The Heroes of Olympus © Rick Riordan, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Pairing: Jason Grace/Piper McLean. Genre: Romance. Rating: T. Other notes: untuk 30 days challenge; prompt #19: transformation.


Setidaknya semua hadiah telah dibongkar dan disusun rapi, sesuai dengan tempat mereka seharusnya berada (lukisan Rachel di dinding, jam tangan dari Hazel dan Frank di atas lemari, masih di dalam kotak kacanya).

Ada beberapa furnitur yang belum masuk, dan hiasan yang belum dipasang. Mungkin malam ini akhirnya mereka bisa tidur dengan damai di kamar yang sudah rapi. Sudah tiga malam mereka terlelap di tengah gelombang kekacauan, cuma gara-gara kamar yang harus dicat ulang, sebagian area terkelupas terutama di balik lemari tua karena kamar ini begitu jarang diperhatikan.

Jason keluar, seolah udara di dalam kamar perlu dimurnikan lagi. Sementara Piper masih asyik menganyam penangkap mimpi dan hampir-hampir mencueki Jason.

"Hei, Jase, sini, sini."

Jason kadang tak suka namanya dibuat-buat sedemikian rupa, tetapi mendengar Tristan memilih sebuah nama kecilnya, ia rasa ia tak bisa terlalu keberatan.

Tristan duduk bersila di hadapan sebuah rak buku, dia mengajukan diri sebagai sukarelawan untuk memilihkan buku-buku mana yang ingin Jason dan Piper masukkan ke dalam ruang kerja di samping kamar mereka. Namun tampaknya dia terlalu teralihkan oleh sebuah buku yang bukan buku.

"Coba lihat."

Tebakan Jason benar. Tristan menemukan perjalanan hidup Piper di beberapa tahun awal kehidupannya.

"Aku baru ingat aku pernah mengoleksi benda ini. Duh, kadang-kadang aku lupa aku pernah menjadi maniak pengoleksi roll film," ucapnya, saat mengamati betapa penuhnya album itu. "Nah, Nak, Tuan Putri kita saat masih kecil. Pipinya bulat sekali, dan dia gemar bernyanyi-nyanyi sendiri. Jika aku datang, atau dia sadar sedang diperhatikan, dia akan malu dan tidak mau melanjutkannya lagi."

Jason bisa membayangkan Piper mungil yang tidak mau jadi perhatian. Masih hobi bersembunyi dari tatapan orang-orang. Sambil mengelus salah satu foto—Piper yang berada di ayunan sebuah taman bermain—Jason memikirkan Piper kecil yang selalu bersembunyi di belakang ayahnya saat seseorang mengajaknya berkenalan.

Kadang-kadang dia ingin tahu bagaimana masa kecilnya, mengetahui apakah dia dan Piper punya persamaan. Sayang sekali yang ia tahu hanyalah peristiwa staples dan luka konyol yang tak pernah hilang.

"Melihatnya sekarang, aku rasanya tidak percaya waktu berjalan secepat ini," Tristan memandang Piper dari kejauhan. "Lihatlah dia. Sudah dewasa dan bisa mengatur banyak hal. Wajahnya tidak lagi bulat dan menggemaskan—dia tampak lebih berani."

"Dan cantik," Jason menambahkan sambil membuka halaman berikutnya. Ia mendapat tepukan dari punggung karena kata-kata itu. "Uhm, bukan berarti Piper kecil tidak cantik, ya ..."

"Aku pernah merasa takut dia tidak akan menemukan pasangan hidupnya, saking tidak inginnya ia menjadi perhatian dan kelakuannya di masa-masa SMA."

Jason melirik sambil tersenyum.

"Nah, lihat ini—ini saat festival sekolah! Aku tidak tahu siapa yang meminta gurunya untuk mengarahkan Piper untuk menjadi peran utama—dan aku juga tidak tahu siapa yang meyakinkannya hingga akhirnya dia mau, tapi lihatlah si Rapunzel kecil ini," Tristan terdengar sangat antusias.

Jason yakin bahwa Aphrodite turun tangan, membisiki gurunya dan datang pada Piper lewat mimpi.

"Jarang sekali melihat Piper bersedia memakai gaun—aku paling suka saat-saat ini."

Jason tak sadar dia tersenyum lebar. "Aku pernah melihatnya ... cantik sekali."

"Maksudmu saat kalian menikah? Tentu saja—dia ratunya di hari itu."

"Bukan," sanggah Jason pelan, "jauh sebelum itu. Saat kami baru saling mengenal ... dia memakai gaun putih, gelang pada lengannya, tatanan rambutnya sangat cantik ... tidak ada yang menyainginya ..."

"Ow, kau punya foto itu?"

Jason mengerjap. Betapa inginnya ia kembali pada masa itu, sebentar saja. Perkemahan; api unggun pertamanya. Dia tidak punya memento apa-apa kecuali ingatannya sendiri. Awas saja kalau nanti suatu saat si ibu tiri merampasnya lagi.

"Jason? Jase?" Tristan melambaikan tangan di depan wajah Jason.

"Eh—sayang sekali. Tidak punya," sekarang ia merasa bersalah, ia tak bisa berbagi itu dengan orang yang lebih pantas melihatnya, "aku terlalu terpana sampai-sampai tak berpikir untuk mengabadikannya."

Itu membuat Tristan tertawa, dan Jason tersenyum masam.

Mungkin sewaktu-waktu dia bisa minta Aphrodite mendandani Piper mendadak seperti itu lagi.

Mungkin.

end.


a/n: ada yang ingat chapter tentang lukisan rachel? ini semacem loose-sequel-nya XD