The Heroes of Olympus © Rick Riordan, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Pairing: Jason Grace/Piper McLean. Genre: Romance. Rating: K+. Other notes: untuk 30 days challenge; prompt #5: haze.


Jason mendaki, dan kabut semakin tebal di atas bukit. Ia tak tahu bukit apa ini, mungkin Bukit Blasteran, tapi setahunya bukit itu tak pernah berkabut setebal ini (bahkan dari cerita-cerita masa lalu pun).

Halimun itu tebal, tapi tak membutakan, Jason masih bisa melihat beberapa hal. Pohon-pohon, batu-batu yang mengumpul, tanah yang berundak-undak, dan sebagian lumut yang berkerumun di bebatuan dan batang-batang pohon.

Ada perempuan kecil di dalam halimun. Dia duduk di tempat yang agak landai. Menunduk, mengusap-usap matanya, ketika makin didekati terdengar sayup-sayup suara terisak-isak. Menyayat, membuat Jason terburu-buru untuk mendekatinya.

Ketika mengamati wajah gadis kecil itu (sekitar tujuh, atau enam tahun?), Jason terkesiap, nyaris mundur. Itu Piper, rambutnya berantakan dan tubuhnya ringkih. Jason menggapainya, bermaksud memeluknya, tetapi tangan Jason hanya merangkul kabut. Ia mengamati tangannya—tidak tembus pandang. Namun saat dicobanya untuk memeluk Piper kecil lagi, tak ada yang bisa ia raih.

Ia melihat sekeliling. Mimpi. Aku pasti sedang bermimpi. Jason mencoba untuk mengikuti arus, karena tampaknya tak ada bahaya.

Di samping Piper, di kabut, Jason menemukan visi. Piper kecil di sekolahnya, didorong oleh anak-anak lain, sebagian tertawa, sebagian memasang wajah mengejek. Jason dapat mendengar satu orang dari mereka berkata, "Kasihan, deh, ibumu benci kamu, makanya dia meninggalkanmu!" Lalu seseorang menyahut, "Kamu jelek, sih, makanya ibumu benci melihat wajahmu!"

Jason mengepalkan tangannya ketika dadanya mulai terasa nyeri mendengar semua itu.

Visi itu berganti lagi menjadi Piper kecil yang menangis di pangkuan ayahnya, bertanya soal ibunya, tapi Tristan tak bisa menjawab apapun.

Jason begitu ingin berteriak bahwa Aphrodite sangat mencintainya, bahwa Piper adalah putri kesayangannya, yang dia wariskan kekuatan tak terduga. Piper kecil harus tahu, maka Jason pun mencoba memanggilnya—hanya untuk mendapati bahwa tenggorokannya tercekat dan tak ada sedikit pun suara yang terdengar.

Piper kecil mengabur. Jason tahu usahanya percuma, tapi dia rasa dia memang harus melakukan sesuatu, dia mencoba memeluk sebelum Piper benar-benar menghilang, tapi pada akhirnya gadis itu memang benar-benar lenyap.

"Pipes!" baru Jason bisa bersuara. Dia berjalan, mengikuti instingnya. Kabut tersibak perlahan di tempat yang lebih tinggi.

Jason berlari setelah melihat sesosok perempuan di atas sana.

"Pipes!"

Piper terlihat lebih dewasa, usia belasan, dan ia menoleh ke kiri dan kanan seolah bisa mendengar panggilan Jason. Jason menggapai pundaknya, dia masih lebih pendek daripada Piper yang sekarang, dan yang mengejutkan adalah, Jason bisa menyentuhnya seutuhnya.

"Siapa kau?"

Jason menarik tangannya canggung. Ia berusaha tersenyum sebaik mungkin.

"Aku Jason. Aku adalah orang yang akan datang di masa depanmu. Jangan takut."

Kabut membuat bayang-bayang aneh di wajah Piper muda.

