Keheningan tercipta diantara keduanya semenjak memasuki mobil.
Tao sibuk menatap kearah luar jendela mobil. Lebih memilih memandang suasana larut kota Seoul yang di hiasi lampu-lampu sepanjang jalan.
Sementara Sehun, ia fokus menyetir tanpa ingin mengetahui keadaan sang kekasih, yang entah kenapa terlihat dalam mood yang buruk hari ini. Takut-takut jika ia berkata sepatah katapun, si cantik di sampingnya itu akan bertambah kesal. Atau yang lebih parahnya, Sehun akan mendapat tendangan gratis darinya.
Keterdiaman diantara keduanya terus terjalin sampai akhirnya mobil Sehun terparkir indah dihalaman rumah sederhana pemuda Huang.
Sehun menoleh, menemukan Tao yang masih setia menatap keluar jendela.
"Zi, kita sudah sampai. Kau tidak turun?" Tanyanya ragu.
Tao menoleh. Menatap Sehun dengan raut kesalnya. "Apa?! Kenapa berhenti?" Desisnya sebal.
Sehun menghela nafas pelan. "Kita sudah sampai, kau mau turun tidak?" Katanya datar.
Tao semakin kesal dengan sifat Sehun yang beberapa minggu akhir ini terlihat lebih cuek. Terkesan tidak perduli padanya. Memang sebenarnya, hubungan mereka tengah renggang saat ini.
Ia melepas seatbelt, membuka pintu mobil dan beranjak keluar. Lalu kembali menutupnya dengan sedikit membanting pintu tersebut.
Sehun keluar, berjalan memutar, menghampiri Tao yang sudah berjalan menuju pintu utama rumahnya terlebih dahulu. "Hey Zi, kau ini kenapa sih?"
Tao menghentikan niatnya untuk membuka pintu. Ia memutar tubuhnya, guna melihat raut kebingungan di wajah sang kekasih. "Tidak apa-apa." Jawabnya singkat.
Sehun menarik lengan Tao yang baru saja akan masuk kedalam rumah. Menariknya kembali untuk memasuki mobilnya yang terparkir diarea halaman rumah.
Sehun mendorong Tao masuk ke bagian belakang -kursi penumpang. Begitu pula dengannya. Ia memencet remote control, sehingga pintu mobilnya otomatis akan terkunci.
"Kenapa kau mengurungku disini Sehun? Kalau Mama melihat, Mama akan marah besar padamu."
Sehun diam tidak menanggapi. Ia menindih Tao yang posisinya sedikit berbaring karena dorongannya tadi. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah sang kekasih.
Tao gelagapan. Ini bukan pertama kalinya ia seintim ini dengan kekasih tampannya yang berada di atas tubuhnya. Ia bukan orang munafik yang tidak mau mengakui, jika tubuhnya sering di jamah oleh Sehun. Bukan hubungan badan, hanya sekedarnya. Tao bahkan membatasi, bagian tubuhnya yang boleh di jamah pria tampan ini hanya sebatas dada. Tidak lebih.
Tapi tetap saja, jika posisi mereka sudah seintim ini, jantung Tao akan berdetak tidak normal.
"Kau membuatku frustasi, Zi." Bisik Sehun dengan suara huskynya yang terdengar lebih sexy dari biasanya di telinga Tao. "Kau tahu hm, aku sangat ingin menelusupkan 'batang'ku disini." Lanjutnya sembari menggesek-gesekkan jemarinya di tengah bongkahan bulat nan kenyal Tao.
Tao mengerang. Merasa tubuhnya melayang saat merasakan gesekan demi gesekan yang Sehun berikan di area holenya yang tertutup celana panjang hitam ketat.
"Eunghhh, ja-jangan sentuh ahh i-itu Hunnieh~"
Sehun menyeringai. Ia menarik pinggang Tao agar menempel pada tubuh bagian depannya. Mengecupi pipi sedikit tembam itu dengan nafsu. Sesekali ia menjulurkan lidahnya guna menjilat pipi selembut kulit bayi itu.
