"Looking Through Your Heart"

Fanfiction by : Amanda Lactis

Chapter 2 : Secret Feeling?

.

.

.

Yoongi muak, muak karena ia harus memiliki perasaan lain tehadap Jimin. Muak dan berpikir betapa konyol dirinya ketika ia harus bersikap sebaliknya ketika Jimin mulai mengusilinya. Jimin itu bodoh atau memang tidak peka? Yoongi misuh-misuh dalam hati, berharap agar Park Jimin segera mendapat karma karena sudah membuatnya merana selama setahun.

"Dari sejuta orang kenapa harus Jimin? Sialan memang kau, Park." Yoongi semakin mempercepat langkahnya menuju kelas, ia tak mau kembali ke kantin mengingat kejadian sebelumnya. Menyesal pun percuma, Yoongi takkan bisa memutarbalikkan waktu. Kalau pun bisa, Yoongi akan memilih pulang terlebih dahulu dan tidak bertemu dengan junior sialan bernama Park Jimin.

'Lebih baik juga Taehyung, walaupun dia absurd dan tidak jelas, tapi itu lebih baik.' Yoongi menambahkan dalam hati. Meskipun Taehyung tidak terlalu peduli dengan dirinya, tidak juga sehyper Seokjin ketika melihat Yoongi bersedih, tapi Taehyung bisa tahu keadaan hatinya. Taehyung peduli dengan caranya sendiri, lelaki alien itu memang tidak pandai mengekspresikan rasa sayangnya terhadap Yoongi.

.

.

Sesampainya di depan pintu kelas, Yoongi baru menyadari jika masih banyak siswa yang berada di kantin. Tersisa satu dua siswa yang stay di kelas. Salah satunya,

"Hei, Mark." Yoongi terkekeh ketika melihat reaksi pemuda tampan itu. Agaknya ia kaget mendengar sapaan dari senior yang galak dan sinis seperti Yoongi. Bukan salahnya dong, kalau teman sekelasnya jadi enggan dan tidak mau berdekatan dengannya.

"Min Yoongi-ssi..."

"Formal sekali." Yoongi mendudukkan diri di tempat biasanya, ia memalingkan wajah menghadap jendela, melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti, memandangi hujan. Bagi Yoongi yang berhati dingin sekalipun, hujan adalah salah satu kesukannya. Melankolis sih, cuman Yoongi tidak peduli. Kalau ada yang mengomentari hobby aneh Yoongi, paling juga dibalas dengan pelototan sinis dan kata-kata mutiara dari pemuda itu.

Hening.

Mark terlihat pendiam, tidak terlibat banyak percakapan dengan teman-teman yang lain. Tapi bukan berarti dia tak tahu desas-desus mengenai hubungan Jimin dan Yoongi. Jimin itu populer mengalahkan Suho, alumni yang baru lulus tahun lalu. Sayangnya, Mark tahu kebenaran dibalik sikap Yoongi. Dia tahu, tapi ia takut untuk membukanya. Yoongi bukan orang yang open-minded, ia mengunci seluruh pemikirannya dengan rapat tanpa celah. Makanya, butuh waktu bertahun-tahun agar Seokjin mengenalnya luar dan dalam.

"Kenapa kau suka sekali dengan hujan, Yoongi-ssi?" Mark mencoba memulai pembicaraan. Yoongi terdiam beberapa detik, kepalanya menoleh dan menatap Mark intens.

"Aneh, ya lelaki jahat sepertiku menyukai hujan?" balas Yoongi bermaksud bercanda. Selera humornya memang jauh lebih rendah dari siapapun.

Mark salah tingkah, ia tak bermaksud menyinggung Yoongi. "Bukan begitu, maksudku-"

"-tak perlu kaku, Mark. Anggap saja aku ini Jinyoung atau Jackson." Yoongi memotong ucapan Mark sambil tersenyum tipis, dia merasa bersalah karena membuat salah satu teman sekelasnya ketakutan.

"Mianhae, Yoongi-ssi."

"Yoongi saja,"

"Ah, oke, Yoongi."

Hening kembali menyelimuti keduanya. Bel masuk baru saja berbunyi, para siswa masuk dan duduk ditempat masing-masing. Yoongi bisa melihat raut kesal Seokjin ketika ia masuk, pasti lelaki itu kesal karena Yoongi pergi tanpa pamit.

