General Warnings: AU. Violence. Canon-Diverged. Ooc. Etc.

Disclaimer: Notownanything.

XXXXX

Pertemuan internal dari para pimpinan Malaikat Jatuh telah usai. Mereka kembali menuju tempatnya masing-masing.

Barakiel, pria itu berjalan dengan langkah pelan menuju suatu tempat. Dengan mengenakan pakaian hitam serta celana yang senada hitam, ia berjalan layaknya manusia pada umumnya. Tidak ada kesan aneh pada dirinya. Sebagai makhluk dari akhirat yang mana bagi sebagaian orang para Malaikat hanyalah mitos belaka, bukan berarti dirinya tidak membutuhkan sesuatu hal layaknya manusia pada umumnya.

Tiba di tempat tujuannya, sebuah warung, atau lebih tepatnya ruang makan, ia kemudian membeli beberapa makanan khas kesukaannya, istrinya, serta putrinya, Akeno. Tidak terlalu banyak, namun cukup. Kemudian dirinya meminta sang penjual membungkusnya. Setelah selesai membayarnya, Barakiel kemudian pergi ke sebuah toko pakaian yang berada di sebelah warung makan itu. Ia membeli beberapa pakaian, pakaian berwarna oranye serta beberapa stel pakaian lainnya. Semua dirinya lakukan untuk pemuda itu, pemuda pirang yang dirinya ketahui bernama Uzumaki Naruto.

.

.

Sifat seorang ayah pada dirinya kembali lagi. Ya! Kasih sayang.

Lambaian angin menerpa, bagai gayung tak tersambut oleh helaian daun yang berguguran.

Angin dan bayangan. Memory kenangan dalam bayangan masa lalu menghampirinya, kembali lagi. Ingatan tentang kehidupan indah dan penuh warna, kehidupan bersama sosok wanita surai hitam panjang, serta seorang gadis kecil, Putrinya. Terlihat dalam pandangan, sebuah keluarga kecil nan bahagia, sang Istri yang menghidangkan makanan, gadis kecil yang tengah duduk dengan tenangnya, serta seorang pria yang tengah duduk dengan mata berbinar binar. Kehidupan yang tenang tentram dan damai.

.

Namun! semua hanya kenangan, Masa lalu. Ingatan yang serasa ingin ia pendam hingga dirinya mampu melupakannya, kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.

Kini?!

Hancur! Sungguh dirinya sangat menyayangi sang Istri beserta putrinya, sangat.!

Ia membawa tangan kanannya, mengusap buliran air mata yang menggenangi pelupuk matanya dengan kasar, ia begini lagi... Merasakan sedih, merasakan kehilangan. Kekosongan dan kehampaan dalam diri. 'Maafkan aku, Shuri, Akeno!'

XXX

Rumah minimalis, tidak terlalu besar.

Tap.

Bunyi tapak kaki mendarat dengan sempurna pada permukaan tanah, terlihatlah seorang pemuda dengan pakaian China kuno serta membawa benda aneh di tangan kirinya. Kemudian di sampingnya, terlihat seorang pemuda dengan ekspresi tenang membawa pandangan matanya lurus kedepan.

"Pemuda itu berada disini, apakah kita akan membawanya?" pemuda surai hitam kecoklatan itu bertanya kepada sosok di sampingnya. Pemuda tampan itu kemudian menoleh pada seorang yang berbicara kepadanya. Iris hitamnya menyiratkan ekspresi tenang, sementara seorang lainnya, hanya mendengarkan percakapan kedua temannya.

"Apakah benar dia orangnya." pemuda pirang itu sedikit bergumam.

"Ya, sekarang bagaimana, apakah kita akan membawanya sekarang?" pria itu berujar, seperti tidak sabar akan perintah ketuanya. Namun ketika ia menunggu jawaban pemimpinnya, tubuhnya meneriakkan bahaya, sesuatu yang mendekat. Cepat, bagaikan hembusan angin.

*Swuussh*

"Menghindar!" dengan sebuah teknik sensor tingkat tingginya, sepersekian detik sebelum sebuah tombak cahaya seukuran tiang listrik mengenainya, ia melompat ke belakang dengan aksi akrobatik miliknya, diikuti oleh kedua temannya.

