Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Einer
(Chapter 7)
.
.
.
.
Sssssttttt...
"Apa?"
Ssssssttttt...
"Bu, ini masih subuh!"
Ssssttttt...
"Apa?!"
Tiba-tiba tamparan pelan menyentuh pipiku. Mataku langsung terbuka dan kaget. Rasanya jantung ini mau berhenti.
"Midorima-kun?"
"Beraninya kau membentakku, nanodayo!"
"Ah..gomen.. aku hanya lupa kalau aku sedang di rumah sakit."
Aku terbangun dari sofa dan mengusap mataku pelan. Dan baru ku sadari, Akashi-kun tidak ada.
"Akashi-kun?"
"Tadi dia dibawa ke ruang periksa pagi-pagi sekali."
"Untuk apa?"
"Perbannya akan dilepas."
Shoot! pagi-pagi saja, jantungku sudah dibuat berdetup kencang. Bagaimana tidak? aku jadi penasaran dan juga khawatir dengan hasil operasi pada mata Akashi-kun. Aku harap ia dapat melihat dengan normal lagi.
"Sebaiknya kau sarapan dulu, biar ku temani, membuka perban itu akan memakan waktu yang tidak sedikit, nanodayo!"
"Ah.. baiklah."
Dengan cepat aku membersihkan tubuhku dan berpakaian rapi, dan bersiap menyantap sarapan pagi ini. Ku tempuh langkahku menuju kantin kecil di lantai 1 rumah sakit ini. Mungkin Midorima-kun benar juga, untuk Akashi-kun beradaptasi dengan penglihatannya itu pasti memakan banyak waktu, sebaiknya aku menantinya saja.
"Mau makan apa?"
"Kare lidah sapi tidak masalah."
"Ehmm, baiklah."
Melihat Midorima-kun menawarkan dan memesankanku makanan, seolah memberiku kesan tentangnya, aku tau, Midorima-kun adalah pemuda yang baik seperti Akashi-kun, ia pasti hanya dimanipulasi dengan Aomine-kun untuk mengikuti nalar buruknya.
"Midorima-kun.."
"Apa?"
"Boleh aku menanyakan beberapa hal?"
Tanpa menjawab, Midorima-kun langsung duduk tepat di depanku dan merapikan posisi kacamatanya sambil menatapku dalam.
"Itu tidak masalah."
Ini kali pertamaku hanya berduaan dengannya, jadi aku tidak akan mengacaukan kesempatan ini.
"Saat Aomine-kun ingin menjamahku, kau benar-benar tidak tertarik padaku kan?"
"Maksudmu?"
"Tertarik dalam hal.. ya kau tau lah."
Midorima-kun memasang wajah datarnya dan tetap menatapku tajam.
"Aku tidak akan pernah mengambil kesempatan, apalagi kalau ini bersangkutan dengan Akashi."
"Apa maksudmu?"
Belum pertanyaanku terjawab, makanan sudah sampai dan membuat konsentrasi Midorima-kun padaku buyar dan langsung menyerbu makanannya itu.
Tapi mau diapakan lagi? perutku juga sudah terlanjur lapar, sebaiknya aku juga menyantap makananku ini.
"Ohayou!"
Tiba-tiba terdengar suara dari arah tepat belakang kami, suara yang tak asing.
Ku toleh pandanganku kepada pemuda berambut kuning lebat itu, Kise Ryouta-kun.
"Kise-kun, sedang apa?"
"Tentu saja untuk menjenguk Akashicchi."
Oh ya, mungkin agak sedikit membingungkan dari cara mereka memanggil satu sama lain, sebelumnya, akan ku deskripsikan sedikit tentang keunikan mereka (Anggota GoM), pertama, Midorima-kun dan Aomine-kun, menurutku sih ia wajar-wajar saja memanggil teman-temannya dengan sebutan nama panggilan mereka. Kise-kun, seperti tadi, ia memanggil semua teman-temannya dengan –cchi (Akashicchi, Midorimacchi), Akashi-kun memanggil mereka dengan nama marganya yaitu Shintarou, Ryouta, Daiki, dll. Dan terakhir yaitu Murasakibara-kun, ia selalu memanggil dengan akhiran –chin (Aka-chin).
Oh ya, membahas Murasakibara-kun, aku tidak melihatnya sejak kemarin.
"Murasakibara-kun tidak berkunjung?"
"Dia dan Aominecchi sedang pergi ke suatu tempat, entahlah."
Kami pun jadi bercakap-cakap sepanjang waktu makanku sampai tak sadar aku sudah menyisakan sedikit makananku.
