Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Einer

(Chapter 8)

.

.

.

.


MATA itu...

Mata yang masih menatapku dalam, mata yang lama tertutup oleh perban itu kini dapat ku lihat dengan baik, serta senyuman tipis yang berhasil menghapus pedih dalam hatiku, semuanya benar-benar ku lihat dengan seluruh pandanganku.

"Tetsuya.."

Bahkan suaranya yang lembut dan nyaman didengar itu membuatku tak henti menatap pemuda berambut merah terang di depanku ini, Akashi Seijuuro.

Tapi..

Aku tau, tatapan lain berkata lain, seolah hanya mala petaka yang sedang terjadi.

"Akashi-kun, jelaskan soal matamu itu." sambarku terlebih dahulu sebelum tangan besar menepuk kencang bahuku.

"Kuroko, ayo ki-" tiba-tiba tangan itu terlepas dari bahuku, "Aku akan segera pulang, aku hanya ingin menemui Aomine untuk suatu hal. Hmm.. Ja."

"Kagami-kun.."

Sial! kenapa tiba-tiba kakiku seolah membeku? lalu, pandanganku seolah menyipit dan melambat. Aku tidak dapat berbuat apa-apa, apalagi saat Akashi-kun meraih tanganku. Yang dapat ku lihat hanya pemuda berbadan tegap itu mulai berjalan mengeluari ruangan dengan wajah kecewa.

"Tetsuya, akan ku ceritakan suatu hal." bisik Akashi-kun padaku. Suaranya memang lembut dan nyaman didengar, tetapi saat ku tatap matanya lagi.. ku akui suatu hal.

Aku merasa seolah tidak mengenal Akashi-kun.. ia... ia berubah..

Akashi-kun kembali masuk dan pergi meninggalkan ruangan itu. Suasana menjadi sangat hening, benar-benar berubah setelah Kagami-kun meninggalkan ruangan ini.

"Kuroko.." panggil Midorima-kun, "Apapun yang terjadi, berhati-hatilah dengan Akashi."

"Ada apa?"

"Ku rasa Akashi yang lain mendominasi dirinya.."

"Midorima-kun, apa maksudmu?"

"Kau akan mengetahuinya.."

Sungguh.. aku tidak mengerti apa yang dimaksudkan si rambut hijau ini. Pikiranku benar-benar terpaku pada kejanggalan Akashi-kun. Apa sebaiknya ku susul saja dia?

Ku tumpu kakiku untuk mampu berlari mengejar Akashi-kun, rasanya pikiranku kini menjadi kelabu dan kacau, aku tidak dapat memikirkan apapun secara logika, aku merasa seperti baru saja mati dan dibangkitkan. Mungkin hal tersebut terdengar berlebihan atau justru menyeramkan, tapi begitulah keadaanku saat ini.

"Kuroko... tunggu!"

Langkahku tiba-tiba terhenti saat melihat Midorima-kun berlari mengejarku dengan panik

"Ada apa?" tanyaku datar.

"Lihat guntingku?"

"Jadi kau berlari panik seperti itu hanya untuk menanyakan itu?"

"Kejamnya! nanodayo!, kalau begitu pasti Akashi meminjamnya tanpa izin, huh! padahal itu adalah lucky item hari ini."

Shoot!

Kenapa tiba-tiba aku merasa ada suatu hal yang semakin menjanggal?

Tidak..tidak..

Bukan soal lucky item Midorima-kun itu, namun suatu hal lain yang membuatku bingung.

Kalau gunting Midorima-kun tidak ada, dan katanya Akashi-kun meminjamnya tanpa izin. Hmm.. Akashi-kun pasti saat ini sedang membawanya, tapi untuk apa?

"Ha! Tidakk.."

"Ada apa, Kuroko?"

Entah mengapa, tiba-tiba diriku seperti baru saja dikejut, kakiku langsung menumpu kencang untuk aku berlari, aku tidak peduli dengan Midorima-kun yang mengoceh dibelakang ku, justru sekarang aku mengerti suatu hal.

