Beautiful Mystery

Chapter : 2/2

Duduk dengan tangan kanan menopang dagu. Termenung. Tidak menyadari pandangan aneh yang di layangkan beberapa teman sekelasnya padanya.

Pasalnya, seorang Kris Wu yang saat ini menjadi pusat perhatian, sama sekali tidak pernah berpenampilan nyaris berantakan layaknya hari ini. Surai hitamnya dengan bagian depan hingga atas berwarna biru gelap yang biasanya tertata rapi, kini nampak mencuat ke segala arah. Memperlihatkan dengan jelas jika sang pemilik tak menata rambutnya saat hendak pergi menimba ilmu.

Sudah seminggu berlalu saat dirinya menerima bekal makan siang dari Tao. Dan selama itu pula, pemuda manis tersebut tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Seakan-akan membenarkan praduga setiap orang yang mengira bahwa dirinya memang benar berhalusinasi.

Kris tidak bisa menampik fakta bahwa dirinya benar-benar kecewa. Kecewa pada Huang Zi Tao yang seakan mempermainkan hati serta pikirannya.

Jika saja dirinya bisa memutar ulang waktu, ingin sekali ia menghapus hari dimana Tao memberinya bekal dengan memperkenalkan diri sebagai Huang Zi Tao. Sosok yang kata teman bahkan keluarganya sudah tiada. Seseorang yang membuatnya penasaran hingga mencari tahu, dan berakhir dengan kekecewaan.

Kenapa harus dirinya?

Kenapa harus ia yang di permainkan?

"...Kris?"

Merasakan tepukan lembut pada bahunya, membawanya kembali pada dunia nyata. Memutar kepala, retinanya menangkap tubuh tinggi sang sahabat berdiri di hadapannya dengan kening berkerut.

"Kau melamun?" Chanyeol bertanya. Sedikit bingung melihat pemuda Wu yang sering termenung beberapa hari terakhir. "Aku memanggilmu berkali-kali, tapi kau tidak merespon." katanya melanjutkan.

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari belah bibir Kris. Sepenuhnya mengabaikan pertanyaan yang Chanyeol lontarkan. Ia justru memilih untuk melipat tangan pada meja, lalu menenggelamkan wajahnya di sana.

Namun, tak sampai 1 menit Kris kembali mengangkat kepala. Mengarahkan pandangan pada pemuda bermarga Park yang sudah duduk di kursi sebelah. "Chanyeol, kau-benar-benar memakan Ddukbokkie dari kotak bekal itu 'kan?" tanyanya. Dengan nada yang menyiratkan keraguan.

Chanyeol mengangguk singkat. Karena memang benar dirinya memakan Ddukbokkie dari salah satu penggemar pria tampan tersebut. "Tentu. Aku masih mengingat bagaimana lezatnya Ddukbokkie pemberian Huang Zi Tao.." terdiam sesaat, sedikit meresapi perasaan aneh yang tiba-tiba menyergap hatinya. Bertepatan setelah belah bibirnya membubuhi ucapannya dengan sebuah nama.

Chanyeol merasakannya. Hatinya seakan melupakan penggalan memori yang sepertinya bukanlah perihal sepele. Mencoba menguaknya dengan berpikir keras, tetapi dirinya sama sekali tidak mendapat gambaran apapun.

Apa?

Sebenarnya apa yang telah ia lupakan?

Kenapa nama Huang Zi Tao terdengar janggal meski terucap dari mulutnya sendiri?

Chanyeol tak lagi bersuara. Sibuk dengan pikirannya yang melayang entah kemana. Berbeda dengan Kris yang semakin di buat berharap atas pengakuannya.

Lelaki Park itu mengaku bahwa dia memang benar memakan Ddukbokkie itu. Beberapa patah kata ringan yang Chanyeol lontarkan membuat Kris kembali berpikir, bahwa dirinya memang tidak pernah berhalusinasi. Huang Zi Tao memang menemuinya minggu lalu dan memberinya bekal.