"Zi, biarkan kali ini aku menyentuhmu lebih ja-"
TOK
TOK
"Damn It!" Sehun mendesis kesal kala kaca mobilnya di ketuk seseorang dari luar. Ia segera bangkit dari posisinya, lalu dengan terburu-buru berpindah pada kursi kemudi.
Tao merapikan pakaiannya serta rambutnya yang sedikit berantakan. Setelah dirasa rapi, ia membuka pintu mobil lalu turun dengan perlahan.
"Mama." Panggil Tao pelan. Yang di balas keryitan heran wanita paruh baya di hadapannya.
"Kenapa lama sekali pulangnya, Panda?" Tanya wanita tersebut. Terlihat jelas raut kekhawatiran pada wajahnya yang masih segar diumurnya yang sudah kepala 4.
Tao baru saja akan menjawab sebelum sebuah suara lain menyela.
"Maafkan saya Bibi Zi Lei, tadi saya terlambat menjemput Zi Tao." Jawab Sehun lebih dulu.
Huang Zi Lei -Ibu Tao, mengangguk paham. Ia tersenyum lembut pada pemuda tampan yang sama tingginya dengan putranya. "Tidak apa-apa. Bibi hanya terlalu khawatir pada bayi Panda ini," Tuturnya diiringi tawa renyah.
Tao mengerucutkan bibirnya. Terlalu kesal karena Ibunya itu selalu menganggapnya bayi kecil yang harus diawasi selama 24 jam.
Sehun balas tersenyum. "Saya pamit pulang Bibi. Sudah larut malam." Ujarnya. Ia membungkuk sopan. Beralih menatap sang Kekasih. "Aku pulang Zi. Kau beristirahat lah, wajahmu kelihatan sedikit pucat."
"Ah iya. Hati-hati dijalan." Balas Zi Lei.
Sementara Tao hanya mengangguk singkat.
^_~Sexy Dancer~_^
Tao berbaring diatas ranjang ukuran sedang miliknya. Memeluk boneka panda berukuran lebih besar dari tubuhnya sendiri. Baru saja ia berniat memejamkan mata, ia segera bangkit ketika teringat akan sesuatu. Bungkusan di kantung plastik yang di berikan oleh Suho sebelum pulang tadi.
Pemuda bertubuh indah itu segera menyibak selimutnya.
Beranjak turun dari ranjang, berjalan menuju lemari miliknya, dan membuka lemari tersebut. Tao mengambil sebuah kantung plastik pemberian Suho lalu kembali menuju ranjangnya.
Pria dengan julukan Panda itu mengeluarkan isi dari kantung tersebut.
Seketika matanya langsung membelalak kaget saat melihat sesuatu yang kini berada di telapak tangannya.
Sebuah baju lengan panjang kebesaran berwarna hitam, tetapi pendeknya bahkan hanya sebatas perutnya.
Dan apa lagi ini? Celana Jeans super pendek yang bahkan jika di pakai tidak sampai sejengkal paha? Bentuknya semacam Hotpans wanita.
Damn it!
Apa mau pemilik exG Bar itu?!
Membuatnya terlihat seperti Striptease, begitu?!
Tao melempar asal sepasang busana laknat itu dengan kesal. Pandangannya beralih pada sebuah kaset DVD dengan cover tulisan 'Sexy BL Dance' dengan warna utama merah terang.
Segera saja ia menghidupkan Laptop miliknya yang berada di meja nakas. Mengotak-atik benda canggih tersebut, hingga sesaat kemudian sesuatu berbentuk segi empat keluar dari samping sebelah kiri Laptopnya. Ia meletakkan kaset DVD tersebut disana, yang secara otomatis kaset tersebut ikut masuk kedalamnya.
Tao menggerakkan jemarinya di bagian sisi tengah bawah keyboard Laptop itu, membuka satu-satunya data di dalam kaset tadi. Setelah tampilan berikutnya muncul, ia mengarahkan pointer di layar pada tanda segitiga kesamping dengan tulisan Play.
Tao menekan icon Zoom.
Layar tersebut menampilkan seorang pria manis dengan pakaian super ketat, bersurai biru muda tengah duduk di sebuah kursi agak tinggi dengan kaki yang menyilang.
