The Heroes of Olympus © Rick Riordan, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Pairing: Jason Grace/Piper McLean. Genre: Romance. Rating: T. Other notes: untuk 30 days challenge; prompt #18: summer.


Jason berbalik dan seolah sudah menjadi bagian dari instingnya, ia meraba apapun yang ada di depannya.

Kosong.

Ia membuka mata dengan cepat, mengerjap, memorinya kembali lagi ke permukaan. Sehabis makan siang di luar bersama calon klien Piper, dia langsung ke ruang kerjanya. Piper pergi bersama teman-temannya entah sejak kapan, baru pulang pukul sembilan malam, sebelum hujan salju yang lebat turun. Mereka tak bicara sedikit pun sejak di mobil di siang hari.

Bagus. Mungkin jika Piper pulang terlambat dan hujan salju itu menghalanginya, ceritanya akan sedikit berbeda.

Harus ada ego yang luntur duluan. Jason sadar dia bicara tentang dirinya sendiri. Ia berbaring telentang, melamunkan kata-kata yang paling baik untuk meluluhkan Piper, cara bilang maaf yang paling baik.

Ia mengerjap lebih cepat lagi saat mendapati perbedaan di langit-langit kamar mereka. Piper biasanya menempelkan foto-foto benda apapun yang sedang disukainya, tempat yang ingin dikunjunginya, atau bahkan lirik-lirik lagu yang sedang digandrunginya di sana, di antara sebuah penangkap mimpi yang bulu-bulunya selalu diganti Piper sesuai keadaan hatinya.

Jason baru menyadari foto-foto di sana telah diganti, entah kapan. Kali ini foto-foto pemandangan laut dari tebing dalam seni ala polaroid. Jason mengenali sekali tempat ini.

"Selamat pagi." Tirai disibakkan, walau cahaya yang masuk tak begitu memadai. Jason menoleh. "Aku menaruh foto-foto baru itu kemarin siang. Tentu kauingat itu di mana, 'kan?"

Piper kemudian pergi menuju lemari, memasukkan pakaian-pakaian yang sebelumnya bertumpuk di dalam plastik, tak sempat dikeluarkan setelah dijemput dari binatu kemarin pagi. Ia berjinjit untuk pakaian-pakaian tebal yang jarang sekali dipakai dan ditempatkan di rak paling atas lemari.

"Aku ingin ke sana lagi, setelah ... um, berapa tahun? Delapan? Sembilan? Atau tujuh? Atau malah sepuluh? Aku bahkan sudah lupa. Kupikir kita berdua sudah sama-sama melupakan trauma peperangan, jadi mungkin sudah waktunya pergi ke sana untuk bersenang-senang. Musim panas. Bersantai. Mengenali alam asal-muasal kita. Merasakan angin Zephyrus, atau mungkin bisa bertemu Auxo kalau beruntung," dia tersenyum pada ujung kalimat saat menutup pintu lemari, tetapi senyum tidak untuk Jason.

Piper melanjutkan lagi. "Tadinya aku juga ingin mengajak Leo dan Calypso, tapi mungkin lain waktu saja. Aku hanya ingin kita berdua."

Jason bertaruh kali ini adalah kali pertama ia membiarkan Piper mengoceh sendiri, sekian panjang kalimat, tanpa ia tanggapi. Lidahnya terasa kering dan ia masih merasa bersalah—tetapi Piper seolah lupa apa yang terjadi kemarin. Mungkin perempuan itu cuma ingin berdamai.

Sepertinya hujan salju turun lagi. Jason mengamati keping-keping salju yang lumayan besar berjatuhan, hampir-hampir tak sadar tempat di sisinya diisi kembali.

"Jadi, Sayang," Piper memalingkan wajah Jason, "untuk liburan, kita memerlukan uang. Bayaran dari teater yang akan datang lumayan, belum lagi jika aku setuju jadi juri. Jadi perbolehkan aku untuk bergabung, ya? Kupastikan kau selalu diperbolehkan masuk untuk setiap jadwal."

"Apa orang itu akan jadi lawan mainmu?"

Piper tersenyum kecil, "Tidak. Sutradara mengonfirmasi bahwa sebagai penulis skrip dan supervisor, dia tidak bisa bergabung. Nah, untuk liburan yang hanya kita berdua, ya. Kita bisa puas melakukan apa saja, jauh dari orang-orang itu, jauh dari sorot kamera, jauh dari kehidupan yang biasa, selama dua minggu setelah semua itu berlalu. Setuju atau tidak?"

Jason bahkan sudah lupa rupa orang yang membuatnya ingin melemparkan pai basi ke wajahnya itu, tapi baguslah.

"Oke." Jason menggenggam tangan Piper yang masih berada di wajahnya. "Yunani, ya, musim panas tahun depan? Kalau ada proyek tambahan dari Annabeth, kita bisa ke Mesir juga."

Piper mengangguk cepat. "Rencana yang bagus. Terima kasih sudah menyingkirkan egomu, ya." Piper mendekat dan memejamkan matanya. "Sekarang waktu yang tepat untuk tidur lagi. Kalau kau ingin sarapan, ada di atas meja. Tapi kalau kau ingin bergabung denganku, cepat pejamkan matamu."

Jason menarik selimut dan merapatkan jarak di antara mereka. Penghangat ruangan memang sama sekali tak diperlukan. "Maaf, ya," dia merasa harus mengatakan itu, dan ia mengintip sedikit, melihat Piper tersenyum tipis.

end.


a/n: dalam mitologi yunani, zephyrus; si angin barat yang membawa angin musim semi dan awal musim panas. sementara auxo adalah dewi, juga personifikasi musim panas, pelindung tanaman, pertumbuhan dan kesuburan. bacaan tentang auxo (bagian darihorae) menarik, guys, karena ada banyak entitas yang mewakili musim-musim dan aspek alami; tentang triad pertama (auxo adalah bagian dari ini), triad kedua, dan triad ketiga. belajar tentang hal-hal begitu membantu kita buat memahami kebudayaan dan kebiasaan masa lampau—bahkan sifat dominan dari suatu suku bangsa itu sendiri (ingat kan perbedaan aspek yunani dan romawi dewa-dewi, yang mana yang lebih 'alami' dan lebih menyukai peperangan?). bahkan belajar sedikit tentang bahasa—etimologi kata-kata, karena banyak kata yunani/romawi kuno menjadi akar dari bahasa inggris. so much fun! XD

.

.

p.s.: anyway, selalu mikir bahwa piper adalah orang yang akan menggantung dream catcher (penangkap mimpi) di kamarnya, di beberapa sudut. ada yang bisa bikin di sini? ajariiiin ww