IMPERFECT LOVE

Cast : Sehun, Jongin, Luhan, Kris, Suho, etc

Terima kasih untuk semua yang udah review, fav and follow nih ff, maaf ga bisa nyebutin nama kalian satu-satu.

Yang minta sequel, kali ini aku kabulin tapi fokus sama keluarga KaiHun aja ya (^_^)

No edit, typo bertebaran.

KaiHun Lovea

.

.

.

.

.

.

Siapa bilang mengurus dua orang anak itu mudah? Bagi Sehun itu hal yang cukup sulit apalagi di tambah dengan ketidak hadiran Jongin untuk membantunya. Suami tampannya itu saat ini berada di luar kota untuk urusan pekerjaan dan menyisakan Sehun menjadi satu-satunya orang di dalam rumah yang harus sedikit kerepotan mengurus kedua anaknya. Sebenarnya semuanya tak akan berubah menjadi repot seandainya si sulung, Reon, bersikap manis hari ini. Tapi entah kenapa sejak pulang dari sekolahnya, Reon mulai bertingkah rewel. Si sulung yang biasanya tidak membantah apapun yang dikatakan Sehun padanya kini sama sekali tidak mau menurut. Entah karena efek terlalu kelelahan bermain bersama teman-temannya, yang jelas bocah berumur empat tahun itu sama sekali tidak bersikap manis hari ini.

Jadilah, Sehun yang baru saja mengganti pakaiannya dengan kaos berwarna kuning yang terlihat kebesaran, serta celana pendek berwarna hitam yang memperlihatkan lebih dari separuh paha mulusnya, kini harus kerepotan mengurus Reon yang bandel dan juga si bungsu Rayna yang mulai rewel karena ini memang sudah waktunya bagi bayi manis berumur dua tahun itu untuk tidur siang. Tapi bagaimana Sehun bisa menidurkan putri bungsungnya kalau si sulung masih bertingkah rewel.

Sehun memperbaiki kaca mata yang bertengger di atas hidung mancungnya, ia mengambil karet gelang dan mengikat poninya ke atas dengan memakai itu. Sebelum kemudian menggendong Rayna yang hampir menangis karena ingin tidur.

"Mbul sayang, makan dulu ya," Sehun berusaha membujuk anak sulungnya.

"Tidak mau," Reon langsung menolak tawaran Sehun.

"Kalau begitu mau mandi bebek sama mama?" Sehun belum menyerah untuk membujuk anaknya. Tangannya meraih botol susu milik Rayna dan membiarkan putri bungsunya itu menyusu dari botol tersebut.

"Tidak mau, pokoknya Mbul mau papa."

"Papa kan sedang kerja, nanti kalau papa pulang, Mbul bisa main sepuasnya sama papa." Si sulung memang sangat dekat dengan Jongin dan ini rekor terlama bagi si sulung berpisah cukup lama dengan ayahnya, hampir seminggu ini Jongin belum pulang ke rumah dan mungkin itu yang memicu si sulung mulai bertingkah rewel karena efek kangen dengan ayahnya.

"Tidak bisa sayang, papa masih kerja. Mbul mau apa, mau ayam goreng? Biar mama buatkan," tawar Sehun.

"Tidak mau, Mbul mau makan kalau sama papa." Reon menggeleng kuat-kuat, ia menolak sepiring nasi dengan lauk udang goreng kesukaannya yang disodorkan ibunya.

"Sedikit juga tidak apa-apa, tapi Mbul harus makan, nanti sakit."

"Tidak mau. Mbul mau papa."

Prang

Sehun memejamkan matanya saat dengan kasar Reon menepis piring itu hingga jatuh dari atas meja. Habis sudah kesabarannya, apalagi Rayna yang mendengar suara piring jatuh langsung menangis karena terkejut.

"Cup cup cup, tidak apa-apa sayang, jangan menangis." Sehun berusaha membujuk putrinya yang masih menangis sesenggukan.

