General warnings: AU, Violence. Canon-Diverged. Ooc. Etc.

Disclaimer: Not own anything.

XXXXX

Diam... setelah kepergian sosok pria yang mengaku bernama Barakiel. Naruto masih memandang pintu kamar didepannya, meskipun demikian, namun pikirannya menerawang... pikiran Ninja tersebut tidak pada tempatnya. ya! Berbeda...

Semua terasa asing bagi dirinya. Satuhal yang masih tersimpan dalam memori otaknya adalah perang Ninja hingga penghentian Mugen Tsukiyomi. Sasuke dan... dirinya... kemudian, Sang Pencabut Nyawa.

Membawa diri menuju kegelapan. gelap... gelap... hilang.

"uughh...aakkh" Naruto meraung. Memegangi kepala, menjambak rambut pirangnya. Merasakan sakit...rasa sakit bagaikan terhantam oleh batu besar di kepalanya. rasa sakit!

"NARUTOOO...tenanglah." terdengar suara memanggil diri Ninja pirang tersebut. Sesosok makhluk berwarna oranye besar, sembilan ekor yang melambai pelan dengan majestisnya. Salah satu eksistensi terkuat didalam dunia Ninja. Bukan, ia bukanlah makhluk buas yang melambangkan kebencian seperti dahulu. Kebencian itu, rasa benci akan keberadaan manusia yang membelengu diri sang Rubah semenjak kepergian kakek Rikudou. Kebencian akan perlakuan dari manusia yang menganggapnya hanyalah sebuah senjata.

Semua karena pemuda tersebut. Seorang pemuda dengan tiga goresan kembar di masing pipinya, bermata biru terang. Seyuman secerah mataharinya memberikan rasa nyaman baginya. Reinkarnasi dari Sang Pertapa. Sosok inang tempatnya berdiam. "Ku...Kurama,"

Suara tersebut kembali terdengar masuk kedalam indra pendengerannya, sosok yang selalu mengerti dirinya, dikala dirinya dilingkupi oleh perasaan sedih, senang, suka maupun duka. Naruto kemudian menutup mata, mengatur deru nafas keluar masuk yang serasa memburunya. Bayangan terdalam dalam diri. terhisap... membawa dirinya, tubuh melayang jatuh, namun sebelum mencapai permukaan dibawahnya... ia membalikan tubuhnya, bagaikan pusaran air menuju tempat terdalam... segel.

Sebuah tempat nan terang, suara gema langkah kaki pada permukaan air berbunyi ketika langkah kaki membawa diri sang ninja itu ke balik jeruji. Tangan kanannya ia bawa ke atas. Seketika itu pula segel kurungan terbuka. Pemuda tersebut mendekat dalam diam, masuk kedalamnya. Berdiri didepan sosok yang selalu bersamanya.

Biju itu masih menatap sang jinchuriki. Sosok inangnya yang kini dalam keadaan tidaklah... baik, jika bukan karena pria tak dikenal itu, mungkin putra Yondaime tersebut tidak akan tertolong. Sungguh... ia merasa kasihan dengan partner ninjanya. Kehidupan keras yang dialami. Hingga akhirnya, klimaks dari kehidupan ninjanya. Pencapaian akhir akan rasa saling memahami satu sama lain. Yaitu sebuah 'kedamaian.' pengorbanan besarnya bagi dunia Ninja. Harapan terakhirnya... semuanya menghilang... apakah ini maksud perkataan makhluk astral pembawa kematian itu?

"Bagaimana keadaanmu Naruto." pertanyaan bodoh, itulah apa yang Biju itu katakan. Pemuda didepannya pastinya akan mengatakan semua baik-baik saja, satu hal yang selalu berkebalikan dengan keadaan tubuhnya. Dulu...dan dulu, mengingatkan diri sang Rubah dengannya...Ashura. Pemuda putra Yondaime Hokage tersebut menatapnya, kemudian ia memberikan seulas senyum, senyuman nan tulus kepada sang Rubah. "Aku tidak apa-apa, hanya saja kepalaku terasa pusing. Tenagaku masih belum pulih begitu pula cakraku." gumam Naruto pelan. Terlihat jelas raut kelelahan darinya, gestur yang sedikit membungkuk.