Dentingan musik mulai terdengar kala pria manis itu mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagunya yang runcing tetapi bergaris feminin.
Tao tahu lagu ini. Lagu dari salah satu Girls grup Korea Selatan berduet dengan salah satu Boys grup dari agensi yang sama.
Hyuna 4Minute feat Hyunseung Beast. Trouble Maker.
1, 2, 3
Ni nuneul bomyon nan Trouble Maker
Seorang pria lain datang dari belakang pria manis itu. Ia duduk pada penyangga pinggir kursi yang di duduki pria manis tersebut.
Ni gyote somyeon nan Trouble Maker
Pria manis yang duduk tadi menoleh cepat pada pria tampan. Menarik lehernya hingga pemuda tampan sedikit membungkuk, membuat wajah keduanya menjadi sangat dekat.
Jogeumssik do,do,do
Galsurok do,do,do
Ijen ne mameul nado ojjol su eobseo.
Keduanya mulai berciuman intim. Pria manis mengalungkan lengan kirinya di leher pria satunya. Sementara tangan kanannya ia gunakan untuk mengelus rahang tegas si pria tampan.
Lagi-lagi Tao membelalakkan mata Pandanya.
Setelah tadi terkejut melihat pakaian yang akan di pakainya nanti, kini ia di kejutkan oleh adegan yang harus di lakoninya entah dengan siapa.
Tao mempause video tersebut dengan perasaan kesal. Lalu mengclose halaman itu dan men'turn off' Laptopnya tanpa mengeluarkan terlebih dahulu kaset DVD yang ada didalamnya.
"Apa rencana Suho Hyung kali ini?!" Desisnya geram.
^_~Sexy Dancer~_^
Suasana pagi ini terlihat cerah. Berkebalikan dengan keadaan mood Tao yang semakin bertambah buruk.
Tao ingin sekali mengeluarkan isi hatinya pada Ibunya. Menceritakan semua masalah yang tengah membebani pikirannya saat ini. Tapi itu tidak mungkin. Karena Ibunya sama sekali tidak mengetahui pekerjaannya sebagai penyanyi di Bar. Ia berbohong, mengatakan jika ia bekerja di sebuah restaurant besar pada Ibunya.
Tao sangat yakin, Ibunya pasti akan marah besar jika ia mengatakan bekerja ditempatnya mencari uang beberapa bulan terakhir.
Tao memang hanya hidup berdua bersama Ibunya, Huang Zi Lei. Ayahnya sudah meninggal karena kecelakaan parah, saat ia masih menginjak umur 5 tahun.
Sebagai anak yang berbakti, Tao memutuskan untuk mencari uang untuk kehidupan mereka sehari-hari. Meski awalnya Ibunya melarang keras ia untuk bekerja.
Tao tersentak ditengah lamunannya, baru mengingat jika ia sudah lama tidak mengunjungi Luhan -penyanyi sebelumnya di exG Bar.
"Astagah! Bodoh sekali aku sampai melupakan Luhan-Ge!" Ia merutuki kebodohannya sendiri karena melupakan pemuda berwajah cantik itu. "Aku bisa menceritakan masalahku dengannya besok 'kan? Setidaknya Lulu-Ge pasti akan membantuku mencari solusinya!"
^_~Sexy Dancer~_^
Tao berjalan menuju ruang utama rumahnya.
Ia mengedarkan pandangannya kesegala penjuru rumahnya. Sepi. Mungkin Ibunya masih mandi atau memasak di dapur. Entahlah, ia tidak tahu.
"Mama~, Tao mau pergi menjenguk Lulu-Gege." Serunya sedikit keras agar Ibunya mendengar suaranya.
Ibu Tao yang berada didapur menyahut. "Sarapan dulu Panda~"
Tao refleks menggeleng singkat, meski Ibunya tidak bisa melihat apa yang dilakukannya barusan. "Tao buru-buru Mama. Nanti Tao beli sarapan diluar dan makan bersama Lulu-Gege~" Serunya lagi.