"Hiks... Maaaa..."

"Iya, tidak apa-apa, oppa hanya tidak sengaja melakukannya," Sehun mendelik pada putra sulungnya, namun Reon malah memalingkan wajahnya ke arah lain. "Tunggu mama di sini, jangan kemana-mana. Mama mau menidurkan adikmu dulu."

"Mama jahat, Mbul mau main sama papa."

Sehun hanya diam, ia terus berusaha membujuk Rayna untuk berhenti menangis.

"Maaa..." Rayna menatap wajah ibunya dengan matanya yang basah oleh air mata.

"Apa Ndut sayang?" Sehun meringis saat menyadari kalau anaknya kembali demam. Tadi malam ia sudah begadang semalaman hanya karena si bungsu demam dan susah tidur, baru pagi tadi demam anaknya turun dan sekarang demamnya kembali lagi. "Ndut minum obat dulu ya."

Rayna sudah berhenti menangis dan anak itu hanya diam sambil bersandar di dada Sehun. Sehun hampir menangis saat melihat anaknya yang biasanya aktif dan ceria terlihat lesu seperti ini. Ingin rasanya ia menelpon Jongin dan mengatakan bagaimana kondisi anaknya tapi mengingat ucapan Jongin kemarin yang mengatakan ia sangat sibuk membuat Sehun mengurungkan niatnya, ia tak mau menambah beban pikiran Jongin, akhir-akhir ini perusahaan milik ayah mertuanya itu memang mengalami masalah dan karena itulah Jongin harus rela terpisah dengan keluarganya selama hampir seminggu ini.

Setelah memberikan obat pada si bungsu, Sehun segera membaringkan tubuh anaknya di atas ranjangnya yang empuk.

"Papa..." ucap Rayna lirih saat Sehun memberikan boneka pinku-pinku untuk dipeluk anak itu.

Sehun membelai surai anaknya dengan lembut, "Papa sedang kerja, sebentar lagi juga pulang. Ndut tidur dulu ya, nanti saat Ndut bangun, mama janji papa sudah ada di sini."

"Ndut cayang mama..." ucap Rayna ketika Sehun dengan telaten menempelkan plester penurun demam pada keningnya.

"Dan mama juga menyayangimu. Sini mama peluk dan anak mama harus cepat tidur ya."

Tak butuh waktu lama bagi Rayna untuk bisa tertidur dengan pulas dan Sehun melepaskan pelukannya saat merasa yakin kalau putrinya sudah tidur dengan nyenyak. Masih ada satu masalah lagi yang harus ia selesaikan sekarang. Mengingat si Reon, Sehun mendesah lelah. Apa sebegitu rindunya Reon pada ayahnya ataukah ini hanyalah karena faktor kelelahan saja hingga anak sulungnya menjadi rewel? Sehun yakin sepertinya karena kedua alasan tersebutlah anaknya yang manis berubah menjadi rewel.

Saat Sehun tiba di ruang makan, Reon masih ada di sana menatapnya dengan wajah cemberut. Sehun sengaja mengabaikan tatapan Reon, ia malah menatap pada lantai yang kotor karena makanan yang berserakan dan tentunya pecahan piring yang berhamburan kemana-mana. Oke, ia bisa membereskan semua kekacauan yang di akibatkan anaknya itu, sekarang yang terpenting adalah mengatasi kerewelan anaknya dulu.

"Jadi, Mbul sudah memutuskan untuk makan apa siang ini? Biar mama masakkan."

Reon memajukan bibir bawahnya, "Mbul tidak mau makan, Mbul mau papa."

"Sayang, mama kan sudah bilang kalau papa sedang kerja. Nanti kalau papa sudah pulang, Mbul bisa sepuasnya main bersama papa."

"Tapi Mbul maunya sekarang."

