General warnings: AU. Violence. Canon Diverged. Ooc. Etc.
Disclaimer: Not own anything
xxx
Tempat ini adalah salah satu distrik di suatu perkotaan, banyak sekumpulan manusia yang berlalu lalang di wilayah ini, mereka dari golongan manusia, namun tidak sedikit pula dari bangsa supranatural beraktifitas di daerah ini, dan ketika suatu hal buruk menimpa suatu tempat di dunia manusia. Mereka hanya akan berfikir jika itu hanyalah sebuah bencana alam, sebagaian menimpali bahwasanya itu adalah amarah Tuhan, mereka tidak mempercayai bahwa mereka tidak sendirian, mereka tidak percaya akan keberadaan fisik dari Iblis maupun Malaikat, atau bahkan siluman sekalipun. Meskipun ada sebagaian kecil dari manusia yang percaya bahwa keberadaan mereka itu ada, namun mereka tetaplah polos.
Suatu hal yang telah Barakiel lihat selama ribuan tahun tentang ras manusia, setelah menjadi makhluk terbuang dari kerajaan Surga. Manusia, mereka selalu berfikir bagaimana untuk hidup, bermain, belajar, bekerja kemudian memiliki pasangan hidup dan pada akhirnya mati.
Apakah ini suatu hal yang bisa Barakiel biarkan seperti ini? Dia sudah belajar banyak hal setelah peristiwa itu, semua hanya akan berujung pada korban, manusia. Ketika itu hanya perang kecil perebutan suatu wilayah di dunia bawah, perang dua kubu yang kemudian bertambah dengan turunnya Malaikat dari Surga, dan kemudian puncaknya kedua naga bertarung tanpa perduli keadaan di sekitarnya, dan ketika hal itu berlalu, mayat manusia tergeletak di medan perang yang telah merambah ke dunia manusia itu, "Itu tidak dibenarkan bukan? aku seperti kembali menjadi anak kecil, sungguh memalukan." dan kekuatan super dari prajurit halilintar itupun melebur sebelum kemudian menghilang, wajah serius darinya tergantikan dengan senyuman getir penuh rasa bersalah, menutup mata hitamnya sesaat sebelum kemudian memandang sosok pria armor naga di depannya.
"Ini akan menjadi masalah jika manusia mengetahui keberadaan kita." ya Barakiel tahu, ini tidak harus di besar besarkan, masalah ini harus di selesaikan dengan tenang, namun bukan berarti akan berakhir kegagalan, meskipun ini terasa seperti sebuah pertaruhan, Barakiel akan mencoba hal yang terbaik yang bisa dia ambil saat ini.
Barakiel membawa kedua tangan terkulai di samping tubuh tegapnya, menghilangkan kembali sayap hitamnya kemudian mendaratkan kedua kaki ke permukaan tanah, "Maafkan saya Lucifer, bisakah perang ini kita hindari?" Barakiel membawa kalimat itu keluar darinya, apakah ini benar, seseorang yang baru beberapa hari berada di sini akan menyebabkan hal yang besar terjadi?
Itu yang memang ingin Barakiel katakan, apakah hanya satu orang maka kekuatan besar haruslah saling bertempur yang akhirnya hanya akan timbul jatuhnya korban?
"Jika Lucifer benar menginginkannya, beri saya waktu untuk mengatakan perihal keinginan itu, pemuda itu tidak... keadaan dia belum bisa saya katakan baik, seperti yang teman Lucifer katakan, jadi... untuk sekarang dia tidak bisa untuk memberikan keputusan itu, jika telah benar membaik, saya akan memberitahukannya," sebuah diplomasi kecil untuk kemungkinan terburuk itu, namun semua tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Perubahan seratus delapan puluh derajat, tidak menduga kejadian mengejutkan akan seperti ini, Vali sudah cukup lama menjadi murid dari Pimpinan malaikat jatuh, Azazel. Sekian lama berada dalam pelatihannya, dia mengetahui benar karakter sosok di depannya, membawa kesetiaan besar kepada pemimpinnya, sosok yang mempunyai harga diri tinggi, dimana itu menjadi jalannya selama ini, seorang prajurit yang serius dan kaku, namun sekarang... ini apa?
"Ada apa denganmu?" helm putih itupun terbuka, dengan ekspresi penuh tanda tanya, itulah Vali Lucifer, rekan satu tim Vali pun ikut terdiam, seakan angin berhenti tertiup, Bikou dan Arthur pun melebarkan mata akan perasaan terkejutnya. Seperti sesuatu, 'Inikah Barakiel yang lain'
Satu kepakan sayap cahayanya, "Aku mendengar." Vali pun mendarat di depan sosok pria di depannya,
"Baiklah.."
xxx
Naruto memandang rubah besar di depannya dengan keadaan terduduk, "Jadi...? apa yang Shinigami inginkan, mengapa dia membawaku ke tempat antah brantah ini?" hal yang mustahil seperti sebuah mimpi, namun sekarang hal itu benar suatu hal nyata.
Kurama menatap Naruto dengan iris hitam khasnya, serius, seperti satu hal yg mustahil akan sosok misterius itu. "Naruto, satu hal yang pasti, aku... tidak atau bahkan kita di dunia shinobi tidak ada satupun yang mengatahui tentangnya." Suara rendah Kurama menjadi semakin kecil keluar.
