Sudut Berdebu
Standard Disclaimer Applied
Borderline
Sebuah kiasan ketika seseorang mengatakan dia tidak bisa hidup tanpamu. Takdir seseorang tidak terhubung seperti itu. Bahkan lebih kompleks dari itu
"Erzaaaaaaaaaa"
"Apaaaaaaaa?"
"Eeeeeeeerzaaaaaaaaaaaaaaaa"
"Iyaaaa"
Sebuah tatapan menusuk membuat urung kata keluar dari lisan jellal. Mulut yang tertutup seketika, refleks lain muncul, menggaruk kepala yang tidak gatal kemudian memberikan cengiran. Satu semester bukan waktu yang sebentar, untuk melihat permukaan manusia kurang lebih cukup. Dan erza memahami itu.
Erza tahu beberapa hal setelah kurang lebih enam bulan dia mengenal jellal.
Jellal itu
"Mahasiswa pasca sarjana seperti apa sebenarnya kau ini?"
"Aku sudah bilang kan er. Aku hanya malas pada sore hari. Itu saja"
Seseorang yang membuat erza merasa dunia ini tidak adil. Sangat tidak adil
"Kuliah dengan Fully funded, supporting fund, dan gaji bulanan. Tinggal di dormitori kampus dengan gratis. Dan menolak tawaran abroad. Luar biasa sekali hidupmu jellal" erza menutup buku yang sedang ia baca dengan kasar meninmbulkan bunyi bruk yang sangat kentara
Ekspresi erza tak seperti biasanya, rasa aneh menguasainya hari ini.
"Jellal! Apa kau tahu kenapa setiap hari, setiap sore aku kesini kemudian membaca buku referensi itu?" erza menunjuk deretan buku di rak berwarna gading, beberapa buku disana telah selesai ia baca dan pahami
Cengiran kini berganti dengan tatapan serius jellal. Erza yang seperti ini baru sekali untuknya
"Kenapa? Aku bertanya setiap hari ketika kau membaca. Dan jawabanmu selalu tidak memuaskan. Dan kamu bertanya padaku. Jelas aku tidak tahu"
Masih ada sekitar 45 menit menuju batas waktu harian mereka berada disini. Namun langit menggelap lebih cepat dari biasanya. Hujan deras di sore hari.
Setelah jawaban jellal tidak ada lagi kata yang terdengar. Erza mengemas barang-barangnya kemudian bergegas.
"Kau mau kemana? Di luar hujan!"
Melanjutkan langkah adalah respon yang erza pilih.
Gelegar petir membuat suasana makin aneh untuk mereka. Jellal tidak suka suasana ini, sore hari jelas merupakan waktu rutinnya untuk menikmati ketenangan. Meraih erza seadaanya, jellal mencoba menahan erza
"Apa aku menggaggumu?" jellal menyeret erza menuju kursi terdekat
Menunduk meremas kain yang melekat pada pahanya, erza mencoba menenangkan diri.
"Maaf. Kondisiku sedang kurang baik. Maafkan aku" bisikan yang tidak terdengar sama sekali karena tertutup suara hujan.
Jellal berjongkok dihadapan erza, mengintip wajah yang sedang tertunduk, dengan mulut yang tadi terbuka namun tak terdengar suaranya.
"Hei"
"Berbicaralah seperti biasa agar aku bisa mendengarmu" lengan jellal terjulur menuju surai erza yang menjuntai, menariknya, membuat wajah mereka semakin mendekat
"Atau berbisiklah tepat ditelingaku jika berbicara seperti biasa tidak bisa kau lakukan" lengan jellal yang lain menekan leher erza menuju pundak kanannya.
Hujan sedang sangat deras ketika erza menangis di pundak jellal
.
.
Posisi mereka sudah kembali seperti semula, erza dan jellal duduk diposisi biasanya. Erza tidak membaca buku, jellal menatap erza.
"Hujan adalah sebuah pertanda. Pertanda bahwa langit sedang melewati batasnya. Air yang mencoba langit curi dari bumi sudah terlalu berat dan tak bisa ia bawa lagi, hingga kemudian jatuh dan kembali pada bumi" jellal mengatakannya sembari menatap erza yang sedang memainkan jemarinya
"Tadi itu cerita dari buku kesukaanku. Aku dulu juga suka membaca" ucap jellal lagi
Hening lagi, jellal berdiri kemudian berjalan menuju sebuah rak yang cukup jauh dari tempat mereka. Menyibukan diri mencari sesuatu di sana, dan kembali membawa tiga buah buku. Tepat di hadapan erza, jellal meletakan ketiga buku tersebut.
Wajah erza terangkat, tatapannya mengekor keberadaan jellal.
"Ini buku apa?" suara erza terdenggar serak
Jellal tersenyum, ekspresinya seperti sebuah rasa lega.
