Apa yang terjadi apabila sebuah mimpi buruk menjadi kenyataan?
Menyiksa? menyeramkan? atau bahkan membunuhmu secara perlahan.
Bagaimana kalau seseorang yang dikenal baik ternyata serigala berbulu domba?
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Einer
(Chapter 5)
.
.
.
Rintikan demi rintikan hujan membasahi dua pemuda yang kini sedang berteduh dibawah sebuah pohon besar.
"Aku tidak menyangka kalau akan hujan seperti ini."
"Sungguh? ini tidak terlalu deras."
Kuroko Tetsuya dan Kagami Taiga, dua kawan yang sempat terpisahkan ini, kini bertemu lagi secara tidak sengaja. Banyak hal yang ingin Kuroko tanyakan pada Kagami, tapi sayang, sosok berambut merah lainnya tidak menyukai kehadiran Kagami, ya.. itu adalah Akashi Seijuro. Saat ini, Akashi hanya berdiri berteduh di pohon yang berbeda tapi tidak jauh dari mereka sambil menatap dalam pemuda bertubuh tinggi tegap itu.
"Bisakah dia berhenti menatapku seperti itu?"
"Jangan khawatir, Akashi-kun tidak bermaksud seperti itu."
"Yang benar saja."
Antara rasa senang dan bingung, Kuroko tidak dapat mengekspresikan satu pun perasaan dalam hatinya ini, yang ia pikirkan hanyalah beberapa pertanyaan yang selalu tersirat di dalam batinnya.
"Kagami-kun."
"Apa?"
"Maukah kau menjelaskan padaku, semua yang kau tau?"
"..."
Menatap temannya yang kini memasang wajah datar dan tertunduk, Kuroko hanya dapat menghela nafasnya panjang, hanya kepasrahan yang bisa ia luapkan dari dalam isi hatinya.
Tatapan dari sepasang pasang dengan chrom berbeda warna itu ikut serta memerhatikan dari balik dedaunan pohon-pohon yang sedang ia injak tanahnya itu. Ragu? bagaimana tidak? tatapan seorang Akashi Seijuro tentu memberi isyarat kacau bagi bocah polos itu.
"Singkirkan dulu beruangmu itu, aku berjanji akan menceritakan yang ku tau. Deal?"
"Hmm.. ku coba."
Sambil mengepal kedua tangannya itu, Kuroko menghampiri Akashi yang masih menatap tajam ke arah Kagami sambil menyilangkan tangannya.
"Kalau kau memang ingin aku menyingkir untuk sesaat, aku dapat melakukannya kalau kaulah alasannya, Tetsuya."
Seperti baru saja membaca pikirannya, mungkin itu yang menjadi kebingunan Kuroko, tapi kebingungan itu kalah dengan rasa ingin taunya.
"Maaf, Akashi-kun. Aku tidak akan lama, kau pulang saja, nanti ku susul di apartementmu."
Perlahan Kuroko melangkah menjauhi Akashi dan kembali menemui teman dekatnya itu yang kini masih terpaku di bawah pohon itu walaupun hujan sudah berhenti.
"Tetsuya..."
Panggil Akashi sambil berlari ke arah Kuroko tiba-tiba, dengan refleknya, ia menolehkan pandangannya pada pemuda berwajah dingin itu. Akashi.. ya itu adalah Akashi, ia menggenggam tangan Kuroko sangat kuat seolah khawatir akan kehilangannya. Wajah dinginnya kini berubah menjadi wajah yang jauh lebih nyaman dipandang dan terlihat lebih memancarkan sinar mata khawatir.
"Jangan bersikap bodoh! kau harus datang ke apartmentku sebelum malam."
"Ba-Baiklah.."
Tangan hangat Akashi kini melepas genggamannya pada tangan Kuroko, dan dengan berat hati, Akashi pun meninggalkan Kuroko dengan Kagami.
Entah apa yang dipikirkan Akashi saat itu, mungkin itu adalah misteri kedua bagi Kuroko, tapi tetap saja ia harus memprioritaskan informasi dari Kagami.
"Baiklah, kau siap menceritakannya, Kagami-kun?"
"Ya..ya.."
Sempat menghela nafasnya sebentar, Kagami pun siap membuka mulutnya.
