Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Einer
(Chapter 6)
Dengan semangatnya yang membara..
Kuroko Tetsuya, kini menjadi salah satu anggota geng yang terkenal dan dapat dikatakan sebagai geng yang paling terhormat dan paling dihormati, Generation of Miracle.
Walaupun tidak ada alasan pasti ia ingin bergabung dengan GoM, tapi tidak ada alasan lagi juga selain ingin selalu bersama Akashi.
"Ehm.. Maaf, Kuroko."
Aomine, Midorima, dan Kise merangkul bocah berambut biru dengan mata kuuderenya itu sambil memohon maaf.
"Tidak apa-apa."
Mungkin hanya kata-kata itu yang dapat Kuroko lontarkan, lantaran tak mampu lagi berkata-kata saat dirinya hampir saja dijamah oleh orang yang bahkan tidak mengenalnya jauh.
Masalah terselesaikan?
Tentu saja tidak bagi Kuroko. Walaupun sudah mendapat banyak informasi dari beberapa sumber dan semua misteri baginya sudah terjawab, bahkan ia kini sudah berbaikan dengan para anggota GoM, tapi menurutnya masih ada beberapa hal yang masih belum ia dapati kebenarannya.
"Ada masalah, Tetsuya?"
Sepasang mata berbeda warna chrom itu menghampiri Kuroko sambil memasang raut wajah datarnya itu.
"Rasanya, seperti ada yang belum selesai."
Entah karena hipnotis dari matanya, Akashi seolah-olah terdiam dengan kata-kata Kuroko, ia hanya dapat memasang wajah yang biasa, bahkan wajahnya seolah memancarkan rasa bersalah di lubuk hatinya itu.
"Apa kau masih tidak dapat memaafkanku? Lalu, apa yang harus ku lakukan untuk menebus kesalahan itu? aku bahkan tidak mengerti apa isi hatimu."
Seperti ribuan belati menusuk hati Kuroko saat melihat ekspresi Akashi yang sangat tidak seperti biasanya, ia terlalu memancarkan wajah bersalahnya.
"Jangan berkata seperti itu. Aku pun pernah melakukan hal yang serupa walau tidak seperti itu. Tapi rasa bersalah selalu menghantuiku."
"Tetsuya,"
"Apa?"
"Aku tidak ingin seorangpun menjamahmu selain aku. Aku jatuh hati denganmu."
Dengan kepalan tangan yang kuat, Akashi meninggalkan ruangan yang dianggap sebagai tempat berkumpul geng GoM.
"Mungkin kau agak aneh mendengar kata-katanya, Kuroko. Tapi, Akashi selalu konsisten dengan apa yang dia ucapkan, nanodayo."
"Midorima-kun?"
"Sebaiknya kau susul dia."
"Baiklah!"
Mendengar ucapan Midorima, Kuroko pun mengikuti sarannya dan mengejar Akashi yang masih setengah jalan itu.
Akashi Seijuro, identitas yang masih misterius bagi Kuroko, hanya paras wajahnya yang meyakinkannya bahwa Akashi adalah pemuda yang baik, padahal dari gaya hidup dan apa yang ia sudah perbuat, bisa saja Akashi digolongkan sebagai manusia terjahat, tapi setelah mengetahui keterpurukan yang Akashi hadapi, ia sadar, kalau bukan hanya ia seorang yang mengalami keterpurukan.
"Akashi-kun."
"Tetsuya?"
"Soal kata-katamu tadi,"
Belum Kuroko menyelesaikan kata-katanya, Akashi sudah memasang wajah datar tegasnya itu disertai kedua mata heterochromaticnya yang menyorot tajam ke arah Kuroko.
Bulir-bulir keringat membasahi wajah hingga tubuh Kuroko, tepat saat ia melihat gunting dikeluarkan dari saku celana Akashi, apa yang akan ia lakukan? membunuh Kuroko yang ia dambakan itu?
Zzzzztttttttt...
