Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Einer

(Chapter 9)

.

.

.

.

Dari sisi yang tidak dapat ku lihat, Akashi-kun mengeluarkan gunting dari balik selimutnya itu, mengangkatnya perlahan lalu mengarahkannya kepadaku.

Wajahnya tak dapat ku tebak, ia seperti bukan Akashi-kun di satu sisi, namun ada sisi dimana ia adalah Akashi-kun.

"Tetsuya"

Suara lembutnya kini memberat disertai dengan tatapan mata yang sangat mendekap dan tajam ke arahku, matanya menyipit sedikit.. lalu...

Zzzzztttt...

Tiba-tiba semuanya menjadi hening..

Tidak mungkin!

Tidak mungkin!

Tetesan darah ini, aku harap ini semua hanya mimpi, aku berharap ini semua hanya sebuah pembayangan yang salah.

"Kuroko.."

Sekejap setelah menatap kedua mata hetero itu, aku merasakan tarikan tangan kuat, ya.. tenang saja, aku tau kalau itu tangan Midorima-kun.

"Akashi, apa yang kau lakukan?!" cetusnya sambil merebut benda tajam itu dari tangan Akashi-kun.

Midorima-kun mengambil sehelai tissue untuk membersihkan darah di tanganku. Jika banyak yang bertanya-tanya, ada dua berita saat ini, baik dan buruk... berita baiknya adalah darah di tanganku ini bukanlah darahku, dan kalian pasti sudah dapat menebak kelanjutannya.

"Shintarou, tanganku hanya tergores tanpa sengaja, benar, Tetsuya?"

Sial!

Saat Akashi-kun mengatakan hal itu, aku hanya dapat terdiam, ku rasa, lebih baik diam daripada mati di kandang harimau.

"Bakashi! akan ku panggilkan dokter. Ayo Kuroko!"

Midorima-kun menarik kuat tanganku, wajahnya menjadi serius, seolah ada hal baru yang ia ketahui.

Belum jauh kita meninggalkan kamar Akashi-kun, ia langsung menatapku dingin.

"Ini sudah kedua kalinya ia melukai dirinya sendiri, entahlah matanya benar-benar ia lukai juga atau tidak.."

"Aku sekarang sadar, ketiga kepribadiannya." jawabku simpel.

"Apa yang kau maksudkan? aku memang menyadarinya juga, tapi untuk mengetahui kepribadian mana yang sedang menjadi sandiwaranya, itu sulit. Butuh penelitian lebih." balasnya.

"Aku yakin, baru saja ia menggunakan kepribadiannya yang pertama, dilihat dari cara menjawabnya yang tenang dan dengan senyuman simpul yang dapat ku yakini bukan dibuat-buat, tanpa menyadari semua kejadian sebelumnya."

"Bagaimana dengan kepribadian yang lain?"

"Menurutku, untuk kepribadian yang kedua, tatapannya lebih dingin, dan cara berbicaranya jauh lebih menusuk, bisa jadi ia benci dengan candaan walau hanya sedikit, untuk kepribadiannya yang ketiga, aku yakin, itu yang ia pakai saat menyerang dirinya sendiri."

Kenapa rasanya dunia semakin menyempit? seolah manusia hanya ditakdirkan hidup dengan para pemangsa sesamanya, bukan kanibal, tapi entahlah bagaimana aku menyebutnya, itu terlalu mencekam.

Apapun yang diinginkan Akashi-kun saat ini, rasanya tak dapat ku tebak, secara tak langsung, aku baru saja berkenalan dengan tiga orang dengan karakteristik yang berbeda jauh.

"Akan ku ceritakan sedikit tentangnya, tapi sebaiknya menjauhlah dari kamarnya, aku kuatir hal buruk bisa terjadi."

Ku angguk kepalaku pelan memberi isyarat setuju pada Midorima-kun, aku mengikutinya sampai ke lobby.

Suasana lobby terlihat biasa saja, seolah tidak ada hal yang pernah terjadi di rumah sakit ini, padahal kejadian itu bisa dibilang seperti baru saja terjadi, masih terlihat jelas dari bekas kerusakannya.

"Awww... bisakah kau lebih lembut?" gerutuku saat tiba-tiba Midorima-kun menepuk kencang bahuku.

"Bicara disini saja."

"Baiklah.."

Inikah ekspresinya saat sedang serius? wajahnya tidak menaruh bumbu lelucon sedikitpun, bahkan 'nanodayo' yang menjadi frasanya setiap di akhir kalimatnya tiba-tiba seperti terhembus angin dan menghilang begitu saja.