"Mbul mau mandi? Ayo mandi sama mama." Sehun mencoba mengalihkan perhatian anaknya, selain itu ia juga merasa gerah karena dari pagi sampai siang seperti ini ia belum sempat mandi dan Sehun sangat yakin kalau penampilannya sangat kacau saat ini."

"Tidak mau."

"Atau Mbul mau main sama kakek dan nenek?" Sehun teringat akan orang tuanya, Ya sejak kelahiran Reon, Sehun memang berusaha memperbaiki hubungan dengan ayahnya dan sekarang meski hubungan mereka masih agak kaku paling tidak Sehun sudah mau memanggil appa lagi pada ayahnya tersebut.

"Sudah Mbul bilang, Mbul maunya sama papa," Wajah Reon makin cemberut.

"Papa tidak akan datang kalau Mbul rewel seperti ini, bukankah papa bilang pada Mbul untuk jadi oppa yang keren bagi Ndut, tapi mana buktinya, Mbul rewel sekali."

"Mbul, oppa yang keren," bantah Reon.

"Kalau begitu ayo makan, atau paling tidak minum dulu susunya," Sehun mendesah lagi saat menyadari kalau susu itu sudah dingin karena terlalu lama di diamkan.

"Tidak mau," Reon menepis gelas susu itu hingga jatuh dari atas meja dan menimbulkan suara keras saat pecah berantakan di lantai, menyisakan lantai yang semakin kotor dengan tambahan tumpahan susu.

Cukup sudah, dengan sekali gerakan Sehun merenggut tubuh Reon dari atas, memutar tubuh bocah gembul itu di gendongannya dan kemudian memukul pantatnya dengan cukup kuat.

Sesaat Reon hanya diam, sebelum kemudian menangis dengan keras.

"Cukup Kim Reon, apa pernah mama mengajarkanmu untuk bertingkah rewel seperti ini?"

"Huwaaaaa... papa..."

"Ya, terus saja panggil papamu dan papamu tidak akan datang. Ia pasti kecewa karena anak kesayangannya tidak menjadi oppa yang keren lagi."

"Hiks, Mbul oppa keren."

"Sekarang tidak, karena kau rewel sekali."

"Hiks... Mbul hanya ingin main sama papa."

Sehun memejamkan matanya sesaat sebelum ia menatap anaknya dengan tatapan yang terlihat sedih. "Baik, kau ingin main sama papamu kan. Sekarang kita ganti baju dan mama akan mengantarmu pada papamu."

Reon memberontak saat Sehun menggendongnya menuju kamar bocah itu. "Diamlah," sekali lagi Sehun memukul pantat anaknya. "Kau bisa adukan mama nanti pada papamu. Katakan padanya kalau mama tidak bisa mengurusmu dengan benar."

Mata Sehun basah dengan air mata saat ia menurunkan Reon di lantai kamar tidur bocah itu. "Yang kau pikirkan hanya papamu kan, tak ada mama. Jadi mama akan mengantarmu pada papamu. Kau sama sekali tidak mau menurut pada mama hari ini." Sehun melepaskan kaos yang di pakai anaknya tanpa sekalipun menatap balik pada anaknya yang terlihat begitu sedih.

"Mama..." panggil Reon pelan.

Sehun hanya diam, ia melepaskan celana pendek anaknya dan menyisakan celana dalam dengan motif superman yang di pakai anaknya.

"Mama..." Reon tidak menyerah ia masih memanggil ibunya.

"Apa?" Sehun menatap anaknya, "Kau ingin cepat bertemu papamu? Sabar sebentar, mama mengganti pakaianmu dulu."

"Mama menangis?" dengan jemari mungilnya Reon mengusap pipi Sehun yang basah. "Hiks... mama menangis karena Reon tidak jadi oppa yang keren?"

"Mama menangis karena Reon sama sekali tidak menurut pada mama hari ini. Adikmu sedang sakit sayang dan mama kerepotan kalau Reon tidak jadi oppa yang keren hari ini."

