The Heroes of Olympus © Rick Riordan, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Pairing: Jason Grace/Piper McLean. Genre: Romance. Rating: T. Other notes: untuk 30 days challenge; prompt #8: companion.


Di saat-saat seperti inilah Jason berharap rumah ini jauh lebih kecil.

Atau mereka bisa membeli sebuah apartemen mungil di sudut kota atau di ujung Roma Baru saja. Kadang-kadang sempitnya ruangan bisa menyembuhkan kesepian, karena benda-benda mengelilingi begitu dekat, setidaknya bagi Jason.

Sudah pukul sepuluh. Biasanya Piper sudah pulang, kecuali ada penampilan yang harus dibimbingnya, atau grup choir yang membutuhkan panduannya, tapi biasanya dia selalu mengabari. Tristan pun sepertinya tidak jadi pulang hari ini, sesuatu yang cukup disesali Jason.

Jason menyerah dengan game di hadapannya, karena tanpa Leo permainan itu terlalu hambar, atau minimal Percy yang bisa menandinginya.

Orang-orang akan menyukai pemandangan pantai yang langsung bisa dilihat jika menyebak kerai di ruang tengah, namun ketika Jason menyibaknya, dia sudah benar-benar bosan hingga tak sampai lima detik memandang dia pun menutupnya kembali. Sedikit banyak ia menyesal mengapa ia tidak lama-lama berdiam di Roma Baru saja di waktu-waktu padat Piper per semesternya. Membantu Annabeth dari jarak dekat terdengar lebih menyenangkan.

Jason pergi ke pintu utama di bawah untuk memastikan ia sudah menguncinya, berikut jendela-jendela di sekitarnya. Kalau sedang musimnya, biasanya akan ada paparazzi yang berkeliaran di seberang jalan, memata-matai dengan insting setajam elang. Jason pernah hanya menyibakkan tirai dan mereka menyadarinya. Memang susah tinggal bersama mertua yang merupakan artis besar.

Sebuah mobil singgah di depan rumah. Jason mengernyit. Tamu?

Tidak.

Piper turun dari bangku belakang dan melambaikan tangan pada pemilik mobil, yang segera pergi ketika Jason membuka kunci.

"Selamat malam," Piper masuk dan mencium Jason, yang rasanya hambar.

"Malam," balas Jason singkat, "bersama siapa?"

"Freddie dan Mac. Tadinya bersama Daisy juga, tapi dia turun di rumah keponakannya."

"Freddie lagi?" Jason berusaha mengabaikan egonya, tapi ia tak bisa menahan diri. "Kau bisa meneleponku."

"Kau baru datang, Jason, aku tidak ingin merepotkanmu," ucap Piper sambil berjalan masuk. Ia melepaskan karet pengikat rambutnya, menjatuhkannya sembarangan di sofa, kemudian naik. Jason setengah berlari menyusulnya, Piper masih belum selesai, "Kampusku kan jauh."

"Tapi kau tahu aku selalu melakukan apapun untukmu."

Piper berhenti di depan kamar mereka. Ia menoleh, "Hargai aku yang tidak ingin membuatmu capek, dong."

"Yeah, kau punya banyak teman di kampus, kau bersama mereka, kau menghabiskan waktu bersama mereka, dan memutuskan begitu agar kau bisa pulang bersama mereka. Tidak apa-apa. Aku menghargai itu, kau melakukan itu sementara aku tidak punya teman di rumah." Jason berbalik turun. Kamar cadangan di bawah kedengarannya hangat.

Sampai di lantai bawah, Jason mendengar kata-kata Piper, "Pulanglah ke Roma Baru kalau kau merasa kesepian di sini!"

Telinga Jason panas. Ia melepaskan kacamatanya dan menaruhnya (lebih seperti membanting) ke atas nakas di ruang tengah. Instingnya mengatakan Piper sedang menunggu tanggapannya di birai lantai atas, tapi dia tak mau menoleh. Benar sekali, dia benar-benar sendirian di sini. Dia tidak besar di sini, dia tidak biasa bergaul dengan manusia biasa senatural cara Piper dan Tristan, Pekerjaannya di Roma Baru, dunia yang familiar baginya adalah Roma Baru. Bagus.

Jason tak peduli. Dia hanya butuh tidur. Mungkin besok pagi keputusannya akan lebih matang.

Baru saja dia mendorong pintu kamar bawah, pintu depan dibuka lagi.

Tristan benar-benar datang. Tidak sendirian. Jason mengernyit.

"Oh, halo, Jason. Kupikir kau baru pulang besok pagi." Tristan mempersilakan tamunya untuk masuk. "Ini Christina, rekan kerjaku. Karena dia ketinggalan pesawat selanjutnya untuk ke Meksiko, kuajak dia menginap di sini. Kamar bawah sudah bersih, kah? Christina, duduklah dulu."