"Apa?"
Kaget? ya.. mungkn hanya kata itu yang dapat mewakili situasi saat ini. Bahkan Kuroko sampai tersungkur di tanah saat tau Akashi hampir saja menusukkan guntingnya pada mata biru Kuroko itu., tapi beruntung, Kagami datang dengan cepat dan mendorong Kuroko.
"Bagaimana kau bisa,"
"Kuroko, aku tidak akan membiarkan si iblis ini menyakitimu." bisik Kagami sambil membersihkan darah di tangannya itu.
"Sudah ku bilang, Tetsuya, kau memang beruntung, tidak seperti diriku yang pantas dibakar hidup-hidup."
"Apa maksudmu, Akashi-kun?"
Akashi memasukkan gunting kesayangannya ke kantungnya lagi dan kembali berjalan membelakangi Kagami dan Kuroko.
"Orang yang sama-sama tersakiti tidak akan bisa bersatu kan?" lontaran kalimat terakhir dari mulut Akashi sampai akhirnya ia meninggalkan Kagami dan Kuroko.
Akashi yang ia kenal kini berubah, bukan Akashi yang selalu melindunginya, bukan Akashi yang bersikap dingin tapi manis kepadanya, keanehan semakin menjadi-jadi.
"Sudahlah, Kuroko. Sebaiknya kau ikut denganku ke suatu tempat."
"Hm... baiklah."
Sambil menatap Kagami dari belakang, Kuroko mengusap dahinya sambil membayang ulang kejadian beberapa detik lalu, dimana Akashi mencoba melukainya, beruntung saat itu Kagami datang. Entah apa yang akan terjadi apabila Kagami tidak menghalangi aksi keji Akashi, bisa saja bocah berambut biru ini tidak dapat pulang ke rumahnya dengan tubuh utuh.
"Apa yang akan kita lakukan disini, Kagami-kun?"
"Tidak banyak, kau hanya perlu menjauh dari psikopat itu."
"Maksudmu Akashi-kun? aku yakin ia sedang ada masalah, maka ia melampiaskan emosinya dengan cara yang salah."
Kagami menepuk kuat tubuh Kuroko, "Hey! bagaimana kalau tadi kau terbunuh olehnya?"
Kembali menghapus peluh keringat di dahinya, ia menjawab dengan nafas terengah, "Aku yakin Akashi-kun tidak akan melakukannya."
"Sudahlah, sebaiknya kau tenangkan dirimu dulu. Tunggu disini, aku akan membelikanmu soda."
"Baik.."
Walaupun ada Kagami yang kini menemaninya, Kuroko masih dihantui oleh perasaan yang kini belum bisa ia salurkan, terlalu banyak beban dipikirannya, dan hanya Akashi lah yang mengisi pikirannya itu.
Bahkan, saking lamanya memikirkan hal tersebut, tak terasa hari mulai menunjukkan waktu sore hari. Hanya Kagami dan soda yang ia belikan yang dapat membuat Kuroko tenang, untuk sementara tentunya.
Setelah menghabiskan waktu dengan bersantai, mereka pun kembali berjalan tanpa tujuan.
"Mau kemana lagi?" tanya Kagami.
"Bolehkah aku..?"
"Tidakk.. Kuroko.. tidakk.. kau tidak bisa menemuinya."
"Mengapa?"
"Hanya saja..."
"Hanya saja apa?"
"Hanya saja," Kagami menelan ludahnya ragu, "Aku tidak ingin kau terluka lagi."
Tatapan mata Kuroko yang serius dan dingin kini berubah karena sambaran tawa yang tak tertahankan itu, bahkan matanya kini dibasahi oleh air mata hiburan.
"Sejak kapan kau perhatian denganku seperti ini?"
Kagami menutupi pipinya yang memerah dan memasang wajah sesangar-sangarnya.
"Baka! aku berusaha menolong tau!"
"Maaf..Maaf.. kalau begitu kita berpisah disini saja ya."
