The Heroes of Olympus © Rick Riordan, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Pairing: Jason Grace/Piper McLean. Genre: Romance. Rating: T. Other notes: untuk 30 days challenge; prompt #22: mad.


Ada yang lain saat Jason mengintip latihan Piper kali ini. Jason tak hafal peran-peran di sekeliling Piper, tapi sepertinya seorang anak di sana, yang menguntit Piper ke manapun dia pergi, adalah seorang yang tak seharusnya berpasangan dengan Piper. Piper seringkali berbalik dan menegurnya halus, dan orang-orang di sekitar juga seringkali memperingatkan anak itu.

Hingga akhirnya di istirahat bagian pertama, anak itu bebas dan dia langsung meluncur pada Piper, menyambar perempuan itu bahkan sebelum Piper menghampiri Jason.

"Kupikir hari ini kau akan pergi menemui teman-teman SMA," Piper mendekati Jason, sementara anak itu menempel seperti koala di kakinya.

"Rencana batal," Jason tersenyum pada anak itu. "Setengah dari yang punya rencana sedang sibuk. Kami memutuskan untuk menundanya. Hei, siapa namamu, Manis?" Jason berjongkok. Anak itu masih kecil sekali.

"Diana!" katanya, suaranya nyaring, dan Jason pun berpandangan dengan Piper, Jason mengisyaratkan seperti, waduh, Artemis cilik, nih. Mata warna kenarinya bersinar cerah, "Aku suka sekali Piper! Dia mirip ibuku!" bicaranya lancar sekali, fisiknya memang tak benar-benar mencerminkan usianya.

"Apa kau datang bersama ibu—"

Sebelum Jason selesai, Piper sudah memberi isyarat, "Jason," lalu dia melanjutkan, dia tinggal di panti asuhan, kami merekrut anak-anak panti untuk pertunjukan ini, ingat?

Lalu Jason mengganti pertanyaannya, "Apa peranmu di sini, Diana?"

"Tadinya aku ingin sekali jadi anak Piper, tapi mereka bilang badanku terlalu kecil, jadi aku mendapat peran cuma jadi peri-peri penjaga kebun apel."

"Hesperides?" Jason mendongak.

"Bukan—hmm, lebih tepatnya 'pendamping Hesperides'. Peran baru yang tidak ada di mitologi aslinya, tapi kami rasa menarik jika setiap pohon apel punya penjaga yang merupakan utusan Demeter."

"Ow, aku suka cara kalian membuat dongeng baru."

"Piper, apa dia ini pacarmu?" Diana mendongak sampai Jason pikir lehernya pasti sangat sakit.

"Bukan—"

"Hore, Piper belum punya pacar! Aku akan menjadikan Rudolph yang di sana sebagai papaku!" dia menunjuk ke arah yang meleset.

"Sssh, Diana, nanti Jason marah. Dia memang bukan pacarku—tapi, dia suamiku."

"Uuups," Diana menutup mulutnya dengan jenaka. Jason tak jadi marah dan membatalkan rencananya untuk menghampiri si Rud yang entah yang mana wajahnya itu. "Maaf! Aku benar-benar tidak tahu!"

Jason menepuk-nepuk kepala Diana, "Ketidaktahuan adalah hal yang bisa dimaafkan."

"Oke, Diana," Piper menunduk sedikit, tangannya mengelus rambut Diana, "aku ingin bicara dengan Jason sebentar. Bolehkah aku memintamu untuk pergi? Sebentaar, saja."

"Aye, aye!" Diana membentuk gestur salut, "nanti kembali padaku lagi, ya, Piper!"

"Tentu saja, Sayang," Piper melepasnya, kemudian menyambut tangan Jason yang dengan isengnya minta bantuannya untuk berdiri. Dia sengaja berdiri dekat-dekat dengan Jason. "Jason, aku perlu izin darimu."

"Soal?"

"Diana," Piper menoleh, memastikan Diana tidak berada di jangkauan jarak dengar, "dia punya masalah di panti asuhan. Dia membuat ... entahlah, aku tidak berani menyebutnya kekacauan, tapi ... dia tidak biasa. Dia seringkali bangun di tengah malam dan meracau, kadang-kadang suaranya sangat berisik, membuat orang-orang tidak tenang. Dia sering berteriak soal monster dalam mimpinya atau hal-hal yang tidak dimengerti orang-orang. Pihak panti tidak bisa lagi menanganinya. Beberapa hari lalu ada orang yang berencana mengadopsi, tetapi tak ada kabarnya lagi ..."

