...
∞bts fanfiction⸗
Sincerely
sweetyhunhan
[warning]
Taehyung aged up to 30 and Jungkook aged up to 23
fiction | shounen-ai [taekook/with top!tae]
Rated M |DLDR |enjoy!
...
Ketika Jungkook tiba di apartemenya malam itu, jam ditangannya telah menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi lampu di ruang tamunya masih menyala terang.
Yoongi, kakak sepupunya tengah sibuk melakukan suatu hal dengan laptop dihadapannya. Jungkook yakin itu adalah salah satu dari sekian banyak tugas kuliah Yoongi yang menumpuk. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, tugas-tugas semakin berdatangan dan membuat Yoongi harus begadang bahkan tidak tidur tiap malam.
Niat Jungkook awalnya berjalan melewati Yoongi dan langsung masuk ke kamarnya, tapi sepertinya Yoongi tidak mengizinkannya ketika ia memanggil Jungkook dengan suaranya yang berat.
"Dari mana saja?"
Jungkook mengerang malas dan ia terpaksa mengambil duduk disebelah Yoongi. "Hanya berkencan biasa," selanjutnya ia menghela nafasnya lelah ketika Yoongi terlihat menatapnya dengan pandangan curiga.
"Yeah, selama ini? Kau berjanji pulang pukul sembilan omong-omong," Yoongi melirik jam di dinding yang kini menunjukan pukul sebelas malam dan tersenyum miring sesudahnya. "Dibawa kemana kau oleh si pemuda bule itu?" Kemudian ia melanjutkan fokusnya pada tugas dihadapannya. Jemarinya mulai mengetik buru-buru seakan-akan mengintimidasi Jungkook.
Jungkook memutar bola matanya jengah. Kebiasaan Yoongi memang seperti itu. Harusnya tadi ia masuk lewat pintu belakang dan langsung pura-pura tidur saja daripada menghadapi Yoongi dengan rentetan pertanyaan yang tidak akan pernah habis.
"Mm. Namanya Kris omong-omong, hyung. Dan ia membawa ku ke tempat-tempat kencan biasa, jangan berlebihan," Jungkook menyahut.
Kening Yoongi berkerut sedikit. Ia memundurkan badannya, memfokuskan dirinya pada Jungkook yang kini bersender di sofa dengan mata tertutup. "Sebutkan tempat-tempat kencan biasa itu, Jungkook-ah?"
Erangan malas terdengar dari belah bibir yang lebih muda dan Yoongi melihat pemuda itu membuka matanya cepat. Terlihat kesal dan bola mata milik Jungkook menatapnya jengah. "Apa harus kuberitahu?"
Sorot mata Yoongi berubah dan menjadi menuntut. "Ya, harus." Ucapnya tegas tak terbantah.
"Man. Baiklah bagaimana kalau kau mengizinkanku tidur terlebih dahulu, lalu besok kau bisa menanyaiku sepuasmu. Deal, hyung?"
Yoongi menggeleng cepat dan Jungkook berdecak disebelahnya. Sejujurnya badan Jungkook seakan ingin remuk saat ini. Ia sangat lelah dan yang ia ingini saat ini hanyalah berbaring diatas kasurnya yang empuk. Ingatan tentang kejadian beberapa waktu lalu membuat energi ditubuhnya tersedot, belum lagi bekas-bekas tangan besar Kris masih terasa dibeberapa bagian tubuhnya. Ia kuat tentu saja jika kalian bertanya, hanya saja kali ini ia benar-benar merasa lelah. Sehingga Jungkook hanya mengkerutkan bibirnya dan kembali bersandar pada sofa. Enggan membalas pertanyaan Yoongi tadi.
"Kookㅡhey kau kenapa?" Yoongi mulai terheran melihat adik sepupunya yang hanya bersandarㅡterlihat lelah dan ia mulai khawatir. Tidak biasanya Jungkook seperti ini. Ia tahu Jungkook berkencan dengan Kris, toh bule itu tadi meminta izinnya sebelum membawa Jungkook pergi. Hanya saja, sekali janji tetaplah janji. Jungkook dengan jelas berjanji pulang paling lambat pukul sembilan, dan sekarang anak itu malah menampakkan dirinya pukul sebelas malam. Juga, Yoongi sama sekali tidak mendengar suara mesin mobil atau sejenisnya ketika Jungkook pulang. Seingat otaknya yang jenius, Kris itu menjemput Jungkook menggunakan mobil tadi sore. Lalu kenapa Jungkook terlihat seperti habis berjalan kaki?
