Tatapan terdalam dengan sinar mata yang penuh kepasrahan tentunya, wajah datar yang kini menjadi semu, sangat menunjukkan ekspresinya yang tidak seperti biasanya itu. Untuk pertama kalinya, aku melihat mata heterochromianya dilinangi air mata.
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Einer
(Chapter 3)
.
.
Kuroko POV only
.
.
"Tetsuya..."
"A-Ada..apa?"
Untuk menjawab panggilannya saja rasanya sulit sekali, wajahnya sangatlah menyentuh hatiku. Padahal waktu masih menunjukkan siang hari, tapi rasanya hembusan angin sejuk ini, memberiku kesan pagi yang nyaman. Akashi-kun, melihatnya tersenyum saja , aku sudah terbawa perasaan, apalagi saat melihat wajahnya yang dibasahi air mata. Aku jelas sangat mengerti apa yang menjadi tekanan di batinnya.
"Mau pulang saja?"
"Tidak, Tetsuya.. aku yang akan mengantarmu pulang."
Aku mengambil sapu tangan di sakuku dan mengusap air mata Akashi-kun, ia menerima perlakuanku, ini suatu kejarangan.
"Sebaiknya kita bergegas." cetusnya tiba-tiba dan menarik tanganku. Ingin sekali aku pergi jauh darinya dan menjalani hidup burukku lagi, tapi melihatnya dengan kondisi seperti ini, mungkin sebaiknya ku simpan dalam-dalam niat jelekku ini, aku tetap harus bersamanya.
"Bisa kau tunjukkan dimana rumahmu?" tanya Akashi-kun. Aku memberikan secarik kertas yang berisi alamat tempat tinggalku, karena sudah cukup lama aku tidak pulang, aku tidak yakin kalau rumahku masih sama seperti dulu, tapi itu tentu saja tidak benar.
Setelah Akashi-kun membaca kertas alamat yang ku berikan itu, ia langsung mengantarkanku ke alamat rumahku itu, berhubung jarak apartment Akashi-kun tidaklah jauh, maka dengan cepat kami sudah ada di daerah rumahku. Tidak sabar aku ingin berjumpa dengan ayah dan ibuku.
"Tidak ku sangka, ternyata rumahku dekat dengan apartementku."
"A-Ah iya.."
Antara senang atau kuatir, aku melihat rumahku yang masih sama persis seperti dulu, tidak ada satupun yang berubah selain cat dindingnya dan pekarangan taman yang semakin rapi.
"Jumpai dulu ayah dan ibumu, aku akan menanti disini."
"Ba-baiklah.."
Ku hela nafas singkat, rasanya jantungku berdetup tak karuan saat melihat pintu rumahku setengah terbuka. Dengan memberanikan diri, aku mengetuk pintu rumahku sendiri, walaupun rumah sendiri, terkadang aku masih merasa asing.
Tidak lama menunggu, aku melihat seseorang membuka pintunya lebar-lebar, wajah orang itu mengukir sebuah senyuman tipis, dan yang ku rasakan saat ini bukanlah ketegangan sementara seperti tadi, melainkan ketenangan di batinku.
"Otosan..."
Dengan bahagianya aku meneriakannya, orang itu adalah ayahku, tatapan matanya masih sama seperti beberapa bulan yang lalu, senyumannya pun sama persis. Ya Tuhan.. betapa aku merindukannya.
"Walaupun harus melepasmu beberapa bulan, tapi ayah senang karena dapat melihatmu kini jauh lebih sukses."
Sukses?!
Sukses dalam sektor jelek, ya..
"Masuklah, nak.. ibumu sedang sakit, ia merindukanmu sekali."
Ayahku mengulurkan tangannya dan menggiringku masuk ke dalam rumahku, tempat pertama dan terakhir yang akan selalu ku ingat dan menjadi tempat ternyamanku.
Aku melihati sekitar rumahku yang tidak ada bedanya seperti dulu, foto masa kecilku pun masih dipajang di meja. Ayahku membawaku ke kamarku, disana terlihat jelas ibuku yang tengah terbaring lemah.
"Okasan..."
Aku berlari ke arah ibuku, ia melihatku penuh girang dan memeluk tubuhku erat saat aku berhasil mendekatinya. Kehangatan pelukan ibuku yang sangat ku rindukan, aku benar-benar merindukannya.