"Kemudian?"

"Bolehkah dia menginap di rumah kita sampai dia mendapat panti baru—atau seseorang yang akan mengadopsi—aku janji tak akan lama!"

Jason menengok melewati pundak Piper. Diana berada jauh sekali dari mereka, sedang bermain sendiri dengan sebuah karet gelang di jari-jarinya. Jason sempat mengernyit.

"Aku merasa dia ... dia agak berbeda karena ..."

"Aku bisa membaca pikiranmu," Jason menatap Piper dengan mata seperti tatapan elang, "dia bilang kau mirip dengan ibunya. Jangan-jangan ..."

"Itulah yang aku pikirkan," tukas Piper cepat, "entah Aphrodite atau Venus, siapa yang tahu? Namun ini masih kurang kuat, aku hanya takut. 50:50."

"Jangan panti atau pengadopsi, Piper, kita harus segera mengantarkannya ke tempat dia seharusnya berada. Paling tidak ke Roma Baru."

"Aku masih kurang yakin—"

"Seratus persen," sanggah Jason, menggeleng-geleng. "Sembilan puluh sembilan, kalau kau masih ragu. Aku bisa merasakannya, Pipes."

"Ouch, anak Tiga Besar memang beda, ya," Piper mencari-cari Diana, "oke, berarti ... kita akan mengantarkannya ke perkemahan, ya. Perkemahan Jupiter atau Blasteran?"

"Yang terdekat. Kalaupun dia ternyata Yunani, kita bisa minta Reyna atau Hazel mengantarkannya."

"... Oke," Piper menggerak-gerakkan jarinya seperti orang gelisah. "Setelah selesai pertunjukan, ya? Dia sangat antusias dengan teater ini, aku tidak ingin mengecewakannya."

"Tentu saja," Jason mengangguk.


Barang milik Diana—yang hanyalah sebuah tas jinjing kecil—masih berada di sudut ruangan tanpa disentuh. Mereka baru tiba di rumah pukul sebelas malam, dan yang Diana lakukan adalah langsung melompat ke tempat tidur besar dan melambungkan dirinya di sana.

"Kasur ini empuk sekali! Aku suka! Sukaaa!"

Jason dan Piper berpandangan—Piper tak jadi menegur soal kakinya yang masih berkaus dan dia yang belum mandi—dan tatapan perempuan itu sangat iba, dia berbisik, Diana tak pernah merasakan tempat tidur yang seenak ini.

Jason membiarkan Diana melompat-lompat beberapa kali, sebelum akhirnya menyambarnya, menangkap tubuh kurusnya dan membawanya berbaring, Jason merasa sedikit bersalah saat 'membanting'nya, tetapi Diana sangat senang hingga dia tertawa-tawa.

"Jadi, Manis, bagaimana kalau mandi dulu sebelum tidur? Aku dan Piper punya banyak dongeng untukmu."

"Aku ingin mandi bersama Piper!"

"Ya, yaaa, sebentar, aku menyiapkan sesuatu untuk kaumakan dulu, Diana. Kau boleh membuka tasmu dan mencari pakaian yang paling kausukai," Piper menjawab dari luar kamar, sepertinya dia akan turun.

"Jangan ke kamar mandi sebelum aku atau Piper datang, Diana," Jason meninggalkan tempat tidur, dan anak itu mengangguk riang. Jason segera menyusul Piper yang sudah setengah jalan. "Biar aku saja yang menyiapkan makan malamnya. Atau kita perlu membeli sesuatu?"

"Ada sosis beku di lemari es. Buatlah apapun sesukamu."

"Baik," Jason menuruni dua-tiga anak tangga, hanya untuk kemudian berbalik lagi, "Pipes."

"Ya?"

"Belakangan sering sekali dekat dengan anak-anak. Senang melihatnya." Senyumannya sangat tulus hingga Piper termangu beberapa saat.

Piper tertawa kecil. "Jason, kau membuat anak itu menunggu. Kita bisa bicara lebih banyak nanti."

"Tentu saja." Dengan pelan, Jason berbalik, membiarkan Piper pergi duluan.


Diana berbaring di antara mereka, tetapi dia hanya mau menatap Piper. Piper menyisir rambutnya yang masih sedikit lembab karena dia tak begitu betah ditangani dengan pengering rambut, dan Jason (dengan putus asa) mencari perhatian mereka dengan menghadap pada keduanya dan sesekali menjawil pipi Diana.