"Apa? kau memang ingin mengusirku, Kuroko?"
"Mungkin sendirian jauh lebih baik."
"Baiklah, aku tidak dapat memaksamu bukan?"
Kagami meninggalkan Kuroko, walau sendirian, kesepian tidak pernah melanda si rambut biru ini, bahkan menurutnya, sendiri itu adalah kebahagiaannya yang sederhana.
Kuroko kini kembali membimbing kedua kakinya berjalan pulang ke rumahnya, tapi, tiba-tiba, ia bertemu dengan Aomine di simpangan jalan.
"Aomine-kun.."
"Ah..Tetsu.. sudah menjenguk Akashi?"
"Hmm.. kami sudah berpisah siang tadi."
"Jadi kau belum tau?"
"Belum tau apa? oh ya, apa maksudmu 'menjenguk'?"
"Ikutlah denganku.."
Lagi-lagi ribuan belati baru saja menusuk hati Kuroko, awalnya ia bisa tertawa lepas bersama Kagami, kini suatu hal yang disampaikan Aomine membuatnya drop parah. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah keadaan Akashi yang tidak jelas kabarnya, tapi Aomine bisa saja memberi suatu berita yang bisa dikatakan tidak sedap didengar.
"Rumah sakit?"
"Kamar 404, nanti ku temui kau lagi disana."
"Hmm. ya baiklah, terima kasih, Aomine-kun."
Langkah demi langkah ditempuh Kuroko sampai akhirnya pintu bertuliskan nomor 404 di depan matanya terpampang jelas, samar-samar, ada sekitar empat dokter sedang memeriksa di dalam kamar itu, ada apa? apa itu kamar Akashi? begitulah pikiran Kuroko.
"Sumimasen.."
Dengan suaranya yang lembut, Kuroko membuka pintu itu, ia melihat ada Midorima dan Kise yang sedang menyilangkan tangan mereka dan berdiri bersandar di dinding kamar.
Baru saja Kuroko ingin menyapa mereka berdua, rasanya lidahnya menjadi mati rasa dan membisu tiba-tiba saat tepat di depan mata kepalanya sendiri, ia melihat keempat dokter itu sedang melakukan pemeriksaan dan pemberian obat-obatan untuk Akashi yang sedang terbaring lemah di kasurnya. Parahnya, kedua mata Akashi diperban tebal dan pada mata kanannya terpampang jelas bercak darah yang dapat dibilang tidak sedikit.
"Ku harap kau tidak banyak bergerak dulu, Seijuro-san." kata salah satu dokter dan dengan cepat berjalan meninggalkan kamar Akashi.
Rasanya lutut Kuroko sudah mati rasa sampai ia terjatuh dan memasang wajah kagetnya itu. Bagaimana tidak? ia melihat langsung keadaan Akashi yang tentunya tidak baik.
"Setelah meninggalkanmu, Akashi mengunjungi taman di dekat rumahmu. Aku tidak tau apa yang terjadi, beruntung aku dan Kise saat itu sedang berjalan tidak jauh dari taman itu, kami sudah melihat Akashi berlumuran darah akibat matanya yang terluka."
"Midorima-kun, apakah Akashi-kun..hmm.. akan buta?"
Ribuan belati menancap hati Kuroko lagi saat Akashi berdiri sambil menggunakan tongkatnya.
"Aku tidak sudi untuk tidak dapat melihat wajahmu lagi, Tetsuya."
Tubuh Kuroko yang melemah, hanya bisa berlutut di depan Akashi dengan matanya yang diperban itu.
"Kalau aku sembuh nanti, kau akan tau betapa berjuangnya aku untuk dirimu."
Kata demi kata yang terucap semakin membuat hati Kuroko sakit, bukan karena sakit hati dengan perkataan Akashi yang buruk, melainkan karena kata-kata yang terdengar sangat bersungguh-sungguh itu terucap dari bibir lidahnya.