"Baiklah. Hati-hati dijalan sayang~"
^_~Sexy Dancer~_^
Pemuda tinggi berwajah tampan mengelus surai berwarna senada dengan madu itu sayang. Sesekali mengecup kening sang pemilik surai madu dengan lembut.
"Kau tahu Lu, aku sangat sangat sangat merindukanmu."Bisiknya lembut. Ia menghirup aroma manis yang menguar dari surai lembut berwarna madu itu.
Pria berwajah feminin dengan aksen manis itu semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang pria tampan. "Shi Xun saja yang tidak mau menjengukku disini," Balasnya sedikit kesal. Ia melepas dekapannya pada pria bersurai perak, menyilangkan tangannya di dada pertanda ia tengah ngambek pada pria dihadapannya.
Pria bersurai perak memasang wajah memelasnya. Meski dengan melakukan itu wajahnya tetap tidak terlihat imut sama sekali. Melainkan lebih mirip seperti seseorang yang tengah frustasi berat. "Ayolah Lu, jangan merajuk seperti ini. Aku kan sudah mengatakan jika aku sibuk mengurus perusahaan Appa." Ucapnya mencoba menjelaskan. Meski ini sudah kesekian kalinya ia mengucapkan hal yang sama.
"Ugh, baiklah. Aku maafkan." Katanya akhirnya. "Tapi Shi Xun janji harus sering memberi kabar," Sambungnya, kembali memeluk pemuda tampan tersebut.
Shi Xun -pemuda tampan bersurai perak, balas memeluk si pria manis. "Aku janji, Lu."
Keduanya terdiam. Menikmati moment romantis mereka karena seminggu tidak bertemu.
Drrt
Drrt
Pria manis itu sedikit merenggangkan pelukan mereka kala handphone miliknya bergetar.
Shi Xun mengambilkan handphone yang berada di meja nakas, lalu memberikan pada si pemuda manis.
"Xie-Xie," Gumamnya pelan. Di balas anggukan singkat oleh Shi Xun.
"Halo?" Sapa pria manis itu setelah menekan tombol answer dan mendekatkan benda canggih tersebut ke telinganya.
["Halo Luhan-Gege~.. Aku merindukanmu, aku boleh menjengukmu kan?"]
Pria manis tersebut, Luhan, tersenyum manis mendengar suara merdu bernada manja dari seberang Line telepon. "Tentu Peach. Kau boleh datang kesini kapanpun kau mau.."
Shi Xun hanya diam memperhatikan. Sesekali ia terkekeh pelan melihat wajah pria manis dihadapannya yang tampak menggemaskan dimatanya.
["Aku tidak sabar bertemu denganmu Lulu-Gege~. Aku benar-benar merindukanmu tahu~"]
Luhan tertawa kecil mendengar rengekan dari seberang sana. Ia menahan bahu Shi Xun yang hendak mengecup pipinya. "Gege juga sangat merindukanmu Peach." Ucapnya sembari melotot garang pada Shi Xun yang terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu. "Gege jadi tidak sabar untuk menyubit pipi tembammu itu!" Lanjutnya sumringah.
Terlalu senang membayangkan sebentar lagi ia akan bertemu dengan seseorang yang sudah dianggapnya adik.
["Huh, aku akan menendang Gege jika berani menyentuh pipiku lagi"]
Kali ini Luhan tertawa lepas. Terlalu geli membayangkan adik manisnya yang berpipi sedikit bulat itu jika menendangnya. "Ahahaha,, Gege tidak yakin kau bisa mengangkat kakimu tinggi-tinggi mengingat bokong dan pahamu sebesar itu, Peach~"
["Ya! Lulu-Gege, kau menyebalkan!"]
"Ahahaha, sudah sudah. Gege hanya bercanda Peach. Walau kata terakhir yang Gege ucapkan benar adanya. Kau itu kebesaran bokong dan paha."
Luhan mendengar pekikan kesal dari sambungan telepon.
["Aku benar-benar akan menendangmu nanti Ge. Ingat itu! Bye~"]
Luhan kembali meletakkan handphone miliknya diatas meja nakas setelah sambungan telepon diputus dari seberang sana.
