The Heroes of Olympus © Rick Riordan, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Pairing: Jason Grace/Piper McLean. Genre: Romance . Rating: K+. Other notes: untuk 30 days challenge; prompt #2: accusation.


Jason bermimpi aneh tadi malam, yang membuatnya kebanyakan bengong saat sarapan pagi.

Ia yakin dari meja sepuluh Piper pasti memutar bola matanya. Atau, menatap khawatir. Jason menolak dikatakan anak manja, tapi ia rasa ia butuh yang kedua.

Tadi malam Aphrodite menuduhnya mengambil kalung Harmonia, putrinya bersama Ares, dan berniat memberikannya sebagai kado hari jadi pada Piper. Jason mengelak, dia sempat berbicara di dalam mimpi bahwa dia bukan pencuri dan menolak tuduhan Aphrodite, tapi Aphrodite hanya mengernyit kesal kemudian meninggalkannya begitu saja.

Dasar dewa-dewi.

Jason kurang mengerti, kalung itu punya masalah apa. Concordia, aspek Romawi Harmonia, tidak punya asosiasi apapun dengan kalung, setahunya. Dan konyolnya, Aphrodite tidak tahu bahwa sebenarnya dia membeli, dan bukan mengambil? Ah, dewa-dewi memang tak tahu segalanya, sepertinya, sama seperti mereka tak bisa melakukan segalanya dalam hal menyelamatkan dunia dan malah minta tolong para pahlawan. Jason harap tak ada yang mendengarnya.

Asumsi-asumsi yang lain dalam hatinya agak menakutkan, Jason khawatir jangan-jangan Aphrodite adalah pelanggan barang-barang mahal di Mall Olympus, dan tidak suka putrinya diberikan kalung abal-abal dari toko kecil di sudut gang. Namun Jason yakin Piper lebih suka yang berseni daripada yang mahal. Lagipula, kantong siswa SMA bisa apa, sih?

Akan tetapi, lagi-lagi, Jason tak bisa menghubungkannya. Aphrodite menuduhnya mencurikah? Kalung Harmonia? Apa jangan-jangan kalung yang ia beli adalah barang hasil tadahan?

"Hei, man." Tepukan pada meja membangunkan Jason. Jason tersentak dan nyaris menjatuhkan sendoknya. Leo memutar-mutar kunci inggris mini di jarinya, seakan membuatnya jadi baling-baling.

"Apa?" Jason pura-pura baik-baik saja.

Leo mencondongkan diri ke depan, berbisik, "Pondok Hermes sedang mengadakan diskon besar-besaran. Lihat, aku dapat kunci inggris edisi langka ini."

Jason mengernyit. "Apa bedanya dengan kunci inggris biasa?"

Leo mengelus-elus benda itu seakan sedang mengagumi sebuah karya seni. Seakan sedang mengagumi kecantikan Calypso. "Aku tidak mungkin menjelaskan ini pada Tukang Panggil Petir. Cuma kaum pandai besi yang mengerti ini, Jason, jadi sebaiknya segera kau datangi pondok itu setelah sarapan. Piper butuh sesuatu untuk hari jadi kalian!"

Mendapatkan kalung di toko dunia manusia saja sudah membuatnya tertuduh membeli barang tadahan, apalagi membeli dari anak-anak Dewa Pelindung Pencuri. Jason meneguk ludah. Dia tinggal menunggu besok pagi saat ia terbangun untuk mendapati racun berwarna merah muda diletakkan di samping tempat tidurnya.

"Eh, yah, terima kasih, Leo, tapi aku sudah menemukan hadiahnya."

Leo berhenti mengagumi barang beliannya. Untuk sesaat dia tak berkedip. Jason mundur.

"Mana?"

Jason mengambil gelas minumannya dan segera meneguk dua-tiga kali. "Rahasia." Lalu dia pun kabur.


Sebenarnya ia bisa langsung bertanya pada Annabeth, tapi Jason menundanya. Sambil menunggu anak-anak dari pondok lain menyiapkan diri untuk api unggun, Jason menimang-nimang kalung yang ia beli. Dari harganya yang—ehm,jangan beritahu Piper, walaupun perempuan itu tak akan keberatan, tetap saja Jason tak enak—cukup terjangkau, tidak mungkin kalung ini adalah sebuah benda mitologis yang magis dan luar biasa.

Mimpi pasti berarti sesuatu. Jason akhirnya menyerah dan menyimpan kalungnya, memutuskan untuk tidak memberikannya secara khusus di acara api unggun.


Annabeth membelalak ketika Jason memperlihatkan kalung itu. Sudah kuduga, pikir Jason, dan ia mau tak mau harus merasa siap diadili karena akan menyerahkan barang tadahan.

"Maksudku—aku tahu mungkin aku bersalah, dan melihat dari wajahmu, aku memang harus membeli hadiah baru," karena ia yakin bahwa Annabeth adalah pemberi pertanda yang baik meski hanya melalui matanya, "tapi bisakah kauberi tahu kenapa Aphrodite sangat marah? Ah, maksudku—ibu mana yang tak marah melihat anaknya diberi barang curian, tapi—"

Annabeth mengambil kalung itu dari Jason, lalu menggeleng-geleng, "Masalahnya bukan di perkara 'curian', Jason, tapi, coba pikirkan, ibu mana yang tak marah ketika calon menantunya malah memberi kutukan pada putrinya?"

Jason merasa disengat oleh listriknya sendiri di dalam gendang telinga. "Hah? Maksudmu?"

"Dengar." Annabeth mengembalikan kalung itu cepat-cepat pada Jason, seakan takut dia akan kena kutuk, "Aku memang belum pernah melihat wujud asli kalung Harmonia, tapi dilihat dari modelnya yang begini, mungkin saja ini adalah tiruan dari benda itu, yang bisa saja memiliki efek yang sama, karena kalung ini berada di lingkaran di mana mitos-mitos menjadi nyata. Jangan pernah berikan ini pada Piper kalau kau ingin hidup kalian bahagia!"

Jason merasa dihakimi. "Aku hanya tahu Concordia dan tidak dengan kisah Yunani-nya, Annabeth, jelaskan padaku."

"Begini. Jangan singgung-singgung ini di depan Piper, ya, atau mungkin juga Leo. Aphrodite adalah Dewi Cinta, yang bisa menyebar cinta pada siapa saja, arti positif maupun negatif. Dia 'menikah' dengan Hephaestus, tetapi dia berselingkuh dengan Ares, dan Harmonia adalah salah satu putrinya. Sebagai bentuk dari kemarahan Hephaestus, pada pernikahan Harmonia dia memberikan hadiah berupa benda ini sebagai kutukan. Akan jadi kuliah yang panjang kalau kuceritakan riwayat kalung ini setelahnya, maka kesimpulan utamanya adalah, cari hadiah lain!"

Jason bengong.

Menjadi agak-agak bodoh dalam suatu hubungan itu memang bukan suatu pilihan.

(Uh, lain kali dia memang harus lebih banyak mencari tahu dulu tentang mitos-mitos Yunani, karena benda kecil pun bisa berarti besar!)


Piper senang sekali sampai melonjak gembira ketika menerima karya seni kecil berupa huruf-huruf penyusun namanya dari bulu-bulu yang biasa dia gunakan untuk rambutnya.

Jason lega setengah mati.

end.


a/n: yep, mitos kalung Harmonia itu memang ada. dan gaes omg idk what i just wrote /sobs
.

.

p.s.: settingnya post blood of olympus, anggap aja setting trials of apollo itu...udah lewat orz dan mereka hidup aman damai sentosa duh