"Wow! Huang Zi Tao! Penampilanmu tadi itu sangat memukau!" bartender berwajah cantik berseru semangat. Kedua telapak tangannya memegang masing-masing sisi bahu sang penari sexy, sembari mengguncangnya semangat. "Kau juga sangat cantik dan sexy! Kau benar-benar sangat luar biasa, Huang!"
Tao merengut. Baekhyun terlalu semangat mengguncang tubuhnya, hingga ia merasa kepalanya sedikit pening. "Terimakasih atas pujianmu, Baekkie hyung.. Tapi-bisakah kau hentikan ini? Kau membuat kepalaku menjadi pusing.."
Baekhyun yang baru menyadari perlakuannya barusan, refleks menjauhkan kedua tangannya dan tertawa canggung. "M-maaf... Aku terbawa suasana.." ucapnya tak enak hati.
Tao tertawa kecil. "Tidak perlu merasa bersalah begitu, Baekkie hyung... Aku hanya bercanda.."
"Kau ini.." Baekhyun mendengus kesal. Namun sedetik kemudian, mata berpoles eyeliner miliknya kembali berbinar-binar ketika memandangi Tao. "Omong-omong, yang menari bersamamu tadi sexy juga.. Dia juga sangat tampan! Kau beruntung sekali bisa menari sepanas itu bersamanya, Tao!"
Tao mengangkat bahu tak acuh. Retinanya memperhatikan pemuda Byun yang kembali sibuk meracik minuman pesanan pelanggan. "Jika kau mau, aku bisa memintanya untuk menari bersamamu, hyung.."
"Yak! Bukan itu maksudku, Huang!"
"Lalu?"
Baekhyun buru-buru memberikan dua gelas berisi minuman hasil racikannya pada pelayan yang bertugas mengantar ke meja pelanggan. Kemudian berbalik dan menatap si cantik yang kini sibuk dengan ponselnya. "Yang aku maksud adalah-" menghentikan perkataannya sejenak, menanti respon dari pemuda cantik tersebut. Saat Tao menatapnya dengan raut penasaran yang kentara, ia langsung melanjutkan. "-Kau sangat cocok dengannya. Sungguh!"
Mendengar itu, sontak Tao langsung terbatuk-batuk kecil. Tersedak ludahnya sendiri sepertinya. "K-kau ini bicara apa, hyung.." sahutnya sedikit gugup.
"Aku berkata ju-"
"Oh, Tao, kau berada di sini?" sang pemilik exG-Bar, Suho, berjalan menghampiri keduanya. Mengambil alih perhatian kedua pemuda cantik tersebut ketika dirinya bersuara. "Kekasihmu sudah menunggu. Dia mengatakan padaku ingin mengantarmu pulang.."
Tao mengerutkan kening bingung. Sehun menjemputnya? Untuk apa? Hubungan mereka bahkan tengah renggang saat ini.
Tidak tahu harus merespon seperti apa, jadi Tao sama sekali tak mengacuhkan pertanyaan sang bos. Keping indahnya justru tertuju pada seorang pria tampan berkulit kecoklatan, berdiri tegap tepat di belakang Suho. "Dia siapa, hyung?"
Suho yang sempat melupakan sosok pria yang tengah bersamanya, menepuk kening sekilas. Ia langsung menarik pria tersebut ke sampingnya. "Ah! Kai, perkenalkan, dia Huang Zi Tao. Penari di Bar ini.." katanya sembari menunjuk penari andalannya tersebut. Lalu beralih pada Tao yang masih menatapnya. "Zi Tao, perkenalkan, dia Kim Jongin. Kau bisa memanggilnya Kai, dan dia adalah penari baru di sini.."
Pria dengan nama pendek Kai itu menatapi Tao dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hal itu di lakukannya berulang-ulang, hingga tanpa sadar apa yang di lakukannya membuat si cantik merasa risih.
Sang penari sexy mengulurkan tangan. "Huang Zi Tao." tuturnya memperkenalkan diri. Bibir kucingnya membentuk senyum manis yang khas.
Kai menjabat uluran tangan itu dengan senang hati. "Kim Jongin. Seperti kata Suho-ssi, kau bisa memanggilku Kai." terdiam pada posisinya sejenak. Tangan Tao sungguh lembut, persis seperti tangan seorang wanita.