Jason tidak bisa berhenti berangan-angan tentang momen-momen seperti ini suatu saat nanti—saat mereka sudah lebih mampu memutuskan dan menata kehidupan. Rasanya dia ingin secepatnya saja—tapi mungkin bukan keputusan yang tepat. Lagipula, Diana akan tetap berada di sini hingga sekian lama dan bisa membuatnya lupa.

"Jadi, monster-monster barusan pun terkurung di dalam cermin. Mereka tidak bisa keluar lagi untuk selamanya."

"Aku tidak perlu takut monster lagi, kalau begitu, ya?"

"Tentu," Piper mencium kening Diana. "Sekarang, karena kau tidak perlu takut lagi, karena ada kami berdua, kau boleh tidur."

"Aku sayang Piper!" Diana memeluk Piper kuat-kuat.

"Hei, bagaimana denganku?"

Diana terkekeh jenaka, "Aku juga sayang Jason! Piper, Piper sayang Jason, tidak?"

"Lebih dari apapun," Piper membalas ciuman singkat dari Jason. "Mari kita tidur."


Jason terbangun karena suara panik Piper.

"Ada apa, kenapa? Ha?"

"Ibu memperingatkan sesuatu padaku—tapi aku tidak mendengarnya."

Jason mengucek mata, kemudian menyadari sesuatu yang hilang. "Diana?!"

"Diana—" Piper sempat bingung, "Diana! Astaga—di ma—"

Belum selesai Piper berkata, mereka mendengar suara tertawa yang janggal. Mereka berdua melompat seolah diberi aba-aba. Mereka melompati anak tangga demi anak tangga dengan terburu-buru, Piper nyaris memekik saat mendapati Diana duduk bersimpuh di ruang tamu, seekor serigala yang mirip anjing—atau sebaliknya—sedang menjilat-jilat wajah Diana.

"Piper!" Diana tertawa aneh, "Ibu datang! Ibu datang!"

Monster itu membuka mulut dan Piper hampir-hampir dapat mendengar suara ibunya, yang sedikit membuatnya bingung, dari mulut monster itu—jika bukan karena Jason yang menepuk pipinya kemudian menerjang Diana, dia bisa saja terbawa.

Jason membawa tongkat golf dan berusaha memukul monster itu, tetapi Diana selalu menghalangi jalannya dengan berteriak-teriak ibu.

Piper diam sebentar sebelum berbicara, "Menjauhlah, Diana. Menjauh darinya."

"Tapi aku bisa mendengar Ibu!" ia memagut leher si anjing setengah serigala, "Ibu!"

"Dia bukan Ibu kita!" suara Piper pecah. Emosi menghancurkan charmspeak-nya.

Jason masih mencoba memukul, tetapi monster itu berlari sambil menyeret Diana. Piper menikungnya, melompat pada si monster dan Diana. Jason meneriakkan nama Piper, dan saat itulah kaca besar yang merangkap menjadi dinding pecah ditembus oleh sebuah panah, dan terjangan seorang penyusup. Jika Piper tak refleks menjauh, entah bagaimana nasibnya.

Panah menusuk leher si monster, tetapi mengenai tangan Diana hingga darahnya bercucuran ke lantai. Monster itu terkapar, Diana termangu beberapa saat, kemudian ia menjerit, menangis, masih mengatakan soal ibu sambil meronta-ronta saat Piper melepaskannya dari monster yang menggelepar.

"Maafkan aku soal jendelanya."

"Kakak!" Jason hampir tak percaya.

"Yeah, maaf," Thalia memandang lantai yang diseraki debu monster. "Soal jendelanya—atau dinding. Apalah. Dan soal anak ini."

Piper menggendong Diana menuju sofa terdekat, "Jason, P3K!"

"—Dan ambrosia. Kalian punya stok, tidak?" Thalia mendekati.

Piper memandang Thalia seperti melongo. "Oh—masih ada. Di balik kotak P3K-nya, Jason!"

Di sofa, Diana meracau, memberontak, kemudian tertawa, mengoceh bahwa akhirnya ia bisa bertemu ibunya, tetapi menangis lagi. Piper berpandangan dengan Thalia. "Ambil ambrosia milikku saja dulu," Thalia mengambil sepotong kecil dari saku jaket punknya, menyuapkan ke mulut Diana yang sedang terengah-engah.