*Blarrr!*

Lubang besar terbentuk dengan seketika, membentuk sebuah kawah berdiameter dua puluh meter, asap mengepul seakan menghalangi setiap sudut mata dalam pandangan di depannya.

Flashback.

Barakiel berjalan sedikit cepat menuju rumahnya, ia sedikit khawatir tentang keadaan pemuda pirang yang kini masih berada di rumahnya. Sudah lebih dari satu hari ia meninggalkan pemuda itu, Barakiel.

Deg...

Ia merasakan sesuatu yang mendekat. Cepat! Berbagai aura, sebuah kekuatan suci serta energi demonic power mendekati rumahnya. Tunggu.! Ia merasakannya, aura yang tidak asing ketika dirinya masih berada di Grigori. Ya!, Tidak salah lagi, akan tetapi apa yang membawanya datang ketempat ini?

'Hakuryuukou' Barakiel langsung mengepakan kelima pasang sayap Malaikat Jatuhnya. Mendongak keatas, ia kemudian terbang dengan kecepatan tinggi di udara.

Setelah radius semakin dekat dengan kecepatannya. Ia melihat. Samar-samar, para teroris yang tengah menatap kearah rumahnya. Membawa dirinya, ia langsung membuat sebuah tombak cahaya bercampur percikan petir dari ketiadaan, tombak suci dengan lidah halilintar itu kemudian melesat cepat menuju para teroris itu.

XXX

Tap.

Seorang pria berbadan kekar mendarat tidak jauh dari lokasi ledakan. Pandangan ia bawa kedepannya, menghiraukan kehancuran yang telah dirinya lakukan. Menghilangkan kelima pasang sayap hitamnya, ia melihat dengan tatapan matanya yang tajam. Jiwa prajurit perang sejati kebanggaan Malaikat Jatuh, sang pendekar petir dan cahaya, Barakiel. "Tidak aku sangka bahwa teroris Khaos Brigade mengunjungi kediamanku, apa yang membawamu berurusan denganku? eh!

... Vali Lucifer?!"

Meskipun Barakiel mengucapkannya dengan nada sakratis, namun ia tidak menurunkan posisi bertarungnya, ia berusaha berfikir tenang, Vali? Murid didikan sang Gubernur. Hakuryuukou terkuat sepanjang masa. Rumor dari Azazel mengatakan bahwa keturunan terakhir Lucifer asli itu sangat kuat, bahkan ia sudah mampu membawa Sacred Gear Longinusnya mencapai tahap tertinggi 'Juggernaut Drive' teknik tertinggi dimana sang pengguna ketika berada pada mode itu akan mempunyai kekuatan yang bahkan melebihi Maou serta Tuhan.

Vali, sosok pria Bishounen dengan rambut pirang peraknya. Ia tetap berada dalam ekspresi tenangnya, dengan tangan bersidekap dada, tidak ada rasa takut akan kedatangan salah satu petinggi Malaikat jatuh itu, dengan senyum khasnya ia kemudian bergumam. "Ternyata setelah aku mendeklarasikan siapa diriku pada pertemuan tiga fraksi besar lalu, aku menjadi semakin terkenal ya? Hem..!"

"..."

Seseorang di sampingnya dengan armor China kuno memainkan tongkat Nyoi Bo andalannya. Surai hitam pendek pada kepalanya, ekspresi riang nan menyegarkan selalu bertengger manis diwajahnya. Bikou... Keturunan Sun Wukong generasi ketiga, seorang pengguna senjutsu yang hebat. "Yo!, kita bertemu lagi, Malaikat Jatuh san. Apakah dia sudah lebih baik?"

Barakiel menatap dimata pada sosok yang berbicara kepadanya, sosok yang pernah dirinya lihat beberapa hari yang lalu. Dirinya sekarang bisa merasakannya dengan jelas, pemuda perwujudan monyet itu. 'senjutsu? Jadi ini.' memfokuskan pandangannya, Barakiel berujar. "Aku tidak akan membiarkan kalian melakukan sesuatu kepadanya! Katakan..! Apa maksud kedatangan kalian?"