Baru aku menginjak lantai lobby rumah sakit, perhatianku langsung dicuri oleh suasana taman di halaman rumah sakit yang sangat sepi, padahal biasanya taman itu cukup ramai, apalagi sekarang masih siang. Aku pun langsung datang ke taman itu,

dan..

tatapan ku terpaku pada sesosok pemuda yang berlumuran darah pada bagian tangan dan pipinya.

Mataku.. terbelalak

Tubuhku.. membeku

Bukan artinya aku takut pada darah, tapi sungguh, ini kali pertamaku melihat orang terluka parah seperti ini dengan kedua mataku dan tepat di depanku.

"Kuro-ko.."

Pemandangan terburuk yang pernah ku lihat seumur hidupku. Kali ini, segala sesuatunya terasa seperti mimpi buruk, melihat temanku mengalami kesengsaraan

yang aku sendiri tidak mengerti sebabnya.

"Kagami-kun.."

Ah! Persetan!

Tidak peduli dengan darah itu, yang penting aku harus membantu Kagami-kun. Beruntung sekali kejadiannya terjadi di rumah sakit, jadi Kagami-kun dapat langsung diurus.

Tapi, lagi-lagi ku rasakan suasana tak nyaman, angin menghembus berbeda, langit tidak secerah tadi, ada apa lagi ini?

"Dia tidak akan mati.."

Suara itu, sangat tidak asing..

Suara yang sangat ku kenal, suara yang baru saja ku bangga-banggakan itu, Akashi-kun.

"Apa yang kau lakukan padanya?"

Akashi-kun menghampiriku dengan tatapan dari mata heterochromaticnya itu, tatapan yang sangat dingin, aku benar-benar tidak mengenalnya.

"Aku tidak melakukan apapun, Tetsuya. Dia sendiri yang menyerangku duluan."

"Tapi, apa dengan gunting kau dapat memuaskan hasrat psikopatmu?"

Mata heterochromaticnya seolah menusuk mataku, sangat dalam tatapannya itu.. Rasanya aku seperti dipengaruhi oleh matanya dan dikendalikan.

"Psikopat? kejam sekali kata-katamu itu,Tetsuya. Asal kau tau, aku hanya menggunakan gunting Shintarou untuk menggunting rambutku." jawabnya dengan suara mengancam, "Sebaiknya kau bawa dia untuk pengobatan, kau tidak ingin dia mati kan?"

Sial!

Kali ini Akashi-kun menyunggingkan ujung bibirnya itu, ia menyeringai seolah baru saja mengepung mangsanya yang lemah. Ia haus akan menyiksa mangsanya..

Setidaknya aku merasa jauh lebih aman saat suster langsung membawa Kagami-kun ke ruang periksa, melihat Kagami-kun dengan badannya yang bergetar dan darahnya yang melumuri kemejanya itu, aku semakin yakin kalau yang dikatakan Midorima-kun itu benar, Akashi-kun yang lain sedang mendominasi tubuhnya.

"Kuroko.." panggil Kagami-kun.

"Ada apa?"

"Ku mohon berhati-hatilah sampai aku pulih."

"Tentu saja.."

Sambil menanti pengobatan berlangsung, aku memutuskan untuk kembali ke kamar Akashi-kun, aku hanya ingin memastikan kegilaan yang akan ia perbuat lagi.

Walau aku agak ragu untuk kembali, tapi kalau memang dengan aku kembali bisa menghasilkan sesuatu, maka sebaiknya aku kembali ke kamarnya.

Dengan raut wajah ragu, hingga bulir-bulir keringat mulai menetes melalui dahi ke dagu, bahkan keringat itu sampai memasuki mataku, perih sekali.. sama perih dengan situasi ini.

"Tetsu.."