"Kau itu pulang tak diantar, datang tidak dijemput, maumu apa sih?" dumel Seokjin berkacak pinggang.

"Memangnya aku jelangkung." Yoongi menyahuti sewot. Seokjin tahu, pasti sesuatu telah terjadi. Kilatan mata Yoongi berbeda, tidak lagi ketus tapi terpendam rasa sedih? Entahlah, Seokjin terkadang takut, takut karena Yoongi begitu rapat menyimpan semua rasa sakitnya. Ia takut, sekaligus bingung, apa arti dirinya dimata Yoongi? Kenapa Yoongi tidak pernah mau berbagi masalah dengannya?

"Sungguh? Kau melihat Park Jimin berjalan bersama Jungkook? Si manis dari kelas 1-3 kan?"

"Yap! Mereka jalan berdua dan dekat sekali, bahkan Jimin sempat mengusap rambut Jungkook! So sweet sekali~"

Yoongi merasakan telinganya berdengung akibat pembicaraan antara Eunwoo dan Seungkwan. Memangnya tidak ada bahan bicaraan lain ya sampai mereka bersemangat untuk menggosip? Mereka itu laki-laki bukan sih? Batin Yoongi kesal.

"Wah, kasihan Yoongi, dicampakkan begitu saja."

"Pstt! Dia bisa mendengarmu, tahu!"

Eunwoo melirik Yoongi yang juga kebetulan melotot sinis kearahnya. Eunwoo begidik ngeri, berharap agar tatapan Yoongi tidak bisa mencabut nyawanya yang berharga. Yoongi sendiri risih kalau namanya disebut-sebut, apalagi tadi mereka bilang dia yang dicampakkan.

"Mereka membicarakanmu ya?" Seokjin berbisik, nadanya mengandung usil sekaligus penasaran. Yoongi sendiri cuek, dia tidak peduli jika besok akan ada berita mengenai pembunuhan terhadap teman sekelas yang dilakukan oleh pemuda manis bernama Min Yoongi.

Tapi bukan berarti Yoongi melupakan percakapan antara dua orang tadi ya, dia malah semakin benci dengan sosok Jimin dan senyum menawannya yang sejujurnya membuat Yoongi terpesona. Mau dekat dengan siapapun juga hak Jimin, tapi hatinya tidak rela, seperti ada yang mengganjal. Mungkin Yoongi harus memeriksakan kesehatannya, akhir-akhir ini dia tidak mendapat porsi tidur yang cukup.

.

.

.

Hujan masih membasahi bumi, membuat Yoongi jadi malas pulang dan memilih untuk tetap tinggal di kelas. Seokjin menghampirinya sambil mengguncang pelan tangannya. "Hei, ayo pulang. Obsesi mu terhadap hujan kadang membuatku jengkel, tahu."

Yoongi bergeming. Tidak ada pergerakan satu inchi dari tubuhnya, ia masih ingin menikmati rintik hujan. Seokjin jadi ingin membawa sahabatnya itu ke Psikiater terdekat untuk memastikan apa Yoongi masih berstatus waras. Demi Tuhan, manusia jenis apa yang terlalu mencintai hujan sampai tidak mau pulang dan merepotkan orang lain? Ada, Min Yoongi namanya.

KRIEETTTT

Suara pintu dibuka, Seokjin menoleh dan terkejut ketika melihat sosok Jimin berdiri canggung di depan pintu kelasnya. 'Dia mau apa kemari?' batin Seokjin heran. Jimin yang ditatap jadi nervous, dia ingin berbicara dengan Yoongi, meluruskan kesalahpahaman diantara mereka berdua.

"Apa Yoongi sunbae ada?" cicitnya sedikit keras, Seokjin menatap Jimin dan Yoongi bergantian, agaknya ia memang melewatkan sesuatu hal yang penting.

"Yak! Yoongi, si Jimin mencarimu tuh." Seokjin menyenggol bahu Yoongi, menyadarkan sahabatnya yang terjebak dalam dunia entah apa namanya.

"….."

"Aku bisa mati muda bila terus berteman dengan mu, Yoongi-ya. Ya sudah aku pulang dulu, jangan lupa jika kau masih punya rumah." Seokjin berjalan melewati Jimin dan meneliti penampilan yang dimiliki pria itu. Tampan sih, Jimin juga berasal dari keluarga kaya raya, sifatnya supel dan menyenangkan. Apa hanya karena Jimin playboy, Yoongi sampai benci setengah mati dengannya? Seokjin tidak habis pikir, lebih baik meninggalkan kedua orang itu untuk menyelesaikan urusan maisng-masing.