Bikou kemudian menatap keturunan Lucifer yang berada disampingnya "Hei Vali, apakah kita akan melawannya, aku sangat penasaran dengan teknik Halilintar Sucinya." seperti biasa, mulutnya yang tajam mengeluarkan perkataan yang mampu mengundang amarah bagi lawannya.

Barakiel masih dalam posisi bertarung. Dirinya tidak akan terpengaruh hanya karena ucapan monyet jelek itu. Menyiapkan diri akan pertarungan yang mungkin tidak dapat ia hindari. Ouroboros Dragon Ophis... Kekuatan tak terbatas, sampai keturunan langsung dari youkai monyet legendaris ikut bergabung dengan Khaos Brigade yang dipimpin oleh naga itu.

Senjutsu; merupakan andalah para youkai monyet. Teknik senjutsu menekankan betapa pentingnya sesuatu yang disebut cakra [aliran energi]. Aura yang merupakan kekuatan original yang kemudian mengalir kedalam jiwa seseorang, dengan kata lain senjutsu masuk melalui energi kehidupan seseorang. Kemudian energi itu mengubahnya menjadi aliran konstant, itu adalah kekuatan yang mirip namun pada saat yang bersamaan berbeda dengan sihir dari Iblis maupun kekuatan cahaya dari Malaikat. Kekuatan Destraktif dari suatu cakra memang tak bisa menandingi sihir maupun kekuatan cahaya dari Iblis maupun Malaikat, namun kekuatan senjutsu dapat memanfaatkan bagaian tersembunyi dari makhluk hidup, mulai dari tanaman, hewan maupun manusia.

Untuk contoh jika seseorang mempelajari senjutsu, di katakan bahwa mereka yang mampu menguasainya akan handal membaca aliran jiwa seseorang dari aura mereka, dan mereka kemudian bisa membaca pergerakan target yang jauh sampai derajat tertentu. Dengan senjutsu, mereka juga bisa mengendalikan aliran jiwa, dan juga bisa memperkuat baik interior maupun eksterior tubuh mereka, atau mengontrol jiwa dari pohon disekeliling tempatnya, serta membuat mereka mekar maupun gugur.

Senjutsu. Merupakan kekuatan yang memanipulasi aliran kehidupan. Mereka juga bisa merusak jiwa musuhnya, dan memicu kerusakan pada energi kehidupan mereka dengan memotongnya. Karena metode dalam memperbaiki energi seseorang itu terbatas untuk sihir Iblis dan sihir dari Penyihir sebagai perbandingan. Metode serangan ini hampir berdampak pada kematian.

Barakiel menyadarinya, bertarung melawan mereka bertiga kemungkinan dirinya tidak akan bisa menang. Mengalihkan direksi pandangannya kepada seorang yang terlihat tenang, pemuda tampan dengan pakaian jas hitam serta topi yang melekat pada kepalanya. Aura suci! Ia merasakannya, aura demonic power yang keluar dari sebuah pedang yang berada di genggaman tangannya.

'Pedang Suci.?'

"Kau jangan gegabah Bikou, kekuatannya setara dengan Azazel. Dia dan Shamhaza. Mereka bertiga adalah yang terkuat dari fraksi Malaikat Jatuh." Pemuda pirang itu mengatakannya tanpa menoleh pada sang monyet.

"hei hei Vali, jika perkataanmu memang benar, aku semakin bersemangat untuk melawannya. Kau sudah bertarung dengan rival abadimu. Arthur! Pria tampan itu sudah mendapatkan lawan yang layak dari pemegang Durandal serta [Knight] dari 'Putri tombol' itu. Sedangkan aku belum! Setidaknya aku juga ingin mempunyai rival sejati... yah, meskipun seorang pria tua sih." Bikou mengatakannya bagaikan tidak ada beban dalam setiap ucapannya, posisi santai, tangan kanannya ia bawa untuk menggaruk sisi kiri wajahnya.

