Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Einer
(Chapter 4)
.
.
-Kuroko POV-
.
.
PEMANDANGAN itu memukau.
Kutatap pemandangan di sekelilingku dengan takjub.
Aku sedang berada di padang rumput yang sangat luas dan aku tidak sendirian. Di sekitarku, berdiri tegap beberapa orang lainnya, paras wajah mereka sangat tak asing, mereka tampan dan bertubuh kekar. Oh ya, mereka berjumlah sekitar empat orang. Ku lihat mereka sedang bergumul, tapi aku tak dapat melihatnya dengan jelas.
"Itu dia..." teriak salah satu dari mereka membuat yang lainnya ikut melihat ke arahku, perlahan mereka berjalan ke arahku, saat itu baru ku sadari wajah mereka, mereka adalah orang-orang yang sempat menculikku.
Baik..baik, aku sekarang mengenal mereka, si rambut hijau adalah Midorima, si rambut kuning adalah Kise, si rambut biru keunguan adalah Aomine, dan si rambut merah hitam itu adalah Kagami. Sudah jelas, merekalah orang-orang yang sudah pernah ku temui sebelumnya.
"Lakukan saja, Aomine." bisik salah satunya. Si empunya nama yang dibisiki itu kini menghampiriku dengan cepat, menahan bahuku, menatapku jahat, dan mulai merabaku.
"Lebih cepat lebih baik." cetusnya dengan seringai. Ia dengan paksa merobek kaosku dan menjelajahi setiap badanku dengan rabaan tangannya.
Teman yang lainnya berdiri melingkari kami, mereka memerhatikan kami dengan wajah mesum itu.
Perlahan ia meraba celanaku dan menariknya, aku hanya bisa menutupi bagian bawahku dengan tanganku, walaupun ia terus memaksa tanganku untuk tidak menutupi dan memaksakan tangannya menyentuh 'milikku'. Karena tubuh mungilku, dengan mudahnya tanganku disingkirkan olehnya dan ia berhasil mengambil keinginannya dariku itu.
"Ukurannya lumayan untuk uke sepertimu. Haha.."
Rasa apa yang ku rasakan ini? nikmat? tidak mungkin kenikmatan muncul tanpa keinginanku, ini sama saja aku sedang dimainkan.
"Berhentilah!" teriak orang lain dari arah berbeda dan menghampiri mereka, bahkan menampar wajah si rambut biru keunguan itu.
"Akashi-kun." teriakku senang saat melihat sosok yang ku kenal baik menghampiriku dan membuat orang-orang jahat itu mundur.
"Aku tau, kau memang akan menyelamatkanku."
Akashi-kun hanya diam, ia melirik kepada ke empat orang itu, kini mereka menunduk, sepertinya mereka memang takut dengan Akashi-kun.
"Tetsuya.."
"Apa?"
Akashi-kun membuka kemeja yang ia kenakan, "Lakukanlah denganku."
Apa?
"Maksudmu apa?"
"Lakukanlah denganku, Tetsuya."
Akashi-kun menindih tubuhku, ia menarik pakaian terakhir yang ku gunakan, saat ini aku benar-benar sudah tak berbusana. Akashi-kun merenggangkan kedua pahaku, ia membimbing 'miliknya' dan didekatkan kepada tempat yang ekstrim milikku.
"Kau akan terbiasa dengan ini." Akashi-kun perlahan memasukkan miliknya, sial! kenapa tubuhku tidak mau melawan?
"Aaaaaaaaa..."
"Kuroko..sstt.."
"Tidakkkk..."
"Kuroko..sstt.."
Are? tunggu dulu. Suara kerusuhan tadi kini menjadi hening. Jadi, itu semua hanya mimpi. Huh! Yokatta!
Aku membuka mata dan keluar dari dunia mimpi. Ku kerjap-kerjapkan mata dengan bingung saat mendapatkan diriku berada di tempat asing... Tidak, ini bukan tempat asing. Ini tempat tidurku sendiri di rumah keluargaku. Sesaat, ruangan ini telihat asing karena sudah lama aku tidak tinggal di sini.
