The Heroes of Olympus © Rick Riordan, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Pairing: Jason Grace/Piper McLean. Genre: Romance. Rating: T. Other notes: untuk 30 days challenge; prompt #6: flame.


Kadang-kadang, saking kurang kerjaannya, Jason menjadi profesor pengamat mata Piper.

Mata Piper pernah berwarna hijaunya musim semi, yang sesaat kemudian memudar menjadi langit cerah musim panas, untuk sedetik kemudian menjadi kelamnya langit musim gugur, lalu berubah lagi warna rerantingan dan dedaunan di musim semi. Pergantiannya nyaris tak pernah sama dalam segi waktu dan kombinasi setiap kali Jason mengamati.

Dia tak pernah melihat mata Aphrodite secara langsung—tapi ia ragu. Sebutlah ia akan kualat, tapi ia yakin mata Piper bahkan lebih cantik daripada milik ibunya.

Malam ini, di bawah langit sudut Los Angeles yang sedikit tersisihkan dari kerlap-kerlip lampu metropolitan yang tak bisa tidur sebelum fajar, Jason melihat warna musim semi yang lama, terutama ketika Piper bilang,

"Tunggu di sini, ya."

Di samping sebuah gedung tinggi yang sedikit gelap, Jason membiarkan Piper pergi sesaat. Tak ada pekerjaan mengisi waktu yang pasti, Jason mengingat-ingat kembali kapan terakhir kali ia mengagumi mata Piper. Barangkali satu hari yang lalu, atau satu jam yang lalu. Oh, atau satu detik lalu? Kali pertama terasa sangat, sangat jauh tertinggal di belakang.

Jason lama-lama bertanya-tanya apakah Piper punya warna lain yang tersembunyi, yang tak ia tahu.

Omong-omong soal lama, Jason rasa Piper tidak mungkin menghabiskan waktu hingga lebih dari lima menit hanya untuk membeli sekaleng minuman dingin yang lupa diambilnya. Toko dua puluh empat jam yang ada di setiap sudut kota tak mungkin memiliki antrian mengular. Jason memutuskan untuk keluar dari tempatnya menunggu, kembali ke jalan yang tadi mereka lewati.

Dia berhenti di trotoar.

Piper membentak-bentak, tak sadar Jason muncul, "Aku punya tunangan! Sekali lagi kau menyebutku begitu, tanpa sempat pacarku datang pun aku akan menendang kepalamu."

Laki-laki di hadapan Piper, memunggungi Jason, memakai beanie bergambar tengkorak dan berjaket hijau lumut, mendekati Piper, berusaha menggenggam wajahnya. "Ayolah, Nona Manis, tunanganmu tak melihatmu. Aku begitu ingin melihat apa yang ada di balik jaketmu. Aku selalu suka cewek berkulit eksotis."

Piper menampar, tanpa ragu. "Tolong otak kosongmu itu diisi agar bisa membedakan mana cewek yang mengubah demi kecantikan dan cewek yang memang memiliki warna kulit berbeda."

"Berani juga kau untuk ukuran wanita," si lelaki bertindak cepat dengan menangkap tangan Piper, "seksi dan berani, aku suka sekali. Di tempat tidur kau pasti menantang."

Jason baru saja akan menerjang laki-laki itu (atau menyerangnya dengan petir, mana saja boleh), dan berbisik horor, siapa yang kau sebut seksi, tapi Piper membanting laki-laki itu lebih dulu ke tanah. Piper berlutut di dada laki-laki itu sambil menatapnya marah,

"Kalau kau punya waktu untuk merayu seorang perempuan dan bermaksud melakukan pelecehan, kau semestinya punya waktu untuk mendidik otak dan mulutmu."

Aksi Piper telah mengundang perhatian beberapa orang pejalan kaki, dan Jason cepat-cepat menghampirinya.

"Pipes, sungguh, seharusnya tadi kau memanggilku!"

Piper menggamit tangan Jason dan berjalan cepat saat laki-laki itu mencoba bangkit.

"Beres sebelum tambah kacau. Tenang saja, dia tak sempat macam-macam."

Jason menatap Piper. Kemarahan masih tercetak jelas di wajahnya, bibirnya memberengut dan alisnya berkedut tajam.

Dan matanya,

oranye-cokelat kemerahan, bergantian mendominasi.

Jason merasa kembali menyaksikan api unggun di Perkemahan Blasteran. Mungkin seperti itulah Piper di masa lalunya, saat orang-orang mengganggunya, menyudutkannya.

"Padahal aku sudah siap menyambarnya dengan petir ... atau menerbangkannya lalu menjatuhkannya di saluran pembuangan air."

"Simpan saja itu untuk para monster, Bocah Terang. Orang-orang seperti dia harus merasakan bagaimana rasanya dilecehkan balik, minimal mengerti rasanya dijatuhkan harga diri."

Api itu masih menyala.

end.


a/n: tujuan dari adanya bagian ini adalah meningkatkan kesadaran (awareness) bahwa perempuan masih sering sekali jadi objek untuk banyak hal tak mengenakkan. salah satunya adalah soal 'godaan' dalam arti negatif. mulai dari catcalling hingga pelecehan seksual. wake our awareness.