"Bertarung ketika melawan pria bertopeng sialan hingga temanmu itu, bahkan aku yang dijuluki Biju terkuatpun sampai sekarang masih belum mampu memulihkan cakraku sepenuhnya." Rubah tersebut mengatakannya dengan memperlihatkan deretan gigi taringnya yang tajam, namun dengan nada tenang, bukan nada sakratis dan diskriminatis bagaikan membenci semua makhluk seperti dahulu.

"Obito ya?... jika bukan karenanya mungkin aku sudah mati Kurama. Aku senang dia akhirnya memperoleh kembali apa yang menjadi impiannya, namun... Kaguya, iblis sialan itu" Emosi itu kembali menghampirinya. Ia menginggatnya, rekan gurunya hancur menjadi debu setelah terkena jutsu tulang dari Kaguya. Bahkan, dirinya tidak mampu melakukan apa-apa, dia tidak suka temannya menderita...

"Cukup Naruto!... biarlah semua berlalu, kau harus melangkah kedepan." pemuda keturunan Uzumaki itu terdiam. Memahami setiap kalimat yang dikeluarkan oleh sang Rubah.

"..."

"Maaf, aku terbawa emosi." Naruto kemudian tersenyum garing, kemudian dibalas dengan dengusan halus sang Rubah.

Naruto kemudian kembali melihat sang Biju, namun tidak lama berselang ia menautkan alis matanya, "Dimana yang lain." serasa ada yang janggal. Itulah pemikiran yang menghinggapi diri Ninja pirang itu... Bukankah seharusnya mereka berada disini?

Siluman Rubah itu tidak menanggapi pertanyaan inangnya, iris merah vertikal miliknya memandang Jinchuriki didepannya, kemudian Sang Biju balik melemparkan pertanyaan kepada pemuda tersebut. "Naruto, kekuatan Ashura yang diberikan oleh Kakek kepadamu bukanlah jutsu pemulihan, kau tahu kan maksudku."

Pemuda yang teralihkan ucapannya itu bergumam pelan. "Kau belum menjawab pertanyaanku Kurama." mata biru langit itu masih menatap serius sosok didepannya.

"..."

"Mereka bukanlah inangmu, hanya separuh cakra yang mereka berikan kepadamu." Naruto mendengar. Shukaku, Matatabi, Isobu, Son Goku, Kokuou, Saiken, Choumei, Gyuuki. seakan mengetahui dimana mereka, Pemuda itu kemudian membalas dengan sedikit pelan diakhir kalimatnya. "Jadi... mereka tidak ada disini." makhluk pecahan Jyuubi tersebut melihat inangnya yang sedikit menundukkan kepalanya. Raut wajah yang sedikit tertutupi oleh rambut pirang emasnya membuat Sang Biju tidak mengetahui bagaimana keadaan tuannya.

Hening.

"..."

Naruto kembali menatap bijunya. Raut wajah kesedihan terlihat jelas dari balik mata birunya. "Kurama..."

"Lihatlah lengan kananmu." Kyuubi kembali memotong perkataannya, "Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" seakan tersadar, pemuda itu melihat lengan kanannya. Serangan terakhir dirinya dengan sang rekan 'Uchiha Sasuke'. Namun belum sempat dirinya menjawab pertanyaan Rubah didepannya. Rasa pusing kembali menghampirinya.

Manik birunya mengabur...semakin tertutup. Dan... gelap. Pemuda itu pun terjatuh.

XxX

Institut Grigori...

Tempat dimana para Malaikat Jatuh tinggal. Sang pelayan Tuhan, setelah mereka melanggar perintah Tuhan, sayap-sayap indah yang semula putih berkilau pada punggung mereka berganti menjadi hitam, bulu hitam bagaikan malam. Mereka telah berdosa. Sebuah perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan oleh ras mereka... para utusan Tuhan. Karenanya Surga membuang mereka. Mencampakkan mereka dari Kerajaan Tuhan. Semenjak mereka dibuang, mereka tinggal dan berbagi tempat dengan Iblis di Neraka.

Terlihat seorang pria, ia berambut hitam serta berbadan kekar berjalan memasuki suatu ruangan. Tempat para petinggi Malaikat Jatuh melakukan suatu pertemuan. Sebuah ruangan yang terlihat tidak terlalu besar namun tidak pula terlihat kecil. 'Sepertinya terlambat', itulah pemikiran yang menghinggapi dirinya. Dirinya segera mendudukkan diri pada kursi yang berada disamping pria bersurai poni emas disampingnya.