Belum aku memasuki kamarnya, suara berat bergema itu bersuara ditelingaku memanggil namaku, ya sudah jelas itu suara Aomine-kun.

"Ada apa?"

"Kalau kau mencari Akashi, dia sudah pulang."

Kalau kau mencari Akashi, dia sudah pulang.

Pulang? disaat ia sama sekali belum diizinkan pulang dari pihak rumah sakit.

"Tapi.. Aka-"

Prangggg...

Belum aku menyelesaikan kata-kataku, suara pecahan kaca terdengar sangat keras dan membuat orang-orang di rumah sakit keluar dari ruangannya heboh.

Suara kepanikan dan teriakan wajah-wajah tak berdosa semakin menjadi-jadi saat tak disangka baru saja terjadi pembunuhan. Astaga.. apakah itu.. tidak mungkin!

Aku dan Aomine-kun berlari menuju asal suara dan kejadian itu, bahkan disusul juga oleh yang lainnya, Midorima-kun, Murasakibara-kun, dan Momoi-san. Ternyata baru ku sadari, bahwa asal suara itu dari lobby, dekat ruang periksa dokter.

Sepanjang aku berlari menuju lobby, yang dapat ku lihat hanyalah orang-orang dengan wajah tak bersalah dan panik, serta aku hanya dapat mendengar suara jeritan derita mereka.

Sesampainya aku di lobby..

"Tidak mungkin." Midorima berseru pelan sambil mengepal tangannya kuat, geretakan dari giginya begitu meyakinkanku bahwa orang yang kini sedang dilihatnya ialah seseorang yang sedang tergeletak di lantai dengan darah segar yang mengalir dari perutnya itu, sebuah pisau kecil nan tajam itu menusuk sangat dalam perutnya itu, ku tatap habis seluruh tubuhnya itu, hingga aku mencapai kepalanya, alias wajahnya.

"Aka-" sebutku pelan sambil menghampiri ia yang sedang terkapar itu. Ku tatap dalam mata heterochromaticnya itu, disela-sela rasa pedih lukanya itu, ia masih menyempatkan memberiku senyuman kecil.

Ia membisikkiku, "Tetsuya, ku mohon, selalu berada disampingku, dan jangan tinggalkan manusia berdusta seperti aku."

Sial! Mengapa disaat aku membencinya, aku malah menangis seperti bayi?

Ya aku tau, aku memang tidak berbakat untuk membencinya, bahkan walau ia akan mengancam untuk membunuhku sekalipun, aku sudah tidak berdaya jika mencoba membuang dirina dari hatiku.

Ia mengelus pelan rambutku, belaiannya pada rambutku membuat air mata yang mengalir, seolah kembali membeku, air mata yang dihapus olehnya dengan mudah.

"Akashi sialan! apa yang kau lakukan?" tiba-tiba dari kejauhan, Kagami-kun datang menghampiri dengan tubuhnya yang masih belum stabil.

"Kau yang sialan!" dari arah lain, Midorima-kun datang dan menyerang Kagami-kun, satu kepalan kuat tangannya berhasil mendarat ke wajahnya itu.

"Aku tau kau membencinya, tapi bukan berarti kau harus mengacau dan mencoba membunuhnya."

Mendengar kata-kata Midorima-kun, tubuhku seolah lemas, apalagi saat ku lihat ada pisau kecil di saku Kagami-kun yang tampak jelas rupanya walau tertutupi celananya itu.

"Apa? aku bahkan ti-" kata-kata Kagami-kun terpotong saat Aomine-kun menarik pisau kecil itu dan membuangnya.

"Hmm..kenyataan memang menyakitkan." tukasnya tegas.

Disaat Kagami-kun tertekan dan terpojok seperti itu, aku merasa tidak mampu berkata apa-apa, mungkin benar yang dikatakan Aomine-kun, kenyataan memang menyakitkan.

Ku tepuk pundak Momoi-san memberi kode untuk mengurus Akashi-kun dan aku menarik lengan pemuda berbadan tegap yang kini sedang memasang wajah kuatir itu menjauh dari sini.