"Apa ini, bahkan kakek Rikudou juga?" Naruto membulatkan mata dengan berbagai bentuk emosi di wajah tannya, biru itu menatap sosok rubah ekor sembilan di depannya, sedang Kurama kemudian melihat jauh ke depan, meskipun segel merah itu kini tidak mengurungnya, namun fakta bahwa Kurama masihlah biju yang tersegel itu mutlak, apa yang Kurama lihat hanyalah seperti tembok pembatas, dengan pintu pintu balok di berbagai sisi ruangan, namun... bukan itu yang Kurama pikirkan... seperti sesuatu yang sulit untuk di gapai.
"Yah, seperti itu..."
"...mungkinkah dia Tuhan yang sebenarnya?" Kurama berbisik kecil kemudian menatap Naruto Jinchurikinya.
" Dan apa itu?" Bukankah pembahasan ini semakin rumit, mengapa menjadi seperti ini kejadiannya. "Sesuatu yang berada di luar batas, hal yang berasal darinya, sebuah hal yang mutlak, satu kesimpulan pertemuanmu denganya." Kurama mengingat itu, sesuatu yang berbeda.
"Semua terjadi begitu cepat, aku yakin kamu bahkan tidak mengingat sedikitpun bukan, Naruto?" pernyataan yang tidak perlu, namun sepertinya tidak untuk kali ini.
"Aku benar benar tidak mengerti apa maksud perkataanmu Kurama? ini apa?" seberapa keras aku mencoba, hal itu tidak terlihat, pandanganku mengabur dan kemudian pingsan setelah pertarungan itu. Hal terakhir yang jelas akan diriku adalah ketika aku terbangun di futon ini, tempat yang begitu asing maupun pria yang menolongku, namun jika Kurama tahu sesuatu, dia seharusnya tahu ini dilakukan oleh siapa dan untuk apa, tidak seperti ini, lagipula...
"Hah, mungkin waktunya belum tepat, ingatanku juga menghambur" dan Kurama seperti mabuk akan perkataannya sendiri. "Hah aku bertanya A kamu jawab B, pembicaraan kecil yang hanya akan membuat beban ku bertambah, baiklah aku pergi saja, Kurama."
Senyuman itu, tidak lagi." Bocah sialan, pergi sana!"
"..huh" Dan Kurama malah menggerakan salah satu ekornya menendang Naruto untuk kembali ke alam sadar nya. "o-oy Kurama sompret!" dan Kurama hanya tertawa dengan keras setelah memberikan sentuhan pergi kepada inangnya.
setidaknya tatapan benci itu telah banyak berkurang, 'Jadilah dirimu yang biasa aku kenal Naruto, karena itu adalah dirimu yang sebenarnya, "Nah sekarang aku akan tidur lagi, aku masih lelah." dengan monolog terakhir itu kemudian Kurama menutup matanya untuk kembali mengistirahatkan tubuh besarnya.
000
Sementara setelah Naruto kembali dari balik segel, Naruto membuka mata pelan, sudah berberapa hari ia terbaring seperti ini, menggerakan tangan kiri untuk mendudukan diri dari futonnya, Naruto kemudian mengambil air minum yang telah di siapkan untuknya, sensasi segar perlahan masuk kedalam tubuhnya, sekarang Naruto sudah berangsur membaik, keadaanya mungkin sudah bisa di katakan hampir sembuh meskipun tidak sepenuhnya, Naruto kemudian terdiam sesaat, memandang sekilas perban putih yang berada di bahu kanan sampai sikunya, menghembuskan nafas berat penuh akan perasaan lelah sebelum kemudian ia menatap ke sebuah tirai jendela, dengan gerakan sedikit tangannya, Naruto membuka jendela besi itu, angin perlahan masuk dari tirai yang terbuka, membawa kesejukan di pagi itu, menatap dari tempat yang sedikit lebih tinggi. Naruto kembali di ingatkan oleh keadaan ini, semua peradaban sudah sangat berbeda, dan gaya berpakaian aneh apa itu, atau memang begitulah seharusnya dunia di sini?
Melihat kerumunan orang berlalu lalang, dan apa itu?, besi berjalan,? bagaimana ada sebuah besi besar seperti itu, bukankah besi itu seharusnya digunakan untuk membuat peralatan ninja? Shuriken misalnya, Naruto menatap penuh keterkejutan dari balik jendela itu. Berbeda sekali dengan Konoha, sekarang Naruto sangat yakin jika dirinya kini bukan berada di dunia asalnya. Naruto memandang cukup lama pada luar jendela seperti dia masuk kedalam suasana itu sendiri, melihat dengan waktu yang lama, bahkan suara seseorang yang memanggil dirinya di ruangan itu tidak terdengar oleh Naruto.
"Naruto?"
"..."
"Naruto, ada apa?" suara itu kembali terdengar, dan ketika kesadaran membawa dirinya, Naruto mengalihkan pandangan kepada orang yang memanggilnya.
"Maaf paman, Aku tidak tahu kalau paman berada di sini?" Naruto membawa kalimat maaf keluar darinya, dan itulah memang seharusnya bagi dirinya.