Tanpa bangkit dari posisiku, kusibakkan tirai jendela, mendapatkan langit di luar sana matahari baru saja terbit.
Baiklah, aku tau mungkin mimpiku tadi tidak menyenangkan, tapi intinya langit baru saja menerang, itu berarti masih banyak waktu untukku kembali tidur. Lagi pula, siapa tau aku bisa membalikkan mimpi buruk menjadi mimpi indah.
Aku berbaring kembali dan memejamkan mataku untuk kembali tidur, tapi ku dengar teguran lembut yang sama dengan suara yang sudah membangunkanku, "Sudah setengah tujuh pagi."
"Okasan?"
"Bangunlah, ibu buatkan sarapan."
Dengan semangat aku beranjak dari kasurku, walau biasanya aku pemalas, mungkin karena sekarang aku berhasil diterima disini lagi dan mendapat kasih sayang yang sama persis seperti beberapa bulan yang lalu, ini sudah lebih dari cukup bagiku.
Saat sampai di ruang makan (Tentunya tidak lupa untuk membersihkan diri), aku melihat kedua orang tuaku duduk dan menyiapkan tempat untukku juga. Aku dapat mencium aroma masakan ibuku yang paling ku favoritkan ini, aku benar-benar merindukan masakannya.
"Makan yang banyak, Kuroko." cetus ayahku.
Aku mengangguk dan mengambil makanan itu. Baru saja ku cicip dua suapan masakan ibuku, rasanya air mata kerinduanku telah mengalir, masakan yang paling ku favoritkan dan paling ku nantikan sejak beberapa bulan lalu.
"Mulai sekarang, janganlah pergi lagi dari rumah, Kuroko. Kami menyayangimu." kata ayahku.
Ku perjelas sedikit, mungkin banyak yang mengira aku kabur dari rumah atau keluargaku kacau sampai-sampai aku pergi dari rumahku, tentu saja itu semua salah.. aku pergi dari rumahku karena suatu masalah yang berasal dari diriku sendiri, tapi menurutku itu semua hanyalah masa lalu.
"Yah..bu.. boleh aku pergi dengan Akashi-kun?"
"Tentu saja kau boleh, tapi jangan pulang sampai larut ya."
"Terima kasih, yah..bu.."
Seusai makan, aku mengambil tas dan beberapa perlengkapan utamaku untuk segera pergi menemui Akashi-kun, sebenarnya aku tidak ada rencana untuk pergi dengannya atau bahkan menghubunginya saja aku tidak, tapi karena aku memang tidak ada teman untuk pergi, sebaiknya aku memintanya untuk menemaniku, entah apa responnya nanti.
Aku pergi menuju apartement Akashi-kun, aku membelikannya beberapa makanan dan minuman kecil, ya walau uangku tidak banyak dan aku sudah menyetor uang hasil taruhan itu untuk keperluan pribadiku, mungkin ini adalah cara kecil untuk membalas kebaikan Akashi-kun. Sesampainya aku di apartement Akashi-kun, suasana tidak seramai biasanya, hanya dingin udara dan hembusan angin kencang yang paling terdengar di telingaku, baru saja satu hari aku berpisah dengan pemuda bermata heterochromia ini, aku merasa baru saja kehilangan kerabat terdekatku, padahal hanya satu hari juga aku mengenalinya.
"Akashi-kun..."
Ku ketuk pelan pintu apartementnya itu, tidak ada jawaban.
Ku intip juga dari lubang kecil di pintunya, kelihatannya ruangannya sangat gelap, apa ia pergi? tidak mungkin! Akashi-kun tidak pernah pergi keluar pagi-pagi sekali.
Merasa tak tahan menunggu lama, aku mencoba membuka pintu apartementnya itu.
"Tidak dikunci?" cetusku dalam hati, bahkan ia juga tidak mengunci pintu apartementnya. Aku kuatir ada hal buruk menimpanya.. ah.. Tidak.. aku tidak boleh berpikir negatif seperti ini.