"Siapa Lu?" Tanya Shi Xun. Sedikit penasaran siapa yang menelepon Luhan, hingga pria manis tersebut tertawa lepas seperti tadi.
Luhan tersenyum senang. "Dia adikku, aku suka memanggilnya Peach. Dia itu cantik, imut, dan menggemaskan." Ucapnya antusias. "Shi Xun pasti akan merasa gemas jika sudah melihat wajahnya, apalagi pipi tembamnya, ugh! Dia itu mirip bayi besar!"
Shi Xun terkikik kecil melihat wajah Luhan yang menggemaskan saat menjelaskan ciri-ciri orang yang barusan meneleponnya. "Menurutku, tidak ada yang lebih cantik dan imut darimu, Lu." Bisiknya menggoda.
Pipi Luhan bersemu merah. Ia memukul pelan dada Shi Xun. "Jangan menggodaku!".
Shi Xun mendekatkan wajahnya pada wajah Luhan, berniat menciumnya sebelum smartphone miliknya bergetar ringan.
Ia merogoh saku kemejanya dan mengambil smartphone tersebut. Matanya sedikit membulat melihat sebuah nama yang terpampang pada layar pintar itu.
Luhan mengeryit bingung melihat perubahan raut wajah Shi Xun. "Siapa yang menelpon?"
"Rekan bisnis Appa." Jawabnya datar. Ia beranjak dan berjalan menuju pintu ruang rawat Luhan. "Aku keluar sebentar."
Luhan melihat Shi Xun yang menghilang dibalik pintu.
"Ada apa dengan Shi Xun?" Gumamnya.
Namun sedetik kemudian ia kembali tersenyum senang, mengingat sebentar lagi ia akan bertemu adik kesayangannya.
^_~Sexy Dancer~_^
["Kenapa lama sekali mengangkat panggilanku?!"]
"Maaf. Ada apa Zi?"
["Temani aku menjenguk temanku. Aku tidak mau pergi sendiri"]
"Aku sedang sibuk. Kau naik taksi atau bus umum saja."
["Yak! Bahkan yang tempatnya dekat saja kau tidak mau menemaniku!"]
"Justru karena tempatnya dekat, kau tidak perlu aku antar Zi. Aku sedang meeting dengan client. Nanti ku telpon kau sesudah meeting. Oke."
Pemuda berambut dengan warna perak platina itu mematikan sambungan telpon secara sepihak. Berjalan menuju toilet yang berjarak cukup jauh dari posisinya saat ini.
^_~Sexy Dancer~_^
Tao duduk pada kursi panjang halte bus. Menunggu bus yang tepat untuk ia naiki menuju rumah sakit tempat Luhan di rawat. Di tangan kanan dan kirinya terdapat dua kantung plastik berukuran sedang.
Tadinya ia sudah menelpon kekasihnya untuk menjemputnya, sekaligus menemaninya menjenguk Luhan. Tetapi pria menyebalkan itu-menurutnya, mengatakan tengah sibuk dengan rekan kerjanya.
Tao menghentak-hentakkan kakinya pada lantai marmer halte. Terlalu kesal pada kekasihnya sendiri yang jarang sekali ada waktu untuknya. Meskipun nyatanya setiap malam Sehun menjemputnya dari exG Bar, dan mengantarnya pulang ke rumah.
Tao kembali menggerutu tidak jelas. Sampai tidak menyadari sebuah bus yang mengarah ke kota utama Seoul, arah rumah sakit tempat Luhan di rawat, berhenti sebentar dan mengklaksonnya beberapa kali. Hingga akhirnya bus tersebut kembali melaju, barulah ia tersadar.
Tao mengumpat kesal karena kecerobohannya sendiri. Jadinya sekarang ia harus menunggu bus selanjutnya selama 15 menit lagi. Sial!
Di kala kesibukannya mengumpat, Tao melihat sebuah mobil sport keluaran terbaru dari brand mobil Ferrari, berwarna silver berhenti tepat di depan halte.
Seorang pria bertubuh kelewat tinggi, berambut blonde terang, dengan sebuah kaca mata hitam bertengger di hidung bangirnya, keluar dari mobil tersebut.