"Akashi terlahir dari keluarga yang kaya, keluarganya termasuk keluarga yang disiplin. Tidak ada satu detik pun dalam hidupnya yang sia-sia. Ayahnya selalu menekannya untuk banyak mempelajari hal baru, misalnya klub itu, ia sendiri yang mengelolanya, bisa dibilang bukan karena Aomine, ia menjadi kacau, melainkan karena sisinya yang lain itu." jelas Midorima-kun. Bisa ku rasakan hembusan nafas terengahnya, seolah lelah sekali menceritakan hal yang menjadi beban dalam hatinya.

"Lalu, apa yang bisa ku bantu?" tanyaku dengan nada pasrah.

"Kau tidak perlu membantu apa-apa, kau hanya perlu mengikuti alurnya."

"Alur?"

"Kau akan mengerti nanti."

Belum ku tanya lagi, Midorima-kun sudah pergi menghampiri Kise-kun dan Aomine-kun yang tidak lama menghampiri kami. Bahkan Kagami-kun menghampiriku setelah itu, rasanya seperti baru saja melihat wajah orang yang sudah lama jauh dariku, padahal aku baru saja berpisah dengannya beberapa waktu.

"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku sambil menepuk pelan pipinya.

"Tidak akan memburuk kalau kau tidak terus bertanya." jawabnya sambil tertawa kecil.

Tawa kencang kami perlahan menjadi melemah, sampai ku rasakan tawa itu sudah tak bersuara lagi atau lebih tepatnya kami memang tidak tertawa lagi.

"Akankah kau menjauh darinya?" tanya Kagami-kun dengan suara beratnya.

"Menjauhi seseorang bukanlah bakatku." jawabku simpel.

Kagami-kun yang mendengar jawabanku nampaknya seperti baru saja dipatahkan pikirannya, ia sama sekali tidak berkutik.

"Lalu apa yang akan kau lakukan? melawannya sama saja melawan tiga pasukan. kau mengerti?"

"Aku mengerti jelas, tapi aku tidak berniat untuk melawannya. Justru, aku akan menggunakan cara lain untuknya agar dapat berubah. Walau kemungkinannya sangat minim."

"Kuroko, ikutlah denganku, kita pergi bersama dan menjauh dari masalah ini. Kita bangun hidup baru yang jelas, hanya kau dan aku saja. Tidak melibatkan siapapun. Aku bersumpah akan selalu ada untukmu, walau harus merelakan nyawaku sendiri."

Kagami-kun..

Kata-katanya penuh keyakinan, aku dapat merasakan kebaikannya yang tulus memberikan seluruh hatinya padaku. Namun, kalau aku bisa menerima hatinya, aku juga harus bisa memberikan hatiku kepada orang lain. Mungkin pernyataan ini sulit dipahami, karena segala sesuatu yang mengaitkan hati itu memang tidak mudah ditebak.

"Aku hargai usahamu dan ketulusanmu, tapi.. kalau kau memang ingin melihatku bahagia, kau bisa memulainya dengan menjauhiku. Gomen.."

Entah ini reflek atau bagaimana, kedua kaki ini seolah bergerak sendiri dan berjalan meninggalkan Kagami-kun, aku sendiri tidak ingin melepasnya begitu saja, hanya saja aku lelah melihatnya tersakiti fisik dan batinnya.

Aku dapat merasakan suara sepatunya yang berlari ingin menyusulku, tapi aku terpaksa harus lebih cepat lagi untuk kembali ke kamar Akashi-kun dan menjauh darinya.

Kagami-kun, Gomennasai...

Ku masuki dengan cepat lift yang sedaritadi sudah terbuka, dengan cepat juga ku tekan tombol agar lift itu cepat menutup. Bisa ku lihat dari sela-sela pintu yang mau tertutup, Kagami-kun mencoba menahannya.

Aku memang monster, mungkin lebih monster lagi daripada pembunuh diluar sana, menurutku hanya dengan menyakiti perasaan seseorang sudah lebih kejam dari seorang pembunuh berantai sekalipun. Walau pada akhirnya, aku tetap harus berpegang teguh pada keyakinanku untuk Akashi-kun.

Dinggg...

Suara tanda lift sudah sampai di tujuannya.

Kulangkahkan kakiku keluar dari lift, melihat sekitar yang sudah jelas sepi sekali, padahal hari belum gelap, tidak ada ku lihat suster maupun dokter berlalu lalang disini, penjaga pun tidak ada.

"Kuroko.."

Suara berat memanggil namaku, ku ikuti suara yang tidak jauh itu dan mendapati Aomine-kun dan Kise-kun sedang menanti di depan kamar Akashi-kun.

"Ada apa?" tanyaku.

"Kami mendapat hasil test diam-diam ini." kata Aomine-kun sambil menyerahkan selembar kertas.

Jika ku katakan, tidak ada hal yang mengagetkan atau aneh. Namun, hasil test ini malah membuatku semakin bingung. Dalam hasil test ini, dikatakan bahwa Akashi Seijuro alias Akashi-kun tidak memiliki kepribadian ganda atau masalah pada kejiwaannya, semuanya normal.