"Ah.. Kise, sebaiknya kau bawa Kuroko pergi sampai Akashi kembali, pasti dia bosan, nanodayo!"
Kise-kun pun melirik ke arahku, "Baiklah! Ayo, Kurokocchi!" ajaknya padaku.
"Mau kemana?"
"Kau suka anak anjing kan?"
"Tentu.."
Jujur, aku tidak terlalu mengenal Kise-kun, tapi dari wajahnya yang polos dan kalem itu sedikit memberiku sinyalnya yang baik darinya, menurutku, Kise-kun itu adalah tipe pemuda yang bertolak belakang dengan kawan-kawannya yang lain, apalagi Aomine-kun yang justru lebih maskulin daripadanya.
Kise-kun mengajakku ke sebuah tempat yang tidak jauh dari rumah sakit, tempat itu tempat dimana binatang piaraan yang tak bertuan dirawat. Tanpa perlu waktu yang lama, mataku sudah terpaku kuat pada seekor anjing bermata biru yang lucu itu, matanya mirip sekali dengan mataku, ingin sekali aku memilikinya.
"Kau suka dia? kalau kau ingin, kau bisa memeliharanya."
"Tapi.."
"Tenang saja, kau tidak perlu melepas banyak lembaran yen hanya untuk anjing temuan ini, aku tidak masalah untuk menalanginya dulu."
"Benarkah? aku tidak ingin merepotkanmu, Kise-kun. Kalau boleh, ku pinjam uangmu dulu, nanti akan ku gantikan saat Kagami-kun menjenguk ke rumah sakit."
"Itu mudah saja.."
Kise-kun memanggil petugas di tempat itu dan meminta petugas itu untuk menyiapkan anjing kecil yang ingin ku miliki itu. Melihat anjing itu dikeluarkan dari kandangnya, memberiku kesan lebih lagi, rasanya aku baru saja mendapatkan teman. Tenang saja, bukannya aku berlebihan, tapi aku memang tidak memiliki teman sama sekali, aku sudah merasa cukup untuk dekat dengan Kagami-kun, Akashi-kun dan anggota GoM, walau kepribadian mereka berbeda-beda.
"Hmm.. Tetsuya Nigo itu nama yang cocok untuknya?"
"Tetsuya Nigo?"
Baiklah, mungkin anjing ini benar-benar memiliki warna chrom mata yang sama persis seperti diriku, tapi agak berlebihan juga kalau ia dipanggil sebagai 'Tetsuya kedua'.
"Bagaimana, Kurokocchi?"
"Hmm.. itu keren."
Suka tidak suka, aku harus menghargai nama buruk dari Kise-kun, mungkin ini karena ia sudah memberikanku anjing yang ku dambakan ini.
Setelah menghabiskan sedikit waktu di tempat itu, aku pun berniat untuk kembali ke rumah sakit, tapi belum aku meninggalkan tempat itu, aku sudah melihat Aomine-kun dan Murasakibara-kun duduk di sebrang tempat ini.
"Aominecchi...Murasakibaracchi.." teriak Kise-kun saat melihat dua kawannya yang berwajah kusut itu duduk menantinya, Aomine-kun yang sedang sibuk menatap sekitar dan Murasakibara-kun yang sibuk memakan cemilannya yang banyak itu.
"Kuroko, sedang apa kau dengan pria beranting ini?" sahut Aomine.
"Hey ini tindik tau!, dan seenaknya saja kau tidak menyapaku balik." tukas Kise-kun kesal yang langsung ditepuk kepalanya oleh Aomine-kun.
Entah mengapa, menatap Aomine-kun yang asyik bercanda dengan Kise-kun membuatku tersenyum sendiri, aku hanya tidak menyangka anggota GoM yang
dipimpin oleh seorang Akashi Seijuro yang memiliki kepribadian yandere itu ternyata masih dapat berinteraksi seperti layaknya interaksi antar teman-teman dekat.
"Kuro-chin, bagaimana kabar Aka-chin?" tanya Murasakibara-kun disela-sela candaan Aomine-kun dan Kise-kun.
"Aku belum tau pasti, tapi hari ini perban pada matanya akan dibuka, aku berharap saja matanya dapat berfungsi seperti semula. Ya.. Walaupun kemungkinannya kecil."
"Lalu dimana Mido-chin?"
"Mungkin masih di rumah sakit, tadi aku habis sarapan dengannya tapi tiba-tiba Kise-kun muncul dan mengajakku pergi. Seingatku, dia memanggil Momoi-san."