"Kau kemana saja, nak?" bisiknya sambil memelukku.
"Aku tidak kemana-mana, bu.. aku hanya putus komunikasi dengan ayah dan ibu. Gomennasai.."
Ibuku mengelus pelan kepalaku, tangannya yang lemah itu sudah cukup membuatku tenang. Demi apapun, aku sangat merindukan kedua orang tuaku.
"Kalau begitu, biarkanlah ibumu beristirahat. Mari kita mengobrol saja, Kuroko."
"Ya, ayah.."
Ku lambaikan tanganku kepada ibuku yang kembali tertidur, senangnya melihat ibuku tertidur pulas.
Aku dan ayahku kembali ke ruang tamu, kami duduk dan menyiapkan teh untuk menjadi teman berbincang kami.
"Baiklah, Kuroko. Ceritakan saja apa yang kau lakukan selama beberapa bulan ini."
"Tidak banyak, yah, aku mencari pekerjaan sampingan untuk menambah pemasukkanku."
Bohong!
"Memang kau kerja apa?"
"Menjadi kasir di sebuah restoran besar, yah."
Bohong lagi!
Ayahku berdiri dan menghampiriku, ia menepuk pundakku dan mengacungkan jempol, terlihat jelas di wajahnya seolah ia sedang berkata 'aku bangga terhadapmu, nak', sedangkan yang ada dipikiranku hanyalah sebuah kalimat 'aku berbohong, yah.'
Ingin sekali aku jujur segalanya, tapi aku hanya tidak tega menghancurkan senyuman dan mengecewakan ayah dan ibu, menurutku, mereka adalah segalanya, maka aku rela melakukan apa saja asal mereka tidak terluka, walaupun caraku sudah jelas salah.
"Ayah bangga sekali denganmu."
Apa?!
Kalimat yang sudah tidak ku dengar lagi sejak aku meninggalkan rumahku, membuatku teringat suatu moment.. moment dimana ayahku benar-benar membanggakanku saat aku masih kecil.
*FLASHBACK*
"Otosannn.."
"Ada apa, nak?"
"Sekarang aku akan menunjukkan kepada ayah, kalau suatu hari nanti aku akan menjadi pria tangguh seperti keinginan ayah."
Aku berlari dengan cepat menghampiri benda-benda keras dan berbeban tak ringan di depan mataku, ku angkat setiap beban berat itu dan mengukir senyuman kepada ayahku, aku buktikan kalau aku bisa jauh lebih tangguh dari ayahku, aku tidak peduli walaupun tanganku sakit karena harus mengangkat beban ini.
"Kuroko, berhati-hatilah!"
"Ti-tidak ayah, aku akan melakukannya."
Ku angkat semakin kuat beban itu dan berhasil menahannya selama beberapa detik, mirip seperti mengangkat jangkar yang berat.
"Awhh..." jeritku kesakitan saat tanganku tak mampu lagi menahan beban itu dan membuat tanganku terkilir dan harus dibawa ke rumah sakit.
Selagi tanganku diobati, ayahku mengancungkan jempolnya kepadaku dan mengukir senyuman indahnya itu, walau melihatku terpuruk karena ulahku sendiri, ayahku tidaklah memarahiku.
"Ayah bangga sekali denganmu." bisiknya pelan di telingaku.
*Flashback END*
Itulah saat-saat yang tak pernah ku lupakan, bahkan moment itu masih melekat kuat di ingatanku.
"Ehm..Ano.. ayah, aku harus segera pergi lagi, temanku sudah menantiku diluar."
"Kalau begitu akan ayah antar sampai diluar."
Ayah mengantarku sampai ke luar pintu dan melihat Akashi-kun yang sedang duduk di bawah pohon dekat rumahku karena menantiku.
"Maaf, kau teman anakku kah?"
Sial! aku lupa memberitau Akashi-kun untuk menganggapku adalah temannya, kalau ia jujur tentang semuanya, aku pasti akan dibunuh oleh ayahku.
"Ah.. Tetsuya? Kami bukan sekedar teman.. Ehm.. kami ini memang sahabat baik. Perkenalkan, namaku Akashi Seijuuro."
Are?
