Note : ada adegan lemon tingkat HARD! Tolong di skip saja kalau memang jijik atau tidak suka.. karena ini rate M.. author sudah memperingatkan..
"Selamat pagi."
Usapan lembut dan hangat menyapu setiap inci rambutku, kehangatan telapak tangan ikut menghangatkan kedua telapak tanganku, kehangatan yang bertukar.
Wangi yang khas dari rambut merahnya dan tatapan dalam dari matanya yang kini menjadi dua manik dengan warna yang sama. Aku senang, begitu senang ini semua berakhir.
"Kau milikku, Tetsuya. Sekarang dan selamanya."
Setelah beberapa kali kejadian lama yang selalu teringat di benakku, kini semua itu hanya akan menjadi sampah yang perlu dibuang dan dilupakan, karena sekarang, semuanya begitu berbeda. Akashi-kun, ya begitulah aku memanggilnya, kini ia sekarang sudah keluar dari rumah sakit dan tinggal di rumah yang lebih layak, sepertinya rumah ini adalah warisan terakhir dari ibunya
"Akashi-kun, apa hari ini jadi?"
"Oh.. tentu saja."
Ia mengusap matanya pelan, melepas rangkulannya dariku dan terbangun dari kasurnya. Percayalah, kami tidak tidur seranjang, ranjang kami terpisah, hanya saja begitu dekat, paham?
Aku menyusulnya bangkit dari kasur dan bersiap-siap.
Bersiap-siap untuk pemakaman orang yang pernah menjadi spesial di hatiku, sampai sekarang pun juga, Kagami Taiga.
Taburan bunga demi bunga dibiarkan berjatuhan diatas gundukan tanah dengan sebuah nisan berukiran nama di atasnya. Semua orang yang ku perhatikan, banyak yang menangis tersedu-sedu dan bahkan histeris saat melihat gundukan tanah itu baru saja mengubur jasad seseorang di dalamnya.
Inilah hidup, harus memiliki akhir.
Ku usap nisan berukiran nama itu, mencoba mengatakan sesuatu dari lubuk hatiku. Terlihat bodoh, tapi rasanya aku belum puas berkata-kata saat bersama Kagami-kun saat itu, tapi dunia memang kejam, mana mau dunia melihatku bahagia, pada akhirnya hidupku memang bernoda.
Ku lihat secarik kertas tertempel di nisan itu dan mengambilnya, ku baca dalam hati..
Ingatlah, bahwa hidupku adalah hembusan nafas, mataku tidak akan lagi melihat yang baik.
Orang yang memandang aku, tidak akan melihatku lagi.
Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali.
Ia tidak lagi kembali ke rumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya.
Tik..
Tetesan air mata mulai membasahi kertas itu, aku juga tidak tahu mengapa, rasanya hanya ingin menangis.
"Kagami menulis itu sebelum ia masuk rumah sakit, mungkin sejak awal ini memang pertanda."
Salah satu teman Kagami menepuk bahuku dan berbisik.
Tanpa perlu dikatakan, aku juga sudah yakin pertanda itu sudah ada sejak awal, dan bodohnya aku tidak tahu apa-apa.
"Tetsuya, dari sini, ayo kita pergi menghibur diri sebentar."
Tanpa mengiyakan secara langsung, aku mengikuti Akashi-kun ke mobilnya. Sesekali ku lirik nisan itu, mencoba diyakinkan lagi kalau ini semua bukan mimpi, tapi ini memang bukan mimpi, ini kenyataan yang pahit.
Sepanjang perjalanan, yang ku lakukan hanyalah terdiam, memikirkan hal bodoh itu berulang-ulang, andai aku tidak pernah bertemu dengan Akashi-kun, mungkin Kagami-kun masih bisa hidup
Tapi, itu jauh lebih bodoh lagi.
Apapun yang terjadi, atau apapun yang sudah ku lewati, aku sangat bersyukur memiliki satu kesempatan lagi dari Akashi-kun, mungkin ia bisa menjadi sosok yang selalu tulus memberi hatinya padaku.
"Akashi-kun.."
"Apa, Tetsuya?"
"Apa kau masih ingin bersamaku?"
"Jangan berkata tak masuk akal! kau satu-satunya yang ku miliki, Tetsuya."
Senang mendengar suaranya berkata seperti itu, rasanya hanya damai yang Akashi-kun miliki, terlepas perlakuannya yang sebelumnya, tapi aku percaya, kali ini, Akashi-kun adalah yang asli.