"Satsuki? cih! si oppai besar itu tidak menghubungiku dahulu," gerutu Aomine-kun tiba-tiba, "Tapi aku akan langsung pergi ke rumah sakit, bagaimana kalian?"
Aku dan Murasakibara-kun mengikuti Aomine-kun menuju ke rumah sakit yang tidak jauh dari tempat kami berdiri sekarang. Dan yang ku ingat, rumah sakit tidak pernah mengijinkan hewan piaraan untuk masuk ke dalam, jadi aku memutuskan unutk menitipnya pada Kise-kun yang setauku juga akan berkunjung ke rumah senpainya itu.
Untuk kesekian kalinya, aku benar-benar merasa sangat dekat dengan mereka, ya mereka.. anggota GoM, bahkan Aomine-kun yang adalah seorang pervert sudah membawa hawa wajar.
"Oh ya,Kuroko."
"Ada apa, Aomine-kun?"
"Bagaimana kau bisa mengenal Satsuki? kita saja baru kenal dekat beberapa hari lalu."
"Hmm.. sebelum aku mengikuti taruhan itu, aku bertemu dengannya. Dia bilang dia menyukaiku, tapi aku menolak."
"Mengapa?"
"Aku ini Yaoi."
Aomine-kun menggaruk kepalanya pelan, "Tidak perlu kau katakan seperti itu. Aku pun juga. Satsuki adalah teman baikku sejak kecil, setidaknya hanya dia yang mampu menerima kekuranganku ini."
"Hmm.. aku mengerti."
Baru beberapa menit aku memasuki rumah sakit, dokter sudah menghampiri kami yang masih di dekat pintu lobby, wajahnya terlihat sangat datar, aku tidak dapat menebak apa isi pikiran dokter itu.
"Ada hal apa dokter? kita baru saja sampai tapi sudah menghampiri kami saja. Segitu penting kah?" cetus Aomine-kun tiba-tiba.
"Urusai, Aomine! ini pasti tentang Akashi." sela Midorima-kun yang tiba-tiba datang bersama Momoi-san.
Tanpa membalas ucapan Midorima-kun, dokter langsung mengajak kami untuk menghampiri kamar Akashi-kun. Setiap langkah demi langkah seolah memberiku perasaan maupun bayangan yang tidak jelas tentangnya, terkadang hal baik, tapi terkadang juga hal buruk, rasanya juga langit seolah tak ingin mengikutiku lagi, entah apa maksud dari ini semua.
Saat akhirnya kami sampai di kamar Akashi-kun, aku pun orang pertama yang menghampirinya.
"Akashi.." sahut Midorima-kun.
Entah hal buruk atau baik, saat aku menghampirinya yang sedang terduduk di kasur itu masih saja dibaluti perban pada mata kanannya.
"Bukankah perbannya seharusnya sudah dibuka?" tanya Momoi-san pada si dokter.
"Justru itu, kalian diajak untuk langsung melihat proses pembukaan perbannya."
Melihat proses pembukaan perbannya?
Apa maksud kalimat itu?
Apa dokter sendiri pun belum memastikan keadaan matanya?
Baiklah, kalau aku diumpamakan sedang bermain suatu wahana menegangkan seperti halilintar, maka posisiku saat itu pasti sedang antara hidup atau mati, bisa saja diibaratkan sebagai halilintar yang tiba-tiba mati saat sedang di atas puncaknya dan hanya tinggal menanti kapan itu menyala dan jalan turun atau itu tidak akan pernah menyala dan aku hanya akan terjebak di atas situ hingga membusuk. Tidak... tentu saja tidak.. halilintar itu harus menyala dan jalan turun.
"Tetsuya.."
Suara lembut Akashi-kun menggiringku untuk menghampirinya. Ia benar-benar tidak tau saat ini aku sedang berdiri tepat disampingnya, ia hanya dapat merasakan keberadaanku.
Akashi-kun menarik lenganku dan membuatku mendekati wajahnya, lalu ia berbisik, "Apakah nanti saat kau mengetahui keadaanku yang mungkin tidak sesuai dengan yang kau harapkan, kau masih ingin menerimaku apa adanya?".
Kamisama, onegai!
Lontaran kalimat tadi benar-benar menusuk hatiku, bahkan rasa sakitnya tidak dapat ku tahan daripada tertusuk pisau tajam sekalipun. Aku mengerti sekali apa yang dipikirkan Akashi-kun, tapi ini kali pertamanya aku mendengarnya melontarkan kalimat melalui suaranya yang penuh kepasrahan itu.
"Dokter akan langsung membuka perbannya.."cetus suster yang kini berdiri di samping dokter yang mempersiapkan gunting untuk membuka perban itu.