"Oh begitu, kalau begitu, Seijuro-san, tolong jaga anakku ya. Aku sangat mempercayakannya padamu."
Akashi-kun mengangguk dan berpamitan dengan ayahku, kembali ia menarik tanganku untuk bergegas mengikutinya pergi.
"Mau kemana lagi?" tanyaku.
"Kita bisa mencari sesuatu untuk makan siang."
"Dimana?"
"Itulah mengapa aku berkata untuk mencarinya."
"Ba-baiklah.."
Melihat Akashi-kun yang sekarang sangatlah berbeda dengan yang sebelumnya, ia sudah memasang wajah datarnya lagi, ia memang pemuda yang cepat melupakan sesak di hatinya, aku harus banyak belajar darinya.
Akashi-kun membawaku ke sebuah terbuka yang tak kalah indah dengan taman yang tadi ku datangi, tempat ini lebih mengalam dan luas, cocok untuk mencari inspirasi maupun menenangkan pikiran karena tempat ini benar-benar dikelilingi pepohonan hijau tapi tidak menutup sinar matahari untuk menyinari. Disitu, aku melihat banyak kios kecil yang menjual makanan cepat saji yang lezat.
"Kau mau apa?" tawar Akashi-kun.
"Okonomiyaki."
"Pilihan yang bodoh, tapi yasudahlah."
Aku duduk disebuah bangku taman yang langsung menghadap ke arah pepohonan indah, rasanya aku benar-benar menyukai dunia terbuka seperti ini, jauh lebih baik daripada aku harus berdiam lama di tempat taruhan itu dan tak dapat merasakan sinar matahari menyorot wajahku.
"Ini.." Akashi-kun menghampiriku dan memberikan okonomiyaki yang sudah ku pesan.
"A-Ah..Arigato.."
Sebenarnya banyak hal yang ingin ku tanyakan pada Akashi-kun, terutama alasan kuat mengapa ia ingin membayarku mahal, padahal sudah jelas bahwa tempat itu hanya untuk pria-pria penghibur yang bersedia ditawar dengan harga tinggi untuk memuaskan nafsu para pria lainnya, setidaknya begitulah kacaunya dunia yaoi, dan aku memang sudah terjerat di dalamnya.
"Akashi-kun.."
"Hmm?"
"Boleh aku bertanya?"
"Tentu."
"Apa alasan kau membayarku mahal?"
Mendengar pertanyaanku, Akashi-kun terlihat baru saja ditusuk dengan belati yang tajam, ia bahkan sampai tersedak, "Gomennasai.. Aku tidak bermaksud."
"Ehmm.. Tidak apa-apa, kalau kau memang ingin mengetahuinya, bukan sekarang waktunya. Tapi aku berjanji akan menceritakan segalanya."
Walaupun repsonnya hanya seperti itu, itu sudah membuat rasa penasaranku berkurang. Aku menghargai privasinya juga.
"Kalau begitu, aku ingin berbalik bertanya kepadamu?"
"Apa, Akashi-kun?"
Akashi-kun menyudahi aktivitas makannya dan memasang wajah serius.
"Mengapa kau berbohong pada orang tuamu?"
Heppp!
Tiba-tiba mulutku terasa gagu dan sulit untuk mengeluarkan kata-kata. Sudah jelas bahwa Akashi-kun mengetahui kebohonganku, tapi bodohnya, aku secara tidak langsung malah melibatkannya dalam permasalahanku.
"A-Ah..Ano..a-aku..hmmpp.."
Dengan cepat Akashi-kun membekap mulutku, apa yang terjadi? apa ia marah? atau..? tidak..tidak.. tidak mungkin Akashi-kun ingin menjamahku, aku baru saja mengenalnya dan aku sudah mengetahui kepribadiannya yang lembut itu, aku yakin itu semua hanya kekeliruanku saja.
Astaga.. wajah datar dengan pupil mata berbeda warna itu sangat menatapku dalam-dalam, apapun yang ingin ia lakukan, aku mungkin hanya dapat pasrah dan tetap berpegang kuat pada pemikiranku.
"Kembalilah ke rumahmu dan katakan yang sebenarnya."
Ia kembali melepaskan bekapannya dari mulutku, pemikiranku memang benar, Akashi-kun tidaklah berniat melakukan hal buruk padaku.