"Bagaimana keadaanmu?" satu pertanyaan itu memasuki pendengarannya, suara dari seseorang yang telah menolongnya, itulah yang Naruto dengar baik dari Kurama, seorang pria yang memiliki penampilan setengah baya yang tampak kasar dengan rambut hitam dengan bulu yang banyak di sekitar pipi, memberikan kesan serius darinya, namun gambaran itu seperti berbanding terbalik dengan apa yang kini tengah Barakiel lakukan, dia datang membawa makanan di kedua tangannya, meletakkan bungkusan kantong plastik itu kemudian duduk di samping Naruto.
Naruto mengangguk pelan kemudian menatap pria di sampingnya itu, "Paman Barakiel?" Naruto membawa suara pelan darinya, sesuatu hal yang tampak ragu.
"Ada yang bisa paman bantu?" Barakiel bertanya seraya menunggu Naruto meneruskan kalimatnya, terlihat wajah kebahagiaan dari pria itu, adalah apa yang kini Naruto lihat dari paman tersebut. "Untuk semua ini, terima kasih paman telah menyelamatkanku, sekarang aku sudah lebih baik, sekali lagi terima kasih." Naruto menundukkan kepalanya pelan kepada Barakiel.
mungkin... mungkin jika tidak ada pria itu Naruto telah mati, itulah yang Naruto ketahui sekilas setelah tersadar beberapa hari lalu di futon ini, Naruto tidak mengetahui fakta tentang Bikou yang juga menyadari keberadaan dirinya selain Barakiel, begitu pula sosok misterius yang bahkan Kurama sendiri serasa hampir tidak mempercayai keberadaan sosok itu. Jika...jika itu benar takdir akan dirinya, Naruto benar menerima, setelah semua yang dirinya perjuangankan sampai berakhir seperti ini, seharusnya itu telah selesai, tidak perlu ada penyesalan... Namun sebagai manusia yang mempunyai perasaan itu, Naruto tetaplah bagaian dari hal itu, dan pada akhirnya Naruto pun menyesal tentang betapa tidak berdayanya dirinya saat itu.
Dan sekarang ini, hal yang paling di luar pemikirannya terjadi kepada dirinya, dan seperti membalikan halaman kertas putih, sesuatu seperti 'aku dari langit', 'aku dari tempat lain' atau yang paling mengejutkan sekalipun, 'aku berasal dari dunia yang lain', meskipun berusaha menyangkal kenyataan pahit ini, namun hal itu benar benar ada. Seperti terlahir kembali namun dalam artian lain, bukan memulai sesuatu hal dari awal, hal yang mutlak dan benar, Seharusnya Naruto telah mati, tidak perlu sebagai pahlawan ataupun apa, jikalau gagal menyelamatkan temannya ataupun bahkan perang jika kembali pecah, meskipun sampai akhir, itu adalah satu hal yang logis, seperti kau berubah untuk suatu hal yang benar, namun masa lalu menghantuinya dan membentuk dirimu yang sekarang, dan janganlah engkau membenci masa lalumu.
Dan Naruto kemudian mendengar suara itu dari pria di samping dirinya "Jangan dipikirkan terlalu jauh, masa lalu ataupun masa depan, lakukan sesuatu hal saat ini yang membuatmu bisa hidup dengan damai, seperti dirimu, pahit dan manis kehidupan ini, meskipun seperti ini, paman juga merasakannya, jadi sekarang...
Tatapan dan senyuman itu, seperti...
lakukan apa yang menurutmu baik dan benar, paman akan ada untukmu... Naruto."
ayah...
"..."
"...terima kasih paman." air mata itupun menggenang sebelum kemudian jatuh membasahi wajahnya, perasaan haru ini... apakah ini balasan akan hal itu, apa seperti ini perasaan itu?
"Tidak apa? nah ayo makan bersama, kebetulan paman juga belum sarapan." seperti beban yang berat, kesedihan dan pengharapan, dan hanya ada satu jawaban dari pemuda di depan Barakiel... air mata itu, cermin perasaan dirinya, pemuda itu, Naruto... satu hal lagi yang menganggu perasaan dirinya, bagaimana kehidupanmu sebenarnya Uzumaki Naruto.
Dan kali ini Barakiel akan benar menjaganya, suatu alasan, Barakiel masih tidak tahu alasannya untuk apa? apakah naluri sebagai seorang ayah yang mendorongnya, ataukah ada hal lain. Barakiel masihlah belum bisa mengartikannya.
"Baik paman." Naruto tersenyum kecil setelahnya, "Suatu hari paman akan mengenalkanmu dengan putriku, Naruto." Barakiel membalas kecil perkataan Naruto, Namun sepertinya Naruto tidak mendengarnya terbukti dengan tangan kirinya yang menyambar sarapan itu setelahnya.
xxx
Beberapa bulan berlalu setelah kejadian itu, Naruto menjalani kehidupannya dengan baik. Paman Barakiel telah memberi tahu sebagaian yang memang perlu dia tahu kebenarannya, kemudian fakta bahwa ternyata pamannya adalah termasuk golongan tertentu, bagaian dari Malaikat Jatuh yang telah hidup selama lebih dari seribu tahun, dan hal gila itupun awalnya membuat Naruto benar benar terkejut. Naruto tidak menyangka, Di kehidupan yang telah maju dan penuh dengan teknologi seperti ini, hal seperti supranatural masih ada sampai sekarang, bukankah itu harusnya hanyalah sebuah mitos belaka?