"Ku mohon, Seijuuro-san. Jangan langsung membuka mata kala nanti perbannya sudah terbuka."
"Terima kasih, dokter. Aku tidak sabar."
Sretttt... srettttt... sretttt...
Suara perban yang dibuka itu mirip sekali dengan kertas yang disobek-sobek, setiap lapisannya itu membuat tubuhku semakin bergemetar dan penasaran akan hasilnya.
Sampai akhirnya, lapisan terakhir pun terbuka.
Mataku pun terbelalak saat melihat mata kanan Akashi-kun yang terdapat garis panjang dari alis hingga ke bawah melalui penuh matanya, terlihat jelas bahwa itu adalah bekas sayatan pisau.
"Tolong buka matamu pelan.. kalau bisa yang mata kiri." kata dokter.
Akashi-kun pun membuka mata kirinya yang tidak ada luka sama sekali, tetapi sebagai antisipasi dengan saraf mata lainnya, maka dokter juga memeriksa mata kirinya. Tapi untungnya, mata kirinya masih sehat. Dan sekarang mata kanannya yang ia buka perlahan, saat itulah ketegangan benar-benar ku rasakan bersama yang lainnya. Bahkan, Aomine-kun yang paling maskulin memasang wajah tegangnya itu.
Saat mata kanannya benar-benar terbuka sempurna, dokter langsung mencetuskan pertanyaan, "Apa yang kau lihat?"
Akashi-kun terdiam. ia hanya terdiam, benar-benar terdiam, bahkan sampai hitungan menit pun termakan.. apa yang terjadi?
"Katakan sesuatu, Akashi!" cetus Aomine-kun.
"Jelaskan pada kami apa yang kau rasakan, jangan memberikan kami ketegangan lagi, nanodayo!" tambah Midorima-kun.
Akashi-kun mengepal tangannya kuat dan menatap dalam kami semua. Jujur saja, aku tidak tau apakah ia melihat kami dengan baik atau sebelah pandangannya memburam, rasanya Akashi-kun tidak ingin berkomunikasi.
"Aku ingin berbincang dengan Tetsuya di teras depan, bisa kalian menanti disini?" cetusnya.
Tanpa menjawab, semuanya pun mengangguk.
Akashi-kun berdiri dan menarik lenganku untuk berbincang di teras. Kamar Akashi-kun ialah kamar yang paling spesial, biasanya hanya kaum elit yang dapat memesan kamar spesial di rumah sakit ini, maka itu kamarnya ada teras dan ukurannya lumayan besar.
"Tetsuya, sesuai apa yang ku katakan.."
Lagi-lagi suara lembutnya memanggilku, tapi yang ku perhatikan darinya hanyalah mata kanan yang ada bekas sayatan pisau itu, aku seolah menanti-nanti apa yang akan ia bincangkan.
"Apa yang kau katakan?"
Hembusan angin kencang membuat rambutku terkibas dan mendengungkan telingaku, tapi lamat-lamat ku dengar suara lembutnya yang berkata..
"Aku tidak sudi untuk tidak dapat melihat wajahmu lagi, Tetsuya."
Dengan cepat ku arahkan pandanganku pada matanya yang melotot.
"Aku melihatmu... dengan baik..."
Ujung bibirnya yang dinaikkan itu membuatku tenang, tenang sekali.. tenang seperti dalam bekapannya.
TBC
A/N : Huaaaa.. udah lama banget gak update. Gomen..Gomen.. author belum update bahkan sudah berbulan-bulan, tapi syukurlah juga kalau akhirnya Ch7 berhasil rilis. Kesibukan author bener-bener menghalangi banget, tapi jangan kuatir readers, author akan selalu update walau waktunya tidak pasti.. mohon pengertiannya :D so, Next! Chapter 8.. sedikit bocoran aja.. chapter selanjutnya akan dihantui oleh cinta segitiga, tapi belum pasti sih, doakan saja yang terbaik..hehe..sampai bertemu 2 minggu lagi..
Extra
Angin semakin kencang menghembus, rambutku semakin terkibas kencang, aku hampir tidak dapat melihat pemuda yang kini masih tersenyum simpul di hadapanku ini, pemuda yang berhasil menghilangkan rasa kuatirku.
Tapi aku yakin, akan ada hal yang siap maupun harus ku kuatirkan lagi, setelah melihat sepasang mata dengan chrom berwarna merah dan pemuda yang bertubuh tinggi kekar melalui tirai poni rambutku ini yang kini sedang menatapku dari belakangku, Kagami Taiga.