Baru saja ku masuki kamarnya itu, baru saja ku sadari, aku menginjak beberapa kaleng dan botol minuman. Aku mengambil salah satunya, "Sake?"
Tidak mungkin! Akashi-kun tidak mungkin meminum minuman seperti ini, padahal setiap ku tatap wajahnya yang penuh wibawa itu, seolah memberiku kode keras bahwa ia adalah pemuda yang baik.
Dengan sedikit resah, aku berjalan mengikuti arah kaleng dan botol itu bertebaran, sampai akhirnya mataku terbelalak karena kaget melihat sosok yang sedang duduk di sofa dengan wajahnya yang sangat semu itu. Aku melihat Akashi-kun, ya.. Akashi-kun, sedang duduk di sebuah sofa sambil meminum beberapa botol sake, wajahnya suram semu, seolah tak ada harapan baginya untuk melanjutkan hidup.
"Akashi-kun.." ku panggil pelan namanya, tapi ia tidak sedikitpun melirikku. Kali ini, aku benar-benar tidak mampu menatap matanya yang berbeda warna chrom itu, ia bukanlah seperti Akashi-kun yang ku kenal sebelumnya.
"Tetsuya.."
Tidak lama, ia membalas panggilanku, ia sedikit melirikku. Entah mengapa, rasanya hanya kesemuan yang ku lihat di wajahnya. Aku tau, pasti banyak hal yang ia pikirkan dan menjadi beban.
"Kau kenapa?"
"Tetsuya, gomennasai.. aku tidak bisa pergi denganmu."
"Ayo! kita pergi ke suatu tempat, keadaanmu saat ini tidaklah baik, Akashi-kun."
Ku tarik kuat tangannya, tapi tenagaku terlalu lemah, aku hanya tidak ingin melihatnya seterpuruk ini, ingin sekali aku membantunya.
"Sebaiknya kau pergi, Tetsuya.."
Apa?
Sungguh, ini bukanlah kesalahan penglihatanku atau sekedar mimpi, tepat di depan kedua mataku sendiri, aku melihatnya.. menangis?
Aku tidak tau apa yang menjadi beban di pikiran dan hatinya itu, apapun itu, pasti perasaan itu sangat menusuknya.
Ku usap matanya yang dilinangi air mata, ku nyalakan lampu ruangan agar lebih terang dan membuang beberapa kaleng dan botol sake itu, bahkan tak ragu ku rebut botol sake yang sedang ia minum itu.
"Ganti pakaianmu! Kita akan pergi."
Ia menatapku bingung, mungkin saat ini aku terlalu sok jagoan, tapi itu lebih baik daripada aku melihatnya kacau seperti ini. Tanpa merespon apapun, ia memasuki kamar tidurnya itu, dan dalam waktu 5 menit, ia sudah siap memakai pakaiannya yang rapi.
"Terima kasih, Tetsuya. Mungkin kau benar, keadaanku saat ini memang sedang kacau total."
Dengan senyum simpulku, ku respon kata-katanya. Senang kalau bisa melihat semangatnya kembali lagi.
Aku dan Akashi-kun pun pergi ke taman yang kemarin kita datangi, karena hanya tempat itulah yang setidaknya cocok untuk merefresh pikiran.
"Akashi-kun, makanlah."
"Apa ini?"
"Hanya makanan kecil. Gomennasai.. aku tidak dapat membelikan makanan yang mahal untukmu."
"Ah.. tak masalah, senang kalau kau yang memberikannya, Tetsuya."
Tidak perlu melihatnya tersenyum, melihatnya makan saja aku sudah merasa berguna untuknya, aku juga tidak mau hanya merepotkannya tanpa memberi keuntungan balik.
"Ahh.. Ano.."
"Ada apa, Tetsuya?"
