"Looking Through Your Heart"

Chapter 3 : Yoongi's Hatred

.

.

.

Seingat Yoongi, kantin tidak seramai ini kemarin. Bukan, bukan karena kumpulan junior tampan di pojok sana, bukan juga karena ada Namjoon dan kawan-kawannya. Melainkan kumpulan orang yang kini mengelilinginya seolah ia memegang sebuah harta benda paling berharga. Apa yang sedang terjadi? Batinnya. Seokjin masih bisa menikmati makan siangnya tanpa perlu bersusah payah membantu Yoongi, pria itu stay kalem dan lebih memilih menanggapi celotehan tidak jelas adik tirinya.

"Jadi, sampai sejauh mana hubungan kalian?"

"Jimin suka yang tsundere ya?"

"Kalau Yoongi-ssi bagaimana?"

Demi Dewa, Yoongi hanya ingin makan siang tanpa merasa terbebani akibat rumor sialan yang entah siapa penyebarnya. Janji dalam hati, jika ia menemukan pelaku yang kurang kerjaan melibatkan namanya sebagai skandal panas minggu ini, Yoongi tidak akan segan menghajarnya di depan banyak orang. Dan lagi, hubungan apa coba yang mereka maksud? Dengan Jimin? Yoongi malah baru tahu kalau selera Jimin itu lain dari pada yang lain.

"Apa Jimin-ssi bisa menemaniku ke Perpustakaan nanti?" suara kelewat familiar membuat telinga Yoongi menegang. Jungkook datang dengan Jimin yang berjalan beriringan bersamanya, apalagi mereka terlihat sangat dekat. Jimin melemparkan senyum ketika melihat Yoongi, tentunya disambut delikan sebal dari pria berkulit pucat itu. Namun yang membuat mata Yoongi iritasi itu, keberadaan Jungkook. Kenapa pemuda itu harus mengekori kemanapun Jimin pergi, sih? Kalau naksir ya biasa saja bisa kan? Yoongi menambahkan dalam hati sesekali berdecak.

"Akan aku temani, tapi aku mau mengobrol dengan Yoongi-sunbae dulu, ne?"

GLEK!

Harus ya menyebut namanya ketika suasana tidak mendukung? Yoongi asli butuh kesabaran ekstra ketika berhadapan dengan Jimin. Polos sih boleh, tapi kalau bego jangan lah. Untung ganteng.

"Pst, sebenarnya yang jadi kekasihnya Jimin itu siapa? Yoongi atau Jungkook?" bisik Chanyeol menyita atensi Namjoon yang sedang sibuk menulis lirik lagu. Jackson angkat tangan tanda ia tidak tahu, akhir-akhir ini kadar gosip suka meningkat, dia sering ketinggalan update.

Namjoon tersenyum masam. "Baru diberi tahu, sekarang dia malah dekat dengan junior lain. Ya Tuhan, Jimin itu punya telinga buat apa? Pajangan?" desahnya lelah. Seokjin yang mendengar ucapan Namjoon mau tidak mau terkikik geli. Bukan salah Jimin bila mempunyai paras tampan dengan senyum playboy menawannya itu.

"Kita buat spekulasi sementara. Jadi, Jimin suka dengan Yoongi, tapi Jungkook juga suka dengan Jimin! Wah, tidak dapat senior dia juga menggaet junior manis macam si Jeon rupanya. Teman kita memang licik, Joon." Bisik Wonwoo sambil tertawa kecil. Namjoon jadi ikutan sebal dengan peringaian Jimin yang menurutnya sok kegantengan. Dia masih ingin berhubungan baik dengan Seokjin, masih ingin mewujudkan rencananya untuk bulan madu dengan kekasih tersayang di luar negeri. Jimin benar-benar harus disucikan jiwanya, bila perlu mandi bunga tujuh rupa sekalian.

"Sunbae~! Annyeong! Mau pulang bersama, tidak?"

"Tidak."

"Ayolah, sekali saja, ne?"

"Ti-dak."

Hening.

