Sudut Berdebu
Standard Disclaimer Applied
Rate T
Me or Us?
"Hei. Apa kau tidak bosan dengan bacaan itu?" sebuah suara bariton menggema.
"Hn?" suara lain, terdengar lebih feminin dibandingkan suara sebelumnya.
"Kau membaca itu selama seminggu dan masih belum selesai. Kau aneh" si bariton tadi ternyata seorang pemuda berkaus tanpa lengan berwarna hitam dengan ripped jeans alami, maksudnya bukan nampak alami dari toko melainkan alami sobek karena waktu, lapuk dengan sendirinya.
"Jellal. Mungkin pertanyaan ini bisa menjawabmu. Apa kau tidak bosan tidur setiap sore disana?" si bariton hanya mendengus ketika mendengarnya
"komparasi tadi tidak bisa dilakukan er. Kau tau tidur itu naluri manusia, sedangkan membaca. Tidak semua orang menyukainya. Contohnya aku" mungkin maksud diri ingin meyakinkan, namun nampaknya wanita yang duduk dihadapannya tidak yakin sama sekali.
"Sudahlah. Lakukan sesukamu" Jellal memutuskan untuk melanjutkan lagi tidurnya, berdebat dengan erza tidak pernah sesuai harapannya.
Masih di sudut yang sama, nuansa yang berbeda. Satu bulan yang lalu mereka bertemu, tepatnya tidak sengaja bertemu. Erza yang memang pengunjung tetap, dan jellal yang butuh ketenangan untuk melampiaskan hasrat manusiawi yang menyerangnya pada sore hari, tidur.
Sebuah dering yang familiar berbunyi menyadarkan keduanya.
"Apakah sudah pukul 6 er?"
"Hn. Ayo bangun jellal. Aku tak ingin kejadian seperti pekan lalu terulang." Jellal bangun, menegakkan tubuhnya kemudian berdiri dalam sekejap
"Baiklah ayo kita pulang, hehe" entah jera, atau memang rasa kantuknya yang hilang, erza hanya tersenyum ketika mengingat kejadian pekan lalu.
-Flash back-
Pekan Lalu
Seperti biasa erza selalu menyempatkan diri untuk membaca beberapa referensi yang dibutuhkannya pada sore hari sebelum dia pulang. Pukul 16.14 erza sampai perpustakaan ketika sebuah suara menginterupsi perjalanannya
"Sore er"
'Pemuda itu lagi' bisik erza pelan
"Kau mau kesana?" erza mengangguk mengiyakan. Jellal menghampiri erza, menjulurkan lengannya ke pundak erza, mengaitkannya kemudian menariknya pergi. Erza hanya menatapnya bingung, tanpa mengatakan apapun.
Sampai di tempat yang erza inginkan, Jellal menarik sebuah kursi kemudian duduk disana sementara erza mencari sebuah buku yang ia inginkan.
Dengkuran halus terdengar ketika erza menemukan buku tersebut. Tepat di hadapan jellal erza duduk, tanpa menghiraukannya ia mulai pekerjaan rutinnya, membaca.
.
Waktu selalu berlalu dengan cepat ketika seseorang melakukan sesuatu yang disukainya, kutipan tadi nampaknya tepat.
"Pukul 18.00?" handphone erza tidak berdering seperti biasa karena ia lupa tidak membawanya pagi tadi, tapi sepertinya langit yang menggelap membuatnya sadar.
Menyelipkan sebuah lipatan kertas berwarna, menutup buku tersebut, kemudian mengembalikan pada tempat asalnya. Erza kemudian pergi tanpa menghiraukan sosok lain yang masih terlelap di sana.
Tepat ketika langit berubah gelap sepenuhnya erza sudah sampai di rumah.
Menggantungkan tas, mengambil sebotol soft drink dari dalam kulkas, erza duduk di sebuah sofa berwarna hitam kemudian menyalakan tv. Pada dasarnya erza tak terlalu suka tayangan tv, namun suaranya cukup untuk membuat rumahnya sedikit ramai. Keheningkan terkadang membuat kebisingan dalam diri lebih kentara.
.
.
Erza hampir saja terlelap tanpa mandi jika handhphonenya tidak berbunyi.
"Penjaga Perpus?" tulisan yang tertera pada layar handphonenya. Tidak menunggu lama erza mengusap layar handhonennya kemudian menekan tombol loudspeaker.