Ku ajak ia mengeluari lobby dan mencoba membuatnya tenang sejenak.

"Aku percaya, kau tidak melakukannya, tapi tolong jelaskan sesuatu." cetusku biasa.

"Dia adalah orang yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan tujuannya."

"Baik, tidak ada waktu untuk membahas tujuannya itu, tolong jelaskan dulu kronologinya."

"Mudah saja, ia menyakiti dirinya sendiri dan membuat kericuhan. Dia adalah aktor yang pandai, Kuroko."

Seorang Akashi Seijuuro? menyakiti dirinya sendiri?

Tidak mungkin, tidak mungkin hanya karena satu sisi lainnya yang mendominasi dapat menguasai seluruh sifat dan karakternya.

"Bagaimana bisa?"

"Mungkin spesialisnya ada pada menjebak orang lain, maafkan aku.. aku tidak bisa membela diri, Midorima dan Aomine sepertinya tidak akan mau mendengar perkataanku."

"Baiklah, aku sudah dapat membayangkan aksinya itu, sebaiknya kau pulang. Biar ku urus."

Kagami-kun menepuk bahuku, "Siapapun yang berani melukaimu, ia harus berani menapakan kakinya didepan wajahku." bisiknya tegas lalu pergi.

Saat ini ada dua orang yang peduli denganku, Kagami-kun, ia tulus perhatian denganku, namun aku merasa kami belum bisa dipersatukan, Akashi-kun, aku yakin perasaan kami sama dan peluang bersatu itu besar, namun.. aku tidak tau Akashi-kun yang mana yang cocok denganku, ia berkepribadian ganda.

"Kuroko, kami mencarimu dari tadi." tiba-tiba saja, Midorima-kun menghampiriku.

"Maaf.. aku tidak seharusnya sekasar itu padanya, aku hanya tidak mampu melihat pecundang seperti Akashi tersakiti seperti itu."

"Ya.. aku mengerti."

"Kuroko, ku beri tau kau, Akashi tidak hanya memiliki dua kepribadian, namun tiga sekaligus. Dan, ku mohon, kalau ia mengatakan hal apapun dengan wajah serius, tolong jangan tanggapi."

Tiga kepribadian dalam satu tubuh.. itu sangatlah mustahil. Belum pernah ku temui seseorang dengan kepribadian ganda yang menyeramkan sepertinya, apalagi menemui tiga kepribadian, dua saja sudah membuatku mati langkah.

"Midorima-kun, bagaimana kau bisa tau? mengapa kau baru memberitauku sekarang?"

"Kuroko, ini hanya analisaku sejak bertahun-tahun, dan tak ku sangka analisa ini memang suatu fakta."

Tidak ku sangka juga, Midorima-kun memang menyadari keanehan dari Akashi-kun, bahkan ia sampai menghabiskan tahun-tahunnya untuk menganalisanya.

"Terima kasih, Midorima-kun. Informasi ini sangat berarti untukku. Tapi apa sekarang aku sudah bisa menemuinya?"

Midorima-kun mengangguk tanda setuju. Ku gerakan lagi kakiku memasuki rumah sakit. Suasana rumah sakit yang kini sudah jauh lebih baik, petugas di dalamnya membersihkan semua kekacauan tadi, tapi yang terpenting ialah tidak ada korban jiwa, ini sedikit meyakinkanku bahwa Akashi-kun masih memiliki hati untuk orang-orang yang tak bersalah.

Aku memasuki kamar Akashi-kun lagi. Kali ini aku benar-benar melihatnya terdiam, tanpa lirikkan matanya padaku.

Menatap wajahku, semua yang di dalam keluar dari kamar, mereka pasti tau apa yang sedang ku tujukan padanya.

"Apa masih sakit?" tanyaku lembut.

