The Heroes of Olympus © Rick Riordan, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Pairing: Jason Grace/Piper McLean. Genre: Romance. Rating: T. Other notes: untuk 30 days challenge; prompt #7: formal.
Jason ingin pulang saja.
Dididik serigala, besar bersama orang-orang Romawi yang disiplin, harus tepat waktu dengan bumbu ala militer yang keras, membuat Jason super kagok saat berhadapan dengan hal-hal berikut ini (sepaket, tentu saja);
makan malam dengan porsi mini, lilin-lilin cantik yang sebetulnya percuma karena kandelir di atas menyilaukan, minuman dengan gelas berkaki tinggi tapi bermulut kecil (sumpah, minumnya susah!), dan tata cara makan yang bahkan punya aturan di mana kau harus meletakkan saputangan.
Namun, tak ada jalan lagi. Dia tak bisa merengek seperti anak kecil. Di samping itu, Piper di sisinya terlihat nyaman-nyaman saja.
Omong-omong, barangkali Piper bisa mengalihkan perhatiannya dari acara makan malam yang sangat menyiksa ini. Perempuan itu bergaun merah (aduh, hot, kalau Jason meminjam cara bicara Leo), membuatnya nyaris menyamai ibunya. Mungkin kalau dia menggantikan posisi ibunya sebentar di Olympus, orang-orang akan mengira dia benar-benar Aphrodite. Rambutnya yang biasanya urakan ditata sangat rapi menjadi gelung tinggi dengan juntai-juntai manis dari potongan yang biasanya meliar. Dia menghabiskan waktu di salon selama dua jam dan Jason mendengar gerutuannya.
Piper menolak tawaran penata rias untuk memakai lensa kontak, dan Jason bersyukur. Dia tetap bisa melihat tatapan Piper yang antusias diisi oleh tarian api dari lilin, bercampur dengan warna kaleidoskopnya.
Selebihnya, malam ini merepotkan. Kalau bukan karena tamu yang jauh-jauh datang dari London ini adalah kenalan baik Tristan, dan Piper yang sangat ingin berkenalan dengan rekan orang itu demi pendidikan seni teaternya, Jason takkan rela. Lebih baik ia terbang ke Roma Baru saja, main game bersama Percy, atau main-main ke bengkel Leo walau mesin berisik yang berkelontang di sana bisa saja membuatnya tuli.
"Jadi, Jason Grace, kurasa kau harus mendengar yang satu ini. Kami sedang antusias untuk mengubah tren perfilman."
Err, tapi Jason berusaha terlihat keren, "Benarkah? Aku sangat suka serial-serial superhero, tapi kurasa yang kali ini pantas didengar." Separuhnya bohong. Jason cuma bisa mengabsen nama-nama anggota The Avengers. Tanyalah siapa musuh utama Tony Stark di salah satu komik, ia jadi bego mendadak.
"Sudah kuduga, pria muda sepertimu pasti suka yang seperti itu. Namun kau harus dengar yang ini, Nak, proyek kami berikutnya akan melibatkan campuran mitologi Yunani dan fantasi, lalu fiksi ilmiah, tapi tak lupa ditambahi tragedi untuk keluar dari jalur, dan supaya bumbu Yunani Kunonya terasa!"
Refleks, Jason langsung menoleh pada Piper, dan Piper juga sedang memandangnya.
"Namun maaf sekali, Nak, tidak bisa lebih banyak detil, kecuali, tentang Medea, Hecate, dan Tristan McLean," ia berkata sangat nyaring sambil menepuk-nepuk bahu Tristan, yang hanya tersenyum simpul. Untung saja lantai ini disewa secara privat, kalau tidak, bocoran tidak ditanggung.
Jason melirik Piper yang tampak lebih tegang.
"Dan, Tristan, putrimu sekarang sedang menempuh master di bidang seni teater? Woodlock, dia pasti ingin mendengar banyak hal darimu!"
Jason mengamati percakapan yang mulai terjadi antara Piper dengan laki-laki botak di samping si produser ini. Piper mulai tenang kembali, dan tampaknya dia sudah menjadi dirinya sendiri lagi.
Jason siap-siap mati bosan.
"Tristan, menantumu ini bekerja, atau sedang kuliah juga?"
"Sedang kuliah sambil bekerja sambilan di California. Jarak jauh."
"Hmm." Dia mengangguk-angguk. "Programmer?"
"Bukan," Jason menyanggah sesopan mungkin. "Aku, bersama temanku menjadi konsultan firma aristektur." Sayang sekali nama Roma Baru tak bisa disebut. Jason harap orang ini tak bertanya lebih jauh.
"Dia berbeda dari kalian, ya, tapi baguslah. Keluarga kecil kalian berwarna. Padahal, seandainya dia bekerja di bidang seni digital atau semacamnya, dia bisa ikut bersama kita dalam proyek ini. Ada lebih banyak staf yang dibutuhkan untuk film ini. Ini proyek besar, Tristan."