Penonton ikut terbawa suasana sampai lupa tujuan awal. Jimin dan Yoongi jadi pusat perhatian seluruh angkatan sekolah. Ada yang lebih buruk dari ini semua? Yoongi mungkin harus meminta tolong pada Seokjin untuk membelikannya tiket menuju planet lain agar tidak perlu repot-repot bertemu si playboy suka modus bernama Park Jimin. Yoongi itu tipe orang yang peka terhadap lingkungan sekitar, walaupun terlihat cuek dan apatis begitu, dia cukup perhatian. Contohnya saja, tatapan tidak suka yang berasal dari Jeon Jungkook yang ditunjukkan untuknya. Pemuda manis itu pasti merasa kalah olehnya, melihat Jimin bertingkah over hanya ketika bersamanya saja.

'Merasa cemburu, Jeon?' batin Yoongi sedikit senang. Jungkook boleh terlihat ceria dengan senyum manis terlukis pada wajahnya, tapi mata Yoongi kelewat pintar untuk dikelabui. Sedangkan di seberang sana, Taehyung yang awalnya fokus bercerita, jadi penasaran dengan tatapan mata Yoongi yang menyiratkan kemenangan. Ia pun mengikuti arah pandang sahabat kakak tirinya itu dan mendapati sosok Jungkook berdiri tak jauh dari mereka yang memasang ekspresi, marah? Cemburu? Mungkin, tapi Taehyung jelas memihak pada Yoongi. Mereka sudah saling kenal selama lima tahun, memang tidak selama Seokjin yang bahkan sudah menjalin pertemanan sejak SD dengan Yoongi.

"J-Jimin-ssi, bagaimana dengan yang tadi? Apa kau bisa-"

"-maaf, Jungkook-ah, tapi aku mau pulang bersama dengan Yoongi-sunbae." Sela Jimin merasa bersalah. Jungkook merasakan hatinya berdenyut, tapi ditahannya dengan kembali tersenyum hangat. "Tidak masalah, Jimin-ssi. Kalau begitu, aku kembali ke kelas dulu, ne."

Sosok Jungkook perlahan menjauh dan hilang ketika ia menuruni tangga. Taehyung dalam hati senang melihat perkembangan hubungan Yoongi dan Jimin, yah meski ada sedikit rasa tidak rela dalam hatinya. Selama ini, hanya dia dan Seokjin yang bisa membuat Yoongi terbuka. Kalau seandainya Jimin benar-benar menjadi kekasih Yoongi, bukan tidak mungkin Yoongi jauh darinya. Dan mungkin, tidak mau berteman dengannya lagi.

'Apa yang kau pikirkan, bodoh. Harusnya kau senang. Akhirnya Yoongi tidak perlu memendam perasaannya lagi.' Batin Taehyung. Seokjin, sama halnya seperti sahabat nya yang kelewat peka, tahu ada yang disembunyikan oleh adik tirinya. Tapi, dia akan menunggu saat yang tepat untuk bertanya. Mungkin tidak untuk saat ini. Seokjin tidak akan memakai cara kasar jika itu menyangkut Taehyung. Cukup dengan membujuknya sedikit, maka adik tirinya akan membuka lebar-lebar mulut dan hatinya.

KRINGGGGGGG!

"Ah sial, padahal aku masih mau mengobrol dengan Yoongi-sunbae. Jangan lupa nanti pulang bersama, ya sunbae~!" Jimin berlari tanpa menghiraukan tatapan geli dari banyak pasang mata. Sementara Yoongi bimbang, dia harus menunggu Jimin untuk pulang bersama atau mengutamakan gengsinya dan pulang seorang diri. Jatuh cinta itu, tidak enak, ya kan? Pikirnya sebal.

.

.

.

Jungkook tidak pernah merasa sekesal ini sebelumnya. Semua sudah ia lakukan untuk menarik perhatian Jimin selama lebih dari tiga bulan! Apa yang kurang darinya? Dia tampan, kalau tidak mau dibilang manis sih. Dia juga termasuk cerdas. Apa yang kurang dari seorang Jeon Jungkook sampai menarik perhatian Park Jimin saja sangat susah? Apa kelebihan yang dimiliki Min Yoongi? Mulutnya pedas, dia juga kasar dan suka seenaknya sendiri. Kenapa Jimin lebih memilih bersama pria ketus itu? Harusnya Jimin memilihnya! Jimin harus melihat eksistensinya, bukan fokus pada manusia mayat bernama Min Yoongi!

"Hujan rupanya. Hyung pasti sedang menyendiri di kelas saat ini, dasar." Taehyung berjalan melewati Jungkook sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pria itu. Mereka bertatapan selama beberapa menit. Taehyung terseyum kecil. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya, tak berhenti meneliti penampilan Jungkook yang masih bertanya-tanya apa maksud dari tindakan Taehyung.

