suara dari Naruto membuat kedua pasutri itu mengakhiri kemesraannya. Kushina kembali menata makanannya lalu Hiashi duduk di meja makan.

Naruto menghampiri meja makan lalu duduk di kursinya. Wajahnya terlihat cerah dengan senyum lima jarinya.

"Ya ampun kalian berdua aneh sekali hari ini. Ada apa? Apa ada yang menarik hari ini?" Tanya Hiashi.

Kushina yang sudah duduk di dekat suaminya tersenyum menatap Naruto lalu mengangguk.

Naruto yang melihat kode dari Kushina ikut mengangguk juga. Sementara Hiashi hanya melihat mereka dengan tampang kebingungan.
"Aku diterima di Konoha High School." Kata Naruto bangga.

"Oh iya? Selamat Naruto ayah bangga padamu." Kata Hiashi.

"Arigatou tou chan. Lalu pendaftaran ulangnya akan dilaksanakan besok." Kata Naruto.

"Kenapa mendadak sekali?!" Racau Kushina.

"Aku juga baru tahu tadi, saat selesai mandi, temanku yang sama sama lolos memberitahuku tadi, surat yang datang ke sekolahku ternyata datang terlambat, harusnya datang 3 hari yang lalu. Ada kesalahan saat pengiriman." Kata Naruto panjang lebar.

"Lalu bagaimana? Perjalanan di Konoha butuh waktu lama kau tak mungkin bolak balik kan? kita tidak punya saudara di sana bagaimana kalau kenapa napa lalu lalu" Racau Kushina.

"Ada." Hiashi menyanggah perkataan Kushina.
"Hinata..." Katanya lagi.

"Tapi anata, apa tidak apa apa?" Tanya Kushina khawatir.

"Cepat atau lambat Hinata harus menerima kalian tsuma, dan ini kesempatan kita." Kata Hiashi mantap.

Hinata Hyuuga, anak dari ayahnya, Hiashi Hyuuga pria yang membagi marganya kepada ibunya dan dia. Naruto tidak terlalu tahu tentang saudara Tirinya itu. Hinata tak pernah mengunjungi keluarganya. Lagipula orang tuanya juga jarang membahas tentang Hinata di depan Naruto.

"Demo.. anata." Kushina ragu dengan pendapat suaminya itu.

"Percayalah anata Hinata adalah anak baik, aku yakin dia akan memahaminya." Rayu Hiashi.

"Baiklah anata aku percayakan Naruto padamu dan Hinata." Kata Kushina pasrah bagaimanapun Hinata juga anaknya sendiri walau bukan secara biologis. Walaupun Hinata sendiri masih belum mengakuinya sebagai ibunya.

"Aku akan berangkat naik kereta pagi. Pendaftarannya ditutup jam 12 siang." Kata Naruto.

"Baiklah kaa chan akan membantu mempersiapkan keperluanmu untuk besok." Kata Kushina semangat.

"Uhum Arigatou Kaa chan."

.

.

Hari ini pukul 6 pagi Naruto sudah berpakaian rapi dengan menenteng tas berukuran sedang yang sudah disiapkan Kushina semalam. Ia saat ini berada di stasiun Ame bersama orang tuanya.

"Naruto-kun." Kushina menghampiri anaknya lalu memeluknya erat.

"Kaa chan." Naruto terkejut dengan sikap kaa channya.

"Hati- hati di sana ya, dan juga ingat pesan kaa chan." Kata kushina.

Naruto membalas pelukkan ibunya itu.
"Tentu kaa chan." Jawab Naruto.

"Ehem, apa hanya Kaa chanmu yang mendapat pelukan?" Kata Hiashi iri.

Ibu dan anak yang melihat Hiashi itu saling memandang lalu tertawa bersama.

"Hahahaha.. kau lucu tou chan." Kata Naruto terkikik geli melihat sikap ayahnya yang kekanakan.

"Kalian jahat, aku malah di tertawakan." Kata Hiashi pura pura merajuk.

Narutopun melepaskan pelukan ibunya dan ganti memeluk ayahnya.
"Arigatou tou chan." Kata Naruto tulus.