Christina seusia dengan Tristan, Jason menaksir, sekitar akhir empat puluhan, kerut-kerut tak bisa disembunyikan dari wajahnya, tapi dia manis sekaligus berwibawa. Bisa disebut Athena dalam bentuk manusia, jika Jason harus membuat analogi. Rambut pirang platina pendeknya sangat lurus, dan lipstik merahnya membuat wajahnya lebih muda.

"Ah, iya ..." Jason ragu. Ini artinya dia memang tidak direstui untuk bertengkar dengan Piper. Jangan-jangan ini campur tangan Hera lagi. Atau malah ibu Piper sekalian.

Tristan tampaknya tidak menganggap Christina teman biasa. Dia sangat ... gentleman di hadapan Christina. Dia bahkan membantu melepaskan mantel Christina.

"Panggil Piper, ya. Aku akan ke dapur dulu."

Tuh, kan. Jason menarik napas panjang, mengembuskannya pelan-pelan, seperti yang pernah diajarkan Hazel tentang metode menenangkan diri. Ia naik dengan langkah berat.

Jason nyaris saja mengetuk pintu kamar, sebelum ia merasa bahwa dirinya tolol. Ia lupa ini juga kamarnya sendiri. Seolah dia kembali seperti saat ia pindah ke sini enam tahun yang lalu.

Piper sedang mengambil pakaian ganti di lemari. Tatapannya pada Jason dingin sekali.

"Ayahmu datang bersama teman wanitanya."

"Siapa? Apakah Christina?"

Jason menahan napas, seakan sakit hati Piper hilang seketika mendengar kabar yang ia bawa. Jason mengangguk.

Piper meninggalkan pakaiannya di atas tempat tidur. Ia bergegas keluar, menengok melalui birai. Jason mengendap-endap di belakangnya.

"Ayah mengenalkannya padaku saat aku masih SMA. Kau sedang berada di Perkemahan Jupiter waktu itu. Hanya dia teman perempuan Ayah yang pernah dikenalkannya secara khusus."

"Mereka memang akrab?"

"Aku hanya tahu mereka pernah berada dalam satu proyek yang sama satu kali. Ayah tidak biasanya punya banyak waktu bersama teman-teman dari proyek lama."

"Dan mereka tidak dalam satu set yang sama?"

"Begitu yang kutahu."

Piper diam begitu lama, sampai-sampai Jason merasa tak nyaman, padahal baru beberapa menit yang lalu mereka memulai perang dingin.

"Kenapa, Pipes?" Jason mengumpulkan keberanian untuk mengatakan asumsinya. "Kau ... takut ayahmu berpaling dari ibumu?"

Tak diduganya, Piper tersenyum. Hambar. "Bagaimanapun juga, Ayah tidak pernah benar-benar memiliki Ibu."

Mendengarnya, hati Jason merasa tercubit. Dia tak punya memori tentang ayah dan ibunya bersama, dia tak pernah tahu kebahagiaan melihat orangtua bersama, yang kemudian dihancurkan saat mereka mempunyai pasangan lain. Piper ditinggalkan oleh ibunya dengan cara yang sama, dan barangkali ia juga tak tahu, tapi Piper hidup begitu lama dengan ayahnya dan dengan keyakinan bahwa ayahnya masih mencintai ibunya yang sempat diyakininya meninggal dunia—sehingga perasaannya pasti lain, pasti tak tergambarkan saat tahu ayahnya akan memiliki teman hidup yang lain.

"Sudahlah," Jason mengakhiri. "Aku minta maaf."

Piper terkejut, seolah kata-kata itu baru sekali keluar dari mulut Jason seumur hidupnya. Namun ini adalah saat yang tepat untuk minta maaf, saat pikiran mereka sudah teralihkan dan suasana sudah mencair sedikit untuk masalah mereka sendiri.

"Ah—harusnya aku ... yang minta maaf." Piper tak bisa menatap mata Jason secara langsung. "Aku terlalu banyak menghabiskan waktu—"

"Aku juga sering menghabiskan waktu di Roma Baru bersama yang lain."

Kening Piper berkedut, tapi dia menyembunyikan emosinya. "Tapi akulah satu-satunya?"

"Tentu saja,"

Piper tersenyum seperti biasanya, untuk pertama kalinya malam ini. "Kau juga tetap satu-satunya teman istimewa, Bocah Terang."

"Uh, aku bukan bocah lagi, Pipes."

"Kau tetap bocah untukku," Piper mencubit hidung Jason, "sampai ada bocah yang lain."

end.


a/n: ok lemme get this clear. so in my headcanon they are married in such a young age. karena yah, mereka hidup dengan keyakinan bahwa para demigod itu umumnya nggak berumur panjang. so they tied the knot before their twenties. (but of course i want my otp to live longer /rolls) (and as a note; usia mereka 22 di sini, karena di situ ditulis 6 tahun setelah jason ikut piper, saat itu jason baru 16 di akhir blood of olympus, so, yea)