Sudut Berdebu
Standard Disclaimer Applied
Rate T
Tell Me What To Do
Hujan mengguyur tak henti selama seminggu. Tanah basah dengan genangan air, langit mendung berawan, dan udara lembab. Waktu berjalan begitu saja, pada akhirnya mereka juga berjalan begitu saja. Beranjak dari perpustakaan, sesekali mereka bertemu di luar, masih tetap di lingkungan kampus, tidak menyengaja hanya bertemu saja.
"Jellal. Apa mungkin sore ini juga akan hujan?"
"Hn? Entah. Tapi wajar sih kalau hujan, memang sudah masuk musimnya."
Seperti hari ini, erza dan jellal bertemu di lorong. Lorong fakultas, mereka ternyata satu fakultas. Tak ada yang menyangka ternyata selama ini mereka kuliah di gedung yang sama. Mahasiswi Departemen Kedokteran dan Mahasiswa Pascasarjana Medical Management.
"Er"
"Iya?"
"Kau cocok sekali dengan sneli itu"
"Haha aku belum punya sneli jellal. Ini hanya jas praktikum"
Komunikasi mereka juga jauh membaik. Setidaknya bahasan mereka lebih luwes. Banyak hal sudah mereka bagi. Cerita, rasa dan sedikit kepercayaan. Sedikit? Hubungan mereka belum sejauh itu, mereka hanya teman, dengan awal pertemuan yang aneh.
"Ah iya, aku nanti tidak ke perpus"
"Baiklah"
"Tidak bertanya aku kemana?"
"Yatuhan jellal."
Erza lebih sering terseyum dibanding sebelumnya, dan lisan jellal lebih lihai dari sebelumnya, maksudnya dia bahkan sudah berani menggombal dan menjahili erza sekarang.
"Aku duluan er"
Jellal berlari menjauh dengan tas hitam yang terselempang di belakang tubuhnya.
"Sepertinya akhir-akhir ini dia sedang sibuk. Waktu tidurnya? Apa cukup ya?"
Erza tahu sesuatu belakangan ini, salah satu dosennya pernah sekali bercerita tentang Jellal tentang kebiasaan memaksakan dirinya, juga tentang waktu tidurnya selama ini adalah hanya ketika sore hari, di perpustakaan. Entah sebelum-sebelumnya dia menyempatkan tidur dimana dan kapan, erza tidak pernah tahu.
Bersalah, erza menyesal dulu dia pernah kesal pada Jellal karena masalah hobi tidurnya itu. Mungkin dibanding dirinya sendiri, jellal jauh lebih bekerja keras dari pada yang terlihat.
"Semoga dia baik-baik saja"
.
.
.
Deras, hujan sangat deras ketika erza menuju perpustakaan. Got it, tubuhnya basah, untung saja tasnya aman. Bersyukur tadi dekat ke halte bis kampus, jadi setidaknya aman berteduh disini, meskipun sendirian.
Bersyukur lagi karena tadi pagi erza memutuskan berpakaian simple, celana jeans biru tanggung dan kemeja hitam. Tidak terbayang jika dia menggunakan dress one peace seperti biasanya. Menerawang hal yang tidak terlihat adalah kebahagiaan bagi mata-mata jahil dari lelaki kurang bermoral.
Bulir air tak henti jatuh, erza sedang merangkul dirinya sendiri mencoba menghangatkan diri seadanya ketika seseorang ikut berlindung tepat di samping kanannya. Dia tadi berlari cukup kencang, genangan air sepertinya tidak mengganggu kecepatan larinya.
"Hujannya deras sekali" erza berpikir dia hanya berbicara sendiri, matanya tapi mengerling pada erza. Terpaksa
"Iya" tak perlu bertanyapun hujan memang sangat deras kan?
Dalam beberapa menit tangisan langit sedikit mereda, suasana dingin lebih kentara. Tubuh erza bergetar tanpa diperintah, bentuk pertahanan alami tubuh untuk mempertahankan suhu.
'Semoga saja paman penjaga perpus punya selimut dan baju ganti' erza menyakinkan diri, meskipun sebernarnya dia tidak yakin sama sekali.
Dia sedang menggosok kedua telapak tangannya ketika seseorang tadi menyelimutkan mantelnya pada bahu erza.
"Semoga ini membantu, hanya luarnya saja kok yang basah" tatapan erza teralih beberapa saat pada seseorang di sampingnya.
"Terima Kasih" ucap erza menggantung, erza sedang mencoba mengingat kenampakan orang ini.