"Sebelumnya, aku ingin bertanya, apa tujuanmu mengikuti taruhan itu? kau adalah anak yang baik, Kuroko."
Pertanyaan yang baru saja dilontarkan Kagami sudah seperti senjata api yang kini sudah menembak tepat pada hati Kuroko, bagaimana tidak? tempat taruhan itu adalah tempat dimana ia mengalami masa-masa buruk.
Masih kuat dengan keputusannya untuk menggali informasi dari Kagami, maka Kuroko pun menceritakan beberapa kebenaran, "Aku.. Aku pergi dari rumahku selama lima bulan, aku benar-benar terpuruk saat dua bulan kedepan, aku terpaksa harus mengikuti taruhan itu untuk kelangsungan hidupku."
"Lalu? apa orang tuamu tau?"
"Mereka tidak marah saat mereka tau kalau Akashi-kun yang membayarku. Apa benar kalau kau berniat membayarku saat itu? atas dasar apa? bukankah kau tidak suka datang ke tempat taruhan?"
Kagami melakukan hal yang sama seperti Kuroko, ia menghela nafasnya dan terdiam sejenak.
"Apa yang terjadi saat kau mengikuti taruhan itu?"
"Entahlah, Kagami-kun. Tiba-tiba saja tubuhku lemas dan aku terpingsan, dan aku baru sadar saat tangan Akashi-kun menggenggamku di ruang ganti."
"Kau tidak tau kan?"
"Apa maksudmu?"
Kagami menendang batang pohon dibelakangnya tidak peduli rasa sakitnya, rasa geram dalam dirinya seolah memuncak tiba-tiba.
"Kau dibius sebelum acara taruhan itu, ingatanmu sebagian hilang. Mereka bisa saja menghilangkan total secara permanent ingatanmu itu tapi mereka hanya membiusmu setengah karena suatu hal."
"Mereka? siapa yang kau maksud?"
Dengan wajah penuh keyakinannya, Kagami pun menjawab, "Generation of Miracle."
"GoM? Bukankah itu nama geng Akashi-kun dengan mantan kawan-kawannya itu?"
Kagami menepuk bahu Kuroko, "Dialah orang yang seharusnya kau tanyakan."
Kaget, bingung, tak percaya.. mungkin tiga kata itu sudah sangat mewakili perasaan Kuroko saat ini, bagaimana tidak? baru saja Akashi menceritakan tentang kawan-kawannya dulu alias Generation of Miracle, kini ada saja hal lain yang menyangkut pautkan gengnya itu.
"Apapun jawabannya, kau harus menahan dirimu dari segala macam emosi." bisik Kagami pada Kuroko dan mulai melangkah pergi menjauhi teman birunya itu.
Masih dihantui oleh pikiran bingungnya, Kuroko kembali melangkah pergi juga.
Tapi tiba-tiba sekarang dilema lah yang menghantuinya saat melihat beberapa pemuda dengan paras wajah tak asing menghampirinya.
"Kuroko Tetsuya?"
Suara yang tidak asing dan tidak manis didengar itu cukup meyakinkan Kuroko bahwa mimpi buruknya baru saja menjadi nyata.
"Midorima-kun?"
"Jadi seseorang baru saja mengenali seseorang, nanodayo."
"Akashi-kun banyak bercerita tentang kau dan Generation of Miracle."
"Jadi begitukah, Tetsu?"
Dengan sedikit lirikan, terpampang jelas di depannya, seorang lainnya menghampiri Kuroko.
"Aomine-kun?"
"Ternyata Akashi memang banyak bercerita ya?"
"Banyak hal yang tidak ku paham tentang kalian."
"Kalau kau bersedia, kami bisa mengantarmu ke suatu tempat untuk membahasnya."
Lagi-lagi dilema menyerang pikirannya, antara rasa penasaran dan takut. Takut? ya.. takut bahwa mimpinya baru saja menjadi kenyataan, dimana Kuroko dihadapkan dengan pemuda-pemuda biadab yang ingin menjamahnya di mimpi.
"Baiklah."
Keputusan yang berat pun dipilih oleh Kuroko, dapat dibilang sebagai keputusan terberat dengan resiko besar.