Piper menelengkan kepalanya, sekarang ia menghadap sepenuhnya pada Jason. Di belakangnya, menari visi-visi diri Piper yang dikucilkan di ruangan kelas, dibiarkan sendirian di meja makan sekolah, ditinggalkan oleh Tristan yang sibuk, ditertawakan oleh laki-laki di kelasnya, berada di sebuah gedung yang berbeda dan berdiam diri di sudut ruang kelas.

"Kau baik-baik saja?" Jason memulai lagi. "Karena aku melihat kau seperti baru saja ... bersedih."

"Semua orang membenciku."

Suara Jason parau, "Aku tidak."

"Bagaimana mungkin aku bisa percaya?"

"Kau akan melihatnya di masa depan."

Piper muda menatap Jason nanar ketika tubuhnya mulai ditelan kabut. Kali ini Jason tak berusaha mengejar, sadar bahwa apapun yang ia lakukan, Piper akan tetap menghilang. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa ini cuma mimpi.

Jason berbalik, mencari jalan keluar, tetapi lagi-lagi kabut membawakan cerita untuknya. Visi. Ia melihat Piper bersembunyi di balik tembok, barangkali di dalam rumahnya, kemudian berlari, menjatuhkan sebuah majalah ke lantai, dan Jason tahu bahwa Piper kecil itu menangis. Jason dapat melihat tulisan pada majalah yang terbuka itu. Berita buruk; putri seorang aktor terkenal adalah anak nakal, pemberontak yang gagal dalam didikannya.

Dibiarkannya kabut menutupi semuanya. Tatapan Jason melekat pada bebatuan di dekat kakinya. Jika dia yang hanya melihatnya pun merasa seperih ini, bagaimana dengan yang sudah mengalaminya bertahun-tahun, mulai dari perundungan hingga ayah yang terlalu sibuk, perhatian yang tak kunjung dia dapatkan dari satu-satunya orang yang ia punya? Jika Jason punya Perkemahan Jupiter yang telah menjadi bagian hidupnya sejak ia kecil, maka Piper mengalami ratusan (atau ribuan?) hari yang berat di dunia manusia biasa, tak seorang pun seperti dia.

Tak seperti mimpi buruknya yang lain, yang berakhir dengan sangat mengejutkan dan menyentakkan, kali ini Jason menyerahkan dirinya pada kabut, dan membuka mata dengan tenang.

Cahaya putih membuatnya mengernyit.

Di dalam kamar berlampu remang, komputer menyala. Di depannya, Piper, memakai kemeja biru muda yang kebesaran (Jason mengenali, itu kemejanya) dan celana pendek, memegang mug yang barangkali berisi teh hitam, berdiri di depan meja komputer kamar mereka.

Jason masih merasa pedih.

"Pipes?"

"Hei." Piper menoleh, menyesap minumannya. "Ingin teh juga?"

"Pukul dua pagi, Pipes, ada apa ini?"

"Aku baru ingat." Piper duduk di atas meja alih-alih kursi. Ia menghadapkan layar kepadanya. "Lusa ulang tahun Ayah."

Jason jatuh kembali ke bantalnya. "Kita bisa beli jam tangan besok. Eh. Hari ini, maksudku."

"Aku sempat memikirkan itu juga, tapi Ayah bisa membeli banyak sekali dengan uangnya sendiri. Yang dia butuhkan adalah yang lebih unik. Aku sempat kepikiran membelikan amfora untuknya, dengan lukisan opsional yang bisa dibaca sebagai cerita."

Melihat tak ada tanda bahwa Piper akan menyerah, Jason pun bangkit. Ia menyibakkan selimut dengan susah payah. Dia bergabung, sama-sama duduk di atas meja, di balik punggung Piper. Diamatinya lekat-lekat, lalu mengingat-ingat Piper yang lebih ringkih di dalam mimpinya, dan sadar bahwa perlu ada catatan; bahwa mimpi demigod ternyata juga bisa membawa masa lalu yang tak pernah dilihat.