"Natsu. Namaku Natsu Dragneel" dia terlihat percaya diri menyebutkan namanya
"Aku tidak bertanya"
"Eh?"
Erza berbalik menatap genangan air lagi, dia memang seperti biasanya, to the point dan kurang bisa berbasa basi. Tapi kasihan ekspresi natsu tadi, sepertinya dia kecewa.
"Baiklah." Ujarnya kemudian menunduk.
.
.
.
Kemarin erza akhirnya urung untuk ke perpus, ketika hujan sepenuhnya reda waktu sudah hampir pukul 7 malam. Perpustakaan jelas sudah tutup. Dia berjalan menuju rumah dengan mantel yang masih terpasang dengan baik di pundaknya. Bukannya erza sengaja tidak mengembalikan, hanya saja lelaki itu, Natsu pergi duluan bahkan ketika hujan masih turun. Dia terseyum kemudian pergi begitu saja.
"Bagaimana aku mengembalikan ini" erza sudah mencuci dan mengeringkannya. Terlipat rapi di dalam tas kertas, berharap dia bisa bertemu dengan orang itu lagi. Bukan untuk hal aneh, hanya ingin memberikan hak yang harus dia dapatkan, barangnya kembali.
.
.
.
Sore hari seperti biasanya, namun tak biasa karena Erza lagi-lagi sendirian selama beberapa hari ini. Jellal benar-benar tidak kesini selama dua pekan penuh. Dia tidak bertanya dan jellal tidak memberitahu. Tidak masalah sebenarnya hanya saja sedikit perasaan khawatir berada di sudut pemikiran erza. Khawatir saja, jellal mungkin akan seperti zombie ketika nanti mereka bertemu lagi. Waktu tidurnya, erza hanya berpikir tentang itu.
Dan sesuatu yang lain menemani erza selama tiga hari ini, tas kertas berisi mantel. Berjaga-jaga siapa tahu erza bertemu lagi dengan orang aneh itu.
.
.
Satu bulan, akhirnya waktu berjalan satu bulan semenjak terakhir kali erza bertemu dengan Jellal. Dia sedang berjalan di lorong fakultas, waktu yang sama seperti saat itu. Pemikiran Erza sedang penuh dengan jurnal yang harus segera dia selesaikan malam ini ketika di selasar
"Hai Er." Jellal berdiri dengan wajah yang lesu.
Erza menghampiri jellal. Sembari menatap lekat kenampakan yang dia lihat. Kantung mata, sinar wajah yang redup, tubuh yang lebih kurus juga surai yang berantakan.
"Kau sehat?" jellal hanya tersenyum kemudian meraih sebelah lengan Erza
"Aku butuh tidur er." Dia kemudian bersandar di bahu erza. Suaranya sedikit parau, hampir serak.
Terasa janggal, erza merasa ada yang aneh dengan Jellal tapi seperti biasa dia tidak berniat bertanya. Meskipun dari rautnya tadi seperti ada teriakan disana. Selewat seperti wajah penyesalan, juga menyerah terhadap sesuatu.
"Mau ke perpus?" akhirnya erza hanya bertanya itu saja
Dia mengangguk, mengekori erza. Tangan erza digenggam lemah, dia tidak melepaskannya, juga tidak menahannya hanya membiarkannya, seperti memberi Jellal sebuah pijakan dan tempat bergantung.
Sore itu berjalan sangat panjang, bukan karena hal aneh, tapi memang sengaja erza tidak menyalakan alarmnya, membiarkan jellal untuk tidur lebih lama di sana. Dia bahkan meminta izin pada paman penjaga perpus dan meminjam selimut.
"Akan kubangunkan ketika pukul 21.00" ujar erza sembari menyelimuti jellal yang terlelap tanpa suara dengkuran.
Erza memang tidak ingin bertanya, karena ketika bertanya dia sudah melewati batas. Dia tidak pernah suka ketika seseorang mencampuri kehidupannya, maka dari itu dia seperti ini sekarang. Seseorang akan bercerita dengan sendirinya ketika sesuatu itu memang layak dibuka, ditambah bercerita berarti membagi beban juga tugas untuk menyelesaikan jika cerita itu ternyata sebuah masalah. Sekarang erza hanya bisa menunggu. Dia berharap Jellal akan bercerita lebih dulu padanya. Meski itu suatu saat nanti.
Erza juga bersiap dengan dirinya sendiri. Menyiapkan diri untuk bisa mengatakan 'katakan, apa yang bisa kulakukan untukmu'
.
.
Author Note
Wohohoho thanks buat yang udah review dan reader semua hehehe
Here it is, selamat menikmati
RNR ya X)
See ya