"Sunbae."

"…"

"Yoongi sunbae, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Mengenai Jungkook-ah, dia-"

"-bukankah aku sudah bilang padamu, Park? Jangan pernah beranggapan kita dekat. Urusi saja pacarmu yang lain." Suara Yoongi berubah, lebih datar dan mengandung unsur kebencian. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana ia bisa menahan diri untuk tidak melemparkan sebuah meja pada wajah tampan Jimin. Yoongi egois, karena ia tidak mau tahu dan ia merasa dirinya benar. Bukankah semua orang memiliki sifat egois dalam diri mereka?

Hening.

"Sunbae, dia itu hanya adik kelasku saja, aku tidak pernah menganggapnya lebih dari itu." Tutur Jimin, harap cemas, dia kan tidak mau membuat Yoongi marah. Dia masih ingin melihat wajah imut seniornya ketika marah. Tapi yang membuat Jimin keringat dingin adalah balasan dari Yoongi yang jauh dari perkiraan. Habisnya lelaki itu malah tertawa kecil, tanpa mau memandang balik dirinya.

'Bagian lucu dari kalimatku ada di sebelah mana ya?' Jimin bertanya-tanya. Tapi ia tidak sepandai apa yang dikatakan orang. Karena Jimin tidak tahu tawa yang terlontar dari mulut Yoongi bukanlah tawa untuk menunjukkan apabila kau sedang bahagia. Tawa Yoongi mengandung makna lebih dalam dari itu semua.

"Adik kelasmu atau bukan, apa peduliku? Apa bagimu aku ini sangat kurang kerjaan sampai perlu mendengar penjelasan tidak bermutu darimu?" sahut Yoongi, ia bangkit dan meraih tasnya, berjalan melewati Jimin. Sepertinya Jimin memang memiliki sifat pantang menyerah, ia lagi-lagi menghalangi jalan Yoongi. Atau memang dia bodoh. Yoongi hanya ingin menjauhkan diri dari sosok adik kelasnya itu, mungkin dengan tidak bertatap muka sebulan dia bisa move on dan jatuh cinta dengan orang yang lebih baik dari Jimin.

"Lepaskan aku." Yoongi mendesis pelan, suaranya seolah tersangkut di tenggorokan. Jimin semakin mempererat cekalan tangannya, keras kepala memang, tapi Jimin tidak mau terus-terusan membuat Yoongi salah paham. Dia harus menjelaskan semuanya.

"Sunbae, mungkinkah kau, cemburu?" kedua mata Yoongi melebar, tubuhnya mendadak kaku, itu membuat Jimin semakin cemas dan mengendurkan pegangan tangannya. Yoongi ingin tertawa keras, melupakan fakta jika saat ini ia terjebak dalam keadaan yang sulit. Cemburu? Mungkin, tapi ada hak apa dia cemburu? Yoongi punya hubungan apa dengan Jimin? Mau cemburu juga bukan urusan Jimin, kan?

"Cemburu atau tidak, apa pedulimu?"

"Aku peduli, karena aku suka dengan Yoongi sunbae."

Polos. Jawaban yang meluncur dari mulut Jimin sepolos hati pria itu. Nyatanya, Yoongi tidak mau percaya. Membicarakan masalah cinta hanya akan membuka luka lamanya. Luka lama yang takkan pernah bisa sembuh, membekas dalam hati Yoongi.

"Rasa suka hanya bersifat sementara, bodoh. Jangan buang waktumu untuk menggangguku."

"Apa sunbae sangat membenciku?" Jimin bertanya sedih, wajahnya tak lagi ceria. Ia menunduk dalam, sanggup membuat para fansnya membantai habis Yoongi.

Yoongi tersenyum, tipis sekali, munafik bila ia menjawab benci, justru Yoongi sangat menyukai Jimin. Tapi bagi Yoongi, melihat senyum dan tawa Jimin saja sudah lebih dari cukup untuk menghibur hatinya. Dia tak pernah berpikir sedikitpun untuk menjadi kekasih Jimin.

"Kalau aku bilang iya, apa kau mau berhenti mengganggu ku, Park Jimin?" sakit rasanya membohongi hatimu sendiri, itulah yang dirasakan Yoongi ketika ia mengatakan kalimat yang bisa saja menyakiti Jimin. Namun, ini yang terbaik. Jimin tidak pantas bersama dengannya, Yoongi hanya akan menjadi beban untuk Jimin. Yoongi takkan bisa membahagiakan Jimin.