Seakan tidak terpengaruh, atau bahkan tidak mendengarkan perkataan monyet itu yang di arahkan kepadanya, Barakiel menatap tajam pemuda silver itu. "Ada urusan apa Vali? Khaos Brigade; mereka yang menentang perdamaian tiga fraksi besar Akhirat. Apa tujuanmu sebenarnya?

"Aku tidak datang kesini untuk bertarung melawanmu." Vali bergumam.

XXX

Vali!

Empat hari yang lalu, ketika ia berada di markas. Ia mendapatkan informasi tentang orang-orang kuat yang berada di Utara. Menurut Ophis, Timnya di perintahkan untuk melawannya. Naga itu mengatakan masih ingin mengumpulkan para makhluk mitologi, Dewa, maupun Manusia yang mampu membantunya mengusir 'Si Merah Great Red' dari celah dimensi. Namun suatu hal membuat keturunan Lucifer itu menundanya. Bikou, anggotanya yang hobi bepergian kemanapun dirinya mau mengatakan sesuatu hal kepadanya.

ketika Bikou melewati suatu hutan yang dekat dengan permukiman penduduk, ia merasakan sesuatu hal dalam dirinya. Energi yang asing, namun familiar pada saat yang sama. 'Cakra.?' karena bagi dirinya mustahil ada Manusia, Dewa, maupun Youkai yang mempunyai cakra ditempat ini. Ia kemudian turun kebawah.

Tap.

Ia mendarat pada tanah, Cakra asing itu kemudian melemah... dan semakin melemah. Ia kemudian menekan hawa keberadaannya sampai titik terendah. Membawa dirinya menuju asal cakra itu, Kemudian dirinya mulai mencari... mencari...

Ketika monyet itu melihat pada sebuah pohon besar.

'Malaikat jatuh, apa yang ia lakukan.?' Bikou melihat dengan ekspresi penasaran tentang sosok yang berada tidak jauh darinya. Terlihat dalam pandangannya, sosok itu tengah melakukan sesuatu hal yang tidak dirinya ketahui. Namun sebagai youkai dengan tipe sensor dimana senjutsu mampu merespon sistem [cakra], ia mulai mengetahuinya.

Perlahan tapi pasti, aura yang sejak saat yang lalu ia rasakan mengecil dan semakin menghilang perlahan kembali, meskipun memerlukan waktu yang lambat. 'aku akan menyelidikinya.' Youkai monyet itu kemudian masih memperhatikan apa yang dilakukan Malaikat Jatuh itu. Terlihat sosok itu memberikan energi ke tubuh sosok pengguna cakra itu.

Monyet itu bergumam. 'Ini adalah hal yang menarik, aku akan memberitahukannya pada Vali.'

.

.

Diam... Seperti sifat aslinya, monyet. Mereka tidak mampu untuk diam, Selang hampir setengah jam, monyet itu dibuat frustrasi dengan keadaan yang tidak berubah setelah sekian lama menunggu tingkat kekuatan cakra itu, tanpa berfikir rasional bahwa ia telah mengobservasi, ia berguman. "Oh sial.!, jika begini terus, aku tidak akan tah...uppss..!" Bikou menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang sulit untuk diam.

"..."

Mendengar suara asing yang masuk ke dalam indra pendengarannya, sosok itu menegang, ia tidak mengetahuinya, bahwa ada orang yang tengah memperhatikannya. 'Aku bahkan tidak merasakan keberadaannya, siapa!?' Malaikat jatuh itu kemudian membalikan tubuhnya. "Keluar kau.!"

*beezzts... beezts!

Percikan halilintar tercipta ditangan Malaikat Jatuh itu, membesar, petir itu kemudian mulai membentuk sebuah tombak memanjang. "Keluar...!"

Bikou menepuk jidatnya pelan. Setelah mengetahui bahwa keberadaannya terlihat, ia bergumam. Ia kemudian menghentakan tongkatnya ke permukaan tanah. "Hah, tongkat sakti, apa kau ada saran untuk ku?" seakan merespon perkataan tuannya, tongkat itu melakukan gerakan-gerakan aneh.

Ngiing...ngiiing...ngiing.