Kami pun pergi ke banyak tempat, dari berbelanja, makan, hiburan, dan lain-lain. Akashi-kun dan aku begitu merasakan kesenangan, dan kali ini benar-benar tampak nyata, aku benar-benar bisa nyaman bersamanya. Walau hanya ke taman hiburan, menurutku hiburan yang sebenarnya adalah Akashi-kun seorang diri. Tawa begitu memenuhi aktivitas kami hingga malam hari ini. Mungkin waktu begitu cepat, tapi aku benar-benar senang, akhirnya malam yang akan kami jumpai.
"Bagaimana kalau kita pulang sekarang?"
"Baiklah.."
Bagaimanapun kami tetap harus pulang, ah.. persetan.. yang penting aku sudah bersenang-senang dengannya seharian.
Bahkan selama perjalanan pulang, tak sedikitpun aku melirik ke arah lain selain ke arahnya, aku senang melihatnya tersenyum dan tertawa, aku senang noda di hidupku sudah ada yang menghapusnya, dan itu adalah Akashi Seijuro, seseorang yang datang dan mengubah hidupku, dari kelam hingga terang seperti cahaya, aku ingin selalu menjadi miliknya, selamanya.
"Aku akan merapikan dapur, kau siapkan saja makan malamnya."
"Iya."
Sesampai di rumahnya, aku berlari untuk menyiapkan makan malam, ku lihat Akashi-kun sibuk juga membereskan barang-barangnya di kamar.
Bahkan tak ragu ia menyalakan musik dengan keras, sehingga aku bisa mendengar musik itu dan hanya tertawa melihatnya menyalakan musik itu.
Ku siapkan meja makan hingga dipenuhi oleh hidangan makan malam, tak ku lupakan sampanye.
"Tetsuya, kesinilah!"
Aku berlari menghampirinya di kamar dan terkejut...
"Astaga! itu keren!"
Aku begitu di kejutkan oleh kelakuannya dengan menaruh banyak lilin di kamar, begitu terang yang indah dan memukau, lampu yang remang menambah suasana menjadi lebih memorable.
"Aku ingin, kau menjadi milikku seutuhnya, Tetsuya."
Tiba-tiba nafas hangat menghembus kecil leherku, tangan hangat juga melingkar di pinggangku.
"Aka-"
Cup..
Ciuman kecil mendarat di leherku.
Apa ia mabuk?
"Kau mabuk? Kau mungkin butuh istirahat."
Aku berusaha melepas ciuman di leherku itu, tapi lingkaran tangannya di pinggangku terlalu keras sampai-sampai aku tak bisa bergerak lagi.
"Aku ingin menjadikanmu milikku yang seutuhnya."
Demi kuburan beserta mayat-mayatnya, aku juga ingin ia menjadi milikku, tapi apakah harus ku lakukan ini semua?
Ku hela nafas panjang dan memaksa tubuhku berputar dan menghadap wajahnya. Ia tampak bingung dengan aksi tiba-tibaku ini.
"Tets-"
Dengan lembut dan pasti aku mengecup bibir tipisnya, ku raih kepalanya agar tenggelam lebih dalam dalam ciumanku.
Ciuman pertama kami yang begitu lembut namun perlahan menjadi saling berani. Akashi-kun mulai memainkan lidahnya agar menembus ke dalam mulutku dan kami saling berperang lidah.
Dengan perlahan ia membuka kaosnya dan kaosku, kami sama-sama bertelanjang dada.
Tiba-tiba Akashi-kun mendorong tubuhku ke ranjang, ia menindih perutku dan kembali membuat wajahnya dekat dengan wajahku, lagi-lagi perang lidah itu terjadi lagi. Ku lingkarkan kedua tanganku di lehernya, menikmati setiap kecupan hangatnya.
Sesekali ku gigit kecil bibirnya.
"hmmmppptt..."
Sial! Desahanku begitu terdengar.
"Kau memang menginginkannya kan, Tetsuya?"
Bahkan ia jadi meledekku.
Ia kembali menciumku dan sesekali tangannya meraba-raba selangkanganku.
Musik menjadi alunan permainan kami, kamar dengan cahaya remang menambah suasana menjadi begitu panas.
Srett..
Tanpa ragu ia membuka celanaku dan langsung menariknya.
Sambil berciuman, ia mencari apa yang ia cari.. yaitu milikku.
Ia meraba-rabanya hingga ke dalam celana terakhirku.
Namun tak lama ia mendapat apa yang ia cari.
"Hmmpttt..hmpptt.."
Desahku semakin kencang saat benda yang ia cari kini ia main-mainkan dengan sedikit memijit-mijitnya.. remasan dari tangan hangatnya..memberiku sensasi yang begitu beda.