Apa dia Huang Zi Tao yang di maksud oleh sahabatnya, Sehun. Jikalau yang berdiri di hadapannya ini benar kekasihnya, Kai tak lagi heran apa yang membuat sang sahabat begitu tergila-gila. Lihat saja, pemuda cantik di depannya ini memang memiliki pesona luar biasa. Selain cantik dan manis, tubuhnya juga sangat bagus. Untuk keseluruhan, Zi Tao memanglah sangat sexy.
Jika dirinya menjadi Sehun, Kai jelas akan berpikir berulang kali untuk melepasnya.
"...Kai?"
Merasa tepukan halus pada bahunya, pemuda tan bermarga Kim itu sontak tersadar dari lamunan sejenaknya. Menolehkan kepala, dan matanya menangkap wajah Suho yang memandang ke arah tangannya dengan kening berkerut. Mengikuti arah pandang sang calon atasan, detik itu pula dirinya menyadari bahwa telapak tangan besarnya masih setia menjabat tangan halus Tao. Seolah enggan melepasnya. "M-maaf. Aku sempat melamun.." ujarnya. Memandang si cantik Huang yang kini tersenyum maklum.
"Kau mengenal Zi Tao, Jongin?"
Kai menggeleng singkat. Membuka belah bibir tebalnya, menjawab pertanyaan pria yang akan menjadi atasannya. "Tidak. Aku tidak mengenalnya." menyahut sembari tersenyum tipis. Jelas saja dirinya kenal. Itu adalah kekasih sahabatnya. Berkata jujur di saat yang seperti ini bukanlah hal yang tepat. Pikirnya.
Suho hanya mengangguk patah-patah sebagai respon. Ia bisa menangkap jelas bahwa pemuda itu tengah berbohong. Fokusnya teralih begitu melihat figur seorang lelaki terlampau tinggi berjalan ke arahnya.
"Kris? Ah! Maafkan aku. Aku lupa jika kau menunggui Zi Tao.." berseru tertahan saat pemuda Wu sudah berdiri di hadapannya. Ekspresinya yang terlihat tak bersahabat, membuat nyalinya agak menciut. Percayalah, sekalipun Suho berteman dekat dengan Kris, itu tak menutupi fakta bahwa Kris adalah sosok pria terpandang yang mudah terpancing amarah.
Kris tak begitu memperdulikan perkataan sahabatnya. Ia justru melingkarkan lengan besarnya pada pinggang ramping Tao posesif. Menumpukan dagu lancipnya pada bahunya yang terekpos. "Kenapa kau lama sekali? Aku bosan menunggumu di mobil, sayang.."
Tao memutar kepala, menatap pemuda tampan yang beberapa menit lalu menjadi pasangannya saat tampil. Keningnya berkedut kesal. Kenapa lelaki ini semakin seenaknya semenjak adegan intim mereka di panggung tadi?
"Kris-"
Kris segera menyeletuk dengan berbisik pelan. "Diam dan ikuti permainanku." mengecup singkat pipi gembil Tao, kemudian kembali menumpukan dagu pada bahunya. Sementara si cantik hanya diam. Memilih untuk menurut.
Keping setajam elang milik Kris tertuju pada pemuda tan yang terdiam kaku, dengan pandangan sejurus pada keduanya.
"Kau penari baru yang di ceritakan oleh Joonmyeon?" Kris bertanya dengan alis bertaut. Kai mengangguk. Mengulurkan tangan besarnya yang langsung di sambut baik oleh pemuda Kim. "Kris Wu. Kekasih Huang Zi Tao.." katanya memperkenalkan diri. Dengan senyum tipis yang terselip kelicikan di baliknya.
"Kim Jongin." balas Kai seadanya.
"Kris, apa kau terburu-buru?" Suho membuka suara. Mengakhiri keheningan karena suasana suram yang di ciptakan oleh kedua pemuda tampan yang tengah beradu pandang. "Aku berniat mengundangmu untuk minum bersama."
Kris beralih pada sang sahabat. "Aku tidak bisa. Malam ini aku dan Tao berencana untuk menginap di hotel. Yeah, kau tahu, kekasih cantikku ini merindukan sentuhanku. Kami permisi."