Bikou mendengarkan, di ikuti dengan anggukan kepala setelahnya,, ia kemudian bergumam. "hem...hem, baiklah.!"

"..."

"Ayo tongkatku! kita tunjukan keberadaan kita pada Makhluk jelek itu!" Bikou kemudian membawa dirinya berada di depan Malaikat Jatuh dengan seni loncat khasnya.

Ngiing...!

.

.

Tap.

"Sambutan yang tidak menyenangkan, Eh? Malaikat Jatuh san!." tepat ketika ia mendarat pada tanah, ia reflek menghindar kesamping ketika instingnya meneriakkan bahaya. Benar saja... Sebuah tombak cahaya menjadi jawaban salamnya dari Malaikat Jatuh itu.

"Hei? Itu tadi hampir mengenaiku tau..!"

"..."

"Baiklah! tongkat sakti,!"

.

.

Yap.

Bikou kemudian memutar tongkat Nyoi-Bo dengan kedua tangan kemudian ia membawanya pada tangan kirinya menghadap lurus ke depan. "Tunggu?"

Barakiel menatap waspada pada sosok di depannya. Sebuah tongkat serta tanda pada dahinya, seperti yang dirinya dengar dari Azazel. Ciri-ciri sosok itu. "Keturunan [The Victorious Fighting Buddha], Son Goku. Apa mau mu?"

Bikou berujar dengan wajah riang, menghiraukan ketegangan yang serasa menghampirinya. "Aku hanya jalan-jalan kemudian melihat ada hal yang aneh berada disini. Tidak aku sangka, rasa penasaran membawaku bertemu petinggi Malaikat Jatuh."

Bikou melanjutkan. "Aku tidak mempunyai niat buruk padamu. Ya kan!, tongkatku,!"

ngiing...

"Apa maumu?" masih dalam posisi siap bertarung, Barakiel melanjutkan, "Aku akan membunuhmu sekarang juga! kau adalah ancaman bagi kedamaian yang baru terbentuk ini."

Masih dengan wajah menyegarkan, Bikou menggelengkan kepalanya pelan. "Aku hanya ingin melawan yang terkuat saja, karena itu aku bergabung dengan Khaos Brigade. Melawan para makhluk Mitologi dan Dewa, Aku tidak akan mengacau perdamaianmu, aku hanya melakukan hobiku. Itu saja, tidak kurang tidak lebih."

Menghembuskan nafas panjang, ia bergumam. "Hah! Merepotkan."

"..."

Barakiel tidak akan mempercayainya begitu saja, ia harus melakukan sesuatu. Terlebih lagi pemuda yang baru ia temukan keadaannya sangat menyedihkan. Melawannya di sini...'Aku akan...'

"Hah!, kurasa urusanku sudah selesai, Vali pasti akan memarahiku.!"

Bikou kemudian melanjutkan. "Oh ya?, aku sangat penasaran dengan orang yang berada di belakangmu, ia mempunyai sedikit aura yang sama sepertiku! Sampai bertemu lagi, Malaikat Jatuh san!" Monyet itu kemudian menusukkan tongkatnya ke tanah. Sekejap, kegelapan hitam menyebar pada permukaan tanah. Membawa diri monyet hilang dalam pandangan mata sang Da-Tenshi.

XXX

"Aku membawa niat baik, Barakiel! Aku harus segera bergegas setelah urusanku disini selesai." keturunan Lucifer itu kemudian membawa pandangannya pada monyet disampingnya.

Seakan mengerti maksud perkataan pemuda silver itu, Bikou bergumam. "Apakah dia sudah lebih baik, Barakiel san. Kami ingin berbicara kepadanya!"

Barakiel menegang sejenak, tidak tahu bahwa pemuda bernama Uzumaki Naruto membuat seorang keturunan Lucifer tertarik kepadanya.

Ingatan terasa membawa dirinya kepada memory beberapa hari lalu, ketika ia bertemu dengan monyet itu. Cakra...suatu energi yang mempunyai kesamaan dengan kera itu. Ketika ia membawa pemuda itu ke rumahnya, ia tidak merasakan perasaan aneh pada dirinya tentang manusia itu.