Jungkook tetap bergeming membuat Yoongi semakin khawaitr. Ia mulai mengambil sikap dengan menegakkan duduknya lalu mulai menilisik Jungkook perlahan. "Kau bisa bercerita padaku, Kookie-ah," Nadanya mulai melembut karena sejujurnya ia sangat menyayangi Jungkook. Yoongi hanya terlalu menyayangi Jungkook hingga apapun yang Jungkook alami, ia harus mengetahuinya. Apapun yang terjadi, Yoongi telah berjanji akan melindungi sepupunya ini.
Jungkook terlihat ragu namun akhirnya ia menatap Yoongi. Bibirnya membuka namun belum sampai beberapa detik ia menutup kembali mulutnya. Lalu selanjutnya helaan nafas terdengar dan Jungkook tersenyum kecil membuat Yoongi kembali mengkerutkan keningnya kebingungan.
"Aku oke hyung. Jangan panik begitu," ucapnya geli. Telapak kanannya terangkat dan tanpa ragu mengusak surai hitam yang lebih tua. "Izinkan aku tidur, boleh? Aku sangat lelah hyuuung."
Yoongi mengulum senyumnya. "Well, tidak kuizinkan sebelum kau bercerita."
Dan Jungkook kembali berdecak dibuatnya. "Apa aku terlihat sehabis mengalami sesuatu hyung?" Ujarnya heboh.
Anggukan dikepala Yoongi menjadi jawaban dan sepertinya Yoongi tidak akan membiarkannya beristirahat malam ini jika Jungkook tidak menuruti kemauannya. Jungkook akhirnya menyerah dan ia mulai merapatkan tubuhnya didekat Yoongi. Kebiasaanya ketika hendak menceritakan sesuatu kepada hyungnya.
Yoongi tersenyum kecil kemudian membuka lengannya lebar-lebar membiarkan Jungkook bersandar pada dadanya.
Jungkook terdiam sebentar menikmati halusnya pergerakan jemari Yoongi disela-sela surainya.
"Aku tidak menyuruhmu tidur, bayi besar," kekeh Yoongi saat dirasa nafas Jungkook mulai teratur didalam dekapannya.
"Baiklah-baiklah," ujar Jungkook akhirnya. "Kau tahu, aku tadi benar-benar senang, hyung."
Yoongi menganggukkan kepalanya menunggu Jungkook melanjutkan ceritanya. Nadanya terdengar bahagia dan Yoongi yakin benar bawa Jungkook memang berkencan dengan kekasihnya.
Namun sesaat kemudian, Jungkook menghembuskan nafasnya pelan, "Tapi sewaktu pulang, Kris berulah lagi," lanjutnya terdengar lesu. Yoongi tetap diam namun kedua telapaknya bergerak mengelus-elus punggung Jungkook, seolah menyampaikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Ia memaki-maki kemudian berkata kasar padakuㅡ"
"Woah, tunggu dulu. Maksudmu apa?" Yoongi memotong pembicaraan Jungkook seraya menatap matanya, meminta penjelasan serinci mungkin.
"Jangan dipotong dulu, hyuung," rengek Jungkook dan Yoongi menutup mulutnya sesegera mungkin hingga Jungkook tertawa kecil dibuatnya.
"Kulanjutkan. Um, jadi ya seperti itulah hyung. Aku juga tidak tahu kenapa ia jadi marah-marah nyaris membuat telingaku pecahㅡ" Jungkook melirik Yoongi sebentar melihat reaksinya. Pemuda itu nampak tengah menahan emosinya dan Jungkook buru-buru melanjutkan. "ㅡuh ya, dan aku sempat memukulnya hyung, karena Kris mulai menghina-hinaku. Ia marah kemudian memberhentikan mobilnya. Ia sangat seram kalau kau ingin tahu, padahal sewaktu berkencan ia begitu baik padaku. Menggandengku kemana-mana, membelikanku makanan dan lain-lain. Kami juga tadi menontonㅡ"
"Langsung ke inti, Kook. Langsung saja."
Jungkook menelan ludahnya susah payah. Yoongi terdengar hampir meledak, padahal ia belum sampai ke cerita inti. Sebenarnya sangat ragu bagi Jungkook untuk melanjutkan ceritanya, tapi sudah separuh jalan dan Yoongi benar-benar akan memenggal kepalanya jika ia berhenti bercerita. Pun Jungkook mulai melanjutkan ceritanya, walaupun suaranya kian mengecil dipenghujung kalimat.