Dengan kata lain, Tao memang tengah mempermainkan dirinya. Mempermainkan emosi juga perasaannya.

"Kris?"

Memutar kepala ke sisi kanan. Keping almondnya menangkap figur seorang pemuda berdimple manis, berdiri dengan tatapan sejurus padanya.

Zhang Yixing, salah satu teman yang berada di kelas yang sama dengan Kris. III-A. Mata sayunya memandang pemuda Wu dengan pandangan yang sulit di artikan. Sejujurnya, sudah beberapa hari ini dirinya memperhatikan pria tinggi tersebut.

Kris yang merasa sedikit risih karena terus di pandangi, memutuskan untuk segera bertanya. Mencoba menarik fokus pemuda itu kembali. "Ada yang ingin kau bicarakan, Yixing?" melontarkan pertanyaan dengan wajah datar. Tidak begitu berminat berbincang dengan siapapun di tengah moodnya yang sedang tidak baik.

"Bisakah kita berbicara sebentar setelah kelas berakhir, Kris?" bukannya memberi jawaban, Yixing justru meresponnya dengan pertanyaan lain.

Kris hendak menggeleng. Tetapi saat sebuah kilasan pemikiran terbesit dalam benaknya, ia refleks mengangguk. Menerima permintaan pemuda Zhang.

KT-

Menyematkan helm pada kepala, memutar kunci dan menghidupkan mesin motor sport hitam kesayangannya. Kris melajukan kendaraan roda 2 tersebut menjauhi area parkir sekolah.

Tujuannya adalah kediaman Huang.

Tidak perduli jika dirinya mengingkari janjinya untuk bertemu dengan Yixing.

Mengikuti kata hati. Itulah yang ia lakukan. Ia begitu percaya pada dirinya sendiri yang memang pernah bertemu Huang Zi Tao.

Kris sudah bertekad, untuk menyelidiki seorang diri. Persetan akan anggapan orang lain terhadapnya. Ia hanya ingin-

-mengetahui alasan Zi Tao mempermainkan emosinya.

Apakah salah?

Motor sport itu berhenti. Tepat di depan sebuah rumah tidak terlalu besar bercat Cream lembut. Kediaman keluarga Huang.

Sedikit banyak Kris bersyukur, tidak mengalami sesuatu yang buruk saat berkendara tadi. Selain karena ia yang mengendarai motornya dengan kebut-kebutan, pikirannya pun tengah berkecamuk. Yang sudah di pastikan memecah konsentrasinya saat berkendara. Mungkin Tuhan masih menginginkannya berada di dunia, entahlah.

Kris merangsek turun, melangkah lebar menuju pelataran rumah tersebut.

Tangannya terangkat, bersiap mengetuk pintu sebelum kilasan bayangan kali pertama dirinya berkunjung kemari. Jika mengingat hal itu, apakah mungkin Ibu Tao akan membukakan pintu untuknya.

Menurunkan tangannya secara perlahan, urung mengetuk pintu karena sebuah bayangan dimana Ibu Tao mengusirnya. Bukan hal yang mustahil jika wanita setengah baya itu akan mengusirnya nanti 'kan?

Kris menggeser tubuhnya. Keping almondnya bergulir, terarah pada jendela persegi panjang yang terbuka lebar. Memutar kepalanya ke belakang tubuh, mencoba memastikan jika tak ada seorangpun yang tengah memperhatikan aksi konyol-atau nekad?-nya.

Merasa situasi cukup aman, lelaki tinggi tersebut segera menaiki sisi jendela, sesaat kemudian melompat masuk tanpa menimbulkan suara bising.

Kosong.

Sepertinya Huang Zi Lei tengah berada di kamar, atau mungkin memang tak berada di rumah. Mencoba tak memusingkan itu semua, Kris segera melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Tempat dimana sebelumnya dirinya melihat bayangan seseorang yang di cari, tengah berdiri kaku dengan pandangan kosong terarah padanya.