Karena itu pula Naruto juga tidak boleh melakukan hal di luar nalar seperti meledakan gedung dengan bijudamanya, tentu saja hal seperti itu sangat ingin dia hindari, Karena itu, dia selalu berusaha berhati hati di setiap aktifitasnya. Jika sedikit saja berurusan, Naruto tidak akan bisa kembali.
Dan kemudian, setelah kejadian itu Naruto di daftarkan di sekolah SMA Kuoh, Awalnya Naruto menolak, bagaimanapun juga hal yang paling ia benci adalah pelajaran, dan apa itu? namun... ketika paman Barakiel mengatakan bahwa itu untuk menunjang masa depanya, agar Naruto mempunyai masa depan yang baik, dan lagi, tangisan paman bahwa putri tercintanya bersekolah di tempat itu dan meminta Naruto mengawasinya dari dekat...dihadapkan keadaan seperti itu, Naruto hanya mampu mengalah.
Naruto merasa kini dirinya mempunyai ikatan dengan sosok yang mengasuhnya itu, karena itulah hari ketika pamannya ketika tidak bekerja di Grigori, tempat yang diberi tahukan Barakiel kepadanya, maka ia hanya akan mengawasi putrinya dari kejauhan, awalnya Naruto merasakan keterkejutan sekaligus merasa iba kepadanya, Naruto merasa hal itu tidaklah sepenuhnya benar, Namun Naruto juga merasakannya, bahwa ada garis yang tidak boleh dia lewati.
"Bagaimana putriku Naruto?" suara itu memasuki pendengarnya, pria berpakaian hitam itu bertanya masih dengan melihat layar tv di depannya sambil menekan tombol remote di tangannya, di dalam video tersebut, ada pertarungan yang hebat. Sebuah pertarungan dari dua kubu yang berbeda, apa itu suatu agresi?
"Ada apa paman?" Naruto melihat tampilan video yang memperlihatkan perempuan dengan pakaian miko menatap kosong, seperti telah kehilangan sesuatu, namun apa itu..
"Apa itu seperti pertarungan yang di siarkan secara langsung dan di rekam paman? dan siapa pria naga yang hilang itu?" lebih tepatnya ini apaan? kekuatan sambaran petir itu benar benar gila, melihatnya dari video saja bahkan membuat Naruto berkeringat dingin, apalagi kejadian nyata, sungguh Naruto tidak ingin hal itu terjadi.
"Setelah tiga kekuatan membentuk aliansi perdamaian, kami sekarang bisa masuk ke wilayah Iblis, kamu tahu kan jika putriku adalah hybrid Malaikat Jatuh, dulu paman tidak bisa ada untuk melindungi nya dari dekat sekarang mungkin telah sedikit berubah." Barakiel berkata panjang lebar, Naruto hampir selalu mendengar itu, betapa seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya, namun karena suatu hal, ia seperti di penjara dengan kejadian yang telah terjadi di masa lalu, Naruto kemudian mengangguk pelan, namun meskipun begitu, Naruto benar benar mendengarkan perkataan sosok yang Naruto anggap pelindungnya itu.
"eh..bukankah kamu bersekolah di tempat mereka juga, " keringat kecil mengalir dari pelipis matanya, terasa seperti tidak mempercayai suatu hal. Naruto kemudian memberikan anggukan kecil, namun sepertinya Barakiel masih belum puas akan jawaban yang diberikan Naruto kepadanya.
"Serius? memangnya apa yang kamu lakukan di sekolah?"
"Belajar paman, aku akan mengerahkan segenap kekuatan otakku untuk mendapatkan hasil terbaik, bukankah itu tujuan sekolah yang sebenarnya." ya itu benar, dan meskipun awalnya Kurama tidak setuju, namun akhirnya ia menyerah juga, entahlah, setelah peristiwa itu, Kurama seperti kehilangan aura membunuhnya, kehidupannya lebih dihabiskan olehnya dengan tidur. Yah mungkin sekarang itu sebuah hobi baru yang layak Naruto puji. Namun, meskipun seperti itu, Naruto dan Kurama juga terus waspada dengan sekitarnya, seperti yang paman Barakiel katakan, aktifitas Iblis dilakukan kebanyakan di waktu malam, dan satu hal yang Naruto hindari, karena itulah sampai sekarang Naruto tidak satupun terlibat dalam sesuatu yang menganggu aktifitas sekolahnya. Mungkin juga itu faktor keberuntungan juga.
"Hem itu benar, apa ada yang lain lagi selain itu, padahal alasan terbesarku memasukanmu ke sekolah Kuoh agar kamu bisa mengawasi putriku dari dekat, namun yah... sepertinya." Barakiel terlihat menjadi tidak bersemangat.
"Iya paman saya juga mengawasi putri paman, ketika istirahat datang, dia hampir selalu pergi ke sebuah gedung khusus bersama teman temannya, bukankah itu normal sebagai gadis remaja umumnya?" Naruto kemudian mengambil kaleng minuman jeruk di depannya sebelum kemudian kembali menatap layar tv di depannya. 'oh dan apa itu?'