"Oh? Jeon Jungkook, hm? Sedang apa di sini?" Taehyung bertanya ramah, kelewat ramah sebenarnya cuman dia cuek dan menantikan jawaban dari lawan bicaranya.

Jungkook membasahi kedua belah bibir tipisnya, "Menunggu seseorang, sunbae." Jawabnya pelan. Nyaris tidak terdengar. Kalau tidak salah, Jungkook pernah melihat Taehyung tergabung dalam meja Yoongi beberapa saat lalu di kantin. Jadi dia sahabat saingannya dalam mendapatkan Jimin?

"Jimin ada di kelas Yoongi-hyung. Kalau mau, kesana saja. Itupun jika kau mau diabaikan. Mereka sudah saling diam selama sepuluh menit." Taehyung berujar kalem. Wajahnya dibuat senormal mungkin padahal ia sudah bisa menebak respon selanjutnya dari Jungkook.

"Jimin-ssi, ada di kelas Yoongi-sunbae?" Jungkook bertanya sambil memastikan telinganya tidak salah dengar. Taehyung menaikkan alisnya, ingin hati tertawa melihat raut wajah Jungkook. Kalau Yoongi-hyung tahu pasti dia senang dan berterima kasih padaku, batin Taehyung senang.

"Iya, masa aku berbohong padamu. Kesana saja, atau mau kutemani?" goda Taehyung jahil. Seringaian nya semakin lebar ketika Jungkook menampilkan ketidaksukannya secara terang-terangan.

"A-aku permisi dulu, sunbae."

Taehyung menggeleng melihat aksi Jungkook. Melarikan diri dari kenyataan rupanya.

"Sayang sekali ya? Tapi aku tidak akan membiarkanmu menjadi penghambat bagi Yoongi-hyung." Gumam Taehyung, ia berjalan dan bersiul menuruni tangga. Kakaknya pasti sudah mengomel karena sudah dibuat menunggu terlalu lama. Biarkan saja, sesekali melihat Seokjin ngomel kan bisa jadi penghiburan untuknya.

.

.

.

"Sunbae, pulang yuk. Sudah lebih dari lima belas menit kau melihat hujan. Nanti kita ketinggalan bis." Bujuk Jimin memelas. Serius, Jimin ingin menyeret paksa Yoongi agar seniornya itu berhenti mengacuhkannya dan lebih memilih menatap rintik air hujan yang membasahi bumi. Manusia waras mana yang mengabaikan mahluk tampan di depannya lalu memandangi tetesan air dari langit? Oh Jimin sampai lupa, dia pernah mendengar Seokjin meragukan kewarasan Yoongi.

"Ya sudah kau pulang saja sana, aku masih betah di sini."

'Tuh, kan. Tuh, kan dikasih tahu malah nyolot. Ya ampun, untung kau manis, imut dan aku tidak tega merusak wajah cantikmu, sunbae. Sabarkan Park Jimin ini, Tuhan.'

"Sunbae~~!"

"Berisik! Sana pulang! Mungkin Jeon masih menunggumu."

Jimin seketika terdiam. Ia mengedip beberapa kali, dan ganti tertawa kencang. Yoongi merasakan telinganya memanas mendengar suara tawa Jimin yang ternyata memekakkan telinga.

"Sunbae kalau cemburu tambah manis, deh. Jadi ingin aku bawa pulang."

Yoongi mendelik,"Kau kira aku kucing jalanan ya?" sahutnya ketus, galak dan justru makin menggemaskan dimata Jimin. Entah siapa yang tidak waras di sini. Jimin yang kelewat memuja Yoongi, atau Yoongi sendiri yang diam-diam senang akan perhatian Jimin.

"Ya sudah, makanya ayo pulang. Hujan tidak akan berhenti sampai nanti malam. Aku tidak mau sunbae kesayanganku sakit dan aku jadi tidak bisa melihat wajahnya di sekolah." Ujar Jimin panjang lebar, secara tidak sadar ia membuat hati Yoongi berdetak lebih cepat. Dengan sedikit tidak ikhlas Yoongi bangkit dari kursinya, ia meraih tas ranselnya dan berjalan keluar kelas bersama Park Jimin, adik kelas yang pernah ia sumpahi dulunya. Yoongi suka hujan. Karena hujan menenangkan hati dan pikirannya. Karena hujan tak pernah berhenti menutupi air matanya yang terus mengalir. Dan yang lebih penting, Yoongi memiliki kenangan pahit sekaligus manis dengan hujan.