"Maaf aku terlambat Azazel." Pria yang baru datang bernama Barakiel berujar dengan nada pelan seraya menoleh kepada pemimpinnya. Di depannya sebuah meja bundar dan beberapa kursi tempat para petinggi selain dirinya yang telah ditempati oleh para petinggi yang lain. Bukan Azazel yang menjawab, tetapi Sahariel. Seorang petinggi Grigori yang bekerja pada bagaian penelitian, seorang peneliti jenius, ia berperawakan sedikit pendek serta rambut pirang berantakannya, ia melakukan penelitian tentang Bulan.

"Apa mengawasi putrimu lagi Bara-san." Gumamnya

Malaikat jatuh itu menggeleng pelan "Tidak, semenjak putriku menjadi bagaian dari Gremory, aku sedikit lega karena mereka memperlakukan budaknya layaknya keluarga sendiri."

Bukan tanpa alasan... semenjak meninggalnya Himejima Shuri, istrinya. Barakiel menjadi sangat kehilangan. Rasa bersalah pada dirinya dan yang lebih menyakitkan, sang anak semata wayang membenci dirinya. Karena itulah, setelah mengetahui sang putri masih hidup dan berada pada naungan Gremory, ia menjadi lega. Meskipun tidak pernah bertemu secara langsung dengannya semenjak insiden jutsutsha tersebut. Barakiel hingga kini masih setia mengawasi putrinya, meskipun dari kejauhan... ironi.

Sahariel hanya mengangguk paham di iringi dengan sebuah senyuman khasnya, dalam hatinya, dirinya hanya bisa berharap temannya ini bisa segera hidup bahagia bersama putrinya. Tanpa harus mengawasi dalam kejauhan.

Azazel, selaku pimpinan tertinggi berdehem sejenak, kemudian tangan kanannya mengambil gelas berisikan Sake kemudian meminumnya secara perlahan. Setelahnya dirinya bergumam. "Karena aku menjadi Guru di Academi Kuoh, aku menunjuk Shamhaza sebagai penggantiku."

Hening...

Memahami maksud perkataan yang di sampaikan pemimpinnya. Mereka saling bergelut dengan pemikirannya masing masing. Apa yang baru saja dikatakan oleh pemimpinnya yang hobi dalam meneliti Sacred Gear dan memancing itu?

"Azazel, apa maksudmu?" terlihat seorang pria berambut pirang, ia berperawakan tinggi serta menggunakan bando lingkaran dikepalanya, ia terlihat kurang setuju dengan apa yang barusan didengarnya.

Azazel kemudian mengalihkan direksi pandangannya kepada temannya. "Tamiel, aku sudah lelah dengan posisi ini, setelah pakta perjanjian tercipta, aku ingin melanjutkan hobiku." posisi Tamiel di Institut Grigori adalah bagaian departemen bisnis.

"Meskipun engkau mesum serta lebih peduli melakukan hobi anehmu itu, namun tidak ada orang yang pantas menggantikanmu posisimu saat ini Azazel." kali ini ucapan Tamiel didukung oleh temannya, seorang wanita dengan warna rambut ungu panjang, wajah serius dan datar terlihat jelas dari raut wajahnya. Sang Kepala sekretaris. Penemue.

Azazel hanya mengangguk sesaat kemudian melanjutkan. "Aku menunjuk Shamhaza sebagai penggantiku, dia adalah prajurit perang kita, kekuatannya bahkan sebanding denganku... apakah kalian masih meragukannya."

Kali ini sosok yang disebutkan berujar. "Azazel, posisi prestisius itu, aku merasa sangat terhormat." ekspresi wajah Azazel menampilkan sedikit senyum, namun sesaat kemudian, senyumnya memudar. "Namun, aku harus menolaknya, aku masih belum siap menerimanya."

"Memangnya kenapa Shamhaza." sosok tersebut yang bertanya adalah Penemue. Sang Wakil Gubernur menoleh kepada asal suara itu, ia kemudian bergumam pelan. "Banyak hal yang harus aku selesaikan dalam waktu dekat ini. Jika waktunya telah tiba, aku akan menerimanya."

Azazel hanya mengangguk, mulai sekarang dirinya harus bertambah repot, tidak ada lagi kesenangan dalam rutinitas mancing memancing yang hampir selalu ia lakukan sepanjang hari, hobi keren yang dirinya lakukan selain meneliti tentang Sacred Gear. Apalagi semenjak perdamaian antar tiga kubu Akhirat, serta sekarang menjadi guru di Academy Kuoh karena permintaan Sirzech untuk melatih pereeage adiknya.