"bi...biarka..aku..me..melihat..milik..m..mu.."
Sedikit agresif ku buka celana beserta penutup terakhirnya. Ia juga melakukan hal serupa padaku.
Ku usap-usap miliknya hingga ia membalikkan posisi, membuatku menjadi diatasnya.
Ku lumat bibirnya dan memastikan benda itu masih di tanganku. Ku pijat-pijat dan mengusapnya lembut, sebaliknya, ia sedikit lebih agresif memainkan milikku.
Aku tak mau kalah, tapi sialnya ia mendorong tubuhku dan membuatku harus menungging di hadapannya.
Ia meraba-raba bongkangan pantatku, menciumi punggungku dan berbisik.
"Aku tidak suka lama-lama."
Perlahan ia memasukan satu jari telunjuk kedalam lubang dibelakang sana, mengoyak pelan didalam sambil meremas kedua bongkahan pantatku.
"Aawwwhh.."
Desahku sedikit nikmat dan sedikit perih, ia mengeluar masukkan jari itu di lubangku, bahkan memasukan satu jari ke dalamnya.. membuat kakiku bergerak-gerak namun dengan cepat lututnya menjepit kakiku agar tak berontak.
Setelah bermain dengan lubangku dengan jarinya, kini senjatanya ia siapkan di dekat lubangku.
Ia usap-usap miliknya untuk mempersiapkan benda itu masuk ke dalamku.
"Hmm.."
Namun sejenak ia terdiam. Membuatku melihat ke arahnya.
"Kau tak apa?"
Ia menutup wajahnya.
"Ah.. sial.. aku terlalu bernafsu sampai-sampai aku melakukan ini padamu. Seharusnya aku tidak berani-beraninya menjamahmu."
Jadi itu alasannya?
Ku cubit pipinya sedikit kencang hingga ia meringis kesakitan.
"Kita sudah setengah jalan, dan kau begitu saja berhenti. Lagi pula dulu kau bilang kalau hanya kau yang boleh menjamahku, maka ku izinkan secara pribadi untuk kau melakukannya."
Perlahan ia membuka tutupan di wajahnya dan menatapku dalam.
Tatapannya membuatku terdiam, tapi aku tidak akan berhenti kali ini. Mungkin ia adalah orang yang pantas ku beri yang berharga dariku.
Ku balikkan posisiku seperti sebelumnya
"Baiklah.. masukkan.."
Ku hela nafas panjang, mungkin ini akan sedikit sakit, tapi mungkin juga ini adalah hal yang selalu membuatku penasaran dan ingin merasakannya lebih lagi.
Tak lama, ku rasakan sesuatu yang hangat menyentuh lubangku. Ia mengelus-mengelus lubangku dan bersiap masuk.
Ku lirik sedikit di belakangku, menatap Akashi-kun yang sedang perlahan memegang miliknya untuk siap masuk ke milikku.
Dalam hitungan tiga, benda itu mulai memasuki lubangku.
"Aahhh..hmmpptt..."
Ku coba tahan rasa perih itu, tapi aku tidak ingin berhenti.
"Sempit sekali milikmu, Tetsuya. Kau memang masih suci."
Perlahan namun semakin lama semakin keras, benda itu mulai setengah masuk ke dalam lubangku.
"Aaaaahhhhhh..."
Begitu sulit, hingga aku harus meringis kesakitam, namun aku akan terus menahan.
Sampai akhirnya...
Benda itu sempurna tertanam di dalamku.
Ku atur nafasku sambil melirik kebelakang, karena benda itu terlihat sudah tidak terlihat, seluruhnya sudah dilahap oleh lubangku.
Perlahan Akashi-kun menggoyangkan pinggulnya, keluar..masuk.. benda itu di lubangku.
"hmmptttt...awhhh..."
rasanya begitu beda, yang awalnya sakit kini begitu nikmat.
Benda panas itu bergetar di dalamku rasanya.
Ku tumpu terus tubuhku dengan lututku.
Akashi-kun menarik tubuhku agar benda miliknya dalam masuk lebih dalam lagi ke lubangku.
Ranjang yang kami taiki menjadi bergetar tak jelas karena gerakan Akashi-kun semakin cepat.
"Aaaahh...ahhh...hmpttt.."
"Aaaahhhh..."
Desahan panjang kami saat ku rasakan sesuatu yang hangat keluar dan mengisi lubangku, sepertinya sudah keluar dari milik Akashi-kun.
Ku atur nafasku, namun belum nafasku teratur dengan baik, ia sudah mendorong tubuhku hingga telentang di ranjang.