"Aku keluar dari mobilnya hyung. Tapi ia mengejarku, menarikku kemudian umㅡia.. ia menamparku hyung.."
Hening sejenak dan Jungkook merasakan jantungnya hampir meloncat ketika Yoongi tiba-tiba menarik tubuhnya sehingga mereka berhadapan sekarang.
"MAKSUDMUㅡ"
"HYUNG." Jerit Jungkook histeris ketika tangan Yoongi tiba-tiba menelusuri kedua pipinya bermaksud mencari bekas tamparan Kris. "Yoongi hyung jangan sentuh, itu sakit," lirih Jungkook kemudian menunduk.
Ia berdiam diri sebentar lalu ragu-ragu mengangkat wajahnya untuk bertatap dengan bola kelam milik Yoongi. "Tapi kau tahu, ada seseorang yang menolongku hyung. Orang itu berkelahi dengan Kris jadi aku terluka tidak terlalu parah.."
Yoongi terdiam dan perlahan ia menarik tangannya kembali. Ia menatap Jungkook sebentar kemudian tanpa aba-aba menarik tangan Jungkook menuju dapur. Jungkook hendak protes namun mengingat mood Yoongi yang saat ini sangat buruk membuat ia terdiam dan mengikuti kemana pun Yoongi membawanya.
Sesampainya di dapur, Yoongi menyuruh Jungkook untuk duduk di ruang makan lalu meninggalkannya entah kemana. Jungkook sekali lagi hanya bisa diam dalam situasi seperti ini, berharap Yoongi tidak meledak dan menemui Kris saat ini juga.
Namun sesaat kemudian Yoongi kembali dengan membawa kompres es ditangannya dan meletakkannya di pipi Jungkook. Jungkook berjengit, bukan karena sakit tapi lebih karena dinginnya.
Dahi Yoongi berkerut melihat reaksi Jungkook. "Apa masih sakit?"
Jungkook menggeleng pelan. Bibirnya dikatupkan rapat-rapat menahan perih sekaligus dingin yang menjalari pipinya.
Kris memang berengsek. Jungkook sadar itu. Yoongi pun sudah berkali-kali menasehati Jungkook untuk tidak lagi menjalani hubungan dengan Kris. Tapi tetap saja, pemuda asal Kanada itu sangat memikat Jungkook. Lagipula, Kris sama sekali tidak ingin berpisah dari Jungkook. Terbukti berkali-kali Jungkook hendak meninggalkan Kris, Kris selalu menolaknya mentah-mentah dan berakhir dengan Kris akan meminta maaf padanya dan berjanji agar menjadi lebih baik. Padahal kenyataannya tidak.
Jungkook tersentak saat Yoongi tiba-tiba menekan permukaan pipinya. Ia meringis kecil dan menatap nyalang Yoongi yang kini tengah memandangnya polos. "Hyung apa yang kau lakukan?!"
Sementara Yoongi menyeringai lalu berkata skeptis, "Mm. Terus saja kau dengan bule gila itu. Besok-besok kau pulang dengan lebam diseluruh tubuhmu." Ia kemudian berjalan melewati Jungkook begitu saja, meninggalkan pemuda itu disana.
Yoongi memang menyayanginya. Namun terkadang, Jungkook harus dikeraskan terlebih dahulu agar sadar atas segala kebodohannya.
Jungkook hanya terdiam setelahnya.
Kalimat terakhir Yoongi kemudian terngiang dikepala Jungkook satu malam penuh.
...
"Bagaimana? Sudah ada penyelesaiannya?" Tanya Taehyung begitu dia duduk dihadapan Jungkook di ruang tamu apartemennya.
Jungkook saat itu tengah membaca komik dikamarnya ketika tiba-tiba seseorang mengetuk pintunya dan membuat Jungkook tergopoh-gopoh membuka pintu. Taehyung berdiri disana dengan rahang yang retak dan mata kirinya yang masih dilingkari memar kehitam-hitaman. Tubuhnya masih terbalut dengan setelan kemeja putih dengan lengan tergulung, dasi abu metalik menjuntai panjang, serta jam tangan bewarna hitam melingkar manis di pergelangannya. Tas kerja nya masih digenggam menandakan Taehyung baru saja pulang dari rumah sakit. Tanpa ragu Jungkook langsung mempersilahkan Taehyung masuk dengan senyum yang terlampau lebar sangking senangnya melihat Taehyung. Senang? Tentu saja! Pria inilah yang kemarin menolongnya, Jungkook pikir ia harus berbaik hati kepada Taehyung agar membalas kebaikan pria itu.
