The Heroes of Olympus © Rick Riordan, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Pairing: Jason Grace/Piper McLean. Genre: Romance. Rating: T. Other notes: untuk 30 days challenge; prompt #14: wind.


Saat Jason datang, Piper sedang memasukkan dua lembar pakaian ke dalam tas jinjing.

"Apa yang kaulaku—"

Piper mengangkat tas jinjing lain, yang tak diketahui Jason bersandar di tepi tempat tidur, warna merah, model sport, dan mendadak dia menjadi sedikit lega. Tapi, untuk apa?

"Tadi pagi Annabeth meneleponku. Sebelum kau bangun." Piper berjongkok untuk menutup ritsleting tasnya, seusai memasukkan sepasang kaus kaki ke dalam. "Bertanya apakah aku sibuk, dan apakah kau bisa datang ke sana. Secara halus dia mengundang kita berdua ke rumah mereka."

"Dan kau setuju?"

Piper diam saja seraya mengangkat kedua tas mereka, melewati Jason bahkan tanpa menatapnya.

Setidaknya perempuan itu tidak melakukan hal yang terburuk.


Jason hampir-hampir tak dapat mengingat kapan terakhir kali perjalanan mereka berlangsung dengan sangat dingin seperti ini. Bahkan jika Piper tertidur pun, ada lagu yang menemani. Sekarang Jason pun tak berhasrat memutar lagu pengiring, rasanya ada yang salah walaupun ia enggan memikirkannya.

Piper terus-terusan melihat ke luar jendela, seolah ia tak pernah melewati jalan ini sebelumnya. Senja tenggelam di pipinya, wajahnya perlahan tertelan bayang-bayang.

Jason berusaha menyingkirkan memori, suatu waktu dia pernah langsung mencium Piper di balkon rumah mereka cuma gara-gara cahaya senja menyelimuti separuh wajahnya, matanya berpendar oranye-hijau-biru dan latar belakang laut memainkan perannya dengan sangat sempurna. Mengabaikan ingatan itu sangat susah terutama ketika cuacanya sama. Dia sudah kenyang makan asam-garam dan menumpahkan air mata, keringat hingga darah bersama Piper, tetapi beberapa hal tetap tidak terasa membosankan.

"Berhenti."

Jason mengerem mendadak hingga Piper yang telah melepas sabuk pengamannya tersentak ke depan. Tenggorokan Jason tercekat untuk bilang maaf. Egonya sedang tinggi-tingginya. Selalu ada fase.

"Kalau kau mau ikut, menepilah."

Jason membiarkan Piper turun dan berjalan dulu hingga dia memutuskan.

Ada jalan kecil di antara pepohonan, Jason berfirasat bahwa ini akan menarik. Ia menepikan mobil lalu berjalan menyusul.

Area pepohonan itu tak seluas perkiraan Jason. Tepinya adalah tanah landai yang berumput tinggi, menghadap matahari terbenam. Saat ditemukan Jason, Piper sudah duduk berselonjor kaki menghadap perbukitan kecil di hadapan mereka, di bagian yang agak menurun. Jason berhenti di tempat. Kepalanya masih dipenuhi oleh keinginan keras yang bisa saja disuarakannya sekarang andai saja dia tidak menahan diri. Dia mengangkat tangannya dan mengamati rajah yang tak pernah memudar di sana; mengingat betapa kuat pengaruh determinasi kaum Romawi di darahnya. Orang-orang Romawi pantang mundur, hanya ada menang atau mati. Untuk saat-saat ini dia langsung merindukan sisi Yunani dirinya, yang lebih mengagumi keindahan dan melunak pada alam—terutama ketika Piper sendiri sedang menyatu pada alam liar; pada dunia yang membesarkan sukunya, darah leluhurnya.

Jason menutup matanya rapat-rapat. Ketika dia membuka mata, Piper masih di sana, mendongak sedikit, seolah sedang berusaha menikmati cahaya matahari di detik-detik yang tersisa.

Perempuan itu, bagaimanapun juga, adalah seorang yang dia pilih dan memilihnya.

Jason memanggil angin, sengaja membuatnya melewati wajah Piper, pipinya, potongan rambut yang menjuntai di dekat matanya, kelopak matanya, hidungnya, melewati telinganya, hingga berakhir di rambutnya yang terurai.

Dibiarkannya begitu saja.

Lama-lama, Piper akhirnya menoleh.

"Aku memang tak bisa lama-lama marah padamu." Dia sudah berdiri, berjalan ke arah Jason. "Itu angin terbaik yang paling menenangkan yang sudah lama sekali tidak kutemui."

Jason menghela napas. "Aku masih menunggu, Pipes."

Piper menelengkan kepala. "Jarang sekali aku mendengarmu berkata setegas itu padaku, ini memang masalah besar yang benar-benar serius," terdengar Piper mengembuskan napas sangat panjang, "Bolehkah satu tahun lagi? Kalau kau tidak mau—aku tidak bisa bilang apa-apa lagi. Aku sudah tidak punya nilai tawar. Aku yang mengulur waktu terlalu lama. Semua bergantung padamu sekarang. Aku hanya bisa mengajukan, tidak bisa memaksa."

Jason melihat ketulusan di mata Piper. Piper masih berkemauan kuat, tapi dia tahu caranya mengalah pada rasa ketakutan dan kecemasannya, dan menyerahkan diri secara submisif sesekali. Jason merasa rapuh seketika. Dia telah menumbangkan Piper. Dia telah berhasil memaksakan kehendaknya. Harusnya ia bisa puas.

Lalu Jason melihat ke belakang. Kehidupan beberapa tahun belakangan adalah keputusan bersama, bukan cuma Piper yang memaksakan kehendaknya. Piper tak pernah memaksa, dia mengusulkan, dan Jason menyetujui karena dasar pertimbangan mereka sama. Konsensus. Persetujuan. Sepemikiran. Hal-hal yang memang biasa terjadi.

Siapa yang memaksa sekarang?

Jason tersenyum tipis. "Aku akan memikirkannya."

Raut wajah Piper berubah drastis. "Hah? Kenapa malah—"

Senyuman itu berganti tawa. "Satu tahun. Oke, setengah."

"Bagaimana dengan empat? Saat semester ini sudah selesai dan aku bisa mengurus pengalihan kredit ke Universitas Roma Baru."

"Pipes, tidakkah itu terlalu cepat?"

"Bukannya aku ingin—tapi apakah kita pernah memperhitungkan kegagalan? Harus selalu ada rentang waktu untuk percobaan, tahu."

Jason meletakkan kedua tangannya di bahu Piper. "Kadang-kadang egoisme membuat kita lupa satu hal; kita bisa selalu mendiskusikannya berdua. Beritahu aku kalau kau berubah pikiran."

Piper meraih pipi Jason dan mencoba menyapunya seperti cara angin tadi menyapanya, "Kau terlalu baik. Rasanya aku hampir-hampir tidak pantas menerimamu."

"Jangan bercanda," Jason meraih tangan Piper dan menariknya menuju tanah landai yang sempat terlupakan, "pertanyaan soal pantas dan tidak pantas hanya untuk pasangan baru."

Senja hanya tersisa seperti serat-serat kapas yang tersebar di langit. Jason merangkul Piper. "Selesaikan kuliahmu dulu. Tapi, jangan lulus lama-lama, ya."

end.