Ia kembali memasuki miliknya di dalamku lagi. Menggerakan pinggulnya sambil melumat bibirku.
Ia membuat kakiku melingkar di lehernya. Dorongannya membuat tubuhku panas, keringat keluar seperti hujan, depun jantung berdetup begitu kencang.
Pinggulnya bergerak seperti ketukan musik ini. Begitu cepat..
Ia meraih kepalaku dan masih terus memasuk keluarkan benda itu di dalamku.
"Aaahhh ahhh..."
Desahku semakin kencang saat ia makin menambah tempo pinggulnya.
Aku hanya bisa menutup mata da membiarkannya bekerja dengan memainkan pinggulnya, menciumku, dan sesekali memainkan milikku dengan tangannya. Rasanya seperti diserang 3 orang.
"Aaahh.. aka..shi...akashi-kun..."
Lebih cepat lagi tempo pinggulnya, membuat tubuhku ikut bergetar-getat tak karuan.. wajahnya memerah, seperti semprotan kedua akan terjadi.
Ku lihat arah lubangku, bedan itu benar-benar dalam tertanam di dalamku.
Hitungan satu sampai lima saja, benda itu lagi-lagi menyemprotkan sesuatu lagi di dalam lubangku.
Nafas kami sama-sama tak teratur.
Ia mengeluarkan benda itu dari diriku dan rasanya lubangku benar-benar dipenuhi oleh cairan itu.
Sambil mencoba mengatur nafas, ku cium dirinya lembut dan membuatnya tertidur di sampingku.
"Kini kau seutuhnya dimilikki oleh Akashi Seijuro."
Ku tersenyum dan menatapnya dalam sambil sesekali mengelus pipinya.
"Aku senang bisa mengenalmu."
Kami pun terlelap.
Begitu malam yang indah.. bahkan sampai aku lupa makan malam belum kami cicipi.
"Sssttt..."
"Sssttt.."
Ku dengar suara membangunkanku..
Ku kerjapkan mataku dan mendapati banyak orang mengelilingku. Tidak terlalu banyak, setidaknya hanya para anggota GoM..
"otanjoubi omedetou!"
Mereka bersama-sama berteriak.
"Untuk siapa?" tanyaku polos.
"Tentu saja kau, Kurokocchi."
Astaga..
Apa begitu kejamnya dunia ini sampai-sampai aku lupa ulang tahunku sendiri?
"Apa Akashi menindihmu begitu berat?"
"Shintarou, diamlah!"
Ku raih pakaianku yang berserakan di ranjang dan memakainya walau harus di depan mereka.
Aku bangkit dari kasurku dan keluar dari ruangan..menatap ruang tamu yang dipenuhi hiasan ulang tahun hanya untukku.
Aku terduduk di sofa dan mereka menyanyikan lagu ulang tahun.
Rasanya ini adalah ulang tahun terbaik dalam hidupku.
Karena belum pernah dirayakan seindah ini.. apapun itu, setelah kejadian di rumah sakit, rasanya noda dalam hidupku sudah mulai berkurang.
Aku senang bisa kenal dengan GoM, mereka benar-benar generasi keajaiban, keajaiban bagiku. Apalagi sosok berambut merah di depan mataku yang memberiku banyak hal.
Aku senang akan segalanya.
"Tetsuya, kau Einer bagiku."
Einer atau nomor satu.
Ya, aku mengerti..
Hidupku kini berubah, berubah total dari keterpurukkan.
Terima kasih Akashi-kun, terima kasih GoM.. mengenal kalian itu bukanlah penyesalan bagiku.
Sekarang ku akui hidupku telah berubah, lebih berwarna dan indah.
suara menghening saat Akashi-kun mendekatiku.
Ia memelukku dan memasang senyum di wajahnya.
Satu kalimat yang ia katakan.
"Pada akhirnya, ku sadari.. kita memang pantas dipertemukan."
.
.
.
-TAMAT-
.
.
Yoo.. mohon maaf yang sebesar-besarnya karena aku ga bisa lanjutin story ini udah lama banget karena memang aku mutusin buat hiatus atau bahkan hengkang dari dunia FFN, namun karena ada rasa tak rela FF ini tidak tamat, maka aku kembali untuk tamatin..
Sebenarnya ini sudah tamat kalau ada dari readers disini yang juga memfollowku di wattpad..
Tapi, karena sekarang aku memutuskan lagi untuk kembali ke dunia FFN..
Untuk next FF yang akan datang.. semoga tidak terjadi author block lagi dan mohon dukungannya..
Sekali mohon maaf ya.. semoga endingnya memuaskan walau tidak bisa menggantikan penantian kalian.. :')