"Hm. Kris sudah minta maaf," dusta Jungkook. Padahal jangankan minta maaf, menelepon saja belum.
Jungkook sudah kenal sekali sifat pria itu. Empat tahun bersama, Jungkook tahu betapa Kris mencintainya, tetapi dengan caranya sendiri. Sangat posesif. Pertengkaran tadi malam pun disebabkan kecemburuan Kris yang kadang-kadang melewati batas ukuran normal. Padahal Jungkook hanya kebetulan bertemu dengan teman lama.
"Baguslah. Kuharap dia tidak akan pernah mengulanginya lagi," kata Taehyung, lebih mirip imbauan daripada ancaman.
"Aku akan menyuruhnya minta maaf padamu, Dok," lagi-lagi Jungkook berdusta. Bagaimana menyuruh Kris minta maaf? Sama saja dengan menyuruh langit pindah ke tanah!
Syukurlah, pria di hadapannya ini luar biasa baiknya. Dia memamerkan senyumnya yang khas. Senyum sabar dan tulus dengan sederet giginya yang terawat.
"Lupakan saja," katanya ramah. "Dan tolong jangan panggil aku dokter. Panggil saja Taehyung. Tapi, pakai hyung untukmu," kekeh Taehyung setelah itu.
Jungkook tersenyum kikuk bingung menanggapi apa. Tapi kemudian ia menganggukkan kepalanya seakan menyetujui ucapan Taehyung. "Terima kasih, um, hyung?" Entah kenapa ia tersipu sejenak setelah panggilan itu keluar dari mulutnya. "Entah bagaimana aku harus membalas budimu," ungkapnya malu.
Taehyung terdiam sejenak sebelum kemudian ia menatap Jungkook dengan alis terangkat. "Makan malam?" Tawarnya kemudian. "Hanya sebagai tanda persahabatan," lanjutnya ketika mendapati Jungkook hanya diam.
Sesaat Jungkook tertegun. Tetapi hanya sesaat, karena di saat lain, senyumnya sudah merekah kembali. Manis.
Ia memperhatikan sesaat wajah pria dihadapannya. Ada gerutan sedikit diujung matanya, namun hal itu tidak mengurangi ketampanannya. Jungkook akui itu. Rambutnya panjang hampir menutupi seluruh permukaan keningnya. Berwarna kecokelatan dan tampak sangat halus serta terawat. Membahas tentang rahangnya, Jungkook melihat ada sedikit kebiru-biruan disana. Ia menjadi merasa tak enak mengingat kekasihnya sendirilah yang menyebabkan hal itu. Jungkook berjanji akan membuat pria itu meminta maaf pada Taehyung meskipun ia harus memohon dan merengek dihadapan Kris.
Ia terkesiap sesaat ketika Taehyung balas menatapnya canggung. Dengan segera ia mengalihkan pandangannya dan berdehem beberapa saat.
"Gigimu sudah bisa mengunyah memangnya?" Tanya Jungkook setengah bergurau. "Rahangmu tidak protes?"
Tawa berat kemudian mengalun di indera pendengaran Jungkook. Dilihatnya pria dihadapannya itu kini tengah meraba permukaan rahangnya pelan, "Keberatan kalau hanya makan sup? Atau es krim?"
Jungkook terlihat menimang sebentar dan Taehyung memandanginya penuh harap. "Baiklah, aku suka es krim," seru Jungkook sesudahnya.
Taehyung mengulas senyum rectangle-nya ketika Jungkook buru-buru bangkit dari kursinya dan hilang dari pandangannya.
"Hyung tunggu aku mengganti pakaianku!" Jerit Jungkook yang Taehyung yakini berasal dari kamar milik pemuda bermarga Jeon itu. Dan Taehyung tertawa kecil sesudahnya.
...