Tao mengerutkan dahinya bingung saat pria berambut pirang itu berjalan menghampirinya. 'Siapa dia?' batinnya.
Pria itu membuka kacamata hitamnya. Menampilkan sepasang mata setajam elang yang dihiasi alis tebal berwarna senada dengan rambutnya, pirang.
Tao membulatkan matanya kaget. Otomatis ia berdiri dan menunjuk-nunjuk wajah pria tampan di hadapannya dengan geram. "Kau! Mau apa kau kesini ha? Kau menguntitku?!"
Pria pirang itu memutar matanya bosan. Ia menatap datar wajah cantik yang menatapnya seolah-olah ia adalah seorang pencuri.
"Aku hanya lewat. Dan kebetulan melihatmu disini, ku kira kau membutuhkan tumpangan, makanya aku menghampirimu." Tuturnya seadanya.
"Alasanmu terlalu konyol!"
"Terserah kau saja mau percaya atau tidak." Balasnya datar. "So, mau ku antar tidak?" Tawarnya dengan senyum super tampannya.
Tao menggeleng cepat. "Tidak!"
"Aku Kris Wu, tidak akan memperkosamu di dalam mobil. Bercinta di mobil itu bukan gayaku."
"Ya!" Tao berteriak nyaring sembari membekap mulut pria tampan nan tinggi bernama Kris Wu itu. Walau sebenarnya Tao sedikit susah melakukannya karena harus sedikit berjinjit.
Si tampan Kris Wu, melepaskan bekapan si cantik di mulutnya lalu menggenggam tangan halus itu menggunakan tangan kirinya, ia melingkarkan tangan kanannya di sekitar pinggang ramping pria cantik. Berniat menutupi pinggang rampingnya yang tertampang jelas karena bajunya sedikit tersingkap sebab sang pemilik pinggang tengah berjinjit.
"Tidak bisakah kau memakai baju yang sedikit lebih tertutup? Lihat, karena terlalu pendeknya baju ini kau berjinjit sedikit saja pinggangmu langsung terlihat." Katanya panjang lebar. Sungguh, baru kali ini ia mengucapkan kalimat sepanjang itu. "Aku tahu pinggangmu itu sexy. Tapi kalau ada preman-preman yang melihat, dan berniat memperkosamu bagaimana?" Bisiknya jahil.
Tao refleks melepas tangannya yang di genggam pria blonde, yang malah tanpa sengaja mendorong pemuda tinggi tersebut hingga terduduk di kursi halte. Dan yang sialnya, pria itu menarik pinggangnya.
Posisi mereka saat ini, Kris terduduk bersandar pada penyandar kursi, dengan kaki sedikit melebar, serta tangan yang melingkar indah di pinggang ramping pria manis. Sementara Tao berdiri di antara kakinya yang terbuka, dengan dada yang menempel tepat di wajah si pria tampan, serta kedua tangannya memeluk leher pria tinggi itu.
Posisi yang begitu intim untuk tempat umum seperti halte. Wajar saja jika saat ini banyak pasang mata baik itu pria maupun wanita memandang kearah mereka.
"Lihat! Bukankah dia sipelacur yang terkenal disocial media itu?"
Tao dan Kris sontak menoleh kearah asal suara saat mendengar bisikan-bisikan kasar -yang lebih tepatnya bukan seperti bisikan, karena mereka mendengar dengan jelas- di mana 3 orang gadis tengah memandang mereka jijik. Tepatnya hanya memandang jijik salah satunya, Huang Zi Tao.
"Tidak tahu malu sekali ya, masih pagi begini sudah mencari target."
"Benar. Dan apa itu, berniat Making Love dihalte? Benar-benar murahan!"
Kris menangkup pipi sedikit tembam itu dengan kedua tangannya. Mengarahkannya pada wajahnya, hingga ia bisa melihat mata indah itu berkaca-kaca. Memperlihatkan betapa rapuhnya sosok yang dipujanya itu saat ini.