"Hmm.. maaf kalau aku terlalu ingin tau urusanmu, tapi kalau memang diperbolehkan, memang kau ada masalah apa? ini sudah kedua kalinya aku melihatmu.. ehmm.. mena..eehh.. bersedih."
Mendengar kata-kataku, Akashi-kun langsung menghentikan aktivitas makannya itu dan kini membuat kedua chrom matanya melihat ke arahku dengan tajam.
"Tidak masalah apabila kau tidak ingin menceritaka-" tiba-tiba ia menepuk bahuku.
"Ini semua terjadi saat kau pulang ke rumahmu."
"Eh?"
*Flashback (Akashi POV)*
"Akashi Seijuro.."
Suara-suara yang tak asing kini memanggilku, ku lirikkan pandanganku ke arah suara-suara itu, dan ku dapati kawan-kawan.. atau kawan-kawanku dulu menghampiriku.
Mereka adalah Kise Ryouta, Midorima Shintarou, Aomine Daiki, dan Atsushi Murasakibara. Jujur, dari mereka semua, hanya Shintarou yang memang dekat denganku sejak SMP, tapi itu semua berubah saat kami terjerumus dalam dunia dewasa yang ekstrim. Ya, kami bahkan memiliki geng bernama Generation of Miracle, dari namanya, sudah jelas bahwa kami adalah generasi keajaiban yang sangat terkenal, tapi sayang, semua berawal dari Aomine Daiki. Daiki menyerahkan hidupnya ke dalam dunia kacau melalui sebuah tempat taruhan misterius, semua sempat mengkritisi tindakan bodohnya itu, tapi perlahan-lahan beberapa dari kami ikut terjerumus, bahkan aku juga.
"Aka-chin?" sapa Murasakibara dengan polosnya sambil memakan cemilannya yang membuatku muak.
"Kembalilah, kami membutuhkan sosok sepertimu lagi, nanodayo." cetus Shintarou tiba-tiba.
"Sejak kapan kau bergabung lagi dengan GoM, Atsushi? bukankah kau tidak tertarik dengan dunia ekstrim seperti Daiki."
"Akashi, itu semua hanyalah masa lalu, aku pun tidak ingin kembali ke dalam dunia gelap itu." tukas Daiki.
Apa aku harus mempercayai kata-katanya? kalau harus, maka aku adalah manusia terbodoh.
"Lalu, kenapa kalian berusaha menggantikanku dengan Kagami Taiga?"
"Kami tidak menggantikanmu. Kami hanya memerlukan teman baru, setidaknya untuk menggantikanmu.. sementara, Akashi."
"Dengan mencuri teman Tetsuya disaat ingatannya dihilangkan sebagian?!"
Sial! ini pertama kalinya aku benar-benar menekan teman-temanku seperti ini, rasanya aku sudah terlalu terobsesi dengan Tetsuya.
Bahkan Daiki dan Shintarou yang paling cepat merespon kata-kataku, kini tidak dapat merespon apapun, wajah mereka menyemu dan seolah kaget kata-kata barusan.
"Lantas.. mengapa kau juga malah membayarnya dengan harga tinggi? padahal bisa saja Kagami menyelamatkannya dari tempat taruhan itu." tukas Daiki lagi.
"Bagaimana kau yakin tujuannya membayar Tetsuya itu untuk menyelamatkannya?, teman itu bisa saja memakan temannya sendiri. Bisa saja kalian sudah mempengaruhinya terlebih dahulu. Asal kalian tau, aku membayar Tetsuya karena aku tidak ingin dia bergabung dengan kalian, entah bagaimanapun cara kalian untuk mendapatkannya."
Kata per kata ku ucapkan tanpa ku pikirkan terlebih dahulu, mungkin aku sudah tidak peduli dengan perasaan kawan-kawanku sendiri. Aku hanya lelah dengan semua omong kosong ini.
"Akashi.."
Belum Shintarou membalas kata-kataku, lagi-lagi ku serang mereka semua dengan kata-kataku lagi.