Sepulang dari rumah sakit tadi, kondisi Taehyung tidaklah lagi prima sebenarnya. Eun Jo, salah satu pasien yang dirawat di rumah sakitnya tiba-tiba saja mengalami palpitasi; kondisi dimana seseorang merasa jantung berdetak lebih cepat atau melewatkan satu detak. Taehyung panik tentu saja, ia langsung menyerahkan seluruh pekerjaannya kepada perawatnya dan melangsungkan rentetan pemeriksaan fisik guna mendiagnosis penyakit yang di alami bocah enam tahun itu.
Eun Jo sudah dirawat setahun penuh di bangsal anak, ia menderita hemofili, penyakit kekurangan zat pembeku darah yang diturunkan. Karena zat pembeku darahnya kurang, dia sering mengalami pendarahan hebat, yang memerlukan transfusi darah berulang-ulang. Taehyung sangat menyayangi bocah itu terlebih lagi penyakit yang dideritanya membuat Taehyung semakin ingin melindunginya.
Hasil diagnosis tadi membuat dia sangat terpukul sejujurnya. Hypertrophic Cardiomyopathy dengan mudahnya hinggap di tubuh malaikat kecil itu. Padahal Taehyung telah berjuang untuk melakukan segala pengobatan agar hemofili ditubuh Eun Jo sirna. Obat-obatan telah silih berganti dimasukkan ke tubuhnya, tapi malaikat maut sepertinya enggan melepas pelukannya. Dengan penyakit baru yang muncul ditubuh Eun Jo, Taehyung semakin khawatir ia tidak dapat menyelamatkan bocah kecil itu.
Pikirannya kalut dan ia sempat stress memikirkan hal itu ketika tiba-tiba bayangan Jungkook melintasi pikirannya. Tanpa ragu ia membanting stir dan menuju apartemen Jungkook walaupun ia sendiri juga ragu apa yang akan dilakukannya ketika sampai disana.
Namun keraguan itu sirna ketika Jungkook menyambutnya dengan senyuman hangat terpatri di wajahnya. Pasalnya ia sangat ragu untuk menemui Jungkook, maksudku mereka hanya kebetulan bertemu dan 'kebetulan' juga Taehyung menolongnya. Tapi nyatanya, Jungkook sekarang duduk dihadapannya dengan kedua tangan yang penuh memegang satu stik es krim perisa cokelat. Mereka kini berada di depan supermarket dekat apartemen Jungkook. Padahal niat Taehyung membawa Jungkook ke tengah kota, karena disana banyak sekali jajaran makanan di pinggir jalan. Namun yang lebih muda menolak dengan alasan takut kemalaman.
Taehyung tertawa lepas ketika Jungkook buru-buru menjilati jemarinya ketika es krim nya meleleh melumuri telapaknya.
"Hei berapa umurmu?" Tanya nya setengah geli.
Pemudai bersurai kelam dihadapannya hanya mendelik sebentar dan kembali menjilati jarinya. Seakan tidak terusik sama sekali dengan tawa dari seorang Dokter dihadapannya.
"Aku tidak akan merebutnya hei, santai saja," tawa Taehyung kembali mengalun.
Jungkook melirik sebentar dan senyum samar tercetak di belah bibirnya. "Tentu saja, kan aku yang bayar."
Taehyung menggeleng, "Aku sudah membayarnya. Semuanya."
Diam sejenak dan Jungkook membulatkan matanya heboh, "Kenapa jadi hyung yang bayar?" Ujarnya buru-buru.
"Kau terlalu sibuk menjilati jarimu, aku tidak tega menganggumu dan meminta uang," kemudian tatapan hei-tidak-boleh-seperti-itu diterimanya dan Jungkook terlihat buru-buru mengeluarkan dompet dari sakunya.
Taehyung kembali tertawa dan ia segera menghadang tangan Jungkook yang menyerahkan beberapa lembar won kepadanya. "Uh, tanganmu kotor. Aku tidak menerima uang kotor," ujarnya bercanda.
"Hyuung jangan bercanda," Jungkook setengah merengek dan tetap menyodorkan Taehyung uangnya yang kini memang sedikit kotor terkena noda cokelat. "Terima atau kubuat pipimu kotor seperti uang ini," kedua manik Jungkook kini menyipit, mengancam Taehyung seolah itu adalah ancaman terberat yang pernah ada.
Taehyung terkekeh dihadapannya membuat Jungkook semakin menyipitkan matanya membentuk cekungankecil. "Kenapa tertawa?" tanyanya dengan nada malas.