"Hah baiklah, aku akan mengundurkan diri setelah engkau siap." Azazel menghembuskan nafasnya. Shamhaza mengangguk setuju. "Jadi, apa topik pertemuan ini Azazel, bukan hanya membahas tentang pergantian jabatan Gubernur kan?" Tanya Barakiel setelah hening beberapa waktu mendengarkan jawaban Shamhaza. Ia menatap serius kearah pemimpinnya.

Azazel kemudian menutup kedua matanya sejenak. Bersiap akan mengatakan apa solusi kedepannya tentang masalah yang baru baru ini muncul.

Sesaat kemudian ia membuka matanya, raut wajah serius terlihat dari tatapan mata sang Gubernur. "Ini mengenai Khaos Brigde dan Hakuryuukou."

Salah seorang petinggi bergumam pelan. "Sudah aku duga Azazel, Vali pasti menghianati kita, aku sudah beberapa kali menginggatkanmu agar waspada terhadapnya. Bagaimana kalau ia membocorkan informasi data Grigori kepada fraksi lain?" Armaros mengungkapkan kecurigaannya tentang pemuda pengguna longinus itu. Serasa bosan dengan tingkah dan gerak geriknya.

Azazel serasa tidak tersinggung dengan perkataan tersebut. Memang dirinya sudah menduga bahwa anak didiknya tersebut cepat atau lambat akan meninggalkannya. Heh...merepotkan. Bocah idiot itu, yang berada pada otaknya hanyalah bergumam tentang 'bertarung dengan orang-orang kuat.' Hobi yang mengerikan... oh? bukankah lebih baik hidup dengan damai serta dikelilingi oleh banyak wanita seksi dan dada besarnya. Terlebih lagi kau bisa bermain sampai puas denganya, jika kau mau... bahkan para Malaikat Jatuh perempuan banyak yang sudah jatuh hati kepada pemuda tersebut.

Namun ketika berdekatan dengan sosok berambut perak itu, para Malaikat Jatuh itu langsung keder dan mangap-mangap tidak jelas. Setelah ditanya apa penyebabnya perempuan itu bersikap aneh. Sang Gubernur terbengong dengan jawaban anak didiknya. 'Aku tidak menyukai perempuan, mereka tidak menggairahkan, kau pikir aku tertarik dengan dadanya yang besar, oh kau salah besar Azazel. Aku tidak sepertimu. Bertarung dengan orang orang kuat merupakan gairah tertinggi dalam hidupku.'

"Tapi aku percaya Vali tidak akan melakukannya." sanggah Azazel. Bagaimanapun juga, ia telah dirinya anggap putranya sendiri, dan ia percaya kepada maniak petarung itu. "Heh, semoga saja kau benar." ujar Armaros. Dibagaian Grigori posisinya adalah sebagai peneliti sihir dan anti sihir, ia berkata sambil mengelus jenggot panjangnya yang bertengger manis didagunya.

"Lalu bagaimana dengan Khaos Brigde, apa yang akan kita lakukan." Shamhaza berguman pelan. Sang Gubernur kemudian memijat batang hidungnya pelan. Mereka adalah kumpulan dari berbagai Fraksi, kekuatan mereka benar benar di luar nalar. Dan pemimpinnya... Sang tiada batas, Uroboros Dragon Ophis. Eksistensi yang bahkan ditakuti oleh Tuhan. Apakah sebegitu banyaknya rintangan menuju suatu kedamaian.?

"Kita masih harus mengamati pergerakannya, semenjak Iblis dan pihak Surga beraliansi, para pemberontak dari golongan mereka kemungkinan akan bergabung dengan Khaos Brigde." Azazel mengatakannya kepada teman seperjuangannya. Memang, mereka yang menentang pemimpinnya kemungkinan akan bergabung dengan kelompok tersebut. Dan mereka pun memperoleh kekuatan tak terkira dari ular hitamnya Ophis. Seperti halnya Katerea Leviathan, Maou lama yang telah Azazel musnahkan.

"Bagaimana jika dari Fraksi kita ada yang memberontak dan akhirnya bergabung dengan para teroris itu." Barakiel mengungkapkan opini yang berada dikepalanya. Sebagaian dari mereka yang menghadiri rapat tersebut membulatkan matanya, serasa tidak tahu bahwa mungkin anggotanya ada yang akan membangkang akibat perjanjian perdamaian itu.

