"Nee chan?"
Naruto menepuk pundak Hinata hingga ia tersadar dari lamunannya.

"Eh.. aa.. ehh.. iya?" Tanya Hinata kikuk.

"Jadi bagaimana?" Tanya Naruto.

Hinata tidak terlalu pandai berkomunikasi
Ia ambil kunci dari saku celananya dan membuka pintu apartemennya.

"Masuklah dulu." Kata Hinata.
Naruto mengangguk pelan dan mengekori Hinata yang masuk terlebih dahulu ke apartemennya.
Ia mengedarkan pandangannya saat memasuki ruangan itu.
Ruangan itu cukup luas untuk ditinggali 1 orang saja. Terdapat 1 kamar mandi 1 kamar tidur dan 1 dapur.

"duduklah di kursi itu" kata Hinata, menunjuk pada kursi di set meja makan

Naruto mengangguk ia langsung menduduki kursi itu. Setelah meminta Naruto duduk, Hinatapun menaruh tas dimejanya dan ikut duduk di kursi yang berhadapan dengan Naruto. Ia memijat keningnya dengan wajah berpikir serius.

"Apakah kau anaknya Kushina san?" Tanya Hinata serius.

"Iya." Naruto mengangguk mantap

"lalu ada urusan apa kau datang kemari?." Tanya Hinata.

Narutopun menceritakan panjang lebar masalahnya dengan semangat menggebu gebu alasannya datang ke Konoha. Mulai dari awal sampai akhir. Hinata mendengarkan dengan seksama cerita adik tirinya itu.

"... jadi izinkan aku tinggal sementara di rumahmu nee chan." Kata Naruto sambil membungkuk sopan pada kakaknya itu.

"Tidak perlu se formal itu denganku, baiklah akan ku izinkan. Lagipula kau adalah titipan dari Pak tua itu." Kata Hinata datar.

Naruto merasa senang dengan jawaban yang diberikan Hinata. Ia berdiri hendak menghampiri Hinata merentangkan kedua tangannya seolah mengajak Hinata berpelukan.

"Tapi.." Hinata menjeda ucapannnya.

"Tapi ?" Naruto mengulang ucapan Hinata dengan memiringkan kepala heran.

"Tapi kalau kau berani berbuat suatu hal yang aneh padaku.. kau akan rasakan akibatnya, mengerti? O-to-to kun?" Kata Hinatan penuh penekanan apalagi pada bagian outoto, ekspresi wajahnya yang tenang justru terlihat menakutkan bagi Naruto saat ini.

"H-ha-Hai' Onee sama." Kata Naruto dengan pose Hormat.
Naruto paham Hinata tidak main main dengan ucapannya. Bahkan kalau Hinata mau Naruto bisa diusir kapan saja. Bahkan saat ini juga. Naruto harus benar benar menjaga sikapnya kali ini. Salah salah bukan hanya di usir. Tapi dia mungkin akan kembali lagi ke asalnya.

'Kruyuuu~~k' Naruto memegang perutnya yang berbunyi nyaring.

"Kau lapar? Hmm.."
Hinata membuka lemari makannya
"Hanya ada telur dan ramen instan. Kau mau?" Tanya Hinata.

"Boleh.. boleh aku mau!" Katanya dengan mata berbinar.
Ramen adalah makanan favorit Naruto. Namun ibunya melarang Naruto untuk mengkonsumsi makanan instan itu berlebihan. Naruto bahkan harus diam diam memakan ramen.

"Selagi aku memasak, kau bisa mandi dulu." Kata Hinata yang lebih terdengar sebagai sebuah perintah.

"Eh.. ah baiklah nee chan." Kata Naruto patuh. Seharian ini Naruto memang sudah cukup banyak beraktifitas yang membuatnya membutuhkan mandi.

.

.

.

Setelah selesai mandi Narutopun menghampiri meja makan yang sudah tersaji ramen. Aroma yang menggoda dari ramen itu membuat Naruto tidak sabar untuk segera melahap makanan favoritnya itu.

"Selamat makan!" ucap Naruto dengan semangat.

Mereka berdua makan dalam keheningan. Kaa sannya selalu melarang untuk mengobrol saat makan jadi Naruto jadi terbiasa untuk itu.

"Selesai! Terimakasih atas hidangannya." Kata Naruto sambil mengatupkan kedua tangannya kedepan.

"Ah Nee chan biar aku yang mencuci piringnya, kau mandi saja dulu." Kata Naruto sambil tersenyum.

"Terima kasih." Kata Hinata, iapun mengambil bajunya dilemari dan memasuki kamar mandi.

Sunyi. Tempat ini benar benar sunyi bagi Naruto, berbeda dengan rumahnya yang selalu ramai oleh ocehan ibunya. Baru saja sehari ia meninggalkan rumah ia sudah serindu ini dengan kampung halamannya.

Pok
Naruto menepuk kedua pipinya. "yosh semangat semangat." Ucapnya.

"Ah nee chan sudah mandi ya.. cepat sekali." Kata Naruto menoleh pada kakaknya yang baru saja keluar dari kamar mandi.

"hmm." Jawab Hinata datar.

"hoam." Naruto menguap lebar.

"Ah kalau kamu mau tidur ada futon dilemari." Kata Hinata sambil menuju lemari penyimpanan yang dimaksud.

"Biar kubantu." Kata Naruto tanggap. Ia membantu Hinata menggelar futon yang akan ia gunakan untuk tidur.

Setelah futon digelar mereka lalu menuju kasur masing masing. Hinata tidur di spring bed berukuran single sementara Naruto tidur di futon yang sudah digelar di dekat kasur Hinata.

Cangung. Itu sebenarnya adalah yang mereka berdua rasakan saat ini. Bagaimanapun mereka berdua tetap saja dua manusia yang berbeda gender. Sekalipun mereka adalah saudara tiri, tapi hey mereka baru saja bertemu.. mungkin?

"Nee Naruto kun.." panggil Hinata menghadapkan tubuhnya ke arah adiknya yang berada di bawahnya. Ia mencoba untuk memecahkan keheningan.

"Iya?" Kata Naruto menanggapi ucapan Nee channya itu.

"Apakah Otou san bahagia disana?" Tanya Hinata.

"Tentu!" Jawab Naruto mantap.

"Ia juga sering sekali mengusili kaa san saat memasak." Kata Naruto menerawang.

"Saat menonton TV, Kaa san lah yang menguasai remote sehingga aku dan tou chan harus mengalah.. lalu.. lalu." Naruto tak berhenti mengoceh saat menceritakan tentang kedua orang tuanya itu.

Entah kenapa Hinata merasa iri mendengarnya. Ia juga menginginkan itu, ia menginginkan kehangatan keluarga. Tapi ..

"Nee kenapa Onee chan tidak mau tinggal bersama kami?" tanya Naruto membuyarkan lamunan Hinata.

Hinata hanya terdiam tak menanggapi pertanyaan Naruto.

Naruto yang tak mendapat respon dari kakak perempuannya itu menganggap bahwa kakaknya sudah terlelap.

"Oyasumi.. Hinata Nee chan." Kata Naruto lirih namun masih bisa terdengar oleh kakaknya.

Dan suasanapun kembali hening.

TBC

Special thanks :

Piupiuchan, Oya682, Mikhail999

maaf atas keterlambatan update