"Dan bagaimana menurutmu dengan Hyodou Issei, aku mendengar di dunia bawah bahwa dia memakan payudara putriku satu satunya, bagaimana dia di sekolah?" suara itu semakin kecil Naruto dengar.
"Yah, apa itu? aku tidak tahu jika seperti itu. Tapi yang aku ketahui, Issei orang yang jujur meskipun ia mesum tingkat akut, namun sejauh yang aku tahu, Issei memang baik dan jujur, dia hanya berusaha mengekspresikan masa mudanya paman, namun memang benar...sifat mesumnya itu benar benar menganggu." Issei Issei, dia dan dengan segala kemesumannya.
"Aku berharap jika itu tidak terjadi pada putriku satu satunya, nah sekarang coba lihat di video ini?" paman2 Barakiel kini terlihat lebih baik, ia kemudian mulai menekan tombol remot itu.
satu jam kemudian...
"Aku tidak mempercayainya, apa itu benar? aku kira hanya putrimu seorang paman... ternyata semua anggota klub Gaib dan Osis itu adalah Iblis, bukankah itu terlihat seperti sekolah itu tempatnya makhluk supranatural?"
"dan Naga,mengapa aku seperti melihat semacam robot seperti di anime kesukaanku, lalu Issei dan Saji itu seorang naga begitu paman?" Naruto menjadi depresi, pikirannya di serang bertubi tubi, Naruto merasa jika dia selama ini seperti berada di wilayah kumpulan monster, dan Naruto baru menyadarinya, tapi mengapa Kurama tidak memberitahukan hal itu kepadanya? sepertinya dibalik hobi barunya, Kurama juga bisa menyembunyikan sesuatu dari Naruto.
"lebih tepatnya awalnya mereka manusia biasa, kedua naga itu memilih mereka setelah kematian pemilik mereka sebelumnya, kurang lebih seperti itu." Barakiel mengangguk mantap.
"Mengapa paman memberi tahukan hal ini kepadaku, seperti apakah paman merencanakan sesuatu?" Naruto kemudian menekan remot tv dan memindahkan menit jedanya.
"Sebenarnya aku akan menghadiri pertemuan dengan Dewa Dewa di Kyoto, aku ingin kamu menjaga putriku ketika aku pergi." Naruto mengangguk sekilas, "Oh aku kira apa, baiklah paman."
"Naruto, aku ingin kau berjanji." kalimat itu. seperti harapan yang ia genggam terasa jatuh. apakah beban berat yang kau bawa paman, jika memang seperti itu.
"Maaf paman, aku tidak bisa menjanjikan sesuatu, namun...aku akan berusaha sebagaimana diriku selama ini." Uzumaki Naruto, kini ia berjalan di jalan yang dulu pernah ia lewati.
"Nah aku pergi dulu, nanti ketika aku hubungi segeralah datang Naruto." Barakiel tersenyum, seperti melihat bagaimana sisi lain dari Naruto yang selalu ceria itu.
"Baik paman." Barakiel kemudian berdiri sebelum melangkah pergi ke pertemuannya dengan Dewa Utara, Odin.
Setelah kepergian Barakiel, Naruto kemudian meminum habis jus jeruk itu, apa yang terjadi tentang kebenaran itu benar mengganggunya, hal itu hampir sama ketika paman Barakiel mengatakan tentang jati dirinya, dan kemudian kedatangan tiga orang aneh lagi, satu membawa pedang? dan satunya membawa tongkat? bertamu ke rumahnya dikala Naruto sedang belajar?, serius itu, orang yang bahkan tidak dirinya kenal, dan kemudian dengan diplomasi yang lambat ditambah sedikit bentrokan, akhirnya masalah itu telah selesai.
Jika masalahnya terus bermunculan seperti ini semakin lama bisa jadi dirinya akan berurusan dengan para iblis itu, terlebih apa yang beredar selama ini tentang gerombolan dua grup itu, "Kurama? apa yang harus aku lakukan, suatu hari aku mungkin akan terlibat masalah ini?, dan lagi mengapa kau juga menyembunyikan sesuatu hal bahwa mereka semua adalah Iblis" Naruto mengawatirkan masalah kedepannya, bertanya karena Kurama diam tentang hal ini.
"lakukan apa yang menurutmu benar, Karena itulah aku menunggu reaksimu ketika mendengar kebenarannya, terlebih lagi... Shinigami tentu tidak akan membiarkan pelayannya terperangkap akan hal itu kembali, dia benar benar memberikan kesempatan keduamu, begitu pula aku, jika dia mau dia mungkin akan ikut berperang dengan para Dewa di sini." Kurama mendengur sesaat sebelum mengubah posisi duduknya.
"Apa iya Kurama?"