Jason bisa melihat peluang, "Aku dan temanku bisa membantu menjadi konsultan bangunan kuno. Film Anda butuh banyak hal semacam ini, 'kan? Setidaknya, dalam beberapa set. Aku dan temanku, dia arsitek ulung, biasa menangani bangunan-bangunan kuno."
Jason memucat seketika. Untuk apa bangunan kuno? Matilah dia.
"Oh, kalian punya spesialisasi tertentu? Mengapa tidak? Akan kumasukkan ke dalam daftar!"
Dirasanya tangan Piper sedang berusaha untuk menenangkannya, menepuk-nepuk punggung tangannya, berusaha tak kelihatan meski di atas meja.
Dua pria tua di depannya melanjutkan pembicaraan sambil makan. Jason mendorong piringnya—kemampuan makan cepatnya di saat seperti ini malah membuatnya makin mati gaya. Dia melirik Piper, yang sesekali masih membicarakan hal-hal sederhana tentang teater-teater di Inggris, mulai dari yang bertema politik hingga masa klasik. Ia menunggu beberapa menit, hingga hidangan penutup datang, dan masih merasa dia adalah roda kelima yang kalaupun tidak datang, tidak akan dipedulikan. Namun diingatnya soal prospek baru yang bisa dimulainya bersama Annabeth, dan itu artinya ia bisa bekerja bersama Tristan (sesuatu yang dinantinya sejak lama tapi tak pernah ada kesempatan), ia mencoba untuk tidak menyesali malam ini.
Piper masih mencuci tangannya saat Jason keluar dari toilet. Jangan-jangan dia memang mengulur waktunya.
Tak ada siapapun selain mereka, maka Jason pun masuk ke area toilet wanita.
"Aku melihat wajah tegangmu tadi, Pipes."
"Oh," Piper tertawa kecil. "Medea. Trauma kecil."
Jason bersandar di konter, dekat mesin pengering tangan. "Aku bertanya-tanya, apakah dia sedang merancang tragedi yang cukup mengerikan antara Medea dan Jason yang hidup lagi di dunia nyata, yang bergabung dengan skuad sihir, dan dia minta tolong pada Hecate ..."
Piper menoleh cepat. Agak syok. "Imajinasimu mengerikan. Kau bisa menjadi asistennya."
"Uh, tidak, terima kasih. Itu kedengaran ringan sekali."
Piper diam sekian lama, hanya mengibas-ngibaskan tangannya di atas wastafel. "Medea. Jason. Ingat saat aku berperan jadi Medea di salah satu teater di semester tiga dulu? Kadang-kadang aku takut."
"Medea mendatangimu dalam mimpi?"
Piper tertawa pahit, Jason merasa aneh mendengarnya. "Kita, jangan sampai berakhir seperti Jason dan Medea, ya."
"Aduh, Pipes," Jason bergerak mendekat. "Hanya karena nama kami sama, dan namaku diambil darinya, bukan berarti kita—"
"Hera turut andil dalam kisah cinta mereka. Mirip cerita siapa, Jason?"
Untuk sesaat, Jason terpaku. Poin itu sempat luput dari ingatannya. Harus diakui, jika bukan Hera yang merancang skenario bahwa dia dan Piper pacaran dalam Kabut, ia takkan tahu sedang apa dia sekarang, sedang di mana, dan apakah yang bisa ia lakukan jika tidak masuk ke dalam keluarga McLean dan lingkaran pertemanan mereka.
"Kita harus berhenti membandingkan untuk tetap hidup bahagia." Jason merangkul Piper, kemudian mencium puncak kepalanya. "Jason masa kini dan masa lalu berbeda, dan kau bukan Medea. Ibu tiriku memang bermain-main dengan kita, tapi aku tak akan bermain-main. Putri raja sekalipun tidak kuperlukan, karena aku bukan Jason dalam mitos."
"Kau selalu bisa membuat kata-kata di depanku," Piper menepuk dada Jason, "tapi lihatlah, di depan sana kau akan kagok lagi."
Jason menggerutu. "Bisa cepat pulang saja, tidak?"
end.
a/n: medea; jason. tokoh-tokoh dalam mitologi yunani. medea adalah cucu helios (dewa matahari), jason adalah pahlawan dari argo, yang berhasil mendapatkan kain wol emas. menurut versi apollonius, medea menolong jason karena hera meminta aphrodite atau eros untuk membuatnya jatuh cinta pada jason.
cerita akhir dari medea dan jason ada banyak versinya, salah satunya adalah jason meninggalkan medea demi seorang putri raja, dan medea membunuh anak-anaknya, tapi ada pula anak-anaknya yang membantu membalas dendam atas pengkhianatan jason pada medea.