.

.

.

Sepanjang perjalanan menuju terminal, Jimin tak bosan menceritakan banyak hal pada Yoongi. Mulai dari hobby sampai makanan kesukannya. Semua diceritakan dengan detail dan rinci. Yoongi tidak tega untuk menyela dan terus menjadi pendengar yang baik. Jimin sendiri, kadang menanyakan beberapa hal pada Yoongi, meski dijawab dengan nada ketus dan ditambah delikan dari yang bersangkutan, Jimin tidak keberatan. Mengobrol dengan Yoongi saja sudah membuatnya senang.

"Ne, sunbae." Yoongi menoleh. "Apa sunbae pernah menyukai seseorang?"

"…."

Yoongi terlampau jeli untuk mengetahui maksud dibalik pertanyaan Jimin. Menyukai seseorang? Tentu saja ia pernah. Jatuh cinta sampai kehilangan akal sehat pun pernah ia lakukan. Bodoh, adalah label tersembunyi untuknya. Bodoh karena menunggu orang yang tidak pasti. Bodoh karena ia terlalu percaya. Dan bodoh, karena Yoongi tidak bisa berhenti memikirkan orang itu. Jimin melambaikan tangannya di depan wajah Yoongi, menyadarkan seniornya itu untuk kembali ke dunia nyata. Yoongi tersentak, ia merasakan nafasnya sedikit tersengal. Tatapan khawatir dari Jimin berhasil membuatnya semakin merasa bersalah karena belum bisa membuka diri pada adik kelasnya itu.

"Jimin, maafkan aku. Tapi aku-"

"-aku mengerti. Sunbae pasti belum bisa menceritakannya, kan? Aku akan menunggu sampai Yoongi-sunbae terbuka padaku! Jadi, sampai saatnya tiba, aku tidak akan memaksamu untuk bercerita." Jimin menyela, senyumnya mengembang, menusuk ulu hati Yoongi. Bagaimana bisa ia dipertemukan dengan Park Jimin? Ia sudah terlalu takut untuk jatuh cinta. Takut untuk kembali memulai. Takut dengan bayang-bayang masa lalu yang menghantui hidupnya sampai saat ini.

'Jangan, jangan menungguku, Jimin. Karena aku sendiri tidak yakin bisa membuka hatiku lagi. Aku tidak yakin, karena aku adalah pengecut. Aku adalah seorang pengecut yang suka melarikan diri tanpa menyelesaikan masalahku.' Yoongi tak berhenti memandang wajah Jimin bahkan ketika ia sudah duduk nyaman di dalam bis menuju rumahnya, ah lebih tepatnya rumah Seokjin. Dia mau menginap di rumah sahabatnya itu. Jimin adalah pria baik sekaligus bodoh. Kenapa ia harus repot-repot memperhatikan Yoongi? Kenapa Jimin harus mengatakan bahwa ia akan menunggu Yoongi mengatakan hal yang bersangkutan dengan masa lalunya? Kenapa ada manusia seperti dia?

To Be Continued

.

.

.


Note : Halo! Kembali lagi dengan saya disini. Ngaret ya saya updatenya *plak* maklum ya, saya baru wisuda tiga hari lalu, capek alias pegal semua seluruh tubuh. Dan walhasil saya mengabaikan tagihan readers *jduak* di fic ini, maaf ya saya bikin Jungkook agak nakal, iyah maksudnya gitu lah. Saya pengin membuat karakter Jungkook menjadi pihak ketiga disini. Saya udah sering baca fic Jungkooknya baik dan pengertian. Nah di fic saya, dia bakal jadi sosook yang menjadi penghambat hubungan Jimin dan Yoongi. Jadi, readers yang saya sayangi, kalau kalian tidak suka dengan karakter Jungkook di sini, bisa tekan back kok :)) saya gak akan memaksa kalian untuk baca fic saya bila kalian tidak menyukai salah satu tokohnya. Untuk Taehyung, janji saya lunas ya? Kamu nongol banyak di chapter ini. Untuk update selanjutnya bakal lama juga, saya sudah terlalu kurang ajar karena menelantarkan dua fic lainnya. So, sampai ketemu di chapter depan, readers-tachi!

.

.

Regards,

Amanda Lactis