"Sepertinya dia saudariku," Piper mengulum bibir bawahnya, "Jason yakin sekali. Mungkin ada kesamaan yang bisa dia lihat."

"Aku juga percaya."

"Yang tadi itu ..."

"Crocotta. Monster yang bisa menirukan suara. Kami sedang memburu sekawanan yang sedang berkeliaran di sekitar sini. Anak ini rupanya sangat menarik baginya—dia sedang terganggu, kah?"

"Aku tidak yakin mentalnya sedang berada dalam keadaan baik," Piper masih berlutut, menekan-nekan luka Diana. "Entah dia pernah mendapat orangtua asuh yang abusif, atau dia mengalami trauma, aku tidak tahu. Tapi orang-orang di pantinya sebelum ini bilang dia sering berhalusinasi."

"Pantas saja suara Crocotta membuatnya semakin lemah dan tidak stabil."

"Apa monster yang barusan cukup mengerikan?"

Thalia diam sejenak. "Kalau diingat-ingat, memang mengerikan—tapi tidak begitu parah."

Piper menatap Thalia sebentar. "Diingat?"

"Yeah. Pernah bertemu satu kali saat bersama Luke."

Piper menangkap tatapan kosong Thalia selama beberapa detik yang membuatnya menyesal telah bertanya.

"Luke?" Jason datang tiba-tiba dari belakang. "Luke Castellan? Kalian pernah berhadapan dengan yang barusan? Kapan?"

Thalia berdecak. "Balutlah luka anak ini dulu."

Piper memberi isyarat pada Jason, jangan-bebal-deh, dan Jason pun menurut, membungkuk membungkus luka Diana yang mulai berhenti mengeluarkan darah.

"Anak ini harus segera dibawa ke tempat teraman sesegera mungkin. Siapa namanya?"

"Diana," sebut Jason sambil membalutkan kain kasa dengan hati-hati. "Dia baru bergabung dengan kami malam ini, dia butuh tempat sementara, sebelum seseorang datang untuk mengangkatnya sebagai anak."

"Wah, sepertinya memang sebuah takdir untuk seorang Pemburu Artemis membawanya," Thalia meneliti wajah Diana. "Ah, membawanya ke Perkemahan Blasteran tidak memungkinkan. Hanya Perkemahan Jupiter. Sesudah dia stabil, biarkan dia memilih."

"Tapi Thalia," Piper memandang Thalia dan Diana bergantian, "anak ini ... sepertinya butuh penanganan mental. Ada yang salah padanya."

Thalia menggeleng keras. "Dokter manusia takkan mungkin bisa menanganinya dengan baik. Roma Baru pasti punya seseorang untuknya. Lagipula, Pipes, kaulihat apa yang terjadi. Baru satu malam bersama kalian, dua demigod berkekuatan besar yang pasti menarik perhatian para monster—tanpa perlindungan khusus seperti di dua perkemahan, dia benar-benar dalam bahaya."

Jason melihat tangan Piper bergerak-gerak gelisah lagi.

"Aku akan memanggil teman-temanku dulu untuk membawanya. Aku tidak perlu persetujuan kalian, karena bagaimanapun Diana harus tetap dibawa."


Jason mendapati Piper mencueki teh tengah malamnya, dan cuma memandang nanar pada tas Diana yang masih terbuka sedikit, belum sempat dikeluarkan isinya. Rencananya besok pagi mereka akan membeli lemari kecil untuk Diana, kemudian menghubungi Tristan lewat telepon video untuk memberitahu seorang anggota baru di rumah.

"Aku ... tidak bisa melindunginya ..."

"Kau tidak bisa dan tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri." Jason menutupi pandangan Piper dengan memeluknya, ia masih dalam posisi berdiri. "Thalia benar."

Piper balas memeluk Jason. "Adikku sendiri ..."

"Lingkungan kita tidak aman."

Jason tak begitu merasakannya saat Piper mendongak. "Sepertinya memang belum benar-benar aman jika seorang anak berada di sini, ya, Jason. Monster-monster menganggap anak-anak adalah kelemahan kita—celah untuk mereka. Entahlah, tapi kupikir sebagian dari mereka punya insting seperti manusia."

Jason mengangguk mafhum. "Memang belum saatnya."

Kesunyian itu benar-benar mencekik Piper, hingga ia pun tak berencana untuk melepas Jason dahulu.

end.


p.s.: diana adalah versi romawinya artemis ya x)