Tubuhnya mematung. Nafasnya seakan terhenti begitu hazel bak elangnya menangkap sosok seorang berpakaian serba putih, berdiri di tempat yang sama. Huang Zi Tao.

"T-Tao.." memanggil dengan suara tertahan. Sementara kakinya yang bergetar mencoba untuk melangkah, mendekati Tao yang sama sekali tak berpaling.

Langkahnya semakin mendekat, tetapi, semakin lama sosok itu semakin memudar. Hingga berakhir melebur di antara hawa dingin yang mulai merambat ke sisi tubuhnya.

Ingin berteriak, memanggil nama sosok yang menghilang tanpa jejak. Namun urung saat teringat jikalau ia masuk tanpa seizin sang pemilik rumah. Bagaimanapun juga, ia tidak ingin di teriaki maling ataupun sebagainya.

Kris tertegun. Melangkah terburu-buru bertepatan telinganya menangkap suara langkah kaki mendekat. Memilih untuk bersembunyi di balik lemari tinggi sembari menahan napas.

"Seperti ada seseorang di sini..." Zi Lei berujar pelan. Yang masih bisa di dengar oleh Kris yang berada di sudut lain. "Apa hanya perasaanku saja?"

Mata berkantung miliknya memperhatikan sekitar. Tak ada tanda-tanda bahwa rumahnya di masuki oleh seseorang. Mungkin karena ia mengantuk hingga merasa melihat sosok seorang pria berdiri di sana.

Ia segera berbalik, berjalan menuju kamarnya guna mengistirahatkan diri. Tanpa menyadari sosok pemuda jangkung yang beranjak dari tempat persembunyian.

Kris memperhatikan punggung wanita yang menghilang di balik pintu. Terdiam sesaat, sebelum melangkah gontai menuju jendela tempatnya masuk.

Menolehkan kepala, berharap bisa melihat si manis yang berhasil membuatnya frustasi.

Nihil. Tidak ada sosok Zi Tao di sana.

Membalikkan tubuh, bergegas naik ke sisi jendela lalu melompat turun. Melangkah tergesa menuju motornya berada, kemudian memacu motor sport tersebut untuk kembali ke rumahnya sendiri lagi-lagi dengan-

-kekecewaan.

KT-

Satu persatu eksistensi yang ada mulai bergegas keluar kelas, setelah bel pertanda kelas berakhir berbunyi beberapa menit lalu. Berlomba-lomba untuk tiba di rumah masing-masing lalu melakukan hal-hal yang berarti, atau bahkan mengistirahatkan diri.

Menyisakan dua orang pemuda berbeda marga. Salah satunya masih sibuk memasukkan alat tulis ke dalam tas, sementara pria lainnya nampak menunggu dengan tampang bosan.

Kris mengumpat dalam hati. Saat ini dirinya sedang dalam keadaan mood yang buruk, tetapi pemuda yang masih sibuk membereskan peralatan tulis nampak begitu lamban. Membuatnya jengah. "Apa kau mau membuang waktuku hanya untuk menungguimu berbenah, Yixing?" tanyanya dingin. Tanpa niatan untuk meminta maaf karena dirinya mengingkari janji untuk bertemu sepulang sekolah kemarin. Nampaknya Lay pun tak mempermasalahkan, untuk apa dirinya repot-repot meminta maaf 'kan?

Menghela nafas sekilas. Lay yang baru saja menyelesaikan kegiatannya langsung berdiri. Berjalan menghampiri pemuda Wu.

Mendudukkan bokong pada kursi yang bersebrangan dengan pemuda tinggi. Menghela nafas panjang, sebelum meluruskan pandangan pada Kris yang hanya diam, menanti kata apa yang akan keluar dari belah bibirnya. "Awalnya aku berniat untuk tidak mencampuri masalahmu. Tapi, melihat salah satu teman sekelasku di liputi kebingungan, aku tidak bisa.."