"Tidak sesakit rasaku ingin membunuh seseorang." jawabnya tanpa melirik sedikitpun ke arah wajahku.

Benar-benar akurat apa yang Midorima-kun katakan, kata-kata Akashi-kun yang dingin dan penuh keyakinan itu.

"Memang siapa yang ingin kau bunuh itu?"

Ia mengalihkan penglihatannya padaku, matanya sungguh menusuk.

"Seseorang yang melukaiku.." cetusnya dengan nada berbisik namun sambil memelototiku.

"Baiklah, Akashi-kun.. aku hanya ingin bertanya.. apa tujuanmu melukai dirimu sendiri?"

Akashi-kun mengepal tangannya dan semakin menatapku tajam

"Aku tidak melukai diriku sendiri.."

Ku lontarkan pertanyaan lagi kepadanya secara perlahan

"Ini adalah pertanyaan yang mudah.. kalau kau membenci Kagami-kun dan ingin membunuhnya, mengapa kau dulu begitu marah saat Generation of Miracle memisahkanku dengannya di klub itu?"

Akashi-kun menjadi terdiam, tidak ada suara apapun yang terdengar, hanya suara nafasnya yang terengah, bahkan wajahnya tidak melirikku lagi, ia hanya memerhatikan ke arah depannya dengan tatapan kosong. Apa pertanyaanku mengefek sesuatu padanya?

Sekitar sepuluh menit terpotong, akhirnya Akashi-kun perlahan membuka mulutnya.

"Karena aku tidak ingin kau terluka."

Perasaan macam apa ini?

Mengapa aku jadi teringat Akashi-kun saat membelaku di depan kawan-kawannya itu.

"Tetsuya.."

Ia menyebut namaku dengan sangat pelan dan lambat, namun masih dapat ku ketahui dari gerakan bibirnya itu.

"Kau tau, aku jatuh hati padamu." cetusnya sambil mengusap matanya yang dilinangi air mata itu.

Perasaan apa lagi ini? aku juga jadi teringat saat aku pertama kali bergabung ke dalam Generation of Miracle, saat itu, kalimat itulah yang ia keluarkan. Bahkan linangan air mata yang membasahi mata heteronya itu pernah ku lihat dulu, tepat saat Akashi-kun mengalami depresi berat.

Tiba-tiba, air mata itu berhenti mengalir, dan lagi-lagi ucapan lainnya..

"Tetsuya, kau itu memang beruntung, tidak seperti diriku yang pantas dibakar hidup-hidup?"

Jackpot! kata-kata itu juga, kata-kata terakhir yang ia ucapkan setelah menyerang Kagami-kun.

Semua kata-kata itu seperti sebuah alur, tersusun rapi dan jelas, seolah sandiwara.

Sepertinya, itu semua memberikan alur untuk tindakan Akashi-kun secara terbalik. Dan apabila kalimat terakhir itu dilontarkannya, maka... Oh tidak..

"Tetsuya.."

Akashi-kun menepuk pelan kepalaku, dan meraba-raba kantung celananya itu, mendapati sebuah benda tajam di dalamnya..

"Dan, orang yang sama-sama tersakiti tidak akan bisa bersatu kan?"

Kalimat itu juga.. timingnya sangat pas..

Seolah aku berhasil masuk ke dalam jebakan jaring laba-laba.

Dan kini aku tau, benar-benar mengetahuinya..

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ketiga kepribadian yang dimiliki Akashi-kun.

TBC

A/n : sekian lama, akhirnya update juga.. :D maaf atas keterlambatannya..

Walaupun waktu tidak dapat dijanjikan, tapi pasti akan update kok.. untuk info update yang mau ditanyakan langsung pada author, bisa langsung hubungi melewati wattpad author lesmizerables (bukan promote kok :D wkwkwk) sekedar mempermudah kalau andainya author jarang aktif di FFN. Tapi jangan khawatir.. author segerin dengan update yang akan datang yaitu Chapter 9 :D

Sampai jumpa..