Tak ingin Tao menggagalkan rencananya dengan mengoceh panjang lebar, Kris segera menarik pergelangan tangan si cantik yang saat ini tengah mendelik. Memandang sengit ke arah si tampan yang dengan seenaknya mengatakan bahwa dirinya merindukan sentuhannya. Apa-apaan dia itu?! Batinnya dongkol.
Kris menyeringai di antara langkah kakinya menjauhi area utama ex-G bar. Meskipun Kai pintar mengatur ekspresi, tetapi dirinya bisa melihat dengan jelas keterkejutan pada wajahnya tadi.
'Aku tidak bodoh untuk menguaknya seorang diri. Aku hanya akan mengatur situasi yang pas, untuk sahabatmu-
-Kim Jongin..'
-KT-
Melayangkan tatapan galak pada pemuda pirang yang baru saja memasuki mobil. "Kenapa kau mengatakan aku kekasihmu! Kau sangat tidak tahu malu, ya? Hanya karena kita melakukan aksi panggung bersama kau mengartikan bahwa aku menyukaimu, begitu?!"
Kris mendengus. Memutar kunci mobil kemudian menghidupkan mesinnya. Melirik pemuda cantik yang sudah memikat hatinya sejak lama, seraya menjalankan mobil mahalnya menjauhi pekarangan parkir ex-G Bar. "Bisakah kau mengurangi 1 tingkat kecerewetanmu? Kau itu sangat cantik dan sexy, sayang. Sangat tidak pantas jika-"
"Shut up, Wu!" Tao menyeletuk jengkel. Menuai tatapan tak perduli dari si tampan. "Sekali lagi kau memanggilku dengan sebutan sayang, aku bersumpah akan memisahkan bibirmu dari wajah datarmu itu!"
"Kau ini semakin galak saja, sa-Tao, maksudku Tao." cepat-cepat memperbaiki kata-katanya begitu melihat pemuda Huang mendelik. "Kau memang selalu bisa membuatku semakin tertantang untuk mendapatkanmu."
"Astaga, Kris.. Kau mengatakan aku cerewet, tetapi kau bahkan jauh lebih cerewet! Lagipula, aku memiliki Sehun. Ingat itu."
Kris menyeringai di tempatnya. "Oh ya? Kau yakin dia mencintaimu, huh?" berhenti sejenak. Mengutamakan fokus pada jalanan saat hendak menyelip sebuah mobil di depan. "Kalau Sehun mencintaimu, kenapa dia membiarkan kekasihnya menjual diri seperti ini, hm?"
"BRENGSEK! Aku disini seorang penghibur, bukan pelacur!" sentaknya jengkel. Bersedekap dengan pandangan sejurus ke depan, enggan memandang Kris yang tak memasang ekspresi berarti.
Diam-diam, Tao menyaring perkataan pemuda itu kemudian kembali memutarnya ulang.
Benar. Kalau Sehun benar-benar mencintainya, kenapa dia membiarkannya untuk tetap menjadi penari?
Meskipun pekerjaannya tidak sehina yang di pandang kebanyakan orang, tak menutup fakta bahwa dirinya menari untuk menghibur. Bukan menghibur dalam artian yang positif. Pekerjaannya menuntutnya untuk menggali gairah para pengunjung agar rela datang lagi dan lagi.
Kris membiarkan keheningan menyelimuti keduanya. Bukan berarti tidak perduli pada perasaan Tao yang mungkin akan tersakiti karena perkataannya. Menurutnya, ini waktu yang tepat untuk sang pujaan hati membuka mata.
"Hey, aku cukup ngerih melihatmu diam. Kau sedang tidak di rasuki sesuatu 'kan?"
"Sialan!"
"Hahahaha.."
Ada rasa hangat di dadanya melihat tawa lepas pria bermahkota pirang di sampingnya.
Tao tidak tahu kepalanya terbentur apa, yang pasti saat ini dirinya menyadari jikalau Kris sangatlah tampan. Jauh lebih tampan dari kekasihnya sendiri.
Namun sedetik kemudian, ia langsung menggeleng-gelengkan kepala heboh.
'Apa yang baru saja kau pikirkan, Huang Zi Tao?!' teriaknya dalam hati. Menutupi wajahnya yang entah sejak kapan di hiasi rona merah menggemaskan.