"Hiks... Mbul minta maaf mama..." Sambil menangis Reon memeluk leher Sehun dengan erat dan menenggelamkan wajah mungilnya dipundak sang ibu.

"Mama menyayangimu," Sehun balas memeluk tubuh mungil Reon, "Dan mama akan selalu memaafkan anak mama."

"Mbul juga sayang mama."

"Jadi... tetap ingin bertemu papamu?" Sehun melonggarkan pelukannya.

Reon menggeleng, "Mbul tidak mau merepotkan mama."

"Oppa keren..." Sehun mengacungkan kedua jempolnya dan Reon tertawa melihat itu, ia mengecup kilat bibir ibunya.

"Mbul oppa keren."

Sehun terkekeh pelan, "Nah, karena Mbul sudah menjadi oppa yang keren lagi kali ini Mbul mau mandi atau makan siang?"

"Mbul boleh minta ice cream?" tanya Reon penuh harap.

"Boleh, tapi nanti setelah Mbul makan."

"Kalau begitu Mbul mau makan saja."

"Baiklah, mama akan siapkan makan siangnya untuk Mbul," Sehun mengecup pipi chubby anaknya sebelum kemudian menggendongnya.

Keduanya baru tiba di ruang tengah saat mendengar suara bel berbunyi, langkah Sehun langsung terhenti. "Mungkin papamu sudah pulang?" tebaknya.

"Papa?" Reon menatap penuh harap pada ibunya.

"Ayo kita lihat," masih dengan menggendong Reon, Sehun melangkah ke pintu depan.

"Mama cepat..." Reon mulai terlihat tak sabaran.

"Iya sayang," menggunakan sebelah tangannya, Sehun membuka pintu itu dan ia langsung tertegun saat melihat siapa yang datang. "Eomma... appa..."

Ibunya tersenyum dan ayahnya hanya memandangnya dengan agak canggung. "Apa kabar Sehunie?"

"Baik appa," jawab Sehun, ia membuka pintu itu semakin lebar dan mempersilahkan keduanya untuk masuk.

"Cucu nenek kenapa tidak pakai baju eoh," Suho mencium pipi Reon yang masih ada di gendongan Sehun. "Mau nenek gendong?"

Namun Reon hanya menggelengkan kepalanya dengan lesu.

"Ada apa dengannya?' tanya Suho heran, tak biasanya cucunya terlihat tidak antusias dengan kedatangannya.

"Mbul sedang kangen ayahnya, eomma." Jawab Sehun.

"Ah, Jongin..." Suho menoleh ke halaman.

"Apa Jongin bersama kalian?" tanya Sehun.

"Ya, sepertinya mereka datang terlambat," gumam Kris.

"Mereka?" tanya Sehun, "Memangnya Jongin datang dengan siapa?"

Dan pertanyaan itu langsung terjawab saat mobil yang sangat Sehun kenali memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di samping mobil ayahnya. Wajah Sehun berubah datar saat melihat saat siapa yang keluar dari dalam mobil bersama Jongin, itu Luhan.

Sehun memang sudah diberitahu ibunya kalau Luhan sudah keluar dari rumah sakit jiwa dalam kondisi yang baik, namun ia tak menyangka kalau Jongin bisa bersama lagi dengan Luhan seperti ini.

"Papa..." Reon berontak dari gendongan Sehun saat melihat ayahnya, dan Sehun segera saja menurunkan anaknya itu dan membiarkan anaknya berlari menyambut ayahnya. "Papa..."

"Omo, jagoan tampan papa semakin berat," Jongin tersenyum cerah saat ia menggendong anaknya dan mencium pipinya.

"Hehehe..." Reon tertawa bahagia. "Apa Mbul berat?"

"Tentu saja sayang, ah pinggang papa sakit." Jongin pura-pura meringis kesakitan hingga Reon melonjak-lonjak kegirangan di gendongannya.