"sesekali kau harus membaca buku semacam itu." wajah jellal bergerak, menunjuk buku dihadapan erza
"To Kill a Mocking bird, itu novel pertama yang aku selesaikan saat aku di panti asuhan dulu. Namida Usagi, itu komik pertama yang membuat perasaanku berantakan seharian. Dan Pinguin Summer, itu light novel pertama yang membuat aku berpikir bahwa imajinasi itu ternyata tidak terbatas. Kau juga harus membacanya" Erza mengikuti arahan jellal tentang buku yang dibawanya, jellal menunjukkannya satu persatu
Lengan yang tadi memainkan jemari kini memeluk tiga buku. Erza tak pernah membaca tipe buku seperti ini sebelumnya.
Suara langkah kaki, jellal sekarang duduk tepat disampingnya.
"Kenapa orang ini hidup berleha dan mendapatkan semuanya sementara aku tidak? Apa kau berpikir seperti itu ketika melihatku?" jellal menunjuk dirinya sendiri
"Tidak. Bukan begitu" ucap erza menyela
"Lantas kau tadi kenapa?"
Mengambil sebuah karet berwarna merah dari kantung di kemejanya, erza kemudian mengikat surainya. Membuatnya tergulung menumpuk membentuk sebuah bulatan. Helaian lain menggantung menghiasi ekspresi erza saat ini
Mata yang sembab dengan kilauan lebih tenang, sebuah ekspresi tegas nampak dari kombinasi otot wajahnya. Erza menatap langsung jellal, jarak wajah mereka hanya selebar telapak tangan
"Aku tadi terbawa emosi. Maafkan aku" hembusan nafas bersamaan mengggelitik permukaan wajah jellal
"Hal yang kau katakan sebelumnya, aku tak pernah berpikiran seperti itu."
Jellal terpaku pada wajah di hadapannnya, menelaah setiap bagian yang bisa ia lihat.
'Apa dia selalu seperti ini? Wajahnya polos, tak seperti kebanyakan, warna wajahnya alami. Dan aku baru tahu, merah kecoklatan, warna irisnya. Kukira sebelumnya terlihat seperti warna coklat"
"Scarlet. Apa namamu itu karena warna matamu er?" erza menutup kedua matanya
"Jellal, dengarkan ketika aku sedang berbicara."
"Baiklah"
Posisi mereka masih sama, mata erza terbuka lagi
"6 bulan. Selama enam bulan semenjak hari itu. Kita selalu bertemu tanpa sengaja disini. Aku selalu membaca dan kau tidur." Jellal mengangguk
"Sore adalah waktuku bisa istirahat er"erza menggangguk
"Dan sore adalah waktuku membaca. Mencari info yang tak bisa kuperoleh di kelas"
"Apa kau tahu er - Kuliah dengan Fully funded, supporting fund, dan gaji bulanan. Tinggal di dormitori kampus dengan gratis. Dan menolak tawaran abroad. Luar biasa sekali hidupmu jellal – hal yang kau katakan sebelumnya. Itu kudapat dengan susah payah" erza berkedip beberapa kali, mencoba memfokuskan diri dengan apa yang akan dia dengar
"Yatim piatu, sejak kecil aku tak tahu siapa orang tuaku. Aku tinggal di sebuah panti asuhan di dekat sini." Jellal menarik wajahnya, tersenyum miris sembari mengusap kepalanya.
Ekspresi erza meredup, jellal menebak mungkin rasa kasihan memenuhinya sekarang.
"Sudahlah aku tidak mau membicarakan ini lebih jauh. Aku tak ingin dikasihani hehe" dengan cepat erza memukul lengan jellal
"AW!" jellal refleks mengusap lengannya
"Kau salah paham lagi jellal ..."
Erza bahkan belum menyelesaikan kalimatnya ketika alarm harian handphonenya berbunyi.
"Kita lanjutkan lain kali er, sudah waktunya. Ayo kita pulang, mumpung hujan sudah reda"
Entah enggan melanjutkan atau memang tak ingin dibahas lagi, jellal meraih pundak erza segera setelah ucapannya selesai. Mau tak mau tubuh erza mengikuti langkah jellal
Langit sudah menggelap sempurna ketika mereka keluar.
Lengan jellal menjauh, kemudian terangkat, melambai.
"Sampai jumpa er" jellal kemudian berbalik dan pergi
Ketika sosok jellal sudah tak nampak, erza masih berdiri di depan perpustakaan
"Apa aku seperti orang bodoh hari ini" erza menyeringai kemudian berlari pulang.
Ketika sebuah batas lain mereka lewati hari ini, waktu enam bulan belum menjadi sebuah indikator, melainkan sebuah hal yang mereka lalui dengan diri mereka sendiri. Dan hari ini mereka sepertinya akan mencoba membuat batas baru untuk esok hari, untuk mereka lalui bersama, memahami satu sama lain. Bukan menerka satu sama lain, dengan subjektifitas sepihak yang selama ini mereka lakukan.
Author Note
Thanks untuk reviewnya X)
I put some chara in here but is that gonna be jerza? Just see okay? XD
RnR minna, see ya