"mungkin,,," jawaban yang terlihat samar, Naruto menghembuskan nafas lelahnya, tangannya memijit pelipis matanya, "Hah, aku terlalu banyak berfikir, aku seperti keluar dari kehidupan sosial ku"
xxx
Oh masa mudaku, sekarang aku akan benar benar merasakannya, hari ini Hyodou Issei sangat bersemangat, ini adalah kencan, kencan dengan Akeno san, Issei meskipun seperti itu namun tetaplah gugup, karena bagaimanapun juga,
"Jantungku rasanya ingin keluar, oh Tuhan,,,aaw jangan salahkan diriku, salahkan hormon remaja gilaku yang tidak bisa aku tahan ini.." aku merapikan bajuku, melihat sekilas jam tangan, jam telah menunjukkan waktu pertemuan kencanku dengan Akeno san. "Yosh,"
"Kamu sudah menunggu lama Issei kun," suara itu,, mungkinkah, oh...dia langsung memelukku dengan erat, dan ini,, oh oppai, oppai Akeno san, kembali lagi aku merasakannya, tanganku bergetar hebat, tapi... tapi mengapa dia menjadi agresif seperti ini.
"Akeno san" Issei menatap gadis muda di samping dirinya.
"Apa Issei kun menungguku sudah lama?" suara ini benar benar dia, tapi... Aku mengedip ngedipkan mataku, dan aku seperti jatuh cinta kepada Akeno san.
Akeno san dengan rambut tergerai. Pakaiannya nampak sangat manis, sangat sesuai dengan yang dikenakan oleh gadis seusianya. Seperti inikah saat Akeno san sedang berjalan jalan dengan Buchou. Selagi aku terbuai oleh kecantikannya... aku..aku
Violet Akeno menatap Issei sesaat, ""Apa ada sesuatu Issei kun?" Akeno san menatapku dengan khawatir. Mendengar suara lembut itu, Akeno san... mengapa tingkat keimutanmu seperti ini, ini sudah melebihi level dewa manis, tunggu.. tapi apa memang ada dewa manis di dunia ini?
"Hanya saja, Kamu saat ini sangat manis Akeno san. Aku tidak bisa menjelaskannya, yah.. tapi,,"
"Terima Kasih," sebelum kalimat itu terselesaikan, Akeno san membalasnya dengan pipi yang merona, Oh ya Tuhan, aww..tampar aku untuk kembali dari alam mimpi. sial...sial...sial... betapa beruntungnya nanti kekasih masa depan Akeno san, aku sangat iri, semoga pria beruntung itu adalah aku, oh apaan ini... mengapa aku menjadi se narsis ini...
"Hari ini Ise-kun akan menjadi kekasihku untuk sepanjang hari ini...jadi, bolehkah aku memanggilmu Issei?"
Mengapa kau memasang wajah super imut dan malu malu seperti itu Akeno san, tentu saja aku mau.
"Ba-baiklah." sepertinya aku telah jatuh cinta kepada Akeno san.
Dan kencan kamipun dimulai..
Oh tapi bagaimana bisa kami terdampar di hotel seperti ini, ini semua terjadi karena Buchou mengikuti kencan kami, dan akhirnya kami tersesat di sebuah hotel seperti ini, terlebih... tangan Akeno san mengandeng lengan tanganku dengan erat..
"A- aku, aku tidak apa apa menghabiskan waktu malam ini denganmu, Issei. A-apa Isse juga setuju."
Mengapa wajahmu memerah seperti itu Akeno san... oh, oh, darah ini.. aku benar benar ingin mimisan, mengapa Akeno san mengatakan dengan senyuman polos itu, aku tidak kuat menahan nafsu ini, Apakah aku akan melepas masa remajaku bersama Akeno san, Apakah ini mimpi, a aku pun menggenggam erat tangan Akeno san, aku kemudian hanya bisa mengangguk kecil dengan gugup.
"Yay..."dan Akeno san kemudian memeluk diriku dengan erat.
" oh Tuhan, masa muda, bocah naga benar benar tahu bagaimana caranya bercinta, bukan hanya adik pemimpin dunia bawah, bahkan putrimu juga Barakiel,, bagus... bagus...itu baru lelaki sejati."
"Akeno, apa yang kau lakukan di tempat ini dengan Sekiryuutei?" Satu kalimat yang terdengar menghancurkan kencan manis hari itu dari Issei dan Akeno.
Suara berat itu, dan apa apaan dia kakek tua itu, menganggu kencan kami. Pada akhirnya kencan itupun gagal.
xxx
"Aku ingin menutup semua jalurnya, jadi hanya seorang type sensor tinggi yang mampu melihat kemampuan kita, Kurama?" Naruto kini menuju kediaman Issei, sesuai pesan yang disampaikan paman Barakiel kepadanya, karena ini hari libur sekolah, jadi tempat ini tidak begitu ramai seperti hari biasanya.
"Aku tahu Naruto." Kurama membalas sejenak, menurut apa yang dikatakan paman Barakiel lewat telepon, itu adalah pertemuan dengan Dewa, dan perwakilan Malaikat Jatuh dan Iblis dari klub Gaib, perkumpulan ini untuk apa..? semacam strategi perangkah."Aku yakin, bahkan seorang Dewa tidak akan mampu merasakannya?"
"Mengapa kamu sangat percaya diri seperti itu Kurama, kamu yakin tentang hal ini," Naruto terlihat sedikit ragu, namun meskipun begitu, tidak ada salahnya di coba bukan, Naruto juga datang dengan niatan baik... tidak untuk suatu hal yang bernama permusuhan.
"Kurama, kita akan melakukan apa ketika disana?"