Puas mencium Reon, pandangan Jongin beralih pada Sehun yang masih berdiri diam di tempatnya. "Sayang..." panggilnya seraya mendekat.

Sehun membiarkan Jongin mencuri satu ciuman di pipinya sebelum kemudian ia meraih tas yang Jongin bawa dan membawanya ke dalam. Jongin mengerutkan keningnya meliha tingkah Sehun, namun perhatiannya kemudian teralih pada Reon yang berinteraksi dengan Luhan.

"Eomma dan appa istirahatlah dulu, aku akan buatkan minuman," Sehun meletakkan tas Jongin di salah satu sofa, ia melirik ke belakang dan mendengus kesal pada Luhan yang mengekor di belakang Jongin.

"Maaf," gumam Kris.

"Apa?" tanya Sehun.

"Kami tak sengaja bertemu Jongin saat beristirahat di rest area dan Luhan..." Kris menatap Sehun dengan pandangan bersalah. "Luhan memaksa ingin ikut di mobil Jongin, katanya ada yang ingin ia bicarakan dengan suamimu itu."

Sehun diam.

"Percayalah Sehun, kami sudah berusaha membujuknya untuk tidak melakukan itu, kau tahu bukan betapa susahnya bagi appa untuk mendapatkan maaf darimu dan appa tidak ingin kau marah lagi pada appa. Tapi Luhan mengancam akan membuat keributan lagi jadi Jongin mengalah dan membiarkan Luhan ikut dengan mobilnya."

"Aku mengerti," Sehun memaksakan senyumnya, "Aku akan membuatkan minum, eomma dan appa pasti haus."

Saat Sehun kembali ke ruang tengah tempat keluarganya berkumpul, ia kembali melihat Luhan yang terus menempel pada suaminya dan Jongin yang terkesan tak menghindar membuat hati Sehun kesal, jadi setelah ia meletakkan minuman itu di atas meja, ia langsung kembali ke dapur, berniat untuk membereskan kekacauan yang disebabkan oleh Reon.

"Rumahmu bagus juga ya Sehun."

Suara itu membuat Sehun yang sedang membersihkan serpihan kaca di lantai mendongak dan ia langsung bertemu pandang dengan Luhan yang berdiri dengan tangan bersidekap di dada, tak jauh dari posisinya.

"Kenapa?"

"Huh?"

"Kenapa kesini? Belum puas menggoda suami orang?" tanya Sehun sinis.

"Apa?" mulut Luhan terbuka lebar mendengar ucapan Sehun.

"Bukankah dulu kau yang meninggalkannya karena kau bilang ia cacat. Tapi kenapa sekarang kau ingin mendekatinya lagi?"

Luhan terdiam sesaat, "Sehun, aku tidak berniat seperti itu lagi."

"Lalu apa? kau ingin mencuri kebahagiaanku lagi?" Sehun setengah berteriak saat bicara pada Luhan, ia tak peduli dengan orang tuanya yang datang tergopoh-gopoh menghampiri keduanya, atau Jongin yang tampak cemas dengan Reon yang masih berada di gendongannya.

"Tidak cukup kah kau selama ini merampas semuanya dariku? Apa salahku padamu? Aku bahkan tak pernah mengusikmu seumur hidupku, tapi kau terus-terusan mencuri kebahagiaan dariku. Kau meninggalkan Jongin seperti sampah di jalanan, kemudian sengaja melemparkan aku padanya dengan tujuan agar aku bisa memolesnya agar orang yang kau anggap sampah itu kembali bisa berkilau dan setelah semua pengorbanan yang aku lakukan kau ingin merebutnya lagi dariku. Dulu... aku mungkin akan mengalah darimu Luhan tapi tidak sekarang."

Luhan hanya diam mendengar ucapan Sehun.

"Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi lagi, aku punya anak dan kali ini demi anakku aku tak akan melepaskan Jongin padamu. Aku tak peduli meski Jongin mungkin akan kembali mencintaimu atau tidak, aku tak akan membiarkanmu mengambilnya dariku."