"Ada apa paman?"
"Er-san. Apa kau sudah mengunci perpustakaannya?"
"Kunci?"
"Sesuai dugaanku. Tadi siang di lobi fakultas aku menitipkan kunci perpustakaan padamu"
Erza berdiri seketika ketika sadar apa yang dimaksud oleh lawan bicaranya
"Yatuhan paman. Maafkan aku." Erza melihat jam di atas televisinya
'Pukul 22.00. Yatuhan'
"Tak apa er-san. Apakah kau bisa kembali kemudian menguncinya. Aku tidak ingin hal yang tidak diinginkan terjadi. Kau tahu buku-buku di sana sama berharganya dengan gajiku selama bekerja di sana"
Tanpa menunggu lama erza meninggalkan rumahnya, berlari sekuat tenaga menuju perpustakaan
.
.
Lampu yang masih menyala, pintu yang masih terbuka adalah pemandangan pertama ketika erza sampai. Erza masuk kemudian mengecek segala sesuatunya.
"Syukurlah tidak ada buku yang hilang" entah erza punya keyakinan itu dari mana
Tanpa sadar posisi erza sekarang berada di sudut favoritnya, dan disana sosok yang tadi ditinggalkannya masih terlelap dengan dengkuran yang lebih kentara.
"Yatuhan" erza terpaku tidak menyangka
Menghampirinya, kemudian menepuk pundaknya. Erza tidak habis pikir, dia pikir pemuda itu akan bangun beberapa saat ketika dia pergi, biasanya juga seperti itu.
"Jellal. Jellal. Bangun. Apa kau ingin semalaman disini. Leher dan pundakmu bisa cedera" beberapa tepukan tidak berpengaruh, erza kemudian mengguncangnya beberapa kali.
Guncangan nampaknya lebih efektif ketika membangunkannya, erza akan mengingat itu. Jellal membuka matanya, membenarkan posisi duduknya, meregangkan tubuhnya kemudian menguap beberapa kali
"Apa sudah waktunya pulang er?" erza mendengus
"Apa kau sadar sekarnag pukul berapa jellal?"
"Huh?" wajah bingung menatap erza dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya
"Pukul 22.18. Ya tuhan. Untung saja aku kembali ke sini" jellal nampaknya belum mengerti situasinya
"Bukannya ini pukul 18.00 er? Alarmmu biasanya menyala pukul 18.00 kan?" ucapan jellal menyadarkan erza.
Erza ingat tadi dia tidak membawa handphone, otomatis alarm pengingat waktu di sana tidak terdengar.
"Jadi selama ini kau terbangun karena alarm ku?"
"Hn. Tentu saja. Suaranya mengganggu sekali" jellal berdiri
"Ayo kita pulang!" tanpa mengerti kekhawatiran erza jellal melangkah pergi.
'Lain kali aku tak akan lupa membawa handhphone' ujar erza sembari mengikuti jellal
Erza dan jellal pergi dari perpustakaan tepat pukul 22.30, tidak lupa dengan lampu yang sudah mati dan pintu yang sudah terkunci
.
.
-End of flash back-
Mereka kemudian keluar dari perpustakaan.
"Apa kau akan langsung pulang er?"
"Tentu saja, aku tak ada urusan lain" jellal nampak tak ingin segera pulang
"Bagaimana kalau kita makan malam dulu?" makan bersama tentu lebih baik daripada makan sendirian di rumah dengan suara tv yang menggema.
Erza mengangguk mengiyakan.
Sebuah hal lain mereka pahami bersama, bahwa saya tak bisa lagi digunakan melainkan berganti dengan kita.
"Kita akan makan dimana jellal?" erza bertanya sembari mengatur langkahnya agar bisa berbarengan dengan langkah jellal
"Apa kau sudah coba donburi di depan gerbang kampus?" erza menggelengkan kepalanya
"Donburi disana enak dan murah" jellal meyakinkan
"Baiklah, ayo kita kesana"
"Kalo mau kita bisa dapat potongan harga" ujar jellal sembari menunjukkan kupon di layar handphone nya
Kita nampaknya mereka pahami sekarang.
Author Note
Sorry guys gw upload story ini lagi. Buat story lain just wait ok? X)
RnR please XD