Piper yang sekarang tak perlu dibandingkan; andai baru mengenal Piper pun Jason sudah bisa mengenal kehidupannya. Piper punya lebih banyak bekas luka sekarang, tetapi punggungnya tak bungkuk karena menahan kemurungan dan pundaknya tidak tegang karena was-was akan dicampakkan lagi. Tubuhnya lebih berisi, wajahnya selalu punya cara untuk memperlihatkan kebahagiaan.

"Jason, aku tahu kau baru memimpikan sesuatu. Ceritakanlah."

Jason membuat keputusan. "Bukan mimpi buruk."

"Tapi wajahmu bilang sebaliknya."

Piper hanya melihatnya sekilas sejak ia bangun, tapi dia tahu banyak hal. Jason tak menyesal berada di sini bersama Piper, dan hari berikutnya. Berikutnya lagi. Dan seterusnya.

"Bagaimana kalau disimpan saja? Ingat, perjanjian soal cerita dan tidak."

Piper menoleh. Pernah ada perjanjian bahwa jika suatu mimpi sebegitu tak menyenangkannya, tak perlu menceritakannya secara terburu-buru, atau mungkin simpan saja semuanya sampai sesuatu terjadi dan mau tak mau harus diceritakan demi keselamatan.

"Baiklah." Piper minum lagi lalu meletakkan mugnya. "Jadi, apa ya? Ada banyak toko barang antik daring, tapi belum ada yang menawarkan jasa melukis amfora dengan teknik seperti Yunani Kuno ..."

"Mungkin kita perlu hadiah lain," Jason mengintip layar. "Misalnya, cucu."

Piper menoleh begitu cepat sampai-sampai Jason tak sadar ditatap. Laki-laki itu tertawa kecil. "Oke, oke, aku bercanda. Aku tahu, tidak sekarang, tidak sampai kita bisa punya rumah di Roma Baru dan lebih aman punya anak di sana."

"Dan kita lebih mampu untuk menjadi orang dewasa."

Jason mencerna lagi kata-kata yang meluncur begitu saja barusan. Mungkin jauh di lubuk hatinya dia memang menginginkannya, walaupun logikanya berkata belum. Ia buru-buru menggeleng, belum saatnya memikirkan hal seperti itu.

Mengamati Piper yang masih menggulirkan laman untuk mencari benda-benda antik, Jason mendapat ide.

"Bagaimana kalau beli yang polos dan minta Rachel melukis?"

Piper menghadap Jason dengan mimik serius. "Aku tidak memikirkan itu sebelumnya! Eh, tapi apa Rachel punya waktu—"

"Rachel selalu punya 'cara Rachel', oke?"

"Whoa, Jason, kau jenius!" Piper menggenggam wajah Jason, mengecup bibirnya cepat sebelum akhirnya berbalik lagi menuju komputer dan mengklik sesuatu. "Aku sudah memilih satu yang terbaik tadi sebagai rencana cadangan, hm, hm, mana daftar keinginan, ya ..."

Sekali lagi, Jason mengamati punggung Piper.

Betapa ingin ia memeluk Piper untuk membayar semua masa berat di belakang sana.

"Pipes."

"Uh, yeah?"

"Katakan saja kalau aku kurang banyak memelukmu, ya."

"Hah?" Piper berbalik tak percaya. "Maksudmu?"

"Yah, hadiah baru untuk Ayah. Deal. Saatnya tidur, oke? Jangan lupa klik check-out dan bayar barang belianmu, Sayang. Mari tidur." Dengan ciuman di kening, Jason membuat Piper tambah bingung.

Jason tertawa kecil.

end.


a/n: amfora (amphora), kendi dengan pegangan pada kedua sisinya, yang berleher pendek yang digunakan di peradaban lampau untuk membawa atau menyimpan anggur atau minyak. tapi pada masa kekaisaran roma, bisa digunakan sebagai satuan volume. \o/