"Kau hanya bisa berdoa, Kurokocchi. Dokter bilang, kemungkinannya sangat kecil untuk dia dapat melihat seperti semula, walaupun mata kanan yang terluka, tapi ada kemungkinan juga mata kirinya ikut bermasalah."
Mendengar perkataan Kise, Kuroko semakin drop, kalau memang Akashi akan buta, tidak ada hal lain selain Kuroko merenungi kesalahannya yang membuat Akashi buta.
"Kuroko, Akashi harus diperiksa lebih lanjut, sebaiknya kau pulang dulu, kembalilah malam ini."
"Aku akan segera kembali, Midorima-kun."
Kuroko dengan cepat berlari meninggalkan kamar dan rumah sakit, ia dengan cepat pulang ke rumahnya yang memang tidak jauh dari rumah sakit.
Karena panik yang dibawanya ke rumah, membuat kedua orang tua Kuroko khawatir dengan ekspresi Kuroko yang wajahnya dibasahi keringat dan nafasnya yang sempit.
"Ada apa denganmu?"
Menelan ludahnya pelan, Kuroko membuka mulut, "Ayah, aku ingin bertanya?"
"Tentu saja, apa itu?"
"Apakah seseorang yang matanya mengeluarkan darah banyak dapat peluang untuk melihat kembali seperti semula?"
Sambil mengusap dahinya, ayah Kuroko pun menjawab, "Apakah bunga yang sudah rusak dapat segar kembali?"
"Entahlah, mungkin tidak."
"Ya, begitulah jawabanmu, Kuroko."
Merasa tidak puas dengan jawaban ayahnya, Kuroko mengepal kedua tangannya dan menggeretakan giginya, ia kembali berlari keluar dari rumahnya, saat itu juga ia melihat Kagami sedang berada di dekat rumahnya.
"Kau ini ada apa?"
"Kagami-kun.."
"Kau bahkan sama anehnya dengannya, kau bukan seperti Kuroko yang ku kenal. Kau jauh lebih banyak memberi reaksi daripada aksi dinginmu kepada orang lain."
"Tidak ada waktu untuk membahasnya."
Kuroko berjalan melewati Kagami, tapi Kagami menarik baju Kuroko dan menatap dalam wajah kuuderenya yang lebih terlihat wajah yandere itu.
"Tenangkan dirimu. Kau sudah terlihat liar, Kuroko."
"Kau tidak mengerti apa yang ku rasakan saat ini, mungkin itulah yang mengubah pribadiku."
"Apa yang membuatmu seperti ini?"
"Entahlah, mungkin Akashi-kun."
"Memang apa spesialnya dia?"
'Sial! kenapa aku malah berdebat seperti sepasang kekasih yang misunderstanding begini dengannya.' gerutu Kagami dalam hati.
"Kalau begitu, temani aku ke rumah sakit."
"Untuk apa?"
Tanpa memberi jawaban pada Kagami, Kuroko sudah menarik tangan Kagami dan tanpa memotong waktu, mereka mengunjungi rumah sakit tempat Akashi dirawat.
Mereka pun langsung menghampiri kamar Akashi, tapi sayang, kamarnya kosong, mereka hanya menemui Aomine, Midorima, Kise, Murasakibara sedang menanti Akashi kembali.
"Ada apa ini?" tanya Kuroko cemas.
"Jangan khawatir, sebentar lagi dokter akan kembali dengannya, Tetsu."
Detik demi detik, menit demi menit, bahkan jam demi jam, Kuroko tetap menanti Akashi, walau ternyata begitu lama sekali pemeriksaannya, hanya rasa cemas dan kuatir yang menghantui pikirannya, belum pernah ia sekhawatir ini terhadap seseorang, apalagi kepada seseorang yang sudah dan hampir melakukan hal buruk padanya.
Tapi, tidak lama, suara roda kasur rumah sakit terdengar, dan pintu kamar mulai terbuka. Dua dokter dan dua suster memasuki kamar dan mengembalikan posisi kasur seperti semula.