Tanpa di sadarinya, Kris mengulum senyum tulus seraya sesekali melirik ke arahnya.
'Aku berjanji semuanya akan segera berakhir, Peach..'
-KT-
Mendudukkan bokongnya pada salah satu kursi, tepat menghadap sang sahabat yang memandangnya dengan tatapan tak berminat
"Apa yang membuatmu hingga memintaku untuk bertemu tengah malam begini, Jongin?" bertanya malas. Tangannya bergerak, mengaduk Coffe Latte yang tak lagi mengepulkan asap.
Kai terkesiap. Sedikit banyak merasa iba melihat tampang sang sahabat yang memprihatinkan. Wajah kusam, rambut yang mencuat ke segala arah, serta lingkaran hitam samar di bawah mata. Yang berada di depannya terlihat seperti bukan sahabatnya.
"Kau terlihat buruk. Apa sesuatu telah terjadi?" alih-alih menjawab, Kai justru memberi pertanyaan lain.
Menghela nafas berat. Memandang pemuda tan yang terdiam, menanti jawaban darinya. "Zitao menjauhiku." suaranya yang parau sarat akan kefrustasian. Sungguh, berjauhan dengan kekasih manisnya itu seperti menentang dunia baginya. Terlalu sulit dan mustahil. Jika di beri pilihanpun, Sehun lebih baik di jauhkan dengan Luhan selama sebulan ketimbang tidak bertemu Tao meski sehari.
Kai bimbang. Memikirkan apakah sebaiknya dirinya mengatakan fakta yang ia ketahui pada sang sahabat, atau justru menutupinya rapat-rapat. Tetapi, melihat Sehun yang terpuruk, membuatnya merasa tak tega jika harus menutupinya lebih lama.
Menurutnya, lebih baik Sehun terpuruk dalam tetapi memiliki kesempatan untuk bebas, daripada terperosok ke dalam lubang tanpa celah.
"Sebenarnya-" terdiam sesaat. Merasa ragu untuk melanjutkan. Dan karena sikapnya yang demikian, berhasil mengundang kerutan samar dari pemuda berkulit putih pucat. "-Zitao sudah memiliki kekasih. Tadi aku-"
BRAKK!
"Apa maksudmu, Jongin?! Zitao tidak mungkin mengkhianatiku!"
"Lalu, apa menurutmu aku berbohong? Aku lebih mengenalku, Oh Sehun.."
Nafasnya tertahan. Menopang berat tubuhnya pada permukaan meja dengan tangan bergetar hebat.
Kenapa?
Kenapa rasanya begitu sakit?
Apa ini hukuman yang di berikan Tuhan atas apa yang telah di lakukannya pada Tao?
Kai mendekat. Menepuk bahu sang sahabat yang terlihat kacau.
"Aku tidak bisa, Jongin.. Aku tidak bisa tanpa Zi Tao. Aku mencintainya. Sangat." berujar tertahan. Nyaris seperti bisikan yang sarat akan ketakutan. Tak ayal membuat pemuda tan merutuki kebodohannya lantaran memilih jujur.
"Mungkin ini yang terbaik. Tuhan menggariskan dirimu untuk Luhan.. Kau tidak bisa menentang takdir, Seh-"
"PERSETAN!" menyentak tangan pemuda Kim. Tak perduli jika perlakuannya barusan mengundang tatapan terganggu dari pengunjung lain. "Persetan dengan takdir! Persetan dengan Zi Tao yang berselingkuh! Yang aku tahu, aku mencintainya. Tidak ada alasan untuk aku mengakhiri ini semua. Aku akan mempertahankan Zi Tao di sisiku, ingat itu baik-baik."
Melangkah pergi dengan langkah lebar serta wajah yang memerah menahan amarah. Meninggalkan pemuda bermarga Kim yang menatapnya sendu.
"Kenapa kau tidak mau mengerti, Sehun? Zi Tao bukan takdirmu.." bisiknya lirih.
TBC
A/N : Maaf karna ff ini kelarnya lama pake banget.. Aku usahain 2 chapter lagi END. :'
Big Thanks loh buat yang udah setia nungguin ini fanfic.. Lapyuh semua :'*
Sign; Cattaon Candy