"Ta-Tapi bagaimana respon orang tuaku?"
Benar juga, walau aku harus berkata jujur, respon orang tuaku adalah yang paling penting dan menegangkan.
"Bukankah kau ingin sekali ayahmu bangga padamu?"
"Kau menguping pembicaraanku dengan ayahku tadi, Akashi-kun?"
"Tidak, tapi bukankah itu yang sebenarnya terjadi?"
Akashi-kun sangatlah benar, aku ingin sekali ayah bangga padaku dan menerimaku dengan kondisi seperti ini tanpa mengurangi kasih sayangnya padaku sebagai anaknya.
"Cepat habiskan makananmu, ku tunggu kau di depan."
Belum ku respon, Akashi-kun sudah berjalan pergi. Dengan buru-buru, aku menghabiskan okonomiyaki ku dan meneguk air yang ku bawa. Entah apa respon ayah nanti, aku harus menerimanya, lagipula aku memiliki alasan tersendiri untuk semua yang ku lakukan beberapa bulan ke depan ini.
Melihat Akashi-kun yang bersandar di pohon, aku berlari dan menghampirinya.
"Siap?"
"Siap!"
Tentu saja aku tidak siap, ini sangatlah mendadak, tapi mau diapakan lagi, lebih baik aku mengakuinya saja daripada membuat ayahku kaget.
Sepanjang perjalanan kembali ke rumahku, pikiranku sangatlah kosong, aku tak dapat memikirankan, bahkan merasakan apapun, hanya hembusan angin kesunyian yang ku rasakan saat ini. Karena jarak tempat tadi dan rumahku tidaklah jauh, setiap langkah yang ku tapaki kini semakin mendekati pagar rumahku lagi. Dari jauh, sudah terlihat jelas taman besar di rumahku beserta beberapa jenis bunga yang mendiami taman itu, memberi kesan nyaman, sayangnya aku sudah tidak merasa nyaman tinggal dirumahku sendiri karena suatu hal.
"Perlu bantuan?"
"Tidak."
Saat berhasil sampai di depan rumahku lagi, Akashi-kun menepuk pundakku, mungkin ia ingin membantuku, tapi sebaiknya aku tidak melibatkannya lagi.
Tok...Tok..
Tok...Tok..
Ku ketuk pelan pintu rumah, suasana sempat menghening, tapi dengan cepatnya, ayahku membuka pintu dan bingung dengan kedatanganku.
"Kau kembali?"
Rasanya hanya gugup dan ragu yang menguasai diriku, aku masih tidak yakin untuk mengatakan yang sebenarnya, tapi aku tidak boleh mengacaukan kesempatan ini, karena cepat atau lambat, ayahku pasti akan mengetahui kebenaran itu.
"Ayah, boleh aku berbicara sebentar?"
"Tentu saja, ayo bahas saja di dalam rumah."
Tubuhku gemetar tak karuan, bahkan mataku saja tak mampu menatap ayahku yang kini duduk tepat di depanku. Melihatnya tersenyum biasa membuatku tak kuasa menahan tangisku.
"Aku ingin mengakui suatu hal, yah."
"Mengakui suatu hal? apa itu?"
Glekk..
Ku telan ludahku dan ku paksakan lebih lagi lidahku agar tidak kaku.
"Tentang pekerjaanku, yah," rasanya lidahku sudah tak kuat berkata-kata, "Sebenarnya..hmm.."
"Sebenarnya apa?"
"Sebenarnya aku," semakin sulit untuk berkata-kata, "Sebenarnya.."
"Apa yang terjadi? kau dipecat? atau kau bekerja di tempat yang biasa saja? jangan kuatir, Kuroko. Itu bukan masalah bagi ayah, selama kau bekerja dengan cara yang baik."
"Bukan itu, yah."
"Lalu apa? sebaiknya kau katakan kalau itu memang perlu."
Baiklah, kini tubuhku mati rasa, dengkulku pun lemas hingga membuatku berlutut, dan mulutku rasanya sangat kaku. Aku tidak ingin menyakiti hati ayahku, tapi kalau memang dituntut untuk jujur, maka aku tidak dapat menolaknya.
"Sebenarnya aku bekerja di tempat taruhan."
Ayahku mengerutkan dahinya dan mengusap pelan dagunya, tapi anehnya.. ia tersenyum?