"Dokter hanya mengatakan, faktornya mungkin karena emosi yang tidak bisa ia kendalikan atau trauma masa kecil." cetus Kise-kun.

Aku memasuki kamar Akashi-kun dan mendapatinya sedang tertidur.

"Aku tau, kau tidak tertidur, Akashi-kun."

Mendengar suaraku, Akashi-kun membuka matanya perlahan dan menatapku tajam.

"Kau memang pandai, Tetsuya." balasnya sambil tersenyum.

Ku beranikan jalan mendekatinya, ku lihat guntingnya sedang tidak ia pegang, mungkin ini akan baik-baik saja.

"Akashi-kun, bolehkah aku bertanya?"

Wajahnya yang semula menampakkan senyuman tipis, kini menjadi serius dan matanya ia sipitkan seperti akan menerkamku.

"Apa itu?"

Dengan tenang dan percaya diri, ya.. ku biarkan semua itu mengalir dengan sendirinya.

"Apa kau merasa tertekan?"

Bukannya menjawab, ia hanya merespon dengan tawa kecil. Seolah pertanyaanku sangat asing di telinganya, karena memang pada faktanya, seorang Seijuro sepertinya tidak pernah terlihat tertekan. Walau aku pernah melihatnya menangis, rasanya itu tak dapat dipanggil sebagai tertekan.

"Apakah aku tertekan? jadi kau ingin menanyakan itu saja?"

"Ya.."

"Apa tujuanmu menanyakan hal itu?"

"Tidak ada, selain mengetahui masa lalumu."

"Jadi, maksudmu, masa laluku itu penuh tekanan?"

"Tidak juga.."

"Lalu?"

"Ayahmu itu seperti apa orangnya?"

Prangggggg...

"Kuroko..."

"Kurokocchi..."

Apa ini?

Kise-kun dan Aomine-kun langsung memanggilku dengan hebohnya. Tubuhku membeku, mulutku ternganga, bahkan rasanya aku seperti baru saja mati, ini semua terjadi saat ku melihat reaksi yang belum pernah ku lihat secara langsung dari Akashi-kun, ia terlihat sangat beda dan lebih menyeramkan, apalagi saat ia melempar piring itu hingga pecah berkeping-keping.

"Kau ingin tau sesuatu, Tetsuya?"

Ia berdiri dari kasurnya, menatapku sangat dalam.

"Aku sangat tertekan.." katanya pelan sambil memukulkan tangannya ke tembok.

"Rasanya ingin mati saja." katanya lagi semakin keras, mata heteronya semakin terlihat jelas karena matanya yang melotot itu. Seringainya sangat menyeramkan. Ia terus mengoceh sambil membanting semua yang ada, dirinya seolah tak terkendali.

"Aku lahir dalam keluarga yang kaya, tapi kesepian tetap saja menghantuiku, apalagi setelah ibuku meninggal. Satu-satunya harapanku hidup, yang dapat mengasihiku, yang paling mengerti diriku, ia sudah tiada. Yang tersisa hanya ayahku yang samanya dengan monster, ia menghancurkan mimpiku, menghancurkan segalanya yang ibu berikan padaku, bahkan harapan itu."

"Akashi, kendalikan dirimu." sela Midorima-kun tiba-tiba, aku yakin, ia baru saja kembali karena mengkuatirkanku.

"Diam kau, sampah! seenaknya kau menceritakan masa laluku pada anak yang tak tau apa-apa, mau taruh dimana wajah tampanmu itu, ingin ku habisi kau dengan guntingku?"

"Akashi, suasana ini tidak akan memperbolehkanmu melakukannya."

Tanpa mendengar penjelasan Midorima-kun, Akashi-kun mengambil gunting dan serpihan dari pecahan piring itu. Ia mencoba melemparkan serpihan itu ke arahku dan yang lain. Bahkan saat serpihan itu habis, ia memecahkan barang lainnya dan melemparkannya ke arahku. Emosinya benar-benar tak terkendali. Tidak ada satupun suster maupun dokter yang datang, semua orang di rumah sakit ini takut dengan kejadian ini, mereka hanya mengamankan pasien lain dan bersembunyi.

"Akan ku bunuh kau!"

Akashi-kun mengambil serpihan pecahan itu dan mengarahkannya ke arahku. Aku bisa merasakan hembusan angin dari lemparannya itu, aku yakin, ini akhir bagiku, akhir untuk hidup seorang Kuroko Tetsuya.

"Kurokooooo!"

Aku hanya dapat menutup mataku, aku tau, aku tidak bisa lari lagi.

Dan suara terakhir yang ku dengar hanyalah suara Kagami-kun yang berteriak dan berlari ke arahku.

Kagami-kun?

"Tidakkkk...!"