"….."

"Park Jimin, aku berbicara denganmu."

Jimin mendongak, menatap balik kedua mata Yoongi yang menyorot datar. "Aku-tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan hari tanpa menggoda Yoongi sunbae, akan aneh dan terasa janggal. Mungkin terdengar konyol, tapi melihat wajah sunbae membuatku senang. Mianhae, Yoongi sunbae." Ia menyahuti tulus dari hatinya. Awalnya Jimin mengira jika Yoongi akan semakin marah dan pergi begitu saja, namun seniornya itu tetap berdiri di depannya, sambil menatapnya geli.

"Polos tapi keras kepala, tipikal Park Jimin sekali." Yoongi melangkahkan kakinya menuju pintu kelas, sementara Jimin memproses apa yang baru saja ia dengar.

"Apa itu artinya aku boleh dekat dengan Yoongi sunbae? Kau tidak akan mengusirku kan?"

Yoongi tidak menghentikan langkahnya, ia terus berjalan, namun balasan darinya mampu menciptakan senyum cerah di wajah Jimin.

"Aku tak pernah melarangmu untuk mendekatiku, bodoh."

.

.

.

Seokjin hanya bisa menghela nafas panjang ketika harus membukakan pintu rumahnya untuk tamu yang sudah bisa ia tebak siapa. Sahabatnya sendiri. Min Yoongi. Berdiri tanpa menghiraukan tetes hujan turut serta membasahi seragamnya. Tidak ada yang pernah melarang Yoongi untuk berkunjung ke rumahnya, karena Seokjin tahu kenapa Yoongi tidak betah di rumahnya sendiri. Ia tahu, tapi lebih memilih diam. Dan disinilah mereka berdua, terjebak dalam atmosfer dingin yang meresahkan. Seokjin sudah mencoba sabar tapi ini sudah lima belas menit berlalu! Minimal Yoongi bicara atau mulai mengoceh tidak jelas dari pada diam. Kan menyeramkan, batin Seokjin.

"Mau diam terus? Ya sudah, pokoknya aku tidak mau ya menenangkanmu saat kau terbangun karena mimpi buruk." Seokjin mengomel kesal, dia baru saja mau menyingkap selimutnya kalau saja suara Yoongi tidak mengintrupsi kegiatannya.

"Seokjin-ah…"

Mendengar panggilan khusus dari sahabatnya membuat Seokjin sedikit khawatir. Yoongi jarang memanggilnya dengan nada selembut itu, hanya saat-saat tertentu saja Yoongi memanggilnya begitu. Jadi, ini masalah yang cukup serius?

"Ne, Yoongi-ya? Kau ada masalah? Ingin bercerita?"

Hening.

Seokjin sabar, sangat sabar malah kalau sudah menyangkut Yoongi. Dia maklum, membuat Yoongi menceritakan masalahnya sangat sulit, karena yang Seokjin tahu, Yoongi termasuk orang yang tertutup. Jadi, berteman dengan Yoongi memiliki berkah tersendiri bagi Seokjin, salah satunya ya sabar, lahir dan batin.

"Kau menyukai Namjoon, kan?"

Ehem. Pertanyaan nya jauh dari ekspektasi Seokjin, dia nyaris terjungkal dan hampir saja melempar benda keras untuk melampiaskan kekesalannya. Oke, tarik nafas dan keluarkan, Seokjin mencoba untuk tetap tenang.

"Kenapa menanyakan hal itu? Apa ini menyangkut Jimin?"

Tubuh Yoongi menegang, meski ditutupi tapi Seokjin tahu. Dia sudah hafal, terlampau hafal dengan semua perilaku Yoongi. Pertemanan mereka sudah menginjak angka tujuh tahun, dan selama itu pula Seokjin tak pernah lupa dengan tabiat Yoongi.

"Yoongi-ya, apa kau masih takut? Mungkin aku tidak terlalu dekat dengan Jimin tapi kenapa tidak kau beri dia kesempatan?"

Yoongi mengalihkan pandangannya, tangannya meremat selimut milik Seokjin, itu adalah sikap defensive dari seorang Min Yoongi, artinya ia menentang pendapat Seokjin. Bukannya kesal, Seokjin justru mengulas senyum kecil, dari luar Yoongi boleh mendapat predikat 'sangar' karena wajahnya yang tak pernah ramah. Tapi sejatinya, Yoongi hanya tidak ingin tersakiti untuk yang kedua kalinya.