"Are?"
"Hal semacam itu, ayah juga pernah. Lagipula kau sudah cukup dewasa, itu tidak masalah, selama kau," dengan cepat ku potong kata-kata ayahku, "Aku yang menjadi taruhannya, yah! aku yang menjadi rebutan para pria-pria."
Senyuman yang ayahku ukir tadi kini menjadi datar dan terpampang jelas wajah kaget ayahku. Tamatlah riwayatku.
"Jadi ini yang kau ingin akui?"
"Gomennasai, Otosan.." aku menundukkan kepalaku dan membungkukan badanku 90 derajat, aku benar-benar tidak ingin melihat wajah ayahku, apalagi wajah kecewanya itu.
"Siapa yang membayarmu, Kuroko?"
"Apa?"
"Siapa yang membayarmu?!"
Untuk pertama kalinya, aku melihat ayah semarah ini padaku, tapi tidak seperti biasanya, ayah biasa membentakku saat marah besar, tapi kali ini tidak. Mungkin ayah sudah sangat kecewa denganku.
"Jangan bilang orang yang kau akui sebagai teman itu yang membayarmu?"
"Itu me-memang dia, yah."
Ayahku menghela nafasnya panjang, "Panggil dia!"
Baru aku ingin memanggil Akashi-kun, ia sudah terlebih dahulu menghampiri kami.
"Jadi kau yang membayar anakku?"
"Ya begitulah."
Ayahku menghampiri Akashi-kun dan menarik kerah bajunya itu.
"Ayah!" teriakku saat melihat ayah ingin menghajar wajah Akashi-kun.
"Aku akan mengganti semua uangmu, asal tidak kau sentuh anakku!, Jangan berani-beraninya kau."
"Aku berani bersumpah, aku tidak menyentuh anakmu, lagipula ia hanya menjadi teman mengobrolku seharian ini dan hari ini aku memang akan mengembalikannya untuk pulang."
Ayahku melepas Akashi-kun, "Ternyata kau memang tidak seperti pria brengsek diluar sana. Hmm.. kalau begitu, jadilah pria yang lebih berwibawa darinya."
Apa? ayahku yang ganas saja dapat dengan mudahnya menghentikan semua amarahnya pada Akashi-kun. Sangat tidak biasa.
"Itu sudah menjadi kewajibanku, paman." balas Akashi-kun tegas.
Ayahku menepuk pundakku lagi, "Seharusnya kau berkata jujur soal hal ini, tapi selama kau tidak melakukan hal semacam 'itu', aku masih bisa memaafkanmu, setidaknya jangan sampai ibumu tau saat ini, ia masih sakit."
"Baik, ayah."
"Yasudah, biarlah Akashi-san yang menemanimu seharian ini. Kau sudah sangat dewasa, aku punya hak untuk memutuskan, selama tidak menyimpang. Sudahlah, kalian boleh pergi lagi."
Aku dan Akashi-kun pun langsung keluar dari rumahku dan sepintas ku lihat ayahku menyunggingkan ujung bibirnya, ia tersenyum kepadaku. Ternyata, walaupun kejujuran itu menyakitkan, tapi kejujuran itu yang menjadi dasar suatu relasi yang baik.
"Kau melakukan hal yang benar, Tetsuya."
"Itu berkatmu, Akashi-kun."
Lagi-lagi Akashi-kun memasang wajah datarnya, tapi tetap ku lihat senyuman tipis yang dipaparkannya itu.
"Mau menemaniku seharian ini? Mungkin kau memang seharusnya menginap di apartement ku lagi."
"Tentu saja.."
Mungkin sebaiknya ku buang jauh dulu pertanyaan-pertanyaan dalam pikiranku tentang Akashi-kun, aku yakin, akan ada saatnya ia mengatakan yang sebenarnya.
TBC
A/N : Update pun sukses..hehe..
Untuk next chapter yaitu Chapter 4, akan kembali didominasi dengan author POV.
Mohon kesabarannya menanti chapter selanjutnya yang lebih banyak menyimpan misteri dan hal-hal lain yang menjadi warning sebelumnya #IYKWIM :D semoga chapter-chapter sebelumnya dan yang ini cukup memuaskan.
Mind to review?