"Kau seperti bocah," ungkap Taehyung enteng. Kedua belah bibirnya tertarik membentuk senyum hangat dan Jungkook bohong jika ia tidak merona layaknya remaja berusia belasan.
"Menyebalkan," desis Jungkook malas lalumenyelipkan kembali lembaran won itu didalam sakunya. Tangannya kembali mengaduk kantung plastik berisikan berbagai macam jenis es krim. Lalu memutuskan untuk mengambil es krim dengan bungkus berwarna pink menyala serta gambar strawberry sangat besar di bagian depan.
"Huh? Aku tidak suka strawberry. Hyung yang mengambilnya?" Tanya Jungkook dengan tangan kanan yang kini mengenggam satu stik es krim.
"Tidak. Aku bahkan tidak menyentuh sama sekali es krim milikmu itu," sahut Taehyung sambil melonggarkan dasinya perlahan.
Jungkook mengkerutkan keningnya kebingungan. "Lalu kenapa dia ada disini?" ujarnya penasaran sambil menggoyang-goyangkan es krim itu.
Dan kedikan di bahu menjadi jawaban bagi Jungkook.
"Mungkin ia ingin dimakan olehmu," jawab Taehyung sekenaknya dan dibalas dengan cemoohan dibibir Jungkook.
Taehyung tidak menghitung berapa kali ia sudah tertawa malam ini, tetapi yang pasti Jungkook lah penyebabnya. Tingkah pemuda dihadapannya ini benar-benar seperti bocah dan Taehyung ragu jika dihadapannya ini adalah lelaki berusia 23. Caranya tersenyum layaknya seorang remaja yang baru saja diberi sekotak permen oleh pamannya. Seolah-olah itu adalah hal yang paling membuat ia bahagia di muka bumi ini. Terlebih ketika Jungkook tertawa lepasdengan kedua gigi kelinci yang mengintip malu-malu dari dalam mulutnya. Jungkook cantik ketika tertawa. Pemuda dihadapannya ini sangat cantik.
Taehyung sadar, ia sepenuhnya sadar perihal Jungkook sudah punya kekasih entah siapapun namanya. Tapi, demi apapun, jangan salahkan jikaiabenar-benar jatuh cinta dengan Jeon Jungkook. Pemuda dihadapannya ini begitu memikat dan tanpa cela, dan sialnya Taehyung sudah terpikat. Jangan tanyakan kenapa Taehyung begitu cepat memberi hati, karena ia pun tidak tahu jawabannya.
Seperti saat ini, Jungkook sedang berdecak kesal karena es krim yang dimakannya terus menerus meleleh mengotori telapaknya. Bibirnyayangmencengkung ke bawah terlihat sangat manis di mata Taehyung. Ia sejenak melupakan masalah yang sedari tadi mengungkungnya dan tertawa lepas seolah tanpa beban.
Bagi Jungkook sendiri, ia menyukai Taehyung dalam banyak artian. Taehyung sangat baik dan ramah. Berada di dekatnya serasa berada di taman yang sejuk dan damai. Alangkah berbeda dengan seorang Kris. Taehyung tipe orang yang mudah bergaul dan sangat bersahabat. Sebentar saja Jungkook sudah merasa lengket padanya.
"Ayo pulang, Yoongi hyung pasti menungguku," Jungkook tiba-tiba saja bangkit berdiri dan membuang plastik berisikan bekas es krim nya. Sebentar ia berlari kebelakang untuk menemukan wastafel umum lalu mencuci tangannya yang berlumuran noda cokelat. Lalu kembali secepat kilat dihadapan Taehyung dengan senyum kecil terpatri diwajahnya.
"Antar aku, hyung?" Tanyanya.
Dan anggukan dari Taehyung membawa langkah kaki mereka menuju tempat parkir dimana mobil Taehyung berada.
...
"Jadi anda yang menolong bocah ini?"
Begitu sampai di apartemen, Jungkook memaksanya untuk singgah sebentar agar bertemu dengan Yoongi yang Taehyung baru ketahui adalah kakak sepupunya Jungkook. Katanya, Yoongi ingin berterima kasih kepadanya perihal kejadian semalam. Taehyung sendiri tidak masalah, lagipula malam belum terlalu larut. Dan disinilah ia sekarang, duduk berhadapan dengan Yoongi dengan Jungkook disebelahnya.
Taehyung mengangguk sekali sebagai jawaban dan tersenyum sesudahnya.