"Lalu, kalau memang kalian memanfaatkan teman Tetsuya untuk menyelamatkannya, mengapa kalian malah menculiknya dariku dua hari lalu? bahkan kau Daiki!, kau berusaha memaksanya untuk melakukan 'itu' denganmu?"
"Akashi!"
"Kalian juga! kenapa kalian hanya diam?. Aku benar-benar muak dengan kalian."
Tanpa menunggu respon mereka, ku alihkan tubuhku berbalik membelakangi mereka dan berjalan pergi. Entah apa yang sebenarnya terjadi, rasanya hatiku dibebani oleh banyak hal. Setidaknya, aku berusaha mempertahankan yang benar.
*FLASHBACK END*
Back to Kuroko)
"Begitulah.."
Baiklah, jadi kejadian yang dialami Akashi-kun itu mencakup alasannya membayarku? jadi itu alasannya? ia ingin menyelamatkanku dari ancaman dari temanku sendiri.
"Apa yang kau ingat saat di tempat taruhan itu?"
"Entahlah, aku tidak mengingat siapa Kagami-kun, aku hanya teringat orang tua dan rumahku."
"Tetsuya, itu berarti obat yang mereka berikan padamu tidak berdosis besar seperti yang diberikan pada pemuda yang lainnya."
"Apa maksudmu, Akashi-kun?"
"Semua pemuda yang akan ditaruhkan itu akan diberi obat hilang ingatan sementara untuk mencegah mereka mengenali identitas sendiri maupun teman lain. Dan mungkin, kau tidak diberikan obat itu dengan dosis besar, sehingga kau hanya melupai temanmu tapi tidak dengan pribadimu."
"Memang siapa yang memberikanku obat itu?"
"Tentu saja si penyelenggara taruhan itu."
Jackpot! aku sekarang mengerti segalanya. Aku juga mengerti alasan Akashi-kun membayarku, ternyata niatnya memang baik. Sudah ku duga, ia bukanlah pemuda yang hanya mengejar penyalur gairahnya itu. Tapi di sisi lain, aku juga mengerti perasaannya yang sangat tertusuk karena teman-temannya itu.
"Banyak hal yang bisa saja ku ceritakan padamu, tapi kalau kau mau bersabar, ada waktunya aku menceritakan segalanya."
"Ba-baiklah.."
"Kalau begitu sebaiknya kau ikut dulu ke apartementku."
Seperti biasa, selalu ku tanamkan kesabaran untuk menanti cerita Akashi-kun yang lebih rinci, tapi sejauh ini, aku sudah cukup senang dengan ceritanya tadi. Setidaknya, aku sudah tau alasannya membayarku.
Bukk...
Karena terlalu asyik membayangkan cerita Akashi-kun, aku bahkan sampai tidak memperhatikan jalanku dan menabrak seseorang. Untung saja orang itu tidak marah.
"Itai.."keluhnya.
"A-Ah sumimasen, aku tidak memperhatikan jalan." kataku sambil membungkuk.
"Kau? Kuroko!"
"Ahh..i-iy," apa? tidak mungkin!
Akashi-kun menepuk bahuku dan membantuku berdiri, ia sudah memasang wajah datar mematikannya itu.
"Kau? Kagami-kun?"
Baru saja aku membahasnya, sekarang aku bertemu dengannya secara langsung, temanku, Kagami Taiga.
Ingin sekali aku banyak berbincang dengannya dan menanyakan banyak hal, tapi niatku harus ku buang jauh-jauh, karena sepasang mata dengan chrom yang berbeda warna itu sedang menatap tajam ke arah Kagami-kun.
TBC
A/N : Update chapter ini pun berhasil dengan lancar hehe..
Untuk kesekian kalinya #eaaaa.. author mau minta maaf untuk update yang agak telat karena adanya kendala dan PHP yang harusnya chapter ini sudah kembali ke POV author tapi masih dipertahankan di POV karakter karena suatu alasan. Semoga chapter yang satu ini bisa menjadi obat menantinya hehe.
Yosh! next! Chapter 5 (Full author POV)