Apakah Tuhan sedang marah padaku?

Apakah dunia juga sedangmembenciku?

Ini semua tidak jelas, hidupku, aku, Akashi-kun, dan Generation of Miracle. Apa maksud ini semua?

Klub malam itu, orang-orang itu, segalanyaaa..

Aku tidak mengerti.

Apakah ini sudah menjadi rencana sang Pencipta untuk memberikanku jalan ini?

Tapi apa ujung jalan ini?

Rasanya aku hanya berjalan terus menerus dan tak mengerti alur cerita ini semua.

"Kuro-ko.."

Dunia ini mengajarkan kita, saat menikmati canda tawa, dan saat yang kau miliki direbut.

Saat ini, aku sedang mencoba bertahan, menatap dunia yang menyakitkan saat orang yang ku sayangi harus diambil dariku.

"Kagami-kun..."

Belum aku menyampaikan semuanya, itu semua sudah terlambat.

Tetesan air mataku membasahi bajunya yang berlumuran darah itu, aku tak kuasa lagi menahan ini semua, ku biarkan semuanya mengalir begitu saja.

"Setidaknya rasa sakitmu sudah tiada, Kagami-kun." bisikku pada Kagami-kun yang sudah terkapar tak berdaya, menyisakan jasmaninya disini.

Midorima-kun mengangkatku berdiri, ku hapus air mataku, aku sudah memikirkan dengan matang-matang apa yang akan ku lakukan setelah ini.

"Midorima-kun, aku tau apa yang harus ku lakukan." kataku.

Akashi-kun yang masih memasang wajah tak berperasaannya itu hanya menatapku diam.

Ku ambil sepihan pecahan di tubuh Kagami-kun, ku cengkram kuat serpihan itu, tidak peduli dengan darah segar yang mengalir dari tanganku.

"Tetsuya, kau ingin membunuhku? kalau begitu, lakukan!"

Tidak peduli lagi aku dengan perkataannya, aku sudah tidak mau tau dengan diriku yang saat ini. Aku hanya perlu melakukan apa yang perlu dilakukan.

"Kau tidak akan melakukannya kan, Kuroko?" cetus Aomine-kun.

Tubuhku terasa ringan, hatiku terasa sudah patah, tak ada perasaan lagi. Dan yang ku fokuskan hanya Akashi-kun.

Aku berlari menghampirinya, ku arahkan serpihan ini kepadanya. Tidak peduli lagi dengan teriakan Aomine-kun, Kise-kun, dan Midorima-kun. Akashi-kun hanya berdiri tegap, seolah berpikir aku tidak akan melakukannya. Tapi.. kenyataannya...

"Apa?"

Akashi-kun ternganga, ia terkaget melihat darah yang mengalir membasahi kemeja yang ia gunakan.

Ia mengusap lehernya yang berdarah itu, ia hanya tak bisa berbuat apa-apa, karena ia benar..

Akashi-kun memang benar...

Ia benar kalau aku tidak akan pernah bisa melukainya, apalagi membunuhnya.

Setelah menggores lehernya, aku hanya berlutut di kakinya dan menangis setara dengan emosiku yang kacau.

"Ku mohon, apapun yang menekanmu, tolong buang semua itu. Kau memilikiku, aku mungkin tidak seperti ibumu dan tidak bisa menjadinya, tapi dengan apa adanya, aku akan berusaha memenuhimu lagi seperti yang dilakukan ibumu untuk membuatmu kuat dibawah tekanan ayahmu."

Tubuhku lemas, rasanya dengkulku seperti baru saja patah, ingin sekali aku terjatuh, namun tangannya mengangkatku dan mata heteronya menatapku. Ia tidak mengatakan apapun sampai bisa ku rasakan, detak jantungnya yang berpacu kencang menjadi lambat dan tenang.

Senyuman tipisnya mengukir lagi.

"Arigatou, Kuroko.."

Suaranya melembut, bisa kurasakan dirinya yang menjadi tenang.

Bahkan mata hetero berwarna kuningnya menjadi merah, mata yang kini menjadi sama keduanya menatapku.

Akhirnya, aku memang berhasil mengubahnya.


Haloo.. kembali lagi bersama author Les. Author ingin memohon maaf untuk update chapter ini yang lama banget, bisa dibilang berbulan-bulan, namun karena rasanya hati gak tega ninggalin Kuroko digantungin terus sama Akashi. Jadi author memutar otak untuk menjadikan chapter, lalu author juga akan menyampaikan suatu berita...

Bahwa next chap adalah chap terakhir dari ff Einer ini :D

Sebelumnya terima kasih bagi yang sudah setia menanti ff ini, mohon maaf apabila author lama update dan ceritanya jadi pendek. Tapi senang bisa menghibur reades :D

Sampai jumpa lagi di Einer : LAST CHAPTER :D