"Bukankah kamu sekarang sudah lebih pintar?" Hah aku tidak akan minta pendapatmu lagi. Dan Naruto menghembuskan nafas beratnya.
xxx
Rumah ini seperti yang di katakan paman, tapi... ini seperti "besarnya" apa benar ini rumahnya Issei. Naruto memandang rumah besar itu sedikit lebih lama, "Apa aku harus, ah ada tombolnya." Naruto menutup matanya sesaat, berhari hatilah Naruto, ucapan itu Naruro balas dengan anggukan kepalanya.
Setelah suara bel berbunyi dari Naruto, tidak menunggu waktu lama, suara langkah kaki seseorang berjalan keluar dari rumah besar itu, dia mempunyai perawakan di usia sekitar empat puluh tahunan, mungkinkah dia pembantu rumah tangga di tempat Issei, sepertinya.. bahkan gerbang yang terbuka pun terlambat Naruto sadari.
"Ada yang bisa saya bantu anak muda?" suara lembut itu memasuki pendengarnya, menatap sesaat wanita itu kemudian mengangguk pelan setelahnya, "Uzumaki Naruto, saya temannya Issei Ibu, salam kenal, apakah saya bisa bertemu dengan Issei?"
Naruto menunduk sopan kemudian memposisikan dirinya tegak kembali, "Temannya Issei, oh baiklah, silahkan masuk, saya antar nak Naruto menemuinya, saya Ibunya Issei." Ibu dari Issei kemudian tersenyum kecil, yah, ikatan antara Ibu dan Anak..
Naruto kemudian membungkuk kembali, "Oh terima kasih Ibu." dan senyuman kecil membalas ucapan Naruto itu... di sepanjang perjalanan, Naruto hanya menatap tangga yang di laluinya, ini seperti rumah super,, Issei yang super mesum ternyata mempunyai sesuatu yang super pula, tidak terduga.
xxx
Tempat ruangan VIP itu benar benar megah, seperti sebuah arsitektur yang rumit, di dalam ruangan itu telah berkumpul kelompok Gremory, sepertinya, itu adalah tempat yang paling mendukung di antara aliansi tiga kekuatan besar yang di pusatkan di Kuoh, lebih tepatnya, tempat tinggal pemuda hyodou itu, sepertinya tempat teraman dari ancaman teroris itu memang hanya tempat ini.
Dan Naruto telah sampai di tempat pertemuan itu, Setelah suara dari dalam ruangan terdengar, Ibu dari Issei berucap seiring pintu yang dia buka. "Permisi, maaf Issei, ini ada temanmu, Namanya Naruto" pintu yang terbuka sedikit itupun kemudian melebar, menampilkan dua sosok yang berbeda, menunduk sejenak, Ibu dari Issei itu kemudian menatap Naruto, "Nah silahkan, sepertinya ada masalah serius, namun tidaklah apa, saya tinggal dulu ya nak Naruto,
"Ibu dia siapa?" Nah ternyata dia Hyodou Issei, Naruto memang kenal dengannya, namun hanya sebatas kenal, tidak ada pembicaraan khusus dengannya selama berada di sekolah, begitu pula dengan mereka yang berada di ruang lingkup grup itu, kecuali dengan pria yang satu itu, suatu rekor untuknya, Karena dia adalah orang pertama dari kumpulan itu yang pernah berbicara dengan Naruto, Itupun terjadi dikarenakan tugas sekolah yang diharuskan mengerjakannya secara berkelompok.
"Dia Naruto, katanya dia teman sekolahmu, baiklah, Ibu tinggalkan dia untukmu Issei." dan senyuman kecil diberikan Issei kapada ibunya sebelum kemudian mengangguk, "Baik Ibu, terima kasih."
"Terima kasih Ibu, maaf merepotkan," Ucapan Naruto itupun dibalas dengan senyuman khas seorang Ibu, dengan lambaian tangannya, wanita itu meninggalkan ruangan itu, jadi...seperti inikah kehidupan Issei.
Issei kemudian berdiri, beranjak menuju pintu dimana seorang Naruto berada, "Yo..?" sebagai penghuni rumah sudah sewajarnya bersikap santai, tapi memang Issei seperti orang yang mudah bergaul dengan siapa saja, buktinya ia memberikan salam tos kepada Naruto, Namun Naruto terlihat sedikit ragu sebelum membalasnya dengan menunduk pelan.
Issei menjadi tampak ikut canggung sesaat sebelum kembali tenang, "Ehem... Issei, kamu Naruto?" Naruto mengerutkan alis bingung sebelum kemudian mengangguk, 'apa dia orang yang irit bicara, namun sepertinya tidak, itulah yang di pikirkan Issei, "Apa kita pernah bertemu, Naruto" apa memang seperti itu cara memanggil Issei kepada orang lain dengan menggunakan nama depan.
"Kita satu sekolah. Jika aku menganggu pertemuan ini, aku minta maaf, aku da-"
"Saya yang memintanya datang ke pertemuan ini Sekiryuutei, ia datang bukan untuk ikut dalam urusan ini." Oh, seakan teringat kejadian lalu di dekat hotel, Issei hanya mampu berkeringat dingin. uh, ayah dari Akeno.