Hiashi tersenyum lembut.
"Akulah yang seharusnya berterima kasih pada kalian, Naruto mungkin ini permintaan yang aneh menurutmu, aku titipkan
Hinata padamu, tolong jaga kakakmu ya." Kata Hiashi.

"Tentu otou chan, serahkan Hinata nee chan padaku." Kata Naruto.

Kushina ikut tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu, meskipun Hiashi bukan ayah kandung anaknya, tapi ia menyayangi Naruto selayaknya ayah kandungnya sendiri.

"Ah keretanya sudah datang." Kata Kushina membuat anak dan ayah itu melepaskan pelukannya.

"Yosh.. Tou chan Kaa chan aku berangkat dulu." Kata Naruto.

"Hati hati nak, kami mendoakanmu dari sini." Kata Kushina.

Narutopun berjalan menjauhi orang tuanya menuju kereta cepat yang akan membawanya ke Konoha.

.

.

Perjalananan dari Ame menuju Konoha memakan waktu hampir 5 jam dengan kereta cepat.
untung saja Naruto masih sempat mengikuti pendaftaran ulang.
Tidak hanya daftar ulang.
Tubuhnya juga periksa. Lalu dia di minta untuk tes lari dan lain laitn. Hal itu membuat tubuh Naruto lelah. Tes tes itu tadi di tujukan untuk para murid yang masuk dengan jalur prestasi.
Tes baru berakhir saat hari sudah mulai petang.

Narutopun pergi menuju apartemen Kakaknya berbekal alamat yang diberikan ayahnya.

Sesampainya Naruto di sana, tidak ada siapapun yang ia lihat. Sepi.
Naruto melihat lagi alamat yang di berikan ayahnya.
Ia yakin bahwa alamat ini benar.
Naruto mengetuk pintu itu, namun tak ada jawaban apapun dari dalam.
Naruto memutuskan untuk menunggu di depan pintu apartemen itu sampai pemiliknya datang.

Cukup lama ia menunggu kira-kira hampir 2 jam an dia di sana.

Sampai akhirnya ia melihat wanita yang berjalan menuju apartemen kakaknya.
"

Ma.. maaf, ada perlu apa anda di depan apartemem saya?" Tanya wanita itu sopan.

Naruto menatap wanita itu dari atas sampai bawah.
Tubuhnya pendek.
Walaupun tertutup kacamata yang cukup tebal, Naruto dapat melihat warna netra yang mirip ayahnya di wanita itu.
"Ah.. apa kakak ini yang bernama Hinata?" Tanya Naruto mencoba memastikan asumsinya tadi.

Wanita itu mengangguk, membenarkan pertanyaan Naruto.

Bingo! Naruto benar.
"Ahh.. Onee chan, aku Naruto. Tolong izinkan aku tinggal bersama nee chan." Kata Naruto sambil membungkuk sopan.

"A-apa? Adik?" Wanita itu terlihat kebingungan.

"Iya aku anak Hiashi. Apa tou chan tidak mengatakan apapun tentangku." Tanya Naruto heran.

Wanita itu gelagapan ia mencoba mengambil sesuatu dari tasnya. Terlihat ponsel pintar di tangannya lalu ia aktifkan ponselnya.
Sepertinya kakaknya itu baru melihat pesan yang dikirim oleh ayahnya.
Wanita itu mematung setelah membaca salah satu pesan yang ia duga dari ayahnya. Naruto dapat melihat pesan itu dari pantulan lensa kacamata wanita itu.

"Nee chan?" Wanita itu tidak merespon panggilan darinya.
"Nee chan?" Naruto memcoba memanggil wanita itu lagi.

To be continue

A/N :
Hai aku author disini.Aku harap kalian suka.
Dan maaf untuk papa Hiashi yang aku bua tooc.
Terimakasih untuk kalian yang menyempatkan waktu untuk membaca fanfic saya.

Special thanks :
Piupiuchan, Oya682

Mohon maaf apabila ada kesalahan kata
Terima Kasih

*Lawliet Uzumakie*