Tanpa berpikir panjang, Aomine dan kawan-kawannya membawa Kuroko ke suatu tempat, tempat yang tak asing baginya, ya.. tempat dimana ia diculik.
"Kalau kalian berniat tidak baik denganku, ku mohon bukan sekarang waktunya." dengan penuh keberanian yang ada, Kuroko melontarkan kata-kata itu. Tanpa dapat respon dari mereka, Kuroko pun bersiap dengan segala macam informasi dari mereka.
"To the point saja, Akashi adalah ketua di GoM, kami sudah menjadi kawan cukup lama, tapi suatu hal membuat Akashi memilih jalannya sendiri." jelas pemuda berambut kuning terlebih dahulu, Kise Ryota.
"Aku tidak ingin menyalahkan siapapun disini, tapi Akashi menjauhi kami saat ia tau tentang aksi Aomine." sambar Midorima.
"Jangan salah tangkap lagi, itu dulu, sekarang aku bersumpah tidak ingin melakukan hal 'buruk' lagi. Kami justru ingin membersihkan nama GoM." tambah Aomine.
Inti dari permasalahan Akashi adalah pada Aomine, walau belum pasti kebenarannya, tapi bisa saja itu menjadi faktor. Merasa belum puas mendapat informasi, Kuroko menimbrungkan banyak pertanyaan kepada mereka.
"Apa maksud kalian menculikku?"
"Percayalah, kami tidak akan melakukan itu lagi, nanodayo!"
"Kalau kalian mengenal Kagami-kun sangat baik, secara tidak langsung, kalian sering menghampiri tempat taruhan itu? lalu apa maksud Aomine dibayar oleh Kise saat itu?"
Mendengar pertanyaan itu, Kise pun berdiri dengan tegas.
"Alasannya sama sepertimu, untuk menyelamatkan Aomine tentu saja."
"Menyelamatkan?"
"Sepertinya itu privasi antara kami berdua, Tetsu." sambar Aomine sambil mengusap kedua matanya itu.
Walaupun informasi sudah didapat banyak,masih ada satu pertanyaan yang belum dilontarkan Kuroko.. yaitu..
"Apa kalian yang mengelola tempat taruhan itu?"
Kalau ada di dalam suatu acara TV tanya jawab, pertanyaan Kuroko bisa saja dimasukkan sebagai pertanyaan tersulit di dunia, mungkin tidaklah sulit, tapi hanya canggung untuk menjawabnya, terpampang jelas pada wajah pemuda-pemuda tampan itu.
"Ano.. entah bagaimana aku menjawabnya.." cetus Kise.
"Pertanyaanmu memang hebat, nanodayo!" cetus Midorima.
"Pertanyaanmu sama sulitnya dengan membeli cemilan favoritku." sambar Murasakibara
Aomine menepuk dahinya perlahan, terlalu banyak yang harus ia katakan kalau soal itu. Tapi, dengan sangat, Aomine harus mengurung niatnya dalam-dalam untuk menjawab pertanyaan Kuroko.. karena..
"Generation of Miracle yang mengelolanya."
'Are?' begitulah kurang lebih respon Kuroko saat ini dengan matanya sendiri melihat sosok yang paling berwibawa menurutnya mengatakan jawaban yang tidak ia harapkan itu.
"Akashi-kun?"
"Aku hanya ingin menemui Shintarou, Daiki, Ryota, dan Atsushi."
"Jadi? kau juga yang mengelola tempat taruhan itu, Akashi-kun?"
"Kalau memang iya, bagaimana?" jawab Akashi dengan santainya sambil mengambil gunting dari balik jaketnya.
"Ja-jadi?"
"Ya, Tetsuya, akulah yang membiusmu."
Hati Kuroko rasanya seperti tertusuk dengan belati yang amat tajam, kata-kata dari Akashi yang biasanya bisa membuatnya tenang, kini malah membuatnya menjadi tak percaya diri dan memilih terdiam.
"Lalu? kenapa kau membayarku?"
Sambil menggunting beberapa helai rambutnya, Akashi menjawab, "Entahlah, mungkin aku tertarik denganmu."
"Apa?"