Senjutsu, ia hanya sekilas melihatnya pada si Kerasakti. Naruto, ia tidak tahu... Setelah pemuda itu sadar, ia ingin menanyakan banyak hal kepadanya. Apa yang menyebabkan dirinya terdapat banyak darah serta lengannya yang terpotong.

'Orang orang kuat, teroris, Hakuryuukou. Apakah Naruto bukan manusia biasa... Jangan jangan,?' Dengan semua yang pernah dirinya lihat, tidak mungkin bahwa pemuda itu mendapat serangan dari Iblis liar, jika seperti itu harusnya sebagai manusia ia akan mati. Namun ketika dirinya menyelamatkannya, tiga hari kemudian ia sudah sadar. Pemuda itu bergumam dengan nama 'Sasuke.' Sasuke.. Siapa orang itu? Apakah dia temannya? Barakiel kemudian membawa semua masalah tentang pemuda Uzumaki itu dengan orang di depannya.

"Singkat kata! Kau akan membawanya ke dalam organisasi Khaos Brigade itu?" Tidak ada petunjuk lain yang mengarah pada selain hal itu tentang kedatangan teroris itu.

Tidak! Tidak, Barakiel tidak akan membiarkan hal itu terjadi, meskipun baru beberapa hari bertemu pemuda itu, namun ia merasa sangat senang dan damai. Seperti, ia merasa mempunyai seorang putra.

Ia merasakan akan ada hal buruk yang terjadi, akan tetapi setelah kejadian ini ia berfikir, bahwa Naruto bukanlah manusia biasa. 'Mungkinkah ia pengguna Sacred Gear? Jika seperti itu, maka.?'

"Aku tidak akan membiarkannya. Aku tidak akan menyerahkannya pada kalian. Tidak! Tidak akan.!" Barakiel kemudian mulai mengeluarkan kekuatannya.

Tekanan energi yang keluar tidak membuat senyum Vali jatuh. Ia kemudian membawa ekspresi maniak bertarungnya. "Arthur, Bikou, kekkainya.." pemuda dengan jas hitam itu mengangguk kemudian mulai membuat beberapa sihir bersama monyet itu. Sesaat kemudian sebuah penghalang besar terbentuk dengan seketika. Aura sedikit kemerahan menjadi warna yang terbentuk dari kekkai itu.

"Aku sudah mengatakannya, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!"

Battsss...

Barakiel mengeluarkan sayap hitamnya, membawa kekuatan dalam dirinya untuk bangkit. Sekarang atau tidak selamanya, ia akan membunuh teroris itu, bahkan jikalau harus bertaruh nyawa melawannya.

Kemudian Vali melangkah ke depan, "Kau tahu, aku tidak ada niat untuk bertarung denganmu!" dengan mendongak ke atas, namun ekspresi wajahnya berkata hal yang sebaliknya.

"Kau yang memulainya, aku tidak akan segan-segan, Vali!" Ekspresi Barakiel mengeras, membawa tekanan udara serasa senyap karenanya. Siang yang terlihat terik kini berganti bagaikan malam tak berbintang.

"Seakan kau sebanding denganku, Eh? Barakiel." Vali membawa sayap cahaya putih berkilau dari punggungnya. Terbang ke langit menghadap Malaikat Jatuh di depannya.

"Albion."

"Baiklah."

"Balance Break."

"Vanishing Dragon Balance Breaker!"

...

And Cut...!

Sorry... lama banget updatenya,, lebih dari 1 bulan ya.? Maaf banget, ini sibuknya minta ampun... Yang menunggu update fic 'Shinobi DxD' ini updatenya chap 3, gmana apa tambah jelek, smoga aja malah tambah baek. Hehe...

Entah kenapa akhir-akhir ini fandom croosover Naruto & DxD sepi review.,, ayo donk reader tulis comen di kolom review, penyemangat bahan bakar agar Author lebih baik lagi dalam update chapter selanjutnya. Kritik dan saran akan saya terima. Berikan tanggapan tentang fic ini...

Reviewessss...! Bim Salabim..

VV

V