The Heroes of Olympus © Rick Riordan, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Pairing: Jason Grace/Piper McLean. Genre: Romance. Rating: T. Other notes: untuk 30 days challenge; prompt #15: order.
"Err, jadi, maaf, kalian harus kutinggal di sini dulu, ya," Frank menggaruk pipinya. "Aku akan mengajak Hazel. Dan Reyna kalau dia tidak sibuk di rumahnya, atau sedang keluar. Tidak apa-apa, kan?"
Jason tertawa melihat rasa bersalah di wajah Frank. "Ayolah, Sob, kami tidak akan tersesat di sini. Bagaimanapun tempat ini juga rumahku. Dua belas tahun aku di sini. Kami akan mencari tempat makan dulu, secepat mungkin kami akan kembali ke rumahmu."
"Baiklah, selamat bersenang-senang, ya." Frank tersenyum pada keduanya, lalu melambaikan tangan ringan sambil berbalik.
Jason menghadap pada kota yang tak dia sadari sangat dirindukannya. Terakhir kali dia ke sini adalah tiga bulan lalu, itu pun rasanya sudah lama sekali. Jason menghirup aroma Roma Baru yang selalu dikenalinya, bau familiar tanah kuno yang selalu punya tempat di hatinya.
"Jadi," Piper mengulurkan tangan, "ingin kencan ala pasangan berusia lima belas?"
Jason menggamitnya secara naluriah. "Aku akan selalu melakukannya bahkan saat usia kita lima puluh, enam puluh, tujuh puluh—seratus, bahkan."
Piper tergelak. "Aku tidak mengerti mengapa aku menganggap itu lucu."
Jason mengingat hampir setiap perubahan Roma Baru dari tahun ke tahun, jengkal demi jengkal. Dia tahu berapa kali toko brownies kesukaannya berpindah, dan berapa kali sebuah toko di sudut jalan berganti pemilik. Meski telah memilih menjadi Yunani, Jason masih mengikat banyak aspek Romawi dalam dirinya.
Namun tidak dengan satu titik di dekat taman kecil dengan air mancur rendah yang sering menjadi tempat petak umpet anak-anak. Rasanya Jason baru melihat restoran yang satu ini. Annabeth atau Percy harus menjawab sesuatu. Nama restoran itu, tertulis dalam dua bahasa; Latin dan Yunani. Jason curiga ini adalah tempat yang diciptakan Annabeth, tapi barangkali perempuan itu cuma campur tangan dalam hal gedung berikut interiornya. Tidak dengan ide-ide atau masakannya.
"Pipes. Kelihatannya tempat ini cocok."
Piper termangu sejenak membaca nama restoran. "Oh, baik, Jason, sepertinya kau telah menemukan tempat yang cocok untuk tahun-tahun yang akan datang."
Jason tak mengerti implikasi apa yang barusan ditekankan Piper, tapi ia cuek saja saat perempuan itu menariknya masuk dan mengajaknya duduk di tepian, dekat jendela, di mana mereka bisa melihat air mancur dengan leluasa; juga anak-anak yang sedang antusias.
Ketika pelayan berdiri di samping meja mereka, dia memandangi Piper dan Jason bergantian. Jason sempat melakukan kontak mata dengan laki-laki muda itu, yang membuat si pelayan tertsenyum halus, "Silakan pilih pesanan Anda," katanya pada Jason, dalam bahasa Latin, kemudian, "Nyonya Muda, pilihlah manapun yang Anda suka," dalam bahasa Yunani kuno yang sangat fasih, yang membuat Jason melongo.
Piper juga tampaknya terkesima dengan kalimat-kalimat barusan, tapi dia tak butuh waktu lama untuk memilih pesanan.
"Fasolada ... kelihatannya ini menarik. Yang ini satu porsi, ya."
"Sup kacang kuno, pilihan yang bagus! Makanan yang memang cocok untuk musim ini. Mohon menunggu," dia berbicara sama sopan dan baiknya dalam bahasa sehari-hari seperti bahasa kuno tadi.
Jason mengerutkan hidungnya, tambahan kata kuno membuat makanan itu terdengar seperti sesuatu yang disimpan dalam kulkas purba lintas zaman, lalu dikeluarkan di abad ke-21 untuk menemui pelanggan yang tepat.
"Uhm," Jason sadar dipandangi, ia menjatuhkan tatapannya ke daftar menu, yang tampaknya dalam bahasa Latin seluruhnya. Bagaimana orang-orang tahu bahwa si pengunjung adalah orang Romawi, dan sisanya Yunani? Jason akhirnya menyerah. untuk bertanya-tanya "Buat pesanan untuk Piper saja dulu. Aku cukup lama dalam memilih, akan kupanggil jika aku sudah menentukan."
"Dengan senang hati, Tuan. Selamat memilih."
Piper sedang cengar-cengir sampai-sampai Jason mengira bahwa pelayan tadi membuatnya tertarik. Secara instingtif dia meraih tangan Piper di atas meja.
"Aku jadi ingin tahu makanan favorit Ibu saat menjadi manusia. Yah, misalnya, apa yang dia pesan saat kencan untuk menarik perhatian Ayah, menu yang membuatnya berjengit—dan hal-hal remeh-temeh lainnya. Kayaknya bakal menarik."
Ini barangkali kali pertama Piper mengatakan sesuatu yang tak pernah dipikirkan Jason soal ibunya, tentang aspek-aspek manusiawi Aphrodite yang pasti dimilikinya. Wajah Piper begitu hangat saat mengatakannya sampai-sampai Jason ingin menciumnya saja.
"Ayah pernah cerita soal kue panekuk dengan saus bluberi, menu yang paling dia sukai dari restoran khusus di tepian kota. Jangan-jangan itu pesanan pertama mereka saat mulai saling jatuh cinta."
"Boleh jadi," Jason memandang warna yang berkeliling-keliling lagi di mata Piper, melupakan soal menu. "Mungkin sesekali kita harus mengajak ibumu saat kita kencan."
Gelak tawa Piper menghancurkan momen romantis yang baru saja ingin dibuat Jason, "Kukira itu adalah hal yang paling ditakuti semua laki-laki di dunia—makan bersama ibu mertuanya."
"Yah, aku sudah begitu sering semaput. Kurasa semaput lagi karena orangtuamu bukanlah hal yang harus kutakuti atau kusesali."
end.
a/n: fasolada; ancient bean soup. menu musim gugur/dingin, silakan intip-intip di greek-recipe (titik) com /ancient (-) bean (-) soup
bisa dibilang ini lanjutan dari yang chapter kemaren sih /shrugs
plus; soal semaput; yang pernah baca magnus chase buku satu pasti ngerti kalo inget salah satu judul babnya XD