"Wahh," ujar Yoongi tiba-tiba riang. "Anda seorang dokter?" Tanyanya dengan kilatan mata yang memancarkan semangat. Jungkook disebelahnya dibuat terheran karena perubahan tingkah Yoongi yang terlalu kentara. Namun ia tetap diam, membiarkan hyungnya berbicara sebentar dengan Taehyung.
"Untuk sekarang tidak, tapi ketika saya memakai jas kerja, saya seorang dokter," kata Taehyung lugas dengan wajah bersahabat. Ia mengulas rambutnya sebentar kebelakang, kebiasaannya ketika canggung.
"Menarik sekali," sahut Yoongi singkat. Ia menatap Jungkook sekilas lalu kembali memandang Taehyung. "Keberatan jika saya bertanya sebentar?"
Taehyung kembali mengangguk konstan tanpa ragu. Ia melirik Jungkook yang kini melempar senyum kearahnya, dan Taehyung bersumpah ia melihat kilatan jahil terpancar dari matanya.
Hening sejenak ketika Yoongi terlihat berpikir dengan kata-katanya. Lalu pertanyaan gamblang itu begitu saja meluncur dari kedua belah bibirnya.
"Anda sudah punya kekasih?"
What.
The.
Heck?!
Baik Jungkook ataupun Taehyung kini sama-sama membulatkan matanya. Terlebih lagi Jungkook. Pemuda itu kini tengah heboh menarik-narik ujung fabrik milik Yoongi berharap hyungnya itu mengganti pertanyaannya.
"Ada apa bocah? Aku hanya bertanya, bukan berarti menjodohkanmu," Yoongi berujar santai membuat Jungkook merengut kesal disebelahnya.
Taehyung tertawa sekilas melihat interaksi keduanya, ia berdehem sebentar mengalihkan perhatian Yoongi kemudian menjawab pertanyaan yang dilontarkan Yoongi tadi. "Saya tidak punya waktu untuk hal yang seperti itu. Kecuali pasangan saya nanti bersedia menghampiri saya setiap hari dirumah sakit," jelasnya dengan senyum yang masih setia melekat di wajahnya.
Yoongi terlihat menganggukan kepalanya berkali-kali, seakan puas dengan jawaban yang diberikan Taehyung. "Ah, ngomong-ngomong panggil aku Yoongi. Jangan terlalu kaku," ujarnya ringan.
"Baiklah, baiklah. Aku sudah tau dari adikmu. Aku Taehyung, senang berkenalan denganmu," Taehyung tertawa sejenak karena Jungkook mulai bereaksi aneh ketika melihatnya berjabat tangan dengan Yoongi.
"Taehyung, terima kasih karena menolong adikku yang bodoh ini. Kulihat rahangmu sedikit biru, itu pasti ulah kekasih adikku. Aku harap kau mau memaafkannya," kata Yoongi. Air mukanya sedikit berubah seperti perasaan menyesal ketika melihat memar di wajah Taehyung. Ia melirik Jungkook yang kini merengut karena baru saja dipanggil bodoh. "Dan kau bocah, cepat bilang terima kasih," ujarnya cepat.
Sementara yang muda mendelik, "Aku sudah melakukannya lebih dulu darimu hyung, ia bahkan sudah mentraktirku es krim tadi."
Yoongi terdiam sebentar lalu disusul dengan tersenyum jahil setelahnya. "Waah, sudah berkencan rupanya. Kau cepat juga Taehyung-ah," goda Yoongi pada Jungkook yang kini meliriknya sebal.
Tawa Taehyung kembali mengalun dan hal itu membuat Jungkook semakin kesal karena itu sama sekali tidak membantu.
"Lebih tepatnya, hanya membalas budi," Taehyung tersenyum kecil setelah itu.
"O-oh aku suka itu, besok-besok akan kusuruh ia menemuimu dirumah sakit," seru Yoongi semakin gencar menggoda Jungkook. Tawanya meledak kemudian ketika Jungkook memukulinya berkali-kali akibat kesal.
"Aku mau masuk kamar," gerutu Jungkook lalu hendak bangkit berdiri sebelum Taehyung tiba-tiba ikut bangkit dan memanggil namanya.
"Ah Jungkook, lebih baik aku pulang," ujarnya lembut. Lalu ia merapikan kemejanya yang sedikit kusut sebelum bersiap pulang.
