The Heroes of Olympus © Rick Riordan, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Pairing: Jason Grace/Piper McLean. Genre: Romance. Rating: T. Other notes: untuk 30 days challenge; prompt #17: look.
"Aku menyaksikan banyak teater Yunani Kuno yang kaumainkan, dan memang rasanya kau adalah orang yang paling tepat untuk yang berikut ini."
Jason merasa berada di 'luar gelembung'.
"Hm, jadi, kupastikan sekali lagi, karena aku selalu ingin semuanya fix sebelum aku memutuskan," Piper mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, "aku akan mengambil peran utama, dan menjadi juri untuk casting?"
"Benar sekali."
Jason ingin segera pergi saja. Dengan menyeret Piper, tentunya. Dia berpangku tangan dan benar-benar jenuh. Orang ini harusnya tak mengulur-ulur waktu. Kentara sekali dia memang ingin membuat pertemuan ini menjadi lebih lama.
"Peran seperti apa yang akan kuambil?"
Tapi Piper antusias sekali. Seolah dia tak pernah main teater sebelumnya. Jason berharap itu bukan karena si produser yang masih muda dan kelihatan—aduh, Jason harus memujinya—keren ini.
"Begini. Nona McLean—"
"Nyonya McLean-Grace," Jason menyambar dan melemparkan pandangan sinis pada lelaki itu.
"Oh begitu," katanya, hampir-hampir tak menyadari kalimat singkat yang meluncur begitu saja dari bibirnya, ia seperti kelimpungan, "maaf, aku tidak tahu kalian sudah menikah. Soalnya tak pernah ada berita resmi tentang kalian."
"Berita pernikahan kami bukan konsumsi publik." Jason menyergah, tapi ia bertaruh orang ini cuma terlalu asyik di dunianya saja. Pernah ada artikel yang menyebutkan bahwa Tristan McLean telah memiliki menantu, tapi tak seramai pemberitaan seorang artis Hollywood, tentu saja. Tapi paling tidak, Google akan selalu menolong orang yang serius ingin tahu.
"Baiklah, kembali ke soal peran—Piper McLean-Grace, kali ini tentang personifikasi."
"Hmm. Aku mengerti. Apa yang harus kupersonifikasikan?"
Jason harap Piper tak seantusias ini, tapi mau bagaimana lagi, ini dunianya.
"Begini—kautahu desa Assos, di Kefalonia, Yunani? Desa itu adalah desa paling 'berwarna' di Yunani. Memang, berada di posisi dua karena kalah persaingan dengan Amorgos, Yunani, tapi Assos-lah yang paling pantas kaupersonifikasikan. Desa itu berwarna-warni natural, hijau, biru, toska, cokelat, kekuningan, semua warna alam—sementara Amorgos berwarna-warni cerah dan menyala. Menjadi personifikasi Assos sangat tepat untukmu, karena Assos berwarna seperti matamu."
Jason tahu tak seharusnya seperti ini, tapi ia seakan tersambar petirnya sendiri. Level sedang. Orang ini—orang ini bisa melihat mata Piper yang bak aurora itu. Oke, itu kedengaran terlalu berlebihan, karena mungkin saja mata itu tampak ajaib pula bagi para mortal, tapi fakta bahwa orang ini mengamati mata Piper sebegitunya, lalu memikirkannya, dan mencocokkannya untuk suatu peran—Jason tak pernah merasa hampir terbakar seperti ini.
"Hmm," Piper menganguk-angguk seakan tanpa hasrat yang berarti, "akan kupertimbangkan. Mana skripnya?"
Orang itu mengeluarkan sebundel kertas yang dijilid rapi, warna sampulnya hijau hutan hujan. Piper mengabaikan jari-jari orang itu yang berusaha menyentuh tangan Piper yang mengambilnya. Jason lega sedikit, walaupun tetap mengerutkan kening.
Piper membaca sekilas, Jason rasanya ingin sekali menariknya keluar. Sedikit lagi dia meledak jika Piper tak bereaksi dengan menutup bundelan itu. "Akan kupelajari baik-baik. Masih ada waktu sebulan sebelum casting, 'kan? Minggu depan akan kukabari keputusanku."
"Baiklah. Dengan senang hati menunggumu, Nyonya McLean-Grace." Dia berdiri, mengulurkan tangan untuk berjabat, manis sekali senyumannya saat menghadap Piper, dan kelihatan pahitnya saat balik menjabat tangan Jason. Ia berkata ow pelan dan menarik tangannya cepat-cepat. Jason tersenyum dalam hati. Rasakan.
Jason buru-buru berjalan ke mobil saat orang itu masih membayarkan makan siang mereka. Piper tak protes, karena matanya masih tertuju pada skrip meski sambil berjalan.
Jason memang melemparkan dirinya, secara harfiah, ke kursi mobil.
"Kau kelihatan terganggu."
"Tentu saja," Jason menepuk setir keras-keras, "dia menatapmu secara berlebihan. Di samping itu, dia benar-benar mengamati matamu sampai ke akar-akarnya, dan menciptakan teater karena matamu."
Piper menurunkan skrip. "Apa?"
"Aku cemburu? Iya," Jason membalas dengan nada sarkasme. "Tatapannya padamu—"
Piper menghentikan Jason dengan menggenggam wajahnya, menghadapkannya padanya, "Lihatlah. Lama-lama."
Jason masih merasa sedikit dongkol.
"Hanya kau satu-satunya, dan yang pertama, yang menatap dan ditatap seperti ini olehku. Lawan-lawan mainku mungkin pernah, tapi aku tak melakukannya dengan perasaan. Ini semua milikmu, Jason, tak usah cemburu sembarangan."
"Cemburu sembarangan?" Jason sampai menjatuhkan kunci saat mengucapkannya, "Kaubilang perasaan ini sembarangan? Aku tak terbiasa cemburu seperti itu, Pipes, hanya pada orang ini aku merasa benar-benar marah. Aku bertaruh dia pasti akan membuat peran untuk dirinya sendiri agar bisa beradu akting denganmu di panggung!"
"Jason, kenapa kau kedengaran posesif buta begini, sih?"
"Karena aku milikmu dan kau adalah milikku, begitu saja!"
Piper mengatupkan bibirnya, keningnya berkerut tajam. Dia membuang muka, kembali membuka skrip tersebut, pelan-pelan bergumam, "Kan cuma peran, kenapa, sih ..."
"Dan kau serius untuk mengambil peran ini. Oke, aku mengerti." Jason pun menyalakan mobil dengan kasar, sengaja menyindir.
"Kalau kau tak senang, tak usah ditonton."
Jason batal menginjak pedal gas dan ia memandang Piper sampai-sampai kepalanya berdenyut gara-gara kerutan kening yang menguras emosi. Piper tampak terkejut, dan mungkin akan mundur jika ia bisa. Ia membuka mulut untuk suatu kata, tapi tak ada suara. Jason membuang muka, lalu menjalankan mobil tanpa bicara sedikit pun.
tbc.
a/n: untuk tempat warna-warni di yunani, sila baca lifethinktravel (titik) com /6-most-colorful-places-in-greek XD