"Aku akan menghabisinya, pemberontak tidak seharusnya dibiarkan hidup." kali ini yang menjawab adalah seorang yang sedari pertama datang diam, jika dalam Fraksi Surga ada Dulio, sang pengguna Longinus Zenith Tempest, maka di fraksi Malaikat jatuh ada Ikuse Tobio Slash Dog, sang pemilik sacred gear Canis Lykaon yang berupa Anjing hitam.

"Aku mengandalkanmu Slash Dog," Sahariel mengangukkan kepala serta memberikan senyuman tipis kepada pengguna Longinus keturunan Jepang asli itu. Yang lain pun mengangguk mendengar ungkapan pemuda itu.

Azazel berharap, para bawahannya mengerti dengan keputusan yang telah ia ambil. Diantara ketiga Fraksi, hanya ras Malaikat Jatuh yang paling sedikit jumlahnya. Setelah Great War. Para Iblis dan pihak Surga menggunakan sistem 'reinkarnasi' untuk mengubah ras manusia menjadi bagaiannya. Seiring berjalannya waktu, populasi dua kubu semakin bertambah. Sementara para Malaikat Jatuh tidak, mereka hanya mengandalkan harapan semoga utusan Tuhan melakukan dosa kemudian Jatuh, dan akhirnya menjadi bagaiannya.

Karena itu, ia ingin teman-temannya lebih baik ikut menjaga kedamaian yang pada saat tertentu dapat pecah seketika.

"Kalau begitu aku memerintahkanmu kembali Shamhaza, awasi pergerakan para teroris itu." Wakil Gubernur yang disebutkan itu mengangguk.

Satu-satunya wanita ditempat itu berujar. "Tentang kemunculan Fraksi Golongan Iblis lama, apa pihak kita akan ikut campur Azazel."

Azazel mengalihkan pandangannya kepada Penemue. "Masalah tersebut akan aku bahas setelah pertemuan ini dengan Sirzechs sebelum acara pertemuan para Iblis muda."

"Bagaimanapun juga, sekarang kita bersekutu dengannya, jika waktunya tiba, kita akan melakukan apa yang memang seharusnya kita lakukan untuk mereka." tambahnya.

Para pentinggi Malaikat jatuh tersebut juga membicarakan tentang Ophis dan antek-anteknya yang berhubungan dengannya. Para Dewa... mulai dari Dewa Jepang, Dewa Utara, maupun Dewa Yunani dan berbagai Dewa lainnya. Kemungkinan, banyak yang tidak menyetujui akan keputusan tersebut, karenanya para petinggi tiga Fraksi mengundang para Dewa dari berbagai mitologi untuk datang pada acara Rating Game nanti. Acara yang diadakan oleh para Maou Underworld dalam acara Rating Game dari para pewaris tahta klan Iblis.

Tidak terasa waktu berganti... banyak hal yang harus ia lakukan. Tentunya bukan hal yang berkaitan dengan memancing ikan, namun kedepannya... apa yang akan ia lakukan dalam upaya membawa perdamaian tersebut? pertemuan yang memakan waktu sehari tersebut akhirnya berakhir.

Perang...jika perdamaian ini pecah, Azazel yakin, rasnya akan musnah, dan ia tidak ingin hal itu terjadi.

"Hem, jika sudah selesai pertemuan ini, aku akan kembali bekerja." Sahariel berkata karena sudah tidak ada lagi hal yang perlu dibicarakan saat ini.

"Baiklah, lagipula aku harus segera bertemu Sirzechs, banyak hal yang ingin aku sampaikan padanya." Azazel berkata dengan nada khasnya. Akhirnya mereka pergi meninggalkan rapat tersebut. namun salah satu dari mereka masih duduk disamping Gubernur.

"Azazel, ada yang ingin aku katakan padamu?" Barakiel mengatakannya dengan nada serius khasnya.

Serasa tahu, atau memang sok tahu. Gubernur mesum tersebut membalas. "Apa tentang putrimu, hem...sepertinya dia memiliki ketertarikan dengan si Sekiryuutei, semenjak di Underworld Rias dan putrimu memberikan perhatian lebih padanya. Apa kau tidak setuju jika putrimu mempunyai anak dari Sang Naga legendaris merah itu."

Barakiel serasa tidak perduli dengan hal tersebut, saat ini pikirannya adalah tentang kondisi pemuda yang saat ini berada dirumahnya. Barakiel kemudian berujar.

"Phoenix."

