The Heroes of Olympus © Rick Riordan, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Pairing: Jason Grace/Piper McLean. Genre: Romance. Rating: T. Other notes: untuk 30 days challenge; prompt #11: prepared.


Piper menggosokkan telapak tangannya pada bagian depan rompi Jason, dan rasanya Jason bisa menjadi apa saja dengan penampilan ini; walau sederhana.

"Oke," Piper menepuk-nepuk. "Kau sudah siap untuk duduk di bangku terdepan."

"Dan aku menunggu penampilan terbaikmu," Jason sekali lagi memandang dirinya. "Jangan salah sebut nama pasangan priamu dengan namaku, ya."

"Aduh, Jason, seolah baru kali ini aku main teater." Piper pun mendudukkan dirinya di kursi kecil yang disandarkan pada tembok belakang. Orang-orang hilir-mudik di belakang Jason, para perias sibuk, para aktor lain menghafalkan sisa-sisa dialog yang terdengar sulit, dan sisanya mencoba untuk bercengkerama untuk menghilangkan rasa gugup karena teater kali ini akan dihadiri oleh orang-orang penting dari departemen kebudayaan.

Piper pandai sekali menyembunyikan rasa gugup dari wajahnya, begitu yang Jason nilai, walaupun ketika menurunkan pandangan dan melihat apa yang jari-jarinya lakukan di atas pangkuannya (seolah sedang melakukan tap dance), semua orang tahu.

Namun, di atas semua itu, tampaknya Piper sudah siap. Peran menjadi Cassandra sudah pernah dia mainkan sebelumnya, dan meski Oresteia ini dimodifikasi oleh tangan-tangan modern, dia sudah siap bertransformasi dari cerita Cassandra pada masa lampau.

Satu rombongan datang dari pintu belakang. Anak-anak, usianya bervariasi. Dari pakaian mereka, Jason yakin mereka adalah paduan suara.

"Pippy!" Jason mendengar salah satu anak mencuit lucu. Dia menyimpang, berlari ke arah mereka berdua dan langsung menyambar Piper. "Pippy! Aku senang satu panggung bersama Pippy lagi! Ibu bilang dia akan memotret kita berdua saat acara selesai nanti!"

Anak itu mungkin baru berusia enam tahun—atau lebih tua sedikit, badannya kurus tetapi tinggi—dia bisa saja langsung menaiki pangkuan Piper jika saja dia tidak mau peduli pada gaun Piper yang terdiri dari lapisan kain-kain halus.

Piper mencium pipi si kecil berambut cokelat mahoni itu, "Kita bisa melakukannya kapan saja, lho, ayo, sini, Jason, foto kami berdua, dong!" Dia pun memeluk pinggang anak kecil itu, sementara Jason buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

Memotret Piper adalah suatu hal biasa, suatu pekerjaan sehari-hari, baik diminta atau tidak, tetapi tambahlah anak kecil maka semuanya terasa berbeda. Selama bersama Piper, Jason tak terbiasa melihat Piper bersama anak kecil.

"Oke, Laura, bersiap-siap dulu ya, nanti aku akan mengirimkan foto tadi ke ponsel ibumu. "

"Baik, Pippy! Sampai jumpa di panggung, ya!"

Piper melepas Laura sembari mencubit pipinya. Dia memandangi Laura hingga Laura bergabung dengan timnya dan mendapat pengarahan dari ketua, dan dia dipandangi Jason dengan cara yang sama.

"Dia fans beratmu, ya."

"Cuma karena aku memberinya bulu untuk menghiasi rambutnya di hari pertama kami bertemu."

Jason memandangi Piper terlalu dalam sampai-sampai perempuan ini merasa canggung. Jason menyadarinya, dan ia tertawa.

"Aku tidak menyangka kau bisa semanis itu pada anak-anak. Tandanya kau sudah siap, kah?"

Tatapan Piper melayang jauh, sepertinya ke arah Laura, tapi tak begitu menatap anak itu. "Menurutmu? Entahlah, Jason, kita masih muda, dan selama kita tidak di Roma Baru ... kurasa kita bisa merencanakannya sekarang, tapi melakukannya belakangan, kan?"

Jason meraih tangan Piper dan menggenggamnya erat-erat. "Jangan tanyakan jawabanku karena kautahu persis bahwa aku akan mengatakan ya kapan saja."

Piper mengulum senyumnya, tetapi matanya berputar-putar menghindari Jason, sejenak membuat Jason merasa bersalah karena dia telah mengatakan sesuatu yang sangat penting di tengah-tengah urusan Piper yang sangat penting pula.

Suara komando menghentikan Jason yang baru saja akan membahas hal ini lebih jauh. Piper segera berdiri, dan Jason menepuk tangan mereka yang bertaut.

"Apapun keputusanmu, yang penting adalah, persiapkan dirimu untuk pertunjukan kali ini. Aku akan jadi yang paling bangga, seperti biasa, Pipes. Tampillah seperti Piper yang kukenal."

Senyuman kembali ke wajah Piper, terutama ketika Jason mengecup keningnya.

end.


a/n: well ok, cassandra itu adalah salah satu tokoh di mitologi yunani yang diberi apollo kekuatan untuk meramal, tapi cassandra menolak apollo yang menginginkan dia. cassandra kena kutukan, seorang pun tak akan percaya pada ramalannya. akhirnya, di dunia modern, nama 'cassandra' digunakan sebagai alat retorika untuk menyatakan seseorang yang meramal secara akurat, tetapi tidak dipercaya orang lain.

sedangkan oresteia, adalah tragedi yunani kuno berupa trilogi, tentang dibunuhnya agamemnon oleh clytaemnestra (ceritanya panjang)