"Sekali lagi saya minta maaf Sekiryuutei."
"O-oh saya yang sebenarnya harus meminta maaf Barakiel san, Nah.. baiklah, lebih baik ayo duduk Naruto?" Issei merasa itu berbeda, dua kalimat itu berbeda dari Barakiel yang biasanya, dia yang selalu berwajah tegas dan serius, hal itu seperti hilang entah kemana, Issei terkejut mendengarnya, karena sejauh yang dia tahu Barakiel bukanlah orang lembut seperti ini. Apakah memang Barakiel sebenarnya seperti ini.
Namun hal itu lain lagi dengan sosok gadis rambut tergerai panjang itu, kalimat pendek itu... suara yang mengandung akan kasih sayang, sesuatu yang selalu di berikan kepada Akeno sebelum peristiwa itu terjadi dan mengambil semua dari dirinya, tanpa Akeno sadari, air mata bening menetes melewati pipi pualamnya, Barakiel menatap putrinya sesaat yang masih duduk terdiam di ujung kursi anggota penelitian Gaib yang lain. Barakiel sedikit terkejut melihatnya, setelah tersadar dia kemudian menatap Naruto, Naruto menatap sekilas pamannya dengan senyuman, sebuah anggukan kecil di berikan Barakiel padanya, mereka kemudian berjalan mendekati area diskusi besar itu, Naruto kemudian mengalihkan pandangan kepada sekumpulan makhluk supranatural di depannya, memberikan posisi menunduk sesaat sebelum kemudian mengangkat kembali kepalanya.
Ketika berbagai pasang mata tertuju kepada dirinya, Naruto membalas dengan sedikit senyum sesaat sebelum kembali terdiam. Keadaan yang terasa canggung, 'uh mengapa aku seperti ini, sial, rasanya aku ingin kabur saat ini juga.'
"Barakiel?.. "keheningan yang tercipta dipecahkan oleh pria poni emas di kepalanya, Azazel.
Sebelum Azazel meneruskan kalimatnya, Barakiel menginterupsinya, "Ya dia Naruto, orang yang pernah aku ceritakan kepadamu dulu," Barakiel kemudian menatap Naruto, memberikan isyarat kepada dirinya, "Perkenalkan dirimu pada mereka Naruto?"
Di tatap seperti itu oleh pamannya, mengapa jadi gugup seperti ini, "uh oh ya,, Uzumaki Naruto, salam kenal.."
Perkenalan sekilas, oh ternyata Naruto tidak populer, yah... siapa juga yang menginginkan sebuah kepopuleran, semua mempunyai kharisma masing masing, lagipula, Naruto cukup bangga dengan statusnya, siapa sih yang peduli dengan hal lain semacam perkenalan. Hal seperti itu tidak perlu dibuat menjadi sesuatu yang rumit.
Kakek tua dengan penutup mata satu menatap kepada Naruto, apa ada hal menarik dari dirinya, Naruto tidak tahu, lebih baik biarkan saja. "Uzumaki, apa kau keturunan asli Jepang bocah?" pria yang tengah duduk itu menatap Naruto.
"Ya" jawaban singkat yang memang seperti itu, tidak ada yang perlu orang lain tahu tentang diri seorang Uzumaki Naruto, biarlah dunia mengenalnya sebagai seorang Naruto saja. tidak perlu tentang asal usulnya.
"Em, baik! hohoho, bocah, siapa namamu tadi," sepertinya Dewa dari utara itu merasa ada yang menarik sedikit minatnya
"Naruto." Naruto mengembuskan nafas sesaat sebelum kembali mengucapkan namanya.
"Menarik?" Dewa Odin mengelus jenggot panjangnya sesaat.
"Apa ada sesuatu, Dewa mesum?" tatapan menyelidik kearah pemuda itu, jika dia mempunyai hubungan, terlebih membawa seorang manusia asli ke pertemuan ini, tentulah ini sesuatu yang luar biasa. Tentu saja hal itu bukanlah satu hal yang normal.
"Tidak Azazel boy, pokoknya setelah ini siapkan aku dada yang besar, wuhohoho..."
"Itukah alasanmu datang lebih awal di pertemuan itu hanya untuk ini?, kau benar benar Dewa bejat, tapi itulah yang membuatmu terkenal, kau sudah menyiapkan sabuk pengamanmu pak tua?"
'uwah tingkat kemesumannya menyaingi Ero sannin, benar benar gila.'
"Tentu saja Azazel boy!" Dan pembicaraan tidak jelas setelah perkenalan itu benar benar menganggu.
xxx
Kuro tidak tahu harus memulai dari mana, kepada mereka yang telah memberikan rev,fav, maupun follow...saya benar benar mengucapkan terima kasih kepada kalian, terutama kepada salah satu e mail yang memberikan semangat untuk Kuro, sangat memotivasi, Kuro akan berusaha keluar dari pertapaan, dan sebagai hasilnya, fiction ini di lanjut bersama Transistor,
Kalian yang datang, Kuro berterima kasih. berikan tanggapan chapter ini, baik ide, saran, maupun typo ataupun kesalahan bahasa, saya akan menerimanya, asalkan kalimat itu sopan,
xxx
Dan satu lagi, Kuro mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan bagi yang menjalankan... semangat..