XxX

Di suatu tempat, terlihat seorang pemuda tampan bersurai hitam pendek, ia mengenakan pakaian China Han, serta sebuah tombak yang tergenggam ditangan kirinya. Aura suci yang berkobar pada Tombak tersebut seakan siap melenyapkan Iblis tingkah bawah jika bertemu dengannya, berjalan dengan tenang dalam kesunyian, menuju sosok yang memanggilnya. Setelah ia sampai ditempat tujuannya, pemuda tampan itu dapat melihat dengan jelas, Di depannya terlihat seorang berambut hitam dengan berlian indah yang bersematkan di lehernya. "Ada apa kau memanggilku Sakra-sama. Apa ada hal penting yang ingin engkau sampaikan?"

Sakra...

Dewa dengan kekuatan Ultimate yang dikatakan setara atau bahkan melebihi Maou yang berada diantara seluruh golongan didunia ini. Sang Kaisar Surga, Dewa Prajurit. Yang telah mengalahkan sang Dewa Perang...Ashura. Perwujudan Dewa mitologi Jepang yang diagung-agungkan setelah kemenangan dalam perang besarnya.

Tidak mungkin...

Sang tiga kubu Akhirat, dalam masa perang Great War yang memakan banyak korban dari manusia. Malaikat dengan komandan perangnya Tuhan, Malaikat Jatuh, serta Iblis dengan pemimpinnya Lucifer. Membuat suatu pakta perjanjian Gencatan senjata. semua golongan maupun Fraksi menyatakan perdamaian dengan mulut manis mereka, dengan bibir yang bersilat bagaikan pedang. Namun sungguh otak nan picik, dalam pemikiran mereka, mereka berfikir 'kamilah yang tertinggi.' ungkapan busuk dari mereka membuat diri sang Dewa serasa muntah. Mereka mengumbar ajaran mereka dengan dalih suatu kedamaian... hidup tenang.

Mereka berkata sangat mudah mengumpulkan kepercayaan, kalau Tuhan yang mereka percayai telah tiada!. Mereka merasa... sesuatu kepercayaan yang bertentangan dengan ajarannya mereka haruslah musnah... Membawa pengikut kami menuju ajaran mereka... akhirnya membuat kami menjadi hanya sebuah mitos belaka. Dan ketika keseimbangan itu mengalami keguncangan, maka ras manusia akan musnah...

"Cao cao, bagaimana dengan manusia yang kau kumpulkan."

Cao cao...seorang pemuda jenius dari golongan Pahlawan, keturunan langsung dari Cao Mengde, serta tercatat dalam Records of Three Kingdom. Pemilik artefak suci Longinus terkuat, yaitu sebuat tombak suci yang didalamnya terdapat kehendak dan keajaiban langsung dari sang Tuhan dalam Injil.

Bukan tanpa alasan, mereka... Fraksi Golongan Pahlawan mengumpulkan jenis dari manusia yang telah dianugerahi oleh Tuhan berupa Sacred Gear. Memberi pelatihan kepada mereka, kemudian membawa diri mereka hingga mencapai tahapan tertinggi. Balance Braker. Semenjak ketiga Fraksi besar dari kubu Akhirat membuat suatu perjanjian gencatan senjata. Anggota Khaos Brigde dari golongan Pahlawan semakin banyak merekrut manusia. Mereka memberi pengertian... apa dirinya, apa yang ia bawa, dan apa yang berada dalam genggamannya.

Cao cao mengangguk kemudian ia bergumam "Saat ini mereka dalam masa pelatihan. Baru beberapa yang mencapai tahapan Balance Breaker."

Dewa Perang itu hanya mengangguk pelan dengan anak didiknya. Begitu... Indra begerak dalam bayangan didalam Khaos Brigde. Pemuda pengguna tombak terkuat tersebut adalah bawahannya, membawa informasi penting yang bahkan sang pembawa pesan Sun Wukong tidak mengetahui hubungan mereka.

Kemudian tatapan Indra menajam. "Lakukan persiapan sebaik mungkin di Kyoto, keluarkan dia."

...

And Done.!

Chapter 2 dari Shinobi DxD, Terima kasih telah datang dan membaca fic abal ini. Saya akan sangat menghargainya jika pembaca mau meninggalkan jejak. Berikan tanggapan mengenai chapter ini, apa yang kurang dan letak kesalahannya, agar kedepannya menjadi lebih baik lagi.

See you next time...

Type your review.

VVVVV

VVV

VVVV

V