Jungkook memandangnya beberapa detik sebelum tersadar dan segera tersenyum kikuk. "Tidak apa-apa kalau hyung masih ingin berbincang dengan Yoongi hyung," ujarnya kaku.
Yoongi mencibir, "Sudah malam Jungkookie, Dokter Taehyung sudah lelah. Besok saja kau kunjungi dia kerumah saㅡ"
"Baiklah hyung, mari kuantar ke depan."
Dan tawa keras Yoongi kembali meledak setelah itu.
...
Jungkook melambaikan tangannya cepat ketika Taehyung memundurkan mobilnya perlahan. Sebelum sempat menjalankan mobilnya, Taehyung menurunkan kaca mobilnya sebentar, sekedar membalas lambaian yang lebih muda.
"Kau belum mentraktirku, ingat itu," ucapnya bergurau.
Jungkook tertawa kecil sebelum ia menggerutu dengan nada yang dibuat-buat kesal. "Aku tidak menyuruh hyung membayar tadi, omong-omong."
"Baiklah, baiklah. Kuharap kita dapat bertemu lagi," Taehyung mengulum senyumnya kemudian perlahan menaikkan kaca mobilnya.
"Oke, hati-hati dijalan hyung," balas Jungkook merona samar dengan OK-sign pada Taehyung yang kini sudah menghilang dari pandangannya. Ia baru saja hendak kembali ke apartemennya ketika sebuah suara mengejutkannya.
"Wahh, kencan kedua."
Jungkook tersedak saat tiba-tiba Yoongi sudah berdiri dibelakangnya. Tangan yang bersitatap didepan dada lengkap dengan seringai wajah yang sangat menyebalkan. Jungkook mendengus lalu berlalu dari sana meninggalkan Yoongi yang semakin terpingkal dibelakangnya.
"Dasar orang gila," cibir Jungkook.
Lengan Yoongi tiba-tiba melingkar di bahu lebar Jungkook membuat si empunya mengernyit tak suka. "Hentikan hyung."
Yoongi terbahak lagi sebelum menarik tangannya dari bahu Jungkook. "Ia lebih baik dari bule itu, kau tahu itu kookie," ujarnya tiba-tiba serius membuat Jungkook melengos.
"Lalu kenapa hyung? Kami baru saja berkenalan, yang normal dikit tolong."
Yoongi melirik Jungkook sebelum tersenyum miris. "Aku normal, kau yang tidak normal," kata Yoongi dengan nada tidak suka terselip didalamnya.
Jungkook mendesah malas. "Setidaknya berhenti mengaturku hyung. Kau membuatku malu dihadapannya tadi," ujarnya.
Yang bersurai cokelat menggeleng-geleng dramatis dan memukul ringan kepala Jungkook sebelum berjalan cepat meninggalkan Jungkook meringis dibelakang.
"Sopan sedikit, bocah."
Dan Jungkook hanya bisa mengumpat dalam hati dibuatnya.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
hellow fellas. maaf lamaaa update yass, daku habis selesai sbm (woy serem banget soalnya snxdubfgx)
mengertilaahh dan untuk teman" yang masih SMA, rajin belajar yah :') sbm susah woy :') (lah gw jadi curhat)
yasss pokoknya intinya gitu la ya ceritanya, bakal fast update utk skrg karenaa daku sudah freeeeee muehehehe. maaf kalo ga memuaskan hati teman-teman sekalian. im tryiinggg sis. hihi. rated m nya sabaran ya masa baru kenal langsung enaena. kan. serem.
btw jangan benci kris, dia baik kok. cuma emosian dan posesif. i do love himmm. kay.
YAPS BTW YANG PUNYA AKUN TWITTER, FOLLOW DIRIKU YUK MARI ! taekooksi YA FOLLOW NTAR W FOLLBACK.
biar kita streaming barengan besok subuh yah kan mantap tuh. w besok streaming soalnya, kuy lah menggila bareng. ga sabar liat mereka di magenta carpet, pasti ganteng pisan euy selamatkan hamba :')
DAN YAA LAST REVIEW YA TEMAN-TEMAN TERSAYANG. bantu diriku untuk membuat ff ini. im struggling so damn hard to make this one, seriously. butuh banget kritikan neh. hayuklah dibantu gaes.
dan untuk kak wulancho95, diriku ga dikejer dinosaurus kak tapi dikejer rentetan foto taehyung jadi dokter. thankyou so much kak. asdfghjkl.
LOVE YA MAKASIII MUEHEHE.