"Intinya?" menyeletuk singkat. Sangat terlihat bahwa Kris bukanlah seorang yang suka berbasa-basi.

"Yang menemuimu itu memang bukan Huang Zi Tao, Kris... Zi Tao memang sudah meninggal setengah tahun lalu."

Ada kilatan amarah di manik tajam itu. Lay bisa melihatnya dengan sangat jelas."Apa maksudmu, Yixing?" menggeram tertahan. Di bawah sana, kedua tangannya sudah terkepal erat. Entah mengapa, sesuatu yang bersangkutan dengan nama itu selalu bisa membuat emosinya naik turun.

"Aku tidak tahu kau sudi untuk percaya atau tidak." terdiam sebentar, menuai tatapan menuntut dari yang bersangkutan. "Aku adalah seorang Sixth Sense. Aku bisa melihat dengan jelas yang menemuimu itu memang raga Zi Tao, tetapi tidak dengan jiwanya.."

"Aku tidak tahu kalau kau adalah type pemuda yang bertele-tele." meraih tas miliknya kemudian beranjak berdiri, bersedekap dengan tatapan datar. "Kau tahu, aku tidak punya banyak waktu untuk mendengar omong kosong-"

"Itu bukan omong kosong."

Keduanya kompak menoleh. Melayangkan tatapan berlainan makna pada pemuda tinggi yang baru saja bersuara.

Air wajah Kris berubah dingin. Tidak menyukai apa yang baru saja di katakan sang sahabat. "Jadi, kau juga menganggap aku berhalusinasi?"

Chanyeol menggeleng cepat. "Tidak! Bukan begitu, Kris." mengelak dengan tegas. Sungguh, ia memang tidak pernah berpikir jika teman sedari kecilnya itu hanya berhalusinasi. "Aku mengenalnya, dia pernah dekat dengan Oh Sehun, sepupuku.. Kau bisa bertanya padanya. Sungguh Kris, aku sama sekali tidak membual. Bahkan aku pun ikut ke pemakaman Tao setengah tahun lalu."

Kris seakan tertampar kenyataan ketika mendengar kata 'setengah tahun lalu'. Ucapan yang sama persis seperti yang di katakan oleh Ibu Tao. Itu berarti-

-Chanyeol sama sekali tidak berbohong.

Huang Zi Tao, pemuda manis menggarap cantik yang memberinya bekal, memang sudah meninggal.

Lalu siapa?

Siapa yang menemuinya seminggu lalu?

"Kris, apa kau pernah bertemu sosok yang berbeda dari Zi Tao yang memberimu bekal?" Lay yang tadinya hanya menjadi pendengar dalam percakapan antar sahabat tersebut, bertanya pelan.

Terkesiap. Baru mengerti akan situasi yang di alaminya. Benar, Tao yang di temuinya 2 kali di kediaman Huang, nampak berbeda dengan Tao yang memberinya bekal makan siang.

Dengan itu, Kris segera menganggukkan kepala.

"Aku pernah melihat Tao-berpakaian serba putih di kediaman keluarga Huang.. Tetapi saat aku mendekatinya, dia selalu menghilang. Seakan yang ku lihat hanya sekedar fatamorgana."

"Bisakah kau mengantarku ke sana, Kris? Aku merasa Zi Tao-

-memang sengaja memperlihatkan diri padamu agar penyebab kematiannya terkuak."

"Tentu."

TBC

Yosh! Selesai part 2-nya..
Pendek ya? Aneh ya? Ide ngadet sih :'/

BIG THANKS TO:

Ido Nakemi, Skylar Otsu, Aiko Vallery, Yuehades, 7D, hzffan, Tiyahuang, Celindazifan, Park RinHyun-Uchiha, ribka097, munakyumin137, TaoTaoZiPanda, shuah-x, Coffe Latte, rubykaisoo, hanac947, dongjae970509.

Sign; Cattaon Candy