"Aku bisa saja membiusmu hingga kau kehilangan ingatanmu selamanya, tapi matamu, matamu itu seolah memberiku suatu visualisasi tentang penderitaan. Aku tidak yakin dan ragu untuk membiusmu total, tapi aku terpaksa untuk tetap membiusmu setengah agar taruhan itu berjalan dengan lancar."
"Apa maksudmu?"
"Loh? bukankah kita sama-sama menderita? mempunyai masalah yang berat? mungkin itu yang membuatku tertarik denganmu, Tetsuya."
"Apa tujuanmu akan itu semua?"
"Kau adalah orang yang beruntung, Tetsuya. Melihat wajah lugumu saja, aku sudah dapat melihat sisi kebahagiaan yang akan kau dapat, dari keluargamu misalnya? maka itu, ku ajak kau ke rumahmu sendiri untuk menemui kedua orang tuamu dan merasakan kasih sayang yang kau nantikan itu. Kau sangat beruntung daripada aku, walau harta bukan masalahku, tapi seseorang yang berperan dalam hidupku belum tentu ada."
Kaya dan berlimpah akan harta, Akashi Seijuro, walaupun kaya raya, belum pernah ia merasakan kasih sayang yang berlimpah setara dengan hartanya itu dari orang tuanya. Hampir 5 tahun ia menjalankan hidupnya yang sendirian itu, salah benarnya bukan permasalahan baginya untuk menjalani hidup.
"Ku pikir kita berdua bisa saja cocok dan bisa saling mengisi diatas kekurangan masing-masing, tapi bukankah orang yang sama-sama menderita itu tak layak untuk bersama?"
Kuroko memberanikan dirinya menggenggam tangan pemuda berwajah datar didepannya ini, tidak peduli apakah nanti ia akan ditusuk dengan guntingnya atau akan ditatap mati dengan kedua mata berbeda warna chrom itu.
"Dibalik kekurangan ada kelebihan. Maukah kau merubah kekurangan ini menjadi kelebihan?"
"Bagaimana kau yakin kalau kami bisa berubah, Tetsuya? kami GoM sudah terjerumus dalam hal kotor."
"Akashi-kun, kaulah orang yang mengubah pandanganku tentang hidupku yang kacau ini. Pertama kalinya, aku dapat merasakan dunia yang lebih nyaman walau tidak luput dari masalah. Terima kasih, Akashi-kun."
"Itu semua tidak benar, akulah orang yang hampir saja membunuhmu."
"Maka itu, untuk menebus kesalahanmu itu, kau harus memenuhi permintaanku?"
Entah apa dunia sudah berbalik, secara tidak langsung, Kuroko lah yang mendominasi percakapan ini, bahkan Akashi yang biasanya ahli dalam hal menentang kata-kata orang yang berani melawannya itu, kini hanya dapat menundukkan kepalanya.
"Permintaan apa?"
Dengan penuh keyakinan, Kuroko pun membuka mulutnya..
"Jadikan aku anggota GoM."
Pertanyaan bodoh dan konyol, mungkin kalau dalam dunia komedi, ia bisa saja menjadi bahan tertawaan yang hebat, tapi tidak.. berbeda dengan kenyataan saat ini.
Semuanya terdiam dan terpaku dengan kata-kata yang Kuroko lontarkan, pertama kalinya ada yang berani melawan Generation of Miracle dengan sebuah kalimat tanya yang tajam.
Tidak lama, keheningan pun berlalu, wajah Akashi yang paling pertama berubah, ia menghampiri Kuroko dengan wajah misterius datarnya itu. Ditepuknya kepala bocah berambut biru yang baru saja menentang kehendaknya itu. Tapi Akashi sudah memutuskan sesuatu.
.
.
.
.
.
.
"Selamat datang di Generation of Miracle."
TB
A/N : Hwaaaa.. kelar juga chapter ini..
Sebelumnya author ingin memberikan sejuta maaf untuk para readers yang nungguin updatetan cerita ini. Author sedikit mengalami kendala, jadi chapter ini tidak bisa author lanjut panjang-panjang, mungkin di chap selanjutnya baru akan lebih diperjelas lagi, anggap saja ini sebagai sebuah spoiler konfil yang akan mendatang di Chapter 6 .. hehe
Aigatoooo.. sampai jumpa di chapter selanjutnya. Mind to review?