"Bisa aku menginap? Rumahku sedang dalam kondisi yang tidak menyenangkan." Yoongi mengubah topik pembicaraan, tapi Seokjin tidak keberatan. Ia bisa menunggu kapan Yoongi mau berbagi cerita dengannya.

"Dasar anak durhaka, tapi ya sudahlah, cepat ganti bajumu lalu tidur."

Yoongi boleh saja lebih kaya dari Seokjin dan Taehyung, dia memiliki rumah yang mewah dan fasilitas yang lengkap. Berbeda dengan sahabatnya yang tinggal di sebuah rumah sederhana namun nyaman. Yoongi benci suasana rumahnya, karena ketika ia menapakkan kaki di sana, toh tidak ada yang menyambutnya. Dingin. Seperti rumah kosong, tapi bukan itu yang membuat Yoongi lebih memilih menginap di rumah Seokjin. Yang Yoongi butuhkan adalah keluarga, bukan sebuah bangunan mewah. Yang dia butuhkan adalah seseorang yang mau menjadi tempatnya bersandar, bukan pelayan yang hanya datang untuk membersihkan rumah. Bukan. Bukan itu yang Yoongi mau.

.

.

.

Suasana kelas 3-2 terlihat berbeda, ada segerombol siswa yang tengah membicarakan sesuatu. Yang Yoongi herankan adalah, kenapa pandangan mereka jadi aneh dan misterius ketika melihatnya? Bukannya ge-er atau bagaimana tapi sepertinya Seokjin juga sepemikiran dengannya.

'Ada yang mau menjelaskan padaku apa yang sedang mereka bicarakan?' Yoongi membatin pasrah.

"Min Yoongi-ssi." Bagus, sekarang namanya ikut disebut. "Ya?"

"Apa benar, kau menjalin hubungan dengan Park Jimin?"

Satu.

Dua.

Tiga.

"Kau mengatakan sesuatu?" sebenarnya Yoongi tidak mau membuat kericuhan di dalam kelas, dia cinta ketenangan, tapi mendengar pertanyaan konyol dari teman sekelasnya membuat Yoongi ingin menenggelamkan diri ke lautan. Hubungan? Hubungan apa? Pacaran? Mungkin, tapi itu jauh dari harapannya.

"Ehem, ada yang bilang kalau Yoongi-ssi sedang uh berpacaran dengan Park Jimin, junior dari kelas 2-4. Apa itu benar?" sebelum Yoongi hendak membuka mulutnya, bel masuk telah berbunyi, membuatnya lega sekaligus berterima kasih. Para murid duduk di bangku masing-masing, ada yang masih penasaran dengan jawaban Yoongi, ada juga yang memilih tidak peduli.

Saat seorang guru tengah menerangkan dan semua fokus teman-temannya ada pada papan tulis, Yoongi sibuk mencoret-coret buku nya. Ia tak bisa menghilangkan pikirannya tentang pertanyaan yang belum ia jawab sampai sekarang. Hubungan, ya? Yoongi jadi ingin tertawa, jangankan pacaran, Yoongi bahkan tidak yakin apa rasa sukanya sama dengan apa yang dirasakan Jimin. Cinta? Mustahil, Yoongi masih menyangsikan eksistensi cinta. Kata Seokjin, cinta itu indah. Tapi menurut Yoongi, cinta itu menyebalkan. Cinta itu egois, dan tidak pernah berakhir baik dalam kehidupannya. Jadi, indah dari mananya?

To Be Continued

.

.

.


Note : Responnya positif semua, saya jadi semangat nulis, hehe :)) Di fic ini Yoongi rambutnya mint, jadi persis kayak di MV RUN, disitu saya pertama kali jatuh cinta sama dia *slap* menurut saya Jimin sama Yoongi itu pasangan yang unik, kan Yoongi sifatnya kaku rada ketus gitu, nah Jimin ceria dan senyumnya itu bisa melelehkan sejuta umat, hahaha. Di chap ini Taehyung sama sekali gak nongol, maafkan saya ya, chap depan kamu muncul kok *giggles* kalo misal Yoongi sama Taehyung ada yang rela gak? *jduak*

See you next chapter! Mind to Review?

.

Amanda Lactis