"Dimana Akashi?"
"Sebentar lagi, ia akan dibawa kesini dengan kursi roda." jawab salah satu dokter dan mereka pun keluar meninggalkan kamar.
Lagi-lagi menit demi menit terlewat begitu saja, bahkan sampai langit sudah sangat gelap, menandakan malam sudah mendominasi hari itu.
Kecemasan dan keheningan pun dipecahkan saat Akashi dibawa masuk oleh seorang suster. Matanya masih diperban tebal, tapi darah pada mata kanannya sudah tidak ada.
"Apa ia baik-baik saja, dokter?" tanya Kuroko cemas saat melihat dokter menyusul memasuki kamar.
"Perban baru boleh dibuka besok, dan kami tidak menjamin hasilnya, tapi teruslah berdoa untuk kawanmu ini, nak."
Sambil memeriksa obat-obatan dan keperluan medis lainnya, dokter pun tidak lama memutuskan untuk meninggalkan kamar. Setidaknya tidak ada hal buruk terjadi pada Akashi, walaupun segala macam bentuk rasa kuatir benar-benar terpaku pada matanya yang luka itu.
"Tetsuya, kau disini?"
"Sebaiknya kau tidak banyak bergerak, matamu baru saja diobati."
"Ternyata kau memang menjengukku."
Kuroko menghampiri Akashi, walaupun mata Akashi masih ditutupi perban tapi ia masih dapat merasakan Kuroko yang sedang mendekatinya.
"Kenapa nafasmu terengah-engah? kau abis berlari?"
"Tidak, hanya efek rasa lelah yang tak karuan."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kau menemaniku di rumah sakit malam ini?"
"Dengan senang hati."
Akashi memasang raut wajah biasanya dan tersenyum simpul.
"Shintarou, sebaiknya kau juga ikut menemani."
"Itu bukan ide yang bagus, nanodayo."
"Sebaiknya kau tidak menolak, aku sudah menyediakan tempat kau tidur di lantai."
"Di lantai?"
"Ya.."
Sambil merapikan posisi kacamatanya, Midorima mengangguk kecil walau tidak dapat dilihat oleh Akashi, bagaimanapun juga, walau keadaannya sedang tidak baik, tetap saja tidak boleh ada yang melawan perkataan Akashi Seijuro.
"Kuroko, jadi kau tidak ingin pulang?" sahut Kagami yang tampak terpojokkan.
"Kau pulang saja, Kagami-kun, besok kau bisa datang menjemputku pagi-pagi."
'Dia pikir aku pelayannya? Cih!' gerutunya dalam hati lagi, memang nasib seorang Kagami Taiga.
"Kagami Taiga? kau tidak keberatan kalau Tetsuya menginap disini?"
"Ah.. tentu saja tidak."
"Terima kasih.."
Kagami menarik Kuroko dan agak berjauhan dari Akashi.
"Kau bercanda?"
"Tidak.."
"Dia memang siapamu? kenapa kau begitu memperhatikannya?"
"Mungkin karena suatu hal.."
"Suatu hal?"
"Ya.. mungkin aku juga memiliki suatu perasaan yang lebih padanya."
"Benarkah, Kuroko? Sungguh itu sangat menjijikan."
Kuroko pun tersenyum licik.
TBC
A/N : Ahhh.. gomen..gomen..gomenn...
Author bener-bener telat update karena ada kendala yang bener-bener urgent banget, semoga reader mau maafin author hehe.. ya sebagai hadiah permintaan maafnya, author membawa kabar gembira, karena dapat beberapa pesan dari reader lainnya untuk chapter selanjutnya terfokus pada POV Kuroko, jadi author memutuskan untuk memakai POV Kuroko seterusnya sampai akhir chapter hehe.. so, next! Chapter 7.. dinantikan ya :D apabila ada keterlambatan, maafkan author, secepatnya author akan update.