Kris bangkit berdiri, menuntun Tao untuk masuk kedalam mobilnya. Setelah yakin Tao duduk dengan nyaman di kursi samping kemudi, ia menutup pintu mobilnya. Setelahnya berjalan kearah ketiga gadis tadi yang masih setia berdiri disana.
Ia menarik sebuah tali transparant yang bertengger di bahu gadis yang berada di tengah. Lalu melepasnya secara tiba-tiba, menimbulkan suara CTAK cukup keras, membuat gadis tersebut memekik kesakitan.
"Bagaimana mungkin kalian mengatakan 'KEKASIHKU' pelacur, jika ternyata salah satu dari kalian memperlihatkan jiwa murahannya dengan terang-terangan heh?" Desisnya sinis. Ia menyeringai kala melihat keterkejutan di wajah para gadis tersebut. "Lihat, bahkan pelacur diantara kalian ini tak mampu menutupi tubuhnya. Tidak tahu malu sekali ya, dipagi hari begini sudah mencari target?" Lanjutnya mengcopy kata-kata, dan nada sama persis dengan ucapan gadis itu sendiri.
Wajah Gadis yang ditengah merah padam. Merah karena malu sekaligus kesal atas hinaan pria tinggi dihadapannya.
^_~Sexy Dancer~_^
Pria tampan dengan surai perak yang ditata Mohawk itu menatap pantulan wajahnya pada cermin toilet. Sudah sekitar 15 menit ia berdiri disana tanpa melakukan apa-apa.
Ia sedikit menata rambutnya yang padahal sama sekali tidak terlihat berantakan. Lalu beranjak keluar.
Pemuda berkulit putih pucat itu sesekali membungkuk sopan ketika ada dokter atau perawat yang menyapanya.
"Selamat pagi Shi Xun, semoga hari mu menyenangkan."
Dia -Shi Xun, tersenyum tipis mendengar sapaan ramah seorang dokter muda. "Terimakasih." Gumamnya pelan.
Ia kembali menatap lurus kedepan. Dan ia terkejut bukan main saat melihat seseorang yang sangat di kenalnya betul, berada tak jauh dari posisinya berdiri. Dari arah yang berlawanan. Dengan seorang pria tak dikenalnya berada di samping sosok tersebut.
Shi Xun membelok kearah taman rumah sakit dengan langkah tergesa.
"Zi Tao, untuk apa dia kesini?"
TBC
Maaf banget buat semua readers yang udah nungguin banget ff ini, tapi gak update2.
Sekali lagi maaf.
Aku mau kasih sedikit penjelasan soal keterlambatan update ini ff.
Aku kan ngetiknya melalui hp (Re : Nokia Asha 210).. Sedikit banyak kalian tau kan hp berjenis itu gak bisa ngetik banyak karakter. Cuma mampu menampung 5000 huruf. Huruf ya bukan kata. Kalo 5000 kata sih udah kelewat banyak itu mah XD hihi.
Nah, jadi aku gunain Opera Mini Modif dilengkapi fitur Clipboard. Jadi aku selalu buatnya disitu.
Alsannya, kalo buka ffn dari Opmin Modif itu, kotak tempat ngetik cerita itu gak bisa di klik.. Makanya aku pake jasa Beta-Reader untuk bantu masukin ff yang aku buat ke Document ffn.
Sementara Beta-Reader aku lagi punya kesibukan yang gak bisa ditinggalkan.
Sekali lagi maaf ya reader.
Oh iya, untuk kalian yang pengen berinteraksi sama aku, mau curhat atau sekedar ngobrol biasa, bisa ngirim PM ke akun ffn aku atau PM ke akun facebook aku ini ( Yizi Barbie Ti'ei'ow )
ditunggu review kalian untuk chapter 2 ini ya.. Oh iya, BIG THANKS BANGET YA BUAT YANG UDAH REVIEW DI CHAPTER SELEBUMNYA.
50 REVIEW! SUMPAH AKU TERHARU BANGET KARNA BANYAK YANG SUKA SAMA INI FF..
SEKALI LAGI MAKASIH YA READERS. /capslock jebol/
sampai jumpa di chapter selanjutnya...
Love you guys
Love You KTHS & Hailang's
Hate You Silent Reader