"Dengan tampilanmu yang seperti itu?" tanya Luhan lirih.

"Aku mungkin memang tidak seperti dirimu," Sehun bangkit perlahan dari jongkoknya, "Jongin mungkin akan cepat bosan denganku karena tampilanku yang membosankan ini, tapi kami punya anak dan aku yakin Jongin tak akan meninggalkanku kalau ia sayang pada anak-anaknya."

"Sehun, Luhan, cukup nak. Jangan bertengkar lagi," Suho ingin menghampiri keduanya namun langkahnya tertahan karena Sehun memberi kode padanya untuk tidak mendekat.

"Kau selalu egois dan ingin menang sendiri, sudah cukup aku mengalah padamu."

"Bagaimana kalau Jongin lebih memilihku dari pada dirimu Sehun, apa yang akan kau lakukan? Tetap mempertahankannya dan membiarkan ia tersiksa bersamamu?"

"Apa?"

"Setidaknya perbaiki dulu tampilanmu itu, Jongin akan meninggalkanmu kalau kau bahkan tidak merawat dirimu sendiri."

Sehun tahu sekucel apa dirinya sekarang, mandi keringat dan bahkan belum mandi sama sekali, yang jelas ia sangat berantakan. "Jangan berpura-pura peduli padaku," desis Sehun. "Kalaupun itu terjadi..." pandangan Sehun lurus pada Jongin yang sedari tadi terus menatapnya. "Seumur hidupku aku akan menjauhkan anak-anakku darinya."

"Dan itu tak akan pernah terjadi," balas Jongin dengan tenang. Ia menyerahkan Reon ke dalam gendongan Kris sebelum melangkah mendekat pada istrinya dan merangkulnya dengan posesif. "Seperti yang aku bilang di dalam mobil tadi Luhan, tak akan ada kesempatan kedua lagi untukmu. Bahkan meski kau menari telanjang di depanku, tetap bukan kau yang aku inginkan. Itu hanya Sehun."

Luhan terdiam.

"Lihatlah kenyataannya, tak seharusnya kau egois hanya karena cinta. Mencintai apa yang tidak bisa kamu miliki lagi kadang hanya akan membuatmu fokus pada obsesi yang tak berujung. Kau harus belajar untuk merelakan, karena kerelaan untuk tidak memiliki apa yang kamu inginkan adalah makna cinta yang sesungguhnya. Cinta bukan suatu hal yang harus dipaksakan. Aku bahagia bersama Sehun dan anak-anak kami. Percayalah semua memang butuh proses, tapi yakinlah suatu saat kau akan mendapatkan yang lebih baik dengan cara yang benar tanpa harus mengambil milik orang lain."

Mata Luhan berkaca-kaca saat ia mendengar kata-kata itu meluncur dari mulut Jongin, tanpa sepatah kata ia membalikkan badannya dan melangkah keluar dari ruangan itu, namun saat tiba di pintu dapur ia menghentikan langkahnya sebentar. "Kau benar Sehun, aku memang saudara yang buruk. Maaf, karena kau harus memiliki darah yang sama denganku."

Setelah itu Luhan pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Eomma apa tidak sebaiknya kalau eomma menyusulnya?" tanya Sehun lirih.

"Tapi sayang..."

"Aku tak apa, lebih baik eomma dan appa menenangkan Luhan dulu, ada Jongin di sini, aku akan baik-baik saja."

Kris menyerahkan Reon kembali ke gendongan Sehun, ia mengecup kening anaknya dengan lembut. "Appa dan eomma akan berusaha secepat mungkin untuk menemuimu lagi."

Sehun mengangguk. Ia membiarkan ibunya juga mengecup pipinya sebelum pasangan itu meninggalkan ketiganya di dapur.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jongin memecah keheningan. "Kenapa dapur kita berantakan sekali?"

"Tanyakan pada anakmu yang rewel karena papanya tidak ada disini."

"Mbul...?" pandangan Jongin beralih pada putra sulungnya.

"Mbul tidak nakal papa, mbul kan oppa keren."

"Benarkah?" goda Jongin.

"Umm..." Reon mengangguk dengan semangat.

"Kalau Mbul oppa keren, bisa Mbul temani adik Ndut sebentar? Ada yang ingin papa bicarakan dengan mama." Jongin ingat ini masih jam tidur putri bungsunya dan ia akan memanfaatkan waktu itu untuk bicara dengan Sehun.

"Siap papa..." dan setelah Sehun menurunkan Reon dari gendongan, bocah itu dengan semangat segera keluar dari dapur, menyisakan kedua orang tuanya yang saling pandang.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Sehun.

"Entahlah, mungkin tentang istriku yang marah padaku karena Luhan yang ikut menumpang di mobilku?"

Sehun mendesah pelan, "Aku tak marah padamu."

"Lalu?" Jongin menarik pinggang Sehun untuk merapat ke tubuhnya.

"Hentikan Jongin, aku belum mandi, tubuhku bau dan penampilanku berantakan."

"Memang apa masalahnya bagiku," Jongin mengecup leher Sehun yang basah keringat. "Kau tetap wangi," bisiknya.

"Jongin..."

"Sejak kapan Sehun?" Jongin menyatukan kening keduanya dan menatap mata Sehun dengan dalam. "Sejak kapan kau meragu seperti ini, apa karena aku tidak ada di sampingmu selama hampir seminggu ini?"

"Aku tak tahu," balas Sehun.

"Kau tahu tak sedikitpun aku ingin berpaling darimu."

"Bahkan meski tampilanku yang seperti ini?"

"Kau malah membuat adik kecilku terbangun karena tampilanmu seperti ini," bisik Jongin seraya menekankan pinggulnya ke pinggul Sehun dan Sehun dapat merasakan sesuatu yang mengeras milik Jongin dan wajahnya langsung berubah merah padam. "Kau tahu semakin kau berantakan setelah mengurus anak-anak kita, semakin aku mencintaimu dan menginginkanmu."

"Apa kau suka dengan tampilanku yang seperti ini?"

"Sangat." Tangan Jongin menangkup bongkahan padat milik Sehun dan meremasnya dengan lembut. "Ya Tuhan, betapa aku sangat merindukanmu."

"Hanya padaku?"

"Tentu saja anak-anak kita juga sayang."

Sehun tersenyum, ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Jongin dan mengecup bibirnya sekilas. "Seharusnya aku tahu kalau aku tak boleh bersikap ragu padamu."

Jongin ingin menjawab, tapi suara tangisan yang terdengar dari dalam kamar putrinya membuatnya mengurungkan niatnya. "Sepertinya yang mengaku oppa paling keren, berbuat ulah lagi," Jongin terkekeh pelan.

"Dan saatnya papa tampan yang menenangkan keduanya." Balas Sehun.

"Ya, dan tentunya mama yang cantik juga," Jongin mengecup bibir Sehun, menepuk pantatnya yang berisi sebelum kemudian mengulurkan lengannya di hadapan Sehun.

Sehun tersenyum, ia menggandeng Jongin dan keduanya berjalan dengan pelan menuju kamar anak mereka.

"Jongin..." panggil Sehun pelan saat mereka tiba di depan kamar Rayna.

"Ya?"

"Aku mencintaimu."

Jongin tersenyum, ia menarik tubuh Sehun ke dalam pelukannya. "Kau adalah awal dan akhir untukku Sehun dan ya, aku mencintaimu selamanya."

.

.

.

.

.

.

END

Akhirnya bisa publish sequelnya, untuk anak kaihun, bayangin aja yang cowo mirip ma Jongin dan yang cewe mirip ma Sehun. hehe...

Mohon komennya ya

Salam Kaihun Hardshipper

KaiHun Lovea